Agen BandarQQ Online





Seks Sama Adek Sendiri 8 (Bonus)

Seks Sama Adek Sendiri 8 (Bonus) -
loading...

Selama perjalanan kuliah sudah beberapa kali ada pria yg coba mendekatiku. Pertama kalikali adalah Prasetyo atau Pras. Dia mendapatkan nomor ku dari teman satu kostan ku, Uci. Kakak tingkatku ini sedang fokus menyelesaikan mata kuliahnya yg mengulang agar dapat mengambil tugas akhir. Aku masih semester 2 kala itu. Kepadaku dia mengakumengaku butuh pacar agar mampu menyemangatinya selama proses pengunlangan MK ini.
Awalnya dia cukup sopan, & akupun cukup terkesan. Terhitung sudah tiga kali kami jalan bersama & dia sangat ramah. Namun suatu malam ketika aku sedang sibuk membuat laporan dikamarku, aku membaca pesan dari pras.
“Dek lagi apa?” pesannya
“Lagi ngerjain laporan kak. Ada apa?” balasku
“Dek aku butuh bantuan mu”
“Oh iya kak. Apa yg bs aku bantu”
“Tapi kamu jgn marah ya”
“Kenapa harus marah kak?”
“Tadi teman2 satu kost kakak bawa film bokep kesini. Kakak mau gak mau ikutan nonton. Dan kakak terangsang banget…” jantungku berdegup kencang membaca pesan ini. “..trus kita butuh pelampiasan, temen2 kakak pada minta foto telanjang pacarnya, & mrk d kasih. Kalo kamu bs bantu kakak dek, kakak mnt foto kamu boleh? Gak perlu telanjang, kamu msh boleh pake Bh sm CD km dek” Deg!! Kepalaku terasa d tusuk tombak berkarat. Kaget, bingung sekaligus jijik. Kenapa harus tubuhku yg jd pelampiasan. Memang saat d kostan aku hanya memakai daster atau tanktop. Saat ini pun aku hanya memakai daster terusan dgn tali tipis d atasnya.
Jelas aku menolak. “Maaf kak, aku gak bisa” jawabku tegas
“Kenapa dek? Plis tolong kakak. Kamu sayang sama kakak kan?”
“Maaf kak kita belum jadian, jadi aku ngerasa ga punya hubungan apa2 sm kakak. Sekali lagi maaf. Aku ga bisa kirim fotoku”
Setelah pesanku ini ku kirim, hp ku berdering, pras mencoba menelponku. Merasa terganggu aku matikan saja hp ku.
Keesokan harinya setelah selesai matkul kalkulusku, pras menghampiriku. aku masih kesal dgn perlakuannya padaku semalam, jadi aku cuek saja saat dia memanggil namaku. Namun pras tdk menyerah, dia pegang pundakku lalu dia imbangi & hentikan langkahku sambil minta maaf atas tindakannya semalam. Dia mengaku salah & menyesal. Aku hanya diam sambil terus berjalan, namun dia tetap memaksa berbicara padaku.
“Dek kamu mau kan maafin kakak” ujarnya setengah memaksa.
Aku yg mulai kesal langkahku tergangguterganggu cuma bisa berkata “Apaan sih kak, iya udah gw maafin. Sekarang plis pergi, aku masih ada kuliah lagi, dengusku. Namun pras tak mau menghubrisku, dia terus membujukku agar mau bicara padanya. Kesal akupun berbelok ke toilet, aku yakin dia tak akan mengikutiku sampai dalam toilet.
Sampai dalam toilet aku hanya mencuci mukaku d wastafel. Bentuk toilet ini hanya satu pintu, satu kloset serta satu westafel, kecil krn bukan toilet utama, jd hanya muat satu orang.
Baru sekitar lima menit aku d dalam toilet, tiba2 pras masuk menyusulku.
aku kaget, & yg lebih kaget lagi dia langsung menepetkan badanku ke dinding, mengangkat sebelah kakiku & dia mengunci pergerakanku.
“Loh kak apa-apaan ini?!! Enggak, jangan!!!” kataku melawan
“Dek udah, plis kita nikmatin aja, cuma ada kita berdua disini” kata Pras ditelingaku.
Badannya telah menempel d badanku, otomatis aku mencoba teriak. Kurang ajar, ini jelas pelecehan.
Perlahan aku merasa tangan kiri pras meremas payudaraku, sedang tangan kananya mengunci kedua tanganku k atas. Mulutnya mencoba mengejar bibirku, namun aku berusaha menghindar.
Syukurlah tuhan msh melindungiku, krn tepat ketika tangannya mencoba menyingkap bajuku, pintu toilet terbuka, dan dua orang mahasiswi yg masuk hanya bisa terpana melihat adegan d dpan mata mereka. Sontak mrk teriak minta tolong, sambil mencoba menolongku dgn memukul tas mereka k arah pras. Pras berhasil kabur, aku hanya bs menangis d toilet sambil terduduk lemas mendaparkan perlakuan itu. Kedua mahasiswi td mencoba menenangkan ku, mereka pun antar aku kembali k kostan.
Sampai d kost aku msih meratapi hal yg td siang aku alami. Ingin rasanya menelpon orang tua atau mas ku, namun aku takut mrk marah, urusan jd panjang. Akhirnya aku urungkan niat ini, sampai akhirnya nanti kuceritakan pada mas ku.
Esoknya di kampus, tak pernah kulihat lagi wajah Pras. Oh mungkin pernah, sekali dua kali, tp kami saling memalingkan muka. Mungkin dia takut kalau dekat denganku, aku akan melaporkan perbuatannya padaku tempo hari…

Waktu berjalan sangat lambat dalam dunia perkuliahan, apalagi bagi kami mahasiwa sains yg harus selalu mencurahkan semua tenaga & fikiran demi meraih angka memuaskan dalam kartu hasil study kami. Dan sore ini, aku masih harus berkutat dalam mata kuliah empat SKS d ruang kelas. Sebenarnya tubuhku sudah sangat letih, mataku ingin terpejam, namun dosenku masih sangat berapi-api menerangkan mata kuliah yg kuyakin tidak akan lancar masuk ke dalam otakku. Kuperhatikan ke penjuru kelas, wajah kawan2 ku tak kalah memprihatinkannya, kendati masih mencoba memperhatikan k whiteboard & mencerna rumus2, namun gurat kelelahan tak bisa disembunyikan dari wajah mereka. Kebetulan aku duduk d kursi kedua dari depan, sehingga cukup bisa bagiku mengamati kelelahan rekan-rekan ku ini.
Pada akhirnya jam menunjukan pukul 16.00, “akhirnya!!” bathinku, setelah menunggu seolah seabad, kami meraih waktu istirahat kami yg berharga. Kubereskan buku-buku ku, dgn tergesa-gesa aku keluar kelas & berniat langsung menuju k kostan ku. Aku melangkah agak terburu-buru karena ingin segera merebahkan badanku yg letih sekali, mata perkuliahan d semester enam ini benar-benar sadis & tak kenal ampun. Ya, saat ini aku sudah beranjak k semester enam, yg berarti tinggal dua semester lagi buatku untuk meraih gelar sarjana teknik. Jauh d Bandung sana kakakku telah menyelesaikan skripsinya & sedang menunggu jadwal sidang, setidaknya begitulah kata ibu ku.

Tak terasa sudah hampir sepuluh menit aku berjalan kaki, letak kostan ku memang tidak terlalu jauh dr kampus, & letaknya sangat strategis. Mahal memang biayangnya, namun kostanku yg sebenarnya lebih mirip rumah kontrakan memiliki bentuk bangunan yg memadai. Bentuk rumah yg memiliki tiga kamar, & satu toilet ini aku sewa bersama dua sahabatku, yakni Sofa & Tari, jadi biayaya kami tanggung bertiga. Kami sudah menyewa rumah ini sejak semester tiga.
Sekilas mengenai dua temanku ini, yang pertama Sofa, dia agak mirip denganku, sopan, kalem, tak banyak tingkah, & selalu menjaga tubuhnya dengan memakai pakaian longgar, sama sepertiku. Sofa adalah mahasiswi akuntansi. Mengenai tubuhnya, dia agak lebih pendek dariku & agak gemuk tapi tidak gemuk parah sih,lebih k montok mungkin, kulitnya coklat juga, wajahnya (ini ilustrasi dari ane suhu setelah d lihatin fotonya sama adek tersayang) agak mirip Musdalifah yg mantan istri nasar itu. Payudara & pantatnya cukup besar mengikuti postur tubuhnya.
Sedangkan Tari adalah temanku yg lumayan cantik, wajahnya sekilas mirip (lagi-lagi ilustrasi dari ane gan) artis Sarah Shafitri, kulitnya kuning, bodynya ramping, dengan ukuran payudara yg menurutku seukuran dgn nasi fried chicken. Pantatnya biasa saja, tdk tepos namun tdk terlalu montok juga seperti punyaku. Dari segi berpakaian Tari satu-satunya d kostan kami yg tidak memakai jilbab, tapi bajunya biasa saja tidak menggoda, kalau kuliah dia suka memakai kemeja & jeans yg tidak terlalu ketat. Hanya saja memang kalau hang out dia suka jalan dgn kaus oblong yg ketat sehingga kedua payudaranya tercetak sempurna. Tari anak yg baik menurut pandanganku, dia anak yg asik, rame & supel. Di antara kami bertiga Tari adalah yg tak pernah betah merasakan status jomblo, selama ku kenal paling lama dua minggu setelah putus, dia sudah dijemput pacar barunya. Beda dengan aku atau Sofa. Namun Tari tetap anak yg lumayan cerdas & aktif, dia menjadi anggota eksekutif di Fakultasnya, Tari adalah mahasiswi pertanian.
Kami bertiga dipertemukan dalam paguyuban primordial di kampus kami, kebetulan aku, Sofa & Tari sama-sama berasal dari Jawa Barat. Oiya, sepertinya aku sendiri lupa mengilustrasikan nama ku ya, yah sebut saja aku Hana. Ini cuma nama samaranku, nama asliku jauh dari kata Hana, jd ga usah repot2 stalking ya suhu.

Fiuuh!! akhirnya sampai juga dikostan, kataku dalam hati. Padahal jarak dari kampus tidak begitu jauh, tapi karena kondisiku yg begitu kelelahan, membuat jalan kaki tadi terasa berat. Di teras hanya sepeda gunung milik Sofa yg ku lihat, tak ada motor beat milik Tari, uuh, baru kusadar ini hari jum’at, & besok sudah masuk akhir pekan. Pantas saja Tari belum pulang, di antara kami bertiga memang cuma Tari yg hobi jalan. Sebenarnya aku & Sofa jg suka jalan, tapi gak se-addict Tari. Oiya, d rumah ini jg cuma aku yg tak punya kendaraan, jadi wajar aku cuma bisa jalan kaki ke kampus. Mau pergi main atau jalan tinggal naik angkutan umum.
Ku buka pintu rumah ku, Sofa tampak di ruang tengah sedang di depan layar laptopnya, telinganya tertutup earphone. Sepertinya dia tidak menyadari kedatangan ku. “Sof!!” kataku menyapanya setengah berteriak. “ehh!! Han, gila lu bikin kaget aja. Salam dulu kek apa kek” Sofa tersentak kaget.
“lagian elu pake nutup kuping segala, ada peringatan tsunami gak denger loh ntar”
“hehehehe.. iya deh sorry. btw Lu baru nyampe han? lusuh banget itu muka lu”
“iya Sof, gw capek banget hari ini, gw kurang tidur kayaknya, belakangan nulis laporan lab banyak banget. Tari belum pulang Sof?”
“ooh.. yaudah lu istirahat sana Han. Mandi dulu tapi ya. Mau gw masakin air anget buat mandi, sekalian gw bikinin teh nanti. Si Tari biasa, tadi sempet pulang sebentar cuma buat mandi terus cabut lagi” kata Sofa
Akupun tersenyum, bersyukur bantuan ini datang pada waktu yg kubutuhkan, bersyukur memiliki sahabat serumah yg baik seperti Sofa. Akupun menerima tawarannya “Boleh Sof. Makasih banget, sorry gw jd ngerpotin”
“santai aja kali Han, kalau lu sakit nanti kita juga yg repot nanti” balas sofa “yaudah lu tiduran dulu aja deh” Sarannya. “ok” Jawabku
Aku pun masuk k kamarku. Ku lepas baju kuliah yg seharian ini kupakai, sudah lepek & bau keringat, lalu kuganti dengan daster biru berlengan, namun agak pendek d bagian bawah sehingga setengah pahaku tak tertutup. Ku nyalakan kipas angin & Tubuhku pun kubanting ke kasur p*lembangku ku, ooh nyaman sekali rasanya merebahkan diri setelah seharian beraktivitas. Akupun mencoba memejamkan mataku sebentar, pikiranku melayang tak karuan, sambil mengingat kegiatanku seharian ini. Hari ini aktivitasku cukup padat, sejak jam 8 pagi ku habiskan waktuku sekitar empat jam di lab, siangnya aku rapat pembentukan panitia musyawarah besar untuk ekskul pecinta alam ku, lalu izin karena pukul dua aku sudah harus mengikuti kelas lagi. Haaaahhh, betapa melelahkannya ya hati ini, tapi tunggu dulu!!! tiba-tiba aku teringat sesuatu, oiya, tadi di mading lab, aku sempat membaca lowongan untuk asisten dosen. Sejujurnya aku cukup tertarik melamar posisi asdos, bukannya sombong namun nyatanya nilai2 ku sangat memuaskan, kendati cukup sering naik turun gunung, namun laporan tak pernah telat aku kerjakan, aku yakin kelulusanku nanti aku akan mendapat predikat cum laude, jadi pasti peluangku cukup besar mendapatkan posisi itu. “akan kusiapkan lamarannya segera” kataku dalam hati. “lumayan bisa sekalian nambah skill, ilmu sama dapet privat gratis nanti” sambungku.
Tiba-tiba Sofa memanggilku dari dapur “Han, air angetnya udah jadi nih, buruan mandi gih” “iya Sof, aku ke sana nih” balasku sambil meraih handuk beserta pakaian dalam bersih.
Akupun melangkah menuju dapur, “Han lu mau makan apa? gw mau keluar nih nyari makanan, biar sekalian aja” tawar Sofa. “Aku nitip soto yg d deket perapatan jalan besar aja Sof, pake duit kamu dulu ya, nanti aku ganti” Kataku. “udah santai aja lah” Sofa menimpali ku, diapun pergi & akupun mandi.
Aku selesai mandi ketika matahari mulai membenamkan cahayanya, fajar tenggelam, malam pun berganti. Setelah mandi badanku terasa lebih segar & enteng, kepalaku jd ringan. Tiba-tiba aku mendengar suara HP yg cukup familiar, “loh bukannya ini suara hp Tari?” Kataku bingung. Aku jd bertanya-tanya, kok bisa orangnya gak ada, tp suara Hp nya ada, penasaran akupun menuju ke kamar Tari, perlahan kubuka pintunya yg tidak terkunci, & benar saja aku melihat Hp Tari diatas kasurnya, ternyata ada telpon dari nomor tak dikenal, akupun mencoba mengangkatnya “Halo” sapaku sopan, “Halo, ini Hana ya” kata suara diseberang telpon, ternyata ini suara Tari. “Kamu Tar? Hp mu ketinggalan?” Tanyaku
“iya Han, aduuuh, gw baru cek d tas gw, ko Hp gw ga ada, gw udah dag-dig-dug ilang, ternyata ketinggalan. Hehehehe.. aduuh hampir aja gw jantungan” cerocos Tari diseberang sana, tampaknya dia ada dipinggri jalan karena sayup2 aku dapat mendengar klakson dan deru kendaraan dibelakangnya. “ooh, terus kamu nelpon pake hp temen mu ini?” Tanyaku lagi “iya, gw minjem Hp adik temenku Han, yaudah dulu deh, makasih Han, gw titip Hp ku dulu ya” Kata Tari.. “Iya, beres. Kamu pulangnya jangan malem-malem ya” Aku mengingatkannya “Siap bos” sambungan pun diputus. “semoga anak itu gak lupa waktu, males banget aku bukain dia pintu dia malem-malem” batinku.
Aku berniat keluar dari kamarnya, sebelum aku ingat, foto-foto liburan kami ke Dieng bulan lalu yg belum sempat aku minta. Aku bawa Hp Tari k kamarku, kubuka laptop & mulai kusambungkan kabel data pada Hp Tari ke laptopku.
aku otak-atik file galeri pada Hp Tari, aku klik opsi galeri, untunglah Tari tdk mempassword galerinya, lalu mulai mencari foto-foto kami. Aku terus scroll kebawah, file foto dari bulan lalu membuatku yakin pasti ada dibawah, namun ditengah pencarianku, ada sebuah file yg tampak seperti foto dua manusia tanpa pakaian, aku menyipitkan mataku sebelum ku klik mousepad untuk memerbesar tampilan file, betapa terkejutnya diriku bahwa ternyata dua orang telanjang yg ada dalam foto itu adalah Tari & seorang mahasiswa yg cukup ku kenal, dia adalah Eko, mahasiswa yg satu jurusan denganku, namun dia ada setingkat di atasku. Ku klik next, next & next, Aku terhenyak, menemukan begitu banyak foto syur Tari & Eko. Mulai dari mereka saling bugil, berciuman mesra, sampai adegan eko meremas payudara Tari. Mataku melotot, jantungku berdebar, nafasku mulai tak karuan, selain pertama kalinya aku melihat foto adegan syur, aku benar-benar terkejut kepada sahabatku Tari yg asik, baik & ceria, dgn senang hati berbugil ria d depan eko. Ada pertentangan batin dalam kepalaku, ingin segera ku close tab ini, ku kembalikan Hp Tari & berpura-pura tak melihat apa-apa alias tutup mulut, namun disisi lain aku juga ingin tahu apa yg mereka berdua lakukan.
Dan tampaknya keingintahuanku memenangkan pergulatan batin dalam hatiku, aku melanjutkan tontonanku dalam foto-foto syur Tari. Dari sinilah aku untuk pertama kalinya melihat semuanya. Aku melihat foto Tari memegang penis Eko, lalu aku juga melihat Tari memasukan penis Eko ke mulutnya, & yang paling membuatku terkejut, ternyata mereka telah berhubungan layaknya suami istri, aku melihatnya fotonya, mereka juga mengabadikan momen saat penis Eko telah menembus vagina Tari. lalu perhatianku teralih pada tiga file berbentuk video player, dengan berdebar-debar aku klik file itu. Dan selanjutnya yg kulihat adalah adegan bergerak ketika Tari mengocok penis Eko, adegan Tari & Eko saling menjilat kemaluan masing-masing, dan yang terakhir adalah detik-detik masuknya penis Eko ke vagina Tari.
Kulihat mereka berdua berteriak-teriak & mendesah keenakan. Tari mendesah ketika payudaranya dilumat & dipilin oleh Eko, lalu melenguh ketika vaginanya dijilat serta dikocok-kocok Eko.
Sedangkan Eko merem melek ketika Tari mengocok penisnya, lalu memasukan batang penis kemulutnya, sambil sesekali menjilati zakarnya.
Untuk pertamakalinya aku melihat cairan putih kental, ya itulah sperma seorang pria keluar langsung dari penis, & tanpa rasa jijik sekalipun Tari menjilati sperma tersebut.
Lalu mereka berdua berteriak-teriak penuh gairah ketika Eko memasukan batang penisnya ke vagina Tari dari belakang, sambil sesekali memilin putingn payudaranya. Tari pun tak kalah agresif, dia menoleh kebelakang & meraih kepala Eko, lalu mereka berciuman.
Aku benar-benar melongo melihat adegan-adegan ini sebelum tanpa sadar air mataku menetes, Ada rasa sedih, muak, jijik, namun juga rasa iba sebab Tari sahabatku sudah tidak perawan.

Tanpa sadar & perlahan aku juga merasakan sensasi aneh disekujur tubuhku, entah kenapa tiba-tiba fikiranku tak beraturan, payudaraku tiba-tiba terasa aneh, & entah kenapa vaginaku terasa gatal, & keringat dingin perlahan membasahi tubuhku.
Ternyata aku sungguh menikmati adegan-adegan yg kuputar dalam video Tari tadi. Bagaimana rasanya memegang penis laki-laki? seperti apa rasanya ketika memasukan panis ini kemulutku, bagaimana rasanya vagina serta payudaraku dipermainkan seperti itu, dan apa rasanya ketika kedua kelamin kami menyatu, apakah rasanya nikmat?
Setidaknya itulah yg kulihat dalam video-video ini.
Pertanyaan-pertanyaan itu menggelayuti fikiranku yg semakin tak karuan, bersamaan dengan itu, tubuhku tanpa kusadari mulai menggelinjang sendiri, vaginaku terasa semakin gatal, akupun berniat menggaruknya, namun betapa kagetnya diriku ketika merasakan celana dalamku telah becek & basah, aku bingung sendiri, kenapa bisa basah? apa aku ngompol karena ketakutan melihat adegan-adegan yg baru kulihat ini?
Belakangan aku akan tahu, inilah yang dinamakan orgasme.
Tiba-tiba aku dikejutkan ketika mendengar suara pintu rumah dibuka, “Han ayo kita makan bareng” teriak Sofa dari luar. “Iya Sof, bentar” Teriakku, sambil bergegas membereskan Laptop serta Hp Tari, aku berniat mengganti celana dalamku nanti setelah makan malam.
Dia menenteng dua kresek hitam berisi Soto, lengkap dengan Sate telur Puyuhnya. Sofi pun makan dengan tenang, sedangkan aku, aku masih shock dengan apa yg kulihat barusan, serta mencoba mengerti sensasi aneh pada tubuhku tadi..

Bukan, cairan yang keluar dari daerah kewanitaan ku tadi bukanlah air kencing, jelas ini adalah cairan kewanitaan milikku. Enam tahun aku mempelajari biologi terutama tentang organ reproduksi, tentu saja aku tidak bodoh kalau untuk mengetahui cairan apa ini. Aku kaget bercampur takut, jantungku berdebar hebat, yang ku tahu cairan ini keluar ketika tubuh menerima rangsangan seksual, & cairan ini keluar ketika aku (walau aku agak malu untuk mengakui ini) menikmati adegan-adegan syur dari foto-foto serta video Tari & Eko.
Aku terduduk kaku d kamarku, perasaanku campur aduk tak karuan, karena merasa terangsang secara seksual bukanlah hal biasa bagiku yang kesehariannya sangat menjaga perilaku ini. Namun ini sungguh terjadi padaku, & walau hati kecilku belum menerima ini namun aku sadari bahwa ternyata pikiran serta akal sehatku tidak mampu mengendalikan rasa yang aneh ini, baru aku tahu ternyata birahi punya pikiran serta cara kerjanya sendiri.
Aku segera menuju dapur lempar celana dalam ku yang basah ke keranjang pakaian kotor yg terletak d pojok dekat pintu kamar mandi, sambil berusaha melupakan hal-hal yg baru aku alami ini, aku kembali ke kamar & mencoba memejamkan mataku, aku ingin istirahat. Walau badanku sudah terasa enakkan setelah mandi air hangat & makan soto, namun akan lebih menyenangkan bila aku segera pergi tidur. Sofa sepertinya masih asik menonton drama korea di kamarnya. Perlahan rasa kantuk menyelimutiku & akupun tertidur.
Bruummmmm!! Deru keras mesin mobil mengagetkanku, suaranya tepat didepan rumah kontrakan kami, mau tak mau aku bangkit, kepalaku masih agak pusing, “hhuuufftth!! ganggu orang tidur aja, pasti deh ini Tari baru pulang” batinku agak kesal, tentu saja ini sudah jauh malam. Kulihat jam menunjukan pukul dua lewat dua puluh menit. Benar saja, kudengar suara “klok” dari lubang kunci pintu rumahku, lalu suara pintu terbuka, dari irama derap langkahnya jelas ini Tari, dua tahun kami tinggal bersama pasti membuat kami nyaris hafal gerak-gerik, kebiasaan, gestur tubuh kawan serumah.
Aku pun melangkah keluar kamar, tampak Tari berada didapur meneguk segelas air putih. Tari melihatku bangun.
“Eh Hana, lu kebangun yah, sorry deh. Hehehe” Katanya tanpa dosa, Aku sedikit kesal.
“kebiasaan deh kamu Tar, udah larut begini baru pulang”
“Yah maklum lah, namanya juga anak muda, have fun aja. Hihihihi.. Eh Hp ku aman kan?”
Deg!! teringat Hp Tari maka teringat jugalah aku dengan file-file mesum didalamnya, seketika pandangan ku berubah kpd Tari.
“eh, iya aman kok. Tuh ada d kamar kamu” Balasku agak gugup. “Ok, trims yah”
“Hmm.. Yaudah aku mau tidur lagi, kamu jangan lupa mandi dulu sebelum tidur yah, kalo laper seduh indomie aja, masih lumayan banyak d lemari”
Aku segera kembali ke kamar ku, & memejamkan mata, sementara Tari, yg terakhir aku tahu dia sedang mandi karena sayup-sayup kudengar suara keran air menyala & siraman gayung.
Semenjak saat itu aku jd agak canggung pada Tari, aku merasa aneh kalau di dekatnya. Ingin rasanya ku bertanya, mengapa dia semudah itu memberikan mahkota berharganya kpd cowok yg bahkan belum jd suaminya, disamping itu ada sedikit hasrat dalam diriku untuk menanyakan pada Tari tentang bagaimana rasanya melakukan persetubuhan, sudah berapa kali kamu melakukannya, bagaimana rasanya ketika payudara mu diremas-remas, rasanya puting mu dipermainkan lalu d hisap-hisap, rasanya vagina mu dikocok & dijilat. Semua pertanyaan itu selalu muncul dikepala ku bila aku didekat Tari. Semenjak kejadian itu aku jd agak menghindar dari Tari, bukan karena benci, tp demi ketentraman hatiku, aku tak ingin pikiran-pikiran aneh mengganggu fokusku.
Lama kelamaan aku berfikir, keperawanan memang harta tak ternilai buat seorang wanita, tapi menurutku itu bagaimana si wanita mau memberikannya kpd siapa, & keperawanan Tari dia berikan pada Eko mungkin krn rasa cintanya pd Eko, & aku harus menghargai pilihannya.
Namun aku pun memantapkan hati, bahwa keperawananku juga hanya akan kuserahkan buat pria yg sangat aku cintai & dia pun mencintaiku.

“fotocopy KTP sama KTM udah KRS udah sama surat lamaran, Yap!! udah lengkap semuanya” aku berbicara sendiri sambil memeriksa berkas lamaranku untuk menjadi asisten dosen, setelah kuperiksa berkali-kali & aku yakin lengkap, ku masukan kedalam amplop cokelat. Akupun segera berganti baju kemeja merah marun gelap, tak lupa kerudung menutupi kepalaku, & segera bergegas menuju kampus.
Sepuluh menit perjalanan menuju kampus, aku berjalan cepat menuju fakultas ku. Sampai ke gedung fakultas aku melangkah ke ruang jurusan Industri, aku cari Pak Abu, kepala TU jurusan ku. Ah, syukurlah beliau ada ditempat, karena repot sekali kalau harus kutitipkan kpd staff nya yg lain.
Aku sapa beliau “Pak Abu!” sapaku “Eh neng Hana, kumaha damang?” Beliau menerimaku ramah, aku memang sudah akrab dengannya. Pak Abu memanggilku “neng” & mencoba berbahasa sunda karena tahu aku berasal dari jawa barat, padahal aku bukan orang sunda juga sebenarnya. Hehehe..
“Ada perlu apa neng Hana?” “Ini pak aku titip berkas buat Pak Hambali, ini isinya lamaran buat jadi Asisten Dosennya” Aku jelaskan paa Pak Abu maksud & tujuanku.
“Oohh, iya-iya, Pak Hambali udah bilang ke saya kemarin.. Wah semoga bisa ya neng Hana jd Asdos, kan kamu pinter” Kata beliau sambil menerima amplop coklatku. “iya pak amiin. do’ain Hana ya pak Abu. mmm, btw udah berapa orang yg ngelamar pak?”
“kalo sama lamaran kamu ini jadi empat orang neng” Jawab pak Abu. “ooohh, okay”
Baru aku ingin pamit minta diri pada pak Abu, aku ingin ke perpustakaan fakultas untuk mengerjakan laporanku, sebelum suara seorang pria mendahului suaraku. “Pak aku titip lamaran buat Pak Hambali yah”
secara reflek aku menoleh, dan betapa terkejutnya aku melihat siapa yg juga mau mendaftar jadi asdos, dia Eko, mahasiswa semester delapan, kakak tingkatku yang beberapa hari yg lalu aku melihat adegan-adegan syurnya bersama kawan se rumah ku Tari. Jantungku berdegup kencang, dasar perutku serta mukaku jadi panas, entah perasaan apa ini, jadi aku mencoba menerjemahkan sendiri sesederhana mungkin, palingan aku cuma malu pada diriku sendiri. Belum sempat aku mengendalikan diriku ketika Eko menyapaku.
“Lu temen satu kontrakannya Tari kan yah? Ternyata lu anak Industri juga toh”
“iya kak” jawabku singkat sambil mencoba tersenyum “Gw Eko, kenalin” dia mengenalkan diri sambil mencoba mengajakku berjabat tangan.
“Hana kak” lagi-lagi aku hanya menjawab singkat, namun membalas jabatan tangannya.
“ehm..ehm.. bentar lagi jadian nih” Goda pak Abu yg sedari tadi ternyata masih memperhatikan kami.
“iih enggaklah pak, Mas eko ini pacarnya temen sekostan aku” Aku menyanggah, sementara Eko cuma tersenyum.
“Walaah, gitu toh, ternyata status jombli mu masih panjang neng. Hahahahaha” Pak Abu malah mengejekku.
Kepalaku semakin terasa panas, wajahku pasti merah padam, & aku yakin mereka melihatnya & menangkap betapa groginya diriku saat itu.
“iiih apaan sih Pak. Udah deh aku mau pamit dulu, mau ke perpus dulu, mau ngerjain tugas. Makasih pak Abu, dah Kak Eko” Aku berusaha sebisa mungkin pergi dari situ.
“iya deh, dadah jomblo” Pak Abu masih menggodaku, sedang Eko hanya mengangguk. Aku minta diri dari situ & keluar dari ruang TU, tujuanku jelas perpustakaan. Tentang Eko sendiri, dia berperawakan tinggi, wajahnya khas Jawa, bentuk tubuhnya cukup berisi & ideal, lumayan ganteng juga sebenernya, Lebih ganteng dari Mas kandungku sendiri kalau boleh ku akui. hehehehehehe.. Cocok sekali dengan Tari yg juga manis & cantik.
Tiga hari kemudian, aku mendapatkan telpon langsung dari Pak Hambali, dosen yang menempuh masternya di Utretch Belanda ini mengatakan kalau ia menerimaku sbg asistennya. Tak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata betapa bahagiannya aku saat itu, segera ku telpon ayah & ibuku d rumah serta kakak ku di Bandung, mereka memberiku ucapan selamat, begitu juga dengan kedua teman rumahku.
Sambil mengucapan selamat Tari memberiku kabar kalau Eko pacarnya juga diterima sbg asdos, perlahan senyum gembira luntur dari wajahku. Bukan, bukan aku tak suka bila Eko jg menjadi asdos, tapi harus berpartner dgn cowok yg sudah pernah ku lihat tubuh telanjangnya, & melihatnya melakukan adegan2 erotis, membuatku tak karuan. Tapi aku sadarkan diriku untuk mencoba seprofesional mungkin, aku yakinkan dirku agar bisa bersikap se normal mungkin didepan Eko.
“Titip cowok gw ya Han, Hehehehehe..” Kata Tari menggodaku.

Sore keesokan harinya, Pak Hambali meminta kami berkumpul di Lab, beliau berkata akan memberikan kami pengarahan mengenai kurikulum nya, bagian mata kuliah yg harus kami bantu, baik membantu menilai atau menggantikan beliau mengajar. Beliau meminta kami hadir pukul empat tepat.
Maka selesai kuliah jam tiga sore aku bergegas menuju Lab, lebih baik aku menunggu beliau disana, kalau pergi ke kantin dulu untuk istirahat walau untuk sekedar minum, aku pasti tertahan oleh teman-teman pecinta alam ku yg memang hoby ngobrol ngalor ngidul di sana, bisa-bisa aku telat sampai di lab dan aku tak mau memberi kesan pertama yg negatif untuk beliau.
Sampai di lab aku buka pintu untuk bergegas masuk, dan, ooohh.. jantungku mencelos, Eko sudah ada disana mendahuluiku, aku sih maklum dia sudah tidak ada mata kuliah lagi, kata Tari aktivitasnya dikampus hanya bimbingan skripsi, jadi wajar dia bisa tiba disana lebih dulu.
Eko tersenyum melihatku masuk lab “hey Han, baru selesai kuliah?” dia menyapa ramah.
“Iya kak” aku balas sekenanya. Aku duduk dimeja seberang Eko, sempat canggung beberapa saat, dia mengajakku ngobrol untuk menghilangkan kekakuan kami, tak dinyana Eko cukup asik sbg teman bicara, dia seperti Tari, humble, ramah, & ramai. Dia menceritakan pengalaman serunya selama dikampus, & beberapa kejadian lucu yg pernah dia alami sehingga membuatku tertawa renyah. Perlahan tapi pasti rasa tidak nyamanku sirna.
Tak terasa Hp ku berdering, ada pesan singkat dari Pak Hambali yg mengabarkan bahwa ia akan telat, Mobilnya dipinjam rekan dosennya & belum kembali. Dalam pesannya dia berkata kalau sampai jam lima dia belum datang kami boleh pulang.
Aku katakan pesan pak Hambali itu ke Eko, dia cuma menimpali sekedarnya saja. Kami berdua kembali terdiam. Untuk mengisi waktu aku keluarkan saja tugas laporanku yg belum selesai bersama beberapa buku penunjang, tugas ini harus terkumpul besok sore, jd sebaiknya aku menyicilnya dari sekarang. Melihatku mengerjakan tugas, dia menawarkan bantuannya, tentu aku dgn senang hati menerimanya.
Kami berdiskusi, bertukar pikiran dalam mengerjakan tugasku, dia mengajari beberapa rumus efektif yg tak pernah terfikirkan oleh ku sebelumnya, benar-benar menyenagkan berdiskusi dgn Eko, hingga tak terasa waktu menunjukan pukul lima.
Sesuai instruksi Pak Hambali, kami memutuskan untuk pulang, Eko menawarkan tumpangan kpd ku utk mengantarkan ku pulang k kontrakan sambil dia ingin bertemu Tari, aku tidak menolak tawaran itu, sebelum meninggalkan lab, dia izin ke toilet dulu yg terletak d dalam lab. Sambil menunggu Eko, aku bereskan buku-buku ku, & mencoba merapihkan isi tas ku serapih mungkin. Agak lama Eko ada d kamar mandi, entah sedang apa dia, aku berdiri melangkah ke jendela sambil mencoba melemaskan otot2 ku. Kuperhatikan suasana kampus dari dalam lab, kendati sudah cukup sore tapi masih banyak mahasiswa yg beraktivitas, tampak mereka berlalulalang dalam kesibukan mereka2 masing.

Tiba-tiba aku merasakan sepasang tangan memelukku dari belakang, sontak aku terkejut & menoleh kebelakang, “Eehhh!! Kak Eko!! Kataku setengah berteriak. Ternyata dia sudah keluar dari toilet, namun aku tak menyadarinya karena asik melihat keluar jendela.
Wajah Eko terlihat berubah, raut mukanya tampak aneh, dia tersenyum seperti dgn arti senyum yang tak ku mengerti.
“Kak Eko!! Mau ngapain? Lepasin Aku!!” Kataku sedikit membentak, namun bukannya segera melepaskan dekapannya, dia malah justru semakin meapatkan tubuhnya ke tubuhku sehingga dadanya yg dapat kurasakan cukup bidang menempel pada punggungku, & mau tak mau kurasakan ada benda panjang mengganjal dipantat ku, sudah jelas itu adalah penis Eko.
“Kak Lepasin Aku!!Kalo enggak Aku bakal teriak!!” bentak ku lagi sambil mengancamnya, tapi begitu dia mendengar kalimat ku tadi, dia buru2 menutup mulutku, tangannya sungguh kuat, dapat kulihat urat-urat tangannya.
“Han, gw pengen ngerasain badan lu, mending kita nikmatin bareng-bareng aja, gw bakal kasih lu enak kok Han, gw janji”
Sungguh kata-kata mesum yg tak bisa kupercaya keluar dari mulut asisten dosen seperti dia, walau baru mengenalnya sebentar aku yakin dia memiliki otak yg encer, namun tak kuduga dia jg memiliki nafsu sebesar ini. Ku kira dia hanya mau melakukannya dgn Tari kekasihnya.
Aku menggeleng sambil meronta dalam dekapannya, tanganku mencoba melepaskan diri dgn menepiskan tangannya yg memeluk perutku & menutup mulutku. “eerrmmmhhhh!! mmmhhhfffhhhh” hanya itu yg keluar dari mulutku.
“Gak akan gw lepas Han, gw mau elu” Kata-katanya semakin nekat. Bersamaan dgn itu Eko mulai melancarkan manuvernya utk meraih kenikmatan dari tubuhku. Eko mulai menciumi leherku yang masih tertutup kerudung, aku berteriak tertahan, namun belum sempat aku mengantisipasi serangan pertamanya, serangan kedua datang, kini tangan kirinya yg tidak menutup mulutku telah menyentuh dadaku. Memang aku masih mengenakan kemeja yg cukup longgar, tapi tetap saja aku merasakan sentuhan tangan eko. Tubuhku mulai menggelinjang, aku masih bertekad melawan, aku mencoba meronta untuk kesekian kalinya mencoba melepaskan diri, namun sungguh tenaga Eko bukan tandingan ku, semakin aku melawan semakin keraslah dekapan Eko.
Kepala Eko masih bermain-bermain pada leherku ketika tangannya mulai meremas pelan payudaraku sebelah kiri, “eerrrggghh!! Aku berteriak walau tertahan tangan Eko, kedua tanganku masih mencoba menepisnya, namun posisi tangan Eko pada payudaraku sudah mantap, sulit kulepaskan, & mau tak mau aku merasakan remasan tangan Eko. Awalnya pelan, lalu intensitasnya naik perlahan, lalu perasaan yg aneh muncul dari dalam tubuhku, aneh, tetapi tidak asing, seperti cukup familiar namun belum dapat aku mengerti.
Rasa aneh inilah yg membuat rontaan ku semakin berkurang, eko menyadari ini, dia lepas perlahan-lahan tangannya yg menutup mulutku, & benar aku tidak berteriak, mulutku hanya sedikit terbuka seperti orang melamun, mataku pun kosong. Kesempatan emas yang tak disia-siakan oleh Eko, karena tangan kanannya mulai menjamah daerah vaginaku.
Aku terkaget, terlonjak, sempat tersadar sesaat, sambil mencoba menepis tangan ini dari daerah sensitif ku, tapi aku terlambat, tangan Eko telah mendarat & jari-jarinya terutama jari tengah mulai menggelitik atau mempermainkan vaginaku.
Serangan inilah manuver pamungkas yg menggoyahkan perlawananku, karena saat tangan Eko mulai menggelitik vagina ku, sensasi aneh bangkit dari tubuhku, tiba-tiba kepalaku panas, payudaraku terasa aneh, & vagina ku terasa gatal, sensasi yg lagi-lagi familiar buatku karena sepertinya aku pernah merasaknnya, namun kapan dimana?
Tak bisa kubohongi kalau aku mulai merasakan nikmat ketika vaginaku dikelitik seperti itu oleh Eko, belum lagi kini tangan Eko masih meremas lembut sambil sesekali menekan telunjuknya kebagian tengah payudaraku, sehingga putingku terjangkau walau masih tertutup baju.
Namun akal sehatku masih tersisa walau sedikit, kucoba melepaskan vaginaku dari jangkauan jai-jari Eko, aku memundurkan pinggangku sambil mencoba merapatkan kedua kakiku, namun yg ada posisi tubuhku malah jd agak membungkuk sehingga otomatis penis Eko yg telah tegak semakin menekan dibelahan pantatku, & justru Eko semakin keenakan, begitupun denganku.
Perlahan mataku mulai terpejam, mulutku mulai mendesah, nafasku tak beraturan, keringat dingin mulai membasahi tubuh ku.
Dan tepat saat itulah aku bisa mengingatnya, semua perasaan ini, sensasi ini terjadi ketika aku melihat foto & video syur antara Tari & Eko tempo hari, dan tiba-tiba adegan-adegan tersebut tergambar kembali dalam kepala ku, aku dapat melihat dalam kepalaku ketika mereka berdua berciuman, adegan saat payudara Tari dipermainkan & dihisap-hisap Eko, ketika Tari mengocok penis Eko & Eko mengocok vagina Tari, pokoknya semuanya terbayang jelas dalam kepalaku
Perasaan aneh & sensasi pada tubuhku, ternyata inilah yang dinamakan nafsu birahi, & nafsu birahi ini dengan cepat menguasai diriku. Aku ingin tahu rasanya tubuhku dijamah pria, ingin tahu rasanya payudaraku dihisap, ingin tahu bagaimana rasanya dikocok & mengocok, aku ingin tahu semuanya, aku ingin tahu rasanya.
Akhirnya runtuh pertahananku, diawali memejamkan kedua mataku agar dapat meresapi segala perlakuan Eko padaku nanti, kumiringkan kepalaku, sehingga memberikan keleluasaan pada Eko untuk mencumbui leherku yg masih tertutup jilbab, lalu kubuka perlahan kedua kakiku yg tadinya merapat sehingga mempermudah manuver Eko pada vaginaku. Dan kini aku mulai menikmati setiap perlakuan Eko pada tubuhku.
“ssshhh…orgghhhh…kak…” desahku diantara nafas yg tak beraturan. Aku yakin dibelakangku Eko pasti tersenyum penuh kemenangan, terasa vaginaku bertambah gatal.
Aku benar-benar menikmati setiap permainan yg Eko berikan padaku, tubuhku benar-benar sudah diluar kendaliku, & aku hanya bisa menuruti birahiku sekarang. Sambil terus mendesah, badanku menggelinjang, tanganku mengepal, pinggulku bergoyang ke kiri & kanan.
Dibawah sana, tangan Eko masih mempermainkan vaginaku.
“Ssshhhtttt…kaakkhhh…iihhhh” suaraku mendesah. Gerakan jari-jari tangan Eko sungguh nikmat, aku yakin ini bukan kali pertama dia bermain dgn vagina wanita karena gerakan tangannya benar terasa lembut tapi mematikan, benar seperti profesional, buktinya dia berhasil membuat vaginaku becek. Aku dapat merasakan basahnya celana dalamku, sebelum Eko berkata dgn nada setengah berbisik nakal d telingaku.
“Udah basah Han, enak kan?”
Aku buka mataku perlahan namun tak menjawab pertanyaannya, hanya suara nafas tak beraturan yg keluar dari mulutku, pandanganku juga sedikit kabur seperti berkunang-kunang.
Kini tangan Eko mulai menyusup kedalam kemejaku, sepertinya dia mulai bosan meremas payudaraku dari luar, & kini tangannya telah mendarat diatas payudaraku yg masih tertutup Bra, sekarang hanya selapis kain tipis bra yg menghalangi tangan Eko menyentuh kulit payudaraku, & dia akan menjadi laki-laki pertama yang menjamah kulit daerah sensitifku, “Oougghhff” dengusku tak jelas ketika tangan Eko memulai remasannya pada buah dada sebelah kiriku yg masih tertutup Bra.
Detik itu juga ada sedikit kesadaranku yg kembali, walau tak bisa kupungkiri betapa aku menyukai pelecehan Eko padaku ini & (aku benci mengakui ini) aku menikmati sensasi yg dia berikan padaku, sedikit keraguan muncul dari hati kecilku, apakah aku akan benar-benar menyerahkan tubuhku pada Eko, apakah Eko benar-benar pria yg tepat yg dapat kuberikan kebebasan menjamah setiap inci dari tubuhku? Tunggu, bukankah dia sudah pernah melakukan ini dgn Tari, sahabatku sendiri. Apa yg akan terjadi bila aku biarkan Eko bertindak lebih jauh? Dan bukankah aku pernah memantapkan hati, bahwa tubuhku ini hanya akan kuberikan pada laki-laki yg menyayangiku & akupun menyayanginya..
Perlahan bayangan Tari muncul dibenakku, wajahnya terlihat marah, dia menodongkan telunjuknya didepan muka ku, sambil menuduhku pengkhianat & tukang rebut pacar orang, belum lagi Sofa yg terlihat kecewa karena kelakuanku, lalu bagaimana tanggapan kawan-kawan seangkatanku yang lain serta para dosen, mereka mengenalku sbg mahasiswi yg cerdas, sopan & kalem, tiba-tiba bayangan kedua orang tuaku muncul, aku dapat membayangkan betapa kecewanya mereka, sudah capek-capek banting tulang demi membiayai study anaknya, aku malah membuat ulah, apa aku akan mengkhianati kepercayaan & kasih sayang mereka kepadaku hanya demi memenangkan rasa penasaranku & melayani pria bejad yg sedang mencumbuku saat ini? Air mata ku perlahan mengalir membasahi pipiku, ooh, aku tak mau kehilangan mereka semua, aku tak mau kehilangan mereka yg aku sayangi & mereka menyayangiku.
Seolah mendapatkan kekuatan baru, aku berteriak keras “toloooong akuu, siapapun, tollllooooong!!!!!!”
Eko kaget, dia tampak tak menduga aku akan berteriak keras seperti itu, mungkin dia mengira aku sudah benar-benar jatuh dalam permainannya, sehingga sangat yakin akan mendapatkan diriku.
“Toloooong!!! Toloooonggg!! Di dalem Lab!! Tollooong!!!!” Aku berteriak lagi, kali ini sambil meronta melepaskan diri, & berhasil, aku telah meloloskan diri dari dekapan Eko, bersamaan dengan itu pintu lab terbuka, beberapa mahasiswa & seorang satpam yg mendengar teriakan ku tiba-tiba masuk.
“ada apa?!!” seorang mahasiswa yg tak ku kenal berteriak tanya. Dan tanpa isyarat atau pengertian apapun mereka semua langsung paham, seorang gadis menangis dgn baju yg setengah tersingkap ke atas & terlihat shock terduduk kaku sambil menangis bersama seorang laki-laki dgn wajah panik ada disebuah ruangan, Percobaan Pemerkosaan! Pastilah itu yg ada dikepala mereka sekarang, sehingga sekali lagi tanpa dikomando mereka merangsek masuk lab & tanpa sempat memberikan waktu bagi Eko memberikan penjelasan mereka langsung menghadiahkan bogem mentah untuknya.
Sekali lagi, Tuhan masih menyelamatkan diriku..

loading...
www.sedarahceritasex.com