Home » Cerita Seks Mama Anak » Ibu Budak Nafsu 3

Ibu Budak Nafsu 3

ambar berlari lari menembus hujan gerimis di parkiran kantornya, buah dadanya bergoyang goyang seiring dengan derap langkahnya.

namun ketika membuka pintu mobil ambar menyadari sesuatu yang salah mobilnya, dia mengamati dengan seksama keadaan mobilnya.

ban mobil bagian belakang sebelah kanan ternyata kempis, kondisinya sudah benar benar rata karena anginnya sudah banyak keluar.

ambar semakin bingung karena dalam keadaan hujan seperti ini dia tidak bisa mengganti ban mobilnya yang kempis.

dia hanya clingak clinguk ke segala arah untuk mencari orang yang bisa membantunya.

sementara itu dari kejauhan, bowo si petugas keamanan melihat ambar yang terlihat tengah kebingungan di tengah hujan.

dia segera bergegas menghampiri ke arah mabar setelah sebelumnya membawa payung dari bawah meja kerjanya.

‘ada apa bu?’

‘eh mas bowo, ini mas ban saya bocor’

‘wah iya bu, sampai habis gitu’

‘mas bisa tolong gantiin ban’

‘bisa bu, biar lihat dulu bu’

‘oh iya mas, saya buka bagasinya dulu’

cklek, pintu bagasi belakang mobil putih berjenis sedan itu mulai terbuka, bowo segera membuka bagasi belakang.

‘sini mas, biar saya bawakan payungnya’

‘oh ini bu’

bowo terlihat membuka bagian dasar mobil ambar, dia melihat lihat ban cadangan serta peralatan dongkrak.

‘ini ban dan dongkraknya ada bu’

‘jadi bisa mas?’

‘tapi ini ban cadangannya juga kelihatannya bocor’

‘oh gitu mas’

ambar tidak tahu menahu sekali soal kondidi mobilnya, dia hanya menggunakan mobilnya sedang urusan kondisi menjadi pekerjaan suaminya.

‘sudah ibu naik taksi saja, mobilnya di tinggal saja dulu, nanti saya tambalkan dulu bannya dan baru diganti besok baru dibawa pulang’

‘oh iya bener juga mas, lagian anak saya sudah nungguin saya di rumah sore begini’

‘ya sudah bu saya panggilkan taksi dulu’

####

sudah hampir setengah jam ambar menunggu taksi yang sudah dipanggilkan bowo, namun taksi yang ditunggu tak kunjung datang.

‘ini kok lama ya mas taksinya’

‘kurang tahu bu, tadi saya sudah telepon poolnya’

‘mungkin jam sibuk ya mas’

‘mungkin bu’

‘wah padahal sudah gelap, anak saya gimana di rumah’

‘gimana kalo naik bus saja bu, nunggu dari depan’

‘oh iya ya mas’

‘kalo begitu saya pinjam payungnya dulu ya mas’

‘silakan bu’

‘terima kasih sebelumnya ya mas bantuannya’

‘sama sama bu’

ambar berjalan menembus hujan dengan payung, namun karena hujan disertai angin membuat kemeja putih yang dipakainya menjadi basah.

blazer yang dia pakai tadi tertinggal di mobil namun karena bis yang akan dia tumpangi sudah datang dia terpaksa naik dan tidak sempat kembali untuk mengambil blazernya karena dia harus segera pulang.

####

saat naik ke dalam bus, ternyata tempat duduk sudah penuh, ambar terpaksa berdiri dalam perjalanan pulang naik bus itu.

setelah beberapa saat bis berjalan, sedikit demi sedikit bis mulai penuh dengan penumpang.

terutama saat sampai di depan halte beberapa penumpang lelaki masuk sehingga membuat posisi berdiri ambar terdorong ke bagian belakang bis.

sementara itu penumpang laki laki disekitarnya mulai melihat bagian dadanya yang terlihat penuh dengan kemeja yang dipakainya.

belum lagi air hujan yang membuatnya basah membuat bh yang dipakainya menjadi tercetak jelas di kain putih kemejanya.

bh berwarna krem dengan model full cup berhiaskan renda itu terlihat jelas menyangga payudaranya oleh penumpang lelaki disekitarnya.

namun karena ambar tidak menyadarinya, dia hanya tenang tenang saja dengan hal itu dan tidak memikirkannya.

ambar yang berdiri menghadap ke arah kaca samping bis, di depannya ada laki laki setengah baya yang duduk terkantuk kantuk.

posisi kepala si lelaki yang sedang mengantuk itu tepat di depan dada ambar yang membusung indah.

goyangan bis yang berjalan membuat beberapa kali kepala lelaki tadi terbentur payudara amabr yang berukuran besar.

meskipun merasa risih, ambar tidak berpikiran buruk terhdap lelaki itu karena dia pikir hal itu tidak sengaja.

dia hanya berusaha menutup bagian dadanya dengan tas kerja yang dia bawa untuk melindungi bagian dadanya agar tidak membentur kepala lelaki itu.

####

pukul 6.20 petang ambar tiba di halte dekat pintu gerabang masuk perumahan tempat tinggalnya.

setelah bis berhenti dia segera turun dan membuka payung untuk melindungi diri dari hujan.

ambar berlari lari kecil menembus hujan sepanjang perjalanan dari halte ke rumahnya.

‘dek ibu pulang’

‘kok lama banget sih ma?’

‘tadi mobil ibu bocor, jadi naik bis deh’

‘oh gitu ya’

‘udah makan?’

‘belum, lauk udah habis buat makan pulang sekolah tadi’

‘yaudah ibu mandi dulu habis itu ibu masak buat makan bareng, masih kuat kan?’

‘masih dong bu’

‘yaudah ibu mandi dulu, kamu nonton tv saja dulu’

baru saja ambar berjalan ke arah kamarnya, andi sang anak memanggilnya kembali.

‘bu..’

‘apa dek?’

‘itu rok ibu ada yang nempel’

‘masa? apa yang nempel?’

ambar membalikkan tubuhnya berusaha melihat apa yang menempel di rok span yang dia pakai.

ternyata di roknya menempel cairan putih kental mirip ingus tepat di bagian pantatnya dan mengalir sampai ujung bawah dan seabgian mengenai kaki putihnya.

‘ini apa ya?’ batinnya heran

namun ambar tidak mabil pusing dengan cairan yang menempel pada roknya itu dan segera masuk ke kamar untuk mandi dan berganti pakaian.

####

####

sore itu ambar termenung di ruangan kerjanya yang terletak di salah satu sudut bagian divisi riset dan pengembangan perusahaan tempatnya bekerja.

dihadapannya bertumpuk tumpuk file laporan calon peserta pengujian obat yang tengah dikembangkan perusahaannya.

namun tak satupun dari sekian banyak calon tidak satupun yang lolos dan memenuhi kriteria sebagai peserta pengujian obat.

ambar berpikir keras bagaimana dia harus menyelesaikan masalah yang dihadapinya ini sedang tenggat waktu hanya sampai akhir bulan.

dia mengangkat gagang telepon dan menekan angka angka untuk disambungkan interkom pada orang yang dia tuju.

selama beberapa saat tidak ada jawaban dari ujung lain telepon yang ambar coba hubungi, hanya nada tunggu yang terdengar di telinganya.

‘apa sudah pulang ya?’ batin ambar

dia melihat jam dinding di ruangannya dan waktu menunjukkan pukul setengah 5 sore saat itu.

‘ah coba kuhubungi lagi’

ambar kembali menghubungi dengan telepon dan kali ini tidak lama kemudia terdengar jawaban dari ujung lain.

‘selamat sore bu, ada yang bisa dibantu?’

‘eh..iya pak tolong ke ruangan saya segera’

‘baik bu, saya segera kesana’

tidak lama kemudian dari balik pintu muncullah sesosok lelaki berusia 40 tahunan seumuran dengan usia suami ambar.

lelaki itu adalah pak yono, kepala laboratorium klinis yang dibawahi oleh divisi riset dan pengembangan yang dikepalai ambar.

‘selamat sore’

‘eh iya silakan duduk pak’

‘ada keperluan apa bu?’

‘begini pak saya mau membicarakan soal pengujian obat baru kita’

‘o kalo itu masih belum ada subjek yang memenuhi kriteria bu’

‘maka dari itu saya mau bicara dengan bapak?’

‘maksudnya bu?’

‘begini pak bagaimana jika saya sendiri yang mengajukan diri menjadi subjek pengujian obat’

‘wah bagaimana ya bu? masalahnya meskipun nanti ibu memenuhi kriteria namun setahu saya secara legal hal itu tidak dibenarkan untuk menggunakan subjek dari personil dalam perusahaan’

‘saya tahu itu pak, dan saya paham, tapi tenggat waqktu tinggal sebentar, kalo terus diundur saya takut perusahaan kita harus membayar penalti karena wanprestasi yang kita lakukan’

‘wah bagaimana ya bu…’

‘bapak tenang saja saya yang bertanggung jawab’

‘tapi bu…’

‘tugas bapak hanya memeriksa saya apakah memenuhi syarat atau tidak, jika nantinya ada konsekuensi hukum yang terjadi saya yang menanggung’

‘baiklah bu’

‘kalo begitu sore ini juga saya minta pemeriksaan diri saya sebagai subjek pengujian, untuk selanjutnya menjadi urusan saya’

####

ambar dan pak yono kemudian berjalan menuju ruangan laboratorium klinis tempat pak yono bekerja.

setelah memastika keadaan aman, pak yono sibuk mengisi blangko kosong untuk catatan medis calon subjek pengujian obat’

‘untuk identitas biar saya yang isi pak’

‘baik bu’

‘sekarang langsung pemeriksaan saja’

pak yono mengambil berbagai peralatan dari meja kerjanya, tangannya penuh membawa peralatan untuk mengukur kesehatan ambar sebagai subjek pengujian.

mulai dari stetoskpo, tensimter, termometer sampai pita ukur dia bawa bersamanya ke arahmeja periksa tempat amabr berada.

‘mari bu saya periksa dulu’

‘silakan pak’

amabr merebahkan tubuhnya diatas meja periksa, sehingga dadanya semakin membusung dihadapan pria yang bukan suaminya.

blus ketat berwarna pink terlihat sesak menampung buah dada ambar yang berukuran diatas rata rata wanita pada umumnya.

beberapa kali pak yono berusaha membetulkan letak penis di balik celananya, meskipun berusaha seprofesional mungkin melakukan tugasnya namun tetap saja tubuh ambar yang montok mustahil dia abaikan.

satu persatu tahap pemeriksaan dilakukan pada ambar, dengan teliti pak yono berusaha mengukur kondisi tubuh atasannya itu.

‘sudah selesai bu’

‘sudah semua pak?’

‘masih ada tes darah, tapi hasilnya tidak bisa langsung keluar’

‘terus bagaimana pak?’

‘malam ini saya akan lembur untuk menyelesaikan tes darah ibu, sehingga paling cepat nanti tengah malam sudah keluar’

‘terima kasih pak atas kerjasamanya, untuk selanjutnya nanti biar saya yang mengerjakan’

‘baik bu’

‘kalo begitu saya pulang dulu’

‘silakan’

####

ambar meninggalkan temapt kerjanya untuk kembali ke rumah, sepanjang perjalanan dia berdoa agar dia memenuhi syarat untuk menjadi subjek tes obat barunya.

saat ini tidak ada yang dia bisa lakukan selain hanya menunggu laporan dari pak yono, yang tengah berusaha menyelesaikan tes darahnya.

dia sadar yang dia lakukan ini tidak benar, namun dia terpakas melakukannya karena sudah tidak ada jalan lain.

meskipun secara medis hasil pengujiannya valid namun secara hukum yang dia lakukan tidak bisa dibenarkan karena telah melanggar klausa perjanjian antara perusahaannya dengan si klien.

dia sadar resiko yang dihadapinya dengan melakukan semua ini, tapi dia berusaha agar serapi mungkin menutupi pekerjaannya ini.

ambar berusaha sesedikit mungkin membagikan informasi ini pada orang lain diperusahaannya.

semakin sedikit orang yang tahu maka kemungkinan terbongkarnya rencana ini akan semakin kecil sehingga resiko dia menghadapi konsekuensi hukum juga bisa dihindari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*