Kisah Keluarga Citra 31

Kisah Keluarga Citra 31 -
loading...

Dengan pakaian yang sudah rapi, Mike duduk termenung di kursi makan. Mulutnya bergerak-gerak pelan, mengunyah makanan yang masuk kedalam mulutnya. Pandangannya lurus kedepan, membaca beberapa pesan masuk yang tertayang di layar handphonenya.

TING
“Aku kangen kontol besarmu Om…” Tulis pesan di layar handphone.
“Ahh…. Karnia… Lonte kecilku….Mulai menggoda lagi dia…. ” Ucap Mike dalam hati begitu selesai membaca pesan itu.

TING
“Om kangen memek aku nggak….?” Bunyi pesan singkat itu lagi. Yang kemudian disusul dengan 2 buah photo vagina gundul yang sudah membanjir basah.
“Aaahh.. Nakal banget inih anak…” Seru Mike sembari membaca kalimat-kalimat mesum yang dikirim oleh Karnia, membuat penisnya seketika menggeliat. Mengeras dengan cepat hingga gundukannya tercetak jelas dicelana kerjanya.

TING
“Memek aku udah sange banget ini Om… GATEL… Pengen disodok-sodok kontol besar Om yang penuh urat-urat itu…”

TING
“Semalem.. Bokap abis ngentotin memek aku loh Om…”
“Aaahh Karnia… Kamu bener-bener menggoda nafsu birahiku…” Lenguh Mike yang segera membetulkan posisi penisnya dari luar celana. Buru-buru, suami Citra itu menyapu seluruh penjuru ruang makannya. Mengamati situasi sekitarnya sambil terus membaca pesan-pesan singkat dari Karnia.

“AMAN… Citra masih mengurus bunga-bunganya….” Batin Mike setelah mendapati istrinya masih sibuk di halaman belakang yang posisinya cukup jauh dari tempatnya berada.

loading...

TING
“Bokap… Ngentotin memek aku sampe pagi loh Om….”

TING
“Om nggak pengen….?” Tanya pesan Karnia yang kemudian diikuti oleh 3 photo yang menampilkan jari tangan Karnia sedang merentangkan kedua bibir vagina gemuknya kesamping.

TING
“Bokap bermain gila dihalaman belakang rumah Omm… ”

TING
“Deg-degan banget ngelayaninnya….”

TING
“Bokap sampe keluar 3 kali om… ”

TING
“Didalem memek sempit aku Om….” Balas Karnia sambil menyertakan video vaginanya yang sudah menganga lebar dengan lelehan lendir berwarna putih kental. Mengalir keluar membasahi paha dalamnya.

“KAMPRET….” Umpat Mike terus mengamati video pendek dihandphonenya, “Ini pasti video ngentot Karnia dan bokapnya semalam… Kok bisa yak… Tuh Tito Kampret bisa ngentotin putrinya sendiri….”

TING
“Tapi… Aku kurang puas nih Om…”

TING
“Kontol Bokap makin berasa kecil semenjak memek aku dientot ama kontol besar Om…”

TING
“Masih kalah enak kalo dibanding ama KONTOL BESAR OM MIKE TERCINTA….’

TING
“MEMEK LONTEMU INI KANGEN DIENTOT KONTOL BESARMU OM…”

“Aaaaahhhh… ANJING…. Nakal banget tuh anak…” Seru Mike sambil membetulkan posisi penisnya yang makin menegang tak karuan, “Berani-beraninya tuh LONTE menggodaku seperti ini….” Sambung Mike yang kemudian membalas pesan-pesan mesum Karnia.

“Ke kantor Om ntar siang…. Lonte cantikku….”

TING
“Kelamaan Om… Aku udah sange banget inih…” Balas Karnia sambil menyertakan video vagina yang sudah ditusuk oleh 2 jari lentiknya. Kali ini, sepertinya baru dibuat beberapa detik lalu.

TING
“Kalo sekarang aja gimana Om…?”

TING
“Aku kerumah Om trus minta dientot ama Om didepan Clara dan Tante Citra…”

TING
“Biar mereka tahu…. Kalo keponakanmu ini sudah tergila-gila ama kontol besarmu Om…”

“AAAARRRGGGHHHH… NGENTOOOTTT…. Lonte ini terlalu binal untuk anak seusianya…Bisa meledak kontolku kalo terus membaca pesan-pesan mesumnya….”

“Pagi Paaaa….” Sapa Ciello yang tiba-tiba sudah bergabung didapur. Ia lalu mendekat kearah meja makan. Menarik kursi diseberang Mike dan meletakkan pantatnya dikursi seberang Mike.

“Eeehh.. Pa.. Pagi….” Jawab Mike kikuk, karena rasa kaget mendapati kedatangan Ciello,

TING
TING

“Pagi-pagi klien udah sibuk aja Pa…” Celetuk Ciello melihat kesibukan ayah kandungnya membalas pesan yang masuk, “Sampe sarapannya belum dihabisin gitu…”

TING
TING
TING

“Eehh.. Iya nih….” Jawab Mike sambil buru-buru menekan tombol power handphonenya. Berharap supaya pesan mesum Karnia tak terdengar lagi oleh Ciello, “Sarapan dulu yuk….Ada nasi goreng buatan Mama nih… ” Ajak Mike basa-basi.
“Iya nanti aja Paaa…” Balas Mike malas dan mengambil roti lapis yang ada dinampan saji. Kemudian melahapnya pelan.

“Hmmmm… Ciello…
“Ya Paa…”
“Hmmm… Ma’afin Mama ama Papa ya… Kalo tadi malam kami… Hmmm…. Terlalu berisik…” Ucap Mike malu-malu sambil tersenyum lebar kearah putranya.
“Eeehhmmm… Iya Paa.. Nggak apa-apa…” Jawab Ciello sambil menuangkan jus jeruk dari teko ke gelas belingnya.

“Hmm….Jaaddiiii… Setelah dari bawah… Kalian berdua ngapain Nak…?” Tanya Mike lagi dengan senyum yang mengembang, “Kok sepertinya… Kamu dan Clara juga ikut ber-asyik-asyikan ria…?”

BFUUUAAAHHH… Uhuk uhuk… UHUK UHUK… Uhuk uhuk…
Kaget Ciello yang tiba-tiba tersedak.

“Ussshh.. Ussshh.. Ussshh…. Pelan-pelan minum jusnya Nakkk… Santai aja… Biar ga kesedak gitu… Hehehe…” Kekeh Mike yang melihat putra semata wayangnya tekejut tiba-tiba.

“Hmmm.. Ga… Ga ada yang seru Paa.. Jadi semalam… Ciello ama Clara juga sedang bersantai-santa…” Jelas Ciello mencoba mengatur nada bicaranya setenang mungkin.

“Tapi Mama ama Papa kok ngedengernya agak beda ya… Kalian seperti sedang ngelakuin hal yang seru gitu…?” Serang Mike lagi sambil menyunggingkan senyumnya lebar-lebar.
“Ngggg… Engga kok Pa… Ciello ama Clara nggak ngapa-ngapain…” Jawab Ciello berusaha meyakinkan.

“Beneran nih…?” Sindir Mike sambil terus tersenyum, “Soalnya… Mama ama Papa ngedenger dengan jelas suara-suara kalian yang seperti habis makan cabe… Kaya sedang kepedesan…?”

“Hmmm… Anu….Itu… Ciello ama Clara sedang ngobrol biasa aja kok Paa… Sambil makan… Nggg… Cemilan… Iya….Kami ngobrolnya sambil makan cemilan…” Jawab Ciello berbohong, “Soalnya kalo kami ngobrol dibawah selagi kalian sedang…. Hmmm…”
“Ngentot…?” Potong Mike
“Iya… Kalo kalian sedang ngentot… Kok sepertinya kami jadi sungkan ya… Karena mungkin suara-suara kami bakal ngeganggu kesenangan kalian….”

“Hehehehe…. Jadi… Hmmmm… Semalam…. Kalian bener-bener ngedenger aktifitas kami ya…?” Tanya Mike sedikit malu.
“Bukan cuman semalam aja Paa… Tapi setiap kalian ngelakuin itu… Kami bisa denger dengan jelas…”
“Wow.. Hmmm… Oke… Mungkin… Hmmmm… ” Bingung Mike sambil mencoba berpikir untuk mengutarakan kalimatnya dengan mudah, “Ahhhh…. Anggap santa aja itumah…. Besok-besok… Kalo kami sedang ngentot… Kalian gausa mikirin kami…”
“Hmmm.. Gitu ya Paa..?”
“Kalian khan anak Papa dan Mama… Nggak bakalan bisa ngeganggu kami kok…”

Ditengah percakapan ayah dan anak yang makin seru, tiba-tiba Clara muncul di dapur. Langkahnya sedikit pelan dengan gaya berjalan yang sedikit aneh. Mike yang mengetahui kedatangan Clara, hanya bisa tersenyum lebar melihat putri kandungnya terlihat malu-malu karena adanya Ciello disana.

“Hai Paaaa…” Sapa Clara dengan raut wajah yang datar. Seolah tak ada Ciello didekatnya. Begitupun dengan Ciello yang memperlakukan Clara dengan hal yang serupa.

“Hai Sayang…” Jawab Mike singkat, “Sarapan dulu yuk…?”
“Iya Paa.. Nanti aja….” Jawab Clara yang kemudian menarik kursi disamping Mike dan meletakkan pantatnya dengan gerakan yang sangat pelan. Sangat pelan sekali.

Sejenak, Mike memperhatikan jika ada sesuatu yang aneh pada gerak-gerik Clara. Dari cara jalan, cara bicara hingga cara duduknya, semua terasa begitu berbeda dari biasanya. Terlebih, Clara duduk dengan posisi miring, seolah duduk dengan satu sisi pantatnya saja. Benar-benar mencurigakan.

“Kamu sedang nggak enak badan Sayang..?” Tanya Mike dengan nada lembut
“Nnngg…. E.. Eenggak kok Paa…”
“Kok badan kamu miring-miring gitu duduknya…?”
‘Nggg… Ini… Tadi dikamar mandi atas.. Clara kepleset Paa…” Jawab Clara berbohong mengenai kondisi pantatnya yang terasa begitu ngilu akibat seks analnya tadi pagi.

“Haaaahh…? Kepleset….? Ada yang luka nggak…?” Tanya Mike buru-buru bangkit dan memperhatikan tubuh putri kandungnya.
“Eehh.. Enggak ada Paa.. Clara baik-baik aja kok…”
‘Tapi… Kok badan kamu sepertinya hangat ya Sayang…?” Sahut Mike lagi setelah memegang dahi, pipi dan leher Clara.
“Ngggg… Iya Paa… Clara sepertinya agak sedikit demam deh…” Jawab Clara sambil melirik kearah Ciello, berharap ayah kandungnya tak mengetahui mengenai apa yang terjadi pada tubuhnya.

“Hmmmm… Kamu pasti kecapekan ya Sayang…?” Tanya Mike yang juga melirik kearah Ciello.
“Nggg.. Iya Paaa… Sepertinya begitu….”
” Emangnya kamu ama kakakmu semalam… Ngapain aja Sayang…? Kok sampe kecapekan gitu…?

Mendengar kalimat Mike, Clara dan Ciello buru-buru saling bertatap mata.
“Nngggg… Clara ama Kakak… Nggg…. Nggak ngapa-ngapain kok…” Jawab Clara pelan
“Beneran….? Nggak ada apa-apa…?” Tanya Mike lagi.
“Nnnngg.. Nggak ada apa-apa sih… Paa…” Jawab Clara lagi.

“HHHHhhhh….” Mike menarik nafas panjang, “Anak-anak… Papa boleh ngomong sesuatu..?”

Wajah Clara mendadak memerah. Begitu pula dengan wajah Ciello. Keduanya tiba-tiba terdiam seribu bahasa, tanpa mampu menatap kearah wajah ayah kandungnya.

“Loh…Lohhh….? Ada apa ini…?” Tanya Mike ketika melihat perubahan pada raut wajah kedua anak kandungnya. “Kenapa muka kalian pada tegang gitu…?”

Clara dan Ciello tetap diam, sejenak mereka saling berpandangan namun kembali menundukkan kepala. Bingung harus berkata apa.

“Tenang aja anak-anak…Papa nggak mau ngomongin tentang kenakalan kalian semalam kok…” Ucap Mike dengan kalimat yang tenang.
‘Nggg.. Ja… Jadi… Papa ma… Mau ngobrolin apa…?” Tanya Clara pelan.

“HAHAHAHAAA….” Tawa Mike meledak melihat tingkah ketakutan pada wajah kedua anaknya, “Udah-udah… Jangan pada panik gitu wajahnya…. Yang Papa mau omongin… Bukan tentang suatu hal yang menyeramkan kok….”

“Nnggg.. Lalu….?” Tanya Ciello penasaran
“Hehehe… Papa cuman mau bilang… Kalo mulai minggu depan… Papa sudah bisa kerja dirumah…”

“Maksud Papa…?” Sambung Clara
“Iya Sayang… Papa mau gabungin rumah tetangga sebelah dengan rumah kita…”
“Tetangga sebelah…?”
“Iya.. Papa udah beli rumah Pak Rudi… Papa mau jadiin rumah itu sebagai kantor tempat Papa ngembangin usaha…” Ucap Mike sambil memamerkan senyum lebarnya ke Clara, “Jadi… Papa bisa sering ketemu ama kalian-kalian semua…. Hehehehe… ”

“Fiuuuuhhh…” Celetuk lega Ciello dan Clara hampir berbarengan. Seolah terbebas dari segala macam masalah.
“Kenapa yaa..? Kok kalian senyumnya pada aneh gitu…?”
“Eeehhh enggak Paa… Clara cuman seneng aja… Kalo Papa udah makin deket ama kita-kita….”
“Iyalah… Khan Papa biar bisa makin akrab ama kamu Sayang… ” Sahut Mike sambil membalas dengan senyum lebar juga, “Biar nggak cuman Kakak kamu aja… Yang bisa enak seneng-seneng ama tubuh seksimu itu…
“Ehh…?” Kaget Clara sambil melirik kearah Ciello.
“Papa khan juga pengen banget bisa ikutan ngerasain…. ”

“Iiihhss.. Papa apaan siihh…?” Jawab Clara pura-pura geli dengan kalimat Mike.
“Eh… Salah ya…? HAHAHA…” Bingung Mike, “Habisan… Kemaren… Dari sore sampe malem… Kalian sepertinya sibuk banget… Kira-kira pada ngapain ya…?”
“Nnnggg.. Itu….” Jawab Clara bingung sambil terus melirik kearah Ciello, “Ituu… Nggg… Udah aah.. Udah siang nih… Clara mau mandi dulu…. ” Sambung Clara yang tiba-tiba mengalihkan pembicaraannya.
“Loohh… Kamu mau kemana Sayang…?” Tanya Mike
“Ya mau sekolah-lah Paaa… Masa mau ke mall…” Celetuk Clara sambil beranjak dari tempat duduknya.
“Hahahahaha…. Iya yak… Kamu harus sekolah….” Tawa Mike menggelegar.

Melihat suasana tegang yang mulai Ciello juga mencoba mengalihkan pembicaraan

“Eeehh….. Iya… Kakak juga mau mandi pagi aaaahh…” Ucap Ciello sambil merentangkan kedua tangannya, “Biar ngantuknya ilang…”
“Iiiiihhhsss… Adek duluan Kaakk…” Sewot Clara
“Aaaahhh…. Kamu ntar aja… Kakak duluaan….”
“Nggak mau aahh… Adek duluan… Adek udah mau telat nih Kaakk…”

“Hei hei hei…. Ciello… Ngalah dikitlah ama adikmu…” Seru Mike yang melihat pertengkaran kedua anaknya makin memanas.
“Tapi kalo Ciello nggak ngalah… Kamar mandinya bakal dipake ama Clara lama banget Paaa….” Jelas Ciello berusaha membela diri.
“Udahh biarin….. Ntar kamu mandinya pake kamar mandi Papa… Kamu disini aja dulu… Papa pengen ngobrol bentaran ama kamu…”

“Eeeehh…???”

Melihat keseriusan yang tiba-tiba muncul diwajah ayah kandungnya, perasaan Clara mendadak berubah menjadi tak enak lagi. Ia pun buru-buru kabur, meninggalkan ayah dan anak itu berdua diruang makan.

Sepeninggalan Clara, suasana di ruang makan langsung hening. Sunyi. Yang terdengar hanyalah gemericik suara pancuran yang ada dikolam belakang.

“Ciello…” Ucap Mike membuka pembicaraan.
“I…Iya Paa.. ” Jawab Ciello dengan nada bingung sekaligus penasaran.
“Apa kita bisa ngobrol serius….?”
“Hmmm…. Oke…”

“Jadi begini Nak… ” Ucap Mike berusaha menampilkan wajah super tenangnya sebisa mungkin, “Kita berdua sama-sama tahu…. Kalo sekarang… Kita tinggal dirumah ini bersama 2 bidadari yang begitu cantik… Sangat Seksi… Dan super menggairahkan…”
“Menggairahkan…?” Tanya Ciello
“Iya… Bidadari yang bener-bener menggoda hasrat kelelakian kita…” Ucap Mike singkat sambil melirik kearah tubuh bagian bawah Ciello.

Melihat kode dari ayah kandungnya, Ciello hanya bisa mengangguk, seolah tahu arah pembicaraan ini akan menuju kemana.

“Dan sebagai lelaki normal… Papa harap… Kamu jangan kaget ataupun heran ya… Jika terkadang… Kita pun ikutan tergoda karenanya….”
“Tergoda…?”
“Iya… Tergoda akan kemolekan tubuh Mama dan adikmu Clara…”
“Nnggg…. Iya Paa…..”

“Oleh karena itu… Papa cuman mau bilang… PLAY SAFE….” Ucap Mike yang menekankan kata terakhirnya dengan sungguh-sungguh.
“Hhmm…. Maksud Papa….?”
“Ya bertindak aman Nak… Berpikir cerdas… Penuh perhitungan… Dan berusaha sebisa mungkin untuk menghindari segala macam masalah…. ” Ucap Mike sambil tersenyum penuh arti, “Papa tahu banget kok Nak…. Gimana rasanya penasaranmu itu… Penasaran yang muncul pada remaja seusiamu itu juga Papa alamin dulu… ”
“Iya ya Paa…?”
“Iya… Dan Papa tahu banget…” Balas Mike sambil terus tersenyum, “Rasa penasaran anak seusiamu itu… Penuh dengan rasa ingin tahu… Tentang segala hal… Termasuk penasaran dengan segala sesuatu tentang lawan jenismu…..”

“Hmmm… Lawan jenis…” Ucap Ciello sambil manggut-manggut.

“Iya… Wanita Nak… Perempuan… Cewe… ” Ucap Mike lagi-lagi dengan intonasi kata yang tegas, “Dan Papa yakin… Beberapa waktu belakangan ini… Kamu pasti sedang penasaran banget khan dengan apa yang namanya seks…”

Mendengar kalimat Mike, Ciello mendadak diam. Ia langsung menundukkan kepala. Menatap meja kayu yang ada didepannya.

“Hehehehe… Nggak usah malu gitu-lah Nak… Papa disini cuman pengen ngobrol ama kamu apa adanya kok… Feel Free to Talk… ” Ucap Mike lagi, “Disini Papa bukan mau ngehakimin… Atau ngehukum kamu….”

“Papa cuman pengen tahu aja Nak.. Sejauh apa rasa penasaranmu tentang itu….”

Ciello hanya bisa diam. Wajahnya terlihat begitu tegang dan bingung.

“Ciello…?” Panggil Mike pelan, dengan nada mencari tahu.
“Nnggg.. Kalo dengan lawan jenis siihhh.. Nggg…. Ciello tertarik Paa…” Jawab Ciello dengan nada khawatir sekaligus malu-malu

“BAGUS… Berarti kamu lelaki yang normal Nak… Hehehehe… ” Canda Mike berusaha mencairkan suasana tegang diantara mereka, “Kalo tentang SEKS…? Kamu tertarik nggak…?”
“Seks ya…? Nnnnggg… Tertarik juga sih Paa…..”
“Hehehehe… Pantesan… Kalo Papa liat… Kamu akhir-akhir ini terlihat deket banget ama Mama dan Adikmu…” Jelas Mike, “Bahkan tak jarang… Papa ngelihat… Kalo kamu udah mulai menjalin sesuatu dengan mereka berdua….”

DEG…
“Kampret… Papa udah tahu semuanya….” Batin Ciello kaget bukan kepalang.

Suasana kembali hening.

“Mukamu merah ya Nak kalo punya sesuatu dihati….” Celetuk Mike
“Nnggg… Maa… Maaf Paa..”.

“HAHAHAHA…” Tawa Mike kembali menggelegar, “Tak perlu ada yang dimaafin Nak…. Kalo memang kamu ngerasa salah… Akuilah… Kalo kamu memang ada masalah… Selesaikanlah… Sesimple itu….”
“Iya Paaa..”

“Tapi yang jelas… Hal-hal iseng yang kamu lakuin ke Mama dan Adekmu itu… Nggak masalah kok buat Papa… Toh selama hal itu nggak ngerepotin Papa.. Papa mah oke-oke aja.. ”
“Be… Bener nggak apa-apa Paa..?” Kaget Ciello mendengar kalimat Mike.
“Iya…” Jawab Mike tersenyum lebar, “Dan yang paling penting… Karena kamu masih baru mengalami kejadian nikmat seperti tadi malam… Sering-seringlah berlatih… Biar kuat dan ga gampang keluar…”

“Ga gampang kelu… ” Kalimat Ciello terpotong. Matanya tiba-tiba membeliak sambil menatap tajam kearah Mike yang terus-terusan tersenyum, “Astaga… Jadi… Papa……?”
“Hehehe… Walaupun Papa nggak ngelihat… Bukan berarti Papa nggak tahu Nak…”

Untuk kesekian kalinya, Ciello langsung menundukkan kepalanya. Wajahnya terlihat begitu merah. Antara takut, dan malu. Dan seperti biasanya, ketika Ciello mendapatkan sebuah kesulitan, lutut kaki kanan Ciello mulai bergoyang naik turun dengan cepat.

“Iya khan…?” Tanya Mike pelan dengan mata yang menatap tajam kearah Ciello, “Semalam… Kamu ngelakuin… Hal-hal yang tak senonoh terhadap adikmu…?”
“Nggg…” Bingung Ciello. Gerakan kakinya terlihat semakin cepat.
“Kamu mencoba melakukan hal yang tak seharusnya kamu lakukan…?”
“Nggg…. Itu…”
“Dan kejadian itu… Bukan terjadi satu kali aja khan…?” Tanya Mike, “Karena kamu juga udah ngelakuin hal itu sebelumnya dengan Mamamu…?”
“Anuuu… Itu… Nggg….”

“Jawab aja Nak…”
“Ngggg…. Anu… Itu… ” Bingung Ciello dengan wajah yang semakin merah. Lututnya semakin bergerak cepat, dan emosinya semakin tak terkontrol
“Tenang aja Nak… Papa nggak marah kok… ” Ucap Mike sambil tersenyum, “Papa cuman pengen ngedenger jawaban kamu… Iya apa enggak…”
“Nggg… I… Iya Paa…. Maaf…” Ucap Ciello dengan nada sangat ketakutan.

“Hahaha… Udah-udah… Santai aja Nak… ” Ucap Mike mencoba menenangkan Ciello, “Yang penting… Kalo kamu udah merasa bener-bener nggak tahan…. Sebisa mungkin… Tolong keluarin diluar… Ataupun kalo pengen keluar didalam… Setidaknya kamu harus pake pengaman… ”
“Pengaman…”
“Iyaa… Karet…. ” Jelas Mike, “Ngerti khan maksud Papa…? Hahahaha….”
“Hhmmm… Sepertinya begitu….” Sahut Ciello dengan menganggukkan kepalanya. Melihat wajah Mike yang sama sekali tak menampilkan emosi, membuat emosi Ciello pun perlahan ikutan tenang.

“Bagus…. Jika kamu bisa bermain aman… Semua bakalan berjalan menyenangkan…” Ucap Mike sambil tersenyum penuh arti.
“Menyenangkan….?” Heran Ciello yang karena rasa panik berlebih, seolah menjadi seorang yang idiot. Otaknya sama sekali tak mampu diajak berpikir cepat.
“Yuuup…. Menyenangkan… ” Senyum Mike lebih lebar lagi

“Jadiii…. Hmmmm…” Mike tiba-tiba menghentikan pertanyaannya. Ia menatap mata putra kandungnya itu lekat-lekat, sebelum kembali melontarkan kalimatnya, “Jaaadi…. Boleh Papa tahu…?”
“Tahu apa Pa…?”
“Gimana rasanya…?” Tanya Mike sambil memainkan alis tebalnya.
“Rasa apa Paa…?”
“Ayooooolah… Ceritain semuanya ke Papa…”
“Tentang Clara…?”
“Ya iyalah… Masa tentang Mama….?”

Mendengar Mike menyebut kata ‘Mama’, Ciello tiba-tiba menundukkan kepalanya.

“Pasti enak sekali ya Nak…?” Celetuk Mike sambil mengusap lengan putranya, “Jadi gimana Nak… Ayo.. Ceritain semua ke Papa… Sumpah… Kamu bikin Papa iri banget deehh…”
“Nggg…. Rasanya…… ketika….”
“Iya… Ketika kamu entotin bool Adik kandungmu…”

“ASTAGA… PAPA BENERAN TAU…” Panik Ciello.
“Sssstttt… Jangan ribut… Ini rahasia kita berdua Nak…” Jelas Mike, “Jadi…? Ayo ceritain dong… Gimana rasa lubang anus Clara…?”

“Nggg… Sempit banget Paa…”
“Sempit…? Sempit seperti apa Nak…?”
“Nggg… Pokoknya… Begitu kepala… Nggg…. Anu Ciello…….”
“Anu apa…? Maksud kamu Kontol…?” Potong Mike.
“Iya… Nggg… Ketika kepala kontol…. Ciello masuk… Rasanya ngejepit banget Paa….” Jelas Ciello malu-malu, “Dijepit kuat-kuat ama lubang anusnya…. Bikin… Nggg… Kontol Ciello mau meledak aja….”
“HAHAHAHAHAHA….” Tawa Mike pecah, lantang dan keras. “Hahahahaha… Udah Papa tebak…”
“Kok….?”
“Cielloooo… Cielloo…. Beruntung banget kamu Nak…. Udah bisa ngerasain tubuh adikmu…” Ucap Mike sambil terus tersenyum tenang kearah putra kandungnya, “Pasti pejuh kamu rasanya pengen ngecrot cepet-cepet yaa…?”
“I… Iyaaa Paa… ” Jawab Ciello malu-malu.
“Trus… Adikmu kesakitan nggak…?”
“Nnnnggg.. Sepertinya sih enggak Paa… Soalnya dia terus aja tidur… Ga nolak sama sekali Paa….”

“Hhmmm… Mungkin karena Clara masih tidur kali ya…? Otot anusnya jadi lemes… jadi bisa nerima sodokan kontolmu begitu aja..?”
“Nggg.. Mungkin sepertinya begitu Paa… ”
“Hahahaha… Berarti… Sekarang anak Papa yang ganteng ini… Udah nggak perjaka lagi dong…?”

“Hehehe…. Nggg…I.. Iya…..” Jawab Ciello dengan wajah yang merah karena malu.
“Hahahaha…. Jadi kalo Papa bisa bilang… Kamu tuh udah ngambil keperawanan anus Adikmu loh…”
“Nggg… Iya ya Paa…”
“Iyalah… Sumpah kamu bikin Papa iri Nak….” Celetuk Mike lirih, “ASTAGAAAHH… Kedua anak kandung Papa udah mulai nakal nih… Udah berani bersetubuh di rumah nih…”

“Nggg… Maaf Paaa…” Ucap Ciello merasa bersalah. Ia lagi-lagi menundukan kepala dan menatap lantai yang ada dibawah kakinya. Emosinya kembali down.
“Udah Udah… Gausah ngerasa bersalah gitu…” Ucap Mike tegas, “Selama kamu bisa bertanggung jawab dengan apa yang kamu lakukan, Papa sih nggak bakal mempermasalahkannya…”
“Nggg.. Iya Paa… Ciello bakal mempertanggung jawabkan semuanya kok… Kalo perlu… Ciello bakal NIKAHIN Clara kalo memang itu resikonya….” Celetuk Ciello dengan wajah bersungguh-sungguh.

“Nikah…?” Kaget Mike
“Iya Paaa…. Ciello cinta amaaa Clara… Ciello sayang ama Clara… Dan kalo Papa ngijinin… Ciello pengen bisa nikahin Clara…”
“Hmmmm… Mungkin hal itu sudah terlalu jauh Nak… ” Selah Mike dengan senyum mengembang lebar.
“Terlalu jauh gimana Paa..? Ciello serius kok…” Ucap Ciello bersemangat.
“Hahahaha…. Iya…. Papa ngerti… Cuman kalo untuk sampe harus menikahi adikmu… Papa harus obrolin dulu dengan Mama kamu…” Ucap Mike sambil mengacak-acak rambut Ciello pelan.

“Ngggg…. Paaa….” Panggil Ciello.
“Yaa Naak…?”
“Nnggg…. Kalo boleh dikata… Papa juga sebenernya beruntung banget loh… ”
“Kok beruntung…?”
“Iyaaa.. Karena Papa punya istri secantik Mama…”
“Hhmmm…. Emang kalo Papa punya istri cantik .. Terus kenapa Nak….?” Pancing Mike
“Yaaaaa… Mama tuh udah cantik… Seksi… Penyayang… Pinter dandan… Dan juga.. Mama jago banget kalo masak… Pokoknya… Mama tuh bener-bener istri yang sempurna deh…” Puji Ciello tanpa henti.

“HAHAHAHA… Bisa aja kamu Nak…” Tawa Mike, “Khan emang semua wanita sperti itu Nak…”
“Tapi Mama tuh beda Paa…”
“Bedanya…?”
“Yaa.. kalo sedang… Nggg… ” Ucap Ciello malu-malu.
“Sedang apa..?” Tanya Mike penasaran.
“Ya …. Kalo ngedenger desahan Mama ketika kalian sedang……Nggg…” Ciello tak berani berkata lebih jauh.

“Ngentot…?” Tanya Mike.
“I… Iya…. ” Jawab Ciello malu-malu, “Kalo kalian sedang begituan… Suara Mama terdengar begitu menggoda Paa… Rasanya bener-bener bikin panas dingin….”
“HAHAHAHA…. Bisa aja kamu Nak…”
“Beneran loh Paa… Pokoknya… Kalo ngedenger suara Mama sedang ngg…Ngentot…. Ciello nggak tahu kenapa… Kok jadi pengen ikutan ngerasain….”‘

Mendengar jawaban spontan Ciello, Mike pun tersenyum lebar.

“Ciello… Panggil Mike pelan, “Walau Papa terlihat tak peduli tentang semua tindak kenakalanmu… Tapi ingat ya Nak… Jaga baik-baik hubunganmu dengan Mama dan Adik kandungmu…. Karena sampai kapanpun… Kita tuh masih keluarga….”
“Iya Paaa… Pasti itu….” Jawab Ciello.
“Dan satu lagi… Berhubung kamu dan Clara sudah mulai mencoba menapaki hal tabu yang tak semua orang mampu menerimanya…. ” Jelas Mike sambil memperlihatkan susunan ibujari yang dijepit oleh telunjuk dan jari tengahnya, “Papa harap kamu jangan pernah menceritakan hal itu… Kepada siapapun juga…. Jadikan itu semua pembelajaran baru….”
“Iya Paa… ” Jawab Ciello yakin, “Papa bisa percayakan hal itu pada Ciello…”
‘BAAAGGUUSSS…… Anak pintar… ”
“Ciello nggak akan ngecewain Papa kok….”
“Hehehe… Iya… Papa yakin kok kamu mampu…”

Lagi-lagi, keduanya terdiam. Tak mengucap sepatah kata apapun.

“Mungkin… Kalo memang besok-besok masih ada kesempatan… Kita bisa bersenang-senang bersama kali ya Nak…?” Ucap Mike iseng.
“Nggg… Bersenang-senang…? ”
“Seru kali ya…. Kalo mungkin entah kapan… Kita bisa tukeran pasangan…”
“Hah…? Maksud Papa…?” Bingung Ciello.
“Iya…Ya gara-gara kamu juga… Sepertinya Mama jadi pengen ngelakuin sesuatu hal yang berbeda…”
“Beda gimana Paa…?”
“Yaaa… Seperti swinger kali ya…?” Celetuk Mike mencoba melempar umpan, “Mungkin Mama pengen ngelihat Papa ngentotin Clara… Dan kamu ngentotin Mama…”
“HAAAHHH…? CIELLO NGEN…NGENTOTIN MAMA…? SE…SEERRIUSS PAA…? BOLEH CIELLO NGENTOTIN MAMA…?”

“Hhhhmmmm… Ya kali aja bisa jadi begitu….Siapa yang nyangka…?”
“Be.. Beneran Papa mau se.. Seperti itu…?”
“HAHAHA… Uda-udah… STOP… Papa cuman becanda aja kok…. HAHAHAHAHA….” Tawa Mike menggelegak, melihat keseriusan putra kandungnya.

“HAHAHAHA…. Muka kamu beneran mupeng banget Nak…” Tawa Mike terpingkal-pingkal.
“Huuu.. Kirain beneran…” Sewot Ciello.
“Hahaha… Segitu pengennya ya kamu ngentotin Mama…”
“Habisan…. Siapa juga yang nolak.. Buat diajak begituan ama Mama…”
“Hahahaha…. Udah ah… Udah….. Papa cuman becanda aja… Nggak usah dibahas lagi ya… ” Seru Mike sambil beranjak dari kursi makannya, “Sekarang kamu buruan mandi gih… Katanya mau jalan… ”
“Eh.. I.. Iya Paa… ”
“Inget Ciello…. Papa mau ingetin kamu sekali lagi ya Nak… Jaga baik-baik Adik dan Mamamu… ” Ucap Mike memperingatkan, “Jangan kesebar… Jangan kecewain Papa… Dan…… ” Tambah Mike yang sengaja tak meneruskan kalimatnya.
“Yaa…..?” Bingung Ciello penasaran, “Dan apa Paa…..?”

“Daaaannn…… Selalu…’Play Safe’…” Jawab Mike sambil mengerlingkan sebelah matanya.
“Selalu Play Safe…?” Tanya Ciello.

Mike tak menjawab. Ia hanya tersenyum dan menganganggukkan kepalanya pelan.

“Jadi Papa ngebolehin………..?”

Dengan senyum yang lebar. Mike meninggalkan Ciello yang terlihat begitu kegirangan dibelakangnya. Ia tahu, jika sebentar lagi, keinginan mesumnya bisa segera terwujud.

Bersama Clara.

loading...
www.sedarahceritasex.com