Home » Cerita Seks Tante Keponakan » Bibiku Surgaku

Bibiku Surgaku

“aah..adii..ahhh..aahh sayang,, ahh..iya terus sayang ah pinter km sayang..makin jago ngentotin bibi..ahh..” bibi terus mengerang sambil memelukku erat yang sedang asik menggenjotnya. “Ahh, bii.. memeknya enak banget bi..ahhh ahh,,aduuh adi pengen keluar.. ahh..bibi..pengen hamilin bibi..ahhh..uuhhhhh..” aku semakin mempercepat gejotanku di jepitan memek bibi. “auhh aduhh..iyah barengan jangan ninggalin bibi,,bibi juga pengen keluar aaahhh ahhh aaahhh keluariiinnnhhh aaaahhhhhhhH!!” kami lalu berpelukan sangat erat menikmati orgasme kami bersama. Aku terkulai lemah memeluk bibiku yang sedang aku tindih dan ku semprotkan maniku semuanya kedalam rahimnya.

Setelah kami berdiam berpelukan, ia lalu melepaskan pelukanku, dan lalu mencium keningku yang tengah kelelahan. Ia lalu memakai baju daster tertutupnya langsung tanpa pakai bra maupun celana dalam. Tak lupa, dia juga pakai jilbab instannya. “Udah, kamu pake baju dulu sayang, bentar lagi si Fini pulang sekolah.” Katanya sambil melemparkan baju dan celana kearahku. Bibiku lalu berlalu, keluar kamar, sepertinya menuju kamar mandi dan dapur. Aku duduk di kasur empuk tempat pergumulan kami tadi. Ah betapa nikmatnya bisa kapan saja menikmati memek, apalagi memek dari bibiku yang cantik ini. Kulihat celana dalam bibi yang tadi kulempar ke lantai, aku memungut dan iseng memakai celana dalam bibiku. Lalu akupun berpakaian.

Tak lama kemudian, bibiku kembali kekamar, “Di, cangcut bibi mana tadi, dilempar kemana?” sambil dia clingak clinguk mancari ke penjuru kamar. “Adi pake nih, hihi..biar kontol adi deket terus sama bibi.. hhi..” aku memperlihatkan celana dalam krem berendanya yang aku pakai. “Ih, dasar kamu ini..nafsuan..hhi..” kata dia, menuju lemari mencari celana dalamnya. “Ah, bi..ga usah pake cangcut lah..biar ga susah adi kalo pengen ngewe lagi..” kataku. “Hmm.. ya udah kalo gitu.. mau makan apa sekarang? Bibi mau masak nih..” tanya dia. “Apa aja deh.. apa yang dimasak istriku, pasti aku makan..” jawabku. Bibi hanya senyum.

Sementara bibi masak, aku menonton tv di dekat ruang makan membelakangi bibiku yang lagi masak. “Di, gimana tadi? Enak?” tanyanya tiba-tiba. “Enak apa bi?” aku tak menangkap maksudnya. “Iya, tadi pas hubungan badan.. punya bibi masih enak gak?”…. “Ohh.. ya enak atuh bi..adi ampe ngeluarin semua mani adi di memek bibi,”….”Hmm… kok bibi ngerasanya memek bibi udah longgar loh di, takutnya kamu ga puas..”…”Ah, enggak kok..coba yah..” aku lalu mendekati bibi yang sedang memotong bawang, dan aku naikkan gamisnya, dan buru-buru aku tusuk memeknya. “Ohh,,enak kok, masih ketat,,ah,,ah..” aku angkat-angkat pantatku pelan menusuk memeknya. “Ahhh..aduhh..ihh nakal kamu yah.. ya ga usah di coba juga kali..aduhh..udah ah lepasin..ntar tangan bibi kepotong nih..ah..” katanya. “Hehe.. masih enak kok bi memeknya..adi suka..” kataku sambil memeluk dari belakang.

“Huh, dasar anak muda.. suka banget sama memek..” katanya sambil bersungut. “Hehe,,abis bibi cantikku ini nafsuin sihh..”…. “Udah sayang ah, ntar si Fini pulang, ntar sambung ngewenya, ya..sabar dulu.. kalo ketauan kan, kamu kan ga bisa ngewe bibi lagi..” akupun melepaskan pelukanku, setelah sebelumnya remes memek dan susu bibi yang masih kencang itu. “Ihh..genit deh suami baru..pengen diservis mulu nih..” kamipun cekikikan, dan ngobrol ngalor ngidul, sampai akhirnya Fini datang, dan kami makan bersama. Setelah makan aku pamit pulang dulu.

Malamnya, ketika aku sedang di rumah, bibiku chat, “Yang, Fini bibi suruh nginep di neneknya (ibu bibiku), malem ini bibi bisa bebas dipake.. bobo sini ya suamikuu..mmuah” membaca itu nafsu gairahku langsung bangkit. “Oke sayang, malem ini kamu milikku :*” balasku ke bibi, dan lalu aku bergegas berangkat menuju rumah kenikmatan bibiku. Sampai didepan rumahnya, hari sudah malam dan lumayan sepi. Aku mengendap-endap masuk, dan mengetuk pintu ruang tamu yang kulihat jendelanya gelap. Tok..tok..tok… dari dalam ada teriakan “siapaa??” akupun menjawab “akuu bii..” dan tak lama kemudian pintu terbuka sedikit.. dan alangkah terpananya aku, karena bibi yang membukakan pintu, ternyata sudah bugil tanpa sehelai benangpun. “ayo masuk sini cepet.. katanya berbisik”.

Akupun segera masuk dan tanganku langsung hinggap di memeknya. “Ah..duh..mulai deh, ga sabaran..hhi..”. Setelah menutup pintu, aku memeluknya dan mencium bibirnya, sambil tak melepaskan tanganku mengegenggam memeknya, dengan satu jari tengahku ku tekan masuk ke liangnya. “Ahh,,,mmmhhh,,mmmuahh…ooommmhhh,,,hmmmmhh mmmuah..aah..” bibi hanya mengerang-erang nikmat merasakan serangan mendadakku yang penuh nafsu.”mmmhhh…haahh.. ampun deh kamu.. bibi kewalahan gini diserang..hhi..” katanya sambil memegang pipiku. Akupun menciumya lagi, namun kini dengan gaya yang lebih mesra, “mmmmuuahhh…”. Kami berdua saling memandang dan tersenyum. “Di, dulu bibi sama paman, ga pernah deh se asyik ini kalo dia pengen ngewe..biasanya langsung tancep dan crot lalu bobo.. hhi.. ini suami baru, yampun masih berdiri aja udah diserang.. hhi..” kemudian dia menciumku lagi dan lalu memelukku dan ia lalu melingkarkan kakinya di pinggangku sehingga aku menggendongnya. “duuh, berat gini istriku..”

Sambil menggendongnya, aku melucuti celanaku hingga lolos. Kontolku yang sudah ngaceng maksimal, kepalanya menempel di pantat dan memeknya. “Unnghh..tititnya udah ketuk-ketuk memek nih.. macukiiin..” bibiku bersuara manja sambil tak melepaskan pelukannya. Akupun segera menggendongnya ke kamar bibiku. “ah..hayu ewean yang (ayo ngentot sayang).. hayuu,,huhuu,, “ bibiku merengek manja saat aku rebahkan tubuhnya dikasur. “Iya sabar sayang, pengen liat dulu bibi lagi sange gini.. hhi..” kataku sambil memandang bibiku yang tergolek pasrah. “uunnghh.. cinii.. masukin,,enjot-enjot di lubang inii…” pinta bibi manja sambil nunjuk-nunjuk ke memeknya. “Bibi pengen di ewe pelan apa kuat-kuat sama adi? Hhi..” tanyaku menggodanya sambil aku memegang kontolku yang ngaceng. “Terserah kammuu.. tapi bibi pengen di ewe lalaunan (pelan-pelan) dulu.. hayu ihh..cepet masukin ke memek..” katanya sambil manyun-manyun.

“hihi.. udah ga kuat ya istriku? Hhi.. memeknya pengen di jilat dulu ga?” aku mulai mendekat ke selangkangannya. “Ih..atuh jiji..liang pipis bibi kok dijilatin..” katanya sambil mengelusi memeknya. “gapapa..sini adi jilatin liang pipis bibi..” jawabku dan langsung mendekatkan mulutku ke memeknya. “Ih..ih,,jangan..ihh….aauuuuhhhhh,,,ahhhhh,,,angghhh jiji sayang memeknya kok dijilat-jilat..angghhh..” bibi menjambak rambutku yang sedang kujilati. “Sslllrrpphh,,sllppphhh mmhh..ahh..enak memek bibi..slllpphhh slllppphhh…aah..” aku jilati bibir memeknya dari bawah sampai atas. “anggghh ahhh ahh,,enak.,enak ahhhhh…duuuhhh…iya itu.. di itil lagi sayang..di itil..ahhhhh…” bibi mengerang-erang saat kujilati. “Sllppphh..mmhh..itil bibi gede yah,,suka adi,,ssllpphh..sllpphh,,”aku menjilati itilnya sambil perlahan kucolok liangnya.

“Annnngghhhh sayaaanggghhhh ahhh,, iyah, enak pisan pas jilat di itil bibi.. ahh..lamain sayang ngejilatin di itil bibinya.. ahhh,,, ahh.. ihh…jangan kebawah dulu,, di itil lagiiii…itil bibi gelii,,,” dia merengek terus jika aku menjilati bibir memeknya, dia pengen aku menjilati itilnya terus. “Aauuuhhh…ahhhh,,aduuhh adii sayang… agak cepetin jilatin ama sedot itilnya bibi.. bibi mau keluar,,,annghh ahh..ahh iyah terus..aahh ahh ahh ahhhhh aaaaaahhhhhhhhhhhhh!!!!” seketika bibiku menjambak rambutku dan menekan kepalaku ke memeknya, dan lalu dia menggelinjang hebat sambil berteriak tertahan. “aaghhhhhhhhh,,,,huuhhh,,huuhhh,,huuhhh…uuuhhhh..aduh enaknyaahh..ahhhh..” bibiku terkulai lemas menikmati sisa-sisa orgasmenya. Aku lalu beranjak tiduran disebelahnya.

“hhi.. enak gak bi?” tanyaku setelah nafasnya mulai tenang. “Aduh, enak banget say.. bibi baru kali ini loh sampe gini.. ada yang jilat memek bibi juga baru kamu ini.. dulu sama paman belum pernah ampe dijilatin memek bibi.. makasih sayang.. mmhh..makin betah dehh…” sambil ia mengelus-elus pipiku dan mencubit-cubitnya. “Hehe.. apapun asal bikin bibi enak, adi lakuin..” kataku lalu mencium bibirnya. “Mmmuah.. ah, enaknya gini nih punya suami masih muda, dikasih gaya aneh-aneh tapi enak, kuat lagi..hhi.. apalagi rasanya seumur bibi ini tuh lagi beuki-beukinya (suka-sukanya) ewean..mmmuuah..” iya lalu memegang kontolku sambil cium bibirku dengan ganas. “mmhh.. bibi pengen diapain lagi?” tanyaku sambil mengelus memeknya. “Ahh..terserah kamu deh,, bibi mah taunya Cuma pengen di ewe aja..nafsu banget bibi.. pake memek bibi sepuas kamu..colokin, bucatin di memek” kata dia.

Akupun segera beringsut menindih tubuhnya, bibiku pun mengerti dan langsung mengangkangkan kakinya. “Di, ngewenya sambil nyusu yah..bibi pengen nyusuin..gatel pentil bibi nih..” kata bibi dan langsung aku memulai ngemut susunya. “Ahh…ahh..aww..jangan keras-keras nyedotnya,,ahhh mhh iyahh,,mmhh,,yu, masukin kontolnya sayang..ahh..” walau susah, sambil aku nyusu putingnya, aku mulai menyodokkan kontolku ke memeknya. Tapi, kali ini berkali-kali kontolku salah sasaran. “Hhi.. lupa ya liangnya dimana.. sinih..nah..sok teken..ahhhhhhh…aduh ini kontol enak banget sihh ahhh..” setelah membimbing kontolku masuk ke liang kewanitaannya, dia langsung memelukku erat. “Ngewe laun aja sayang..ahh ahh..mmhh (ngentot pelan aja sayang)..” kata bibi sambil mengerang menikmati colokanku.

Akupun menggenjot liang lembut dan hangat bibiku ini dengan perlahan. Ada sejuta rasa nikmat yang tak bisa diungkapkan saat aku menikmati cengkraman lembut dan basah memek bibiku ini. Memek bibiku ini, meski pasti sering dipakai, dan sudah dipakai melahirkan, aku rasakan masih begitu ketat dan nikmat. “Ahhh..aaahhh,, nikmat bii..ahhh nikmat banget ngewe bibi..ahhh ahhh ahh..” aku terus meracau menikmati memek bibi yang kucolok-colok perlahan dengan kontolku. “uuhh…shhh ahh..bibi juga enak ahh…awwhhhh uuuhhhh.. nikmat sayang,,aaahh…” bibiku merintih dan mendesah nikmat. “Aaghh..memek bibi enak bangett ahhh memek enakk ahhhhh..sshhh ahhh..memek enaaakk…aaagghh” perlahan-lahan aku mulai mempercepat genjotanku, saking bikin ngilu dan nikmatnya cengkraman memek dia.

“Ahhh..ahhhhh…adiiiii..aahhh enaakkkk assshhhh aaaahhh awww..ahhhhh” bibi terus menjerit dan merintih kenikmatan saat aku mulai mempercepat entotanku dengan gaya misionaris ini. Aku sungguh menikmati saat aku menggagahi bibiku ini, terlebih memeknya yang ketat dan tak terlalu becek bikin aku merem melek. “Ahh..enak banget sih ini memek bibi..ahh,,suka,,,ahhh euughh,,” aku terus mengentoti memeknya dan semakin cepat aku menyodoknya. “Ahh,,sayang..kuat banget sihh ahhh,,aduuhhh aduuuhh..auuhhhhh… bibi mau bucat,,bibi mau bucat sayangg..ahhh..bibiii bucaaaattttthhhhh aaaaaaahhhhhhh!!!!” bibiku langsung memelukku erat dan mencium bibirku seolah tanpa ampuun. Pinggulnya bergoyang hebat menyambut kocokkanku yang semakin cepat.

Aku masih menggenjotnya saat pinggul bibi semakin melemah, dan pelukkannya sudah tak sekuat tadi. Bibi lalu tergolek pasrah, lemas dan semakin pasif menikmati genjotanku yang tak juga keluar. “ahh..kamu kuat banget sih sayang..belum bucat juga…hmmhh ahhh mmhh…” katanya lemah. “Aghh agghh ahhh bii,, aku pegel nih.. bibi diatas ya,” kataku yang langsung mencabut kontol dari memeknya dan lalu tiduran. “Hah? Bibi diatas? Duh bibi belum pernah..biasanya suka dibawah aja di ewe sambil bobo..” katanya. “Iya udah bibi coba aja, bibi diatas, masukin, lalu ulek2..ntar adi ajarin..” kataku lalu membimbingnya naik mengangkangiku.

“Hmmh.. iya deh,, mmhh,,shhhh ahhhh aduuhh enak juga ya kaya gini..” kata dia saat memasukkan kontolnya ke liang memek. “Ahh.. trus gimana ini di..duh jadi nancep dalem banget..ahh enak..” katanya lalu menggeser-geser pantatnya. “iya, bibi goyang2in pantatnya..nah ahh iyah gitu bi..ahhhh aduhh ennak banget,,,shh ahhh ahhhh..” aku lalu merintih menikmati goyangan bibiku yang super nikmat ini. “Ahh auuhhhhhh jadi enak banget gini sayang ahhh ahhh baru tau bibi enak gini ahhhh sshh auuhhh uuungghh uh uhh,,” dia merintih kembali menikmati goyangannya sendiri. Tangannya di di perutku, dan pantatnya bergoyang lincah memutar-mutar. Bibiku belajar cepat ngentot dengan gaya WOT ini. “Ah ahh ah ah ah ahhh auuhh auuhhh uuuhhhh aduu duhhh,,ahhh,,” bibiku terus bergoyang-goyang lincah mengeluarmasukkan kontolku di memeknya.

Hampir sepuluh menit kami menikmati gaya ini. Bukan main nikmatnya aku digoyang bibi. “Aghh bii ahhh …nikmat biii,,terus lebih cepet bii ahhhh ahhh..” aku merem melek sambil meraih dan meremas susunya yang menggantung. “’Ahh ah adi auuhh bibi ga kuaatt,,bibi gakuat sayang,,, bibi mau bucat lagiii,,ahhh ahhh…aahhh…” bibi cantikku ini semakin cepat saja menggoyang memeknya di kontolku, yang membuatku sungguh menjadi ngilu. Semakin cepat menggenjot, semakin kuat memeknya jugamencengkram kontolku yang mulai terasa ingin memuntahkan spermanya. “Ahh bibi ayu barengaaann… aahh bucatnya bareng bi..adi juga mau bucatt ahhh ahhahhh uuchhhh…” aku mulai memegang pinggulnya yang aduhai mulus, sambil aku juga ikut menggenjot memeknya dari bawah. “Ahhh sayaaangg bibi muncrat nihh,,ahhh ahh uuunnggghhh,,bibi muncrat bentar lagii,,aahhh ahh ahhh ahhh,,,memek bibi muncrat,,,memek bibi muncraaatttt,,,aaaaaaaaanghhhhhhhhhhhhhhhh…” kemudian tubuh bibiku melenting kebelakang, dan crooootttt!!! Aku kaget lihat bibiku benar-benar muncrat, memuncratkan cairan dari memeknya. Bibiku squirt!! Dan tak lama kemudian aku pun muncrat juga, crott…croootttttt…. beberapa kali kontolku memuncratkan sperma di memeknya. Muncraat yang sungguh nikmaaatt!!! “Aghhhhhhhh bibiiiiiiiiiiiihhh…”

Setelah melenting, lalu bibiku ambruk diatas tubuhku. Kami saling berpelukan erat menikmati orgasme kami masing-masing. Nafas kami saling memburu, ngos-ngosan dengan kontol yang masih tertancap. “huuhh,,, aduh… lemes banget bibi ngewe sama kamu mah…” bibiku lalu berbaring disampingku terlentang. “Hahh,,nikmat banget bi ngewe memek bibi,, memek bibi sempit.. enak banget pas aku ngewenya..” kataku memuji dan lalu menyelipkan jariku di belahan memeknya. “Ahh, ngaco..masa sih.. memek bibi serasa udah longgar gini.. udah ngelahirin juga.. hhi.. syukur deh kalo menikmati memek bibi.. biar kamu betah ngeliang sama bibi..gak sama yang lain..hhi..” selorohnya sambil mengelus rambutku dan keningku yang keringetan. “He..iya dong, betah adi kalo tiap hari dikasih liang enak bibi.. ngeliang aja terus..hhi..” kataku lalu nyolok memeknya dengan jari. “Ihh,,nakal deh..udah lepasin jangan nyolokin memek aja..ntar bibi nafsu lagi.. pengen di ewe..” katanya memegang tanganku lemah.

“Lagi? Ahh, siap dong kalo pengen lagi mah,,hhi..”aku lalu menciumnya. “MMhh…genit dasar..mentang2 kuat, doyannya ngewe bibinya terus,,,hhi.. eh, punya gaya apa lagi? Ntar kita praktekin yah..kamu mah kan suka aneh-aneh kalo ngewe bibi.. bibi mah taunya memek aja dicolokin,,udah,,ga tau gaya-gayaan” katanya. “Mhh..apa ya.. jujur aku tuh pengen nge anal bibi,, sama..ngewe bibi pas lagi pipis..” jawabku. “Mhh.. nge anal itu apa? oh ya udah ntar kalo bibi lagi pipis langsung ewe yah..ga apa apa gitu muncrat kesana sini pipisnya?” “Ya ga apa-apa, hhe.. nge anal itu masukin kontol ke liang pantat bibi..” kataku. “Ehh..jangan ahh kalo ke liang pantat, pokonya kemana pun boleh, asal jangan di pantat yah sayang…” pintanya. “Hmm..ya udah deh… mau ewean lagi bi? Yuk..” kataku yang lalu mulai mendekatkan kontolku yang sudah ngaceng ke memeknya. “Ah, istirahat dulu deh,, bibi masih lemes..” katanya manja. “Ya udah, tapi kontolnya colokin ke memek yah?” kataku yang mulai menusukkan kontolku ke memek bibi. “Mhh,,iya, tapi jangan digoyang ya sayang,, masih lemes bibi.. uuuhh,,,,,iya colokin aja gitu,,jangan di goyang,,mmhhh,,” lalu kamipun saling berpelukan dengan posisi miring berhadapan. Kontolku sudah tertancap di memeknya. Dan malam ini pasti akan jadi malam yang panjang….

Setelah hampir 4 hari aku terus menafkahi batin bibi, dan menikmati jepitan memeknya, tibalah hari aku harus kembali pulang kekosanku. Agak ngeri rasanya, meninggalkan bibi yang lagi nikmat-nikmatnya aku gumuli tiap hari selama disini. Tapi, aku harus kembali kuliah, dan mungkin baru bulan depan akan kembali. Meskipun semalam pertempuran begitu maksimal, tak terhitung berapa juta spermaku yang ada dirahimnya, aku tetap tak rela meninggalkan bibi yang sudah seperti istri beberapa hari ini. Dia melayani hasratku sepenuh hati, tak pernah menolak saat kugauli, mau beberapa kali, ia tetap menikmati. Dia pasrah saat kugagahi, tak berhenti memuji saat aku entoti sepenuh hati.

Seusai packing di rumah, aku nge-BBM dia, “Yank, aku mau pulang.. L” chatku. Tak lama kemudian, dia balas.. “Iya, hati hati ya sayang, makasih buat beberapa hari ini.. kapanpun kamu pulang, jangan lupa tidurin bibi yah,,, :* semoga kamu puas sama bibi..” kata dia panjang lebar. Ahh, aku semakin sedih sekaligus ngaceng, pengen menikmatinya lagi. Lagian, sebenarnya, kapanpun aku mau, bibi pasti sedia melayaniku. Kulihat jam, masih pukul 12 siang. Keretaku berangkat pukul delapan malam. Masih ada waktu fikirku, untuk menikmatinya sekali lagi sebelum aku pergi. Tapi masalahnya, di rumah ada Fini, anak bibi. Aku tak bebas jadinya untuk menggauli bibi.

Ah, tapi aku bisa curi-curi kesempatan, yang penting sisa sperma di pelirku semua terkuras pindah ke liang memek bibi. Akupun chat lagi, “Yank, sperma adi masih nyisa nih, pengen nyetor, aman ga kalo ngewe dulu sebelum pergi?” segera kukirimkan. Cukup lama, sampai akhirnya dia balas, “Masih ada Fini di rumah, tapi kayaknya dia mau tidur, udah dikamar, ya udah cepet kesini.” Balasnya. “Asyik, otewe kesana yaank..” balasku. “Bukan otewe, pengen ngewe kali,,hhi,,ditunggu ya :*” aku hanya read, dan langsung bergegas ke rumah bibiku lagi untuk ngentot perpisahan sebelum aku pergi.

Sepuluh menit kemudian, aku sudah di depan rumahnya. Aku ketok pintunya, dan yampun! Cantiknya bibiku ini, padahal kelihatan dia tidak berdandan, mukanya yang putih agak pucat bikin aku sange. Dia memakai gamis hitam, dan kerudung instan warna abu. Kulitnya yang putih, kontras dan terkesan sederhana dan juga entotable. “Ahh, ayo bi ngewe,,ah..” aku segera memeluknya dan mencium dan meraba memeknya. “Ih, ih, sayang, sabar..ayo di kamar ah, ntar si Fini bangun.” Kami lalu mengendap-endap ke kamar peraduan kami. Tak lupa kamar segera dikunci. Aku Cuma nempel aja terus memeluknya dari belakang, sambil bergerilya meraba-raba. “Duh, ga sabar nih ah, bibi terus diserang gini, ummhh,,, resiko punya suami muda, terus aja minta jatah,, hhi..” kata dia sambil membuka celana pendekku.

Aku tak menanggapi, karena terus saja aku menciumi leher, mulut, wajah, dan pundak bibi. “mmuuah..mmhh…kangen istri,,mmhh,,mmuuah..” kataku menciuminya. “Ahh.. ayo ah, langsung aja ngewe, ntar keburu bangun tuh si fini, ntar ga selesai lagi..” kata bibi yang melepaskan pelukanku dan langsung berbaring di kasur. “Ga usah buka baju ya, ntar ribet kalau dia bangun..” ucap bibi sambil menaikkan gamisnya hingga perut. Lalu terbukalah belahan kenikmatan bibi yang mulus dan merekah. Memeknya masih merah setelah semalaman tadi kuhajar abis-abisan. Akupun mengiyakan, dan langsung menindihnya, memeluknya sambil kontolku kugoyang mencari lubang kenikmatannya. “Mmmhh,,,ayo masukin,,mmhh,,mmhhh…kok lupa lagi sih lubangnya..mmhh agak keatas,,nahh ahhh ahhhhhhhhhh..mmmmhh..”

Kontolku kembali berhasil menusuk memeknya. “Aggghhh…mmmhh..enak banget sayang..sshh..” aku melenguh. “Ah,, mmmhh, jangan keras2, ntar bibi ga sadar teriak, ngewenya pelan yah.. mmhh…mmhh…” dia berbisik ditelingaku saat aku mulai menggenjoti dan menggoyang memek bibi. “Mmhh,, unngh,,,mmhh ahh,,sayannghh,,uunngghhh mmhh..” ia mendesah-desah tertahan saat aku mengentoti memeknya dengan gaya missionary. Ini memang quick sex aja, yang penting spermaku muncrat di memeknya. Kitapun tak bertelanjang, hanya dari pinggul kebawah yang tak pakai celana. Gamis bibi masih dipakai dan terangkat sampai perut. Kerudung bibi yang meskipun berantakan, masih ia kenakan.

“Ah,, sayang enak banget ngewenya,, ahhhhhhhhh..haahh..” bibi terus melenguh menikmati genjotanku yang pelan-pelan. Kali ini aku gak ingin proses ngewe bibiku cepat berakhir. Meskipun aku keburu waktu, aku ingin memaksimalkan ngentot bibi. “MMhhh.. enak bi di ewe aku?..mmhh,, memeknya enak banget sih,,duh,,ahhh..” sambil ngewe, aku elus-elus keningnya. Sesekali aku cium bibirnya mesra. Bibiku terlihat menikmati genjotan kontolku di memeknya. Matanya merem melek, kadang yang hanya terlihat cuma bagian putih darimatanya yang mengintip tipis. “Nikmat sayang,,eungghh..uuhh,,,enak banget di ewe pelan-pelan gini..uuhh..sayang…memek bibi geli..nikmat,,,” bibiku terus saja berbisik meracau menikmati entotanku.

Aku lalu menciumnya mesra, menikmati lembutnya dinding memek yang kini basah dan licin. “mmuuah..shh,,,enak banget sih memek istri aku..mmhh ahh,,” aku begitu senang melihat bibiku yang masih berjilbab ini merem melek menikmati genjotanku sendiri. Aku memandang mukanya, menciuminya, dan menikmati memeknya sepuas hati. Bibiku tersenyum kala aku memandanginya, dan lalu memelukku. Sambil berbisik ditelingaku dia mengatakan “Cinta banget sama kamu di, kamu jago ngewe..bibi seneng..ahh..” mendengar itu, aku semakin terangsang, dan membuatku semakin mempercepat kocokanku di memeknya. “Kontol adi buathh bibi,,ahh memek bibi punya aku,,,shhh ahh,,enak banget sayang,,mmhhh ahhh…” aku berbisik ditelinganya di iringi kecupan hangat dibibirnya.

Kurasa inilah yang namanya bercinta, saling menikmati tubuh masing-masing, sepenuh hati. Sebelumnya kuakui hanya birahi, tapi acara ngentot kali ini serasa penuh cinta. Gejolak birahi serasa bergejolak bercampur rasa cinta dan kenikmatan. “Ah sayang, ouuh ohhh,, nikmat sayang..mmhhh,,,,mmuuahh,,,ewe terus sayang,, ahhh..ahhh,, ewe sampe bucat di memek bibi..” dia sungguh seperti menikmati pergumulan kami yang ini. Aku semakin semangat menggenjotnya, hingga tiba-tiba “TOK..TOK..TOK!!, Mamaa.. pengen makaann.. ada makanan engga????” Fini mengetuk kamar dan berteriak. Aku panik, dan menghentikan genjotanku. Saat aku hendak melepas kontolku di memek bibi, dengan tangannya, bibiku menahan pantatku. Dan bibi mengisyaratkan aku untuk diam dengan menyimpan telunjuk di bibirnya. “Mama udah masak tuh di lemari, kamu makan aja makanan di lemari…” bibiku berteriak menjawab Fini. Kontolku masih menancap di memek bibi dengan aku yang masih berada diantara selangkangannya.

Fini tak menjawab, dan bibi lalu menekan pantatku berisyarat untuk terus melanjutkan kegiatanku mengentotinya. Akupun mengerti dan lalu kembali ngentotin bibi, dengan kocokkan yang agak cepat. “ahh..ahhh…aaaaa” mulut bibi terbuka tanpa mengeluarkan suara saat aku mengentotinya agak cepat. Akupun menahan untuk tidak bersuara namun tetap terus mengentotinya. Kepalang tanggung kupikir, aku lagi nikmat-nikmatnya ngentot. Kami hampir tak bersuara, hanya ceplak ceplok suara pinggang kami yang beradu. Tak lama kemudian, “Tok..Tok..Tok.., mamaa.. lagi ngapain sih,, ini telornya aku boleh makan dua kan??” Fini berteriak kembali. “Duhh,, Fini jangan ganggu dehh.. mama lagi pengen tidur, makan aja sendiri yah.. mama lagi pusing… abis makan Fini ahh,,pergi ke rumah tante Meri yah, temenin dia..” Bibiku berteriak menjawab, namun aku tak menghentikan genjotanku di memeknya.

Tak ada jawaban dari Fini, hanya suara piring beradu dengan sendok tanda Fini sedang makan. Bibi menyuruh Fini ke tante Meri, karena selain dia juga janda kesepian, Fini memang suka main dirumahnya bahkan nginep. Aku masih mengentoti bibiku dengan agak cepat kali ini, tapi belum ada tanda spermaku mau keluar, cukup pegal juga, tapi aku menikmati. Rasanya tak tahan ingin berteriak, begitu juga bibiku yang mangap-mangap tak bersuara. Aku terus menciumi bibirnya saat aku ngentot bibi. Setelah agak lama, terdengar pintu terbuka lalu ditutup. Begitu juga lalu suara pagar, tanda Fini sudah pergi. Mendengar itu, bibiku langsung berteriak cukup keras, “Aaaaahhhhhh ampuuunn enakk bangettt ngewe giniiiiiiii ahhh ahhhh ahhhhhhhh!!!” akupun sama mulai berteriak, “agghhhhhh,,,enak banget memeknyaaahhh..ahh…” aku semakin mempercepat gejotan nikmatku ini, dan serasa ada yang ingin meledak.

“Ahhh,,adi pengen bucat bi… adi muncrat nihh,,,ahh ahhh ahh…” aku semakin mempercepat entotanku di memeknya. “Bucatin sayang,,ahh ayo..bucatin di memek..barengan bibi juga bucat nihhh,,,ahhh ahhhhh sayaaangg ayo bucatin..ayo bucatinnn….aahhhhhh” bibiku menjerit-jerit nikmat. Aku semakin keras menghentak ke memeknya, dan tak lama kemudian lahar hangatku serasa ingin keluar, “Ahhh,,,sayang ayo crot di memek.. memek bibi juga pengen muncrat,,”bibiku memeluk erat dan mulai bergelinjang menggoyang pinggulnya mengimbangi hentakanku. Dan betapa nikmatnya memek bibi serasa mengempot-empot kontolku, aku tak tahan untuk ejakulasi, dan “Ahh,,,ahh bibi,,, bibiii sayaaaaaaaaaanghhhhhhhhhhhhh agggghhhhhhhhhh!” dan crot-crott!! “Ouuuuuuuchhhhhhhhhhh sayaaaanggggg!!” crutt…cruutt,,,, kami muncrat bersama, dan bibiku squirt muncrat cairan.

Aku memeluk erat, begitu juga bibiku. “aggggghhhhhhhhh”. Aku ambruk menindih bibiku yang juga terkulai lemas keringatan. Kami berdua ngos-ngosan, “hahhh…hahhhhh…hahhh..” kami terdiam tanpa sepatah kata menikmati sisa-sisa orgasme kami yang begitu sangat nikmat. Aku mulai terkulai disamping bibiku dengan masih ngos-ngosan. Kami berdua terdiam, membayangkan apa yang terjadi tadi, begitu sangat nikmat.

“hhi.. Jago banget kamu Di ngewenya,, lemes bibi..” kata dia seusai nafasnya mulai teratur. “Iya abis bibi memeknya enak.. bikin ketagihan ngewe,,” jawabku. “hhi.. kasian, ntar kalo pulang ga bisa ngewe..hhi..”lanjutnya. “Iya.. ga kebayang puasa ga bisa nikmatin memek..” kataku. Kami lalu bercanda tawa. Saling cium, saling raba. Sempat ngentotin bibi lagi sebentar, sampai akhirnya aku harus kembali pulang. Pertemuan kita, diakhiri dengan saling cium, dan aku mengecup memek bibi. Setelah aku keluar, baru beberapa langkah, aku kembali membuka pintu dan meminta bibi nungging. Aku entot lagi dengan rpm cepat sampai muncrat dengan posisi bibi nungging dibelakang pintu. Setelah bucat, aku pamitan, dan lalu kembali ke tempatku. Sedih rasanya meninggalkan bibi. Dan sepertinya aku akan lebih intens chatsex dan phonsex dengan bibi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*