Agen BandarQQ Online


Kisah Keluarga Citra 33

Kisah Keluarga Citra 33 -
loading...

Sepeninggalan Mike kekantor, Citra buru-buru mengamati kondisi disekitar halaman belakang rumahnya. Setelah dirasa aman, ia segera bangkit dari posisi telentangnya dan segera meraih celana dalam yang teronggok di lantai gazebo. Dan tanpa mengenakannya kembali, ia menggenggam celana dalam mungil itu sembari melangkah menuju ke rumah.

Beberapa kali, Citra harus berdehem keras guna meredakan rasa ngilu di tenggorokannya. Karena untuk beberapa saat, ia merasa tenggorokannya begitu perih dan sakit.

“Pagi Maa….. ” Ucap Ciello ketika Citra lewat di dapur.
“Eehh…. Pa… Pagi juga Sayang… ” Jawab Citra dengan nada terkejut. Buru-buru ia menyembunyikan celana dalamnya kebalik tubuhnya. Sejenak ia menatap putra kandungnya yang masih duduk di kursi makan dengan wajah tersenyum lebar kearahnya.

Entah kenapa, pagi itu Citra melihat senyum Ciello agak berbeda dari biasanya. Senyum iseng penuh kejahilan. Dan entah kenapa pula, pandangan mata Citra merayap turun ke arah selangkangan Ciello. Mencari tahu kebenaran tentang apa yang suaminya katakan beberapa waktu lalu.

“Ohhh.. Kontol Ciello… ” Ucap Citra dalam hati ketika mendapati selangkangan Ciello yang masih menggelembung besar, “Itu kontol yang baru saja aku bayangkan ketika bersetubuh dengan suamiku…” Ucap Citra sembari terus berusaha menelan ludah. Membasahi tenggorokannya yang masih terasa perih.

“Itu kontol besar…. Yang mungkin saja sebentar lagi… Bakalan mengaduk aduk liang peranakanku…. ”

“Maa…?” Panggil Ciello pelan, “Apa ada yang salah ama Ciello…? “.
“Ee… Eehhh… Enggak kok Sayang… Emangnya ke.. Kenapa…?”
“Hmmmm… Ciello heran aja… Kok tumben-tumbenan pagi-pagi Mama udah ngelamun gitu…?”
“Enggak sayang.. Mama cuman lupa aja akan sesuatu… ” Jawab Citra yang langsung menuju kearah mesin cuci dan memasukkan celana dalam miliknya. Setelah itu, ia melangkah ke tempat dispenser air minum dan mengambil segelas air hangat.

GLEK GLEL GLEK…

“Eee…. Ehhheeeemmmm…. Ehheemm….” Seru Citra keras, membasahi tenggorokan perihnya.

GLEK GLEL GLEK…

loading...

“Maa…” Panggil Ciello lagi.
“Yaaaa Sayang….?” Jawab Citra.
“Kok sepertinya…. Mama pagi ini keliatan bingung banget Maa…?”
“Ehh.. Masa sih Sayang…?”
“Iya… Mama kelihatan linglung…. Apa ada yang bisa Ciello bantuin…?”

“Eehh…? Nggg… Linglung…?” Tanya Citra dengan wajah bingung.

“Iya… Kaya orang habis kena hipnotis…”
“Hipnotis…? Hipnotis kenapa ya Sayang…?”
“Nggak tahu juga sih Maa… Cuman kalo ngedenger jeritan-jeritan Mama barusan…. Mama sepertinya sedang kena hipnotis Papa buat nyenengin Papa dihalaman belakang sana… Hehehe… ” Jelas Ciello sambil memainkan alis matanya yang tebal, “Sepertinya… Kok…. Seru banget yaa Maa…?”

Mendengar tawa Ciello, wajah Citra langsung merona merah.

“Ahh SIIIAAAALLLLL….. Ciello pasti ngedengerin teriakan-teriakan aku tadi… ” Batin Citra dalam hati.

“Emang rasanya enak banget ya Maa…? Tanya Ciello lagi, “Sampe ngejeritnya kenceng banget gitu….?”
“Haaaa….? Kenceng…? Emang kedengeran ya…?”
“Ya kalo nggak kenceng…. Nggak mungkinlah Maa… Pak Mimin sampe ngelongok keluar jendela gitu…”

“Haah…? Pak Mimin…?” Kaget Citra sambil melirik kearah Ciello tajam.
“Iya… Nih… Ciello sempet kok photoin gerak-gerik dia… ” Ucap Ciello sambil meraih handphonenya yang ada diatas meja makan dan memperlihatkan kepada Citra.

Buru-buru, ibu dua anak itu mendekat kearah Ciello berada. Menundukkan tubuhnya maju, sembari memperhatikan gambar yang terpampang dilayar handphone putranya.

“Ooohh…. Astagaaaa….!!” Seru Citra kaget sambil menutup mulutnya, “Ini beneran Pak Mimin Sayang…? Ya Ampuunn…. Mama bener-bener nggak nyangka Sayang… ” Sambung Citra berusaha meraih handphone Ciello dari tangannya.
“Eeehh… Jangan diambil Maaa… Lihat aja dari sini ya… ” Elak Ciello yang buru-buru menghindar dari sambaran tangan Citra. “Lihat aja terus Maa… Masih ada lagi….” Sambung Ciello lagi supaya menatap layar handphone yang ada dihadapannya.

Dan benar saja. Setelah beberapa lama mengintip, Pak Mimin mulai terlihat bingung. Kepalanya mulai terlihat celingukan mengawasi kondisi disekitarnya. Tak jarang, Pak Mimin juga mengintip kearah Ciello berada, namun karena Ciello di posisi yang aman, Pak Mimin tak dapat melihat jelas kearahnya.

“Loohh…? Astaga… Sayang…Ya ampuuunnn….” Seru Citra lagi begitu melihat apa yang dilakukan tetangganya itu, “Kok Pak Mimin ngeluarin kontolnya Sayang… ?”

Ciello mengangkat kedua bahunya.

“Loohh… Sayang… itu…? Pak Mimin mau… COLI ya Sayang…?”
“Hehehe… Iya kali Maa… ” Jawab Ciello singkat.

Citra segera meraih kursi yang ada didekatnya dan segera duduk diatasnya. Dengan tubuh yang masih condong kedepan, ia terus menatap layar handphone yang ada dihadapannya. Matanya melotot dan mulutnya menganga mengamati lelaki tua yang tak sanggup lagi menahan hasrat birahinya itu.

Di video Ciello, Pak Mimin terlihat dengan tak sabaran menurunkan resleting celananya. Setelah itu ia mengeluarkan batang penisnya yang sudah begitu tegang sembari mengusap-usapnya pelan. Lagi-lagi, ia celingukan kesana kemari.

“Dia pasti pengen ngocok tuh kontolnya ya Sayang…?” Tanya Citra pelan dengan pandangan fokus kedepan. “Dia pasti nggak tahan….”
“Hehehe… Iya ya Maa…?” Senyum Ciello lebar.
“Tuuuhh… Bener khaann… Lelaki tua itu pasti pengen COLI Sayang….” Sambung Citra begitu melihat tangan renta tetangganya itu terus meremas-remas batang penisnya dan pada akhirnya, mengocok batang penis itu kuat-kuat sambil sesekali celingukan kesana kemari. Tubuhnya yang renta terlihat melengkung-lengkung kedepan dengan tangan yang terus mengocok kuat batang penisnya.

Hingga tak lama kemudian, cairan putih kental keluar dengan cepat. Terbang dari ujung kepala penisnya dan mendarat di tanaman hias Citra.

“Loohhh…? Kooookkk… Nyemburinnya disitu siiihh…?” Gerutu Citra kesal ketika mendapati bunga-bunga kesayangannya tersiram oleh semburan-semburan sperma tetangganya yang sudah berusia lanjut itu. “Iiihhhsss… Pak Mimin nyebelin banget deeehh… Emangnya nggak bisa apa nyemburin pejuhnya kearah lain…?”

“Tunggu dulu Maa… ” Celetuk Ciello lagi
“Loh…? Kenapa lagi Sayang…?”
“Lihat aja terus Maa…”

“Loh loh loohh… ? Kok Pak Mimin ngeluarin handphonenya Sayang…” Ucap Citra panik, “Loohh…? Itu…? Pak Mimin ngerekam Mama ya Sayang…?
“Hehehe… Sepertinya begitu Maa…..” Angguk Ciello pelan.
“Loohhh… Iiiihhh iiihh…… Kok berani-beraninya ya dia nge-videoin Mama…?” Kesal Citra dengan wajah cemberut, “Sumpah deeehh… Pak Mimin nyebelin bangeeettt…. ”

loading...

“Hhmmm…. Sebenernya sih Pak Mimin nggak kurang ajar deh Maa.. Dia berlaku wajar selayaknya pria normal…. ” Jelas Ciello sambil meletakkan handphonenya keatas meja makan, “Khan itu juga gara-gara Mama juga…”
“Looohhh….? Kok kamu malah nyalahin Mama sih sayang…?”
“Hehehe… Habisan… Mama sendiri sih… Yang ngasih pertunjukan Mama ke dia… Pak Mimin mah cuman tinggal nikmatin aja…. ” Jelas Ciello lagi, “Lagian… Pasti Mama keenakan banget ya…? Sampe nggak minta papa buat pindah kedalem rumah…?”

“Nnggg… Iya juga sih…” Jawab Citra sambil melirik kearah jendela rumah Pak Mimin.
“Emangnya… Enak banget ya Maa…? Sampe-sampe Mama nggak sadar kalo sedang diintip…?”
“Nnggg….. Rasanyaa….. ” Tak melanjutkan kalimatnya, Citra menatap kearah putra kandungnya yang terus melihat kearahnya dengan wajah penuh rasa penasaran.

“Maa…? Kok malah diem aja sih…? Ceritain dong gimana rasanya…?” Cecar Ciello mencari tahu.
“Ngggg… Rasanya…. Hihihihi… ”
“Looohhh…? Kok Mama malah ketawa sih…? Enak nggak Maa…?”

“Nngggg… Enak ngak yaaa…? ” Jawab Citra sambil tersenyum sambil beranjak dari tempat duduknya dan buru-buru melangkah menjauh.

“Hheeeeyyy Maaa….? Mama mau kemana…?”

“Mama mau ke kamar Mama…Sayang…”
“Tapi… Mama belom jawab pertanyaan Ciello tadi Maaa….”
“Hihihihi… udah ah… Nanti aja Mama ngejawabnya… Mama mau mandi dulu.. ” Ucap Citra yang buru-buru meninggalkan Ciello sendirian di ruang makan.

***
Sesampainya dikamar tidur, Citra segera mematut dirinya didepan cermin rias yang tergantung didinding. Menatap tubuh tubuh seksinya sambil sesekali melenggak-lenggokkan pinggangnya yang ramping .

“Aaahh… Mama nggak seruuu…” Teriak Ciello dari ruang makan.
“Hihihi… Biariinnnn….” Jawab Citra yang entah kenapa mendengar rasa penasaran putra kandungnya, membuat moodnya langsung ceria. Senyumnya mengembang menghiasi wajah cantiknya.

“Citra Agustina… Ternyata kamu masih terlihat cantik dimata lelaki lain… Dengan tubuh seksimu ini… Kamu masih bisa membuat mereka tergila-gila denganmu…” Ucap Citra dalam hati sambil mulai melucuti daster kecilnya. Pakaian satu-satunya yang masih ia kenakan setelah persetubuhannya barusan.

“Tetekmu besar… Pinggangmu kecil…. Memekmu sempit… Kamu benar-benar memiliki tubuh seperti seorang gadis remaja…” Pujinya lagi sambil mulai merabai daerah sensitif tubuhnya. Meremasi kedua payudara besarnya sambil sesekali menjilat putingnya yang mulai mengeras kembali.

“Ooohhh… Aku ternyata masih seksi….” Ucap Citra dengan mulut yang mulai mendesah-desah keenakan. Perlahan usapan tangannya mulai turun keperut, pusar, pinggang, hingga akhirnya sampai kearea vaginanya.” Sssshhh…. Oooohhh… Ciellooo…” Sambung Citra yang entah kenapa tiba-tiba memanggil nama putra kandungnya

Dengan mata terpejam, Citra mulai menguak bibir vaginanya. Menyibakkan sedikit kesamping sambil menyelipkan satu jarinya masuk kedalam liang kemaluannya yang mulai membasah.

“Ssssshh.. Ciello… Mama masih keliatan cantik khaann…? Mama masih keliatan seksi khaan…?” Desah Citra mulai meracau keenakan, “Kamu suka nggak Sayang melihat tubuh seksi Mama…? Kamu suka nggak Sayang ngelihat tubuh semok Mama…? Oohh Ciello…” Tambahnya sambil mulai merangsang aurat tubuhnya. Meremas payudara sambil menusuk-nusuk liang vaginanya.

CLEEEPP..
CLOK CLOK CLOK…

“Kalo ngelihat Mama telanjang bulat begini… Kamu pasti pengen banget ya Sayang…? Ngerabain tubuh seksi Mama ini Sayang…?” Desah Citra mulai bermasturbasi, “Kamu pasti pengen ya…? Ngisepin tetek Mama yang besar ini…? Ngentotin memek Mama yang sempit ini…? Ooohh.. Ciellooo….”

“Jadi gimana Maa…? Enak nggak..?” Tanya Ciello yang tiba-tiba membuka pintu kamar tidurnya.
“Eeehhh…? Sayang…?” Kaget Citra buru-buru mencabut jemari dari vaginanya sambil menutup aurat tubuhnya. Walau ia sudah seringkali mendapati Ciello melihat tubuh telanjangnya, namun terkadang Citra masih merasa malu karenanya.

“Loohh…? Eeehh… ? Mama sedang apa Maa…?” Tanya Ciello penasaran.
“Enngg.. Enggak… Mama mau.. Mau mandi Sayang…”
“Tapi barusan… Itu jari Mama nusuk-nusuk kedalem memek Mama sih Ma..?” Cecar Ciello tanpa henti, “Barusan Mama ngobel memek ya…?”
“Idiiihh… Kamu tuh yaa… Pikirannya mesum mulu…. Hihihi…. ” Ucap Citra buru-buru bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan kearah kamar mandi.

“Iiihhss… Mamaaa niiihh…. Suka banget deeh bikin orang penasaran…” Kesal Ciello yang mendapati ibu kandungnya meninggalkan dirinya untuk kesekian kalinya.
“Hihihihi… Kamu kenapa sih Sayang…? Kok sepertinya pengen tahu banget….?” Heran Citra sambil menggulung rambutnya keatas. Memamerkan ketiak putih mulusnya ke putra kandungnya.

“Ya habisaaann… Gleek… ” Suara Ciello kesulitan menelan air liurnya, “Papa kok keliatannya.. Nnggg… Menikmati semua… Nggg perlakuan nakal Mama…?” Sambungnya lagi dengan pandangan mata yang begitu tajam. Menatap seluruh bagian tubuh telanjang Citra.

“Hihihihi… Ya begitulah Sayang… Papamu memang nggak pernah ada puasnya….” Jawab Citra yang kemudian memutar kenop shower dan mulai mengguyur tubuh seksinya dengan air hangat.
“Ayo dong Maaa… Ceritain gimana rasanya….”
“Rasa apa sihh..?”
“Ya Rasanya begituan….”

“Hihihihi… Ntar juga kamu bakalan ngerti Sayang….” Jawab Citra dengan senyum keibuan, “Udah-udah… Daripada ntar kita akhirnya berantem gara-gara pertanyaan sepele… Mending kamu mandi juga deh…”
“Yaaah Mamaaa… Nggak seru niiihhh….”
“Hihihi…. Udah ah… Ayo buruan mandi gih…”
“Ahhh ogah…”
“Yaudah… Sini… Kamu mandi disini aja deh…”
“Mandi bareng ama Mama….?”

Tak menjawab, Citra hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis.

Tanpa menunda lebih lama lagi, Ciello buru-buru melepas semua pakaiannya hingga telanjang bulat dan segera masuk kedalam kamar mandi.

“Hihihihi…. Kontolmu itu nggak pernah tidur ya Sayang… Kok kelihatannya selalu tegang begitu….” Tanya Citra sambil menunjuk dengan mulutnya.
“Hehehe… Ini khan gara-gara liat Mama telanjang…” Jawab Ciello sambil ikut bergabung dengan Citra dibawah guyuran air showernya
“Hihihihi… Kontolmu lucu ya Sayang kalo goyang-goyang gitu…” Goda Citra yang tiba-tiba mengusap kepala penis putranya. “Telurnya juga imut…..” Tambah Citra sambil meremas pelan buah zakar Ciello.
“Iiiihh…. Sssshhh… Pelan-pelan ngeremesnya Maaa… Ngilu…” Ucap Ciello sambil menggosok-gosok tubuh basahnya.

Memang bukan suatu hal yang aneh lagi bagi Citra untuk memegang atau meremas penis Ciello. Karena semenjak kejadian ‘penis keselip’ beberapa waktu lalu, membuat Citra menganggap hal itu menjadi biasa saja. Bahkan, semenjak Mike tahu dan membiarkan kejadian mesum Citra bersama Ciello, membuat ibu dua anak itu sering melakukan handjob dan blowjob secara bersama-sama.

“Hihihihi… Jadi sekarang…? Udah nggak suka lagi nih kontolnya Mama pegang-pegang gini…?”
“Ee… Eeehh… Suka Maaa… Sukaa…. ” Sergah Ciello buru-buru menahan tangan Citra supaya terus memegang-megang penisnya. Bahkan ia juga mulai menggerakkan tangan itu naik turun, mengocoki batang penisnya yang sudah begitu tegang.

“Iiiihhhsss… Dasar… Anak mama ini mesum banget yaaa… Suka banget kalo kontolnyadikocok-kocok….” “Hehehe… Soalnya tangan Mama tuh lembut banget Maaa… Jadi enak kalo dipake ngocokin kontol Ciello… ” Puji Ciello sambil merem-melek keenakan, “Ooohhh… Iya begitu Maaa… Oooohh… Teruss…. Enak banget rasanya Maa….”
“Hihihi… Udah aahh…. ”
“Aahh Mamaaa.. Bentaran lagi aja….”
“Enggak aaah… Ntar Mama jadi kepengenan ikut ngobelin memek juga…”
“Ya nggak apa-apa Maaa… Kita masturbasi bareng aja… Ssshhh….”

“Masturbasi bareng yaa….?” Ulang Citra lirih

Mendengar kalimat Ciello, nafsu birahi Citra seolah meledak. Membuat pikiran mesumnya langsung melayang jauh. Walau Citra sudah seringkali tertangkap basah ketika sedang bermasturbasi oleh putra kandungnya, namun ia sama sekali tak pernah berpikir untuk melakukan masturbasi secara bersama-sama. Dan pemikiran untuk melakukan masturbasi secara bersama-sama, membuat darah birahinya menjadi bergejolak hebat.

“Sepertinya.. Hal ini bakal menjadi sebuah pertunjukan baru yang sangat menyenangkan…” Ucap Citra dalam hati.

Segera saja, Citra meletakkan pantat besarnya di dudukan toilet. Sambil bersandar di dinding, ia meraih gagang shower yang ada didekatnya. Setelah itu, ia lalu menyemprotkan air shower itu kearah celah vaginanya.

Zzzzhhh….

“Hehehe… Gitu dong Maaa…. Akhirnya Mama mau juga buat ikutan mastrubasi bareng…. ” Ucap Ciello yang kemudian berdiri di samping Citra sambil terus mengocok penis besarnya..

TEK TEK TEK TEK…

“Oooohhhsss… Sssshhh… Kamu bener-bener anak Mama yang paling mesum Sayang…. Kamu jadi ngebuat Mama pengen… Ssshhh…. ” Desah Citra sambil menatap kearah penis putra kandungnya yang berada tepat didepan wajahnya.
“Hmmm… Pengen apa ya Maa…?”
“Pengen… Ehhhmmmhhh… NGOBEL MEMEK Sayang… Uuuhh… ” Ucap Citra yang tanpa malu sembari membentangkan kedua kakinya lebar, dan menyemprotkan air shower dengan tekanan yang lebih besar lagi kedalam lagi kevaginanya.

ZZZZZHHHHHHHHH

Sejenak, Citra teringat akan kejadian mesum bersama suaminya tadi. Ia teringat akan rasa penis dan sperma Mike yang sebelumnya meledak didalam mulut mungilnya.

“Kira-kira, rasa pejuh dari kontol Ciello sama nggak ya…?” Tanya Citra dalam hati tanpa melepas pandangan sedikitpun kearah batang besar yang tumbuh diselangkangan putra kandungnya itu.

ZZZZZHHHHHHHHH

Suara air shower terdengar makin kencang menyembur belahan vagina Citra. Membuat ibu dua anak itu makin kelojotan karenanya. Berulangkali, Citra harus membuka bibir vaginanya lebih lebar lagi guna bisa merasaan gelitikan air pada titik rangsang vaginanya. Bahkan, tak jarang jari tangannya turut membuka bibir vaginanya lebih lebar, guna bisa merasakan semburan air shower lebih banyak lagi.

“Hehehehe…. Rasa semprotan showernya pasti enak ya Maa…?” Goda Ciello yang terus mengocok penisnya di samping wajah ibu kandungnya.
“Eeehhmmmhhhh….” Jawab Citra menggigit bibir bawahnya sambil merem melek.
“Mama bener-bener seksi Maaa… Bikin kontol Ciello makin nyut-nyutan….”

TEK TEK TEK TEK TEK…
Suara betotan kulit penis Ciello yang tertarik-tarik dengan kuat.

“Ssshhh… Ciello Sayang….” Desah Citra pelan.
“Ya Maa…?” Jawab Ciello ditengah pendakian orgasmenya
“Kira-kira… Kamu mau nggak…?”
“Mau apa Maa…?”
“Sssshhh… Oooohhh… Ngejilati memek Mama..?” Lenguh Citra sembari terus menyemportkan shower ke arah vaginanya, “Mama pengen cepet-cepet ngecrit nih… ”

“Astaga….” Kaget Ciello mendengar permintaan ibu kandungnya, “Be… Beneran… Boleh Maa..?”
“Tentu aja Sayang… Ooohhh… Sini masuk mendekat ke memek Mama…” Pinta Citra sambil mengamit tangan putranya, “Ayo Sayang… Jilatin celah kamaluan Mama…”

Tanpa berpikir panjang, Ciello segera berjongkok tepat didepan Citra sambil terus mengocok penisnya keras-keras. Dengan wajah kegirangan, Ciello menatap liang kenikmatan milik ibu kandungnya itu sambil terus tersenyum. Sesekali ia menyentuh daging kecil yang tumbuh diantara bibir kemaluan Citra sambil menggelitiknya pelan.

“Sssshhh… Sayang… Memek Mama jangan dimaen-maenin gitu aaahhh… Ssshhh… Ehhhmmhh… Udah ayo buruan… Jilatin memek Mama… ” Ucap Citra membimbing wajah Ciello supaya lebih mendekat lagi kearah selangkangannya yang makin berdenyut keras.

“Cuupp… Hhhhmmm… Memek Mama bener-bener cantik ya Maa… Mulus… Bersih… Dan wangi…” Puji Ciello sambil terus mengagumi celah kemaluan ibu kandungnya.
“Sssshh…Uudaaah… Nggak usah banyak omong Sayang… Ayo buruan jilat memek Mamamu ini…” Pinta Citra sambil meraba rambut halus putranya. “Buruan selipin lidahmu ke memek Mama..”

“Sluurrp… ” Lidah Ciello menyapu celah kemaluan Citra, “Begini Maaa…?”
“Oooohhh… Sayang…”
“Yaa Maa…? Sluuurrppp…. Sluuurrppp….”
“Eenak bangeeett…” Gelijang Citra keenakan, “Enak banget Sayang… Ooohh… Terus Sayang… Selipin lidahmu lebih dalam lagi ke memek Mamaa…”
“Ssluuurrpp… Sluuurrppp….” Jilat Ciello sambil terus menjilati vagina Citra dalam-dalam.
“Oooohhhh…. Terus Sayang… Teruuuss… Hooooohhhh…. Teruuusss…” Erang Citra yang secara tak sadar, mulai membenamkan wajah putranya ketengah selangkangannya.
“Ssluuurrpp… Haaaeeemmm… Sluuurrppp…. Ssluuurrpp… Sluuurrppp….”

“Hiyak… Hiyak… Bener begitu Sayang… Hiyaaak… Ooohhh…” Jerit Citra dengan tubuh kelojotan
“Ssluuurrpp… Memek Mama enak… Memek Mama legit… Sluuurrppp….Haaaeeemmm… Sluuurrppp…. Ssluuurrpp… Sluuurrppp….”
“Ooohhhh…. Sayaangg… Ooohhh… Enak banget.. Ooohh.. Ngentooott… Ngentooottt… Mama keluar Sayang.. Oooohhh…”

Seketika itu, tubuh Citra menggelijang hebat. Menggigil seperti orang kedinginan yang disertai dengan jeritan-jeritan keenakan.

CRIT CRIT CRIITTT…. CRIICIITT… CRIITT CRIIITTTT….

Untuk beberapa saat, tubuh semok Citra tak berhenti menggelepar. Bergetar-getar tanpa bisa ia kendalikan. Kakinya menendang-nendang kedepan sembari membenamkan kepala Ciello dalam-dalam ketengah selangkangannya.

“Huuooohhh… Saayaaangg… Ooohhh… Ooohhh… Ooohhh… Enak sekali jilatan lidahmuu… Ooohh… Eeennaaaakkk…. ” Lenguh Citra lantang.

Hingga akhirnya, gelijang-gelijang itupun mulai mereda. Nafasnya mulai terkontrol dan tubuhnya melemas.

“Mama… Maaa… Mamaaa…” Suara Ciello terdengar lirih, seolah tersumpal oleh sesuatu yang menyekat tenggorokannya. “Maaa.. Mamaa… ”
“AAASSTAAGAAA….” Kaget Citra begitu tersadar jika kepala Ciello masih terbenam diselangkangannya. Jepitan kaki Citra yang begitu kuat, membuat wajah Ciello memerah. Buru-buru, Citra melemaskan otot kakinya, dan segera membuka lebar jepitan pahanya

“Ppphhuuuuaaaaahhhh….” Lega Ciello yang akhirnya bisa bernafas kembali, “Huuaaahhh… Haaahh… Haaahh… Haaahh…”
“Waaaduuuhh.. Maafin Mama ya Sayang… Mama kelepasan….” Ucap Citra sambil mengusap wajah Ciello yang belepotan akan lendir orgasmenya.
“Mama pengen ngebunuh Ciello ya…?” Omel Ciello, “Mama udah nggak sayang ama Ciello lagi ya…?”

“Maaf Sayaaang… Maaf… Mama nggak sengajaa…” Ucap Citra lagi sembari mengecupi wajah putra kandungnya. “Maaf bener-bener ngerasa enaakk… Hehehe…”
“Enak sih enak Maaa.. Tapi masa sampe ngebekep mulut Ciello pake memek….”
“Hihihihi… Habisan… Lidah kamu enak banget Sayang… Bikin mama sampe lupa kalo kamu masih ngejimekin memek Mama…” Jelas Citra sambil memeluk kepala Ciello dan membenamkannya kebelahan payudaranya yang besar. “Tapi… Kalo kamu beneran mau mati…. Kok kontol kamu makin keras gitu sih Sayang…?” Iseng Citra yang dengan sengaja menggapai batang kemaluan Ciello yang masih menjulang tinggi di selangkangannya.

“Eehh.. Ini…” Bingung Ciello mencari alasan.
“Hihihihi… Nggak berasa ya… Anak Mama yang cowok ini udah begitu gedhe…” Ucap Citra dengan tangan yang kembali mengurut penis Ciello pelan.
“Uuuuhhh… Mama…. Pinter banget deh ngambil hati anaknya…. Uuuhhh.. Terus Maaa….”
“Hihihi… Iya dooong…. Harus ituuhh…” Jawab Citra sambil kembali mengecup Ciello. Namun kali ini ia mengecup tepat di bibir tebalnya.

“Eh Sayang….” Potong Citra.
“Ssshhh… Ya Maa…?”
“Papa semalem bilang… Kalo kamu sedang melakukan hal yang seru ya bareng Clara…? Tanya Citra sambil terus mengocok penis Ciello pelan.

“Eeehh…?”

“Hehehehe… Gausah kaget gitu Sayang… Biasa ajalaaah…. Mama nggak marah kok…” Jelas Citra dengan nada tenang, “Emang itu beneran Sayang…?”
“Nnggg… I… Iya Maa…”

“Wooww… Jadi gimana rasanya…?” Tanya Citra lagi
“Rasa apanya Maa…?”
“Ya rasa gituannya….” Sambung Citra lagi.
“Nnggg… Rasanyaaa….” Bingung Ciello harus berkata apa.

“Iiihhhssss… Kamu tuh ya… Bikin Mama iri deh…”
“Iri…? Kok malah Iri Maa…?”
“Ya iri… Iri karena Clara udah ngerasain kontol besarmu ini Sayang…. ” Ucap Citra mendorong tubuh putranya mundur hingga ia rebahan dilantai kamar mandi. Setelah itu, Citra segera berjongkok tepat diselangkangan Ciello sambil terus mengocok penis besar Ciello dengan tangan lembutnya.

“Eeehh… Oooohhh.. Mama…” Lenguh Ciello keenakan.
“Pasti ini kontol enak banget kalo diisep-isep… HAP…”

Tanpa aba-aba sama sekali, Citra langsung melahap kepala penis Ciello. Menjilati sambil mengilik-kilik lubang kencingnya dengan ujung lidahnya yang lembut.

” Slurruuupp… Slurruuupp… Sluurrppp… HAAAPP.. HAAEEMM…. Slurruuupp… Slurruuupp…”
“Ooohhh… Maaamaaaaaa… Huuuuoooohhhh…. Enak sekali isepan lidahmu Maaaa….”

Ciello tak pernah mengira jika oral seks akan berasa senikmat ini. Terlebih, orang pertama yang benar-benar memberikan sensasi seks oral pertamanya adalah ibu kandungnya. Wanita yang sering menjadi bahan masturbasi setiap malam. Bahkan ketika tangan Citra mengamit kedua tangan Ciello untuk mempermainkan payudara besarnya, semakin membuat putra kandung Citra itu makin bernafsu kepadanya.

Untuk sepersekian detik pikiran Ciello kembali ke saat penisnya ‘terpeleset masuk’ ke celah vagina ibu kandungnya beberapa waktu lalu.

Rasanya nikmatnya seolah menjadi tak seberapa jika dibandingan dengan hisapan mulut ibunya sekarang. Bahkan jika mau dikata, hisapan mulut ibunya lebih mirip seperti hisapan pantat Clara ketika sedang menyedot batang penisnya. Benar-benar membuatnya mabuk kepayang.

“Hihihihi… Puas-puasin aja ya Sayang… ” Ucap Citra begitu meletakkan kedua telapak tangan Ciello untuk menangkupkan di payudaranya yang menggelantung bebas, “Nikmatin tetek Mama sepuasmu sambil merasakan hisapan mulut Mama…. Juuuhh….HAAAPP… Sluuurrpp… Slurrpp…”
“Ooohh.. Mamaaaa….”

Mendapat hisapan mulut Citra, kedutan di penis Ciello semakin menjadi-jadi. Urat syarafnya menjadi begitu peka menerima semua perlakuan mulut lembut ibu kandungnya. Membuat orgasmenya mendekat begitu cepat.

“Ooohhh.. Mamaaaaa…. Ciello nggak kuat lagi Maaa….” Lenguh Ciello kelojotan dengan tangan yang tak henti-hentinya meremas kedua payudara Citra, “Oooohhh… Mulut Mama berasa begitu nikmat Maaa…. Ooohhh… Eeennnaaaakkkk….”
“Hihihihi… Kamu suka Sayang…? Sluuurrppp…. Juuuhh….”
“Huuooohh… Suka banget Maaa….”

Melihat tubuh Ciello mulai menggelijang kesana kemari, membuat Citra semakin bersemangat memberi hisapan terbaiknya pada batang penis putra kandungnya. Berulangkali Citra menyedot kuat-kuat kepala penis Ciello sambil memutar-mutar batang penisnya. Ia juga kadang menggesekkan mulut penis Ciello pada bagian lidahnya yang kasar sehingga membuat bulu kuduk di sekujur tubuh Ciello merinding.

“Hooo… Ooohhh… Maaaa… Ooohhh… Mamaaaaa… Isepan mulut Mama bener-bener enak Maaa… Bikin kontol Ciello makin berasa nggak karu-karuaaannn….” Erang Ciello sambil kelojotan keenakan.
“Sluuurrpppp… Sluuurrpppp… Hihihihi… Kalo kamu suka… Nikmatin aja Sayang…”
“Hoooohhhh… Maaa… Ciello udah nggak tahan lagi Maaa… Ciello mau keluaaar…”
“Hihihiihi… Masa baru diisep-isep gini aja udah ngga tahan Sayang…?” Goda Citra yang makin beringas melahap penis Ciello. Memasukkan seluruh batang penis putranya dalam-dalam kerongga mulutnya.

“GAAAAAAAAGGG… GAAAGGG… GAAAGGG… Puaaahhhh….” Usaha Citra ketika mencoba menelan penis Ciello, “Kontol kamu panjang bener Sayang… Jadi bikin mulut Mama kesusahan buat nelen semuanya… Juuuhh….HAAAPP…. GAAAAAGGG… GAAAAAGGG…” Sambung Citra sambil tersenyum genit kearah Ciello.

Melihat kebinalan Citra dalam melahap batang penisnya, membuat Ciello benar-benar merasa seperti di surga. Hisapan dan jilatan yang begitu nikmat, membuat putra kandung Citra itu tak mampu lagi menahan gejolak orgasmenya yang sudah semakin dekat. Ditambah melihat tubuh telanjang Citra yang terpampang jelas dihadapannya, menjadikan imajinasinya seolah terwujud nyata.

Hingga tak lama kemudian, tubuh Ciello bergetar hebat. Seiring meluncurnya gelombang panas orgasme ke ujung mulut penisnya.

“Ohhh… Ngentooottt… Maaa… Ciello udah nggak tahan lagi Maaa… Ciello mau keluaaaarrrr….”

CROT CROOT CROOOCOOT…. CROOT… CROOOTTT….

Semburan lendir panas, langsung keluar dari ujung penis Ciello dan masuk memenuhi rongga mulut Citra. Tubuhnya kelojotan, merasakan kedut nikmat orgasmenya.

“Hanyak hanget hejuhmu Hayang….” Ucap Citra dengan mulut terbuka, memamerkan benih kejantanan putra kandungnya dengan menggenangi rongga mulutnya.
“Oooohhh.. Mamaaaaa… Uuuhh… Mama Seksi banget….” Erang Ciello yang begitu takjub melihat tingkah ibu kandungnya.
“Masa sih Hayang….? GLEK GLEK…. SLUUURRRPP…. CUP CUPPP…” Balas Citra sambil menegup semua lendir Ciello hingga habis, “GLEK…GLEK….Aaaaaahhhhh…..”

“Woooowwww… Mama nelen semua pejuh Cillo…?”

“Hihihi… Iya Sayang…. Sluuuurrrppp… Cuuuppp….” Ucap Citra yang terus menjilat dan mengecup kepala penis Ciello, “Mama suka rasa pejuhmu Sayang….”
“Uuuuhhh… Suka rasa pejuh ya Maaa…?” Takjub Ciello, “Berarti kalo Mama ngisep kontol Papa… Mama juga suka nelen pejuhnya…?”
“Hihihihi.. Hiya….” Tawa Citra renyah dengan tangan yang tak henti-hentinya memeras sisa sperma dari batang penis putra kandungnya.

“Oooohhhh Mamaaa…” Erang Ciello antara ngilu dan keenakan. Terlebih karena Citra terus menerus menyucup mulut penisnya dengan kuat.
“Hihihi….Cuuuupppp… Cuuuuppp….Pejuh kamu… Rasanya bener-bener enak Sayang…” Ucap Citra dengan mulut dan dagu yang belepotan oleh sperma Ciello, “Bener-bener Mirip banget ama rasa pejuh Papa kamu….”

“Mama bener-bener seksi Maa…” Puji Ciello, “Bener-bener nakal…”
“Hihihi….Nakal kaya bintang bokep ya Sayang…”
“Iya… Bintang bokep kegemaran Ciello….”
“Hhmmm.. Makasih ya Sayang…” Ucap Citra yang kemudian bangkit dari selangkangan Ciello. “Kamu bener-bener anak kesayangan Mama…”
“Iya Maama Cantikkuu…. Ciello juga terima kasih udah dibolehin buat ngerasain gimana rasanya memek sempit Mama ini….” Balas Ciello sambil mencolek vagina Citra yang masih membanjir basah, “Yah walaupun cuman ngejimek… Tapi paling nggak… Ciello udah bisa tahu gimana rasanya jadi Papa ketika sedang bermain 69 ama Mama….”

“Hihihi… Ciello jadi Papa….” Ulang Citra dengan senyum mengembang lebar, “Ya kalo Ciello jadi Papa… Bisa habis memek Mama kamu maen-maenin mulu…”
“Hehehe… Yaaa itu pun kalo Mama ngeboleh khan Maaa…”

“Tapi kalo Mama beneran ngebolehin gimana…?” Goda Citra sambil melirik kearah penis Ciello yang sudah kembali menegang, “Emang kamu mau apain Mama…?”
“Beneran Maa…? Mama mau…?”
“Hmmm…. Mau nggak ya…?” Goda Citra sambil mengusap vaginanya
“Ciello pengen bisa seperti Papa Maa…”

“Seperti Papa…?”

“Iya… Pengen bisa ngentotin memek Mama sepuas-puasnya….”
“Aaaawww… Ngentotin memek Mama ini Sayang…?”
“IYA MAA… Boleh ya Maaa… Boleh Yaaaa…..?”
“Hmmmm… Nggak aaahh… Ngeriii…” Kata Citra sambil bergidik.

“Looohhh…? Kok ngeri Maa..?” Heran Ciello menatap wajah ibu kandungnya.
“Seperinya… Bakalan sobek Sayang… Memek Mama kalo dientot ama kontol besar kamu itu…” Senyum Citra sambil terus mengusap liang vaginanya, “Urat-uratnya… Sereeemmm….”
“Nnngggg… Khan belom dicoba Maaa….” Jawab Ciello yang terus menatap vagina Citra lekat-lekat, “Kita coba dulu yuk Maa… Pasti memek Mama bisa dimasukin kontol Ciello deh…”

“Nggg.. Dicoba….? Sekarang….?”
“Iya Maa… Yuk….” Ajak Ciello yang kemudian menarik turun tubuh Citra kelantai.

“Hahahaha… Ciello- Ciello… Udah aahh… Udah… Hahaha… Mama cuman becanda… Hahaha….” Tawa Citra terbahak-bahak, “Kamu tuh ya… Muka memek banget sih…? Nggak boleh dijanjiin sedikit ya…?”
“Huuuu… Padahal Papa udah ngebolehin tuh….” Celetuk Ciello pelan.
“Ngebolehin apa…?”

“Ya ngebolehin maen-maen ama Mama ama Clara…” Jelas Ciello.

Tak merespon kalimat Ciello, Citra hanya menatap wajah lesu putranya. Dengan senyum mengembang, ia kembali mengusap rambut Ciello dan memeluknya erat dibelahan pauyudaranya

“Jadiiii…. Semalam Kamu dan Clara…. Sudah….?” Tanya Citra terus mendekap kepala Ciello

Karena kecewa karena ucapan Citra barusan, Ciello sengaja tak menjawab pertanyaan Citra. Ia hanya menganggukan kepalanya pelan.

“Karena ketika ngelihat Mama ama Papa selalu keenakan ketika ngelakuin… itu…” Ucap Ciello ragu.
“Ngentot…?” Potong Citra.
“Iya… Makanya Ciello ama Clara jadi penasaran…”

“Lalu kamu ambil perawan adik kamu…?” Tanya Citra lagi.
“Engga Maa… Ciello nggak berani…?”
“Lalu…? ”
“Ya Ciello cuman ngocokin kontol Ciello ke tetek Clara aja Maa…” Ucap Ciello sedikit berbohong. Ia tak ingin kesenangan barunya bersama Clara berakhir karena diketahui oleh ibu kandungnya.
“Bener cuman itu aja…?”

“Nggg… Ama… Ngobel-ngobel lubang anusnya Clara aja sih Maaa…”

“ASTAGAAAA…. Nak…?” Kaget Citra, “Ngobel anus Clara….?”

“Iya…Emang Kenapa Maa…?”
“Tapi… Adek kamu… Nggg…. Nggak sampe…? Kamu sodomi khan….?” Selidik Citra lebih lanjut.

“Hhmmm…. ” Jawab Ciello sambil sedikit berpikir, “Sebenernya siihhh….”
“Sebenernya gimana….?”
“Hhhmmm… Sebenernyaa…..” Seolah menikmatin rasa penasaran Citra, Ciello jadi sengaja ingin mempermainkan ibu kandungnya itu.

“Ciello… Jawab Sayang….” Cecar Citra, “Kamu apain aja anus adik kamu…?”
“Hmmm…. Ciello bakal jawab pertanyaan Mama…. Kalo Mama mau ngabulin satu permintaan Ciello….”
“Satu permintaan…?”
“Iya… Cuman satu aja kok Maa…”

“Nggg… Selama kamu nggak pengen ngentotin memek Mama…. Mungkin… Mama bisa ngabulin permintaan kamu Sayang…”
“Yaaaahhh… Mamaaaa…” Seru Ciello dengan nada kecewa.
“Looohhh…? Kenapa…?”
“Justru itu yang pengen Ciello minta dari Mama…. Ciello pengen ngerasain jepitan memek Mama…”
“Aaahh.. Jangan ngaco Sayang…” Jawab Citra cepat-cepat, “Mama nggak mungkin ngabulin permintaan ngawur kamu…”
“Kok ngawur sih Maa…?”

“Ya ngawurlah… Mama khan ibu kandungmu Sayang…. Dan Mama juga milik Papa seutuhnya…” Jelas Citra sambil terus melirik batang penis Ciello yang masih mengangguk-angguk dengan gagahnya. Batinnya sedikit bimbang, antara ingin mengabulkan permintaan Ciello dan mempertahankan kehormatan dirinya sebagai seorang orangtua.

“Yaudah kalo Mama nggak mau… Biar Ciello minta ama Papa aja..” Ucap Ciello sambil beranjak bangun dari posisi duduknya
“Minta apa….?”
“Ya minta ijinlah ama Papa… ”
“Ijin…?”

“Iya… Ciello mau minta ijin ke Papa buat ngentotin Mama…” Jawab Ciello santai sambil berjalan keluar kamar mandi, “Toh… Kalo rahasia-rahasia Papa Ciello sebarin ke Mama… Papa pasti bakal ngebolehin Ciello buat nyodok-nyodokin kontol Ciello ke memek sempit Mama itu…”

“Haahh….?” Jawab Citra dengan nada penasaran,”Rahasia Papa apaan Sayang…?”

Bersambung,

loading...
www.sedarahceritasex.com