Agen BandarQQ Online

Daughter, Love of My Life 4

Daughter, Love of My Life 4 -
loading...

Salju berjatuhan turun dari tahta langit, butirannya membasahi puncak kepalaku. Sepanjang mataku memandang, pernak-pernik hiasan natal terpasang di setiap sudut kota. Pahatan es yang terbentuk indah terpajang disisi jalan. Keindahan tersebut ditambah oleh sinar benderang lampu lampion yang bergantungan malam itu.

Gadis itu mengeratkan mantelnya, mengusap-usap bahunya dengan bersilang tangan. Mencari secercah kehangatan dari dinginnya musim dingin di Kota Otaru, Jepang. Ia membalikkan tubuhnya, sekedar menunjukkan binar-binar di matanya bahwa ia senang aku membawanya kemari. Via, nama gadis itu, tersenyum penuh arti dari tempatnya berpijak beberapa langkah didepanku.

Toko-toko souvenir, restaurant, dan café mulai sepi pengunjung. Tidak banyak orang berlalu lalang disekitar kami sekarang. Bahkan hanya tinggal menyisakan kami berdua disalah satu sudut jalan ini.

“Foto?” Tawarku setelah mendapatkan spot yang pas untuk mengambil gambarnya.

Via mengangguk antusias, “Kalau gak cantik ulang loh Pa sampai dapat yang cantik.”

“Hahaha iya, mau gimanapun kamu tetap cantik kok kalau di foto.”

“Iya kalau di foto doang cantiknya, aslinya enggak ‘kan Pa?” Sudut bibirnya menarik senyum jahil.

“Enggak lah, aslinya juga cantik kok.”

“Nah gitu dong yang lengkap!”

Aku mengarahkan lensa kameraku ke putriku. Ia yang mengenakan mantel hitam berbulu, celana jeans putih, dan sepatu boots berwarna senada itu mulai berpose anggun.

Cklek.. Cklek..

Dua lembar kertas persegi berukuran minimalis itu keluar lewat kameraku, Via langsung berhambur menghampiriku, melihat hasil gambar yang kuambil.

“Bagus banget! Mantelnya cocok banget ya sama suasana malam gini.” Wajah Via berseri gembira. Tangannya dengan cekatan mencabut ponselnya keluar dari saku celananya, ia balik mengambil gambar beberapa lembar foto yang ia kumpulkan di tangannya dengan latar belakang tumpukan salju dibelakang.

Selama ia sibuk mengambil gambar lembaran fotonya sendiri, aku memperhatikan sosok jelitanya.

Sekarang aku tidak bisa membayangkan bagaimana putriku jatuh ke pelukan orang lain. Ia terlalu sempurna. Tak ada pria manapun di dunia ini yang dapat bersanding pantas dengannya. Mungkin inikah yang disebut posesif? Rasa cintaku terhadap dirinya mulai tumbuh berkali-kali lipat lebih besar dari sebelumnya. Jauh melebihi kecintaan seorang ayah terhadap putri semata wayangnya, rasa cintaku bersifat posesif dan menuntut.

“Pa..”

“Pulang yuk.. udah malam banget nih..” Sambungnya setelah selesai dengan kesibukannya.

“Jadi gak jadi nih kita ngunjungin kedai ramen malamnya?”

“Pa.. ada yang harus kita selesaikan ‘kan malam ini?” Via menyunggingkan senyum manjanya.

Aku menaikkan satu alisku heran, “Emangnya masih harus ya? Kita kan harusnya udah berada di luar jangkauan ‘dia’, kamu bebas dong Vi..”

loading...

Via menghembuskan napasnya, pipinya mengembung kesal.

“Kok Papa jahat banget sih? Ini kan bukan hanya persoalan Sethiath, tapi perasaanku juga!”

Aku menyengir mendengarnya menggerutu. Aku hanya ingin memastikan kalau pengaruh Sethiath masih ada.

Ya, tentu tidak mungkin Sethiath melepas putriku jika rencananya gagal. Ia telah sukses menanamkan cinta di hati Via. Cinta terlarang yang tak akan lekang di makan oleh waktu. Makhluk itu membuat Via berpikir tidak akan ada yang mampu memuaskan nafsunya selain aku, membuatnya berpikir tak ada lagi tempat baginya untuk bersandar selain diriku.

Lebih dari itu ia telah memaksa kami menjalankan sebuah ritual penyatuan jiwa. Ritual sakral yang berikutnya memberiku izin untuk membuahi sel telurnya tanpa perlu merasa khawatir akan risikonya.

Tembok yang membatasi hubungan kami telah runtuh, tak ada lagi kesan ayah dan anak dalam hubungan kami. Via sudah melepas rasa hormatnya padaku, semakin banyak kami bercinta semakin terlihat bahwa kami sepasang kekasih, bukan lagi pasangan ayah dan anak.

Hingga detik ini, sudah tak terhitung lagi berapa kali kami bercinta.

Faktanya, kami sekarang sudah terikat oleh ikatan yang resmi …

“Iya-iya deh, kita ke hotel sekarang.” Aku mencium punggung tangannya lembut. Darisana, aku bisa melihat sebuah cincin perak dengan berlian kecil yang tersemat manis di salah satu jarinya.

… Sebuah cincin pernikahan.

 

 

Aku sedang mengeringkan rambutku ketika beranjak keluar dari pintu kamar mandi. Kugosok benih-benih air yang masih menempel dikepalaku. Tubuhku mengeluarkan uap dari sisa-sisa air panas.

Hanya berselang beberapa detik hingga aku menyadari Via sudah setengah telanjang diatas satu-satunya ranjang hangat yang tersedia di kamar. Ia menopangkan kepalanya di satu tangannya, menggerlingkan matanya genit kearahku.

Penampilannya sungguh mengejutkanku, ia mengenakan lingerie, atau semacam kostum kurasa? Yang mirip dengan kelinci, ia mengenakan bando telinga kelinci di kepalanya, sementara rambutnya ia ikatkan satu ikatan kebelakang. Payudara dilapisi oleh BH yang sebenarnya tidak menutupi gundukannya, hanya melingkar di diameternya. Terakhir celana dalamnya menunjukkan garis labia minoranya yang sekarang sudah sedikit terbuka karena ulahku.

“Sayang..?” Suara merdunya memanggilku. Ia membalikkan tubuhnya, mengigit kuku jarinya seksi.

“Darimana kamu dapet pakaian itu?”

“Pagi ini aku keluar sebentar, ternyata ada yang menjual pakaian seperti ini. Aku beli deh.” Jelasnya dengan diiringi tawa cekikikannya.

“Kita baru pulang, apa kamu gak capek Vi..?”

Via mendesah seduktif, “Aku panas, Pa..”

“Tadi pas Via posting foto-foto di instagram, Mama ngirimin aku pesan.” Ia menjedakan kalimatnya sejenak, bertingkah seolah-olah ia berat mengungkapkannya,

“Intinya sih, ngasih aku ucapan gitu lah. Tapi aku rasa kayaknya Mama ngerinduin Papa..”

Sorot mata kalemnya menyipit menggodaku, “Aku benci kalau Mama ngerinduin Papa. Cuma aku yang boleh ngerasa begitu. Iya ‘kan Pa?”

Belum sempat aku menjawab, Via menarik tanganku agar ikut terjun ke ranjang bersamanya. Ia lepaskan lilitan handuk yang menutupi selangkanganku. Penisku seketika langsung melompat keluar dengan kondisi terangsang hebat akibat pakaian tidak senonoh yang dikenakan Via.

“Suka sama pakaian yang baru Via beli ya Pa?” Candanya dengan tangan yang sudah mengusap-usap benda kesayanganku itu. Harum bunga-bungaan yang berasal dari tubuhnya menusuk indra penciumanku.

Ia hadapkan wajahnya dengan penisku. Tanpa aba-aba apapun lagi, Via langsung mengemuti penisku penuh gairah. Darahku mulai berdesir turun menuju selangkanganku, pusat dimana rangsangan itu berada.

Awalnya ia mengulum penisku lembut. Tapi aku yang tidak bisa menahan diri mendadak menggerakkan pinggulku, mengobrak-abrik seisi mulut Via tanpa belas kasih. Via sendiri terkejut tapi ia memilih mengikuti alur gerakanku.

“Ukhh…Umhh…” Katanya tersedak-sedak. Tanganku meraih kedua sisi kepalanya untuk mempermudah akses masuknya penisku menghujami mulutnya. Bibir ranumnya melingkar indah di batang penisku. Bergerak-gerak senada dengan sodokanku.

Salahnya sendiri karena terus menerus menggodaku.

“Via.. Akh ini enakk.” Kataku memujinya.

Mendengar aku memujinya, Via yang semula tersiksa dengan permainanku mulai membiasakan diri. Ia mulai menyedot-nyedot kepala penisku sama liarnya, kepalanya bergerak maju mundur dengan sendirinya.

Ia harus menikmati sodokanku, begitulah kemantapan hatiku begitu tanganku beralih menggesekkan klitorisnya mengikuti irama sodokanku di mulutnya. Via harus kuberi pelajaran untuk dapat meraih orgasmenya bahkan ketika ia sedang mengoral penisku.

Mulut Via berdengung, nampaknya ia hendak mendesah namun mulutnya masih tersumpal penis besarku. Aku membentuk seringaian di mulutku saat tahu Via akan segera menikmatinya.

“Ya, lebih keras Vi.. emut yang bener.” Kataku memerintahnya. Tapi tidak ada yang berubah dari sedotan Via pada penisku. Aku seketika menghentikan gerak tanganku di area sensitifnya.

Via langsung menggeram. Matanya menatapku marah, tapi kemudian ia menuruti kemauanku. Ia sedot penisku kuat-kuat hingga pipinya tertarik ke dalam. Rasa ngilu dan nikmat menjalar di kemaluanku. Aku mengatupkan mataku erat hanya untuk menikmati sedotan Via di penisku.

Aku balik menggerayangi bibir vaginanya, kupelintir dan kucubit gemas klitorisnya itu. Via semakin liar, lidahnya menjelajahi seluruh batang penisku di dalam mulutnya, kurasakan bagaimana tekstur lembut lidahnya itu bermain-main di sekitar penisku.

Setelah ia mulai membiasakan dirinya dengan permainan yang kumainkan, aku membimbing tangannya supaya ia menggosok-gosok kemaluannya sendiri. Ia pun tanpa protes mengamininya. Via yang awalnya kesulitan mulai dapat mengimbangi sodokanku dimulutnya sambil tetap memainkan klitorisnya sendiri.

Nafsuku semakin meledak-ledak. Via yang mulutnya sedang dibombardir justru mendesah-desah kenikmatan. Cairan kewanitaannya mulai muncrat membasahi sprei. Air ludahnya pun mengalir di beberapa bagian penisku, turun membasahi buah pelirku. Lama kelamaan semakin lancar saja penisku masuk ke rongga mulutnya akibat air ludah Via yang meluber di penisku.

“Cukup Vi.. Ahh, jangan dibuat keluar sekarang.” Tegasku setelah mengeluarkan penisku yang bersarang di mulut Via hampir 20 menitnya.

Air ludah Via menetes lewat dagunya. Ia memandangku seksi. Raut wajahnya menandakan ketidak mampuannya membendung birahinya yang sudah diujung kepala. Memanfaatkan kondisinya, aku memposisikan Via agar menungging.

Kuludahi berulang kali lubang anusnya, tak lupa mengusap-usap lubangnya sampai Via menoleh kebelakang, ia menatapku gelisah. Via tahu aku akan segera memperawani lubang anusnya.

Saat aku memasuki penisku ke lubang vaginanya, Via mendesah lega.

“Auhh.. Yah Pa.. Papaku yang perkasa.” Racaunya sumringah.

Ketika penisku sudah mentok di ujung pintu rahimnya. Aku mendiamkannya sejenak. Pinggul Via hendak bergerak-gerak tak menentu namun kutahan dengan cengkraman tanganku di kedua sisi pinggulnya. Alhasil, nafsu Via terpaksa harus ia tahan. Nafasnya tersengal-sengal karena perbuatanku.

Momen itu aku memasukkan kedua jariku sekaligus ke lubang anus Via. Via yang tidak memprediksikan kedua jemariku memekik kesakitan. Bibir bawahnya ia gigit, sedangkan tangannya mencengkram erat sprei kasur hingga tak berbentuk lagi. Beruntungnya ia sama sekali tidak memberontak saat itu.

Aku biarkan tanganku bersarang di anusnya tanpa kugerakkan sesentipun. Namun penisku mulai maju-mundur menggeseki dinding vaginanya. Terdengar lolongan sakit Via kini bercampur desahan merdunya.

Aku melakukan penestrasi dengan gerakan yang lembut dan teratur. Tidak sebanding dengan nafsu Via yang sudah menggebu-gebu, lima menit kutahan ia seperti itu, Via akhirnya menggerakan pinggulnya sendiri. Tidak peduli kalau anusnya masih membiasakan bentuk jari-jariku.

“Oh Vii, yahh… Pijit kemaluan Papa..” Bisa kurasakan denyutan anus dan vaginanya yang menjepit masing-masing penisku dan kedua jemariku.

Sudah kuniatkan sejak jauh-jauh hari, bahwa aku ingin memperawani anus Via yang kuanggap sebagai hadiah pernikahanku, meskipun Via pada awalnya kesakitan menerimanya, lambat laun ia akan terbiasa dan menikmatinya. Aku yakin itu. aku ingin mewujudkan semua fantasiku bersama Via. Orang yang kucintai dengan segenap hatiku.

Beberapa menit berselang, penisku yang sudah berlumur cairan lubrikasi bersama air ludah Via kulepaskan dari Vaginanya, aku memasuki anusnya. Batang penisku perlahan-lahan mulai menerobos pertahanan Via yang terakhir.

“Akhhh Pa… Sakitth..”

Jepitan anus Via terasa sesak ketika kumasuki. Penisku juga dijepit celana dalam Via yang masih terpasang. Aku menggeram penuh kenikmatan ketika penis besarku memaksa masuk anus Via yang masih sangat sempit.

Dengan ini aku telah menyatakan bahwa aku telah sepenuhnya memiliki Via baik secara jasmani maupun rohaninya.

Aku tersenyum penuh kepuasan ketika penisku diurut oleh otot-otot anusnya. Perlahan aku mulai menyodoki anusnya. Tubuh Via awalnya bergetar. Namun seperti yang sudah kuduga, ia akhirnya bisa membiasakan diri.

Setelah beberapa lama tubuhnya kuhentak-hentakan dengan mulutnya yang terkatup rapat. Desahan-desahan Via mulai bermunculan.

“Pa… Rasanya.. Aneh hnn.”

“Kenapa sayang?” Tanyaku yang terus saja menghentakkan anusnya dengan tempo yang konsisten.

“Dimanapun Papa menyetubuhi Via, rasanya enakkhh.. Via dibuat Papa ketagihan.”

“Via janji buat jadi milik Papa satu-satunya untuk selamanya?”

“Via Janjihh Pa.. Ukh.”

“Via janji untuk tidak mengulangi apa yang Mama perbuat pada Papa?”

“Viaa selamanyah milikhh Papa..”

Aku melebarkan senyumanku, anusnya mulai kusetubuhi dengan ganas. Via pun mulai mengikuti gerakanku. Ia bahkan menaruh kedua tangannya di pantatku dan menariknya kedepan supaya penisku lebih dalam lagi membobol anusnya.

Via yang berperangai halus dan lembut diluarsana menyimpan gairah yang tinggi ketika bersama denganku dalam satu ranjang. Hanya aku yang tahu seliar apa putriku diatas ranjang. Itu melahirkan kepuasan tersendiri di hatiku.

Keringat sudah membanjiri tubuh kami berdua. Bibir kami saling berjumpa untuk menyatakan cinta. Cairan demi cairan mulai keluar dari alat kelamin kami yang saling bergesekan. Jatuh membasahi sprei dan bercampur menjadi satu. Tidak ada yang bisa menunjukkan asal muasal cairan tersebut.

Berpuluh-puluh menit berlalu, Via sudah terhitung empat kali menyemburkan cairan squirtingnya. Akhirnya aku pun menembakkan spermaku di perut dan dadanya setelah aku menyuruhnya membalikkan badan. Tubuhnya bermandikan cairan cintaku. Spermaku yang menempel ditubuhnya bagai pertanda bahwa aku telah berhasil mengklaim Via sebagai milikku satu-satunya.

Selanjutnya kami saling berpelukan. Senyum penuh kepuasan tercetak di bibir kami berdua. Satu kecupan ringan cukup untuk menghantarkan kami ke bunga mimpi yang indah.

loading...
www.sedarahceritasex.com