Home » Cerita Seks Mama Anak » Kontradiksi 8 (Tamat)

Kontradiksi 8 (Tamat)

BAB DELAPAN

Setelah kubujuk, Kak Dian turun ke bawah ke ruang tamu tanpa berbusana apapun. kami duduk di sofa. Tetek Kak Dian tidak kecil, bagian bundarnya selebar plakban besar, memang tidak sebesar payudara ibu yang gemuk dan berisi, namun pentil Kak Dian mancung sebesar penghapus yang ada pada pensil jaman dulu, areolanya pun kecil sedikit lebih kecil dari logam seribuan. dan letak pentil itu lebih ke tengah di banding ibu yang sudah agak turun ke bawah.

Sambil menunggu ibu, aku mengenyoti payudara kiri kakak kandungku itu. tak lama kontolku berdiri dan kami yang sedang asyik tak merasa apapun sampai ibu tahu-tahu duduk di samping kiriku dan menggenggam kontolku.

Ibu: “Nafsu kamu ga abis-abis Di. Bagus deh kakakmu ikut juga. sering ibu kecapekan setiap malam digarap dua kali paling sedikit. pernah kamu ngentotin ibu sampai empat kali dan yang keempat ibu udah ketiduran kan?”

Aku hanya tertawa, sementara tiba-tiba ibu mengulum kontolku. melihat punggung montok ibu, aku menjilati punggungnya yang berkeringat karena baru pulang dari luar. Kak Dian memeluk aku dan menarikku. kami berciuman sementara mulut hangat dan basah ibuku menyedot-nyedot kontolku.

Aku: “Sini Hadi jilatin memek Kakak.”

Kak Dian mengangkang sementara aku tiduran di sofa, ia menaruh selangkangannya di mulutku dan menduduki wajahku. Ibu ganti posisi dengan menduduki kontolku, tampaknya dia sudah tak tahan lagi, mungkin karena melihat kedua anaknya ngentot di depannya. Memek ibu walau tak sesempit Kakakku, tetap saja lumayan sempit, karena kami berdua dilahirkan cesar. apalagi kata ibuku kontol bapakku kecil, sehingga lubang persenggamaan miliknya tetap joss kalau di coblos olehku.

sambil menjilati memek kakakku aku dientoti ibu yang mengendarai penisku yang keras. Ibuku tersenyum melihat wajah kakakku yang merem melek. diciumnya kening anak perempuan sulungnya itu. Kak Dian tersenyum dan mencium bibir ibu sebentar. mereka berdua saling berpegangan tangan dan mengendarai aku. ibu mengocok memeknya di kontolku sementara Kakakku menggeseki wajahku dengan memeknya yang kecil dan basah.

Makin lama goyangan kami makin hot, kedua pantat perempuan ibu dan anak itu bergerak cepat tanda orgasme yang akan datang nanti. Mereka akhirnya berpelukan erat saling mengerang di telinga masing-masing.

Kak Dian: “Terimakasih, bu, Dian boleh mendapatkan pacar ibu…”

Kak Dian mencium pipi ibu.

Ibu: “Dia sekarang suami ibu. dia juga sekarang suami kamu. kita ini madu. tapi ibu ikhlas.”

Ibu mencium pipi Kak Dian. Kak Dian yang sedang birahi, merasa terharu, diciumnya bibir ibunya yang ikhlas di madu anaknya sendiri. mereka saling tersenyum lagi. Kemudian mereka berciuman di bibir sekali lagi. kali ini agak lama. sambil tetap berpandangan dan tersenyum, mereka berciuman lagi, kali ini menggunakan lidah. kami bertiga, ibu dan dua anaknya, merasakan suatu koneksi yang tidak dapat digambarkan, suatu hubungan yang amat spesial antara kami bertiga. untuk saat itu kami tahu bahwa kami bertiga tak akan pernah terpisahkan.

Dalam perasaan mabuk cinta, kami bertiga mencapai orgasme bersamaan.

Epilogue

Kami tidur satu kamar di kamar orangtua. Pagi hari jam empat ibu akan bangun, membangunkanku dan kami akan berhubungan seks. aku akan tinggal sementara ibu turun untuk menyiapkan makanan. Aku akan memandangi kakakku yang telanjang dan masih tertidur dan aku akan menjilati tubuhnya, biasanya memeknya, atau kadang aku menjilati ketiak tak berbulu miliknya sampai kakakku bangun. berhubung aku sudah foreplay sehingga kakakku terbangun horny, kami akan bersetubuh. setelah itu kami berdua mandi, terkadang kalau aku nafsu lagi, kami akan ngentot lagi.

Kami lalu makan pagi. kakak yang sekolahnya jauh akan bergegas berangkat, sementara kalau aku masih horny, ibu akan mengangkang di manapun aku mau, entah di dapur, meja makan atau kamarku, dan aku akan menyetubuhi ibu sekali lagi sebelum berangkat sekolah. aku berangkat sekolah dengan kemaluan bau memek ibu.

Pulangnya aku langsung mencari ibu yang biasanya sudah telanjang di dapur, sambil menunggu Kak Dian, aku akan menjilati ketiak ibu atau memeknya sampai aku horny lagi dan kami berhubungan seks lagi. setelah itu kami makan siang, setelah makan, giliran Kak Dian yang aku jilati dan setubuhi. setelah itu kami tidur siang. terkadang kami bertiga berhubungan seks, kalau aku letih terkadang mereka berdua asyik menjilati memek satu sama lain dengan posisi 69. terkadang aku ngaceng juga melihat mereka sehingga biarpun aku letih, aku akan ngecrot di salah satu dari mereka.

setelah belajar, buat pr (terkadang dengan salah satu dari mereka yang telanjang di sampingku sehingga terkadang terpaksa kami ngentot juga), maka kami akan mandi bareng. seringkali kami saling memuaskan diri di situ. lalu kami akan makan malam. sebelum tidur, minimal salah satu dari mereka akan aku semprot memeknya dengan maniku, terkadang satu orang dua kali. bahkan pernah dua duanya kusemprot tiga kali dalam satu malam.

tiga bulan kemudian ibu hamil, sedangkan kakak disuruh ibu minum pil. untung saja seminggu kemudian ayah datang, sehingga kehamilan ibu tidak ketahuan karena orang lain. Ibu melahirkan anak perempuan yang diasuh telaten oleh ibu. saat menyusui aku jarang sekali menyetubuhi ibu karena dia capek. hanya tiga empat kali seminggu. untung saja ada Kak Dian.

Kak Dian hamil tak lama lulus SMA, sehingga akhirnya aku mengontak saudara ketemu gedeku yaitu Guo Jing, dan beliau memberikan identitas baru bagi kami. Ibu cerai dengan ayah, dan aku menikahi ibu dan kakakku. Kami tinggal di luar Jawa atas petunjuk saudaraku Guo Jing. Kami tinggal di perumahan yang rata-rata adalah pasangan inses tanpa diketahui pihak berwenang. Dengan dua isteri, tiga anak perempuan dan satu anak laki-laki, aku bisa dibilang hidup dalam impian semua lelaki.

TAMAT

Lereng Gunung Kembar, tak jauh dari Rawa Basah Kenikmatan, 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*