Agen BandarQQ Online

Baiti Jannati, Rumahku Surgaku

Baiti Jannati, Rumahku Surgaku -
loading...

Sehari-hari aku menggunakan baju yang sangat tertutup karena seumur hidup aku dididik dalam keluarga yang agamis. Aku pernah mengenyam pendidikan selama 12 tahun di sekolah agama atau madrasah, yaitu 6 tahun di Mi (sederajat SD), 3 tahun di MTs (sederajat SMP), lalu terakhir 3 tahun di Aliyah (sederajat SMA) sehingga membuatku menjadi perempuan yang bisa dibilang sebagai istri saleha. Dan waktu di madrasah itupun aku dianggap lumayan baik dalam ilmu umum atau ilmu agama, meski tidak pernah menduduki peringkat 1.

Dari latar belakang pendidikan yang demikian, mengantarkanku menjadi seorang ibu rumah tangga yang cukup aktif dalam pengajian-pengajian di kampung. Dan saat ini aku menjabat sebagai wakil ketua dalam Jam’iyah Kajian di desaku. Sebenarnya aku merasa tidak cocok dalam mengemban amanah ini karena aku akui bahwa diriku bukanlah seorang berjiwa pemimpin yang baik terutama jika diminta untuk memberikan sambutan-sambutan dadakan pada acara tertentu, hal ini diakibatkan oleh diriku yang sering salah omong atau susah dalam merangkai kalimat yang baik dan benar karena aku sering plin-plan, terlebih pikiranku suka blank kalao sedang gugup atau dalam suasana yang canggung. Apalagi aku orangnya demam panggung.

Selain itu, meski aku yang berlatar belakang agamis, sering pula pikiranku kemana-mana dan menjurus ke hal hal yang nakal. Itu mungkin karena dulu suamiku yang sering ke kota pulangnya membawa majalah-majalah dewasa, sehingga kadang aku yang melihatnya menjadi penasaran sendiri. Oh ya, dulu memang sumber info dewasa hanya ada dari majalah, kalo sekarang dunia sudah digital, jadi konten berbau porno dari yang romatis hingga yang liar dan menjijikkan —termasuk diantaranya cerita dewasa milf, perkosaan, keroyokan, selingkuh, bahkan incest yang paling tabu— bebas tersebar di komputer dan smartphone.

Aku menikah dengan Mas Azam suamiku beberapa tahun yang lalu ketika aku baru lulus dari MTs (Madrasah Tsanawiyah), sudah kebiasaan kalau di kampung waktu itu remaja putri sudah dijodohkan oleh orangtua sebelum haflah akhirussanah [1] karena alasan tertentu… Dan, kasus pada diriku yang menikah muda ini disebabkan oleh penyakit… katanya sih waktu itu aku pernah terjatuh kena kepala duluan, efeknya aku jadi sering sakit-sakitan karena gegar otak. Malah katanya aku sempat amnesia sebentar. Meski sudah sembuh kepalaku, aku tetap sakit-sakitan, seperti demam. Jalan keluarnya atao lebih tepatnya obatnya, adalah aku harus dinikahi atau dikawini. Ada-ada saja ya… tapi memang begitu yang diceritakan orangtua kepadaku. Waktu itu aku masih belia banget, bahkan baru mau 15 tahun ketika aku menikah dan melahirkan. Coba bayangkan seberapa mudanya aku waktu itu sudah menggendong bayi.

Saat beberapa bulan setelah wisuda dan lulus MTs aku menikah, dan setahun kemudian aku melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik. Menurut Mas Azam, ini adalah anak bidadari, mirip banget dengan aku cantiknya, maka jadilah suamiku punya dua bidadari cantik… Aku induk bidadarinya, satu lagi bayi kami ini bidadari kecilnya, hihihi… Mas Azam memang pandai menggombal.

Lalu, 2 tahun setelah aku menikah lahirlah lagi seorang bayi laki-laki yang lucu, jagoan kecilku. Mas Azam bangga sekali bisa punya anak cowok, kata Mas Azam, anak laki akan jadi jagoan buat keluarga, bisa jadi pelindung buat Umminya dan Kakak perempuannya. Dan sejak saat itu —setelah kelahiran anak laki-laki kami— Mas Azam bertambah sangat sayang dan cintanya pada diriku yang awalnya dinikahinya secara ta’aruf (lebih tepatnya dijodohkan). Hidupku pun seakan bertambah bahagia. Mas Azam yang usianya jauh lebih tua 10 tahun dariku waktu itu malah seperti ku anggap sebagai sosok ayah keduaku sehingga aku sangat menghormatinya, karna itu aku sering rikuh atau sungkan di hadapannya. Tapi setelah kelahiran Jagoan kecilku itu, dimana aku mendapat kasih sayang seutuhnya dari Mas Azam, sikap rikuh di hadapan Mas Azam jadi hilang dan berganti dengan manja-manjaan dan sayang-sayangan… Iiiih… So sweet deh kalo aku bayangin di masa itu…

Oh, ya, karena dulu di Yayasan tempat Ummiku bekerja sedang membuka sekolah baru setingkat SMA, yaitu Madrasah Aliyah maka aku yang baru 3 bulan melahirkan seorang putra disuruh Ummiku untuk ikut mendaftar sebagai angkatan pertama. Yayasan mengijinkan aku sekolah lagi di sana, meski aku sudah bersuami dan beranak dua. Alasannya aku masih cukup usia untuk belajar di madrasah sederajat SMA dan itung-itung untuk meramaikan angkatan pertama itu yang hanya beberapa murid saja yang baru mau mendaftar. Lagipula Pendidikan Akhlak dan Syar’i di Aliyah sangat baik bagi perempuan yang siap berrumah tangga. Saat itu aku ± 17 tahun.

Di Aliyah itu aku dan teman-teman Siswi lainnya banyak belajar tentang kehidupan seorang wanita muslimah —terutama dalam lingkup keluarga muslimah— dari berbagai kitab yang khusus diajarkan oleh Bu Ulfi, salah satu Bu Guruku, sementara para siswa —yang kelasnya memang dibuat terpisah— diajar khusus oleh Pak Guru di kelas yang lain.

Setiap mendapat ilmu baru selalu kumasukkan dalam sanubari dan mempraktekkan di kehidupan nyata. Ada saatnya aku mendapat pendidikan tentang ‘’perempuan dalam keluarga’’ dan sepulangnya dari madrasah aku praktekkan di depan Mas Azam. Selalu begitu hingga lulus Aliyah di usiaku yang 20 tahun. Kadang setelah mendapat ilmu baru, aku pun cerita ke Mas Azam, kalo jadi istri itu harus begini harus begitu, biar disayang suami biar disayang sama Yang Maha Melihat. Dan beliau tidak menyesal karena perjodohan secara ta’arufan yang dilakukan bersamaku. Mas Azam pun jadi sayang dan cinta sama aku, ia bangga sekali punya istri yang dibilangnya sudah saleha ini, dan bersyukur pada-Nya yang telah membuat orangtua menjodohkan beliau dengan aku. Hidupku pun seakan bertam… bah bahagia.

Kehidupan keluarga baruku yang menjadi sangat bahagia ini —padahal sebelumnya tidak didasari dengan cinta, hanya tresno jalaran soko kulino lewat ta’arufan— selalu menjadi omongan yang baik bagi kalangan tetangga dan ibu-ibu ngaji. Tidak jarang ada yang bilang agar ditirulah cara orang tua kami dalam menjodohkan anak.

loading...

Kata mereka carilah mantu dari bebet bobot dan bibitnya atau apalah itu sebutannya. Yang aku tau dari Pak Guru saya sih carilah jodoh dari harta, rupa, orangtua (nasab/turunan), dan agama, yang lebih penting adalah agama. Dan yang dilakukan oleh kedua orangtua saya dan orang tua Mas Azam dalam mencari mantu sangatlah mendekati sempurna karena bibit-bebet-bobotnya jelas dan agamanya sangat menjajikan untuk membentuk keluarga yang agamis dan tetap meneruskan keturunan yang sehat dan kuat-kuat karena berasal dari bibit yang unggul. Maka patutlah hal ini untuk dijadikan suri tauladan yang baik.

Kedua orangtua saya pun jadi bangga pada saya dan memuji-muji keharmonisan keluarga yang agamis bersama Mas Azam. Tak sia-sia Abah memasukkan aku —yang seorang anak gadis— ke sekolah yang berlandaskan agama, dimana di dalamnya selalu deberikan pendidikan yang bermoral dan disirami dengan ilmu syariat-syariat agama yang baik bagi anak-anak saleh terutama bagi anak perempuan yang siap untuk menjadi istri yang saleha, itu kata Abah.

Ummi saya yang waktu itu jadi seorang ustadzah pun mengamini hal itu. Kata beliau yang penting anak perempuan itu harus kenal agama, sukur-sukur pintar agama, berbakti pada orangtua, terus nikah, kawen, mengabdi pada suami, punya anak banyak, ngurus dan melayani keluarga, jadi istri yang saleha bagi suami, —dan seterusnya seterusnya— serta tidak neko-neko agar bisa meraih kebahagiaan dan kenikmatan surga bersama suami dan anak-anak kelak. Lalu atas ridho seorang ibu —yang diridhoi oleh Allah SWT— maka jadilah kami keluarga bahagia yang tidak neko-neko hingga 20 tahun pernikahanku ini dengan Mas Azam. Ah, apakah memang demikian bahagianya…?

 

Dulu, waktu Mas Azam dinikahkan dengan aku dia sudah berumur 25 tahun dan sudah bekerja di bidang konstruksi bangunan, sesuai dengan pendidikan beliau, yaitu sarjana teknik sipil. Beliau tergolong anak dari keluarga berada dan cukup terpandang di desa kami sehingga pendidikannya terjamin. Awalnya beliau tidak mau menikah karena katanya ada perempuan idamannya sendiri.

Pikirku, jelas Mas Azam akan memilih perempuan yang seusia dengannya dan menolak menikahiku yang bisa dibilang masih anak kecil untuk menikah, apalagi Mas Azam waktu itu bekerjanya di kota besar yang sudah jarang ada anak 15 tahun yang mau cepat nikah. Kalo aku nantinya dibawanya pergi ikut ke kota, dikiranya ada pidofil piara bocah, tuturnya. Entah itu sebuah alasan penolakan atau gurauan.

Tapi atas perintah ayahnya dengan disertai penjelasan panjang lebar, dan takut dianggap tidak berbakti, maka beliau terpaksa menikahiku.

Sekilas, Mas Azam dulu orangnya kelihatan seperti anak yang baik-baik, nurut sama orang tua, tidak neko-neko. Alim juga, nurun dari keluarganya, pikirku waktu itu.

Dari penjelasan Abah dan Ummi saya, dia itu tipikal lelaki yang gigih bekerja.

Lagipula dia cukup tampan untuk ukuran anak desa, itu kata Ummi.

Ah, itu karena hidupnya di kota jadi harus menyesuaikan penampilan anak kota, sanggahku.

loading...

Orangnya juga rajin ibadah dan pinter ngaji, cocok buat dijadikan mantu. Yang laki ganteng yang perempuan cantik, kata Ummi lagi.

Ah, kata Ummi yang terakhir itu membuat jilbabku terasa sempit. Lalu aku sadar orangtua mana yang tidak hiperbol dengan kecantikan putrinya melalui puji-pujian. Jilbabku kembali longgar.

 

Tapi kalo diperhatikan secara detil Mas Azam orangnya menarik untuk dipandang, kulitnya tidak gelap, badannya tegap dan cukup tinggi bila dibandingkan dengan aku yang waktu itu belum genap 15. Otaknya juga kelihatannya encer, terbukti dari mana ia lulus kuliah. Pilihan yang tepat bagi Abah dan Ummi dalam mencari mantu. Jadi kalo dipikir-pikir harta ada…, rupa oke…, dan agama… bisa….

Mas Azam yang awalnya tidak menunjukkan ketertarikan pada diriku lama-lama bisa menerima kehadiranku dalam kehidupannya yang baru. Entah di bagian mana dari diriku yang membuatnya membuka hatinya. Apakah aku yang waktu itu mulai tidak mewek-mewek. Atau apakah aku yang sudah —belajar menjadi— dewasa. Atau apakah karena di dalam perut kecilku ini ada bayi hasil dari benih sehat yang ditanamnya. Tapi yang jelas setelah kehadiran anak kedua kami, kehidupan kami berdua menjadi harmonis layaknya pasangan suami-istri yang dari awal berhubungan dilandasi oleh rasa cinta. Malah, sangat hangat jika dibandingkan dengan keharmonisan keluarga sebelah-sebelah yang sudah lama dimulai sejak pacaran. Tetangga-tetangga sebelah kerap memuji keharmonisan kami berdua. Contoh keluarga yang bahagia, kata mereka, bahkan sudah 20 tahun menikah. Ah, apakah memang demikian bahagianya?

***​
Agak mundur lagi sedikit. Kurang dari delapan bulan setelah Mas Azam menikahiku, lahirlah Nur Rahma Khumaira, putri kami yang pertama, bidadari kecil kami. Katanya, lahirnya putriku ini premature tapi dalam kondisi yang sehat wal afiat bahkan tidak tampak kecil, malah mirip bayi yang lahir normal. Proses persalinan ini melalui proses sesar karena aku masih tergolong anak-anak sehingga tulang panggulku belum lebar sempurna.

Saat aku melahirkan dengan sukses, kedua belah keluarga kami pun bahagia mendengarnya. Apalagi mereka bilang kalo buah hatiku ini lucu dan menggemaskan. Kata mereka yang menjenguk, wajah putriku mirip dengan Mas Azam, tapi matanya yang bening mirip dengan mataku, alisnya mirip punya Mas Azam, bibir dan pipinya menggemaskan sekali seperti milikku.

Tapi kata Ummiku, bayiku ini mirip banget dengan aku yang masih bayi dulu. Pipinya merona, mirip tomat kuning yang mau memerah, lucu banget pingin aku gigit. Mulutnya, Subhanallah…… imutnya, mengkilat basah, kelihatan manis mirip permen jeruk. Dan, lidah mungilnya yang basah yang sesekali melet itu persis sekali dengan permen sugus yang sering aku beli di kantin sekolah. Rasanya pingin aku hisap-hisap mulut basah bayi perempuanku yang kelihatan manis ini.

Oh, sepasang pantatnya yang mungil kelihatan lucu bingit dibelah oleh celah sempit diantara kedua paha kecil yang menggemaskan. Dan, aku selalu terpana melihat gundukan tembem dan imut di bawah udel-nya yang kecil ini. Kalo memang benar kata Ummiku, bahwa bayiku ini mirip banget dengan aku dulu pas bayi, apakah seimut inikah alat pipisku waktu itu.

Cuma bedanya, kata Ummiku, kelentitku dulu sama dengan bayi lainnya, beda dengan kelentit putriku yang baru lahir sudah nongol sebesar kacang keledai, eh kedelai maksudnya, coba bayangkan seberapa besar kalo kacangnya keledai itu, hihi….

Daging Alat pipis bayiku tembem dan polos, ada garis kecil yang membelah disana, mirip bakpau terbelah dengan dihiasi sebutir kismis di belahan atasnya. Memikirkkan bakpau jadi ingat bakpau yang sering aku jajan di kantin Bu As, banyak macam isinya, tapi aku suka yang isi abon, aku suka yang gurih dan asin. Membayangkan bakpau pas melihat alat pipis bayiku aku jadi pingin mengunyah-ngunyah dan mengigit-gigit gemas dech, farji [2] mungil keturunanku itu.

loading...

Astaghfirullahaladzim… aku kok jadi mikir nakal ya… Ini ini, gara-gara majalah dewasanya Mas Azam pikiranku jadi ngeres… Nyebut… Nyebut… Gak boleh ah, pikirku. Masa aku gigit-gigit alat pipisku sendiri… ‘kan ga bisa, susah, hihihi…. Tapi pasti menggemaskan sekali jadinya kalo nantinya tiap pagi harus menyeboki nonok bayiku dari pipisnya, pikirku.

 

Setahun kemudian lahirlah anak kami lagi, seorang putra, lagi-lagi melaui proses sesar yang disebabkan oleh alasan yang sama dengan kelahiran yang pertama. Tapi kali ini tidak premature.

Ini adalah Jagoan kecilku, kata Mas Azam. Tidak jauh beda dengan kakaknya, Rizqi Akbar Firdaus bin Azam Sugiharto ini pun tampil ke dunia dengan mengundang kebahagian diantara keluarga besar kami berdua, terlebih bagi Mas Azam, suamiku. Tapi sebenarnya yang paling bahagia adalah aku sebagai ibu, seorang ibunda yang telah melahirkan bayi laki-laki yang sehat dari rahim suci seorang wanita, seorang Ummi saleha yang mampu membahagiakan suaminya hingga sang suami berbalik untuk menyayangi dan mencintai istrinya sepenuh hati.

Maka lengkaplah kebahagiaan diriku untuk menyandang sebagai wanita sejati yang bahagia yang mampu melaksanakan kodratnya dalam bentuk melahirkan sepasang bayi putra-putri yang cantik dan tampan akhlak maupun rupa.

loading...
www.sedarahceritasex.com