Home » Cerita Seks Mama Anak » My Fate My Life Chapter 32

My Fate My Life Chapter 32

Pov AJi

“Oughh sshh ah nak”
Desahan ibuku makin keras ketika aku mulai menggenjotnya dari atas. Tangannya memeluk punggungku yang berkeringat akibat pertempuran kami diatas ranjang selama satu jam lebih. Ia terkadang menjulurkan lidahnya memintaku untuk menjilat dan mengulum lidahnya sementara tanganku asik meremasi payudara besarnya yang berguncang hebat akibat hujaman penisku yang menumbuki vaginanya yang tembem.

“Mmppphh sllurrpp”, suara jilatan dan ciuman kami saat aku memompa tubuhnya begitu cepat, kurasakan batang 18 centiku akan kembali menyirami vagina ibuku.

“Ohhh trus sayang yang kencang oughh uhhh”.

“Ahhh ajii nggak tahan bu, ahhh”, pekikku saat aku mengeluarkan begitu banyak spermaku kedalam tubuh Dyah, ibu kandungku.

“Ohh banyakk bangett nakk..ahhh ibu kelluar sayaanngg”, ibu kembali meraih orgasmenya yang ke 5 kalinya.

Dalam beberapa saat aku mendiamkan penisku meresapi vagina ibuku yang berdenyut denyut bagai memijat dan menghisap penisku. Peluhku menetes membasahi tubuh ibuku yang putih dan montok dibawahku, nafasnya tersengal akibat pencapaian puncak kenikmatan yang ia raih. Secara perlahan peniskupun mengecil dan kucabut dari surga kenikmatan ibuku lalu aku berbaring disamping tubuhnya yang berkeringat namun tetap saja wangi itu.

“Makin lama hosh kamu makin jago sayang ibu kewalahan”, puji ibuku sambil mencium pipiku. Aku hanya tersenyum sembari mengelus kepalanya yang terbungkus jilbab pink yang tak ia lepaskan sejak awal persetubuhan kami. Ibu lalu melepas jilbab itu dan menaruhnya disamping kiri tubuhnya lalu kembali memelukku.

“Besok jadi ngeliat lokasi kafe yang baru sayang?”, tanya ibuku.

“Iya bu, besok ama Arya berangkatnya katanya sih besok siang baru dia sampe kesini”.

“Hmm risma gimana?, apa dia udah pulih?”, tanya ibuku.

“Belum bu ya dia masih sama seperti 6 bulan yang lalu kata Arya”.

“Kasihan yah dia sesekali jenguklah dia”, kata ibuku sambil mengelus pipiku.

“Iya bu, Aji sibuk soalnya nanti kalo ada kesempatan Aji bakal tengokin Risma”.

“Ya udah ibu tidur duluan yah capek dihajar kamu nih hihi”, kata ibuku sambil memejamkan matanya dan langsung tertidur.

Sementara aku memutuskan untuk sekedar keluar menuju ruang tv, untuk sekedar merokok setelah aku memakai celana pendekku dan menyelimuti tubuh telanjang ibuku.

Aku lalu duduk disofa, menyalakan rokok bold sambil memandangi layar handphoneku, disana terpampang foto karyawan kafe juga aku yang sedang berdiri sambil tersenyum dan merangkul pinggang Vina yang menggelayut manja dikanan tubuhku sambil tersenyum manis. Foto itu diambil sekitar 3 bulan yang lalu.

Sudah 6 bulan berlalu sejak pengusiran Ayah Lisa saat aku datang bermaksud memberikan kejutan pada Lisa, namun bukannya hal manis yang aku dapat melainkan hal pahit yang mesti aku terima. Sepulangnya aku dari rumah lisa selama beberapa hari aku tak mengurus kafe dan hanya memikirkan Lisa saja. Beruntung aku memiliki Ibu yang selalu menyemangatiku dan berkata bahwa jodoh takkan kemana. Aku juga sangat senang dengan perhatian Vina jika aku berada dikafe.

Selama 2 bulan sejak saat itu akhirnya aku makin dekat dengan Vina, kami selalu menghabiskan waktu berdua. Terkadang aku menemani ia berbelanja, dan dia juga terkadang menemaniku saat aku ingin berjalan jalan mengelilingi kota ini. Makin lama sosok lisa kian tertepiskan oleh sosok Vina, sifat Vina yang ceria dan manja terkadang membuatku tersenyum sendiri, makin lama makin tumbuh rasa sayang dalam hatiku padanya namun aku tak berani mengungkapkannya. Namun esok kuputuskan aku akan mengutarakan perasaanku padanya saat peresmian kafe baru kami.

Kafe yang kukelola selama 6 bulan ini semakin banyak pengunjung terkadang bahkan kafe itu tak muat menampung pengunjung yang datang sehingga mereka harus rela berantri ria. Kafe itupun terkadang menjadi tempat seseorang menyatakan cintanya pada wanita pujaannya dengan memberikannya sebuah kejutan. Aku dan vina saat melihat kejadian seperti itu acap kali hanya bisa tersenyum dan saling memandangi.

Dari kafe itulah akupun bisa menabung, untuk masalah keuangan, aku dan Ibu kini tak perlu lagi merasa kesulitan bahkan aku malah berniat membeli usaha milik Arya yang kukelola ini agar menjadi milikku, esokpun mungkin akan kuutarakan niatku padanya.
Dan untuk Lisa, terkadang aku masih memikirkannya apakah mungkin ia sudah dinikahkan atau belum aku tak tahu. Kami benar benar sudah tak berhubungan selama 6 bulan ini. Ditambah lagi jarak yang memisahkan kami. Aku hanya bisa berdoa semoga ia bahagia dengan lelaki pilihan Ayahnya.

Saat aku tengah menyalakan batang rokok ke duaku nada panggilan handphoneku berdering ternyata Vina yang menelfonku.

“Halo vin ada apa?”.

“Hehe nggak cuma pengen ngobrol ji, aku ganggu tidur kamu yah?”.

“Nggak kok aku belum tidur, bilang aja kamu kangen vin makanya nelfon huuh hahaha”.

“Hihi nggak tuh biasa aja weekk, ngomong ngomong besok kita berangkat jam berapa ji?”.

“Hmm sekitar jam 10 pagi sih kita kesananya vin”.

“Hooh ya udah deh, kamu tidur gih udah hampir jam 1 loh say eh ji”.

“Hah? Apa vin say?”.

“Huh kamunya aja yang salah denger orang bilangnya “ji” kok”.

“Heheh ya udah kamu juga tidur gih,see u”.

“See u”. Kata vina mengakhiri telfonnya.

Untuk sesaat aku tersenyum sendiri mengingat tadi Vina memanggilku dengan sebutan “say” tadi. Aku lalu mematikan rokokku dan merebahkan diriku disofa mencoba tidur untuk menyambut hari esok.

oo0oo

Pov Vina

“Cie senyam senyum sendiri”, kata winda yang tengah berbaring disebelahku.

“Hihi apa sih win”, kataku sambil mencubit lengannya.

“Aww sakit vin kasar amat sih kamu,rasain nih pembalasanku”, kata winda lalu mulai menggelitiku membuatku kegelian.

“Hihi ampun win, winda plis hahahah berenti dong haha”.

“Nggak, siapa suruh kamu cubit aku”.

“Iya iya ampun”, kataku memohon, winda lalu menghentikan tingkahnya dan kembali berbaring disampingku.

“Tadi pasti Aji kan yang kamu telfon?”.

“Iya win, cuma nanyain besok kapan berangkat ke kafe yang baru”.

“Hooohh, aku liat liat selama 6 bulanan ini eh nggak deng akhir akhir ini kalian semakin dekat yah”.

“Hehe iya sih, Aji sekarang nggak terlalu dingin lagi ama aku, malah kadang minta ditemenin buat jalan jalan pas dia lagi suntuk katanya”.

“Ciee, berarti ada respon positif dong, perasaanmu berbalas dong sekarang”.

“Hehe, nggak tau deh win, aku nggak mau terlalu berharap, dengan sikap Aji sekarang aja aku udah senang kok”.

“Iya deh, eh tidur dulu ah besok diajakin pak Ricky jalan jalan nih”.

“Hihi ya udah met bobo model gatel”, kataku sambil mengacak acak rambut winda.

“Kurang ajar huh”, kata winda sambil membalikkan badannya memunggungiku dan tidur

Selama 3 bulan terakhir aku memang sudah semakin dekat dengan Aji, semua berawal saat Aji membawa ibunya datang menuju kafe, awalnya aku merasa canggung saat bertemu dengan ibunda Aji yang nampak sangat Alim dan santun dengan memakai jilbab dan baju Gamis panjang longgar menutupi seluruh tubuhnya. Apalagi saat aku bertemu dengannya aku memakai pakaian yang cukup sexy dengan memakai Dress mini dan berbelahan dada rendah menampilkan tato mawar yang ada di dadaku. Ditambah lagi Rika yang terkadang menggodaku dan Aji mengenai hubungan kami membuatku kadang tersipu malu didepan Ibunda Aji.

Saat pertemuan itu, ketika Aji tengah sibuk dipanggung, aku dan rika banyak berbincang dengan ibunda Aji, bertanya tentang Aji semasa kecil dan remaja seperti apa. Ibu Dyah banyak menceritakan perilaku Aji yang ternyata terkadang membuat kenakalan seperti berkelahi dan juga ikut tawuran.

Rika pun menambahkan bahwa Aji dan Arya sebenarnya suka membolos saat mereka menginjak bangku smp di dekat tokonya dahulu, membuat ibunda Aji menggelengkan kepala akibat kelakuan anaknya. Saat itu aku kemudian memberanikan diri bertanya kenapa Aji terkadang terlihat murung. Ibu Dyah kemudian bercerita bahwa Aji dan pacarnya yang berada dikota lain mengakhiri hubungan mereka. Entah disaat itu aku merasa senang, aku merasa seperti mendapatkan sebuah kesempatan untuk merebut hati Aji. Dan dari situ pulalah aku makin akrab pula dengan ibunda Aji. Dia banyak bertanya tentangku, dan darimana asalku. Pertemuan itu diakhiri denganku dan ibunda Aji yang saling bertukar kontak.

Selama 6 bulan ini pula kehidupanku kian membaik akibat mendapat upah dari kafe ini, aku sudah jarang mengambil job sebagai SPG, sedangkan untuk “tugas khususku”, kini hanya pak Ricky yang memakai jasaku karena aku berhutang padanya untuk pengobatan dan operasi Ayahku dikampung, kini ayahku pun sudah bisa bekerja kembali sehingga keluargaku tak perlu lagi merasa kesulitan untuk biaya makan dan juga biaya sekolah adikku

Setiap bulannya hasil tabunganku dari bekerja di kafe inilah aku bertahan hidup. Apalagi dikafe yang baru nanti kini aku memiliki jabatan baru sebagai asissten aji mengelola kafe, awalnya aku tak mau karena merasa sungkan dengan Rika namun ia malah mendukungku untuk posisiku itu.

Aku yang mulai mengantuk kini mulai memejamkan mataku bersiap menyambut hari esok, sebuah hari baru dan mungkin sebuah hubungan baru bersama Aji entahlah.

oo0oo

Pov Lisa

Aku berguling kesana kemari namun aku tak bisa memejamkan mataku, entah kenapa aku merasa gelisah. Mungkin akibat pertemuan tadi saat makan malam dengan keluarga Rio. Ayahku dan pak Henry terlihat bersemangat untuk mempercepat pernikahanku dengan Rio kalau bisa sebelum aku melaksanakan KKN ku nanti. Selama 6 bulan semenjak kejadian Aji yang diusir oleh ayahku, aku dan Rio semakin dekat. Ia selalu menghiburku, dan mau mendengarkan keluh kesahku betapa aku mencintai Aji.

Namun kedekatan kami disalah artikan oleh ayahku dan mengira aku telah menyetujui hubunganku dengan Rio padahal hubunganku dan dia bisa dibilang cuma sebatas kakak adik semata. Riopun tak pernah memintaku untuk mencintainya walau terkadang harus kuakui aku begitu tersentuh dengan perhatiannya padaku. Andai aku tak mengenal Aji mungkin aku akan setuju dengan perjodohan kami. Sosok Rio yang dewasa, perhatian dan juga Pintar membuatnya begitu menarik, belum lagi parasnya yang tampan. Namun hatiku sudah dimiliki Aji.

Aku lalu bangun dari kamar tidurku dan mendapati ibuku yang tengah berdiri didepan pintu kamarnya dan menyandarkan tubuhya dinding pembatas dilantai 2 ini. Ia terlihat melamun seperti ada beban berat yang sedang ia tanggung.

“Mah”, panggilku seketika itu juga ia menoleh dan tersenyum padaku.

“Kok belum tidur Lisa?”.

“Nggak bisa tidur mah, mamah kok nggak tidur?”.

“Nggak apa kok sayang mamah belum ngantuk, tadi juga sedikit berdebat ama papamu”. Kata ibuku.

“Mamah mau teh nggak Lisa mau bikin teh”. Tawarku padanya.

“Nggak usah sayang, mamah tidur dikamar kamu yah”.kata ibuku berjalan menuju kamarku sementara aku turun ke lantai 1 dan membuat secangkir teh lalu kembali kekamarku. Saat aku menaruh teh itu diatas meja kecil yang ada disamping ranjangku. Kulihat ibu memegang boneka doraemon pemberian Aji 6 bulan yang lalu.

“Itu boneka dari Aji mah sebelum Aji diusir lagi ama papah”.

“Lucu yah sayang bonekanya”.

“Hehe iya, doraemon kan emang lucu mah”. Kataku sambil duduk diatas tempat tidurku dan menselonjorkan kaki disamping ibuku. Lalu meminum sedikit teh buatanku.

“Kamu nggak bisa tidur pasti gara gara pertemuan tadi kan sayang?”, kata ibuku tepat sasaran mengetahui kegelisahanku.

“Bisa dibilang begitu sih mah, aku rasa emang nggak bisa kalo ama Rio mah”. Kataku.

“Iya mamah tau, mamah udah pernah ngerasain apa hal yang kamu rasain sayang, dijodohkan dengan orang yang tak kita mau” kata ibuku sambil menatap ke arah langit langit.

“Mamah keinget ama almarhum Om Anton yah mah, yang pernah mamah ceritain dulu”.

“Iya sayang, mamah sebenarnya nggak mau kamu ngerasain apa yang mamah rasain dulu. Cuman papamu itu nggak mau dengerin nasihat mamah”.

“Udah mah, Lisa nggak mau papah ama mamah bertengkar terus gara gara Lisa, mungkin Lisa sebaiknya menuruti kemauan papah saja”.

“Kamu yakin nak?, terus bagaimana dengan Aji?”.

“Jika memang Aji jodoh Lisa suatu saat pasti akan kembali bertemu kok mah”.

“Ya udah pikirin baik baik yah sayang, menikah kalau bisa hanya sekali seumur hidup, jangan sampai kamu menyesal dalam pernikahanmu kelak”.

“Iyah mah”. Kataku sambil mencoba tersenyum pada ibuku lalu meminum kembali tehku yang tersisa setengah cangkir.

Aku dan ibuku kemudian membahas mengenai kuliahku yang sudah memasuki semester 7 ini dan beberapa bulan lagi akan memasuki tahap KKN lalu kemudian sidang dan lulus. Ibuku juga menanyakan tentang Rendi yang kini tak lagi menggangguku bahkan malah menjauhiku ketika ia berpapasan denganku saat dikampus.

Usai menghabiskan tehku aku lalu membaringkan diri disamping ibuku yang sudah terlelap. Aku lalu memeluk boneka pemberian Aji sambil mengingat kembali kenanganku bersamanya. Tak terasa air mataku menetes, mengingat saat Aji meninggalkanku. Dalam kesedihan akupun tertidur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*