Agen BandarQQ Online





Seks Sama Adek Sendiri 6

Seks Sama Adek Sendiri 6 -
loading...

Ini adalah minggu ketiga aku & Yunda resmi berpacaran. Setiap akhir pekan aku pulang ke rumah untuk kencan bersamanya pada malam minggu. Hari ini hari jum’at sore, aku menyeduh segelas kopi sebelum bersiap pulang malam nanti. Minggu ini Yunda mengajakku mancicipi masakannya dirumahnya setelah pekan lalu kami pulang dgn kecewa karena mampir di kafe yg sangat tidak rekomended, makanannya standar tapi harganya menguras dompet, andai saja Yunda tidak memperbolehkanku memagut bibirnya lagi sudah pasti itu akan jadi malam yg tidak menyenangkan buatku. Memang benar kata comica terkenal Raditya Dika, akan tiba masanya dalam hubungan berpacaran dimana kalian dipaksa mencicipi makanan buatan cewek kalian. Hehehehe.. Aku memang belum pernah makan masakan Yunda, tapi mendengar pujian dari ibuku bahwa Yunda bakal jadi istri yg baik membuatku tak ragu menerima ajakannya, apalagi aku yakin akan makan bersama keluarganya Yunda, jadi mana mungkin makanannya tidak enak.

Hana sendiri minggu ini baru mendapatkan panggilan interview lagi, hari ini dia harus berangkat ke Solo agar bisa mempersiapkan diri untuk hari senin. Kebetulan adik ibuku tinggal di Solo jadi Hana tak perlu repot menyewa hotel seperti di Bandung dulu.

Minggu lalu kekecewaan ku karena kencan yg tidak memuaskan dengan Yunda di obati tuntas oleh adikku. Pulangnya, aku yg masih agak kesal iseng-iseng membuka kamar Hana yg ternyata tidak dikunci, cuaca malam itu panas sekali. Hana tak pernah bertanya kemana aku setiap malam minggu, karena sudah jadi kebiasaanku sejak dulu baik dalam kondisi punya pacar atau tidak, aku tak pernah ada dirumah. Yang dia tau aku pasti main ke rumah teman, atau nonton bareng bola.

Kulihat adikku memakai daster tipis bertali seukuran jari telunjuk & panjangnya dasternya tidak menutupi setengah pahanya. Dia tertidur dengan tangan kanan diatas tubuhnya hingga membuka ketiaknya, sedangkan roknya telah tersingkap memperlihatkan cd putih yg dia pakai. Putingnya yg menonjol dari balik dasternya membuatku panas dingin, tumben sekali adikku tidak memakai bra. Aku dekatkan wajahku ketubuh adikku, dapat kuhirup bau keringat Hana, bau tubuh yg benar-benar sensual dari adikku.

Aku perlahan-lahan memposisikan kedua tangan adikku kebawah agar dapat kuturunkan tali dasternya hingga langsung saja tampak kedua bukit kembar milik adikku yg menantang. Posisi tidur adikku yg terlentang membuat buah dadanya semakin enak dilihat, aku tak bisa lama-lama menahan tanganku untuk langsung bermain dikedua payudaranya.

Apakah suhu semua bosan bila aku memuji payudara Hana? Karena memang bentuk payudara adikku benar-benar indah buatku. Aku merasa kedua tangan serta mulutku sangat tertawan bila sudah menyentuh dagingnya yg empuk kenyal hingga menari-nari bersama putingnya.

Tubuh adikku yg terguncang-guncang karena nafsuku membuatnya terbangun. Tak ada ekspresi kaget darinya, malah Hana tersenyum tipis dengan wajah masih terlihat mengantuk.

“kamu gak marah dek?” aku sempat bertanya heran.

“aku sengaja mas pake daster ini, takutnya mas dateng malem-malem terus kangen sama aku, jadi biar gampang buka terus mainin dadaku..” katanya dengan suara orang baru bangun tidur pada umumnya.

Rasa terharu muncul diantara nafsuku, terlepas dari kehadiran kakaknya yg merusak & memeluknya dengan nafsu, adikku adalah wanita paling pengertian yg pernah ku kenal. Agaknya dia memilki kepekaan & rasa pengertian yg tinggi. Aku sungguh menyayanginya.

loading...

Tak ingin membuang waktu malam yg sempit ini karena kami masih agak trauma dengan kejadian hampir dipergoki ibuku, adikku langsung meraih mulutku & kami saling berpagut mesra. Sambil berpagutan, aku melepas cd Hana, dia tak menolak bahkan mengangkat tubuhnya agar mempermudah kerjaku. Aku sendiri melepaskan pagutanku & langsung melepas celanaku. Tak ingin buang-buang waktu karena dikejar rasa was-was aku langsung duduk dipinggir ranjangnya, lalu kuposisikan adikku agar duduk dipangkuanku. Ini adalah posisi favorit kami.

Batang penisku diapit oleh kedua pahanya ditambah sensasi dari kulit bibir vagina Hana, & kedua tanganku bisa bebas memainkan payudara adikku. Hana sendiri tangan kirinya meraih kepalaku untuk kembali berciuman, sedang tangan kanannya mengocok penisku diantara kedua pahanya.

Dasah nafas serta rintihan kami sebisa mungkin kami tahan, begitu juga dengan suara derit dari kasur adikku. Hanya suara nafas yg memburu yg keluar dari mulut kami, namun kami mampu menahan gejolak nikmat yg membuat liukan tubuh & goyangan dari pinggul kami. Apalagi kini goyangan adikku harus ku akui semakin memuaskan, secara kasar mungkin diranjang dia adalah wanita binal yg siap memberiku kenikmatan. Seperti sekarang, penisku merasakan kenikmatan combo karena diservis oleh hangatnya jepitan paha adikku, sensasi belahan bibir kulit vaginanya, serta kocokan jemarinya hingga membuatku seperti melayang. Yg lebih nikmat adalah ketika kumerasakan vagina adikku telah membanjir, basahnya itu akan menambah sensasi kenikmatan pada batang penisku.

Beberapa bulan permainan ini membuatku kami saling menghafal zona nikmat kami, karena tak perlu waktu lama bagi kami untuk mencapai puncak bersama. Saat orgasme adikku menggigit lembut bibir bagian bawahku tanda dia telah keluar, hingga akhirnya cairan adikku tumpah membasahi lantai, sedangkan spermaku membasahi sekujur perut, payudara bahkan kulihat sedikit mengenai dagunya.

Adikku langsung roboh didekapanku. Akupun merebahkan tubuh kami yg bermandi peluh. Kulihat adikku terpejam, senyum tipis tersungging dibibirnya. Aku bangkit lalu menggenakan kembali pakaianku, lalu kututupi tubuh adikku dengan selimut.

“makasih banyak yah adekku sayang, mimpi indah” kataku berbisik ditelinganya.

****

Aku menghabiskan hari sabtu ini dengan berisirahat & menyimpan tenaga untuk malam nanti. Walau aku sudah kenal baik dengan om Deden & bu Vera, tapi aku yakin bakal grogi habis disana. Apalagi aku membayangkan mereka hadir sekeluarga lengkap, ada kak Hendi dgn istrinya serta Genta. Aku merasa seperti tersangka yg siap di interogasi habis-habisan, jadi sebaiknya aku dirumah saja untuk mempersiapkan fisik & mentalku.

Aku sudah bilang pada ibuku akan makan dirumah Yunda nanti malam, beliau hanya tersenyum. Melihatku bahagia dengan Yunda pasti juga membuatnya senang, apalagi berbesan dengan bu Vera sahabatnya. Mungkin dikepala ibuku sekarang terbayang adegan film-film India favoritnya, dimana kedua anaknya dijodohkan lalu hidup bahagia selamanya.

Seingatku hari itu waktu berjalan lambat. Walau sudah coba kubunuh dengan bermain game namun tetap saja aku merasa senja sepeti ditunda untuk tiba. Perasaanku makin tak karuan, jantung juga malah tambah deg-degan. Mencoba tidur siang sungguh sia-sia, mataku tak mau terpejam sedikitpun. Namun akhirnya malam tiba juga hari itu. Aku berjanji pada Yunda pukul delapan malam.

Walau ini acara makan perdana dengan keluarga Yunda, aku mencoba menyikapinya dengan biasa saja. Tak perlu memakai baju sebagus mungkin atau berdandan lebay, aku hanya memakai kaus adid*as warna merah marun, dgn kemeja luar yg kulinting lengannya. Malam ini pun aku masih membawa vario kesayanganku, menurutku tampil sewajarnya justru akan menambah respek orang lain kekita, jadi aku tak perlu membawa livina yg notabene punya ayahku kalau Cuma sekedar untuk membuat keluarga Yunda terkesan, lagian toh mereka sudah mengenal keluargaku. Aku pun pamit pada orangtuaku sebelum berangkat, namun ketika mencium tangan mereka ibuku sempat memintaku untuk mendoakan agar adikku Hana bisa selamat sampai tujuan. Aku mengaminkan do’a ibuku.

Aku berjalan santai karena masih cukup banyak waktu, sekalian aku ingin menikmati suasana malam ini yg semilir sejuk, berharap ini bisa mengurangi grogi. Aku tiba dirumah Yunda sepuluh menit lebih awal. Setelah kubunyikan bel, dia keluar untuk membuka pagar & mempersilahkan ku masuk.

“ciee udah kangen yah, cepet amat kamu datengnya cam” sambutnya sambil tersenyum.

“idiih, siapa yg kangen. Orang aku Cuma laper aja kok. Terus denger-denger disini ada makanan gratis, yaudah aku meluncur kesini” aku mencoba menggodanya.

“iih enak aja gratis, harus joget dulu baru boleh makan” kami bercanda hangat, buatku yg paling menarik dari Yunda adalah tawanya yg imut. Benar-benar kontras dengan pipi chubby serta perawakannya yg cukup tinggi berisi. Malam itu Yunda memakai gamis krem dengan jilbab coklat susu. Semenjak kami jadian, Yunda memanggilku “cami” singkatan dari calon suami, sedangkan aku memanggilnya “cabi” dari calon bini disamping pipinya yg juga “cabi”. (Alay yak. Hehehe)

Yunda mempersilahkan aku masuk, namun aku merasakan hal yg janggal, dimana mobil mereka.

“Mobil kamu dimana bi?” aku bertanya sebelum masuk.

“dibawa ortu ku cam, tanteku baru lahiran jadi mama langsung minta dianterin papa ke Bekasi”

Aku kaget, tapi agak lega juga karena setidaknya grogi ku berkurang tanpa kehadiran om deden & bu vera. Tapi lagi-lagi aku heran karena disini tidak ada motor lain selain Beat biru milik Yunda, aku mencoba bertanya lagi, kali ini dengan peraaan menduga-duga mengenai feeling yg tiba-tiba muncul dibenak ku.

“terus ka Hendi sama Genta jg mana bi?”

loading...

“emm… ka Hendi sama the Ela gak bisa dateng cam, Genta kan kuliah. Kamu lupa ya?”

Wajahku mendadak tegang, feeling ku tadi benar.

“jadi bi maksudnya dirumah sekarang Cuma ada kamu sama aku?”

“Iya cam.. harus abis lho makanannya. Hehehehe” Aku melongo bego. Bukan soal makanannya, tapi hanya berdua saja dengan Yuna dirumahnya. Antara senang & berdebar-debar juga, senang karena taka da keluarganya yg membatasi gerak kami berdua, deg-degan karena aku meras ini seperti simulasi bila kami tinggal berdua saja dirumah kami nanti. Hanya saja aku bertanya-tanya mengapa Yunda bisa sesantai, atau mungkin dia juga merasa yg sama denganku tapi karena dia lulusan psikogi dia bisa mengatasi perasaan berdebarnya.

Makanan telah siap ketika aku duduk dimeja makan, aku bersyukur Yunda juga tidak berlebihan menyikapi makan malam perdana ini karena tak ada hiasan apapun dimeja seperti lilin atau bunga, walau cantik Yunda adalah wanita yg apa adanya. Aku jadi semakin jatuh hati dengannya. Dihadapanku sendiri telah tersaji nasi putih tanak yg harum baunya, ayam bakar lada hitam, kangkung saus tiram, tempe orek pedas serta lalap sayur lengkap dengan sambal terasinya. Hidangan sederhana namun menggoda selera makanku, sekali lagi hidangan yg tak berlebihan ini menggambarkan betapa Yunda ini menyukai kesederhanaan, walau keluarganya hidup berkecukupan.

“cam, minumnya air putih dulu aja ya biar sehat, aku udah buat teh kok. Tapi abis makan aja ya, nanti kenyang duluan lagi” katanya menyusulku duduk dimeja makan sambil menaruh teko kaca besar berisi air putih.

“siip, yang penting makan dulu nih, udah laper. Kayaknya enak nih lagian” kataku.

Yunda menawariku menuangkan nasi kepiringku, aku berkata satu setengah sendok nasi sudah cukup, tapi dia memberikan dua sendok penuh. “Biar kamu juga chubby kaya aku cam” katanya tersenyum manis. Aku sendiri mau tak mau menerimanya.

Kami pun mulai makan dengan tenang. Rasa masakan buatan Yunda lumayan enak, walau tidak istimewa sekali rasanya, tapi buat lidahku sendiri ini sangat cukup. Kalau aku boleh jujur, Yunda sebenarnya agak kurang menguasai olah bumbu, yg ku tau di dunia ini hanya dua wanita yg memiliki skill olah bumbu terbaik di lidahku, ibuku & adikku Hana. Bahkan kalau masakan Yunda & Hana di adu sayangnya aku harus mengakui masakan adikku lebih baik, Hana benar-benar mewarisi kemampuan ibuku soal memasak. Kekuperannya selama ini membuatnya banyak menghabiskan waktu dirumah, namun dia benar-benar menguasai hal-hal yg penting dimiliki oleh seorang wanita yg akan mengurus rumah tangga & waktu-waktunya dirumah terbayar dengan kemampuan memasaknya, aku yakin kalau dia ikut kompetisi master chef adikku bisa jadi kandidat kuat juara. Ciri khas masakan adikku terletak pada olahan bumbu tumisan serta rasa pedasnya. Sekali menyentuh lidah aku jamin kita semua mau tambah, favoritku adalah ketika Hana memasak oseng-oseng rempelo ayam. Namun aku mengangkat jempol untuk Yunda pada sayur kangkungnya, ini yg paling lezat menurutku.

Tak terasa sepiring nasi ini tandas juga, aku benar-benar puas dengan suguhan Yunda malam ini, melihatku duduk bego karena kekenyangan dia hanya tersenyum. “bapak sudah kenyang?

Saya ambil notanya dulu yah pak?” katanya sambil berdiri, tampaknya dia mau menyajikan teh buatannya. “saya bayar pake cinta aja boleh?” kataku mencoba gombal. Tak lama Yunda membawa nampan dengan teko berisi teh & dua cangkir. Dia mengajakku minum teh dihalaman belakang, di gazebo tempat pertama kali aku tau kami akan dijodohkan dengannya.

Sambil meminum teh hijau buatan Yunda aku mendengarkan cerita tentang pengalaman Yunda didekati oleh cowok-cowok sewaktu dia kuliah. Dia mengakui sempat berpacaran empat kali sejak SMP hingga kuliah, namun dia meyakinkan ku bahwa yg dia lakukan hanya sebatas berpegangan tangan & ciumannya padaku kemarin adalah yg pertama buatnya. Aku mempercayainya saja karena Yunda adalah orang yg apa adanya.

Selanjutnya dia menyelidiku sudah berapa kali aku berpacaran selain yg dia tahu bersama Maria waktu SMP dulu. Aku juga mencoba meyakinkan bahwa hanya sempat dua kali berpacaran selain dengan Maria, yg kedua aku mengenalkan Novi pacarku selama SMA & beberapa saat ketika kuliah, walau aku harus berbohong mengenai ciuman pertamaku ketika dia bertanya sudah melakukan apa saja dengan Maria & Novi, ya aku membohongi Yunda bahwa ciumanku dengannya adalah ciuman pertamaku, padahal sejatinya adikku Hana adalah wanita yg menjadi pelabuhan pertama bagi bibirku. Aku menyesal terpaksa berbohong pada Yunda, namun aku tak pernah menyesal memberikan ciuman pertamaku buat adikku.

Kami saling bercerita cukup lama, sebelum aku cek arloji ku yg ternyata telah menunjukan pukul setengah 12 malam. Aku bertanya apakah om deden & bu vera pulang malam ini,

“tadi mamah udah bbm aku cam, dia bilang nginep dirumah tanteku”

“ooh.. berarti kamu malem ini sendirian dirumah dong? Kamu gak takut?”

Yunda tak langsung menjawab, dia menyeruput the hijaunya lalu menatapku, “kamu mau gak temenin aku malem ini” katanya penuh harap.

Walau kaget, tapi aku cepat menguasai diri. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Aku bersedia menemaninya bukan semata-mata karena melihat ini sbg “kesempatan”, tapi aku mengkhawatirkan keselamatannya. Seorang wanita berada dirumah sendirian siapa yg tidak khawatir. Dalam hati aku sedikit mengutuk om deden & bu vera, kenapa mereka tega-teganya meninggalkan Yunda sendirian.

“kok kamu ga ikut mamah aja ke bekasi bi? Sebenernya makan malem yg tadi ditunda jg gak apa-apa”

“tadinya mamah udah ngajak aku, tapi dia gak maksa gitu. Katanya kalopun mau tetep sama kamu yah gak apa-apa. Oiya, mamah juga titip salam buat kamu”

Bingung juga dengan bu Vera, hanya karena aku mau datang mereka meninggalkan anak perempuan satu-satunya di rumah. Gila sekali, pikirku.

Perlahan Yunda mendekatkan tubuhnya padaku, lalu dia memeluk lengan kananku & menaruh kepalanya pada bahuku. Aku membalasnya dengan memegang tangannya.

“cam, aku udah ngantuk” katanya, “kamu bisa main gitar kan? Nyanyiin lagu yg bisa bikin aku tidur mau?” dia berkata penuh harap kepadaku.

“malem ini aku Cuma buat kamu bi” lalu kukecup kepalanya yg masih terbalut jilbab.

***

Ini pertama kalinya aku masuk ke kamar Yunda, kamarnya bercat biru dengan stiker besar berbentuk bunga. Ada dua poster super junior yg menghiasi kamarnya, namun yg paling besar adalah foto wisuda yg terpajang tepat diatas kasurnya. Lemari baju, meja rias serta meja komputer memenuhi ruang kamar yg ukurannya sedikit lebih besar dari kamarku ini. Dibagian bawah sisi kasur yg dekat dengan pintu, lantainya ditutupi ambal berwarna merah.

Yunda baru masuk setelah mengambil gitar dari kamar Genta. Dia menyuruhku duduk dimeja komputernya sambil menyerahkan gitarnya, lalu tiba-tiba dia melepas jilbabnya. Aku tak pernah lupa rasa kaget serta berdebar-debar waktu itu, ini kali pertama aku melihatnya tanpa jilbab, kulihat rambutnya yg hitam legam & panjang sebahu. Pipinya yg chubby jadi semakin terlihat bila dia tidak memakai jilbab.

“Cam, balik kanan dulu dong. Aku mau ganti baju tidur” kata Yunda sambil pipinya merona merah. Aku hanya bisa diam & patuh, lalu dengan perasaan berdebar memutar kursi menghadap ke komputernya. Aku benar-benar kacau, kepalaku terasa panas sekali, hanya sekitar dua meter dibelakangku Yunda, kekasihku yg aku yakini memiliki tubuh semok sedang . Dalam pikiran kotorku, aku membayangkan Yunda sedang melepas baju gamisnya pelan-pelan hingga lolos kebawah meninggalkan badannya, sekujur tubuhku panas dingin ketika dia melepas bra serta cd’a lalu telanjang bulat. Tapi bukankah dia Cuma berganti baju tidur jadi mana mungkin dia melepas pakaian dalamnya, haaah.. susah sekali memang kalau sudah berpikir jorok.

“cam, kesini” panggilnya membuyarkan lamunan ku. Aku serta merta memutar tubuhku. Kini kepala Yunda tak lagi ditutupi jilbab sehingga rambutnya yg panjang sebahu dapat terlihat. Dia memakai celana training warna biru serta kaus oblong oranye bergaris hitam. Tampak jelas lekuk tubuhnya semakin menggoda dalam balutan baju ruma tersebut. Sudah jelas jakunku naik turun. Dengan berdebar aku berjalan menuju kasurnya & duduk di ambal, bersandar pada tepian ranjang springbed Yunda.

Yunda sendiri naik ketempat tidurnya, dia berbaring menyamping, badanya ke arahku, dia memeluk guling & menarik selimut menutupi tubuhnya sampai leher.

“nyanyi yang romantis dong cami ku” katanya manja. Aku tersenyum, sejak tadi aku berfikir mau menyanyi lagu apa untuknya, akhirnya aku memilih lagu lionel Richie ft Diana ross yg berjudul endless love. Aku memulai petikan gitarku..

My love,

There’s only you in my life

The only thing that’s bright

My first love,

You’re every breath that I take

You’re every step I make

Aku bernyanyi sambil menatap Yunda, dia juga menatapku. Dia tersenyum manis sambil menatapku sayu..

And I

I want to share

All my love with you

No one else will do…

wajah Yunda terlihat semakin sayu.. namun matanya menatapku dalam-dalam….

And your eyes

Your eyes, your eyes

They tell me how much you care

Ooh yes, you will always be

My endless love..

Setelah lirik diatas tangan Yunda meraih kepalaku, aku yang tadinya duduk dibawah perlahan mengikuti tangannya, sebelum akhirnya kami lagi-lagi berpagut mesra. Tubuhku sungguh panas dingin, walau kucoba menahannya namun hasrat ternyata bisa naik sedemikian cepatnya. Aku menginginkan Yunda malam ini, tapi akankah dia marah atau membenci ku bila aku nekat nantinya.

Semenjak makan malam itu perasaan cintaku pada Yunda semakin bertambah, aku benar-benar berharap dialah wanita yg akan menjadi istri ku kelak. Sejujurnya, aku belum pernah merasa sesayang ini pada siapapun. Aku merasa hatiku dengan Yunda sudah bertaut, kami merasa saling memiliki. Yunda sendiri menjadi semakin hangat & terbuka padaku. Kini kami tak ragu lagi bercerita hal-hal yg bersifat pribadi, namun tentu aku tak akan menceritakan bagaimana hubunganku dengan adik kandungku. Apalagi keluarga Yunda semakin percaya padaku, terutama sejak aku terjaga sepanjang malam demi menjaga Yunda dirumahnya.

Tak ada yg terjadi malam itu, walau aku menginginkan bercinta dengan Yunda, tetapi entah kenapa ada dinding tebal yang menahanku untuk mereguk kenikmatan darinya. Entah apa itu, mungkin karena memang rasa cinta kami hadir dari ketulusan bukan karena hawa nafsu, atau karena aura Yunda yg belum terlalu memaksa birahiku lepas kendali, aku tidak tahu. Yang jelas malam itu aku puas melihat wajah manis Yunda yg tertidur lelap, sempat beberapa kali kubelai pipi chubby nya. Melihat wajahnya yg tertidur menimbulkan kedamaian & kehangatan tersendiri dalam dadaku.

Namun disisi lain, rasa cintaku pada Yunda ini menimbulkan pertanyaan yg sebenarnya sudah lama muncul dalam benakku. Bagaimana dengan hubungan antara diriku dengan adikku? Bagaimana selanjutnya & mau seperti apa akhirnya. Tentu saja kita semua tau permainan sensual antara aku & Hana selama ini adalah tabu, namun sejujurnya aku sudah sangat jatuh hati pada tubuh adikku sendiri & sangat menikmati permainan seks nya yg sudah semakin mahir. Adikku memang masih perawan, aku sangat menjaga mahkotanya, sehingga aku tak pernah tak terpuaskan olehnya. Namun sekarang seiring dengan hadirnya Yunda dalam hatiku untuk pertama kalinya aku berfikir untuk mengakhiri permainan kami berdua & kembali menjadi saudara kandung yg normal seperti dulu. Aku bingung bagamana caranya, apalagi membayangkan reaksi Hana saat aku menceritakan hubunganku dengan Yunda serta rencana perjodohan kami. Meski demikian adikku adalah wanita yg cerdas, dalam hati kecilku, aku yakin Hana juga pasti pernah berfikir akan bagaimana kelanjutannya permainan kami. Menurutku aku hanya membutuhkan momen yg tepat untuk menceritakannya kepada Hana, tapi kapan? Semoga akan tiba saatnya.

*****

Pertengahan agustus ini kantorku ramai dengan persiapan kemerdekaan RI. Ternyata kantorku sudah sejak lama merencanakan satu hari full yg di isi dengan lomba sambil mengajak seluruh karyawan liburan ke Anyer. Pak Najib atasanku menginformasikan dipersilahkan membawa keluarga kami masing-masing, bagi yg belum menikah boleh mengajak orang tua & saudaranya.

Aku mencoba mengabarkan acara ini kepada ibuku, & syukurlah mereka menyambut dengan antusias & bersedia datang akhir pekan ini. Aku senang sekali mereka mau datang, andai keluargaku menolak datang aku pasti cengok disana karena hanya diriku yg sendirian. Sekalian juga aku berharap ini hiburan buat Hana, minggu lalu dia mendapat kabar kalau dia gagal lolos fase berikutnya dalam rangkaian rekrutan perusahaan yg dia lamar di Solo. Dia benar-benar kesal, bahkan dia sampai mendengus emosi padaku saat kucoba menghiburnya waktu aku pulang. Aku benar-benar tak sabar menunggu akhir pekan ini. Selain itu tak lupa aku menghubungi kekasihku Yunda, aku mengabarkan kalau weekend ini tak bisa jalan bersamanya, dia maklum karena ini kegiatan kantor.

“Tahun depan kita udah jadi keluarga ya Cam, gak sabar deh pengen ikutan gathering di kantor kamu” kata Yunda yg membakar rasa sayang serta rinduku padanya.

*****

Akhir pekan tiba dengan cepat. Malam ini aku mendapat kabar kalau keluargaku sudah berangkat sejak pukul delapan dari rumah. Aku memang memintanya demikian, karena kami akan meluncur dari kantor sekitar pukul satu pagu dengan menggunakan beberapa armada bus milik kantor & sewaan. Jam 12 malam keluargaku tiba dikostan ku. Mereka beristirahat sejenak & kemudian bersiap-siap dikostanku yg kecil. Ku lihat Hana memang raut muka cemberutnya masih tersisa, dia bahkan agak memaksakan senyumnya saat menyalamiku tadi. Setelah itu kami berangkat menuju kantorku, mobil memang sengaja aku parker dikantor karena lebih aman dengan penjagaan satpam. Setelah panitia mengabsen peserta keberangkatan, kami pun meluncur menuju Anyer & tiba sabtu paginya, sekitar setengah tujuh pagi.

Buatku ini ketiga kalinya aku liburan ke pantai Anyer. Yang pertama saat aku & Hana masih SD, kami liburan bersama keluarga besar Ayahku. Yang kedua saat merayakan kelulusan SMA bersama kawan-kawan sekelasku, saat itu kami menyewa sebuah Villa dipinggir pantai, & sekarang di acara kantor ini ternyata panitia menginapkan kami di hotel Marbel*, sebuah hotel berbintang yg cukup terkenal. Setelah registrasi & check in, aku mendapatkan kamar dilantai tujuh. Kamar yg aku dapat tergolong standar, dua bed yg masing-masing cukup untuk dua orang, minimalis namun lumayan indah. Yang aku suka balkon kamar kami menghadap ke kolam renang & pantai, agak mengingatkan ku dengan hotel tempat permainan aku & Hana di Bandung dulu. Panitia mengizinkan kami beristirahat sebentar setelah perjalanan yg cukup melelahkan, tapi kami diingatkan agar segera menuju pantai pada pukul Sembilan pagi untuk memulai rangkaian perlombaan sambil membagikan baju untuk kami pakai dilomba nanti.

Pukul Sembilan ngaret banyak perlombaan dimulai. Mata lomba yg disajikan cukup banyak, yg sering dijumpai seperti lomba lari estafet, memasukan paku ke botol, sampai ke lomba yg melibatkan keluarga seperti lari bakiak, estafet kelereng & gobak sodor. Yang paling seru adalah ekspedisi mencari bendera lambang perusahaanku yg telah disembunyikan panitia disuatu tempat diluar hotel. Beberapa keluarga digabung menjadi satu tim, panitia hanya memberi selembar peta buta lengkap dengan klu serta teka-teki yg harus kami pecahkan untuk menemukan arah. Sepanjang pencarian keluargaku yg bergabung dengan keluarga rekan-rekan sebidang ternyata harus berjalan sampai kepelosok pemukiman penduduk yg terletak disekitar hotel, bahkan sampai menjamah hutan dibelakang kampung-kampung penduduk. Melelahkan memang, namun sangat mengasyikan. Kulihat Hana juga sangat menikmati acara kali ini, aku turut senang dia mulai melupakan kesedihannya. Sayang tim kami gagal memenangkan ekspedisi ini, walau demikian bukan itu intinya, kami sangat menikmati liburan kali ini.

Pukul setengah enam sore keseruan hari ini resmi ditutup, kami diwajibkan berisitrahat dikamar masing-masing karena malam nanti akan ada acara puncak berupa pengumuman pemenang lomba, pembagian hadiah serta hiburan.

Aku kebagian mandi pertama karena sebelum naik tadi pak Najib sudah memintaku untuk cepat turun & berkumpul sebentar di lobby hotel karena ada hal penting yg ingin ada yg ingin beliau sampaikan pada rekan satu bidangnya, walau letih aku tak bisa menolak. Maka tanpa buang waktu setelah selesai mandi aku ijin pada kedua orangtua ku, sekalian aku mengingatkan jangan lupa makan malam jam setengah delapan nanti.

Saat tiba di lobby, aku sudah melihat Pak Najib, Bu Erni serta Pak Ilham. Ternyata yang ingin pak Najib sampaikan adalah membagikan uang sisa anggaran yg tersisa untuk kegiatan kali ini, semua bidang mendapatkannya sebagai reward karena produksi perusahaan kami triwulan ini sangat memuaskan. Aku tak bisa tak tersenyum menerima amplop ini, rejeki yang tak bisa kutolak pikirku. Setelah itu kami ngobrol santai di lobby sambil menunggu makan malam siap.

Tak terasa makan malam telah siap, aku menelpon ibu ku yg masih di kamar untuk mengajak mereka makan. Seperti acara di hotel pada umumnya, makanan disajikan secara prasmanan. Sambil menunggu acara puncak yg sedang dipersiapkan panitia, kami dipersilahkan bersantai sambil minum kopi yg disediakan pihak hotel. Pukul setengah Sembilan acara puncak dimulai.

Acar berlangsung sangat meriah, di awali dengan sambutan direktur, dilanjut pembagian hadiah kepada peserta lomba. Walau aku & keluarga sama sekali tidak memenangkan mata lomba apapun, namun kami turut bersukacita. Mungkin karena sudah diberi amplop, hehehehe. Setelah pembagian hadiah berlanjut ke acara hiburan. Ternyata panitia memberi kami kejutan dengan mengundang tiga artis lawas yg tenar di tahun 90-an. Artis yg diundang adalah lady rocker yg pernah berduet dengan rocker asal Malaysia, penyanyi wanita yg terkenal dengan tahi lalat didekat matanya, serta satu penyanyi dangdut wanita yg pernah menjadi juri d acara dangdut internasional di amerika. Benar-benar bukan artis yg pas buat orang seumuranku & adikku. Yah karena rekan-rekan kantor ku rata-rata lebih tua dariku jadi mereka menikmati acara hiburan tersebut, pun dengan ayah & ibuku. Mereka seperti bernostalgia pada zaman mereka berpacaran. Sebenarnya aku ingin mengajak ngobrol anak-anak dari rekan kantorku yg tampaknya sebaya denganku, namun tampaknya mereka asyik dengan keluarga masing-masing. Sedangkan Hana setelah acara hiburan dimulai pergi ke toilet, tampaknya dia belum kembali.

Saat semua rekan ku beserta keluarganya sedang asyik menikmati acara yg disajikan panitia, aku hanya duduk didekat pagar tembok yg membatasi hotel dengan pantai. Pagar temboknya rendah, jadi walau duduk tidak terlalu membatasi pandanganku ke pantai. Aku cek Hp ku, ingin bertanya kabar Yunda disana sekalian melepas rinduku padanya. Dari sini juga aku melihat orangtua ku beserta pak najib & istri, serta pasangan-pasangan lainnya sedang berdansa menikmati lagu sendu khas era akhir 80-an sampai awal 90-an. Baru sekitar sepuluh atau lima belas menit aku & Yunda bertukar obrolan d ponsel ketika adikku datang menghampiriku & duduk di kursi semen seberangku. Memang bentuk tempat duduk aku & Hana berupa kursi & meja semen yg berbentuk melingkar. Malam ini Hana tampak menawan dalam balutan kerudung biru gelapnya, dia memakai jaket jeans dengan kaos pink gelap didalamnya. Pantatnya yg semok tertutupi oleh jeans agak longgar. Tubuhku agak bergetar ketika angina malam pantai menghembus kerudungnya hingga berkibar, lampu di tepi pantai tampu menghalangi suasana temaram tempat kami, wajah siluet adikku tampak semakin menggoda.

“capek ya mas acaranya hari ini. Badan ku sampe pegel-pegel. Tapi seru kok” katanya sambil tersenyum manis.

“yah, syukur kalo kamu seneng dek. Udah ya jangan sedih lagi, yg di solo emang belum rejeki dek. Sabar aja. Mas juga sedih kalo kamu sedih.” Aku menimpali.

“iya Mas, aku udah agak lupain kok. Susah yah cari kerjaan. Hehehe”

“mas yakin kok ada orang dalem yg jegal kamu. Kalo ngeliat nilai kamu gak ada alasan buat perusahaan nolak.” Kataku lagi mencoba membesarkan hatinya. Memang cukup aneh buat ku melihat adikku belum mendapat pekerjaan, lulus dengan perdikat cum laude dari fakultas teknik harusnya menjadi jaminan masa depan cerah buatnya.

Adikku hanya tersenyum mendengar jawabanku, lalu melempar pandangannya ke pantai. Angina laut bertiup cukup lembut malam ini. Dari kejauhan tampak ku lihat cahaya petromak perahu nelayan bersinar seperti kunang-kunang dari tengah laut. Lampu-lampu neon juga bersinar warna-warni disepanjang pesisir pantai anyer.

“Mas, jalan-jalan ke pantai yuk”

*****

Suara deburan ombak terdengar semakin gemuruh, di langit sana bulan bersinar terang tak hanya memancarkan cahaya hangat, namun juga memberi gravitasi agar laut semakin pasang demi menggerus daratan. Di antara batas lautan & daratan itulah kami berjalan-jalan. Alas kaki sengaja kami lepas demi merasakan lembutnya pasir pantai & air pantai. Malam ini bulan bersinar hangat hingga cahaya temaramnya cukup membuat pandangan kami jelas tanpa bantuan lampu sekalipun, jejak-jejak kaki yg kami buat tersapu jilatan ombak.

Andai saja kami adalah sepasang kekasih, tentu sudah kuraih tangannya & kupagut mesra bibirnya sejak tadi. Suasana romantis memang selalu mudah mengundang nafsu.

Kami berjalan menyusuri pantai melewanti warung-warung makanan, & perahu-perahu nelayan yg tertambat. Tujuan kami adalah batu karang besar diujung sana yg sejak tadi terlihat menggoda dari hotel. Sejak tadi Hp ku terus bergetar, pasti Yunda, namun aku tak perdulikan dulu. Saat ini Hana yg ada didepanku, aku takut dia curiga kalau aku terlalu sering memainkan Hp, untung tadi sempat ku senyapkan.

Sepanjang jalan adikku menceritakan kondisi keluarga ibuku di Solo, serta pengalamannya seminggu menjalani berbagai proses rekrutmen. Dalam ceritanya dia sangat yakin yg terbaik dalam test TPA serta psikotest. Namun apadaya nasib baik belum berpihak padanya. Aku sendiri hanya termenung, perasaanku tentang kegelisahan hubunganku dengan Hana muncul lagi dalam benakku. Sebelumnya aku menunda karena beralasan mencari waktu yg tepat untuk mendiskusikan ini, & sekarang kami hanya berdua, jauh dari keramaian, ditepi pantai bertemani deburan ombak, menurutku bila ingin bicara inilah saatnya. Namun nurani ku menolak, adikku baru saja terhibur dari rasa sedihnya, tegakah aku merusak kesenangannya ditempat & suasana yg indah ini. Memikirkan itu membuatku sedih & gamang.

Ternyata butuh setengah jam buat kami untuk mencapai karang raksasa tersebut. Karang tersebut berdiri kokoh ditepi pantai, tingginya melebihi rumah kami, tampaknya bisa dinaiki karena ku lihat sekilas ada jalan setapak. Namun kami mengurungkan keinginan kami karena ini bukan wilayah kami, kami takut terjadi hal yg tidak di inginkan. Disampng adikku masih trauma dengan hal berbau mistis, dia benar-benar terbayang dengan kejadian horor di Sekolahnya dulu. Sampai disana Hana hanya memintaku untuk mengabadikan momen ini dalam ponselnya. Setelah itu kami memilih duduk di perahu nelayan yg tertambat ditepi pantai, pemiliknya tak tampak disitu, namun sepertinya tak keberatan bila kami duduk disitu. Sunyi beberapa saat, kami seperti asik dengan pikiran kami, atau mungkin sedang menikmati suasana malam ditepi pantai.

“Aku udah tau Mas.. kemaren ibu cerita” aku terlonjak, jantungku seperti lepas. Walau aku sudah nyaris tau apa maksud perkataan tadi namun tetap saja secara reflek aku bertanya pada Hana.

“maksud kamu dek??”

“soal perjodohan kamu sama Yunda mas” adikku menjawab sambil memandangi kakinya yg penuh pasir pantai. Mendengarnya jelas menciutkan ku. Saat ini yg terbaik buatku adalah diam, untuk bersiap menerima amarah adikku. Namun dia masih duduk anteng, hanya memandangi kakinya sambil sesekali membuang pandangannya ke laut lepas. Aku hanya menunduk kaku, dia melirik ke arahku. Lalu tersenyum tipis.

“Mas aku gak marah kok.. aku tau bakal dateng saatnya juga kok kita mesti ngobrolin ini. & waktu aku denger rencana perjodohan mas sama mbak Yunda, menurutku ini jadi waktu yg pas buat kita ngebahasnya..” seluruh tubuhku dingin sekali, dilanda rasa gelisah & bersalah.

“mas tau gak, sebenernya aku udah lama ngerasa mau sampai kapan kita kaya gini. Kita berdua tau kalo ini tabu, gak wajar, & jelas… dosa..” ketika menyebut kata dosa suara adikku bergetar, sepertinya air mata siap tumpah. Akupun mau tak mau semakin menciut di tempatku.

“Maaf ya mas.. tapi jujur aku nikmatin saat-saat itu. Aku juga sempet larut, walau sebenernya kadang aku mau banget nolak kalo mas ngajak aku. Tapi gak tau kenapa aku gak bisa, aku sayang banget sama kamu Mas.. lama-lama aku tau kalo perasaan ini nih udah gak wajar buat kita. Mau gimana juga kita ini adek kakak..” Hana berbicara sambil menangis tertahan. Walau dengan temaram cahaya bulan, aku bisa melihat pipinya yg tirus telah basah.

“Jadi menurutku mas, karena sekarang udah ada Yunda buat kamu… ini saatnya buat kita nge-akhirin ini..” Kini aku tak bisa lagi menahan air mataku sendiri untuk jatuh.

“Maafin mas dek..” hanya itu kata yang bisa aku ucapkan dengan bergetar.

Mendengar kata-kataku adikku menatapku, lalu dia memeluk tubuhku.

“Kita berdua yang salah Mas” kata adikku sambil mendekapkan tubuhnya ke tubuhku. Pelukannya terasa hangat, seolah seluruh jiwaku damai dalam pelukannya.
“Yunda datang ke hidup kamu jg bukan salah siapa-siapa, emang udah takdirnya begini mas. menurutku ini waktu yg pas buat kita jadi adek kakak normal lagi”
Aku sendiri hanya bisa menangis tertahan dalam pelukannya.

Sesungguhnya aku terkejut atas kebesaran hati adikku. Harusnya saat ini hatinya sedang terluka, sudah sepantasnya dia memaki & menghina ku karena tak menceritakan perjodohan ku dengan Yunda, namun adikku justru melihatnya dari sisi yg lain, dia benar-benar melihat bahwa hubungan kami memang akan tiba saatnya untuk berakhir.

Hatiku sendiri benar-benar hancur, andai aku bisa setegar adikku saat ini. Dalam hati aku mengutuki takdir kami, kenapa aku & Hana harus terlahir sebagai saudara sekandung? Mengapa aku tak bisa memiliki hatinya, mengapa aku tak bisa memiliki cinta adikku? Bukankah kamu sudah memilik Yunda Ar? Kamu jangan egois, nanti kamu semakin menyakiti Hana.

Yah!! Aku memang egois. Namun sungguh aku tak ingin menyakiti siapapun sama sekali. Andai saja Hana bukan adikku, lalu dia & Yunda datang bersamaan dihadapanku & aku harus memilih diantar mereka berdua, maafkan aku Yunda aku sudah pasti memilih Hana sebagai pendamping hidupku.

Bukan, bukan karena Hana lebih baik dari Yunda. Mereka berdua sama-sama wanita yg baik, punya keunggulan masing-masing yang sudah jelas masuk dalam kriteria pria manapun bila mencari pendamping hidup terbaik. Secara face memang Yunda jelas lebih unggul dari Hana, namun ini bukan soal itu. Entah kenapa nuraniku lebih memilih Hana. Hanya sekali lagi dinding terbesar yg tak mungkin dirobohkan adalah fakta bahwa kami berdua adalah saudara kandung. Maka karena hal itulah Yunda menjadi yg terbaik buatku. Walau demikian aku masih merasa bahwa kenyataan ini terasa begitu pahit. Aku masih tergugu dalam dekapan adikku, kurasakakan juga pundakku basah oleh air mata Hana.

“Mungkin kita masih bisa ngelakuinnya sekali lagi mas, untuk yg terakhir kalinya..” Kata Hana berbisik sesenggukan ditelinga ku.

“Cam, hari minggu jangan lupa ya. Kamu ati-ati pulangnya, see u on Sunday. Love u so much my cami” pesan Yunda yang tertera pada layar Hp ku, dia mengingatkan agenda kami, aku hanya menjawab singkat “Ok”, semoga dia paham aku sedang sibuk. Aku baru selesai membereskan kontrak pihak ketiga saat ini. Mataku terasa panas menatap layar monitor delapan jam nonstop & hanya sekali diselingi istirahat makan. Langsung saja aku pecah menjadi tiga file, kurapikan menjadi satu folder & siap kuberikan kepada pak Najib atasanku. Aku ketuk pintu ruangan beliau & langsung saja kuberikan data kontrak tersebut melalui flashdisk.
“semua udah pak, di cek aja dulu. Kalo ada yg kurang telpon saya aja ya pak. Maaf sy mau langsung pulang nih”
Pak Najib menerima Fd ku, beliau memeriksa sebentar, lalu berkata “Ok nanti sy cek lagi Ar. Kamu buru-buru amat mau pulang. Udah kangen sama calon istri mu ya. Heheheh” kata pak Najib sambil tersenyum.
“hehehehe. Iya pak, minggu ini ada yg harus disiapin. Mohon do’anya ya pak supaya lancer”
“iya nak tenang aja. Semoga lancer sampai hari akad mu ya. Eh ngomong-ngomong kalo udah ditentuin hari-H nya, langsung kabarin saya ya. Biar sy langsung kabarin sekantor. Hehe”

“oh iya pak, tentu. Nanti segera saya kabarkan”

“okeeh.. sy tunggu kabar baiknya yah nak. Kamu hati-hati dijalan kalo gitu”

Yah, setelah agenda kantor kami di Anyer pertengahan bulan lalu aku, ibu serta Yunda & keluarga bu Vera resmi mengakhiri kerahasiaan perjodohan kami. Ayahku setelah diceritakan mengenai keseriusanku pada Yunda menyambut baik niatku, beliau bilang asal aku sudah mantap & yakin pasti di dukung. Ayahku percaya aku sudah bukan anak-anak lagi, jadi mampu menentukan pilihan terbaik buat masa depanku. Memang selama ini aku tidak pernah mengecewakan beliau, jadi mudah bagiku mendapatkan kepercayaannya. Selain itu keluarga kami juga sudah mengenal baik om Deden serta bu Vera sehingga memudahkan persetujuan dari Ayahku. Setelah menyetujui keseriusanku, ayah langsung merencanakan lamaran resmi untuk keluarga om deden, beliau bahkan ingin agar lamaran dilaksanakan secepat mungkin.
“kalau bisa bulan ini kita sudah pinang Yunda Ar” kata Ayahku. Maka setelah lobby-lobby dari kedua keluarga, disepakati acara lamaran pada pertengahan Oktober.
Karena itulah hari minggu nanti aku & Yunda sepakat mencari baju yg sesuai & kalau bisa satu warna untuk acara lamaran nanti.
Rekan-rekan kantorku menyambut baik & ikut gembira ketika ku ceritakan perihal rencana lamaranku. Mereka menyambut hangat & siap turut serta meramaikan pernikahan ku nanti.
“mau dibeliin apa Ar buat hadiah kamu nanti? Lemari, kulkas, springbed atau kompor gas?” celetuk Bu Erni penuh semangat. Ketika kuperlihatkan foto Yunda, reaksi mereka semakin bergairah. Mereka memuji kecantikan Yunda. Aku jadi semakin semangat & mantap. Namun sayangnya bukan persiapan perjodohan ku yg membuatku semangat pulang, namun ada sebuah janji dari adikku, bahwa kami akan melakukan permainan cinta kami untuk terakhir kalinya.

Ternyata adikku sudah dari jauh-jauh hari mengetahui rencana ibu ku untuk pergi ke rumah nenek kami di Kudus. Ibu ku hendak bersilaturrahmi kepada keluarga disana sekalian mengabarkan & minta restu dari nenek perihal perjodohan kami. Ibu akan berangkat bersama Ayahku. Sebenarnya ibu juga mengajak Hana, namun dia menolak dengan alasan ada acara bersama temannya. Padahal yg sebenarnya terjadi saat Ibu & Ayah tak ada dirumah inilah dia menyiapkan “perpisahannya” denganku.

Hana sendiri semenjak pulang dari Anyer dia Nampak datar, biasa, atau berusaha cuek. Tak ada gurat sedih di wajahnya, bahkan ketika keluarga kami mengobrol tentang perjodohanku & lamaran yg dibahas untuk Yunda, aku sendiri tak bisa menebak apa yg ada dalam benak adikku saat ini. Sejak obrolan kami terakhir kali di tepi pantai itu perhatiannya padaku jadi jauh berkurang, baju-baju daster menggodanya yg dulu sering ia pakai kini berganti menjadi training panjang serta kaus oblong, walau tetap saja itu tak bisa menutupi keindahan pantat & payudaranya.

*****

Aku bangun pukul setengah Sembilan pagi. Ibu & Ayah telah berangkat sejak shubuh tadi meninggalkan aku & adikku di rumah. “ibu tinggal ya Ar” hanya itu kata-kata yg ku ingat dari ibuku shubuh tadi, aku mendengarnya dalam keadaan setengah sadar.

Dengan malas aku bangkit meraih handuk untuk bergegas mandi. Begitu keluar kamar aku melihat keadaan rumah sepi, entah ada dimana adikku.

“Deeek..” aku memanggil Hana, namun tak ada jawaban. “lagi ke minimarket apa yah?” kataku dalam hati. Disamping aku juga sungguh menanti kapan perpisahan yg dia janjikan. Aku bergegas mandi agar saat Hana siap aku juga dalam keadaan yg terbaik. Selesai mandi aku kembali k kamarku, menyalakan laptop bersiap main game online. Ohiya, sedikit cerita saja, sebenarnya Yunda agak kurang suka dengan game, menurutnya itu hanya menumpulkan otak & membuat orang jadi anti-sosial. Dia sendiri memintaku untuk mengurangi hobby ku bermain game online. Agak menyebalkan sih, tapi menurutku disinilah awalnya kami saling mempelajari & menerima perbedaan di antara kami. Yunda berpikir seperti itu wajar, dia adalah tipe orang disiplin, jarang mau menghabiskan waktu untuk hal-hal remeh & tidak bermanfaat menurutnya. Tapi aku melihat sisi positifnya, sifat disiplin luar biasa tersebut akan bermanfaat buat keluarga kedepannya, walau kadang menurutku Yunda agak over hingga memaksakan kehendak baik untuk dirinya maupun kpd orang lain, namun disitulah aku menjadi rem & pengingat buatnya. Untungnya Yunda bukan orang bebal yg sulit di ingatkan.

Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul tengah hari, perutku sudah terasa sangat lapar. Aku lupa tadi tidak sarapan pagi, jadi kuputuskan untuk mencari makan di dapur. Ketika aku keluar kamar aku kaget karena keadaan ruang tengah sangat gelap, begitu juga dengan ruang tamu & dapur. Ternyata semua gorden tertutup rapat. aku bingung siapa yg melakukan ini? Apa mungkin adikku? Tapi memang iya untuk apa? Lagipula dimana adikku.

“Deek.. kamu dimanasih?” kataku memanggilnya agak berteriak, namun lagi-lagi taka da jawaban.

Masih dalam keadaan bingung aku menuju dapur, membuka kulkas untuk mencari apapapun yg bisa ku olah atau ku makan. Lagipula lampu ricecooker menyala kuning, tanda ada nasi tanak didalamnya. Setelah aku mengambil beberapa sayuran, bumbu nasi goreng & telur, aku dua sendok nasi untuk aku goreng. Namun baru saja aku menyalakan kompor tiba-tiba ku dengar pintu terbuka, aku reflek menengok ke arah ruang tengah, terlihat Hana adikku memakai tank top serta celana street ketat. Otomatis aku melongo bego, menelan ludah karena tubuh adikku yg indah tercetak sempurna dalam balutan pakaian super ketat tersebut, belum lagi rambutnya yg dikuncir tinggi membuat leher adikku terlihat menggoda. Yang membuatku bertambah kaget adalah pakaian tersebut merupakan pakaian Hana ketika kami mengawali permainan cinta kami pada februari lalu. Namun terlihat kali ini tubuhnya semakin semok, mungkin karena sudah menghabiskan banyak waktu dirumah & tidak terlalu banyak kegiatan sehingga aku merasa tubuhnya pantat serta lengannya tambah berisi.

“Laper mas? Sini aku aja yg masakin” kata adikku tersenyum, aku cuma bisa melongo.

“ini gorden kenapa pada ditutup dek?” aku mencoba menyembunyikan kegugupan ku.

“Mas duduk aja, sini biar aku yg masak” katanya penuh otoritas.

******

Aku duduk dimeja makan sementara adikku Hana memaasak nasi goreng buatan kami berdua. Mataku benar-benar dimanjakan melihat pantat serta punggung adikku yg sedang memasak, walau masih tertutup oleh pakaiannnya namun sekali lagi itu tak mampu menyembunyikan tubuhnya, apalagi kait bra’a yg tercetak dipunggung adikku.

Tak lama kemudian nasi goreng ayam pedas tersaji didepan kami. Aku mencoba makan walau sesekali mataku menatap belahan dada adikku yg terlihat jelas didepan mataku. Sungguh aku tak mampu menikmati lezatnya nasi goreng buatan Hana ini. Belum lagi suasana dapur & seluruh rumah yg remang-remang.

Selesai makan Hana menyajikan teh madu untuk kami. Keluargaku memang penyuka madu, aku & Hana sering mencampur madu dengan susu atau roti saat kami sekolah dulu, bahkan adikku masih suka sampai sekarang. Ibu suka meminumnya langsung, sedang ayah kadang mencampurnya dengan jamu kadang mencampurnya dengan telur ayam kampung.

Kami meminum teh dengan tenang. Aku sendiri masih bingung mengapa adikku menutup gorden rumah kami. “Dek, ini kamu yang nutup gorden semuanya?” adikku hanya mengangguk sambil menyeruput teh nya.

“buat apa dek?” aku mencoba bertanya lagi.

“Abisin teh nya mas” dia mengacuhkan aku.

Selesai menghabiskan teh kami tiba-tiba adikku berdiri lalu menuju jendela dapur kami, sekilas dia tampak memeriksa kerapatan gordennya, lalu dia berbalik menghadap ke arahku.

“Mas, aku udah janji mau ngasih kamu yg terakhir kalinya..” kata adikku sambil wajahnya menunduk namun tampak merona merah. “Karena ini yg terakhir aku pengen ini berkesan buat kita berdua… jadi bisa gak aku sama mas seharian ini….. di rumah & pake…. daleman aja”
Deg!! Jadi ini alasan adikku menghalangi cahaya masuk ke penjuru rumah kami…

loading...
www.sedarahceritasex.com