Agen BandarQQ Online





Seks Sama Adek Sendiri 5

Seks Sama Adek Sendiri 5 -
loading...

Adikku langsung berjalan menuju kamarnya lalu menutup pintunya, aku tau dia tak benar-benar menutupnya, tp seperti menggoda & memanggilku ke kamarnya. Walau sebenarnya aku lelah tapi aku birahi ku membara, apalagi selama tadi selama jalan dgn Yunda aku sering mengamati bentuk tubuhnya sambil membayangkan bercinta dengannya. Namun kini pikiran nakal & gairah tanggung tadi seolah mendapatkan pemantiknya, adikku jelas mengundangku untuk menyalurkan hasratku padanya.
Aku teguk air putihku lagi untuk menenangkan gejolak dalam diri, lalu bangkit & menuju kamar adikku. Ku ketuk pelan lalu membukanya, suasana di kamar adikku temaram karena hanya lampu tidurnya yg menyala, warna jingga yg bersinar dari lampunya membentuk rangkaian bunga yg terlukis di dinding membuat suasana romantis & mendukung hasrat kami berdua.
Hana duduk ditepian ranjang, tubuhnya membelakangi pintu, tampaknya dia baru selesai menguncir rambutnya sehingga lehernya yg jenjang samakin membakar darahku, belum lagi dasternya yg rendah dibagian belahan depan & belakang membuat punggung adikku terlihat sangat jelas, jakun ku naik turun, Yunda hilang begitu saja dalam pikiranku, kini hanya ada Hana adikku tercinta yg menggairahkan dalam pikiranku, hasratku, serta ada dihadapanku sekarang.
Aku berjalan ke arah Hana, lalu pelan-pelan naik ke tempat tidurnya dari seberang tempat ia duduk membelakangi ku. Ketika perlahan kusentuh lengannya dgn kedua tanganku sambil ku daratkan ciumanku pada leher sebelah kanannya tubuh adikku bergidik sambil mendesah, “ssssshhhhhhhhhhhsshhh….!!!” aku yakin itu tanda birahi adikku siap terbakar.
Adikku memiringkan kepalanya agar memberikanku keleluasaan untuk mencumbui setiap jengkal lehernya, dia memejamkan matanya sambil terus mendesah, sedangkan bibir, lidah, & gigiku bermain-main memberikannya ciuman, jilatan, serta gigitan kecil pada leher adikku.
“sssshhhhhhh…oouuhhh….sssssshhhh….aaaahh” desahnya menikmati cumbuanku.
Setelah agak lama hanya memberikan waktu pada mulutku untuk beraksi, kedua tanganku yg sejak tadi hanya membelai lengan adikku sudah tak sabar untuk ambil bagian, tujuannya jelas payudara adikku yg seperti melon menggantung ditubuhnya. Perlahan tanganku mengarah kedepan & mendaratkan telapaknya dikedua buah dada Hana, tak menunggu lama langsung kuberi remasan lembut, seketika adikku kembali bergidik, tubuhnya melonjak kecil, lalu terdengar rintihan pelan tapi erotis tanda birahinya benar-benar sudah sangat membara, namun aku tak mau memadamkannya dgn cepat, aku ingin bermain-main dgn api gairah Hana.
“oouuuhhh…..oaahh….aaaaahh” rintih adikku saat kedua payudaranya kuremas lembut.
Mendengar rintihan adikku gairahku ikut naik, aku terus mencumbu leher & meremas buah dadanya sambil mendekapkan dadaku pada punggungnya. Setelah beberapa menit pembukaan romantis & menahan gelora yg siap membara, adikku membalikan tubuhnya lalu melepaskan bajuku, aku ikut membantunya dgn mengangkat tanganku, namun yg selanjutnya terjadi tak pernah kuduga, kupikir adikku akan melepaskan bajuku sampai benar-benar lepas namun nyatanya dia menahan lubang leher bajuku tepat pada batas antara hidung dengan mulutku, sehingga bagian pinggang sampai setengah wajahku telah terbuka, namun hidung, mata serta bagian atas wajahku masih tertutup bajuku, bahkan setengah lenganku jg belum lepas dari bajuku & membuat lenganku terangkat ke atas & susah bernapas. Aku sempat bingung, namun kubiarkan adikku memuaskan fantasinya, & ternyata inilah yg diinginkan adikku, mulutku yg menjadi tempat bernafas menggantikan hidung otomatis terbuka, megap-megap seperti ikan kehabisan nafas, & Hana dgn nakalnya menggodaku dgn mengecup & sesekali menggigit bibir bawah & atasku.
Ini benar-benar aneh, namun mau tak mau aku menikmati permainan adikku ini, dia perlahan mendorong tubuhku agar rebah namun masih dalam kondisi seperti ini, lalu dia melanjutkan godaan-godaan dari bibirnya pada bibirku yg masih megap-megap mencari nafas.
Setelah sekian detik dia mempermainkanku, tiba-tiba mulutku dilumatnya, ciuman kali ini seperti saling bertkukar nafas dalam air, karena kami saling menyalurkan udara, namun sensasinya sungguh membangkitkan birahiku. Puas bermain dengan mulutku, Hana turun, perlahan dia menjilat & mencumbui leherku lalu turun lagi sampai tiba-tiba aku merasakan putting dadaku disentuh benda hangat & basah, Gila!! Hana menjilat putingku seperti aku sering mempermainkan putingnya.
“ssshhh……ooouuuuhhh….dekkk” kini giliranku yg mendesah, sedangkan Hana terus memainkan lidahnya pada kedua putingku sambil tangannya membelai-belai perutku. Sungguh ini pertama kalinya aku diperlakukan seperti ini, entah kata-kata apalagi yg bias kugambarkan tapi sensasi ini benar-benar dahsyat, apalagi dgn mataku yg tertutup justru semakin menambah rasa nikmatnya.
Kini kedua tangan Hana telah menjangkau celana jeansku, dalam sekejap dia telah membuka ikat pinggang & langsung meloloskannya dari tubuhku, boxer ku pun tak perlu menunggu waktu lama sebelum dia lemparkan ke lantai, maka batang penisku yg sudah sangat tegang kini terpampang tegak menantang dunia. Aku dapat merasakan jari-jari tangan adikku kini telah hinggap pada penisku, & langsung saja dia mengocoknya pelan seperti saat ku remas dadanya tadi.
Aku benar-benar dibuat kepayang oleh adikku, merasakan sensasi nikmatnya jilatan pada dadaku, lalu kocokannya pada penisku sungguh membuat pikirianku melayang, aku hanya bisa mendesah, bahkan terpekik pelan. Lumatan & kocokan Hana padaku semakin menjadi, aku sungguh terbuai sampai aku merasakan sesuatu yg panas berkumpul diujung penisku, Sial aku tak mampu bertahan lagi.
“ssshhh…aaakkhhh…aahh.. deekk! Mmmhhaasszzz mauuhhh keluarrr..”
Mendengar kata-kataku Hana semakin mempercepat kocokannya, & tepat ketika dia menggigit putingku, crooottt!! “oooouuuuuuhhhhzzzz” aku berteriak tertahan, Cairan panas kurasakan keluar dari penisku, perut serta zakarku berkedut-kedut sehingga batang penisku bergoyang dalam genggaman adikku. aku mengakui keunggulannya, 1-0 Hana memimpin dalam permainan ini.

Aku terbaring terengah-engah, melihatku kesulitan bernafas adikku melepaskanku dari belenggu bajuku sendiri. Bergitu terlepas mataku berkunang, pasti perlu beradaptasi lagi pada cahaya, sedangkan hidungku langsung meraih udara segar, aku seperti orang yg baru keluar dari ruangan pengap & tertutup rapat. Adikku sendiri langsung merebahkan dirinya disebelahku, sambil tersenyum tipis penuh kemenangan, dia dekatkan wajahnya pada wajahku.
“gmn Mas, enak gak tadi?” nadanya sedikit mengejek, sialan kamu dek kataku dalam hati, meski gengsi tapi mau tak mau aku harus mengakui begitu menikmati serangan pertamanya tadi.
“hee-eh dek, enak bangeth” jawabku masih dalam nafas yg belum teratur.
aku tak menyangka Hana akan membuatku seperti ini. Entah setan apa yg merasukinya, tapi, permainanannya tadi diluar kebiasaannya, apakah ini pertanda dia semakin mahir dalam bercinta?
Adikku merebahkan kepalanya dilenganku, kedua tangannya memeluk tubuhku & kakinya dia taruh dipaha sebelah kiriku sehingga lutunya menyentuh zakarku. Aku sudah telanjang bulat, tetapi pakaian Hana masih utuh. Geregetan sekali aku saat itu, pokoknya harus kubalas perbuatan adikku ini.
Ketika kurasakan nafasku mulai teratur, tanganku meraih dagu adikku lalu kuangkat hingga wajah kami berhadapan & langsung saja kupagut bibirnya yg sejak tadi menggoda bibirku.
“sluurpp..sleerpp..” suara decak ludah & lidah kami yg saling beradu, menari-nari dalam balutan nafsu.
Sambil mulut kami saling bermain, aku menurunkan tali daster adikku. Agak sulit karena ini bukan tali daster tipis, namun dengan sedikit usaha aku berhasil menurunkannya hingga batas pinggangnya, kini dihadapanku tampaklah dua bukit kembar yg masih ditutupi oleh bra abu-abu monyet berenda. Biasanya aku pasti memancing gairahnya terlebih dulu dgn meremas-remasnya walau masih tertutup bra, tapi demi membalas dendam yg tadi segera saja tanganku meraih kait dipunggung adikku & dalam sekejap terlepaslah bra itu dari tempatnya.
Ini bukanlah pertama kalinya kedua bukit kembar Hana berada didepan wajahku, namun entah kenapa setiap melihatnya selalu seperti pertama kalinya buatku, tak pernah aku bosan memuji payudara Hana ini yg memang sungguh indah, seperti melon yg menggantung dgn ceri kecil diujungnya. Aaah andai bisa kudapat gambarnya, pasti sudah kubagi pada suhu sekalian. Sayangnya adikku tak pernah berkenan memberi foto sexy nya.
Dengan posisi menyamping saling berhadapan, langsung saja aku melumat puting kiri yg menjadi kelemahannya &, “oooouuurrrggggghhhhh!!!” adikku berteriak agak keras & tubuhnya melonjak keatas, perutnya terangkat & tangannya menjambak rambutku, langsung saja aku menutup mulutnya dgn tanganku.
“dek, jgn teriak kaya gitu ah, nanti ibu sm ayah bangun” bisikku tepat didepan wajahnya, tampak jelas adikku sedang menahan gejolak nikmat karena wajahnya seperti orang meringis namun pipinya merona merah & matanya sayu.
“ia mas maaf, abis mas maen jilat disitu, aku kan jadi….” Hana tak melanjutkan kata-katanya,
“jadi apaa hayoo..” godaku sambil tersenyum. Kini wajah adikku merah padam, dia menggigit bibir bawahnya lalu tanpa bicara langsung saja dia menurunkan kepalaku kembali ke dadanya & memajukan punggungnya agar payudaranya menyentuh mulutku.
“lagi mas, enak bangeeth”
Dengan sedikit tawa, kembali aku melumat kedua payudara Hana. Kucium, kujilati, & kugigit putingnya sambil kedua tanganku aktif meremas-remas, Hana hanya mendesah, tubuhnya meliuk-liuk seperti menari ular, satu tangannya menjambak pelan rambutku sedang tangan yg lainnya menutup mulutnya agar tak mendesah terlalu keras, dia menggunakan punggung tangan untuk menahan suaranya, namun tetap saja suara desahan itu tak mampu terbendung..
“ssshhh…zzzzhhhh…mmmzzzhhhh….emmmhhhhhhhh…sssooorrrhhh”
Mendengar adikku mendesah aku semakin terpacu, sambil terus memainkan mulutku pada payudaranya, aku mengangkat rok daster adikku lalu menyelipkan tangan kiriku hingga menjangkau vaginanya, pinggul adikku menggelinjang ketika merasakan tanganku telah sampai kedalam cd’a, tapi aku tak mau membuang waktu lagi, langsung saja jariku menemukan klitoris adikku lalu memainkannya.
Tiba-tiba tubuh adikku bergetar hebat, kita jeritannya memanjang tertahan oleh tangannya,
“eerrrrrrrmmmmmmmhhhh….!!!!!!!” Pinggulnya meliuk-liuk semakin liar, bergoyang bak penyanyi dangdut koplo mengakibatkan ranjang adikku berbunyi berderit-derit semakin menambah sisi sensual dari adikku ini. Penisku kerap tersenggol oleh pahanya yg ikut bergoyang menambah semangat serta gairahku, maka semakin intens lah permainan mulut serta tanganku, rasakan kamu Hana dendam mas akan langsung terbalas sekarang.
Tok..tok…tok…!! “Dek, kamu belum tidur?”
Tidak!! Itu ibu ku!!

Mau tak mau aku & adikku tersentak, kami saling berpandangan lalu secepat kilat aku berguling turun & bersembunyi disisi tempat tidur yg jauh dari pintu. Hana sendiri langsung merapihkan dasternya, menyembunyikan bra’a d yg jatuh ke lantai dgn melemparnya k atas lemari lalu menarik selimutnya.

Pintu terbuka, “dek..” panggil ibuku. Hana mencoba berakting pura-pura tidur sebaik mungkin, untungnya ibu ku hanya menengok sebentar, memeriksa kondisi kamar tanpa masuk lalu menutup lagi pintu kamar adikku. Ah sial, ini pasti gara-gara jeritan adikku tadi, gagal deh aku balas dendam bathinku, aku sendiri tadi panas dingin dibawah tempat tidur adikku, jantungku nyaris copot, bagaimana kalau permainanku dgn Hana ketahuan, sudah jelas aku akan di usir dari rumah.

Tak berapa lama aku mendengar suara kamar orang tua ku menutup kembali, pasti ibuku sudah kembali k kamarnya. Sungguh tak tergambarkan kaget ku saat itu, ketika aku bangkit lagi aku melihat wajah adikku yg pucat pasi, untungnya daster hana belum sempat aku lucuti tadi, aku pasti mati kalau ibuku menemukan hana tertidur tanpa sehelai benang menutupi tubuhnya & tiba-tiba juga memergoki ku telanjang bulat dikamarnya. Sedikit lega aku menyeka keringat dingin yg membasahi wajahku.

“Mas, maaf ya kayaknya kita udahan dulu” raut kekecewaan tampak diwajah pucat adikku, aku sendiri kesal karena belum bias menyamakan kedudukan dgn Hana, tapi demi keselamatan kami bersama aku terpaksa setuju.

“iya udah dek, gak apa-apa, maaf ya belum bs bikin kamu keluar tadi” kataku memohon maaf, adikku hanya tersenyum simpul, “gak kok mas, nih udah basah kok”. Aku hanya bias membalas senyumannya, lalu merapihkan kembali pakaian ku. Sebelum keluar dari kamarnya kami sempat berpagutan lagi.

“sweet dream my lovely sister” kataku, akupun mengendap-endap menuju kamarku.

Minggu pagi aku bangun agak telat, aku melihat ke celana boxer ku basah, sepertinya aku mimpi indah semalam. Tapi itu juga tanda hasrat ku dengan adikku semalam belum tuntas, aku Cuma bias mengutuki takdir. Aku bergegas mandi, didapur kudapati adikku & ibuku sedang membuat sarapan pagi. Ketika sarapan tersaji kami sekeluarga makan bersama, selama makan ibuku sempat membahas kejadian tadi malam, ibuku menduga Hana bermimpi buruk sampai menjerit seperti itu. Adikku agak gelagapan, namun cepat menguasai diri, kepada ibu & ayahku dia mengaku bermimpi tentang kesurupan masal yg terjadi disekolahnya saat malam puncak keakraban dulu, Ibuku hanya mengangguk. Tinggal aku merana, atau malah Hana juga demikian, hasrat kami belum tuntas, aku sendiri merasa libido ku masih sangat membara, namun mau bagaimana, ini hari terakhir liburan, pasti kedua orang tua kami ingin menghabiskan waktu dirumah saja menikmati istirahat, sedang malamnya aku harus berangkat kembali ke kota tempatku mengais rejeki. Ah, betapa dewi fortuna sedang jauh dariku. Setelah sarapan aku berencana pergi ke rumah salah satu temanku, aku tak mau ada dirumah, adikku masih memakai daster yg membuat pantat & payudaranya tersembul jelas, sudah pasti aku akan tersiksa menahan birahi yg belum meledak.

Aku kembali ke kamarku setelah sarapan, sedang sibuk bersiap-siap tiba-tiba ponselku berbunyi, ada pesan masuk, ku ambil ponselku yg tergeletak dikasurku, jantungku berdegup, ternyata ini pesan dari Yunda.

loading...

“hai Ar, lg apa? Udh bangun dong. Btw sore sibuk g? temenin gw jogging mau?” aku tersenyum mendapat ajakan dari Yunda, kebetulan sekali karena memang sebisa mungkin aku harus menghindar dari godaan tubuh adikku hari ini, & ajakan dari Yunda bisa menjadi penawar yg pas, apalagi dgn jogging aku berharap gairahku ikut terbakar bersama kalori nanti, jadi tak sabar menunggu sore.

“eh elu nda, gak lg ngapa2in kok gw. Boleh jg tuh, sore gw kosong kok. Dimana nda tapi?” balas ku dalam pesan,

“yeee ada temen jogging gw. Sore jemput gw y Ar jam setengah empat, kita jogging di san di*g* hills aja gmn?”

“ooh ok deh sip”

“okey, thx ya Ar”

Aku benar-benar senang dengan ajakan dari Yunda, untuk menghemat waktu aku sekalian saja membawa perlatan yg kubutuhkan saat jogging agar bisa langsung menjemputnya nanti dari rumah temanku. Setelah kurasa cukup, aku keluar dari rumah dgn membawa vario kesayanganku.

Tak terasa waktu menujukan pukul tiga sore, aku memutuskan bergegas dari sekarang agar sampai jam setengah empat tepat dirumah Yunda. Sampai didepan rumahnya, aku memencet bell, tak berapa lama keluarlah Yunda, dia sudah siap mengenakan celana training pink cerah dgn kaos panjang abu-abu yg sebenarnya longgar namun tak mampi menutupi tonjolan dada serta pantatnya, & jilbab panjang kuning cerah yg menutupi dadanya, dia tersenyum menyambut kedatanganku.

“tepat waktu banget Ar, gw kira bakal telat berapa menit gitu, mau masuk dulu gak? Gw bikini minum nih” katanya sambil membuka pagar.

“yah masa telat kalo jemput calon istri, hehehehe.. gak usah nda kita langsung tancep aja yuk” kataku sedikit menggodanya, Yunda agak terbengong & menatapku sekilas, lalu menunduk, namun tak mampu menyembunyikan rona merah dipipinya yg chubby, bibirnya pun tersenyum tipis agak tertahan rasa malu, dia sungguh menggemaskan.

“iiih Ar, apaan sih lu..” nada suaranya terdengar malu-malu. “yaudah deh ayo berangkat, gw kunci pintu dulu ya, gak ada siapa-siapa soalnya dirumah”

“jangan lupa helm ya nda, gw cm ada satu soalnya”

Setelah menunggu Yunda memastikan rumahnya aman, kami pun berangkat menuju jogging track. Sepanjang perjalanan kami berdua bercanda santai, kami benar-benar sudah merasa sangat akrab, apalagi saat kami mengobrol Yunda harus memajukan badannya agar bisa saling mendengar hingga mau tak mau kedua buah dadanya menyentuh punggungku, mau tak mau aku panas dingin juga, ini pertama kalinya organ intim miliknya menyentuh tubuhku.

Di jogging track kami melakukan pemanasan singkat sebelum mulai, disaat seperti aku benar-benar menikmati setiap inci tubuh Yunda walau masih tertutup pakaiannya. Apalagi saat kami memulai jogging, posisi kami yg berlari saling sejajar, hingga kedua buah dadanya yg berguncang hebat benar-benar tak bisa luput dari mataku. Antara beruntung & tersiksa sebenarnya, niat awalku berolahraga ingin memadamkan libido, namun kini justru jogging bersama Yunda malah membakar lagi hasrat yg belum sempat tersalurkan sepenuhnya tadi malam, ditambah lagi peluh yg membasahi wajahnya ibarat cahaya yg semakin memancarkan sensualitas dari Yunda, ah pikiranku benar-benar ada pada selangkanganku seharian ini.

Entah karena kami saling menikmati waktu bersama atau terlalu asik bercanda, tak terasa sudah empat puluh menit kami berlari mengitari danau di jogging track, kami memutuskan untuk beristirahat minum.

Kami duduk berdua ditepi danau san d*eg* hills, selama istirahat kami berdua mengenang masa-masa kecil kami saat rumah kami masih berdekatan, lalu Yunda juga bercerita momen-momen membanggakannya saat menjadi wakil sekolah untuk lomba kecerdasan, dia ingat bagaimana bersalaman dengan menteri pendidikan, lalu kejadian saat dia gagal mendapat beasiswa ke Australia karena dia yakin ada kongkalikong dgn orang dalam. Aku benar-benar kagum dengan otaknya yg encer, kurang apalagi dia, cantik, montok, cerdas, walau aku belum tau sejauh apa kemampuannya dalam mengurus rumah & memasak, namun aku yakin Yunda mampu.

Dia juga memaksaku menceritakan bagaimana bisa menjadi anak yg mandiri sejak SMA, & berani berbisnis walau modal pas-pasan, sekarang giliranku bisa membanggakan diriku, kataku tersenyum dalam hati. Yah menurutku kami pasangan yg pas, Yunda sangat menonjol di otak kirinya, sedangkan aku adalah tipikal orang kreatif yg sangat mengandalkan otak kanan.

Yunda mendengarkan ceritaku sambil memandangku lekat-lekat, aku baru sadar setelah menyelesaikan ceritaku tentang sulitnya mengikuti gaya anak gaul di Bandung.

“kenapa nda? Lu kok ngeliatin gw kaya gitu”

“eehhmm.. Ar, ternyata selama ini wajar y nyokap gw sering cerita tentang lu. Lu emang punya pikiran kedepan, sama tanggungjawab..” dipuji seperti itu otomatis kepalaku seperti mau meledak.

“..gw jg ngerasa gak masalah kalo akhirnya…. Kita beneran jadi dijodohin Ar, menurut lu gimana?” Kata Yunda pelan, malu-malu, grogi serta ragu-ragu pasti berkumpul diwajahnya yg memerah padam sekarang. Aku jelas kaget atas keterbukaan Yunda seperti tadi, mendengar kejujuran dari mulutnya mau tak mau secara reflek tanganku mengangkat dagu Yunda yg agak tertunduk & langsung kudekatkan wajahku ke wajahnya, bibirku kebibirnya hingga akhirrnya… aku memenangkan ciuman dari Yunda sore itu.
Mendapatkan serangan dari bibirku, Yunda sama sekali tak melawan, bahkan ekspresi kagetpun tidak, yg kurasakan begitu bibirku mendarat dibibirnya dia langsung bereaksi menerima, bahkan tangan Yunda meraih kepalaku sesaat setelah ku daratkan ciumanku, bahkan yg kurasa kami saling membalas dengan lembut & romantis. Setelah kami melepaskan ciuman kami, mulutku mengikuti kata hatiku, langsung saja aku menembak Yunda,
“Nda, boleh gak kalo cm gw yg punya hati lu, mulai hari ini sampe selamanya..?” aku berkata setegas mungkin dgn kata-kata terindah yg bisa kurangkai, walau yg keluar hanya sekedarnya saja.
Mendengar kata-kataku, kulihat air mata Yunda meleleh, bibirnya menyungging senyum, dia sempat menundukan kepalanya lagi sambil menyeka air matanya dgn punggung tangannya, lalu menatap kembali wajahku sambil mengangguk, “with my pleasure… honey”
Deg!! Tiba-tiba dia memanggilku “honey”, otomatis aku senyum lebar, hingga sekali lagi aku mendaratkan pagutanku ke bibirnya. Suasana sore yg cerah sejuk, matahari yg menuju persinggahannya, dipinggir danau yg asri, aku & Yunda menautkan janji kami.
“semoga ciuman pertama aku tadi bisa jadi tanggungjawab kamu sama janji kita Ar..” Kata Yunda didalam dekapanku.

loading...

Ciuman Yunda sore tadi benar-benar membuatku melayang, sampai dirumahpun masih terbayang-bayang. Apalagi tadi ketika aku mengantar Yunda pulang bu Vera sempat berbisik, “jadi gimana Ar? Cocok sama anak ibu” aku Cuma bisa nyengir, namun pasti beliau bisa membaca ekspresiku. Ah sebentar lagi pasti dia menelepon ibuku. Yunda masih memberikan kecupan sayang pada pipiku sebelum aku pergi, “baik-baik ya di kostan, jangan bandel-bandel”
Dia menasehatiku sambil tersenyum manis sekali. Sungguh sore yg indah.
Namun sayangnya ciuman & kecupan dari Yunda tadi malah semakin menyiksaku dirumah, birahiku masih menyala sejak kemarin malam. Kepala ku benar-benar pusing. Selepas mandi aku hanya bisa berbaring, mencoba menahan diri, hanya mengenakan boxer & bertelanjang dada. Ibuku sempat bertanya kenapa aku tidak segera berkemas untuk kembali ke kantor besok, aku hanya bisa beralasan masih capek & berniat berangkat besok subuh. Setelah berhasil meyakinkan ibuku bahwa aku pasti sempat tiba tepat waktu diperantauan, ibu kembali meninggalkan ku dikamar, masih menahan panas di ujung penisku yg sudah tegang sejak mandi tadi. Bahkan aku sempat onani sambil membayangkan tubuh Yunda, namun tetap saja horny ku belum mau hilang.
Setelah setengah jam aku larut dalam pikiranku sendiri, pintu kamarku diketuk lagi, aku kesal sekali. Ingin kudampat siapapun yg mengganggu ku, sebelum kudapati ternyata adikku muncul dari pintu, “Mas gak berangkat?”
Aku melihatnya memakai kaos tipis setengah lengan yg cukup ketat, dgn hotpants sehingga lekuk tubuhnya tercetak jelas. Lagi-lagi adikku berpenampilan memancing hasratku. Seketika marahku tertahan.
“belum dek, besok shubuh ajalah” jawabku sedikit tidak perduli.
“oh, yaudah. Mas makan dulu yuk, kata ayah kita makan bareng”
“iya, nanti mas kesana, kamu duluan aja dek” adikku sedikit curiga dengan ekspresiku yg datar, tapi akhirnya dia berlalu juga. Aku bangkit memakai bajuku lalu menuju meja makan. Sayangnya selama makan perhatianku benar-benar tertuju pada dua buah dada adikku, walau dia tidak memakai baju berbelahan rendah, namun payudaranya yg tercetak membuatku menelan air ludah. Adikku pasti membaca gelagatku.
Selesai makan aku kembali ke kamar, niatnya aku ingin melepas rasa ini dengan main game online dengan teman-temanku. Ku ambil hp ku mencoba mengontak mereka untuk online, namun kulihat ada satu pesan masuk, ternyata dari adikku.
“Mas pengen ya? Jangan yah mas, adek takut ketauan ibu” benarkan, dia bisa membaca kelakuanku dimeja makan tadi. Aku sempat berfikir sejenak, mau bereaksi seperti apa, sampai akhirnya aku memutuskan untuk mengabaikannya & segera mengontak teman-temanku.

Jam menunjukan pukul 12 malam, permainanku benar-benar kacau tadi, dari tujuh kali game aku menderita lima kali kekalahan. Jelas sudah MMR ku turun lagi, teman-temanku sampai memaki permainanku yg tak seperti biasanya. Jengah, kesal, semakin suntuk aku off, ku matikan computer & sebaiknya mencoba tidur.
Sudah dua jam aku mencoba memejamkan mata, hasilnya nihil. Batang penisku masih berontak, malah kali ini bukan kepalaku saja yg panas tapi menjalar kesekujur tubuh ku. Padahal sudah berbagai upaya ku lakukan, setelah onani & main game tadi. Sempat kubuka video Jav koleksiku di Hp, serta membaca cerita-cerita dewasa, berharap aku bisa onani lagi & menyemburkan segalanya dari penisku. Namun ternyata jelas itu langkah yg salah, karena birahiku semakin berkobar. Dan kini bayangan adikku tadi malah semakin jelas dalam pikiranku. Aku ingin sekali menuntaskannya pada Hana malam ini, namun kejadian kemarin malam membuatku sedikit ragu.
Pikiranku yg sudah kacau, kini ditambah pergulatan batin menambah penderitaanku. Baru ku tau begini kah rasanya menahan hasrat yg membara. Setelah beberapa saat kebimbangan didiriku akhirnya nafsu yg keluar sbg pemenangnya. Malam ini aku mau diri mu Hana.
Aku mengendap-endap seperti pencuri menuju kamar adikku, berharap agar dia tidak menguncinya ku raih gagang pintu kamarnya & “ceklek” hatiku bersorak, Hana tidak megunci pintu. Aku menduga dia sengaja, kendati sudah melarangku via pesan tadi tapi dia pasti sudah mengenal betapa egoisnya diriku bila sudah menginginkan tubuhnya. Kini aku sudah berada di dalam kamar adikku, tak lupa aku kunci pintunya dari dalam. Aku takut tiba-tiba orangtua kami masuk. Hana tertidur meringkuk memeluk gulingnya memunggungi pintu. Di kamar suasananya sama dgn kemarin malam, lampu tidurnya masih menyala sehingga cahaya temaram berbentuk bunga memantul didinding-dinding kamarnya.
Pelan-pelan aku naik ke tempat tidurnya, lalu kupelorotkan celanaku sampai lutut sehingga batang penisku yg sejak tadi berontak kini menghadap ke sasaran favoritnya. Aku mulai memeluk tubuh adikku dari belakang, penisku tepat pada pantatnya yg montok. Segera saja aku gesek-gesekan penisku pada pantat adikku yg masih tertup celana, sedang mulutku menciumi rambut adikku dari belakang. Tubuhku meliuk-liuk dibelakang tubuh Hana, menimbulkan guncangan kecil pada tempat tidurnya.
Sekarang aku tanganku mulai menelusup dari balik bajunya & dgn mudah menjangkau buah dada bagian depannya. Aku mulai meremas pelan payudara adikku yg masih tertutup bra, kini desahan pelan mulai terdengar dari mulut adikku yg masih tertidur. Bosan remasanku terhalang oleh bra nya, tanganku masuk dari bawah cup bra adikku, kini telapak tanganku menyentuh kue bulat kenyal miliknya. Aku benar-benar membara, tak perlu menunggu waktu lama agarku remas-remas buah dadanya & sesekali memainkan putingnya yg kujepit diantara telunjuk & jari tengahku. Kadang putingnya kubelai, kutarik, kupilin, & kutekan penuh.
“eehhmmmhh” adikku mendesah dalam tidurnya. Pinggulnya mulai bergerak-gerak, & tiba-tiba dia merubah posisi terlentang. Inilah yg aku mau dek. Aku bangkit, gulingnya yg masih menghalangi ku jatuhkan kelantai lalu kulepas baju & celanaku, kini aku telanjang bulat. Tanpa menunggu waktu lagi aku naik diatas tubuh adikku. “eehkkh” suara dari mulutnya ketika tubuhnya menerima tubuhku yg jatuh diatasnya, dia masih tertidur.

Aku menciumi sekujur wajahnya yg terlihat sangat innocent ketika terlelap, kedua tanganku menyingkap bajunya sampai ke leher hingga tangan Hana terulur ke atas tubuhnya. Langsung saja aku menggeser bra adikku ke atas, kedua bukit kembar yg sejak kemarin aku idamkan kini ada dihadapanku. Kedua tangan serta jariku langsung memuaskan hasratnya & kini bermain pada payudara adikku. Sedangkan batang penisku kini maju mundur diantara kedua paha adikku, tepat didepan vaginanya yg masih tertutup hot pants.

Menerima perlakuan sedemikian liar dari kakaknya, adikku terbangun. Dia kaget melihatku sudah berada diatasnya, palagi kini baju serta bra’a telah tersingkap. Hana hanya terlonjak sedikit namun tidak mencoba mendorongku, hanya saja matanya melotot ekspresi terkejut,

“Mas kok nekat sih, nanti kalo ibu bangun kaya kemaren gmn?” adikku berkata nada memperingatkan namun tetap berbisik.

“asal kamunya gak teriak kayak kemaren dek, kita amanku” alibiku. Adikku hanya terdiam mendengar jawabanku. Bagiku itu adalah lampu hijau untuk melanjutkan permainan ku. Karena sudah bangun langsung saja kuminta Hana melepas seluruh pakaiannya. Adikku bangkit, sambil melepas pakaian dia masih mencoba memperingatkan ku.

“adek masih takut mas, jangan lama-lama ya maennya” wajahnya agak pucat. Walau dalam kondisi bernafsu aku bisa memahaminya, aku menyetujui permohonan adikku.

Kini kami berdua telanjang bulat, Hana kusuruh untuk rebahan, lalu aku mulai memagut bibirnya yg ranum, tanganku kembali memainkan payudara & putingnya. Penisku sendiri melintang pada belahan vagina adikku, kugesek-gesekan sampai menyentuh klitorisnya yg menyembul.

Tubuh adikku meliuk-liuk dibawah tindihanku, suaranya mendesah namun tertahan oleh ciuman bibirku. “hheemmhhh..mmmmhhhhh…hhh”. tangannya menekan punggungku.

Setelah puas bermain pada bibirnya kini mulutku turun menuju payudaranya, mulutku turun sambil menjilat & menicum dagu hingga leher adikku sebelum akhirnya ujung lidahku menyentuh putingnya yg seperti ceri.

“eererrgghhh!!!” adikku berteriak kecil, dia menahan mulutnya dgn tangannya sendiri. Aku memasukan puting kirinya kedalam mulutku & dgn liarnya kumainkan lidahku hingga kini puting Hana seperti permen karet bulan yg menari-nari dalam mulutku. Kujilat, kuhisap, sampai sesekali kugigit penuh sayang.

“hhhhhhh….hhhhhh….erghhhh….hhhhhh” hanya desahan seperti itu yg keluar dari mulutnya. Tubuhnya sendiri bergoyang liar, suara deritan kasur mulai terdengar agak keras. Dia meringis menahan teriakan kenikmatannya, matanya terpejam erat, mulutnya terkatup dibantu oleh kedua tangannya, sedangkan tubuhnya bergolak hebat & kedua kakinya menahan pantatku. Akhirnya aku bisa membalaskan dendamku padanya. Hasrat birahi yg menyatu dgn dendamku berbuah rasa penasaran ingin menjilat vagina Hana. Sejak pertama kuhadapkan wajahku di vaginanya februari lalu, aku tak pernah lupa harum aromanya. Malam ini aku ingin menuntaskan rasa penasaran itu, selain itu menurutku kurang fair karena Hana seringkali memuaskan ku dgn blowjobnya. Terlebih lagi kemarin adikku mengejutkanku dgn menjilat putingku sampai aku keluar, kini akupun ingin membalas kejutannya.

Maka pelan tapi pasti, kepalaku mulai turun. Masih sambil terus menjilat & mencium sekujur tubuh yg kulewati untuk menuju vaginanya, diawali dari perut, pusarnya lalu kini vagina Hana tepat berada didepan wajahku. Nafas adikku terengah-engah, matanya agak terbuka, namun kedua tangannya masih menahan mulutnya. Nampaknya dia bertanya-tanya apa yg mau kulakukan dgn menatap vaginanya.

“ggrrrhhhhhhhhhhh!!!!!!! Zzzzssssshhhhhhh…..!” adikku sudah tak sanggup menahan rintihannya, tepat ketika ujung lidahku menyentuh klitorisnya. Kini kedua tangannya tak lagi menutup mulutnya, tetapi mencengkeram kedua ujung bantalnya.

“claak…claak..claakk..” suara decap lidahku menyapu vaginanya. Pinggul Hana meliuk-liuk semakin liar, pahanya menjepit kepalaku. Tanganku sendiri masih asik memainkan payudaranya.

‘kreeet…kreeet…kreet!!” suara deritan tempat tidur Hana yg bercampur dengan rintihannya yg seperti orang menangis. Andai benar kedua orangtuaku terbangun & mendengar ini kuharap mereka menyangka ini tangisan kuntilanak. Tetapi bagiku yg melihat langsung, suara rintihan Hana bak bara yg semakin mengobarkan semangatku malam ini.

Aku sendiri tak menyangka ternyata menjilat vagina tak terlalu buruk, tapi ini mungkin karena adikku sangat merawat daerah kewanitaannya hingga baunya sungguh harum menggoda.

Agak lama aku menjilat vagina adikku, Perlahan suara jilatanku berubah, dari “clerp,,clerp..clerrp..” menjadi “slurp…slurp…slurp…”

Ternyata vagina adikku sudah basah.

“eergghhh…erggghhh…eehhhhzzzzzz…” suara adikku sambil pinggulnya berkedut pelan sambil mengeluarkan cairan kewanitaannya yg mebanjir. Matanya kini menatap mataku. Aku sudah hapal sorot mata ini, Hana sudah ada dipuncak gairahnya.

Sekali lagi aku baru sadar, ternyata bau cairan kewanitaan adikku sungguh membangkitkan gairah, walau aku masih tak berfikir untuk menelannya. Tetapi menghirupnya saja sudah cukup buatku. Bagi adikku sendiri merasakan nafasku dipermukaan vaginanya pasti menimbulkan sensasi tersendiri.

Aku langsung naik lagi kewajah adikku, bibirnya menyambut bibirku. Sambil berpagutan, tangan kami saling membelai puting dada kami. Aku bergidik ketika jempol & telunjuk Hana memainkan putingku, adikku benar-benar semakin lihai, hingga kami berdua meliuk-liuk & bergoyang bersama seirama nafsu. Nafas kami berdua semakin memburu, tubuh kami berdua sudah basah oleh keringat.

Tangan kananku sendiri turun mengocok vaginanya yg telah banjir. Lagi-lagi teriakan & rintihan adikku harus tertahan Karena mulutnya masih berpagut denganku, jd hanya tubuhnya yg bergelinjang hebat yg bisa mengekspresikan dahsyatnya rangsangan pada tubuh adikku. Tetapi suara-suara desahannya masih bisa terdengar diantara ciuman kami.

“eeerrrrhhhhh….eemmmmhhhhzzzz….eemmhhhhhh”

Adikku sudah benar-benar berada dipuncak gairahnya, tak sampai lima menit pada kocokan ku di vaginanya, dia menyemprotkan cairan kenikmatan, semprotannya seperti air mancur yg meninggi melawan gravitasi.

Disaat bersamaan adikuu melepaskan ciumannya, lalu mengigit seprai untuk menahan erangannya. “eeeererrrrggggghhhhhhhhh!!!!!!!” jeritan adikku tertahan hebat. Sedangkan tangannya mencubit keras lenganku, kakinya menjepit tangan kananku yg masih berada pada vaginanya. Balas dendamku terpenuhi.

Setelah menyemprotkan cairan kepuasannya beberapa kali adikku roboh, tubuhnya basah bermandi peluh, nafasnya tak beraturan. Dia hanya bisa menatapku pasrah. Lalu dia memiringkan badannya membelakangiku. Aku sendiri mencoba beristirahat mengatur nafas & nafsuku.

Cukup lama kesunyian diantara aku & Hana setelah permainan tadi, & adikku belum jg mengubah posisinya, dia masih memunggungiku, takk terasa ternyata satu jam sudah lewat tadi. Kupikir dia sudah kembali tidur. Aku berniat bangkit & membiarkannya istirahat. Belum sempat aku turun dari kasur Hana berbalik, dia menarik tanganku agar rebah disampingnya. Begitu aku berbaring tiba-tiba aku dikagetkan dengan perilaku Hana, dia mengahadapkan kemaluannya tepat diwajahku & wajahnya kini tepat berada didepan wajahnya.

Belum sempat hilang keterkejutanku, adikku telah memasukan batang penisku kedalam mulutnya. “aaarrggg!!” kali ini giliran aku yg merintih menahan kenikmatan. Luar biasa servis adikku, aku merasakan batang penisku diajak berdansa oleh lidah & bibirnya. Yg lebih dahsyat adalah ketika Hana menjilati zakarku tanpa rasa jijik. Aku benar-benar dibuatnya terbang.

Tak mau egois, akupun berniat memberikan servis terbaik juga lewat mulutku. Lidahku kini mencoba membelah vagina Hana yg ada dihadapanku, aku mencium, menjilat & menghisap belahan bibir vaginanya & sesekali menggigit klitorisnya. Menerima serangan dari mulutku, pinggul adikku bergelinjang dihadapanku. Luar biasa sensasinya, ini gerakan 69 pertama buat kami berdua. Kami saling menjilat, menghisap & mengigit kemaluan lawan kami masing-masing, rasanya sungguh tak terlukiskan. Apalagi aku sempat melirik kedua payudara adikku yg menggantung indah tepat diatas perutku. Malah kadang kedua putingnya menyentuh kulit perutku ketika liukan tubuh Hana turun kebawah atau gerinjalan tubuhku mengarah k atas. Nafas kami benar-benar sudah tak karuan, Tampaknya adikku ingin agar kami mendapatkan kepuasan bersama.

Posisi ini benar-benar pengalaman baru buat kami, baru kami tau betapa dahsyatnya nikmat saling memberi servis lewat mulut. Tak perlu waktu lama buat kami untuk merasa akan puncak orgasme kami, karena ketika ujung penisku terasa panas, aku mengubah posisi kami. Aku mengarahkan penisku ke perut adikku lalu kuraih tangannya untuk mengocok penisku sampai aku orgasme nanti. Akupun lagi-lagi mengocok vagina Hana, kini posisi kami saling mengocok kemaluan masing-masing dgn berhadapan.

“mas mau keluar dekhh.. ayoohhh…. Barenghhh..” aku berkatta sambil terengah-engah. Adikku hanya mengangguk sambil mengigit bibirnya, matanya sayu. Sungguh indah ekspresi wajah adikku bila dia sedang dalam puncak horny seperti itu. Aura sensualnya terpancar jelas.

Tak sampai lima menit adikku kembali meringis & mengigit seprai lagi. Tangan kirinya yg tidak mengocok penisku menutup mulutnya, lalu tersemburlah untuk kedua kalinya cairan kenikmatan, kali ini seperti hydrant yg ditembakan membasahi selangkangan & pahaku.

Aku sendiri tak mampu bertahan lama dalam kocokan adikku, hingga akhirnya air maniku muncrat membasahi perut & sampai ke payudara Hana. Kini kami berdua sama-sama roboh kelelahan. Aku sempat melirik ke arah Hana, dia memejamkan matanya sambil tersenyum. Melihatnya demikian aku pun ikut senyum. Tak mau buang waktu aku bangkit, mengenakan kembali semua pakaianku. Sebelum keluar kamar adikku, aku sempat menutupi tubuhnya dengan selimut yg tadi aku lempar, lalu mengecup lembut keningnya. Aku berlalu dari situ.

loading...
www.sedarahceritasex.com