Home » Cerita Seks Mama Anak » Ibuku Cintaku dan Dukaku 32

Ibuku Cintaku dan Dukaku 32

Cerita Sex Sedarah Ibuku Cintaku dan Dukaku 32 – Ibu menatapku dalam-dalam sambil memberikan senyum mengembang yang mengisyaratkan sebuah kesenangan dan keterkejutan. Dia seperti baru saja mendengarkan sesuatu yang begitu menggugah.

Aku ikut-ikutan nyengir. “Ibu kenapa? Kok senyum-senyum?”

“Tito mau lagi?” dia balik bertanya.

Aku mengangguk. “Ibu goyang-goyang lagi dong, kayak tadi…,” pintaku. Senyumku tertahan, masih agak malu mengutarakan keinginan.

Ibu tak menjawab. Dia hanya mendesah sambil mengecup bibirku lagi. Aku meladeni ciumannya dengan senang hati.

“Tito mau ngentot Ibu lagi, sayang…?” tanyanya lirih setelah melepaskan bibirnya dari mulutku. Ibu membelai pipiku.

Aku mengangguk pelan. Helaan napas dan detak jantungku meningkat dengan cepat.

Ibu kemudian menegakkan tubuhnya, lantas mengangkat selangkangannya, bergerak ke samping kaki kiriku. Dia bersujud, mengarahkan wajah cantiknya ke kemaluanku. Penisku yang masih berlumuran cairan kenikmatan itu pun dicaploknya.

“Ahh… Ibu…,” rengekku pelan. Perasaan itu kurasakan kembali, geli dan ngilu.

“Srruupp… crruupp… mmmhhh… aahhh….” Ibu menyedot-nyedot dan menjilat batang zakarku layaknya sebuah es krim. Lelehan-lelehan dari cairan yang mengalir ke selangkanganku pun tak luput dari santapannya. “Maninya Tito enak banget, sayang… aahhh….”

“Bu… udah… geli…,” ucapku dengan suara kecil yang gemetar.

Seolah tak mendengarkanku, Ibu terus mendalami aksinya. Dia bahkan mengulum dan menggelitik penisku dengan gerakan lidahnya.

Alhasil seluruh tubuhku tersentak-sentak tak karuan. Jemari kakiku menekuk-nekuk tegang. “Ibu… ahnghh… Ibu… udahh…,” rintihku gelisah.

Entah karena melihatku begitu “menderita”, Ibu melepaskan kulumannya. Dia berdecap-decap, menikmati cairan yang sudah dilahapnya dengan rakus, tersenyum mesum sambil menatapku yang sedang terengah-engah. Tangan kirinya mengurut penisku perlahan.

“Enak?” tanyanya.

Aku nyengir, tak menjawab.

“Tito bangun dulu, Nak,” suruhnya tiba-tiba.

Aku menurutinya, bangkit dengan sigap.

Belum sempat aku menanyakan apa maunya, Ibu kemudian mengambil tempatku. Dia langsung berbaring dan segera mengangkangkan kaki selebar-lebarnya, mempertontonkan vaginanya.

Suhu tubuhku mendadak mendidih demi melihat kemaluan Ibu yang terlihat sangat basah itu kembali terpampang sempurna. Vaginanya terlihat semakin menggoda dengan lumuran cairan kental yang sepertinya adalah air maniku. Cairan itu bahkan merembes ke pahanya. Kurasa itu karena dia melepaskan penisku dari vaginanya tadi, sehingga membuat air maniku keluar dari celah kemaluannya dan meleleh ke pahanya, persis seperti apa yang terjadi ketika aku bercinta dengan Bunda Aini.

“Sekarang, Tito yang entotin Ibu ya, sayang…,” ucapnya sambil meraba-raba vaginanya sendiri. Mulutnya mendesis-desis halus.

Aku menelan ludah. Perlahan, kudekati selangkangannya yang terbentang, mengambil posisi. Napas kami berdua sudah memburu.

“Masukin kontolnya, sayang. Entot Ibu…,” dia berkata parau. Rangsangan hebat sudah menguasai dirinya dalam sekejap, tampak dari matanya yang semakin meredup dan desisannya yang mengeras.

Aku berlutut rendah dengan paha melebar, mengarahkan penisku yang sudah tegang maksimal ke bibir vaginanya. Kucoba mendorong penisku, namun bibir vagina Ibu hanya terbuka sedikit.

“Aahhh… sshhh…,” Ibu merespon dengan penuh nafsu. Dia lalu menurunkan tangannya, memegang penisku. “Ke bawah dikit, sayang….”

Aku yang sudah gelagapan hanya menuruti apa yang diinstruksikan oleh Ibu. Kuturunkan zakarku yang sudah mengeluarkan cairan bening, kemudian bergegas mendorong lagi.

“Ooohhh…,” Ibu langsung mengerang nikmat tatkala setengah bagian penisku sukses menerobos vaginanya. “Terus, sayang, dorong….”

Napasku masih tersekat di tenggorokanku ketika melihat sebagian batang kemaluanku sudah tenggelam ke dalam celah basah nan sempit itu. Baru kali ini aku bisa melihat dengan jelas terbelahnya vagina wanita karena diterobos penis seorang pria. Aku sekilas menyimpulkan bahwa tadi aku salah dalam melakukan penetrasi. Namun, demi mendengar perintah Ibu, aku langsung refleks mendorong pinggulku. Kutusukkan penisku hingga mentok ke dalam relung vagina Ibu.

“Ooohhh… ngentot…,” Ibu merintih vulgar sambil menatapku dengan alis mengernyit.

Aku tersengal-sengal, seperti baru saja mengangkat beban yang sangat berat. Rasa hangat yang ada di batang penisku seolah menjalar ke seluruh tubuhku, menyuntikkan rasa geli yang merangsang jutaan saraf. Melihat Ibu yang mengangkang dengan penis anaknya yang telah menyumbat vaginanya membuat naluri cabulku melesat kembali ke awang-awang. Aku terpikir untuk meniru apa yang dilakukan Rama di dalam video itu, mengayuh penisku keluar-masuk di dalam vagina Ibu. Rasanya pasti sangat nikmat.

Namun, belum lagi aku memulai tindakanku, Ibu tiba-tiba mengulurkan kedua tangannya padaku. “Sini, sayang, tidurin Ibu….”

Aku kurang begitu menangkap apa maksud Ibu. Aku hanya mengulurkan tangan, menerima ajakannya.

Ibu pun menarik kedua tanganku hingga aku terjerembap di atas tubuhnya. Dia memeluk tubuhku erat dengan wajah kami yang nyaris sejajar. “Entot Ibu, sayang…. Sodok-sodok memeknya Ibu…,” pintanya penuh nafsu.

Tanpa pikir panjang, aku langsung mengindahkan perintahnya. Segera kumulai pompaan penisku, mendorong-dorongnya dengan kuat.

“Aaahhh… oohhh… iya, sayang… entot… mmhhh… oohhh…,” Ibu mengerang dan mendesah kencang. Hidungnya mengeluarkan udara panas, terasa menerpa wajahku. Seolah tak puas dengan mendesah saja, dia juga meraih kepalaku, menciumi bibirku dengan ganas.

“Cupp… mmhhh… cupps.. cupp… hmmhh….” Kecupan dan deru napas kami bersatu padu, mengeluarkan suara-suara keintiman yang meningkatkan hasrat seksual kami berdua.

Aku benar-benar merasakan kenikmatan yang luar biasa. Payudara Ibu begitu kenyal dan empuk, seperti mengenyot dadaku. Pinggulku pun seakan tak ingin berhenti menyodok. Dinding vagina Ibu yang lembut dan ketat serasa memanjakan penisku. Cairan kemaluannya berkeluaran, melumuri selangkanganku.

Ibu kemudian menolak lembut kepalaku, melepaskan ciumannya. Dia tersengal-sengal, menatapku dengan wajahnya yang memerah. “Enak ngentotnya, sayang…? Memeknya Ibu enak…?” Ibu bertanya dengan vulgar.

“Iya… Bu… enak…,” jawabku spontan. Entah bagaimana aku bisa mengeluarkan kata-kata itu, seolah keluar begitu saja. Aku hanya bisa merasakan kenikmatan di dalam syahwatku yang menggelegak, tak terpikir lagi akan apa yang kukatakan.

Mata Ibu semakin redup. Napasnya juga kian memburu di tengah desisan kerasnya. Ibu tampaknya sangat terangsang dengan kata-kata singkatku barusan. “Ssshhh… aahhh… entot lagi, sayang…. Entot memek Ibu….”

Aku rupanya terlalu hanyut memandangi wajah Ibu, hingga tanpa kusadari pompaan pinggulku terhenti. Aku lantas melanjutkan lagi kenikmatanku yang tertunda, menyodok-nyodok vagina Ibu dengan hentakan keras namun tak terlalu cepat, sama seperti yang kulakukan sebelumnya.

“Oohhh… sayang… enak, sayang… oohhh… aahhh….” Ibu mendesah-desah sambil mengelus-elus punggungku. Dia nanar menatap wajahku yang masih terpaku pada kecantikannya. Ibu tampak sangat menikmati sodokan penisku. “Entot, sayang… ngghhh… oohhh… entot memek Ibu, sayang… entot memek Ibu… aahhh… oohhh… ngentot, sayang… ngghhh… oohhh… ngentot….”

Kinerja paru-paru dan jantungku seketika naik dengan signifikan. Kata-kata porno yang terucap dari mulut Ibu membuat nafsu syahwatku semakin menjadi-jadi. Sembari memperhatikan wajah cantiknya yang sedang diliputi nafsu, aku mempercepat dan memperkuat tusukan penisku ke vaginanya.

“Oohhh… sayaaangg… ngentot…!” Suara rintihan Ibu mengeras, disusul dengan ciuman ganasnya yang tiba-tiba hinggap di bibirku. Dia tak mengecup, melainkan mencium dengan kuat, seakan ingin menyatukan kedua bibir kami.

Aku yang memang sangat menyukai ciuman pun langsung meladeninya dengan senang hati. Kudorong otot-otot bibirku untuk menyambut kelembutan bingkai mulut wanita pujaanku. Kupagut bibir Ibu sepuasnya.

“Mmhhh… mmmhhh… ngghh… hmmmhh…,” Ibu hanya bisa menggumam dan mendesah-desah tertahan. Dia membelai-belai rambutku, lantas menarik kepalaku agar bibir kami menyatu lebih erat.

Napas panas menyatu dan menerpa wajah kami satu sama lain. Keringatku dan keringat Ibu mulai mengucur lagi, memberikan sedikit rasa licin ketika kulit kami bergesekan. Aku tak henti memompa pinggulku. Perasaan di dalam tubuhku semakin menyenangkan. Aku ingin segera mencapai orgasme, menyemprotkan seluruh air maniku kembali ke dalam vagina Ibu yang basah dan lembut.

Tetapi Ibu tiba-tiba mendorong kepalaku lagi, menjauhkan bibirku. Pompaan pinggulku langsung terhenti, menatapnya dengan napas tersengal-sengal.

“Ssshhh… Isap tetek Ibu, sayang…. Ssshhh… isap tetek Ibu….” Ibu tiba-tiba mengarahkan kepalaku untuk tertunduk sedikit, mengarah ke buah dadanya. Tangan dan napasnya menggeletar tak karuan. Desisannya sangat keras, seperti sedang kepedasan saja.

Aku langsung menurutinya. Dengan agak membungkuk, aku segera mencaplok puting dada kanan yang sudah dianjurkannya ke mulutku. Mulutku langsung mengisap dan menyedot-nyedot pentil coklat muda kecil itu.

“Ooohhh…! Iya, sayang… isap tetek Ibu… Sedot, sayang… ooohhh…!” Ibu semakin meriah. Tubuhnya bergetar-getar halus. Tangan kirinya mengelus-elus punggungku naik-turun, sementara tangan kanannya mengusap-usap rambutku dengan kasar. “Entot lagi, sayang…! Entot…!” ucapnya memburu.

Bagaikan kerbau yang dilecut tuannya, aku segera melaksanakan perintah Ibu, memompa pinggulku, menyogok-nyogok vagina basahnya. Persetubuhan yang kurasakan semakin luar biasa dengan kenikmatan ganda yang kuperoleh di mulut maupun di kemaluanku. Aku mengulum dan menusukkan penisku semaksimal mungkin demi mendapatkan kepuasan yang kuinginkan.

“Aahhh…! Oohhh…! Sayang…! Ngentot, sayang…! Ngentot…!” Suara Ibu kian mengeras. Tangannya meremas-remas rambutku. “Hngghhh…! Aahhh…! Sayaaangg…! Oohhh…!”

Kepalaku sudah memberat. Kupercepat dan kuperkeras lagi sodokanku sebisa mungkin. Puas mengulum puting payudara Ibu yang kanan, aku beralih ke payudara kiri, mengisap-isap dengan antusias. Napasku sudah terputus-putus demi menuruti Ibu yang semakin sering menekankan kepalaku ke buah dada besarnya.

“Ngentot, Nak…! Ooohhh…! Ngentot, sayang… ngentot…!” Ibu menjerit-jerit cabul menerima tusukan penisku. Untuk kesekian kalinya, Ibu mendorong kepalaku lagi. Saat bibirku terlepas dari payudaranya, dia langsung memelukku dan mencium bibirku lekat-lekat.

Mendapat ciuman ganas itu, aku tak menurunkan laju genjotan. Aku tetap menyodokkan penisku kuat-kuat hingga sesaat kemudian pinggulku terhenti sendiri karena tiba-tiba saja Ibu menahan pinggulku dengan melingkarkan kedua kakinya. Betisnya yang halus menjepit pantatku dengan erat.

“Hmmmhhh…! Hngghhh…! Hngghhh…! Ngghhh…!” Ibu meraung-raung keras. Suara geramannya tertahan oleh bibir kami yang sedang berciuman. Tubuh Ibu bergetar hebat, terkejang-kejang di setiap pekikan yang tersumpal di mulutnya. Ibu mencapai orgasme.

Aku terjebak dalam pelukan erat Ibu. Yang bisa kulakukan hanya membalas ciumannya yang begitu dalam, dibarengi oleh nikmatnya kemaluanku yang seperti tersedot ke dalam lubang vaginanya. Di balik napasku yang sesak dan memburu, syahwatku hampir saja memuncak. Ingin sekali kubalas cairan ejakulat hangat yang keluar dari organ intim Ibu dengan menyemprotkan air maniku. Namun sayang, rasa geli nikmat yang dikandung kemaluanku masih belum cukup bagiku untuk menyatukan cairan cinta kami berbarengan.

Badan Ibu berkelejatan dengan keras, membuat tubuhku sampai ikut-ikutan berguncang. Helaan napasnya keras sekali, mendengus-dengus. Satu hal baru yang kudapatkan dari momen percintaanku dengan Ibu adalah orgasmenya yang luar biasa. Aku sangat suka melihat bagaimana tubuh Ibu menggelepar dan bergetar hebat. Bagiku itu sangat erotis.

Cukup lama kami menyatukan tubuh dan bibir hingga getaran dan tegangan di tubuh Ibu berangsur-angsur menghilang. Belitan betisnya di pantatku pun mengendur. Saat dia melepaskan bibirnya dari bibirku, dia menciumi seluruh bagian wajahku dengan lembut dan mesra. Dengan jantung yang masih berdegup cepat, aku mencoba merasakan kemesraan yang diberikannya.

“Enak banget, sayang…,” katanya lirih sambil membelai rambutku, tersenyum puas. Napasnya masih belum teratur.

Aku balas tersenyum. “Bu… lagi, ya…,” ucapku seraya mendorong-dorong pinggulku perlahan, menusukkan penisku yang masih tegang dan tertancap sempurna di kemaluannya.

“Aahh… sshhh….” Ibu tampak kaget dengan perbuatanku. Ia mengernyit, menatap tajam kedua mataku.

Aku mendadak berhenti menyodok, mengantisipasi kalau-kalau Ibu tak suka dengan apa yang kulakukan. “Kenapa, Bu?” aku cepat bertanya.

Alih-alih menyampaikan ketidaksukaan, Ibu malah tersenyum menggoda. Matanya tiba-tiba meredup, dan dadanya kembang-kempis. Desisannya mengundang berahiku. “Mau ngentot lagi, sayang…?” dia balas bertanya.

Aku mengangguk pelan. Nafsuku langsung naik melihat wajah cantik Ibu yang kembali menunjukkan gairah seks. Penisku terasa kekar di bawah sana, menyambut buaian dari otot vagina Ibu yang berdenyut halus.

Ibu tersenyum sambil menarik napas dalam. “Tito bangun dulu, sayang,” suruhnya sambil mendorong tubuhku.

Kuturuti perintahnya dengan sigap, bangkit dari posisi telungkup, duduk berlutut dengan zakar yang mengacung tegak. Aku sempat melihat vagina Ibu yang becek, berlinangan cairan bening. Tapi itu hanya sekejap sebelum Ibu tiba-tiba menungging, bersujud dengan wajah yang terarah ke kemaluanku. Ibu tanpa ragu mencaplok batang kemaluanku yang juga berlumuran air vaginanya.

“Ngghhh… Ibu… hngghh…. Geli, Bu… jangan…,” aku langsung merengek dengan tubuh membungkuk dan bergetar-getar menyambut hisapan mulutnya. Rasanya geli sekali.

Tapi untunglah karena Ibu ternyata tidak terlalu lama melakukannya. Hanya tiga kali sedotan saja, dia segera melepaskan mulutnya. Ibu bangkit duduk, mesam-mesem sambil menyapukan bibirnya dengan lidah, sementara aku mencoba mengontrol napasku yang terengah-engah.

Saat pandanganku teralihkan ke buah dada indahnya, Ibu tiba-tiba membalikkan badan. Sungguh keras jantungku berdegup ketika Ibu tiba-tiba memasang posisi menungging, mengarahkan pantat dan vaginanya tepat ke arahku. Darahku berdesir hebat demi melihat pemandangan luar biasa ini.

Gumpalan pantat semok Ibu begitu indah, dihiasi oleh pahanya yang sintal, putih dan mulus. Vaginanya yang ketat dan terlihat empuk itu menyelip sempurna di selangkangannya, sementara lubang pantatnya yang sempat kujilat itu sudah terpampang dengan bebas. Gaya tak senonoh ini benar-benar membuatku nanar, menelan ludah untuk kesekian kalinya.

“Sayang…?” Ibu memanggil, sedikit menoleh ke belakang, menyadarkanku yang tercenung menyaksikan bokongnya.

Aku menyahut tanpa suara, menatap paras Ibu yang sedang melirikku sambil tersenyum.

Ibu memegangi bongkahan pantatnya yang sebelah kanan, melebarkannya hingga bibir vaginanya terlihat jelas. “Ayo, sayang, entot lagi memek Ibu…,” katanya menggoda.

Wajahku kembali memanas dengan helaan napas tersengal. Aku mendekat ke selangkangan Ibu, sementara Ibu membuka pahanya sedikit lebih lebar untuk menyambutku. Aroma kemaluan Ibu terasa semakin menguar saat kemaluanku sudah tepat berada di dekat celah kangkangnya. Dengan tangan yang gemetaran, aku memegang penisku, mengarahkannya ke liang peranakan Ibu.

Saat ujung penisku bertemu dengan bibir vaginanya, Ibu mendesis keras. Dia bangkita dengan posisi merangkak, melirikku yang ada di belakangnya. “Bisa masukinnya, sayang…?”

Aku tak menjawab. Belajar dari waktu aku menindihnya dan pengalaman ketika Bunda Aini mengarahkan penisku dalam posisi ini, aku bisa tahu ke mana arah yang benar. Ujung zakarku kunaikkan sedikit, lantas mendorong ke depan.

“Ooohhh…,” Ibu mengerang mesra saat aku berhasil menusukkan sebagian penisku ke dalam vaginanya.

Napasku tertahan dan tangan kiriku refleks memegang bongkahan pantatnya. Momen di mana penisku menerobos vagina lembutnya adalah salah satu kenikmatan besar.

“Dorong lagi, sayang…,” pinta Ibu dengan wajah meringis.

Dengan satu tarikan napas, aku pun mendorong penisku perlahan hingga akhirnya terbenam sepenuhnya di dalam vaginanya.

“Aaahhh…,” lagi-lagi Ibu mengerang nikmat menyambut tusukan kemaluanku.

Aku seperti baru saja berlari kencang, terengah-engah hanya karena merasakan kenikmatan dari pertemuan alat kelamin kami. Rasa hangat dan basah di selangkanganku semakin bertambah sedap dengan pemandangan gumpalan pantat yang begitu menggoda berahi. Penisku seperti ditelan oleh pantat seksi Ibu. Sungguh menggairahkan.

“Entot memek Ibu, sayang… entot…,” Ibu memohon dengan penuh nafsu.

Aku menelan ludah mendengar kata-kata cabul yang keluar dari mulutnya. Dengan syahwat yang menggelegak, aku menatap pantatnya sembari memegang kedua sisi pinggulnya. Aku menarik pinggul sedikit, lantas menyodokkan penisku dengan kuat.

“Oohhh… ngentot…,” Ibu membalas terjangan kemaluanku dengan rintihan lacurnya.

Nafsuku makin menggebu. Sambil menatap gemas ke pantat semoknya, aku menarik dan menusukkan penisku lagi.

“Oohhh… enak, sayang… entot…,” erang Ibu lagi.

Rasa nikmat sudah menjalar ke seluruh tubuhku. Seluruh bagian yang ada pada diri Ibu sudah menghipnotisku. Aku tak lagi bisa menghentikan sodokan, pinggulku meneruskan pompaan, menusuk-nusukkan penisku ke dalam vaginanya.

“Aahhh… oohhh… enak, sayang…. Entot terus, sayang… ngghhh… oohhh…. Ngentot, sayang… Oohhh… Tito… ngentot, Nak… ngentot….” Ibu mengekspresikan setiap colokan penis yang masuk ke vaginanya dengan begitu vulgar. Ekspresinya benar-benar cabul. Sesekali dia menunjukkannya dengan menolehkan wajahnya ke samping, melirikku dengan sayu seolah ingin aku tahu betapa hebat gelombang hasrat seksual yang sedang menerpanya.

Ibu tidak tahu bahwa yang kurasakan mungkin lebih parah darinya. Aku yang sedang menyodok-nyodokkan penisku di belakangnya terus-menerus didera nafsu berahi yang berlimpah. Seluruh indra di tubuhku seakan dieksploitasi oleh Ibu. Tak hanya kemaluanku yang mendapati kenikmatan, tapi juga mata dan telingaku. Meluap-luap rasanya gairah mesumku melihat pantat Ibu yang begitu empuk saat aku membenamkan zakar tegangku. Belum lagi perkataan dan racauan pornonya yang tak henti memenuhi seisi kamar, membuat rasa geli di selangkanganku berangsur-angsur berkumpul.

Tak ada suara yang keluar dari mulutku, hanya suara napas menderu yang menjadi tanda bernafsunya aku menusuk-nusukkan kemaluanku. Sambil mengayuh pinggul, sesekali aku memegang dan meremas pantat Ibu, merasakan betapa seksinya wanita yang sudah menemaniku selama 12 tahun. Sekarang wanita itu sudah merangkak telanjang bulat di atas ranjangnya, menerima hunjaman demi hunjaman penis tegang anaknya di dalam vaginanya.

“Ooohhh… terus, sayang… entotin Ibu…. Aahhh… sshhh… iya, sayang… remes pantat Ibu…. Oohhh… oohhh… ngentot, sayaaangg…,” Ibu meracau dan merintih semakin intens. Gairah seksnya meningkat, terdengar dari deru napasnya yang menguat.

Aku sendiri tak jauh beda dari Ibu. Sambil menatap pantat mulusnya, aku mempercepat dan memperkuat sodokan penisku. Rasa geli di kemaluanku sudah mulai terbit. Yang kupikirkan hanyalah bagaimana aku menggapai puncak syahwatku setinggi-tingginya. Kupacu otot-otot pinggulku sekuat mungkin, mengempas-empas bokong kenyalnya.

Plekk… plekk… plekk… plekk…

Hantaman tubuhku dengan pantat Ibu menimbulkan suara tepukan yang sensual. Aku tak bisa menakar betapa cabulnya diriku terhadap Ibu sekarang. Aku hanya mampu merasakan penis kerasku yang sedang mengorek-ngorek daging lunak nan basah, tempat aku menyemprotkan seluruh air maniku sebentar lagi.

“Oohhh… oohhh… mmhhh… Enak, sayang… aahh… aahhh…. Entot terus… oohhh…,” Ibu mengerang-erang nikmat sebelum sesaat kemudian tangannya tiba-tiba meraih tangan kananku yang sedang meremas pantatnya. Dia membawa tanganku ke buah dadanya. “Remes tetek Ibu, sayang…. Remes tetek Ibu sambil ngentot….”

Seolah dapat mainan baru, aku langsung meremas lembut payudaranya. Baru terpikir olehku bahwa aku bisa melakukan gaya seks ini sambil memegang buah dada. Tanpa diperintah, aku berinisiatif memegang payudara kirinya pula, meremas-remasnya sambil menikmati persetubuhanku. Rasa nikmat yang kurasakan meningkat drastis.

“Aaahhh… Tito pinter…. Remes terus tetek Ibu, sayang…! Oohhh… oohhh… ngentot…! Oohhssshhh… Enak, sayang…. Oohhh… ngentot enak…!” Racauan cabul Ibu makin keras. Sesekali dia turut mengelus tanganku yang sedang meremas payudaranya. Vaginanya becek sekali. “Oohhh… sayaaangg… Ibu suka ngentot sama Tito, sayang…! Oohhh… oohhh… Ibu suka ngentot…! Ngentot, sayang… ngentot…!”

Mulutku agak terbuka, turut mengambil napas yang sudah terasa berat dan tersendat-sendat. Kuota syahwatku sudah melebihi ambang batas karena mendengarkan ceracau Ibu yang sangat porno. Mataku meredup menyaksikan pantat Ibu yang aduhai. Gumpalan daging besar itu terasa basah, mengecup-ngecup bagian bawah pusarku. Dengan gejolak berahi yang sudah di ubun-ubun, kuperkeras sodokan penisku ke vagina Ibu. Aku ingin segera mengeluarkan “beban berat” di selangkanganku.

“Bu… nghh… Tito mau… kencing… nghhh… Bu… geli…,” aku merengek-rengek menanggung rasa geli di kemaluanku. Badanku mulai menggigil. Seisi kepalaku seperti penuh sesak.

Mendengar rintihanku, Ibu mendadak seperti kerasukan setan. Dia berteriak-teriak dan pantatnya bergerak-gerak ke atas dan ke bawah, seakan hendak membalas tusukan penisku. “Ooohhh… muncratin, sayang…! Muncratin maninya di dalam memek Ibu…! Aaahhh… enak… enak…! Ngentot sampe muncrat…! Ooohhh… Ibu suka ngentot, sayaaangg…! Ooohhh…! Ngentot…! Ngentooott…!”

Tubuh Ibu tiba-tiba mengejang dan menggelepar-gelepar. Pantat dan pahanya bergetar hebat. Vaginanya berdenyut-denyut mengeluarkan cairan hangat, mencengkeram kuat batang penisku.

Croott… croott… croott… croott… croott…

Air maniku pun menyemprot-nyemprot kuat ke dalam lubang vagina Ibu. Hampir terpejam mataku menanggung kenikmatan dan rasa geli yang luar biasa. Aku tak kuasa melihat curahan puncak syahwat Ibu yang begitu erotis. Tubuhku agak condong ke depan sambil berpegangan pada pinggang Ibu yang sedang berguncang dengan hebatnya. Penisku tertusuk dengan dalamnya, namun aku tetap menolak pinggulku ke depan, seakan ingin memuaskan nafsuku.

“Tito…! Ibu muncrat, sayang…! Ibu muncrat…! Ooohhh… ngentot…! Mani anget enak…! Mani kontol…! Ooohhh… kontol Tito enak…! Ngentooott…!” Ibu berteriak-teriak mengekspresikan orgasmenya. Punggung dan pantatnya melengkung naik dan turun mengikuti setiap gelombang puncak seksual yang dirasakannya.

Berbeda dengan Ibu, aku hanya bisa mendengus-dengus dengan mulut sedikit ternganga, menyembur-nyemburkan air maniku. Tubuhku mendidih dengan rasa geli yang secara konstan menerjang kemaluanku. Tanganku bisa merasakan betapa dahsyatnya tubuh Ibu yang sedang menggeletar. Fantasi seksualku mengawang-awang. Nikmat sekali rasanya.

“Mmmhhh… enak banget, sayang…. Ooohhh… ngentot… enak….” Ibu merobohkan tangannya, membuat posisi tubuh menungging. Kepalanya direbahkan di bantal, sementara pantat mulusnya menengadah, bergetar-getar mengeluarkan muatan orgasme dari dalam tubuhnya. “Aaahhh… mmmhhh… ngghh… ssshhh… enak, sayang….”

Entah berapa banyak kukeluarkan air maniku. Otot selangkanganku sampai terasa cukup pegal. Cairan kejantananku sudah berhenti keluar, tapi aku masih ingin tetap merasakan pijatan lembut dari dinding vagina Ibu di penisku.

Cukup lama kami terdiam dalam posisi itu sampai Ibu kembali bangkit dalam posisi merangkak. Dia menoleh, melirikku yang masih menusukkan penisku di kemaluannya. “Enak…?” tanyanya singkat sambil tersenyum manis.

Aku tersenyum saja.

Ibu memegang tanganku yang berada di pinggangnya. “Lepas dulu, sayang. Ibu mau duduk,” pintanya.

Saat aku menarik pinggulku, pantat Ibu dan selangkanganku terasa lengket dan basah, bukti bahwa kelamin kami tadi memang menyatu sangat erat. Penisku dan vagina Ibu berlumuran banyak cairan. Ibu lekas mengambil celana dalamku dan menaruhnya di kemaluannya. Mungkin untuk menjaga agar air maniku tidak menetes dan mengotori ranjang, persis seperti apa yang dilakukan Bunda Aini kemarin.

Aku masih termenung saat dia tiba-tiba saja menatapku, tersenyum lagi. “Sini, sayang, rebahan lagi,” suruhnya seraya menyusun posisi bantal dengan sebelah tangannya. Tangannya yang sebelah lagi masih menyumbat vaginanya dengan celana dalamku.

Dengan penis yang masih belum sepenuhnya mengendur, aku mengikuti instruksinya, merangkak perlahan dan merebahkan diriku. Aku masih bertanya-tanya apa maksudnya, tapi Ibu tampak mengerti apa yang harus dilakukannya.

“Buka kakinya…,” suruhnya lagi.

Entah kenapa, nafsuku seperti naik kembali. Memampangkan kemaluan basahku yang menjulang di depan matanya saja sudah membuatku terangsang, kini dia malah menyuruhku membuka celah kangkangku. Apa yang hendak dilakukannya? Apakah Ibu bermaksud melakukan “itu” lagi?

Dugaanku ternyata tak meleset. Ibu sigap mengambil tempat di antara kedua kakiku yang sedang terbuka. Sambil tersenyum mesum, Ibu membungkuk dan mengarahkan wajahnya ke kemaluanku. Penisku yang berlumuran cairan kenikmatan itu langsung dicaplok mulutnya.

Aku mengernyit, tersentak. Napasku tersekat di tenggorokan. “Nghhh… Ibu….”

“Ssrruupp… mmmhhh… ssrruupp…,” Ibu menyedot-nyedot dan mengulum zakarku dengan nikmatnya layaknya sebuah es krim. Dengan sebelah tangan, dia menyampirkan anak rambutnya ke belakang telinga. Ibu tampak santai mengisap organ vitalku itu.

Berbeda dengan Ibu, aku malah menderita. Bukan rasa geli seperti biasa yang kurasakan, malah rasa ngilu. Tubuhku sontak gelisah tak karuan. Lutut dan jemari kakiku menekuk-nekuk tegang. “Bu… udah, Bu… ngilu…. Ibu… ekhhh… nghhh….”

“Ssrruupp….” Ibu memberikan sedotan terakhir sebelum dia akhirnya berdecap-decap merasai cairan itu. Dia mendesis nikmat, lantas tersenyum menatapku.

Aku terengah-engah, menengok batang zakarku yang telentang tegang di bawah pusar. Sungguh menggairahkan Ibuku ini. Dia betul-betul tahu cara memuaskanku.

“Enak banget maninya, sayang…,” ucap Ibu sambil mengelus paha kananku.

“Ngilu, Bu…,” kataku seraya mencoba tersenyum.

Namun, seolah belum puas, Ibu kembali mengarahkan wajahnya ke kemaluanku. Tapi untungnya dia tak mengulum penisku lagi, melainkan melahap bagian-bagian yang ada di sekitarnya. Dia menjilati area-area yang terkena lumuran cairan persetubuhan.

Kali ini aku merasa geli. Benar-benar geli sampai-sampai aku meringis dan terkikik sendiri. Ibu tersenyum melihat tingkahku sambil menjalankan jilatan-jilatannya. Wajahnya benar-benar mempesona, cantik sekaligus mesum.

Tak lama kemudian, dia menghentikan sapuan lidahnya, bangkit duduk dengan tangan kiri yang masih berkutat di vaginanya. Ibu merangkak ke samping kananku. Tampak cukup kesusahan dia merangkak dengan sebelah tangan. Buah dadanya bergoyang-goyang bebas.

“Geser dikit, Nak. Ibu mau baring juga,” katanya.

Aku bergeser ke kiri, memberikan tempat untuknya. Mataku tak lepas dari payudaranya yang indah.

Ibu berbaring telentang, lantas menatapku sambil menunjukkan senyumnya yang begitu manis. Aku terpana ketika dia mengangkat celana dalamku yang baru saja dibalutkannya di vaginanya. Celana dalam coklatku itu sudah basah kuyup dengan cairan yang berasal dari vaginanya, perpaduan dari ejakulat yang keluar dari organ intim kami berdua.

Ibu melirikku, tersenyum sekilas sebelum dia tiba-tiba memasukkan bagian celana dalamku yang berlumuran cairan hasil persetubuhan itu ke dalam mulutnya.

Aku terkejut bukan kepalang. Tanganku hampir tergerak untuk meraih benda itu, namun melihat Ibu yang tampak sangat bernafsu, aku membiarkannya. Ada sesuatu yang muncul dan menggelitik di dalam tubuhku saat menyaksikannya, membangkitkan semacam rangsangan.

“Mmmhhh… hhmmhh… hnghhh…,” Ibu yang tampak sudah berpeluh halus di dahinya mengeluh mesra sambil menggusel-guselkan celana dalamku ke mulut dan hidungnya. Dia terpejam saat melakukannya. Tangan kanannya mengelus-elus payudaranya sendiri.

Aku tak tahu harus berkata apa mengenai Ibuku. Dia benar-benar berbeda. Jika ada kata yang pantas untuk mendeskripsikan apa yang kuhadapi di sini, mungkin “Dewi Seks” adalah julukan yang paling tepat.

Lantas, bagaimana selanjutnya?

***

Bersambung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*