Home » Cerita Seks Mama Anak » My Son My Husband 9

My Son My Husband 9

Pov : Adi

Keluar dari cafe aku langsung bergegas mencari kendaraan yang bisa cepat sampai ke tempat mama, karna aku yakin pasti mama lagi berpikiran yang bukan – bukan karna aku belum sampai ke kantornya, ku cari ojek yang biasa mangkal tak jauh dari cafe yang barusan ku singgahi. Dan tak perlu jauh aku mencari lagi karna di depan sudah banyak ojek yang mangkal dipangkalannya ku hampiri dan ku pinta mereka menghantar ku ketempat alamat yang ku tuju.

Selama di perjalanan aku hanya bisa melamun dan memikirkan pertemuan ku tadi dengan gita, bagaimana jika orang tua nisa sampai tau anaknya telah hamil oleh pria lain, pasti aku yang akan disalahkan sebagai orang pertama karna mereka telah mempercayakan nisa kepada ku, tapi aku gagal menjaganya. Apakah aku masih pantas disebut sebagai seorang pria?.

Sekarang aku harus fokus mencari pria bajingan yang telah merusak nisa, dia harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah ia perbuat, tapi dengan cara apa? Nggak mungkin dengan cara kekerasan nggak akan ada hasilnya.

Selama di perjalan itu aku terus memikirkan cara yang baik untuk masalah nisa, hingga tidak sadar bahwa sebentar lagi akan sampai, karna masih tetap berdiam dan terhanyut dalam pikiran ku sendiri, akhirnya tukang ojek menyadarkan ku dari lamunan ku.

“Mas, mas kita udah sampai nih”

“E-eh…ini dimana pak? Udah sampai yah?” Jawab ku sambil ku tengok kanan kiri dan ternyata benar sudah sampai di kantor mama

“Hehehe..iya mas kita udah sampai, mas nya ngelamun aja nih” jawabnya

“Hehehe maaf pak, lagi banyak pikiran jadi nggak konsen”ujar ku lalu turun dari motor dan langsung membayarnya.

“Hehehe dasar anak muda, yaudah makasih ya mas, mari mas” jawabnya dan kembali menghudupkan motornya

“Oh iya pak sama – sama,” ujar ku dan tukang ojek pun langsung pergi meninggalkan ku.

Dan sekarang aku sudah berada di depan kantor mama, kantor yang dulu papa bangun mulai dari nol hingga sudah sangat maju dan hanya ini lah peninggalannya saja, dan ia sangat ingin aku yang melanjutkan jejak karirnya jika aku sudah benar – benar siap. Pada hal keinginan ku adalah jika lulus nanti aku ingin membuka kedai kopi dan sebuah restoran mewah yang biasa ku datangi, tapi sudahlah biarkan saja semuanya mengalir dengan sendirinya, mungkin saja nanti aku memimpin perusahaan papa dan dengan sampingan membuka restoran dan kedai kopi hahaha.

Ah sudahlah hentikan hayalan ini, lebih baik aku masuk kedalam dari pada nanti mama makin lama menunggu.

Ku langkahkan kaki ku untuk masuk ke kantor mama, tapi pas baru masuk dan melewati pos satpam tiba – tiba saja langkah ku harus ku hentikan.

“Mas, mau kamana? Ada perlu apa yah?” Tanya seorang pria dengan badan yang agak gemuk dan berpakai seragam dinasnya dengan topi yang bertulisan ‘ security ‘ dan di dada kanannya bertulisan namanya yang bernama agus.

Ah sial sepertinya mereka tidak mengenali ku, tapi ada benarnya juga si mereka tidak akan mengenali ku , karna aku kesini ketika aku masih kecil, waktu itu aku penasaran sekali dengan pekerjaan papa ku hingga akhirnya aku dan mama ke kantor papa. Dan lagi waktu itu kantor papa belum sebesar sekarang ini.

“Maaf pak, saya kesini ingin bertemu dengan ibu anggi, boleh kan saya masuk? Tanya ku

“Memangnya anda siapa yah? Coba tolong perlihatkan identitas anda dan surat izinnya” pinta sang security

Ah sialan napa jadi kaya gini si, nggak ngerti apa lagi buru – buru.

“Aduh pak, saya ini adi dan saya kesini hanya untuk bertemu ibu anggi, udah yah saya masuk saja” ujar ku

“Ehh..nggak bisa mas, enak saja langsung masuk ini tuh kantor bukan tempat sembarangan, sudah tamu yang tidak berkepentingan dan tidak punya izin dilarang masuk” jawab sang security

Ah sial apa aku harus mengaku saja bahwa aku anak dari sang pemilik perusahaan ini? Tapi percuma meraka pasti nggak percaya.

siaaalaaan!

“Loh ada apa ini gus? Kok kalian kaya lagi sedang berdebat gitu”

Tiba – tiba saja ada seseorang yang berada di belakang ku, dan menanyakan keadaan yang berada di pos satpam.

“Begini pak reza, pemuda ini mencoba ingin masuk karna dia ingin bertemu dengan ibu anggi, tapi karna dia tak menunjukan identitasnya dan surat keperluannya, makanya saya menahannya disini tapi dia bersikeras ingin tetap masuk dan menemui ibu anggi” jawab sang satpam

Pak reza yah, kaya kenal deh dengan nama itu, tapi dimana ya? Dan namanya sudah tak asing bagi ku.

“Permisi saya reza, ada keperluan apa ya anda ingin bertemu dengan atasan saya?” Tanya seorang pria yang berada di belakang ku

Heh? Di bilang tadi atasan, jangan – jangan…..

Ku balikkan tubuh ku ke arah belakang, aku ingin melihat siapa yang hadir di belakang ku.

Pandangan kami saling bertemu, ku lihat di wajahnya yang berubah jadi terkejut, ketika melihat ku.

Ternyata dia adalah orang yang menjadi kepercayaan papa dan mama, orang ini yang selalu menghandle ketika papa atau mama tidak berada di kantor, dulu ketika papa masih ada ia sering berkunjung kerumah dengan keluarga kecilnya.

“Loh adi kamu ada apa kesini?” Tanya pak reza

“Eh…pak reza, ini pak saya ingin bertemu dengan mama, kebetulan ada janji dengan mama” jawab ku

“Waduh….yasudah – yasudah, ayo masuk biar saya yang antar ke ruangan mama kamu” ujar pak reza

“Loh pak emangnya siapa pemuda ini? Kok malah ingin dibawa masuk?” Tanya sang satpam yang masih di landa kebingungan

“Ini tuh putranya ibu anggi gus, yang menggantikan almarhum suaminya, kamu seharusnya tadi langsung telpon saya, malahan ingin kamu usir” jawab pak reza yang menjelaskannya.

Dan satpam itu pun seketika langsung berdiri kaku ketika mendengar penjelasan dari pak reza, mungkin ia kaget bahwa pemuda yang ia ingin usir ternyata anak dari pemilik perusahaan tempat ia berkerja.

“Yasudah gus kamu balik lagi ke pos kamu sana, kerja yang benar, tenang saja hal ini nggak akan saya laporkan ke atasan kok” ujar pak reza lagi

Ku lihat satpam itu pun kembali tenang dan langsung bergegas malakukan tugasnya kembali.

Akupun dibawa ke dalam kantor oleh pak reza dan langsung bergegas masuk ke dalam lift.

nanti kira – kira pas diruangan mama pake alasan apa ya? aku udah telat banget ini siap – siap disemprot abis – abisan deh, tapi kalau di semprotnya pake cairan cintanya si aku mau banget hahaha.

“Kamu kenapa di? Kok senyum – senyum begitu?” Tanya pak reza

Gara – gara menghayal jorok tanpa sadar aku jadi senyum – senyum sendiri, aduh aku jadi kangen sama jepitan vagina mama.

“E-eh….nggapapa kok pak, cuma ada hal konyol aja yang adi pikirin” jawab ku

“Ohh…terus emang kamu ada janji apa sama mama kamu? Sampai kamu kesini” tanya pak reza

“Cuma janji makan siang aja si pak, cuma adi telat datang nih, pasti bakalan bikin mama marah” jawab ku

“Tenang saja diruangan mama mu lagi ada tamu kok, dan sampai sekarang juga belum pulang tamunya”

Tamu? Siapa ya? Ah palingan juga rekan kerja mungkin, tapi setau ku kalau hanya rekan kerja biasanya yang menemui pasti pak reza, tapi kok ini bukan ya.

“Ding” suara pintu lift terbuka aku dan pak reza langsung keluar dari lift, kini sekarang aku dan pak reza sudah berada di lantai paling atas, tempat ruangan kerja mama.

Lalu pak reza berjalan di depan ku memandu untuk menuju ruangan kerja mama, hingga akhirnya kami pun sampai dirungan kerja mama dengan pintu yang tertutup dan di pintunya terdapat nama mama.

“Nah ini ruangannya, saya cuma bisa antar sampai sini ya, soalnya masih ada urusan diluar” ujar pak reza

“Oh iya pak makasih yah, jadi ngerepotin pak reza nih” jawab ku

“Hehehe.. iya nggapapa kok, yasudah saya tinggal yah adi” ujarnya

Dan pak reza langsung pergi meninggalkan ku, dan kembali menuju ke arah lift, setelah ku lihat pintu lift terbuka dan pak reza masuk kedalam dan pintu kembali tertutup, langsung saja ku buka pintunya tanpa mengetuknya lagi.

“Mah maaf yah adi telat, tadi ketemu teman dulu” ujar ku sambil berdiri di ambang pintu.

Tapi ku lihat mama tidak sendirian didalam ruang kerja ada wanita juga yang sepertinya seumuran sama mama, ku lihat mereka sedang mengobrol berhadap – hadapan dengan mama yang masih duduk di bangku kerjanya, sampai akhirnya mama pun menyadari kedatangan ku.

“Ya ampun sayang kamu kok lama banget si, mama tadi udah hampir mau marah sama kamu, tapi untungnya ada teman mama nih mau nemenin mama” jawab mama

Ku masuki ruangannya dan ku tutup kembali pintu yang ku buka, ku langkahkan kaki ku mendekat ke arah meja mama.

“Iya mah maaf yah, adi tadi ada urusan sebentar makanya tadi agak lama” ujar yang sudah berada di dekat meja mama

“Hhhmmm….yasudah nggapapa deh, oh iya kenalin sayang ini teman mama waktu kuliah, namanya jeni kita udah temenan sejak lama dan baru ini lagi dipertemukan kembali” jawab mama

Ku alihakan pandangan ku pada wanita yang duduk di depan mama, wanita ini masih sangat cantik bahkan sama cantiknya seperti mama, kulitnya yang hitam manis dan rambutnya tergurai panjang menambah daya tariknya, ku yakin pasti banyak pria yang ingin bersamanya. Ia memekai pakaian kaos berwarna hitam dan di lapisi dengan blazer warna putih yang menutupi ke dua tangannya, pandangan ku tak bisa lepas dari teman mama, hingga akhirnya aku mendengar suara mama.

“Udah sayang, kok malah di liatin terus si teman mama, kaya nggak pernah liat cewe aja deh kamu” ujar mama yang mengagetkan ku.

“E-eh…iya maaf mah maaf” ujar ku dengan gugup

Dan ku lihat wanita yang bernama jeni itu langsung menutupi mulunya dengan tangan kanannya, sepertinya ia menertawai ku.

“Dasar kamu yah, yaudah cepat kenalin nama mu dong jangan diam saja”

“Nama ku adi tante, maaf yah tadi udah bersikap tidak sopan” ucap ku

“Hihihi….iya adi nggapapa kok, tante tau tante itu lebih cantik dari mama kamu, makanya anaknya sampai terpesona gitu hihihi” jawabnya

“Enak aja, tentu cantikan gua lah, iya nggak sayang?” Tanya mama

Aku hanya bisa menganggukan kepala ku, aku masih malu karna sikap kurang ajar ku tadi, untung saja tante jeni tidak marah.

Bikin malu saja aku ini.

“Jadi ini anak lu ya nggi? Cakep juga yah boleh dong kapan – kapan gua culik buat nemenin gua dirumah, adi mau kan nemenin tante?” Tanya tante jeni

Aku nggak bisa menjawab aku hanya bisa menunduk dan diam saja, tapi jika benar aku sampai dibawa kerumahnya kira – kira apa yang akan terjadi ya? Apakah ada adegan ranjang antara aku dan tante jeni ini? Sial kenapa aku jadi membayang kan itu.

Semenjak aku kenal sex, pikiran ku selalu saja kotor dan mesum, aku benar – benar seperti om – om mesum yang di luar sana, apa lagi jika ada wanita yang seumuran dengan mama ku, rasanya ingin sekali menikmati tubuhnya di ranjang.

“Ihhh…enak aja! Awas aja lu sampe berbuat macem – macen sama anak gua! Ujar mama

“Kenpa emangnya anggi? Kan dulu….”

“Udah deh jen udah, jangan bahasa yang dulu – dulu lagi, gua udah nggak mau dengernya lagi” ujar mama yang langsung memotong ucapan tante jeni

Sebenarnya ada apa ya? Kok mama sampai segitunya, bahkan tante jeni belum selsai bicara sudah dipotong duluan, sepertinya ada yang disembunyiin sama mama.

“Sayang kamu duduk saja gih disofa, mama masih mau ngobrol sama teman mama, abis ini baru kita makan ya” ujar mama lagi

Dan akupun mematuhinya aku langsung duduk di sofa besar yang ada di ruang kerja mama, sementara mama balik ngobrol dengan tante jeni.

Ku lihat – lihat ruangan kerja milik mama ini sangat besar, di dalamnya ada lemari kulkas yang berukuran kecil dan juga tv besar yang menggantung, dan didalamnya ternyata ada kamar mandi khusus untuk mama sendiri, benar – benar ruangan yang nyaman.

Mereka masih saja asik mengobrol, dan mengabaikan aku yang sudah mulai bosan, tapi sepertinya mama menyadari raut wajah ku yang terlihat sudah sangat bosan.

“Sayang kamu bosan ya? aduh kasian anak mama, yaudah kita makan sekarang aja yuk” ujar mama

Aku tak membalas ucapannya hanya menoleh ke arahnya dan tersenyum tipis.

“Jen gua mau makan siang dulu ya sama anak gua, lu mau ikut nggak” tanya mama

“Eeemmm…nggak deh nggi gua mau langsung pulang aja, eh tapi sebelum lu sama anak lu pergi, gua mau foto dulu ah sama anak lu” jawab tante jeni yang mengagetkan aku dan mama

Hah? Buat apa tante jeni ini minta foto segala, udah kaya artis aja aku di pintain foto hahaha.

“Buat apaan si jen pake minta foto anak gua segala, jangan yang aneh – aneh deh” ucap mama

“Ayolah nggi, cuma satu aja kok, nih lu fotoin ya nggi, harus bagus pokonya biar gua nggak minta – minta lagi” jawab tante jeni yang langsung menyerahkan ponselnya pada mama

Tante jeni langsung beranjak bangun dari kursinya dan menghampiri ku yang sedang duduk di sofa, dan ikutan duduk di samping ku tak lupa ia masukan tangannya ke dalam lengan kanan ku, alhasil pose kami seperti orang yang sedang bergandengan.

“Cekrek” suara kamera dari ponsel.

“Udah nih jen, udah ya lu nggak usah minta yang macem – macem lagi sama anak gue” ujar mama dengan wajah kesalnya

“Hihihi…makasih ya anggi sayang, lu emang teman yang paling baik” jawabnya dengan tersenyum lebar

“Yaudah ayo sayang kita makan sekarang aja yuk, mama juga udah laper, jen lu benaran nggak mau ikut?” Tanya mama

“Nggak deh nggi, gue mau langsung pulang aja”

Lalu aku dan tante jeni langsung bergegas keluar dari ruangan kerja mama , dan menuju ke pintu lift selama menunggu pintu lift yang belum terbuka mama dan tante jeni masih tetap mengobrol, sedangkan aku hanya diam dan mendengarkannya saja.

Sekian lama menunggu akhirnya pintu lift terbuka, langsung saja ku masuki lift itu dan tak lama mama dan tante jeni ikut masuk, posisi kami saat ini aku berada dibelakang mama, sementara tante jeni berada disamping ku. lalu pintu lift tertutup dan mama memencet tombol lift dan liftpun turun kebawah, selama di dalam lift tak ada satupun pembicaraan antara mama dan tente jeni, mama hanya sibuk pada ponselnya sendiri, sedangkan aku dan tante jeni hanya diam saja.

Lift turun kebawah dan suasan dalam lift hening dan sepi, sampai akhirnya aku di kagetkan oleh sentuhan dan remasan kecil tepat pada penis ku, ku lihat kesamping kiri ku ternyata tante jeni yang sedang bermain – main di sekitar selangkangan ku, ku singkirkan tangan jahilnya itu agar ia menghentikan ke usilannya.

Gila nekat ama ini tante – tante, nggak liat apa di depannya ada mama ku, bisa habis ia jika mama ku sampai menengok kebelakang, karna tangan tante jeni sudah ku singkirkan aku sudah bisa merasa tenang kembali, tapi dugaan ku salah ternyata ia makin berani dan dia mencoba untuk memasukan tangannya kedalam celana ku, tapi karna tak berhasil masuk akhirnya ia hanya meremas – remas penis ku yang masih di lapisi dengan celana panjang ku, lalu ku tengokan kepala ku dan memandang ke arahnya.

Tapi ia langsung mengedipkan sebelah matanya dan menjukurkan lidahnya keluar.

Aku berusaha untuk menyingkirkan tangan kanannya itu, tapi tiba – tiba saja tante jeni merapatkan tubuhnya ke arahku dan membisikan sesuatu di kuping ku dengan suara yang sangat pelan.

“Nikmatin sayang, jangan melawan kalau kamu nggak mau orang yang di depan kita tau…ccuupp” bisiknya sambil mencium pipi ku dengan sangat pelan

Aku sangat takut, bagaimana jika mama membalikan badannya ke belakang dan melihat penis ku yang masih tertutup celana, lagi dalam remasan tangan temannya. Aku sangat berharap mama tetap fokus pada ponselnya.

Walaupun masih tertutup celana tapi aku dapat merasakan remasan dan elusannya pada penis ku hingga berhasil membangunkan penis ku, tante jeni yang tau penis ku sudah mulai tegak ia menoleh ke arah ku dan tersenyum nakal.

“Eh nggi kapan – kapan lu main dong kerumah gue, udah lama banget lu kan nggak pernah main lagi” ujar tante jeni yang memecahkan ke sunyian tapi tangannya tetap bermain – main di selangkangan ku

Aku sangat kaget tiba – tiba ia mengajak bicara mama, dengan tangan yang masih berada di penis ku, jantung berdebar – debar sangat kencang aku takut mama melihatnya. Sebenarnya apa yang dipikirkan tante jeni ini? Ia benar – benar sangat nekat.

“Iya jen iya, nanti yah kalau gua ada waktu kosong, gua pasti main kerumah lu kok” jawab mama yang masih sibuk dengan ponselnya

Ingin rasanya aku mengempaskan tangannya itu dan langsung maju berdiri di samping mama, tapi aku tak bisa, aku begitu menikmatinya sensasinya sangat berbeda sekali.

“Ding” suara pintu lift yang terbuka, lalu tante jeni langsung melepaskan tangannya dari penis ku, dan kami pun langsung keluar dari lift.

Kami tiba di lantai dasar lalu bergegas keluar dari kantor mama dan menuju ke parkiran mobil.

Setibanya di parkiran mobil, kamipun bersiap berpisah, karna mobil mama sepertinya punya parkiran khusus untuknya sendiri.

“Eh nggi jangan sampai lupa ya, kapan – kapan main kerumah gue dan bawa juga tuh si adi yah” ujar tante jeni

“Eh kok anak gue pake ikutan dibawa si? Nggak usahlah kasian dia kalau nanti sampe bosen” jawab mama

“Udah tenang aja dia nggak bakalan bosen kok, kan nanti disana banyak cewe – cewenya hihihi” ujar tante jeni

“Ihhhh…nggak – nggak, anak gue nggak boleh deket – deket cewe dulu, udah ya jen nanti – nanti aja kita bahas lagi gua udah laper banget” jawab mama dan langsung menarik tangan ku tanpa menunggu jawaban dari tante jeni

Aku dan mama bergegas menuju mobilnya yang terparkir dengan rapi, mobil sedan honda civic berwarna hitam, mama menyerahkan kunci mobilnya pada ku, dan kamipun masuk ke dalam mobil.

“Sayang cium mama dong, hari ini mama belum di cium sama kamu tau” ujar mama dengan manja

Ku dekatkan tubuh ku ke arahnya dan ku rangkul lehernya agar mendekat juga ke arah ku, dan akhirnya bibir kami saling bertemu dan saling berpangutan, wangi tubuh mama yang sangat wangi menambah nikmat ciuman ku dan mama, tak lupa ku masukan lidah ku kedalam mulut mama dan lidah kami pun saling bertemu dan memagut.

“Eeemmmpphhh eeeemmmmpphh sssllluurrpp” bunyi pertemuan mulut dan lidah ku dan mama

“Eeemmmpphh sssllluurrpp sssllluurrpp”

Ciuman ku dan mama semakin panas, mama terus mendekatkan tubuhnya ke arah ku bahkan ketika sedang berciuman mama menekan kepala ku agar tidak terlepas, kami terus berciuman dengan liar satu sama lain tidak ingin melepaskan bibir masing – masing.

Hingga akhirnya kami pun melepaskan ciuman kami, karna terdengar suara langkah kaki orang yang akan datang, ku lihat mama sudah sangat terangsang nafasnya sudah sangat berat sekali.

“Sayaaaang, celana dalam mama basah nih, dan vagina mama minta di masukin sayangggg” ujarnya

“Mau di masukin pake apa mah? Pake jari adi mau?” Jawab ku mencoba untuk menaikan gairahnya

Aku ingin sekali dia berbicara dengan vulgar ketika ia sedang terangsang, gairah ku makin bertambah jika ia mengeluarkan kata – kata kotornya.

“Nggak mau, kurang berasa sayang pake jari kamu, maunya pake ituuuuu kamu” ucapnya sambil menyentuh penis ku

Duduknya sudah mulai tak tenang, mama sudah sangat di landa gairah tinggi.

“Ayooo ah ngomongnya yang benar mau di masukin pake apa mah?” Tanya ku

“Pake….kkkooonntoll sayangg….aaaaahhhh”

Langsung ku masukan tangan kanan ku ke dalam roknya hingga menyentuh celana dalamnya yang benar – benar sudah basah.

“Jangaaann sayaaaanng iniii di mobbbiiilll aaaaahh” ujarnya sambil mencoba mengeluarkan tangan ku dari dalam roknya

Ku tahan tangannya, dan ku singkap celana dalamnya hingga jari ku berhasil menyentuh vagina mama yang sudah sangat basah, lalu ku gesekan vaginanya dengan telunjuk ku dari bawah hingga ke atas.

“Ahhhhhhhh gggeeelliii masuukinnn ahhhhh masukiinn saaayanggg sssshhhh”

“Di masukin kemana sayang? Masukin ke lubang pantat mama kah?” Tanya ku yang terus memainkan gairahnya

“Ke memekkk adiii ahhhhj cepeett masukiii sssshhh mama ngggaakk kuaaatt aaaaahhh” ujar dengan penuh nafsu

Ku turuti permintaannya ku masukan jari telunjuk ku ke dalam vagina mama, lalu ku kocok vaginannya dengan jari ku.

Clok clok…clokk clok…clokk clokk…clokkk

“Ahhhhh yanggg cepeettt koooccookk yanggg cepet sayaaaanngg ooohh enaakkk memekkk mama enaaakk ssaahhh”

Kocokan ku pada vaginanya membuat mama makin lupa diri, dia tak peduli lagi kalau kita masih di parkiran, bahkan mama tak ragu – ragu lagi untuk mengeluarkan semua desahannya.

Oooohhh memekk mama enaaakk ahhhh masuukiiin satu lagii sayaaanggg kurangg berasaaa aaahhh”

Jujur saja aku yang melihat mama seperti ini sangat terangsang sekali, ingin ku buka celana ku dan ku masukan penis ku ke vaginanya.

“Adi masukin kontol adi aja yah mah, adi juga terangsang banget mah” ujar ku yang masih mengocok vaginanya.

“Sssshhh jangaaann sayanggg jangannn ahhhh” jawab mama

“Tapi adi nggak kuat nahan lagi mah, adii juga pengen” ujar ku

Mama diam dan terus menikmati kocokan pada vaginanya, aku sungguh tak kuat ingin memuntahkan sperma ku di dalam vaginannya.

“Yaudahhh aaaahh ayooo entot mama sekarang sayanggg ooohhh memekkk mama gateeeell”

Langsung ku suruh mama pindah ke kursi belakang, dan ku suruh juga ia melepaskan roknya berserta celana dalamnya, mama mengikuti semua ke inginan ku. Dan akupun juga pindah ke bangku belakang dan membuka semua celana dan celana dalam ku hingga penis ku bergenlantung bebas.

Lalu ku buka paha mama lebar – lebar sehingga memperlihatkan vaginanya yang mulus itu.

“Masukinnn sayanggg ayooo masukin konntooll milikk mama ituu aaaahhh memek mama gatelll”

“Bbbleeesshh” ku masukan penis ku ke dalam vagina mama, agar bisa menghemat waktu langsung ko goyangkan pinggang ku agar semuanya cepat selsai.

“Aaaahhh kontoll punyaaa mama udahh masukkk ayooo kamu sooodookk mama mu dann kamu entott”

“Ahhhh iyaaahh mahh rasakan ini sodokan kontooll anak mu urrgghh enakkk anggii punyaaa mu enakkk”

“Iyaaahh sodokin yangg kencengg sayangg aahh genjotinn kontoll kamuu sssshhh” desah mama

Kami sudah lupa akan tempat kami saat ini, yang kami pikirakan hanyalah harus bisa memuaskan nafsu kami masing – masing, ku yakin pasti mobil ini bergoyang – goyang, semoga saja tak ada orang yang melihat mobil goyang ini.

Aaahh adiii memek mama enakk”

“Iyaaah anggii memekk kamu sempiitthhh urghh aaahhh ayooo jangan di tahan anggi waktu kita nggal banyakk sssshh”

Plok plok…plokk plokk plokkk…plokk plokk plokkk…plokk plokk

“Cepett anggii sayaaaanggg aahh kontttooll mau muncratt ayoooo cepat kita keluarrr bareng urgghh aaaahhh”

Ku percepat sodokan ku , aku tak mau kalau sampai ada orang yang melihat mobil ini, apa lagi ini mobil mama pasti nanti banyak yang curiga jika melihatnya.

Rasa nikmat dan rasa cemas bercampur jadi satu, benar – benar hal yang baru bagi ku dan mama.

“Ah ah ah iyaaahhh genjotin yang kenceeengg memekk mama mau muntahhh cepat sayanggg aaahhh sssshh” desah mama yang makin kencang

Plok plok….plok plok plok…plok plokk plok…plok plok plok….plok plok

Genjotan ku pada vagina mama makin tak teratur, aku ingin cepat – cepat keluar, agar tak terlalu lama disini.

“Keluaaarinnn sayanggg keluarriinn pejuuuhh kamu aaahhh mama jugaaahh mauu muncraatt aahh aaahh aaahh”

“Aaahhh terimaa pejuhh adi maahh aaaahhh adiii keluarrr ssssshhh”

“Mama jugaaahh keluaaar sayanggg pejuhhin rahim mama anaaakk kuu ahhh keluariinn semuaaanyaaa ssssshhhh”

“CROOTT..CRROOT…CCRROOTT”
“SSREETT…SSREETT…SSRREETT”

Ku tekan lebih dalam penis ku yang masih menyemburkan sperma ku, tak lupa ku cium juga kening mama yang basah karna keringatnya, rasanya aku tak ingin meninggalkan mama, aku ingin hubungan ku dan mama terus seperti ini, aku tak butuh lagi wanita lainnya hanya dengan mama rasanya aku juga sudah sangat bahagia. Tapi itu nggak mungkin cepat atau lambat hubungan ini harus berakhir dan kembali seperti biasa lagi menjadi ibu dan anak yang sewajarnya.

Tapi biarlah untuk sekarang ini biarkan aku menikmati moment – moment seperti ini, sebelum semuanya berakhir.

Ku cabut penis ku yang masih di dalam vagina mama, ketika ku cabut mama sempat memjamkan ke dua matanya dan mendesah pelan.

“Ssshh kok buru – buru di cabut sayang? Biarkan aja kan belum lemes tuh punya kamu” ucap mama

“Nggapapa mah, bentar lagi juga mengecil, kasian mama aku genjot pasti cape kan? Hehehe”

“Hihihi iya sih, tapi nanti dirumah main lagi ya, mama baru keluar sekali loh” jawab mama

“Iya mah, yaudah yuk kita rapih – rapih dan keluar dari sini adi laper mah” ujar ku yang sudah rapih lalu pindah ke kursi kemudi

Mamapun menyetujuinya dan mama langsung memakai celana dalamnya dan kembali memakai rok kantornya kembali dan pindah kedepan menemani ku.

Lalu ku nyalakan mobil dan pergi meninggalkan parkiran mobil, dan akan pergi ke sebuah mall untuk makan berdua dengan mama, selama di perjalanan mama hanya diam saja hingga akhirnya mama tertidur. Mungkin mama capek karna persetubuhan ku dengan mama di dalam mobil, pengalaman yang sangat baru bagi ku bercinta di luar rumah, mungkin lain kali aku akan mengajaknya bercinta di alam terbuka hahaha.

Dan akhirnya aku dan mama telah sampai disebuah mall, ku cari parkiran yang dari tadi belum mendapatkan satupun tempat kosong, alhasil baru lah kutemukan ketika ada satu mobil yang baru keluar, meskipun agak jauh juga jika untuk balik lagi ke mobil, tapi masih lebih baik dari pada harus mencari yang lebih jauh.

Tapi masalah ku tak sampai berhenti disitu saja, setelah mendapatkan tempat parkir dan menengok ke arah mama, ternyata mama masih sangat pulas tertidur, ingin sekali aku membangunkannya tapi tak tega, wajahnya terlihat sangat damai, mama benar – benar sangat cape, akhirnya dengan sedikit ke tegaan ku tinggalkan mama di dalam mobil, mobil ku biarkan menyala agar pendingin mobil tetap menyala dan tidak membangunkan mama. Ku buka pintu mobil dan dan langsung pergi meninggalkan mama.

30 menit berlalu aku berhasil mendapatkan makanan untuk dibawa pulang, gagal sudah untuk makan sama mama diluar, ini juga karna salah ku yang mengajaknya bercinta hingga mama kecapean, ku percepat langkah ku untuk kembali ke tempat mobil ku, sampai sudah aku di parkiran mobil ku dan langsung ku buka pintu kemudi, pas ku buka aku di kagetkan dengan mama yang sudah bangun dari tidurnya.

Ia menatap ku dengan wajah yang terlihat kesal, mungkin mama kesal karna aku tinggal begitu saja.

“Eh mama sudah bangun, maaf ya adi tinggal abis mama kecapean banget kayanya padahal cuma ngecrot sekali doang hehehe” ujar ku mencoba untuk meredahkan kekesalannya

“Tau ah, kamu mah keterlaluan ninggalin mama sendirian, nanti kalau ada yang macem – macemin mama bagaimana sayang? Mana parkirannya sepi dan gelap lagi” jawab mama yang masih kesal

“Maaf yah mah, abis mama tidurnya nyenyak banget, adi nggak tega bangunin mama”

“Yaudah deh kita pulang aja deh, mama cape nih duduk mulu” jawabnya

Langsung saja ku jalankan mobil dan keluar dari tempat parkir, lalu meninggalkan mall yang baru ku singgahi

Selama diperjalanan kami hanya diam saja, hingga akhirnya ku beranikan diri berbicara pada mama.

“Mah nanti adi turunin mama di depan rumah, tapi abis itu adi mau pergi lagi mah, nggapapa kan?” Tanya ku

Saat ini aku ingin kerumah nisa, aku ingin tau, bagaimana sekarang keadaanya.

“Emang kamu mau kemana si? Kok mendadak banget, dan lagi kamu kan belum makan” jawab mama

Kalau ku jawab ingin kerumah nisa, pasti nggak akan di bolehkan sama mama, dan akan membuat mama menjadi marah terhadap ku.

Tidak ada jalan lain sepertinya hanya ini, maafin adi yah mah, untuk kali ini saja kok.

“Adi mau kerumah teman mah, kebetulan ada tugas kuliah berkelompok, sebernya si udah harus buru – buru kesana, tapi kan kita belum beli makan ya jadi adi tunda dulu deh, boleh kan mah adi nanti pergi lagi? Tanya ku

Mama langsung menoleh ke arah ku, dan menatap wajah ku dalam – dalam, gawat sepertinya mama kurang percaya ini.

Bisa gagal rencana ku, kalau mama mengetahui kebohongan ku ini.

“Tenang mah adi nggak bohong kok, beneran keruamh temen, lagi emangnya mau kemana lagi si?” Ujar ku

Maaf mah maafin adi, tapi adi hanya ingin memastikan kabar nisa, adi khawatir tentang dia mah.

“Hhhmmm…yaudeh deh mama ijinin, tapi jangan pulang malam – malam ya, kamu belum makan sayang” jawab mama

Huaa….lega rasanya ternyata mama percaya, maafkan anak mu yang telah berbohong ini mah.

“Hehehe tenang aja mama cantik, anak mu ini nggak akan pulang larut malam kok” ujar ku

Mama yang mendapatkan pujian dari ku, langsung tersenyum lebar, dan menyenderkan kepalanya di pundak ku.

Selama diperjalan mama terus menyenderkan kepalanya di pundak ku, hingga kami pun sampai di depan rumah.

“Yaudah sayang mama turun ya, kamu hati – hati dan jangan pulang larut malam, mobilnya kamu bawa aja” ujar mama

“Iya mah, makasih ya sayang” jawab ku

“Mmuuaacchh” mama mencium bibir ku dan langsung turun dari mobil sambil membawa makanan yang dibeli tadi.

Oke sekarang waktunya kerumah nisa, ku kebut mobil sedan yang kubawa, karna masih sore ku rasa pas waktunya.

Dan kini aku sudah sampai di depan pagar rumah nisa, rumah yang dulu biasa ku kunjungi, kini aku baru kembali mengunjunginya kemabli, mobil ku parkirkan di depan rumah nisa, sengaja aku tak memasukannya.

Ku buka pintu mobil dan bergegas langsung turun, tak jauh dari rumah nisa ku lihat ada bi surti yang lagi mengobrol diluar, ia melihat kedatangan ku dan menghampiri ku dengan tergesa – gesa.

“Den…den adi tunggu sebentar den” ujar bi surti

Heh? Ada apa ya? Bi surti sampai tergesa – gesa begitu.

Aku masih berdiri di dekat mobil, untuk menunggunya, dan akhirnya bi surti sudah di dekat ku.

“Ada apa bi? Kok tergesa – gesa begitu” tanya ku

“Den ayuk den, ikut saya ke dalam rumah, nyonya dan tuan lagi memarahi non nisa den, ayuk den cepet” jawabnya yang sambil menarik tangan ku

aku yang di tariknya hanya mengikuti saja, jujur saja setelah bi surti bilang nisa sedang di marahi, persaan ku benar – benar tak enak.

Bi surti membuka pagar, lalu aku di tariknya masuk kedalam, dengan sangat terburu – buru ia menarik tangan ku ke dalam rumah.

Sekarang aku dan bi surti sudah ada di ambang pintu rumah nisa, aku melihat pemandangan yang sangat mengejutkan, nisa sedang duduk disofa sambil menangis dengan histeris, ia sangat ketakutan ditambah lagi ayahnya yang sedang di lerai oleh satpam rumahnya dan bundanya nisa.

“Dasar kamu anak tak tau diri! Ayah dan bunda capek – capek kerja siang dan malam untuk kamu, tapi kamu malah mengecewakan ayah dan bunda mu! Ujar ayah nisa yang sangat emosi

Ku lihat nisa hanya bisa menangis dan menagis, ia sangat ketakutan, sepertinya ayah dan bundanya sudah mengetahui segalanya.

“Sudah om cukup, jangan membuat nisa takut” ujar ku

Dan seketika itu semuanya mengalihakan pandangannya ke arah pintu dan melihat ku, begitu pun juga dengan nisa.

Ku alihakan pandangan ku ke arah nisa, ia sangat terkejut melihat ke hadiran ku, bahkan ia kembali menangis dan menutup wajah cantiknya dengan ke dua tangannya, lalu ku hampiri ia yang duduk di sofa sambil menangis, sementara yang lain hanya melihat kaget akan kedatangan ku.

“Sayang aku dateng sayang, maafin aku yang nggak bisa menjaga kamu, maafin aku ya” ujar ku mencoba untuk menangkannya dan memeluknya

Nisa masih saja terus menangis walaupun sudah ku peluk dengan erat, jujur saja aku kangen sekali dengan dia, ingin menciumnya dan memluknya dengan mesra, tapi keadaannya sedang tak memungkinkan ayah nisa masih belum bisa menengkan dirinya.

“Sayang, kamu tenang ya, aku akan bantu kamu, kamu jangan nangis lagi yah, tenangkan diri kamu semua akan baik – baik saja sayang” ujar ku lagi yang mencoba menenagkannya

Cukup lama aku mencoba terus menengkannya, aku paham pasti ia sangat shock, dengan kehadiran ku di rumahnya, tapi sebisa mungkin aku harus bisa menenagkannnya karna ia sangat ketakutan sekali bahkan badannya ikut gemetar karna merasakan ketakutan yang amat besar.

Alhasil aku berhasil menenangkan nisa, ia mulai bisa mengendalikan dirinya, meskipun masih terdengar isak tangisnya, ku coba lepaskan pekukannya lalu berbalik menghadap ayah dan bundanya nisa.

“Om dan tante tenang yah, abis ini adi mau bicarakan sesuatu, hanya kita bertiga saja” ujar ku

“Bi tolong bawa nisa ke kamarnya ya, sekalian tolong bi surti temanin nisa di kamar” ujar ku lagi dan langsung mengalihkan pandangan ku ke bi surti

“B-baik den” lalu bi surti menghampiri nisa yang duduk di sofa, dan merangkulnya untuk dibawa ke kamar.

Dan tak lupa satpamnya ku suruh kembali ke tempat kerjanya dan ia pun langsung bergegas kembali ke posnya.

Kini di dalam rumah tinggal aku dan bunda serta ayah nisa saja.

“Kita duduk dulu om dan tante, adi mau bicarakan hal penting dengan om dan tante” ujar ku

Lalu mereka pun ikut duduk disofa, ku lihat ayah nisa masih sangat emosi, sedangkan bundanya hanya masih menangis saja.

Aku bingung bagiamana jika mereka mengetahuk segalanya, pasti merak akan semakin kaget, dan pasti merekan tidal bisa menerimanya begitu saja. Tapi biar bagaimanapun mereka harus tau hal ini.

“Adi ada apa ini sebenarnya? Om kan sudah menyerahkan nisa sepenuhnya terhadap kamu, termaksut keamanan dan kebahagian dia, tapi kenapa malah jadi seperti ini adi” tanya ayah nisa

Ini yang tidak aku suka dari keluarganya, mereka seenaknya saja menyerahkan nisa sepenuhnya terhadap ku, pada hal jika di liat dari sudut mana pun aku ini hanya sebagai pacar, tak bisa selalu berada disampingnya karna aku juga masih punya urusan ku sendiri, mungkin akan berbeda jika aku sudah suami sah untuk anaknya.

“Om dan tante tenang dulu ya, jangan terbawa emosi dulu, adi akan menceritakan semuanya, dan sebelumnya adi minta maaf jika gagal menjaga nisa” jawab ku

Ayah dan bunda nisa hanya menganggukan kepalanya saja.

Ku kuatkan diri ku untuk menceritakan semuanya.

Lalu ku ceritakan semuanya dari awal, bagaimana nisa sampai hamil oleh perbuatan teman kampusnya.

Dan respon mereka sangat terkejut ketika mengetahui semuanya, bundanya nisa semakin menangis tak tega mendengar apa yang terjadi pada anaknya, sedangakn ayah nisa hanya tertunduk lemas ketika mendengar penjelasan dari ku.

“Maaf jika adi berbicara kasar terhadap om dan tante, nisa sebenarnya hanya korban, korban dari rasa tak kepedulian dari ke dua orang tuanya, ketika nisa sedang kesepian dia selalu bersama ku om, tapi aku ini juga ada kesibukan lain, tak bisa selalu berada disampingnya. Seharusnya om dan tante tetap memperhatikan nisa dan mengawasi nisa maaf jika adi mengajari om dan tante” ujar ku

“Sekali lagi maafin adi yang telah gagal menjaga nisa om…..

“Sudah nak adi, kamu nggak usah minta maaf, kamu benar kita ini yang salah sebagai ke dua orang tuannya, kami selalu saja disibukan dengan urusan pekerjaan kami , sehingga melupakan tanggung jawab kami sebagai orang tua kandung nisa, dan akibatnya nisa jadi gampang percaya dengan orang yang disekitarnya yang membuat ia merasa nyaman” ujar bunda nisa

“Kami salah, karna telah menyerahkan nisa sepenuhnya terhadap kamu, biar bagaimana pun juga kamu hanya sebagai seorang pacar, seharusnya kami tetap menjaganya dan mengawasinya karna kami yang paling dekat dengan nisa” ujar bunda nisa lagi

“Terima kasih, karna sudah membantu kami selama ini menjaga nisa dan menemaninya, nak adi benar – benar anak yang baik dan nisa sungguh beruntung mendapatkan pacar seperti nak adi” ujar bunda nisa

“Adi berharap om dan tante berubah, dan lebih memperhatikan nisa lagi, bukan hanya memberi sekedar materi dan materi saja” ujar ku

“Iya kami janji, kami akan lebih memperhatikan nisa, kami sebagai orang tuanya sangat – sangat menyesal” jawab ayah nisa

Haah…rasanya lega sekali setelah menceritakan semuanya terhadap orang tua nisa.

Dan sekarang giliran orang itu yang harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah ia perbuat!

——————————

Pov : 3rd

Hati yang berbunga
Pada pandangan pertama
Oh Tuhan tolonglah
Aku cinta, ku cinta dia

Terdengar sebuah alunan lagu dari dalam kamar seorang wanita yang dengan senyum manisnya, ia terpaku pada sebuah layar monitor yang terdapat foto seorang pria yang sebaya dengannya.

Wanita itu terus menatap foto itu sambil terus tersenyum lebar, seakan – akan foto yang di layar monitornya itu membalas senyum manisnya.

“Mmmmuuaacchh” wanita itu mencium layar monitor yang masih menampilkan foto seorang pria yang menurutnya pujaan hatinya.

Lalu bergegas meninggalkan kursi duduknya dan pergi meninggalkan kamarnya yang begitu nyaman, dan meninggalkan monitornya yang menyala dan masih menampilkan foto seorang pria pujaan hatinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*