Agen BandarQQ Online


Daughter, Love of My Life 2

Daughter, Love of My Life 2 -
loading...

Matahari mulai menyembul dari ufuk timur. Cahayanya menerpa tubuhku lewat celah tirai di jendela. Tidurku perlahan mulai terusik oleh hangatnya sinar pagi. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku tuk menghilangkan pandangan kabur. Bergerak duduk ditepi ranjang. Aku menyadari sesuatu yang baru..

Tubuhku entah mengapa pagi ini terasa ringan sekali ketika kugerakan. Apa yang terjadi?

Sejenak aku termenung guna menyatukan serpihan-serpihan memoriku. Oh ya aku baru ingat, malam itu Via..

Aku membenamkan wajahku keatas kedua telapak tanganku. Mengerang penuh penyesalan. Tidak seharusnya aku melakukan itu biarpun Via memaksaku. Sekelumit perasaan gelisah menggerayangi hatiku. Perbuatan kemarin itu adalah dosa terbesarku. Bagaimana aku tidak menyesalinya?

Sayup-sayup aku mendengar suara riuhnya peralatan dapur. Tak perlu berlama-lama lagi aku segera bergegas kesana. Aku terperanjat kaget melihat Via sibuk mengurusi masakannya. Ini pertama kalinya aku melihat Via memasak. Tapi makanan yang tersaji diatas meja makan sudah tampak sangat menggiurkan. Semerbak wangi masakan mengelilingi ruang dapur.

Via mengenakan bluss biru dan celana pendek ketat kesukaannya. Ia memang berpenampilan seperti ini kalau sedang di rumah. Tapi setelah kejadian semalam, ia yang memakai pakaian terbuka rasanya menimbulkan sensasi berbeda. Menyadari kehadiranku, Via menengok sekilas kebelakang,

“Oh Papa? Ayo Pa duduk, bentar lagi Via selesai.”

“Kamu yang masak ini semua?” Tanyaku tidak percaya.

“Yup.”

“Darimana kamu belajar masak Vi?”

loading...

“Gak tahu, pagi ini Via pingin masak. Yang jadinya makanan kayak gitu.”

“Kok bisa begitu? Ini sepertinya enak lho.” Kataku heran sekaligus memujinya. Via tidak bisa memasak makanan seperti ini secara spontan, makanan ini termasuk makanan yang rumit ketika dimasak. Aku pun tidak punya kemampuan mengolah makanan semahir ini.

“Iya kah? Yaudah yuk makan, ini yang terakhir.” Via meletakkan masakan terakhirnya diatas wadah mangkuk besar. Lengkap sudah meja makanan ini dipenuhi berbagai macam makanan; mulai dari chicken soup, tiga telur goreng, beberapa potong ayam dengan bumbu yang khas, dan banyak lainnya.

“Kamu masak sebanyak ini dari kapan, Vi?”

“Subuh mungkin? Gak tahu ah, ayo Pa duduk kita makan.”

Duduk disalahsatu kursi didepan meja makan dan aku langsung berhadapan dengan putriku. Setelah kejadian malam sebelumnya, Via masih bertingkah normal. Kukira ia juga menyesalinya, tapi tak ada raut cemas ataupun gelisah disana.

Via berinisiatif mengambilkan porsi makanku dan menyerahkannya. Aku menerimanya dengan canggung. Sebelum aku menyuapi makanan itu masuk ke rongga mulutku. Aku menyampaikan perkataan yang terus saja mengganjal di kerongkonganku sejak tadi,

“Vi.. soal tadi malam, Papa masih bisa maafin kamu asal kamu mau cerita siapa yang ngajarin kamu begitu?”

“…” Via tampak sama sekali tidak berminat menjawab pertanyaanku. Ia sibuk menyuapi mulutnya dengan sesendok makanan buatannya sendiri.

Aku menghela napas, “Baiklah kalau kamu gak mau cerita, Papa masih maafin kamu tapi kamu jangan ulangin lagi ya.”

Masih tak ada jawaban dari mulut Via.

“Via.. bilang dong sama Papa.”

“Via..”

Didesak berulang kali, akhirnya Via menggebrak peralatan makannya dan menimbulkan suara dentingan nyaring ke seantaro ruangan. Via menahan napasnya, lalu akhirnya merespon,

“Via gak bisa berhenti. Apa Papa gak ngerti ya? Via udah tercipta buat Papa. Gak ada yang bisa hentiin Via!”

“Maksud kamu apa sih Vi? Ini tuh salah Vi! Kita gak boleh ngelanjutin perbuatan macam itu.”

“Papa gak mau ngelanjutin? Oke, tapi Papa tanggung sendiri akibatnya. Biar Papa yang hadapin ‘dia’ sekarang.”

“Dia? Dia siapa Vi? Kamu diancam sama siapa?”

Air mata kembali terjun dari ekor mata Via. Via menggelengkan kepalanya menolak memberiku jawaban atas pertanyaan itu. Ia langsung saja mengambil langkah pergi.

Brengsek sebenarnya apa yang terjadi disini? Aku mengejar langkah Via dibelakang. Ia berlari menuju kamarnya. Membanting pintu kamarnya dan menguncinya rapat-rapat dari dalam. Berkali-kali kugedor pintunya dan menyebut namanya. Tapi Via tak merespon.

loading...

Begitu seterusnya hingga malam pun tiba.

Bulan purnama menggantung indah di langit gelap dengan taburan bintang yang memukau. Di malam seindah itu, suasana rumahku masih cukup runyam. Via masih tak kunjung membuka pintu kamarnya. Padahal aku sudah mengiba dan memohon padanya agar ia mau sedikit melunak. Tapi Via tetap tak mau keluar dari sarangnya.

Perasaan khawatir kini membuncah dihatiku. Ada sekelumit pikiran aku ingin mendobrak pintu kamarnya. Barang kali ia melakukan hal yang tidak-tidak di dalam sana. Apalagi waktu sudah menunjukkan pukul tengah malam, dan Via belum juga keluar untuk makan hingga sekarang.

Tak tahan lagi dengan sikapnya. Aku benar-benar berniat mendobrak pintu kamarnya sekarang. Peringatan terakhir sudah kulayangkan padanya. Mengambil ancang-ancang dengan mengandalkan bahuku. Aku berlari kencang menabrak pintu kamar Via.

BRRAKK!!

“VIA!!!” Seruku memanggilnya murka. Kupedarkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan, mencari sosok Via.

Saat mataku menangkap sosok Via. Dadaku seketika terasa sesak. Via tengah terbaring lemah diatas kasurnya dengan posisi meringkuk. Napasnya tersengal-sengal bagai kehabisan pasokan oksigen. Aku langsung berhambur mendatanginya.

“Via..Via.. Hey kamu kenapa?” Tanyaku panik. Tanganku menyentuh dahi gadisku itu. Panas bukan main!

“Via!” Panggilku sekali lagi, berharap ia menyahut.

“Pa..Papa? Panas Pa..” Suara Via yang lemah tak bertenaga itu sudah cukup untuk membuat tanganku dengan cekatan menggendongnya pergi dan membawanya menuju rumah sakit. Dada Via naik turun tak beraturan mengikuti ritme napasnya. Hatiku berdebar tak karuan melihatnya tersiksa seperti itu.

“Via sayang.. kamu kenapa sayang?”

“Via..”

“Vi..”

Celaka, kenapa tidak sejak tadi aku mendobrak pintu kamarnya. Kondisi ini jauh lebih buruk dari apa yang kuperkirakan. Aku segera menuntunnya memasuki mobil Range Rover Evoque milikku dan melesatkan kendaraanku secepat mungkin.

 

 

Sudah dua minggu berlalu sejak aku membawa Via ke rumah sakit. Sakitnya tidak kunjung sembuh. Awalnya aku menduga ia meracuni dirinya sendiri tatkala lepas dari pengawasanku, tapi dokter bilang tidak ada indikasi penggunaan obat terlarang di dalam tubuh Via. Disisi lain, dokter pun sulit menyatakan apa yang diderita anak gadisku itu.

Ini bukan sakit demam biasa, panasnya berada di suhu 39 derajat celcius. Meskipun demikian, Via tidak menunjukkan gejala tipes ataupun penyakit lainnya. Saat di rontgen, organ tubuhnya pun baik-baik saja. Tapi dokter setuju jika sakit yang diderita Via tidak main-main. Terbukti dengan lumpuhnya kesadaran Via setiap harinya.

Bila sedang sadar, ia ingin aku berada disisinya dan mengenggam tangannya. Hanya dengan begitu dirinya bisa sedikit tersenyum tenang menghadapi penyakitnya itu.

Disaat itulah aku mengutuk keras diriku, ini semua akibat perbuatanku waktu itu. Aku lah yang bertanggung jawab membuat Via jatuh sakit. Menghadapi kenyataan itu, aku tak kuasa menahan air mataku tumpah menangisinya.

Beberapa kolega dan rekan kerjaku mulai berdatangan membesuk Via. Tidak terlepas dari mantan istriku, Margaretta. Ia terisak menangis anaknya sakit keras seperti itu. Kami tidak terlibat banyak pembicaraan. Ia hanya memintaku untuk tegar.

Di minggu kedua, sahabat karibku yang dikenal memiliki sedikit kemampuan supranatural berniat datang menjenguknya juga.

Tok..Tok..Tok..

Suara ketukan pintu refleks membuatku bergerak dari posisi dudukku. Aku baru saja selesai berdoa pada Tuhan agar lekas menyembuhkan penyakit anakku. Memutar knop untuk membukakan pintu. Tampaklah siluet Beni, sahabat karibku semasa SMA berdiri di balik pintu.

“Eh Ben! Apa kabar? Kataku menyapanya.

“Ah Tom, gua mah gitu-gitu aja.” Ia menyengir. Dari tangannya ia menjinjing sebuah keranjang yang diisi beraneka ragam buah.

“Buat anak gue tuh?”

“Oh iya nih.”

“Ayo masuk kalau gitu. Gile berapa lama nih kita gak ketemu?” Kataku mempersilahkannya. Membuka pintu lebar-lebar agar ia dapat memasuki ruangan yang dihuni Via. Sebuah ruangan kelas VVIP di salah satu rumah sakit terkemuka Kota Kembang.

“…”

“Loh kok gak masuk Ben? Napa lu?”

Beni mematung sempurna. Matanya memandang lurus kedepan dan mengacuhkan ucapanku. Wajahnya kian memucat perlahan-lahan.

“Ben.. Ben.. Beni, Oi!”

“Tom lebih baik gua disini aja deh. Lo taruh ini dulu terus tar kita bicara diluar.” Ia menyerahkan keranjang berisi buah-buahan itu dan langsung membalikkan tubuhnya.

Aku mengerutkan dahiku heran, tidak biasanya Beni bersikap begini.

“Aneh lo Ben.”

“Dah buruan keluar yuk.” Ajaknya mendesakku.

Setelah menaruh benda bawaan Beni keatas laci disamping ranjang tempat Via tergolek lemah. Aku mengekori Beni keluar ruangan.

“Ada apa sih Ben? Kok lo kayak ketakutan gitu?”

Beni mengusap-usap belakang lehernya sambil mendesis, “Gini loh Tom. Kayaknya gua tahu anak lo sakit apa.”

Nampaknya ada yang tidak beres disini. Napasku mendadak tercekat, kalau Beni bisa tahu apa yang diderita Via. Ini pasti ada hubungannya dengan hal-hal gaib.

“Lanjutkan.”

“Anak lo itu gak sakit betulan, Tom.” Jelas Beni agak ragu.

“Ada jin yang ngejaga dia.”

Kakiku mendadak lemas seakan ingin meleleh mendengarnya.

“Jadi anak gue disantet, Ben?”

“Bukan, bukan disantet. Jinnya sakti mandraguna, Tom. Dukun manapun gak akan mampu milikin jin macam gini, terlalu kuat Tom. Yang ada manusianya yang diperbudak. Yang macam kayak gini yang sama sekali gak bisa diusir, Tom.”

“Ben gue bener-bener berharap lo gak main-main sama perkataan lo barusan. Itu bakal nyakitin hati gue banget, Ben.”

Beni menarik tanganku, memaksa supaya aku menatap matanya. “Lihat mata gua, Tom. Apa gua lagi bercanda? Gua benar-benar ngelihat itu Jin ada disebelah anak lo. Persis berdiri disampingnya! Mata batin gua malah lihat dia gak pernah pergi dari lo dan anak lo sejauh ini.”

“Kasih gue solusi ngatasin ini, Ben. Gue sayang banget sama anak gue. Nyawa dia lebih berarti dari nyawa gue. Kalau Jin itu minta nyawa, biar nyawa gue aja yang dia ambil.” Pintaku memelas.

“Kalau lo mau, gua bisa bicara sama itu Jin buat memperjelas maksudnya ngusik anak lo.”

“Apapun jalannya, gue mesti tolongin anak gue, Ben.”

 

 

“Papaaa~!” Suara riang Via pagi itu mengusir kalut dan gelisahku. Semua berkat Beni, darinya sekarang aku tahu maksud perkataan Via beberapa waktu lalu.

“Vi..” Kataku setelah menghampirinya, kubelai rambutnya yang indah itu penuh kasih sayang.

“Cium!”

Aku terkekeh ringan mendengar permintaannya. Padahal baru saja terbangun. Ia tidak menghiraukan dua minggunya yang ia habiskan hanya dengan berbaring diatas ranjang rumah sakit. Putriku benar-benar sedang dibutakan oleh cinta dan nafsu yang dipadukan menjadi satu. Tanpa basa-basi lagi, aku langsung mencium keningnya menuruti perintah anak gadisku.

“Bukan yang itu, bibir.”

Jujur hatiku masih menolak keras perbuatan ini, tapi aku tak punya banyak pilihan.

Aku semakin membungkukan badanku, mengenggam tiang pembatas disisi kasur dan mulai mencium bibir Via.

Via menyambut ciumanku dengan menjulurkan lidahnya. Ia sapa bibirku dengan lidahnya yang sensual. Ia tak sungkan lagi melahap sekitar mulutku tanpa ampun. Aku pun tak kalah, kukenyoti lidahnya itu mengikuti gelora nafsunya. Kami memagut satu sama lain pada akhirnya.

“Ufhh..” Desahnya menikmati ciuman kami.

Aku menarik kepala Via untuk memperluas akses masuknya lidahku dalam mengobrak-abrik seisi mulutnya. Menjelajahi mulutnya, kusapu langit-langit mulut Via dan deretan giginya yang bersih itu. Lidah kami terkadang bertautan. Saliva kami bercampur.

Ciuman basah itu terus berlanjut saat tanganku satu persatu membuka kancing baju Via. Tubuh Via yang menebarkan aroma feromon membuat tubuhku panas. Suatu ketika aku berhasil melucuti seluruh pakaiannya.

Setiap lekuk tubuhnya yang seksi kini terekspos jelas. Lengan Via tersilang di depan perutnya sedangkan kaki kirinya terlipat, ia memasang pose seksinya. Kulit mulus Via seperti mengundangku untuk menciuminya. Putih bagai mutiara. Kontan penisku mulai mengeras dan mendesak agar dikeluarkan dari sarangnya.

Kutimpa tubuhnya itu dengan pelukanku. Payudara lembutnya mengembang ditimpa oleh bahuku. Wajahku kudekatkan ke leher jenjangnya. Aku menghirup aroma tubuh Via dalam-dalam darisana sebelum akhirnya melumati dan mencupangi lehernya gemas. Sesudahnya, punggungnya pun tak luput dari ciumanku.

“Akhh.. Pa…” Erang Via dilanda nafsu, nafasnya terhembus tak beraturan.

“Vi.. kamu cantik banget.”

“Yahh. Pa jangan berhentihh. Terussh.” Racau Via disela-sela kegiatanku menciuminya. Disaat itulah aku merasakan Via balas memelukku, jari-jari mungilnya meremas punggungku.

Aku semakin semangat menggerayanginya. Tanganku mulai memerhatikan payudaranya. Kupelintirkan jemariku di putingnya. Via semakin memperkeras suara desahannya. Kepalanya terdongkak keatas.

Jujur dulu sekali aku menyimpan sebuah fantasi dimana aku bisa meminum susu ASI dari istriku. Margaretta tidak mengizinkanku melakukannya selama menyusui Via dulu. Bagaimana jika itu Via? Aku yakin dia akan mengizinkanku.

Kali ini perhatianku seutuhnya ada pada payudara Via. Bibirku mencium pentilnya, lalu mengapit putting merah mudanya hingga desahan Via kembali terkumandang. Suara desahannya bagai alunan simfoni indah yang mana aku tak ingin berhenti mendengarnya.

Karena keinginanku itu, aku terus saja menjahili payudaranya. Terkadang aku memberinya kenikmatan seperti maunya itu dengan memainkan lidahku disekitar payudaranya. Terkadang aku mengigit putingnya agar ia mendesah. Terakhir aku menyusu layaknya seorang bayi yang tengah kelaparan.

Diperlakukan seperti itu terus-menerus, puting payudara Via memerah.

“Akhh Pa! Astagah… enakkh..”

“Ahhh..!”

Paham bahwa Via sudah terangsang hebat. Tanganku beralih menyentuh bagian paling intim dirinya. Via yang semula memejamkan matanya bahkan harus terbuka. Menatap mataku dengan tatapan laparnya.

Tangan besar dan kokohku membelai lembut bibir vagina Via yang masih berbentuk garis simetris. Kemaluannya ditumbuhi bulu-bulu halus yang lebat. Bulu kemaluannya yang berwarna hitam sangat kontras dengan warna kulit putihnya.

Dengan hanya menyentuh bibir vaginanya saja aku bisa merasakan betapa hangat dan lembabnya lorong vagina Via. Cairan lubrikasinya bahkan meluber keluar. Via sudah sangat siap untuk disetubuhi.

“Via kamu yakin?”

“Aku milikmu, Pa. Selalu jadi milikmu.”

Setelah mendengar persetujuan dari bibir Via. Satu jariku langsung menembus lubang vaginanya dan mendiamkannya disana. Vagina Via yang suci dan tak terjamah oleh siapapun itu kuterobos. Via memekik sempurna merasakan vaginanya dimasuki benda asing untuk kali pertama. Dinding vaginanya sempit sekali. Satu jariku saja cukup untuk merasakan sensasi pijat vaginanya yang berkedut-kedut.

Setelah Via kuanggap mampu menyesuaikan ukuran jari-jariku dan mengatur napasnya, aku memasukan jari keduaku lalu kembali mendiamkan kedua jariku bersarang disana dengan manis.

“Ishh Pa..” Desisnya setengah mendesah.

Beberapa jenak kemudian, aku memberanikan meliuk-liukan jemariku di dalam liang vaginanya. Mengeksplorasi ruang paling intim putriku. Hal tergila yang pernah kulakukan seumur hidupku. Hal yang tidak pernah kupikirkan akan terjadi.

“Uffh… Pa..”

“Pa,, Akhh!”

“Pa aku mau pipis, hentikanhhhh akhh!”

“Keluarin aja sekarang sayang. Gak apa-apa.”

Tiba-tiba tubuh Via menegang, kakinya terkujur kaku diudara. Via melonglong nikmat. Orgasme pertamanya akhirnya ia raih. Vaginanya memuncratkan banyak sekali cairan bening dan membasahi kedua jariku serta sprei putih ranjangnya.

“Vi..” Panggilku setelah orgasmenya mereda. Via menatapku dengan tatapan takjubnya. Kesempatan itu kugunakan untuk menunjukkan bagaimana aku menjilati cairan orgasme yang menempel di kedua jariku. Ini akan menjadi kesan yang bagus untuk dia ingat.

Sekarang giliranku menurunkan celanaku. Kubuka satu persatu pakaianku mulai dari celana, kaos, terakhir celana dalamku. Penisku yang masih mengingat nikmatnya kuluman Via langsung mengacung tegak meminta kepuasan, seakan-akan penisku ini mengenali Via.

Awalnya Via bergidik ngeri melihat penisku yang panjang dan besar menjuntai kesana kemari. Ia seperti membayangkan bagaimana benda macam ini muat di vaginanya.

“Hisap dulu Vi..” Titahku menyuruhnya. Kupikir ini baik untuk membuat dirinya sedikit lebih rileks.

Via mengangguk. Wajah cantiknya menghampiri selangkanganku. Tangannya sudah lebih dulu mengenggam penisku. Ia kocok-kocok penisku sebagaimana mestinya. Lidahnya perlahan mencicipi bagian-bagian penisku dengan seksama.

Kali ini ia menyerang bagian bawah penisku lebih intens. Ia menjilat-jilat bagian bawah batang penisku, tahu itulah titik paling sensitif dari kemaluan seorang pria. Lidah sensual Via bergerak-gerak liar disekitaran penisku dengan posisi duduk bersimpuh. Ternyata begini ya rasanya dioral oleh seorang wanita?

Aku merasa superior dan perkasa. Hal itu bagai menggambarkan penghormatan, kepatuhan, serta pernyataan bahwa Via telah menghambakan dirinya padaku.

Via juga sesekali menjilati, mengenyoti, dan menciumi buah pelirku. Selama sepuluh menit ia mengemuti penisku. Tak ada momen terbaik dalam hidupku selain mendapati pemandangan semacam ini. Sesekali kepalanya menengadah demi memastikan aku menikmati perlakuannya. Penisku kembali ke ukuran maksimalnya. Hanya Via yang mampu membuat penisku tegang sampai seperti ini.

Puas dengan pelayanan oral Via. Aku mengecup puncak kepala putriku, merebahkan tubuh sintalnya keatas ranjang. Penisku yang telah berlumur air ludahnya kini siap beradu di dalam vaginanya.

“Mengangkang Vi, pertama akan terasa sangat sakit. Gak apa-apa ‘kan?”

“Pa.. Papa gak harus minta izin buat apa yang udah jadi milik Papa..” Gumam putriku dengan nada manisnya.

Aku mengarahkan penisku ke liang vaginanya setelah mengesek-gesek bibir kemaluannya itu. Detik itu juga Via terpejam.

BLESSS.

Perlahan tapi pasti aku mendorong pinggulku. Kupegang pinggang Via supaya posisinya pas. Dahi Via mengkerut menahan sakit. Tangannya mencengkram erat kedua sisi pinggulku. Baru seperempat bagian saja. Via sudah mendesis menahan rasa sakitnya.

Selaput daranya pun robek, darah mengalir dari sela-sela vaginanya. Turun melewati pahanya dan membasahi sprei kasur. Sebagian hatiku mengucapkan rasa syukur, Via benar-benar menjaga tubuhnya agar tak terjamah oleh siapapun. Keperawanannya masih tetap terjaga sampai aku merenggutnya.

“Ukfhhh. Sakittt..” Air mata mengalir dari kelopak mata Via. Setelah dua minggu aku melihatnya menderita karenaku, kini perasaanku yang terluka bagai ditaburi garam.

Aku menjemput tubuhnya dan merengkuh tubuh mulus Via halus. Kugenggam belakang kepalanya dan belakang pinggulnya agar membusung kedepan. Ketika itu tangan Via yang berpindah posisi ke punggungku segera mencakarku, menancapkan kuku-kukunya disana. Darah segar ikut mengalir darisana.

“Tahan Via.. Tahan sayang..”

Via mengangguk pelan diperpotongan lengan dan bahuku. Tubuh kami menyatu tak terpisahkan selama proses pembiasaan vagina Via dengan ukuran penisku.

Setelah beberapa jenak berlalu, Via berhenti berdesis dan mengerang kesakitan. Darisana aku mulai menggerakan pinggulku pelan keluar masuk vaginanya. Mengeluarkan penisku setengahnya, lalu kuhujam kembali vaginanya dengan penisku yang utuh.

Kulit kami saling bergesekan, dinding vaginanya yang hangat menghantarkan sejuta kenikmatan yang sulit kujelaskan. Bibirku memberi kecupan-kecupan singkat di pipi serta lehernya. Menegaskan kalau aku pun menyanyanginya lebih dari siapapun.

Cairan lubrikasi Via, sisa-sisa orgasmenya, ditambah air liurnya mempermudahkanku memasukkan penisku yang berukuran jumbo. Setelah sekian lama aku akhirnya mengerti, bukan kenikmatan seks ataupun libidoku yang mati terlupakan. Melainkan mantan istriku Margaretta yang membuatku melupakan keduanya.

Margaretta tidak secantik Via, tidak juga seseksi Via. Tapi ia punya syarat ketat untuk berhubungan intim dengan ruang yang sangat terbatas. Sementara Via?

Aku bisa menyalurkan seluruh hasratku, seluruh keinginanku. Via adalah mimpiku. Via adalah malaikatku. Dan Via adalah putr–, ah tidak-tidak, setelah mendengar permintaan Jin yang selama ini mengawasi Via, statusnya sebentar lagi berubah,

Valencia Revalita adalah calon istriku. Yang terakhir dan untuk selamanya.

Via mulai menikmati persetubuhannya, terbukti dengan desahan-desahan yang kembali meluncur dari bibir ranumnya. Pinggulnya ia gerakan selaras dengan hentakan-hentakan penisku di vaginanya.

“Akhh.. Ah.. Papa!” Mata Via bergerilya, menatap kemaluannya yang sedang dihujami oleh penisku lalu menatap liar mataku. Tangannya meraih kedua pipiku. Ia mengangkat badannya untuk kemudian ia cium bibirku mesra.

“Vi…!”

“Papa, akhh~”

“Papa keluar Vi..!”

“Via jugaah, auuhh..”

Crrot Crot Crot…

Aku menumpahkan seluruh spermaku yang kental memenuhi rongga vaginanya. Vaginanya kini dipenuhi banyak cairan. Mulai dari darah perawannya hingga yang terakhir spermaku. Tubuhku ambruk menindih tubuh seksi Via. Alat kelamin kami masih menyatu dan urung kulepaskan, penisku masih menegang, aku akan kembali menyetubuhi Via setelah mengumpulkan segenap tenaga.

Napas kami berdua tersengal-sengal. Namun kelegaan tersirat di wajah kami berdua. Ya, sesungguhnya Jin yang selama ini ada disisi Via bukanlah makhluk jahat. Aura positif disekitarnya telah menjadi bukti bahwa ia dapat kupercaya. Ia hanya ingin aku dan Via bahagia.

Ini lah jalan satu-satunya menuju pencapaian itu.

Aku dan Via kemudian saling memagut mesra dalam sebuah pelukan manis yang menghantarkan kami ke nirvana berikutnya.

loading...
www.sedarahceritasex.com