My Fate My Life Chapter 35

My Fate My Life Chapter 35 -

Pov Radiah

“Hoaamm” aku merenggangkan tubuhku yang montok saat aku baru saja bangun dari tidurku sehingga guling yang kupeluk semalaman terlepas. Biasanya hanya Aji anakku yang kupeluk saat aku tidur namun kali ini ia digantikan oleh benda itu. Kemarin saat pagi Hari Aji dengan terburu buru pamit padaku dan ingin mengunjungi Heru yang saat ini menurut kabar darinya sedang kritis di rumah sakit.

Aku lalu beranjak dari ranjang, dan mulai membersihkan tempat tidurku setelah itu kulakukan aktifitasku setiap hari yaitu membersihkan Rumah, sembari melakukan aktifitasku itu kunyalakan tv.

“3 hari yang lalu seorang pria paruh baya ditemukan tewas dan membusuk dirumahnya di jalan mangga kota Metro. Pria tersebut itu ditemukan tewas berlumuran darah oleh tetangganya dengan beberapa luka tembakan di perut dan dadanya”.

Aku sejenak menghentikan aktifitasku saat mendengar berita yang dibacakan tadi, karna yang kutahu Heru bertempat tinggal didaerah itu. Tayangan ditv lalu berubah menunjukkan rumah tempat korban ditemukan. Aku sejenak terdiam tak menyangka ternyata memang benar rumah Heru dan korban mungkin adalah ayahnya. Siapa yang tega melakukan hal ini.

“Saya waktu itu mau nambah angin motor saya dibengkel punya si bapak H, tapi kok tumben siang kok belum buka makanya saya nyari kedalam rumah eh pas saya cek kok nyium bau busuk dari rumah kirain bau tikus mati tapi pas saya cek ke depan rumah kok nggak ada makanya saya coba masuk ke dalem trus ngeliat ternyata bapak H udah meninggal”, kata seorang pria di tv yang sedang diwawancarai oleh wartawan.

Setelah menonton berita itu akupun kemudian melanjutkan pekerjaanku, sambil berharap kalau Heru baik baik saja karena Heru sudah kuanggap seperti anakku sendiri karna ia begitu dekat dengan Aji seperti saudara, tak jarang saat ia dan Aji masih SMA ia sering menginap di Rumahku, ia pun juga akrab dengan Iman ayah Aji.

Usai melakukan hal itu aku lalu membuat secangkir lemon teh hangat dan sejenak duduk santai di teras depan rumah bermaksud menanti tukang sayur yang biasanya lewat didepan gerbang kosan ini

Aku lalu duduk dan meraih sebuah majalah kemudian membacanya sambil sesekali melihat beberapa penghuni kos yang keluar masuk, tak jarang beberapa lelaki muda yang merupakan penghuni kosan tersebut memandangiku atau lebih tepatnya menatap dengan nafsu kedua payudaraku yang tercetak jelas dibalik kaos ketat yang kupakai.

“Pagi ibu kos cantik”, sapa salah satu lelaki yang disambut tawa beberapa orang temannya mengalihkanku dari aktivitas membacaku.

“Pagi dik, mau nyari sarapan yah”, kataku sambil tersenyum.

“Iya nih tante, tante udah cantik aja pagi pagi gini”.

“Ah gombal kamu”. Jawabku yang disambut dengan ejekan teman teman pemuda itu pada lelaki yang menyapaku.

“Iya tante dia mah bisanya ngegombal”, katanya sambil mendorong lelaki yang memujiku untuk melangkah kedepan.

Aku hanya menggelengkan kepalaku melihat kelakuan mereka. Kuteruskan kesibukanku membaca majalah wanita sambil menyeruput teh lemon hangat yang kusiapkan. Saat asik membaca gosip tentang seorang artis yang tengah heboh di sebuah sosial media tiba tiba suara klakson motor yang berulang ulang terdengar akan melintas didepan Kosan ini. Suara itu adalah suara khas dari tukang sayur langgananku.

Dengan terburu buru kuraih hanphone dan dompetku lalu menuju ke gerbang depan dan menghentikan tukang sayur itu untuk membeli beberapa sayuran.

“Yang biasa yah mang”, kataku pada tukang sayur itu.

“Siap ibu”, katanya sambil memasukkan kol, kentang dan wortel kedalam sebuah plastik.

“Oh iya sekalian terong juga yah mang yang gede kalo ada”, kataku dengan nada genit.

“Ah si ibu, ada kok bu”. Kata tukang sayur itu sambil matanya melirik ke arah dadaku.

“Ya udah nih kembaliannya buat mang aja”, kataku usai membayar. Saat aku akan melewati pos satpam handphoneku berdering, Akupun memutuskan untuk singgah dan mengangkat telfon dari anakku dan berdiri disamping pak Karyo yang sedang merokok didepan pintu Pos.

“Halo nak gimana keadaan Heru?”.

“Heru masih belum siuman bu”.
“Ceritanya gimana nak kok bisa Heru ada di Rumah sakit”. Aji pun lalu memberitahukanku semua yang ia dengar dari cerita Arya.

“Ckck kejam sekali mereka nak, ya semoga Heru bisa segera siuman dan pulih, kira kira siapa yah nak yang ngelakuin kayak gini ke Heru ama ayahnya?”.

“Aji masih belum tau bu, oh iya bu Aji mungkin baru pulang 3 hari lagi yah soalnya ngebantuin keluarga Heru buat ngurus pemakaman bapaknya”.

“Iya nak nggak apa tadi ibu juga udah liat berita tentang bapaknya Heru, hati hati yah kamu disana”.

“Iya bu, Pamit dulu”, kata Aji lalu menutup telfonnya.

“Kasian sekali”, gumamku iba pada Heru.

“Ada apa bu”, tanya pak Karyo membuyarkan lamunanku.

“Ini pak temen Aji masuk rumah sakit”.

“Kasian sekali, dia kecelakaan atau gimana bu?”, tanya pak Karyo. Akupun menceritakan kembali apa yang aku dengar dari Aji tadi padanya.

“Hmm begitu”, kata pak Karyo. Ia lalu terdiam dan nampak berpikir keras.

“Kalo Aji sudah pulang nanti suruh dia sempatkan waktu ketemu dengan saya yah bu”.

“Loh ada apa pak”. Tanyaku penasaran.

“Nggak, ada sesuatu yang mesti saya ceritakan ke dia”, kata pak Karyo sambil tersenyum.

Saat aku hendak meninggalkan pos terdengar suara mobil yang masuk ke area kosan, lalu dari dalam mobil turunlah seorang pria paruh baya yang nampak familiar wajahnya namun aku lupa dimana aku pernah bertemu dengannya.

“Siang pak Karyo, siang bu hmm kayaknya saya pernah ketemu ibu deh”.

“Iya saya juga tapi ketemu dimana yah”.

“Oh iya saya pernah ketemu ibu di acara ulang tahun pernikahan relasi saya”.

“Oh iya hehe ada apa nih pak?”.

“Nggak apa cuma ada urusan sebentar ama pak Karyo”.

“Oh ya sudah saya tinggal dulu yah pak”, kataku lalu pergi meninggalkan mereka.

“Kok ibu nggak ada yah pak di rumah”, samar samar aku mendengar pertanyaan pak Ricky pada pak Karyo. Ibu? Apa maksud pak Ricky, setahuku pak karyo sendirian dalam rumahnya yang terletak tak jauh dari kos kosan ini. Apa yang dimaksud pak Ricky itu istri dari pak Karyo namun setahuku pak Karyo adalah seorang Duda.

Memang begitu banyak kejanggalan pada diri pak Karyo. Pada suatu hari aku juga pernah melihat ada seorang wanita yang mungkin sebaya denganku datang ke pos saat aku tengah menyapu halaman namun kulihat pak Karyo seperti menasehati wanita itu lalu mengantarkannya entah kemana, kemudian dengan cepat ia kembali lagi.

Sejenak kutepiskan segala pikiranku pada pak Karyo lalu masuk kerumah dan lalu melanjutkan aktifitasku. Mungkin selama 3 hari kedepan aku akan sendirian saja dirumah tanpa Aji.

Pov Aji.

Suara isak tangis keluarga dan kerabat ayah Heru mengisi pemakaman tempat dimana aku sekarang berdiri siang ini. Rasa sedih yang amat dalam pasti mereka rasakan mengingat kondisi ayah Heru yang meninggal dengan cara keji seperti itu.

Saat aku tiba di kota ini, aku langsung menghubungi Arya menanyakan Rumah Sakit tempat Heru dirawat. Begitu sampai di Rumah sakit itu aku langsung menuju Ruangan tempat Heru dirawat. Kondisi sahabatku itupun tak bisa dibilang baik, begitu banyak peralatan dokter yang kutaktahu namanya menempel di tubuhnya. Sesaat kemudian barulah datang dan menceritakan semuanya padaku.

Heru ditemukan tergeletak dijalan raya bersimbah darah oleh polisi yang kebetulan lewat bermaksud untuk berpatroli, saat kemudian mereka mendengar suara tembakan dan suara kendaraan yang bertabrakan. Saat mereka datang ke lokasi itu sebuah mobil dengan cepat pergi meninggalkan Heru dan motornya yang rusak berat. Polisi pun kemudian segera membawa Heru lalu mencoba menghubungi seseorang lewat handphone Heru yang berada di saku bajunya untuk mengabarkan keadaan Heru. Beruntung saat itu polisi menghubungi Arya karena melihat di log panggilan dari dia maupun Heru yang berada di handphone Heru. Arya pun langsung segera menuju Rumah sakit dan mengurus segala macam administrasi di rumah sakit.

Arya juga sempat bercerita jika beberapa hari sebelum kejadian itu, Heru memberitahu Arya jika ia terkadang merasa diikuti oleh seseorang sepulang ia bekerja.

“Hiks hiks Heru gimana kondisinya nak Aji”, suara wanita yang merupakan tante dari Heru membuyarkan pikiranku tentang kondisi sahabatku.

“Dia masih koma tante, tapi mudah mudahan dia bisa segera siuman,yang tabah yah tante”. Kataku sambil menepuk pelan bahu wanita itu.”

“Makasih yah nak Aji udah mau bantuin pemakaman ayahnya Heru”.

“Iya tante, om udah saya anggap kayak bapak saya sendiri, nggak perlu berterimakasih”.

Saat aku dan wanita itu sedang berbincang mengenai Heru dan ayahnya juga memberitahukan dimana Heru dirawat, nada dering handphoneku terdengar, kulihat di layar Arya menelfonku.

“Permisi tante”, pamitku pada wanita itu.

“Halo Ar ada apa?”.kataku setelah cukup jauh dari tempat ayah Heru dimakamkan.

“Gimana kondisi Heru ji?”..

“Masih belum siuman Ar, abis dari pemakaman bokapnya gue langsung balik lagi kok ke rumah Sakit”.

“Oh begitu oh iya lo bisa nggak jemput Risma?, katanya dia mau ngejenguk Heru juga”.

“Iya nanti gue jemput lo udah nyampe di kota kembang?”.

“Udah, ini gue lagi di kafe kita, karena pertemuannya disini sih di lantai 2, oh iya tadi pas gue nyampe gue ngeliat cewek yang pernah lo bawa waktu gue nikah, dia barengan ama om om gitu kayaknya bapaknya deh”.

“Hah? Serius!!?”, kataku terkejut mendengar pernyataan Arya.

“Iya serius gue”. Kata Arya dengan sungguh sungguh.

“Hmm Ar gue minta lo jangan omongin tentang gue atau ngasih tau keberadaan gue ama dia yah”.

“Loh kenapa ji?”.

“Nggak apa, tapi gue minta jangan kayak gitu ye bro”.

“Oke deh ya udah gue mau masuk dulu bokap gue udah dari tadi soalnya gue takut nanti malah dia yang keceplosan ngomong kalo lo yang kelola nih kafe”.

“Oke bro”.

“Sip hati hati disana”. Kata Arya yang kemudian mematikan sambungan telfonnya.

Usai dari pemakaman akupun langsung menuju rumah Arya dan Risma, saat aku tiba disana kulihat ibunda risma tengah menggendong cucunya saat aku masuk ke dalam rumahnya. Kulihat anak Arya sudah semakin besar. Ibunda Risma pun menyambutku dan meminta pembantunya yang tadi membukakanku pintu untuk membuatkanku teh.

“Bagaimana kabarmu nak Aji udah lama nggak main kesini”.

“Baik kok tante, tante gimana, Risma kabarnya gimana?”.

“Tante juga baik ama senang sih soalnya bisa main ama cucu tante ini, Risma baik kok, tapi ya gitu kadang masih suka ngelamun sendiri oh iya ada apa nih sampai main kesini.

“Hehe gini kata Arya, Risma pengen ngejenguk Heru tante”.

“Wah ya udah tante panggilin Rismanya dulu”. Sebelum ibunda Risma beranjak meninggalkanku bermaksud memanggil Risma. Risma ternyata sudah datang menghampiri kami dengan memakai dress selutut.

“Nggak usah mah, ayo ji”. Ajak Risma

“Hehe ya udah tante pamit dulu”. Kataku berpamitan.

Kamipun segera menuju rumah sakit tempat heru dirawat, saat kami masuk terlihat dokter yang baru saja ingin keluar dari ruangan itu. Nampaknya ia telah memeriksa kondisi Heru.

“Kasian sekali Heru yah ji”, kata Risma sambil menggenggam tanganku, dengan spontan akupun melepaskannya.

“Iya”, kataku lalu ikut memandangi kondisi sahabatku itu.

“Eh eh ji itu”, kata Risma sambil melihat tangan Heru yang nampak bergerak gerak pelan. Heru dengan perlahan membuka matanya.

“Aji”, kata Heru dengan nada lemah dan mencoba untuk bangun.

“Udah lo tiduran aja, gue panggilin dokter dulu” kataku sambil memencet bel untuk memanggil suster. Saat tiba suster itupun datang dan langsung menghubungi dokter melalui telfon yang ada di meja Heru. Tak lama kemudian dokter yang tadi kulihat keluar dari kamar Heru datang dan kembali memeriksa Heru.

“Kondisinya sudah stabil tapi masih perlu banyak istirahat dan kalau bisa jangan terlalu lama berbicara dengan pasien berikan ia waktu untuk memulihkan tubuhnya”. Kata dokter itu lalu meninggalkan kami.

“Maafin gue Ji”, kata Heru. Aku sungguh heran mengapa ia meminta maaf.

“Hey lo kenapa bangun bangun malah minta maaf, apa yang terjadi sebenarnya pada lo Her”.

“Iya Her, siapa yang ngelakuin ini ke kamu?”, tanya Risma.

“Ini kerjaan si mamat ji, waktu gue pulang kerja gue nemuin bokap gue udah keiket dikursi terus gue dibekep ama salah satu anak buah mamat, mereka nanyain keberadaan elo dan kalo gue nggak… nggak ngasih tau mereka bakalan bunuh bokap gue.”

“Dan lo ngasih tau Her?”, tanyaku.

“Iya gue cuma nyebutin nama kafe tempat lo kerja di kota kembang, maafin gue, gue nyesel ternyata mereka malah tetep bunuh bokap gue, gue udah nyobain ngelawan pas mereka nembakin bokap gue, gue terpaksa kabur ninggalin bokap yang udah meninggal tapi dikejar oleh mereka, sekali lagi maafin gue”.

Aku hanya terdiam, takut jika menyerang kafe atau mencelakai orang orang yang ada disana, tapi mudah mudahan tak seperti itu, mudah mudahan mereka malah pergi ke gedung kafe yang lama.

“Udah tenang aja, bokap lo juga udah dimakamin sekarang pikirin aja kondisi lo, soal rumah sakit biar gue ama Arya yang nanggung, tadi pas gue mau balik ke sini tante lo bilang bakalan datang dan ngejenguk lo”.

“Makasih Ji”.

“Cepat sembuh yah Her”, kata Risma sambil menepuk pelan tangan Heru.

“Sampein rasa terima kasih gue ama Arya yah risma”.

“Iya aku nanti bakalan nyampein kok”.

Kualihkan pembicaraan menanyakan tentang pekerjaan Heru, setelah itu aku meminta heru untuk beristirahat dan pamit untuk mengantarkan Risma untuk pulang. Saat sampai di lobi rumah sakit yang berada di lantai bawah aku bertemu dengan keluarga Heru mereka menanyakan dimana ruangan tempat Heru dirawat. Mereka sangat senang saat kukabarkan jika Heru sudah sadar dari komanya.

“Ji, kita singgah buat makan dulu yah”, kata Risma saat kami berada di tengah perjalanan pulang memakai mobil Risma sementara motorku kutitipkan dirumah Risma. Kuarahkan mobil itu menuju restoran lalu segera turun dari mobil dan masuk kedalam lalu memesan makanan.

“Kamu nginep dimana ji?”. Tanya Risma sambil sesekali menikmati kentang goreng yang ia pesan setelah makan.

“Hmm paling di rumahnya si Adi”. Kataku.

“Kamu nginep di rumah aja yah”, ajak Risma.

“Nggak ah, aku nggak enak ama Arya”.

“Hehe ya udah deh”, kata Risma namun aku dapat melihat raut kekecewaan dari wajahnya.

“Kak Aji”, terdengar suara wanita yang memanggil namaku. Saat aku menoleh kulihat Vita berdiri dibelakangku diikuti oleh ibu Julia.

“Eh, vit, bu”, sapaku.

“Kamu kemana aja ji?”, tanya ibu Julia.

“Mereka siapa ji”, tanya Risma.

“Oh iya kenalin ini ibu julia, dan ini vita”, kataku mengenalkan mereka pada Risma.

“Ibu julia ngapain kesini? Tanyaku mengalihkan pertanyaan julia tadi”.

“Ini nemenin Vita belanja tadi, pas pulangnya singgah sini dulu buat makan”.

“Ih mamah, kok malah vita sih yang dibilang pengen belanja, kan mama yang minta ditemenin tadi”, kata Vita dengan rajukan manja khas darinya.

“Ya udah kami pamit pulang dulu soalnya ada temen temen arisan mau dateng, oh iya Aji tante minta nomer hapemu”. Kata ibu julia sambil menyerahkan handphonenya akupun terpaksa mengetikkan nomer handphoneku.

“Tapi bu saya mohon jangan…..”

“Iya iya saya paham, yuk vit, mari dek Risma mari ji”, kata ibu Julia berpamitan bersama dengan Vita.

“Mereka siapa sih ji?”, tanya Risma penasaran.

Aku lalu menceritakan padanya bahwa aku dulu bekerja pada ibu julia tentu saja tak kuceritakan tentang hubungan sexku dengan mereka.

“Oh begitu, jadi yang tadi itu ibunya cewek yang bareng kamu dateng waktu aku nikah yah. Ya udah yuk pulang”.

Kamipun meninggalkan restoran itu dan segera kembali menuju rumah Risma. Usai mengantarkan Risma aku bermaksud untuk kembali ke rumah sakit. Baru saja aku menaiki motorku sebuah sms dari nomer tak kukenal masuk ke handphoneku.

ntar malem kamu dateng kerumah, Lisa ama ayahnya nggak ada kok ada sesuatu yang mesti aku omongin. Julia

Aku lalu menjalankan motorku usai membaca pesan itu, entah apa yang ibu julia ingin bicarakan padaku.

~MFML~​

Pov Arya.

“Kira kira begitulah rencana kerja sama kita ada yang bapak bapak ingin tanyakan?”, kata Pak Ricky yang sedang duduk disamping ayahku.

“Semua sudah jelas pak”, kata Pak Henry yang berada diseberangku berdampingan dengan anaknya Rio.

Pembicaraan mengenai kerja sama kami memakan waktu selama sejam usai aku dan ayahku berkenalan dengan pak Henry, Rio yang merupakan anaknya, juga pak mustafa dan Lisa. Saat Lisa melihatku ia nampak terkejut namun dengan cepat ia menyembunyikan keterkejutanku saat ayahnya menyadari reaksi dari Lisa. Saat aku mendengar pertama kali Henry berbicara aku merasa cukup familiar dengan suaranya entah dimana aku pernah mendengar suara Pak Henry.

“Ngomong ngomong, tempat ini enak juga, kayaknya bisa jadi referensi buat ngembangin kafe milik anak saya nih pak”, kata pak Mustafa pada ayahku.

“Hehe kafe ini sebenarnya milik anak saya tapi dikelola oleh temannya. Awalnya nggak sebesar ini tapi berkat bantuan temannya itu”. Kata ayahku.

“Wah hebat sekali temannya itu, pak”, kata pak Mustafa.

“Oh iya saya dengar dari pak Ricky tadi katanya anak pak mustafa dan pak Henry akan dinikahkan kapan itu pak?”, tanya ayahku. Aku terkejut karena tak mengetahui hal itu. Mungkin saja pak Ricky memberitahukan pada ayahku saat aku menelfon Aji. Pantas saja Aji tak ingin aku memberitahukan tentangnya pada mereka.

“Hehe iya nih pak masih direncanain buat pertunangan mereka mungkin sebelum Lisa berangkat KKN di kota Ini”. Kata pak mustafa.

“Oh begitu semoga dilancarkan pak”, kata ayahku

“Haha semoga pak”, kata Pak Henry dengan semangat sambil menepuk bahu Rio.

“Ya sudah nampaknya saya mesti pamit dulu nih bapak bapak, soalnya masih ada urusan”, kata pak Ricky.

“Kamipun juga, Rio ajak Lisa jalan jalan”, kata Pak Henry.

“Iya kamu jalan ama Rio aja yah Lis”, sambung pak Mustafa.

Merekapun satu persatu turun dari lantai 2, saat aku akan meninggalkan kursiku. Kulihat Lisa nampak berbicara dengan Rio sebentar. Rio pun lalu berjalan meninggalkan Lisa. Kini tinggal aku berdua dengan Lisa.

“Arya, Aji ada dimana?”, tanya Lisa.

“Gue nggak tau lis”, kataku berbohong.

“Jangan bohong Ar, jangan jangan yang bantuin kamu kelola kafe ini pasti Aji kan”.

“Bukan kok Lis, yang kelola kafe ini namanya Rangga bukan Aji”, kataku berbohong untuk ke 2 kalinya. “Udah mending kamu turun deh, kasian calon suami kamu nungguin”. Kataku sambil melangkah meninggalkan lisa yang mengikutiku dibelakang.

Saat aku turun dan melihat meja kasir kulihat Vina sedang memikirkan sesuatu. Aku tak melihat Ada Rika disana. Aku lalu menghampiri Vina.

“Hei ngelamun aja”, kataku.

“Eh kamu Ar, hehe”.

“Oh iya Rika mana?”. Tanyaku sambil menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Rika.

“Dia sakit Ar, gara gara hujan hujanan pas pulang 2 hari yang lalu”.

“Oh ngomong ngomong lo kenapa kok kayak ada yang dipikirin gitu”.

“Hehe nggak apa apa Ar”, kata Vina dengan senyum yang seperti dipaksakan.

“Ya udah gue nemenin bokap gue dulu”, kataku lalu meninggalkan Vina.

Aku lalu menuju parkiran dimana ayahku sudah duduk diatas mobil menungguku. Sementara itu kulihat Lisa dan Rio menaiki mobil lain, aku melihat pula pak Henry dan pak Ricky sedang membicarakan sesuatu, sesekali pak Henry tertawa entah apa yang mereka bicarakan.

“Kita kemana nih pah”, tanyaku saat aku sudah berada di dalam mobil.

“Anterin aja papah ke hotel, papah mau istirahat”. Aku pun mulai menjalankan mobilku meninggalkan kafe yang dikelola oleh Aji itu

www.sedarahceritasex.com