Home » Cerita Seks Mama Anak » Kontradiksi 2

Kontradiksi 2

BAB DUA

Ketika aku kelas 1 SMP, aku berniat mengintip ibu ketika mandi, namun kami memiliki dua kamar mandi. satu di kamar orangtuaku, satu di lantai bawah yang dipakai aku dan kakakku. Sayang sekali setiap kali ibu mandi, ia selalu mengunci kamar mandinya, sehingga aku rencana itu gagal. Tetapi, aku tidak menyerah begitu saja. Bila satu pintu tertutup, carilah pintu lain. Setelah aku memutar otak, maka aku mendapatkan akal bulus lain yang membutuhkan keberanian besar. Butuh waktu yang lama (sekitar sebulan) untuk memunculkan keberanianku dan akhirnya aku pun memutuskan untuk mencobanya sekali. Fakta bahwa ibuku sangat menyayangiku bahkan lebih kalau dibandingkan kepada kakakku, yang membuat aku memutuskan untuk melaksanakan recanaku itu. Apalagi, sehari-hari kakakku selalu mengurung diri di kamar, entah belajar atau menelpon temannya, atau entah apa yang ia lakukan di sana, juga menambahkan keberanianku ini. Kakakku tidak akan mengetahui apa yang aku lakukan.

Setahun lebih berlalu semenjak aku mengetahui mengenai inses. Setahun lebih aku bergulat untuk memutuskan apakah yang aku lakukan ini benar atau salah. Setahun lebih pula akhirnya aku memutuskan untuk membuat rencana yang kuharap nantinya mampu membuat segala impianku tercapai. Dan rencana terakhir ini yang kuanggap yang paling sempurna melihat kondisi rumah saat itu.

Sore hari ketika pembantu sudah pulang, aku menunggu waktu ibu mandi. Aku masuk ke kamar ibu membawa buku komik dan membaca di kamar. Aku menunggu sekitar sepuluh menit. Namun, sepuluh menit itu bagaikan sejam lamanya. Darahku bergolak deras, jantungku berdebar-debar tidak karuan, dan pikiranku ngalor ngidul mencoba menenangkan asaku yang seakan mau padam disiram rasa takut bila ibu memarahiku. Namun, libidoku yang menjadi raja, dan segala resiko yang akan aku alami tidaklah mampu mengalahkan dahagaku terhadap ibu.

Ketika pintu kamar mandi terbuka dan ibu keluar hanya dengan handuk yang menutup dada sampai ke atas pahanya, jantungku seakan mau meledak, namun birahiku bergerak naik ke atas sehingga tak lama kelelakianku mengeras dengan maksimal. Ibu agak terkejut melihat aku duduk di tempat tidurnya bersandarkan kepala spring bed dan membaca buku komik.

Ibu: “Ngapain kamu, Di?”
Aku: “Panas di kamar, enakan di sini ada ACnya.”

Ibu lalu dandan di depan meja riasnya. tampaknya tak menghiraukan aku. Namun aku sekali-sekali melirik ibu. Sayang sekali di balik handuk ibu, ibu tidak telanjang. karena dapat kulihat tali BH putihnya. Tak lama setelah itu ibu beranjak ke depan lemari pakaiannya yang berada tepat di depan tempat tidur, sehingga ia memunggungiku. ia mengambil celana dalam, hatiku bergetar mengharapkan ibu membuka handuknya. alangkah kecewanya aku ketika ibu memakai celana dalamnya dengan handuk masih terpasang. Namun, ketika ia akhirnya membuka handuknya, aku dapat melihat punggung telanjang ibu yang berhiaskan Bra putih, dan pantatnya yang bahenol tertutup oleh celana dalam putih. Ibu tidak memiliki siluet tubuh model yang ramping, melainkan tubuh seorang perempuan yang sudah memiliki anak, namun tetap berusaha menjaga kondisi tubuhnya itu. hanya sedikit lemak di pinggangnya, dengan betis agak semok, paha yang agak besar, pinggul besar, dan punggung yang berlekuk. Tidak bisa dikatakan gendut, tetapi lebih tepat bila disebut sekal.

Sayang sekali pertunjukkannya cepat berakhir ketika daster ibu telah terpasang. Ibu menangkap basah aku sedang memperhatikannya memakai dasternya.

Ibu: “Hadi! Ibu gak suka kamu ngelihatin ibu waktu pakai baju. Risih.”

Dengan wajah sebal ibu keluar dari kamar. Aku tadi sempat kaget dan takut. tetapi setelah semuanya berlalu, aku sedikit lega karena ibu tidak berlama-lama memarahi aku. Ketika aku keluar kamar ibu dan ke dapur di mana ibu sedang memasak untuk makan malam, ibu memperlakukanku seperti biasa. Bila ia marah padaku biasanya ibu tidak akan mengajakku bicara dan wajahnya akan merengut seharian. tetapi saat itu, ibu tidak memperlihatkan kemarahannya. Aku menjadi agak lega.

Keesokan harinya aku menunggu lagi ibu di kamarnya ketika ia sedang mandi. Di pikiranku, ada dua kemungkinan. Ibu akan mengusirku atau tidak. ada kemungkinan 50 50. aku memutuskan untuk mencoba keberuntunganku.

Ketika ibu keluar ibu menatapku dengan mengerutkan dahinya.

Ibu: “Kamu di sini lagi?”
Aku: “Masih panas di kamar. beliin AC dong buat Hadi.”

Ibu hanya menghela nafas lalu duduk di meja rias. Setelah berdandan sebentar (karena ibu hanya di rumah saja, maka make-up nya hanya tipis) maka ibu kembali ke depan lemari dan mengganti celana dalam dengan menggunakan handuk seperti kemarin. Yang berbeda adalah ibu setelah itu membalikkan badannya, menangkap basahku lagi yang sedang menatap tubuhnya dari belakang.

Ibu: “Ibu ga suka dilihatin kalau lagi ganti baju.”

Dengan wajah malu aku membaca komik lagi. di ekor mata kulihat ibu membuka handuk, ketika ku lirik, ibu ternyata masih menatapku namun kini aku dapat melihat tubuh ibu dari depan dengan hanya bertutupkan BH dan celana dalam saja! Buah dada ibu begitu bulat dan besar sehingga tampak BH yang biasa saja itu tak mampu menutup seluruh bagiannya. Belahan dadanya hanya tampak segaris saja diantara dua gundukan bulat.

Ibu: “Tuh kan! Ngapain sih ngelihatin ibu ganti baju?”

Entah kenapa aku terpaku. melihat tubuh ibu setengah telanjang, dengan payudara yang begitu indah, perut yang sedikit sekali membuncit, pinggulnya yang lebar membuat keseluruhan paket terasa komplit. sedikit lemak di tubuh ibu di bagian sana sini bila dipadu dan dipandang keseluruhan menjadi begitu indah, bagaikan simfoni musik yang utuh dan megah.

Ibu: “Hadi!”

Suara ibu meninggi. aku baru tersadar dan membaca komik lagi. setelah beberapa saat berlalu, aku lihat ibu mengambil daster dengan ekor mataku. Aku lirik lagi ibu ternyata ia masih menghadapku, hanya saja kepalanya tertutup daster yang sedang ia kenakan. Namun karena gerakan ibu cepat, ibu mendapatiku menatapnya lagi.

Ibu: “Kamu dibilangin bandel, ya?!”

Aku terkejut dan melirik komik lagi. Kemudian ibu keluar kamar. Setelah menenangkan diri selama beberapa menit, aku keluar kamar ibu lagi. Ketika aku mendapatkan ibu, ia sedang bersama Kak Dian. Aku takut ibu akan dingin kepadaku dan tak mau berbicara, tetapi sore itu ibu berkomunikasi denganku seperti biasa. Barulah aku tahu bahwa ibu penuh kontradiksi. Kejadian tadi di kamar ibu, bila orang lain yang mengalami, mungkin akan berbeda hasil akhirnya. tetapi, ibuku hanya memarahiku di kamar ibu saja, setelah itu bagaikan tidak terjadi apa-apa. Apakah ini artinya? Apakah berarti ibu sebenarnya tidak marah? Aku harus tahu apa yang dipikirkan ibu. Aku akan melihat lagi reaksi ibu besok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*