Home » Cerita Seks Mama Anak » My Fate My Life Chapter 33

My Fate My Life Chapter 33

Pov Arya.

“Bu saya mau pergi ke kota kembang nemuin Aji nanti jam 10an”, kataku pada ibunda Risma yang menginap dirumah kami sambil menjaga anakku dan juga Risma pagi ini, yah risma istriku sejak kasus penculikan yang menimpanya ia mengalami trauma psikis, ia kini lebih banyak murung dan terkadang menangis sendiri, mungkin ia mengingat kembali saat ia “dipakai” beramai ramai oleh para komplotan preman itu selama beberapa hari berturut turut, saat ia melihatku ia bahkan menangis lebih keras sambil mengucapkan maaf, ia mungkin merasa bersalah akibat perlakuan para penjahat itu yang menyetubuhinya berulang ulang kali dihadapanku.

“Iya nak hati hati yah, kalo bisa cepat kembali lagi yah”, kata ibunda Risma.

“Iya bu paling besok malam saya sudah pulang lagi kesini, Risma udah makan belum bu?”.

“Belum tuh nak, kamu suruh makan gih”.

“Iya bu”, kataku lalu menuju kamar risma meninggalkan mertuaku itu yang tengah menggendong anakku sambil memberi susu formula ke anakku. Sesampainya dikamar kulihat Risma hanya duduk termenung menatap kosong ke depan.

“Sayang makan dulu”,Kataku pada Risma sambil mencoba meraih makanan yang ada disampingnya dan lalu berancang ancang menyuapinya.

“Ar, maafin aku ar, hiks maafin aku”, isak Risma dan mengabaikan makanan yang ada dihadapannya.

“Iya aku maafin, sekarang makan dulu yah sayang, kejadian yang lalu nggak usah terlalu diinget, aku tau apa yang kamu alami pasti meninggalkan kesan buruk, tapi kita harus menatap kedepan anggap aja yang lalu adalah musibah buat kita. Sekarang makan dulu yah”.
Risma hanya mengangguk lalu membuka mulutnya, aku kemudian menyuapinya, sesekali kuseka sisa makanan yang menempel di pipinya. Sungguh kasian aku melihatnya, akibat musibah 6 bulan lalu, ia kadang takut harus bertemu dengan laki laki asing, sehingga ia hanya mengurung diri dikamar.

Setelah makanan yang ada didalam piring habis, aku lalu membantunya minum dan kemudian duduk disampingnya sambil memeluk tubuhnya, ia menyandarkan kepalanya didadaku dan mendekapku erat.

“Jangan mengurung diri terus yah sayang”, kataku sambil mencium ubun ubunnya.

“Kamu mau kemana?”.

“Aku mau ketemu ama Aji dulu, ntar malem mungkin udah pulang lagi kesini”.

“Iya, jangan lama lama yah aku takut tidur sendiri”.kata Risma sambil mendekap tubuhku makin erat.

“Iya nggak akan lama kok, kamu jangan murung terus yah sayang, kasihan anak kita, kasihan ibu kamu”,

“Iya sayang”, kata Risma lalu mencoba tersenyum.

“Ya sudah aku pergi dulu, takut kemalaman sampainya nanti”.

Aku lalu segera berdiri dan meninggalkan risma setelah mencium keningnya, aku lalu masuk ke mobilku yang telah kupanaskan setengah jam yang lalu dan segera memacunya menuju kota kembang, semoga saja kondisi jalanan tak macet seperti biasanya.
Hari ini aku akan meresmikan sebuah gedung kafe baru yang lebih luas dari kafe yang sebelumnya dikelola Aji, kali ini kafe itu tepat berada di sekitar pusat kota. Aku sangat senang Aji bisa mengelola kafe milikku dengan baik hingga bisa sampai seperti ini. Entah sudah tak terhitung banyaknya Aji membantuku semenjak kami mulai berteman.

Kunyalakan rokokku sembari menyetir melintasi jalanan lintas kota yang cukup padat namun tetap lancar ini, sembari menyalakan mp3 yang ada dimobilku memutarkan lagu lagu Slank favoritku

***

Tak terasa sudah 2 setengah jam aku menyetir, kuparkirkan mobilku dipelataran parkir yang cukup luas didepan pintu masuk kafe berlantai 2 yang cukup luas ini. Kulihat keberadaan beberapa karyawan kafe milikku yang telah berdiri didepan pintu dan menyambut kedatanganku.

“Aji udah dateng?”, tanyaku pada salah satu karyawan.

“Belum pak”, jawab orang itu.

Aku kemudian sejenak berbincang dengan beberapa karyawan mengenai kepimpinan Aji. Kebanyakan mereka menjawab bahwa Aji pemimpin yang cukup tegas namun masih tetap demokratis, misal jika ada karyawannya yang terlambat tanpa ada satu alasan yang jelas ia akan menghukum orang itu membersihkan kafe sendirian sebelum kafe tutup, namun jika alasannya ada dan logis serta karna suatu hal yang memang menyebabkan karyawan itu terlambat, maka ia akan memaafkan dan tidak menghukum karyawan itu.

Saat aku asik berbincang dengan beberapa karyawan, seseorang menepuk bahuku, ternyata Rika yang saat itu terlihat cantik dengan baju kaos ketat dan rok jeans yang sedikit diatas lutut sedang tersenyum dibelakangku.

“Halo pak bos besar apa kabar hihihi”

“Haha lo ka gue kira siapa, baik kok, oh iya Aji ama Vina mana yah ka kok belom muncul?”, tanyaku.

“Tadi mereka ada sih dibelakangku pas perjalanan mau kesini, mungkin singgah dulu pacaran kali hihi”.

“Hah? Mereka berdua jadian?”, tanyaku kaget.

“Haha nggak kok, tapi mudah mudahan sih begitu hahah”. Kata Rika sambil tertawa.

“Yee gue kira seriusan”.

Selang tak lama Aji muncul bersama dengan Vina, mereka kemudian menghampiriku yang sedang bercakap cakap dengan Rika.

“Nah ini dia nih yang ditunggu tunggu”. Kataku sambil menjabat tangan Aji.

“Sorry bro, macet tadi, sekalian ngurusin katering buat makan makan kita,. Kata Aji.

“Halah bohong banget buktinya aku sampe duluan, nggak ada macet tuh, palingan kalian pacaran dulu kan wee”, kata Rika sambil memeletkan lidahnya pada Aji.

“Ih apaan sih ka, orang beneran macet, ama ngurus katering tuh mobil pengantarnya baru muncul”, kata Vina yang tersipu malu sambil mencubit pinggang Rika dan menunjuk pada sebuah mobil box

“Aww sakit tau”, kata rika sambil meringis kesakitan.

“Udah udah, panas nih yok masuk, eh mana tadi gunting yang buat motong pitanya”, kataku pada salah satu karyawan.

“Ini pak”, kata karyawan itu menyerahkan sebuah gunting untuk memotong pita yang melintang didepan pintu masuk. Kami lalu bersama sama berjalan menuju kedepan kafe yang berlantai 2 ini.

“Semoga dengan gedung kafe yang baru ini, usaha kita makin maju, dan makin laris juga makin banyak pengunjung”, kataku sambil berancang ancang memotong pita.

“Aamiin”, ucap Aji, Rika dan Vina serta beberapa karyawan yang berdiri dibelakangku.

“Prok prok prok, suara riuh tepuk tangan mereka usai aku memotong pita itu.

Kami lalu masuk sambil membawa beberapa box kue juga sebuah nasi tumpeng serta lauknya dan juga beberapa minuman yang telah dipesan Aji pada sebuah katering makanan. Setelah itu acara dilanjutkan dengan pemotongan nasi tumpeng dan lalu makan bersama. Usai makan aku dan Aji keluar dari kafe tersebut dan bermaksud untuk ngerokok, sambil merokok aku dan Aji kemudian saling berbincang.

“Ar, gue pengen beli kafe ini dari lo”, kata Aji sambil memainkan batang rokok dijarinya.

“Lah buat apa dibeli kan kafe ini lo yang kelola ji”.

“Hmm gue ngerasa nggak enak aja, kafe ini lo yang punya tapi lo serahin kepengurusan ama gue”.

“Ya nggak apa kali ji, buktinya kafenya sukses kan dan juga makin laris, gue ikhlas kok nyerahin kafe ini ke lo, tanpa lo harus beli, udah nggak usah ngerasa nggak enak segala ye”, kataku sambil menepuk bahu Aji pelan.

“Hehe, ngomong ngomong Risma gimana Ar?”,

“Ya gitulah ji, secara fisik dia udah sehat, tapi dia masih trauma ama kejadian kemarin, pernah suatu hari gue pengen ajakin dia buat ML tapi dia malah ngeronta ronta, seakan gue mau perkosa dia, entahlah ji mungkin Risma butuh bantuan psikolog”.

“Mudah mudahan Risma cepet sembuh deh Ar”.

“Aaminn mudah mudahan Ji, ya udah yok masuk masa anak buahnya didalem, pak bosnya diluar”, ajakku pada Aji.

“Nah ini dia, ji nyanyi dong ji sekalian cobain gitar baru tuh”, kata Rika sesaat setelah kami sampai didalam.

“Wah bener tuh, udah lama gue nggak denger lo nyanyi, nyanyi gih”, kataku pada Aji.

“Iya dah”, kata Aji lalu iapun menuju ke panggung yang ada tak jauh dari kami. Sementara aku bergabung bersama Rika dan Vina duduk dikursi pelanggan.

***
POV Vina.

“Hei ngelamun mulu”, kata Rika sambil melambai lambaikan telapak tangannya didepan wajahku saat aku asik melihat Aji yang nampak serius menyetem gitar akustik berwarna coklat.

“Apa sih, nggak ngelamun kok ka”,

“Iya nggak ngelamun tapi serius ngeliatin Aji iya kan hihi”, kata rika yang duduk disebelahku sambil menyenggol bahuku pelan.

“Haha sampai segitunya lo vin ke temen gue, ngeliatnya ampe nggak berkedip”, kata Arya yang juga duduk disampingku.
Aku hanya diam sambil tersenyum kecil menanggapi kata katanya.

“Eh eh, si Aji pas SMA gimana sih, apa dia playboy apa gimana?”, tanya Rika pada Arya, akupun juga sebenarnya penasaran seperti apa Aji saat SMA apakah ia memiliki banyak pacar atau tidak.

“Hahhahhhah”, tawa Arya terbahak bahak membuat kami kebingungan.

“Kok ketawa sih Ar, apanya yang lucu?” Tanyaku pada Arya.

“Hehe maaf maaf, soalnya Aji pas SMA Aji cupu soal cewek, jangankan pacaran, ngobrol ama cewek aja grogian orangnya.

“Hah? Masa?”, kata Rika semakin penasaran.

“Iya, dia pas SMA cuma pacaran sekali ya ama Risma”.

“Tunggu dulu Ar, jangan bilang Risma istrimu?”, tanyaku membuat Arya sejenak terdiam lalu tersenyum kecil.

“Iya, mantan Aji sekarang udah jadi istriku”.

“Kok lo jahat banget sih Ar, jangan jangan lo nikung Aji yah, tega lo Ar”, kata Rika yang terlihat sebal disampingku.

“Ceritanya panjang ka, dan gue nggak enak ngomongin masalah ini, yang jelas, Aji cowok yang baik kok, pas Sma dia juga bukan type cowok yang suka maenin cewek, eh lihat tuh Aji udah mau nyanyi”. Kata Arya sambil menggerakkan kepalanya menunjuk Aji yang tengah duduk diatas panggung.

“Siang semua hmm izinin gue nyanyi sebuah lagu yah, semoga suka”, kata Aji dan mulai memainkan sebuah intro lagu dengan gitarnya.

Saat ku tenggelam dalam sendu

Waktupun enggan untuk berlalu

Kuberjanji tuk menutup pintu hatiku

Entah untuk siapapun itu

Semakin kulihat masa lalu

Semakin hatiku tak menentu

Tetapi satu sinar terangi jiwaku

Saat kumelihat senyummu

Suara Aji yang menyanyikan lagu “lebih indah” membuat suasana canda tawa beberapa karyawan menjadi hening mereka nampak dengan tenang menyaksikan Aji yang tengah bernyanyi. Aku tak tau tapi mengapa aku merasakan bahwa lagu itu untukku, kulirik Rika disampingku ikut bernyanyi dengan suara perlahan.

Dan kau hadir merubah segalanya

Menjadi lebih indah

Kau bawa cintaku setinggi angkasa

Membuatku merasa sempurna

Dan membuatku utuh

Tuk menjalani hidup

Berdua denganmu selama lamanya,

kaulah yang terbaik untukku.

Saat Aji menyanyikan reff lagu itu, aku dan dia saling bertatapan, mungkin wajahku yang bersemu merah saat bertatapan dengannya pasti terlihat olehnya, jantungku seakan berdetak lebih cepat, Aji serasa menyanyikan lagu itu hanya untukku.

Kaulah yang terbaik untukku

Ajipun menyelesaikan lagunya, tak lama kemudian Akupun disuruh oleh Arya untuk ikut bernyanyi bersama Aji membuat Riuh karyawan karyawan lain, acara peresmian kafe baru milik Ajipun diisi dengan acara bernyanyi hingga petang menjelang.

“Eh udah sore nih, gue mesti balik dulu yah”, kata Arya yang beranjak berdiri dari kursi.

“Ya udah salam ama Risma yah”, kata Aji sambil menyalami Arya

“Iya, maenlah ke rumah gue kalo lo nggak sibuk yah, Vin, Rika, pamit dulu yah”.

“Hati hati yah Ar”, kataku sambil menyambut jabatan tangan Arya.

Tak lama setelah Arya pulang, Aji lalu membuka diskusi mengenai kafe yang akan dibuka besok, membahas mengenai masalah pekerjaan, dan juga penggajihan serta jadwal off buat karyawannya. Setelah itu kamipun membubarkan diri.

“Vin aku pulang duluan yah”, kata Rika lalu kemudian berlalu dengan motornya.

“Hmm Vin, kita nggak ke kosan kamu dulu yah”, kata Aji setelah memakaikanku helm dan mengunci tali pengamannya dileherku. Perlakuan kecil seperti inilah yang membuat rasa sukaku pada Aji semakin besar.

“Kita mau kemana ji?”, tanyaku penasaran.

“Udah naik aja aku mau bawa kamu ke suatu tempat”, kata Aji yang sedang duduk diatas motornya, akupun lalu ikut naik dan langsung mendekap erat punggung Aji.

“Hehe jangan kekencengan dong, aku nggak kemana mana kok”,

“Hihi apaan sih kamu, udah yuk jalan bang”,

“Enak aja bang, emangnya aku tukang ojek”, canda Aji lalu segera menjalankan motornya. Aku hanya tersenyum sambil menyandarkan kepalaku dipunggung Aji.

Entah berapa lama kami diperjalanan, sampailah kami disebuah bukit yang berada dipinggiran kota, nampak banyak penjual jagung dan sate yang ada disekitaran kawasan itu, beberapa pasangan pria dan wanita nampak asik berpacaran sambil menikmati jagung bakar, saat aku turun dari motor dan memandangi daerah itu, nampak dibawah kerlap kerlip lampu kota kembang di awal malam menghiasi dan nampak indah dimataku, aku tak tau apa tujuan Aji membawaku kesini.

“Kamu mau jagung nggak?”, kata Aji menawarkan makanan padaku.

“Hmm boleh deh”, kataku sambil berdiri didekat sebuah pembatas yang ada disisi puncak bukit itu. Aji lalu meninggalkanku dan menuju ke salah satu penjaja jagung yang ada disana. Sementara aku menikmati indahnya malam sambil melihat kilatan cahaya lampu kota.

“Nih Vin jagung ama minumnya”, kata Aji sambil memberikanku jagung dan sebuah teh botol, kami lalu saling berbincang sambil sesekali memakan jagung bakar hangat yang ada disana.

“Haha, rika ampe segitunya vin”, tawa Aji saat aku membicarakan kekonyolan Rika saat dikost pada suatu hari, saat ia lupa menaruh kacamatanya yang ternyata bertengger diatas kepalanya.

“Iya, itu anak pelupa banget haha”, kataku sambil membuang sisa jagung yang telah habis kumakan.

“Hmm vin, pake jaket ini malam semakin dingin”, kata Aji sambil menyerahkan jaket jeans yang ia pakai menutupi badanku yang hanya memakai kaos putih ketat dan jeans biru tua.

“Makasih ji”, kataku sambil tersenyum menatap Aji.

“Hmm vin, aku mau ngomong sesuatu”, kata Aji sambil membalikan badannya menghadap padaku.

“Hihi ngomong aja Ji, serius amat”.

“Vin, aku aku, hngg aku”, kata aji dengan terbata bata.

“Aku aku mulu, kamu kenapa ji”, kataku.

“Aku suka sama kamu vin, hmm mau nggak kamu jadi pacarku”, kata aji yang terlihat lega setelah mengatakan hal itu, berbanding terbalik denganku yang jelas kaget, aku tak menyangka Aji akan menyatakan ini padaku.

“Vin, kok diem kamu nggak mau yah hehe maaf yah hmm anu lupain aja kata kataku tadi”, kata aji sambil menggaruk kepalanya dan tertawa tak enak.

“Kamu serius dengan apa yang kamu bilang Ji?”, aku bertanya, aku takut aku salah mendengar apa yang aji ucapkan tadi.

“Iya vin aku serius, tapi kalo kamu memang nggak mau, nggak apa,rasa suka nggak bisa dipaksain kan hehe”,

“Darimana kamu tau aku mau atau nggak mau sementara aku belum jawab ji”, kataku sambil menatap matanya dalam dalam.

“Hmm iya juga sih, ah aku memang paling nggak bisa kalo masalah ginian hehe”, kata aji sambil memijat kepalanya pelan.

“Aku nggak mau ji”, kataku yang membuat sontak aji yang menunduk sambil memegangi kepalanya menatapku kembali.

“Iya aku tau kok kalo…”

“Aku belum selesai ji”, kataku sambil menarik tangan aji mendekatkan tubuhnya ke tubuhku dan lalu memeluknya.

“Aku nggak mau ji, aku nggak mau nolak, aku juga suka dan sayang banget ama kamu”, kataku dengan memeluknya eratnya, kepalaku kusandarkan pada dadanya.

“Jadi kamu mau vin?”, kata aji yang melepas pelukanku dan memegangi kedua bahuku, aku hanya mengangguk saja. Aji lalu kembali memelukku erat, airmata bahagiaku mengalir perlahan, rasa sukaku pada Aji ternyata berbalas.

“Hei kok kamu nangis sih Vin”,

“Hehe udah, panggil aku sayang Ji,”.

“Jangan nangis yah sayang”, kata Aji sambil menyeka airmataku yang semakin deras, mendengar Aji memanggilku dengan sebutan sayang.

“Hei kok makin deres sih nangisnya, jelek loh kalo kamu nangis”.

“Jahat ih, hiks, pacar sendiri dikatain jelek”, kataku sambil mencubit aji membuatnya meringis kesakitan.

“Hehe maaf sayang, ya udah yuk aku anterin ke kosanmu”, kata Aji sambil berjalan meninggalkanku.

“Iiih ajiiii”, panggilku.

“Napa vin”.

“Gendong”, kataku dengan nada manja. Membuat Aji tertawa.

“Haha ya ampun, baru juga jadian udah disuruh gendong”.

“Cepet ih, kalo nggak mau aku nggak mau pulang”.

“Hehe iya deh iya, naik gih”, kata aji sambil berjongkok memunggungiku. Aku sambil tersenyum lalu menyandarkan tubuhku dipunggungnya, beberapa pasang mata memandangiku dan Aji yang menggendongku menuju motornya yang terparkir cukup jauh dari tempat kami tadi.

“Yuk pulang”, kataku sambil memakai helmku. Sementara Aji terlihat kelelahan.

“Hosh hosh, bentar ambil nafas dulu vin”.

“Hihi maaf yah sayang kamu capek yah nanti aku pijitin deh dikosanku”, kataku sambil mengerling nakal pada Aji.

“Haha nggak usah ah,ya udah yuk”, kata Aji sambil meraih helmnya dan memakainya. Kami lalu meninggalkan kawasan itu, tempat itu akan kukenang dalam hidupku, menjadi salah satu tempat moment indahku.

***

Sesampainya di depan kamarku aku lalu menarik Aji masuk, dan menyuruhnya duduk.

“Aku pulang aja vin, kasihan ibuku dirumah sendirian”.

“Hmm emang nggak boleh nginep disini yah sayang semalem aja plis yah yah”.

“Aku nggak enak sayang ama ibuku”.

“Hmm bentar, aku nelfon ibu kamu dulu”.

“Loh vin darimana kamu tau nomer ibuku”. Tanya Aji.

“Hihi udah ah kamu tenang aja, halo tante ini vina”, kataku saat telfonku dijawab oleh ibu Dyah.

“Eh nak Vina, Aji mana yah nak jam segini kok belum pulang dia”.

“Hmm begini tante, Aji lagi sama aku nih, aku takut ditinggal sendirian soalnya winda ama Rika nggak ada tante apa Aji boleh nginep nggak tante.

“Haha ya sudah deh, Anak tante jangan diapa apain yah”, kata Ibu Dyah diseberang sana.

“Ji kata ibumu kamu boleh nginep hihi”, kataku pada Aji.

“Hah? Sini coba aku bicara ama ibu”, kata Aji, aku lalu menyerahkan handphoneku dan membiarkan Aji berbicara dengan ibunya.

“Halo bu… Aji pulang aja bu kasian ibu sendirian.. ibu apaan sih udah Aji pulang aja… iya iya deh bu, ya sudah bu, met tidur”, begitulah sekilas percakapan Aji dengan ibunya aku tak tau apa yang mereka bicarakan.

“Gimana sayang dibolehinkan? Hihi”.

“Hehe iya vin”, kata Aji sambil tersenyum.

“Ya udah tunggu bentar mau ganti baju dulu yah, apa aku ganti baju disini aja lagian kan kamu udah pernah liat aku telanjang pas bantuin aku dulu”, godaku.

“Haha jangan Vin ya udah aku keluar deh”, kata aji sambil berjalan keluar dari kamarku.

“Eits kemariin kunci motornya, nanti kamu pergi lagi”.

“Haha sial, nih takut amat ditinggalin”, kata Aji sambil menyerahkan kunci motornya lalu keluar dari kamarku dan menutup pintu. Aku lalu segera mengganti bajuku dengan sebuah baju tidur berwarna pink dari kain yang halus dan cukup transparan dan hanya memakai gstring berwarna hitam yang cukup kontras. Aku lalu membukakan pintu kamarku, sejenak Aji terdiam melihatku yang berpenampilan cukup sexy.

“Udah jangan bengong gitu sayang ayo masuk”, kataku sambil menarik Aji masuk lalu mengunci pintu.

“Aku hnm aku tidur dikarpet aja yah Vin”, kata Aji lalu mengambil sebuah bantal dan menaruhnya didekat ranjangku.

“Diatas sini dong sayang, nanti badan kamu sakit loh tidur dilantai”.

“Nggak usah aku dibawah aja”, kata Aji yang bersiap merebahkan dirinya, sementara aku duduk diatas ranjang.

“Ya udah aku bobonya disamping kamu aja”, kataku sambil membawa sebuah bantal.

“Ya udah jangan, nanti kamu sakit lagi, iya aku diatas”, kata Aji dan berbaring disampingku dengan masih memakai celana jeans hitam dan baju kaos merahnya.

“Nah gitu dong, tau nggak hari ini aku senang banget”, kataku yang berbaring disamping Aji sambil memeluknya.

“Senang kenapa vin”, tanya Aji sambil membelai rambutku.

“Hehe ada deh, ji makasih yah buat malam ini”, kataku sambil mempererat pelukanku.

“Aku yang makasih karna kamu udah mau jadi pacarku vin”,

“Biarin gini yah aku mau tidur sambil meluk kamu”, kataku manja.

“Hehe iya iya”, kata Aji sambil menowel hidungku pelan dengan tangan kirinya.
Aku mulai memejamkan mataku, hari ini hari yang sangat indah bagiku, jika memang ini mimpi aku tak ingin terbangun, aku ingin selalu berada disisi Aji. Dengan belaian Aji dirambutku, aku mulai merasa rasa kantukku makin kuat dan lalu tertidur dengan memeluk pujaan hatiku.

Pov Henry.

“Ough pak ohh ahh kontolnya ah, sodokin terus pak”.

“Dasar sekertaris binal, istri pelacur rasain nih lonte”.

“Aghhh ahh pak enak pakk, iya pak saya pelacurnya bapak ah ahghh ah remes toketku pak”.

“Hahah gila juga ini cewek bos siapa sih dia”.

“Dia sekertarisku di kantor mat”.

Malam ini sekertarisku kembali datang dirumahku beralasan pada suaminya bahwa ada kerjaan yang harus dikerjakan, padahal ia tak tau jika istrinya yang montok ini tengah menikmati batang beruratku. Ia yang tengah telanjang bulat tengah memompakan memeknya yang tembem mengeluar masukkan kontolku yang menghujam hujam rahimnya yang tengah hamil Anakku yang kandungannya berusia 2 bulan.
Didepanku mamat dan beberapa Anak buahnya tengah duduk disofa, sementara anakku ryo tengah pergi ke kota lain membahas masalah perusahaan bersama Mustafa. Mamat dan anak buahnya datang saat aku tengah asik menikmati kuluman wanita itu pada kontolku beberapa saat yang lalu.

“Bentar ya mat, nih lonte gue puasin dulu”.

“Haha santai bos asal kita kita bisa juga nikmatin cewek bos ini, setuju nggak anak anak”, kata mamat pada anak buahnya.

“Hooahh setuju banget bos, toketnya gede banget tuh cewek ngaceng gue biar dikata dia udah ibu ibu juga”, kata salah satu anak buah mamat.

“Oughh pak ahh nggak kuat pak, memek saya mau muncrat pak ahh ahh ahh”.

“Keluarin lonte keluarin”.

“Aghhh pak keluaarrr oughhhh”, kata sekertarisku itu.

“Haha ampe muncrat gitu bos memeknya”, kata salah satu anak buah mamat melihat sekertarisku terkencing kencing karna orgasmenya.

“Ayo sekarang nungging cepetan”, perintahku pada wanita itu.

“Plak, plak”, suara tamparanku pada bokongnya sambil berdiri dibelakang wanita itu yang menungging diatas sofa”.

“Masukin pak, pejuhin anak kita”,

“Biar lo nggak ngomong lonte bakalan gue pejuhin pasti”, kataku sambil memasukan kontolku dan menggenjotnya dengan liar, iapun tak mau kalah dengan ikut menggerakan pantat besarnya maju mundur.

“Agghh nikmat bener nih memek apa memek si Julia gini juga nggak yah sshh”, ceracauku membayangkan istri mustava itu.

“Ahh ahh pak ahh nggak tahan pak, aku mau pejuhmu pak, semprotin ke rahimku.

“Agghh sial, rasain nih ahhh”, teriakku karna tak tahan menggenjot wanita ini sambil membayangkan jika Julia lah yang tengah kusetubuhi.

“Ahhhh anget pak pejuhnya ahh keluarr lagii”, kata wanita itu, kepalanya menengadah, punggungnya melenting, bagian dalam memeknya seakan menyedot dan memijat kontolku yang tengah memuntahkan pejuh yang begitu banyak. Aku lalu mencabut penisku dan meminta wanita itu membersihkan kontolku. Setelah itu kupakai kembali celanaku yang menggantung dimata kakiku dan duduk disamping wanita itu yang ikut duduk mengangkang memperlihatkan memeknya yang penuh dengan pejuhku pada Mamat dan anak buahnya.

“Wuidih nikmat banget pasti tadi bos”, kata Mamat.

“Alah nanti lo rasain kok, ada apa lo semua kerumah gue”.

“Hmm gini bos, gue cuma mau ngelapor kalo salah satu anak buah gue ngeliat si kribo bos”.

“Kribo? Kribo siape mat?”.

“Itu bos, temennya anak muda kemaren yang bikin tangan gue patah”.

“Ya udah trus apa masalahnya buat gue”.

“Hehe biasa bos butuh dana, buat

“operasi”, hehe” Kata mamat sambil menyeringai.

“Alah ya udah, maen bersih ye gue tau lo pasti bakalan matiin tuh anak, ingat ada apa apa jangan bawa nama gue oke?”.

“Siap bos”, kata Mamat.

“Ya udah nih duitnya, mendingan lo pada pergi deh gue masih pengen ngentot nih”.

“Loh nggak jadi kah bos kami kami nyicipin pereknya bos”.

“Udah dikasih duit juga, ke rumah pelacuran gue aja napa kalian mau ngentot disana pan gratis, lagian banyak cewek cewek barukan disana?”.

“Yah kejauhan bos kalo mesti ke kota kembang segala yah bos yah”, mohon Mamat.

“Ya udah pake dah”, dan malam itupun rumahku menjadi saksi bagaimana sekertarisku digilir oleh Aku, Mamat dan anak anak buahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*