Agen BandarQQ Online

Daughter, Love of My Life

Daughter, Love of My Life -
loading...

Pegal menyerang sebagian punggungku. Tumpukan perkakas diatas meja kerja menuntutku bekerja ekstra hingga larut malam. Rasa lelah kini menggerayangi sekujur tubuhku.

Berjalan sempoyongan di sepanjang koridor menuju lahan parkir. Gedung kantorr sudah hampir tak berpenghuni. Hanya menyisakan beberapa petugas keamanan dan segelintir pegawai kantor yang lembur.

Tiba di lobby utama. Aku mengangkat kepalaku yang sedari tadi tertunduk menatap ubin lantai. Samar-samar aku menangkap sesosok wanita duduk disalah satu kursi sofa tunggal disana. Dari kejauhan, aku dapat memastikan wanita itu bukan pegawai kantor ini.

Setelah jarak diantara kami dipertipis oleh langkahku. Aku baru menyadari wanita itu nyatanya adalah seorang gadis berpakaian seragam sekolah lengkap. Ia tengah memainkan ponselnya. Terangnya layar ponsel menyinari wajah cantiknya saat minimnya pencahayaan melingkupi seisi lobby.

“Via?” Panggilku dengan menepuk pundak gadisku itu. Ya, Valencia Revalita adalah putri semata wayangku. Ia seketika menoleh,

Papa? Udah selesai?” Sambutnya gembira.

Aku menghela napasku,

“Kamu ngapain kesini?”

“Nungguin Papa pulang.”

“Ini kan udah malem banget, kenapa kamu gak ngasih tahu Papa kalau kamu kesini?”

“Via gak mau ganggu Papa kerja.” Jawab Via santai. Ia mulai bangkit dari posisi duduknya setelah menyampirkan satu tali tasnya di punggung.

“Dari kapan kamu disini?”

“Pa! Aku jadi kayak di introgasi gini. Udah deh, pokoknya Via mau pulang bareng Papa hari ini.” Katanya menahan kesal. Ia berjalan beberapa langkah didepanku. Berusaha menghindar dari sekumpulan pertanyaan yang hendak kulontarkan. Ia kemudian terkikik ria tatkala matanya kembali berkutat pada ponselnya.

“Hei, udah makan belum Vi?” Tanyaku yang mengalihkan atensi Via kembali.

“Belum.”

“Hh, ya sudah kita makan diluar malam ini.”

Sementara Via bersorak gembira, aku membuang napasku dengan menekan-nekan dahiku. Gadis ini benar-benar, ketika dirinya masih kecil ia begitu polos dan menggemaskan. Beranjak remaja seperti ini, Via tumbuh menjadi gadis cantik bertubuh sintal yang sangat ketergantungan pada ayahnya.

Selepas ditinggal ibunya, tepatnya setelah aku dan istriku resmi bercerai. Bukannya menjadi mandiri, gadis ini malah semakin manja terutama padaku. Di usia ke-17nya sekarang. Via bahkan tidak bisa memasak makanan sendiri. Ia memilih menahan laparnya selagi aku tak ada dirumah.

Tentu saja itu bukan menjadi salahnya karena separuh waktuku kuhabiskan berada di kantor kecuali hari sabtu dan minggu. Selain karena faktor keterbatasan waktuku, Via juga enggan tinggal bersama ibunya. Perselingkuhan mantan istriku yang merangkap sebagai ibunda bagi Via telah menggoreskan luka untuk kami berdua.

Bertahun-tahun lamanya kejadian itu kami lewati, Via tetap menyimpan dendam pada ibunya. Ia masih belum bisa memaafkannya meskipun dalam beberapa kesempatan, ibunya acap kali menemuinya untuk menyampaikan permintaan maaf.

loading...

Aku? Aku sudah melupakan wanita itu.

Jangan keliru bila aku memilih menduda pasca perceraianku itu, aku hanya berpikir kehadiran Via sudah sangat cukup bagiku. Kecantikan Via bahkan jauh melebihi ibunya saat muda dulu. Surai legamnya yang ia biarkan tergerai sebadan itu terlihat sangat menawan, hidungnya mancung dan bibir tipisnya merah merekah. Kulitnya? Ia bak seorang gadis Jepang.

Tiba disalah satu bilik parkir tempat aku memarkirkan mobilku, kami berangsur memasukinya setelah mematikan alarm. Baru saja aku memutar kunci starter mobilku, Via menyahut,

“Wanita itu datang ke sekolahku lagi sore ini.”

DEG.

Aku tahu siapa yang disinggung oleh Via, siapa lagi kalau bukan mantan istriku.

“Apa yang kalian bicarakan?” Kataku yang berusaha bersikap tak acuh semaksimal mungkin. Masa laluku memang sudah tertutup rapat, namun tingkah mantan istriku yang masih membayangi kehidupan putriku tentu saja mengusikku.

“Dia cuma bilang kangen sama Via.”

“Hmm, sesekali kamu harus dateng nengokin mamamu ke rumahnya loh Vi..”

“Gak mau.” Tolaknya tegas dan cepat.

“Gak boleh gitu. Gimanapun juga dia ibu kamu. Pastilah dia kangen sama anaknya.”

“Terus Papa kira kenapa aku pergi ke kantor Papa daripada harus pulang ke rumah?” Nada Via sekarang sedikit meninggi.

Aku mengerutkan dahiku, menggeleng pelan tak merespon perkataannya. Kebencian benar-benar telah merasuk dalam diri Via. Tak sepantasnya ia membenci ibunya hingga sejauh itu. Tapi aku tak tahu bagaimana cara memudarkannya.

Aku sendiri sungkan membahasnya lebih jauh lagi, itu dapat membuka luka masa laluku.

“Disaat kita lagi susah kemana Mama? Kalau Papa lagi maju aja..” Via membanting ponselnya keatas pangkuan, mengeratkan kepalan tangannya diatas rok abu-abunya.

“…” Aku memilih diam tak menanggapi. Omongannya tidak sepenuhnya salah, tapi sebenarnya ia tidak perlu mengaitkan masalah kedua orang tuanya untuk tetap mengasihi ibunya.

Selanjutnya kami tidak banyak mendiskusikan sesuatu. Bahkan ketika kami makan malam di restoran. Ia seolah menghindar dari topik pembicaraan yang kami bahas sebelumnya. Via hanya berkeluh kesah tentang banyaknya tugas yang diberikan gurunya saat ini, wajar saja sebab ia akan menghadapi ujian nasional bulan april nanti.

Malam itu aku merebahkan tubuhku, mataku baru saja terpejam. Tapi secangkir kopi hangat sebelum tidur mencegahku jatuh terlelap. Entah kenapa aku malah meminum minuman berkafein sesaat sebelum tidur.

Beberapa kali aku mengubah posisi tidurku pun, kantuk tetap tak kunjung datang. Namun tak lama kemudian samar-samar aku mendengar pintu kamarku berderit terbuka. Saat kubuka kelopak mataku, aku dapat melihat siluet Via dari ambang pintu. Ia tengah mengenakan piama tipisnya. Ia yang kini hanya berdiri didepan pintu hanya menatapku dalam diam.

“Kenapa Via kok berdiri aja disitu? Ayo sini.. Gak bisa tidur ya gara-gara bentar lagi ujian?” Kataku menerka-nerka. Kutepuk-tepuk kasurku yang sepi penghuni supaya ia mendekat padaku.

Via menggeleng.

Aku jadi semakin heran dengan perilaku anehnya itu.

“Ada apa Vi..? Kamu abis mimpi buruk ya? Ayo sini temenin Papa. Papa juga gak bisa tidur.”

Via kembali menggeleng. Tangannya berpindah tempat. Ia menggigit kuku jarinya seperti menahan sesuatu.

Curiga ada yang tidak beres. Aku bangkit dari posisiku, duduk ditepian ranjang. Memasang muka was-was. Jangan-jangan…

“..Ada pencuri ya diluar?” Tanyaku intens.

“B-Bukan….” Jawab Via serak.

“Terus ada apa?”

Mematung tak bergeming, kuputuskan untuk menarik Via dari tempatnya. Aku menarik pergelangan tangannya yang mungil itu dengan gemas lalu memposisikannya duduk disebelahku.

Kuperhatikan sorot mata Via terjatuh dengan lemah, ia mengigit bibirnya. Raut mukanya mengartikan ia tengah dirundung rasa sedih. Apa karena pembahasan tadi?

Wajar jika Via pada akhirnya seperti ini, ia pasti merindukan sosok seorang ibu dalam hidupnya. Salahku juga, setelah mendapat hak asuh atas putriku ini, aku tak cepat mencari pengganti Margaretta, mantan istriku itu. Aku justru betah dengan posisiku sebagai orang tua tunggal.

Tanganku secara refleks membelai surai legam Via penuh kelembutan, kusisir halus rambutnya kebelakang. Sontak Via menyandarkan kepalanya dibahuku. Ia membenamkan kepalanya di kaus putih polos yang kukenakan.

“Papa sayang sama Via ‘kan?” Ia bertanya dengan nada yang sumbang.

“Tentu saja Papa sayang Via, Via itu segalanya buat Papa sekarang.” Tegasku mantap.

Via hanya mengangguk singkat dalam dekapanku. Ia tak membalas lagi. Hanya diam menikmati setiap belaian tanganku dipuncak kepalanya yang kuperlakukan bak mahkota emas. Tapi kemudian aku menyadari ada sesuatu yang ganjil.

Aku mencoba melirikkan mataku kebawah. Aku terperanjat kaget dada Via tertempel manis dengan salah satu bagian lenganku. Kurasakan sensasi kenyal yang menyentuh lenganku, apa Via tidak mengenakan dalaman?

Aku mulai bergelayut tidak nyaman. Namun tangan Via dengan cekatan mencegahku.

Menalan ludahku susah payah, akhirnya aku kembali menyuarakan mulutku,

“E-Eh.. Mamamu juga pasti sayang sama kamu, Vi.. Makanya nanti..”

“PA!” Via menarik tubuhnya. Ia menatapku nyalang.

“Ini bukan soal Mama! Aku gak peduli lagi Mama masih sayang aku atau enggak. Aku cuma…”

Via membungkam mulutnya. Bulir-bulir air mata nampaknya sudah tak mampu lagi ia bendung.

“Cuma apa Vi? Bilang sama Papa, Papa gak ngerti kamu ini kenapa.”

Sejenak Via memalingkan mukanya, menyeka garis air mata yang tertetes sedikit lewat celah di kelopak matanya. Ia tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya membuang napasnya dengan satu hembusan.

“Kalau Papa mau tahu tutup mata Papa sekarang!”

“Ada apa sih Vi? Kamu kan tinggal bilang sama–,”

“Tutup mata Papa!” Potong Via menuntut.

Akhirnya aku menuruti maunya Via. Kupejamkan mataku. Selama beberapa waktu tidak ada yang terjadi, hanya deru napas Via yang terdengar tak beraturan di telingaku. Sampai tangan Via membentangkan tanganku kesamping secara perlahan.

Dengan satu gerakan singkat, kurasakan sesuatu yang lembut berada dalam genggamanku. Mataku spontan terbuka. Disambut oleh bibir tipis Via yang menyatu dengan bibirku.

Aku berusaha mendorong Via. Tapi Via seolah sudah melatih dirinya untuk melawan pergerakan tubuhku. Bukan hal sulit melepas diriku dari jeratan Via, tenagaku jelas unggul dari tubuhnya yang ramping dan mungil itu. Tapi aku juga tak mau melukainya.

“V..Vi…Via!!” Sebutku disela-sela ciuman ganas Via. Via mengunci mulutku dengan gerakan lidahnya yang liar. Tangannya mengenggam tanganku erat agar meremas-remas buah dadanya yang sekal, lembut sekali payudara Via, ia nampaknya benar-benar tidak mengenakan BH. Sementara tangannya yang lain mendorong tubuhku agar jatuh keatas ranjang kebesaranku.

Via menaikkan satu kakinya keatas pahaku. Dengan kata lain ia kini merangkak diatas tubuhku. Sebelum ia bertindak lebih jauh, aku akhirnya mendorong paksa tubuhnya hingga ia terhempas.

“APA-APAAN ITU?” Kataku murka sembari mengelap bekas-bekas ciuman Via lewat ibu jariku.

Tak kalah denganku, Gigi Via bergemelutuk kesal,

“Papa bilang Papa sayang sama Via!!” Serunya seraya beranjak dari posisi tersungkurnya. Ia hendak mengambil langkah pergi meninggalkanku. Tapi tanganku lebih dulu sigap menahan pergelangan tangannya.

“Via bilang sama Papa, kenapa kamu ngelakuin itu sama Papa?!”

“Kenapa lagi? Karena Via sayang sama Papa!” Desisnya setengah berbisik.

“Sayang?”

“Ya! Via sayang sama Papa, dan ternyata Papa gak sayang sama Via kan?” Wajah Via memerah. Bukan karena amarahnya yang sedang memuncak. Melainkan karena menahan tangisnya agar tidak pecah.

“Papa sayang sama Via! Tapi bukan begitu caranya!”

Segaris air mata tumpah membasahi pipi Via. Kupikir Via takkan berbuat macam-macam lagi. Tapi ternyata aku salah. Via menghentakkan tangannya kasar agar terlepas dari cengkramanku. Ia lantas menarik piyama berkancingnya dengan paksa hingga seluruh butir kancingnya berjatuhan entah kemana.

Dada Via yang bulat dan mempesona seketika menyembul keluar. Bentuknya benar-benar menantang birahi. Tapi bagaimanapun dia anakku! Demi Tuhan! Nafsuku tidak akan terbangkitkan olehnya.

“Kalau Papa sayang buktikan sama Via sekarang!” Via menghampiriku tanpa rasa takut.

“Buktinya…” Aku menggantungkan kalimatku, memikirkan kata-kata yang tepat untuk kusampaikan.

“… Buktinya Papa nyekolahin kamu sampai setinggi ini, buktinya Papa ngasih kamu makan, buktinya terlalu banyak Via! Jangan aneh kamu!”

“Kalau itu Mama juga bisa. Udahlah Pa. Sia-sia Via disini.” Via membalikkan tubuhnya lemas. Ia kembali menghapus jejak-jejak air matanya dan berniat berlalu meninggalkanku. Tapi sekali lagi aku menahannya.

“Mau kamu apa sih Vi?!”

“Lepasin aku Pa.” Isak Via.

“Gak bisa! Kamu ini kenapa mendadak kaya tadi, hah?!”

“Pa, lepasin.”

“Via!!” Aku menarik tubuhnya sekuat tenaga, ia kini kembali berhadapan denganku.

Pandangan nanar Via tertangkap dibola mataku. Sorot mata yang tidak pernah kujumpai setelah perceraianku dengan Margaretta. Via yang kukenal adalah sosok gadis yang selalu berusaha tegar. Ia selalu bersikap keras setiap kali rasa sedih menggerogoti hatinya. Tapi ia kini justru terlihat sangat rapuh.

Apa yang telah kulakukan? Via adalah permata hidupku. Tidak sepantasnya ia dapat perlakuan kasar dariku. Aku membutuhkannya untuk menyosong kehidupanku. Tidak ada dia tidak ada hidup bagiku.

Aku mengepalkan tanganku. Serius, aku akan menyesali ini kelak dikemudian hari.

Kutarik pinggang Via agar merapat padaku. Dengan satu gerakan gesit, bibirku kembali kupertemukan dengan bibir marunnya yang manis. Aku mendekapnya sangat erat. Payudaranya yang sekal dan tak terbalut apapun itu seketika menempel di perut kekarku.

Kulumat-lumat bibirnya tanpa ampun. Via masih tak membalas ciumanku. Air matanya masih terus saja mengalir. Meskipun begitu, ia membiarkanku memperlakukannya sesukaku. Aku meremas-remas buah dadanya yang mempesona.

Tidak pernah terpikirkan olehku aku akan menyentuh benda paling pribadi milik putriku. Kupikir aku akan menjaga tubuh putriku sampai ia resmi menjalin ikatan pernikahan dengan lelaki lain, kenyataannya aku lah yang pertama menyentuh tubuh putriku.

Aku baru sadar, tekstur payudara Via tak ada duanya, lembutnya payudara Via mengalirkan sensasi nikmat luar biasa ke sekujur tubuhku. Ini pertama kalinya sejak beberapa tahun terakhir aku menggerayangi tubuh seorang wanita.

“Ini kan yang kamu mau?” Bisikku menantangnya. Aku merebahkan tubuh Via diatas ranjangku. Via terlentang bebas tanpa penolakan.

Via mengangguk pelan, sorot nanarnya perlahan berubah menjadi sayu ketika kami saling bertukar pandang. Ia mengikat tanganku supaya bertumpu disamping tubuhnya, seakan memberi kesan aku tengah mengurung dirinya.

Aku mencium dahinya, kemudian ciumanku berpindah secara perlahan menelusuri wajah orientalnya. Mulai dari batang hidungnya, pipinya, rahangnya, dan tentu saja bibirnya.

Via yang tak sabaran memindahkan satu tanganku menyentuh payudaranya. Agak risih sebenarnya aku melihat perilaku Via, kenapa dia sebegitu bernafsu ini padaku?

“Tunjukkan rasa sayangmu, Pa..” Bisik Via seduktif menjawab pertanyaan di benakku. Ini gila! Via telah diluar batas! Ia tidak peduli kalau aku baru saja mengasarinya.

“Pa…” Tangan Via terulur menyentuh pipiku. Membelai halus pipiku lewat jari-jari lentiknya.

“Jangan takut. Via bisa kasih semuanya kok..”

Celaka. Karena perkataannya, tanganku yang meremas buah dadanya bergerak tak terkendali. Aku meremasnya dengan mencari kenikmatan yang terpancar darisana.

“Ah.. Ah.. Yah begitu, Pa. Remas payudara Via kuat-kuat, Pa! Kasih tahu Via kalau Papa kangen sama tubuh cewek.” Via menyemangatiku. Wajah lesunya telah berganti menjadi wajah menggoda. Ia menyipitkan matanya dan mengigit bibir bawahnya dengan seksi.

Sial gadis ini benar-benar berjuang membangkitkan birahiku yang telah lama mati. Sebagai balasnya, aku menciumi leher jenjang Via. Kugigit-gigit kecil setiap inci permukaan lehernya yang mulus itu dan meninggalkan beberapa kissmark disana. Tubuh Via mulai menggelinjang kegelian.

“Auuh…, Ouch…” Via tanpa sadar menarik-narik rambut tipisku.

“Terusssh Pa, enakk.. Jangan ke-kecewainh Via..” Desah Via terbata-bata. Lagi-lagi tangannya kembali memohon padaku agar tak lupa meremas dadanya. Ia bahkan meraih kedua tanganku. Aku menarik kepalaku menontoni perbuatannya. Ia meremas-remas kedua buah dadanya sendiri.

Sungguh ini kali pertamanya aku melihat pemandangan seseksi ini. Via putriku, anak polos yang kini tumbuh menjadi gadis remaja. Tak kusangka ia akan seseksi ini.

Aku tak bisa menahan diri lagi, kuciumi buah dadanya, menghisap pentilnya rakus dan melingkari sekitar payudaranya lewat sentuhan lidahku. Via semakin menggelinjang kenikmatan.

Via masih mengenakan celana piyamanya, celana piyamanya yang longgar tidak menutupi kemontokan pinggang hingga bongkahan pantatnya, kainnya yang bergoyang-goyang saat tubuh Via menggelinjang menambah kesan seksinya dirinya.

“Pa ayo dilanjut, jangan cuma gitu aja!” Via menarik tubuhku dan memutar tubuhnya. Kami bertukar posisi sekarang. Ia menimpa tubuhku, napasnya terdengar memburu. Ia lekas turun menemui selangkanganku. Duduk bersimpuh didepan selangkanganku. Jemarinya mulai nakal membuka resleting celanaku.

Aku buru-buru menutup akses menuju selangkanganku.

“Via tidak sejauh itu! Kamu itu apa-“

“Sssh.” Sela Via menepis tanganku dan memilih tak mengindahkan perkataanku. Ia membuat semuanya berlangsung cepat. Resleting celanaku dibuka olehnya, tangannya dengan lihai mengeluarkan penisku keluar. Aku takjub melihat keterampilan tangannya meraih penisku tatkala penisku masih terbungkus celana dalam.

“Ya ampun masih kecil begini.” Via terkikik geli. Manis namun menggoda.

Tuhan apa yang telah aku lakukan pada anakku hingga ia jadi begini?

“Via berhentiiih.” Aku mulai kehilangan fokusku. Via tanpa basa-basi lagi melingkarkan tangannya di sekitar batang penisku. Ia mengocoknya yang mulanya perlahan kemudian mempercepat tempo kocokannya. Demi apapun, bagaimana tangan Via bisa selembut dan sehangat ini?

“Dipegang sedikit aja udah setenggang ini, Pa. Lihat deh!” Serunya jahil.

Baru beberapa waktu lalu penisku masih lemas. Sekarang penisku sudah mengacung tegak dengan urat-urat yang menonjol disekitarnya. Aku bahkan terkejut dengan ukuran penisku sendiri. Seingatku tidak sebesar ini sewaktu ereksi. Ada 12-14cmnya kutakar.

“Kenapa kaget, Pa? Udah sepuluh tahun kan gak Papa keluarin…” Via masih mengocok penisku cepat namun dengan sentuhan hangat dan lembut yang memabukan. Ia diberkati dua tangan dan tidak hanya satu yang bekerja. Sementara tangan kanannya mengocok penisku penuh kelembutan, tangan satunya mulai membelai biji kemaluanku. Via memperhatikan semuanya agar aku meraih kenikmatanku.

“Enak Pa?”

“Berhentiiih Vi.. Aghh..”

“Via suka Papa begini..” Ia memamerkan senyum sendunya. Ia memiringkan kepalanya, rambutnya menjuntai jatuh kesamping. Elegan! Via menikmati pemandangan itu, pemandangan dimana aku meraung-raung penuh nikmat walaupun mulutku menolak mengakuinya.

“Vi.. Kenapa..”

Ditanya begitu berulang-ulang seperti kaset rusak. Via menghentikan aksinya. Ia berhenti mengocok penisku, tapi tangannya masih bertautan dengan aset berhargaku itu. Mencondongkan tubuhnya, Via membisikkan sesuatu tepat disamping telingaku.

“Karena aku sayang Papa lebih dari siapapun..”

Aku tertegun mendengarnya. Perkataan yang bagai menusuk sanuk bariku. Sesuatu yang tidak pernah kuperkirakan akan terucap dari mulut bibir putriku sendiri.

Via kembali terkikik melihat raut keterkejutanku yang seolah tidak ada habisnya terwujud.

“Papa harus dihukum.”

Aku yang sedari tadi memandangi Via dan tak pernah lepas harus memejamkan mataku. Via tiba-tiba membungkukan tubuhnya, ia menjulurkan lidahnya membelai-belai batang penisku. Perlakuan yang ia beri seperti aliran listrik yang menyetrum seluruh saraf kenikmatanku.

Aku tak kuasa lagi menahan gejolak nikmat ini, lolongan nikmat mulai tergaung.

Via, Via, Via!

Via memberikan apa yang tidak ibunya berikan kepadaku. Margaretta selalu berkata jijik saat aku memintanya oral seks. Tidak dengan Via, ia melakukannya sukarela dan penuh ketelatenan.

Via mencium setiap inci penisku tanpa ada bagian tertinggal. Tangannya masih sibuk bekerja mengocok dan membelai kemaluanku. Tiba dimana bibir manisnya melingkar di kepala penisku. Aku dipaksa memejamkan mataku erat.

“Vi..” Sahutku mengerang.

“Hn?” Mulut Via yang tersumpal kepala penisku berdehem. Matanya melirikku sekilas lalu kembali tertawa ringan dalam keadaan penisku yang bersarang dimulut mungilnya. Ia mulai mengemuti penisku lembut dan penuh perhatian. Layaknya kenikmatanku adalah prioritas utamanya.

Penisku yang tengah berada di ukuran maksimal menyulitkannya mengulum batang penisku. Ia hanya dapat mengulum penisku seperempat bagian saja. Hangatnya napas Via menerpa kulit penis hitamku. Aku benar-benar dimanjakan oleh putri kandungku sendiri. Lidahnya terkadang menyentuh lubang kencingku tanpa ada rasa jijik yang menampak di wajah Via.

Penisku berkedut-kedut nikmat. Sesekali terangguk-angguk ketika lepas dari cengkraman bibir Via. Via bahagia sekali melihatku begini. Sampai dipuncak kenikmatanku, Via semakin mempercepat tempo kocokan tangannya, ia menyedot penisku kuat-kuat.

Desahan meluncur keluar berbarengan dengan semprotan lahar panas dan kental milikku membasahi rongga mulut Via. Pipi Via mengembung penuh. 10 Tahun lamanya aku tak mengeluarkan maniku, aku bisa membayangkan betapa banyaknya air mani yang kusemprot di mulut Via. Beberapa menetes lewat celah dibibirnya. Jatuh kedagu lalu ke piyamanya.

Via mendesah lega seolah ikut merasa nikmat setelah ia telan seluruh spermaku. Ia melakukannya dan disaksikan oleh kedua bola mataku. Ia juga menjilati air mani yang tercecer di sprei kasur setelah merunduk.

“Tugasku sudah selesai.” Katanya riang. Setelah memberi satu kecupan singkat di dahiku,

“Selamat tidur Papa, mimpi yang indah ya..” Via kemudian bangkit, ia kini benar-benar meninggalkanku sendiri di kamar dan membawa piyamanya keluar.

Apa yang telah kulakukan?

Apa-apaan itu tadi?

loading...
www.sedarahceritasex.com