Sedarahceritasex.com - Cerita Sex dan Video Sex sedarah Terbaru

loading...

Keluarga Pak Trisno 13

Sekitar pukul dua belas siang kami tiba dilokasi, tempat yang cukup nyaman dengan udara pegunungan yang sejuk, tak jauh dari tenda kami berada terdapat air terjun dengan airnya yang jernih. Hmmm..benar-benar tempat yang menyenangkan, dan tempatnyapun mudah dijangkau oleh...

Ibuku Cintaku dan Dukaku 10

ÔÇ£WwwiiiuuuunnnggggÔǪ WiiiuuuunngggÔǪ WiiuuungggÔǪÔÇØ Bel pertanda masuk kelas sudah dibunyikan. Sebenarnya suara itu lebih pantas disebut sirine daripada bel. Bunyinya mirip sekali dengan sirine mobil ambulan yang sedang ingin ÔÇÿmenyingkirkanÔÇÖ kendaraan penghalang jalan di depannya. Hal itu sering kulihat di...

Ibuku Cintaku dan Dukaku 9

Pagi menyongsong. Sinar mentari yang cerah seakan sedang menungguku di luar untuk memulai hariku yang baru. Sorak-sorai ayam juga sudah turut menemani. Aku sedang menikmati sarapanku bersama Ibu. Sesekali tanganku iseng menyentuh-nyentuh sebuah plaster kecil yang tertempel di dahi...

Ibuku Cintaku dan Dukaku 8

Kukkrukuukkuuuukkk! suara kokok ayam terus menerus bersahutan di sekitar rumah. Jam waker alami yang menjadi primadona setiap pagi. Alam sadarku perlahan-lahan menunjukkan tajinya pula dengan membuka bersamaan kedua kelopak mataku. Mataku terbuka begitu saja seolah-olah aku tak mendapatkan rasa...

Kisah Keluarga Citra 9

“Karnia… Kamu ngapain sih lama-lama dikamar Kak Ciello….?” Seru Clara sambil melepas bra merah yang ia kenakan lalu melemparnya ke keranjang baju kotor di sudut kamar. Membiarkan payudaranya yang bulat besar meloncat turun dan bergoyang seiring gerak tubuh sintalnya....

Wild Love 47

Pagi menjelang aku terbangun dari lelap tidurku. Jam berdetak menunjukan pukul 08:00, aneh baru kali ini tidak dibangunkan ibu. Mungkin ibu tahu jika tubuh ini terlalu lelah, ku langkahkan kakiku menuju ke lantai bawah tak ada satupun orang disana....

Wild Love 46

Pagi menjelang, tepat jam 04.30 aku terbangun dari tidurku. Seluruh tubuhku terasa sangat pegal dan jam dinding di dinding seakan menertawakanku dengan detak detiknya. Kuelus keras leherku yang terasa sangat pegal, tak lama kemudian aku bangkit dan turun kebawah...

loading...