Home » Cerita Seks Mama Anak » Kontradiksi 3

Kontradiksi 3

BAB TIGA

Perasaanku sore itu berbeda dari dua hari kemarin. Betul, saat ini aku juga deg-degan, tetapi, ada perasaan lain berkecamuk di hatiku. Ada perasaan harap-harap cemas yang kurasakan. Bila kali ketiga dan ternyata nanti hasilnya sama, maka ini berarti bahwa ibu sebenarnya tidak marah ketika aku melihat tubuhnya setengah telanjang. Mungkin, ibu pura-pura marah, karena seharusnya memang ibu marah. Ibu mana yang membiarkan anaknya memperhatikan tubuh ibu kandungnya tanpa ada perasaan marah? Secara moral, ibu harus marah. Namun, mungkin saja, secara pribadi ibu tidak mempunyai masalah bila anak lelakinya menatap tubuhnya.

Ketika ibu keluar kamar, ibu merengut menatapku.

Ibu: “Mau ngelihatin ibu ganti baju lagi?”

Aku hanya menggeleng sambil belagak baca komik. Bila ibu suka berkontradiksi, aku juga akan berkontradiksi.

Aku: “Hadi mau baca komik sambil ngadem.”

Setelah dandan singkat, ibu memakai celana dalamnya, lalu membuka handuk seperti biasa. kali ini ia membelakangiku. ketika ia menengok ke arahku, aku melirik komik. kemudian aku melirik lagi tubuhnya yang setengah telanjang, ia tampak mencari-cari baju. terkadang ia menengok aku, dan aku pura-pura lagi baca komik. begitu terus. sekitar dua menit aku dan ibu bergerilya dengan mata kami, dan selama itu aku menatapi tubuhnya dari belakang. setelah ia selesai memakai daster ibu menatapku sambil tersenyum.

Ibu: “Gitu dong. jangan ngelihatin ibu ganti baju.”

Aku hanya tersenyum. Tapi dalam hati bingung. Apakah mungkin ibu tidak tahu bahwa aku sebenarnya hanya pura-pura baca komik saja? Apakah ini termasuk dalam karakter ibu yang penuh kontradiksi? Apakah berarti aku harus pura-pura terus?

Selama sebulan itu, tiap sore aku akan melihat ibu ganti baju. semakin lama ibu semakin jarang menengok ke arahku. terkadang aku begitu asyiknya menatap tubuhnya sampai ibu sering juga menangkapku melihati tubuhnya, namun begitu aku sadar dan aku melirik komik, maka ibu akan melanjutkan apa yang ia lakukan saat itu.

Bulan kedua ketika ibu berdandan, aku yang punya rencana baru memberanikan diri berkata padanya.

Aku: “Ibu, biasanya kalau ga ada Hadi, ibu dandan pakai handuk? kan basah tuh.”

Ibu: “Biasanya sih dibuka. tapi kan ada kamu. Masak dibuka.”

Aku: “Emangnya kalau ada Hadi kenapa Bu?”

Ibu: “Kan malu ibu ga pakai baju.”

Aku: “Kan Hadi ga ngelihatin ibu. kenapa harus malu?”

Ibu menatapku, aku pura-pura baca komik lagi. tak lama kulihat ia mengambil celana dalamnya di lemari, lalu membuka handuknya. Yes! rencanaku berhasil. Kini aku menikmati tubuh ibu dari samping, karena meja rias ada di samping tempat tidur. dapat kulihat bagian samping payudara kanan ibu yang bulat.

Ibu: “Hadi…”

Aku melihat wajah ibu yang ternyata sedang melihatku dari cermin. sial, pikirku, apakah ibu kini akan marah?

Ibu: “Kamu ga akan ngelihatin ibu yang cuma pakai BH dan celana dalam ini kan?”

Aku: “Enggaklah bu, masak Hadi kurang ajar sih.”

Sejenak aku lirik komik lagi. lalu aku kembali melirik ibu yang masih berdandan. kulihat kini ibu berdandan agak lama. biasanya ia memakai bedak dengan cepat, namun kini ibu gerakannya perlahan. wah, ibu sungguh baik dan membiarkan aku menatapnya lebih lama. ibu terkadang melirikku, namun kini aku tidak mau lagi melirik komik tiap kali ibu menoleh. aku kini terus menatapnya tanpa henti.

Ketika ibu bangkit dari tempat duduk riasnya, ia membalikkan badan menghadapku.

Ibu: “Kamu ga ngelihatin ibu lagi, kan?”

Aku: “Enggak dong bu. Hadi lagi asyik baca komik nih.”

Namun mataku tetap menatapi payudaranya yang kini terlihat dari depan. aku hanya menaruh komik di depan hidungku, namun aku tetap jelalatan menikmati tiap inchi tubuh ibuku yang seksi itu.

Ibu: “Gitu dong.”

Ibu lalu memakai dasternya yang kini dilakukan dengan perlahan. kemudian ibu berlalu dari kamar. Ibuku meninggalkanku yang sedang berbahagia. Kini aku dapat melihat tubuh setengah telanjang ibu tanpa ada protes dari ibu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*