Home » Cerita Seks Mama Anak » Ibuku Cintaku dan Dukaku 31

Ibuku Cintaku dan Dukaku 31

Kalimat-kalimat Ibu betul-betul melambungkan hasratku setinggi langit. Kini di kepalaku hanya ada Ibu seorang, bersisian dengan fantasi-fantasi mesum yang datang dan berseliweran memenuhi pikiran. Di balik jantungku yang berdegup cepat, aku sedang berusaha keras menahan besarnya gelora seksualku.

Ibu menyunggingkan senyum tipis, lantas mencium keningku dengan penuh kasih sayang.

Tatkala bibirnya mengecup keningku, mataku langsung terarah ke buah dadanya. Aku melihat belahan payudaranya dengan penuh nafsu sebelum kemudian aku menyadari ada sesuatu yang janggal pada bagian dadanya. Dan ketika aku menilik pundaknya yang terlihat tanpa penghalang sedikit pun, dugaan itu pun semakin kuat.

“Bu…?” ucapku sebaik ciumannya usai.

“Hmm…?” sahutnya.

“Ibu nggak pake BH, ya?” tanyaku.

Ibu melirik ke dadanya, lantas tersenyum padaku. “Khusus malam ini Ibu nggak pake BH buat anak Ibu,” ujarnya.

Aku menelan ludah. Mataku kembali menyorot buah dadanya.

Ada dua titik yang mencuat di bagian kain daster yang menutupi kedua buah dada itu. Aku bisa pastikan kalau itu adalah puting payudaranya.

“Tito mau liat dada Ibu?” tanyanya.

Aku menarik napas dalam, lalu mengangguk pelan.

Ibu tersenyum, lantas memutar tubuhnya, membelakangiku. Dia menyingkap tengkuknya dengan menguraikan seluruh rambutnya ke depan, melewati pundak kanannya. Tampaklah simpul tali daster halter neck yang ada di belakang lehernya sekaligus membeberkan punggung atasnya yang putih mulus.
Pakaian Ibu yang satu ini memang seksi.

“Buka talinya, sayang…,” suruhnya.

Aku menarik kakiku, duduk bersila. Perlahan-lahan, kutarik simpul itu.

Srett…

Ikatan tali daster itu pun dengan mudahnya terlepas, seakan merupakan sebuah tanda terlepasnya adrenalin ke seluruh tubuhku untuk bersiap menyambut adegan selanjutnya.

Ibu perlahan memutar tubuhnya kembali, menghadapku. Lengan kanannya menahan tali daster itu supaya tidak jatuh. Dia kemudian menaikkan tubuhnya sedikit dengan berlutut, lantas mendekatkan tubuhnya padaku.

Buah dada itu sekarang berada tepat di depan pandangan mataku, seakan aku sedang ditantang oleh kedua gumpalan daging yang menggiurkan tersebut.

Ibu tiba-tiba melepaskan lengannya, namun kain daster itu masih tertahan oleh payudaranya yang membusung. Aku agak mendongak, menatap wajahnya, ingin tahu apa yang akan dia lakukan selanjutnya.

“Tarik ke bawah, sayang…,” ucapnya menginstruksi.

Aku menelan ludah lagi. Hawa yang ada di dalam kamar Ibu terasa mendadak panas karena aktivitas mesum ini.

Kunaikkan tanganku, memegang tali daster yang sudah terjuntai. Dengan tarikan lembut, kuturunkan tali itu, hingga akhirnya aku dapat melihat pemandangan yang luar biasa.

Buah dada Ibu yang besar dan masih begitu kencang itu kini tersaji indah di depan mataku, lengkap dengan areola dan puting mungilnya.

“Suka, sayang?” tanya Ibu sambil membelai dadanya sendiri.

Aku mengangguk pelan, menatapnya sekilas, lantas kembali lagi fokus ke dua gumpalan menggemaskan itu.

“Tito mau pegang?” tanyanya dengan suara lembut.

Aku mengangguk lagi.

“Pegang aja, sayang…,” ucapnya sambil mengelus kepalaku.

Aku yang memang sudah geregetan sejak tadi pun langsung menangkupkan tanganku di payudara kebanggaan Ibu. Kuremas-remas daging kenyal itu dengan lemah lembut, sebagaimana yang pernah kulakukan pada Kak Dina dan Bunda Aini.

“Ssshhh… mmmhhh…,” Ibu mendesis nikmat.

Aku sedikit mendongak, melihat wajah Ibu yang sedang dilanda nafsu. Hasrat kelelakianku benar-benar terpompa demi menyaksikan Ibu yang tersenyum kepadaku dengan matanya yang layuh, seakan menikmati benar apa yang kuperbuat ini.

Kutatap buah dadanya kembali, mengamati bagaimana seluruh jari-jari tanganku menekan-nekan lembut daging kenyal nan halus itu. Sesekali aku mencoba menguji kekenyalan payudara Ibu dengan menggerak-gerakkan sedikit gumpalan daging itu, namun yang kuperoleh hanyalah nafsu berahiku yang semakin meninggi karena payudara Ibu bahkan lebih kencang daripada payudara Bunda Aini.

Aku yang sudah tak tahan pun melakukan inisiatifku sendiri. Aku menyodorkan bibirku dan langsung mengisap puting payudara kanannya.

“Aahhh…!” desah Ibu yang terkejut dengan tindakanku. Tapi Ibu sama sekali tak menolak. Dia malah memeluk kepalaku dan menekankannya ke buah dadanya.

“Mmhhh… mmhh… crupp… srruuppss….” Aku menyedot puting dadanya dengan penuh nafsu. Napasku menderu-deru di atas kulit payudaranya.

Inisiatifku semakin berkembang. Kupindahkan sedotan mulutku ke payudara yang satunya lagi. Ketika aku mengisap payudara kirinya, aku meremas lembut payudara kanannya yang baru saja kuisap, sesuai apa yang sudah kulakukan pada Bunda Aini kemarin.

“Ssshhh… mmmhhh… sayang… Tito suka tetek Ibu ya, sayang…?” ucap Ibu di tengah sedotanku di pentil payudaranya. “Ssshhh… aahhh… isap terus, sayang… isap terus tetek Ibu….”

“Crupp… cup… nghhh… mmmhh… srupps….” Aku semakin bersemangat mencucupi benda kecil coklat muda di mulutku. Sekali-sekali aku menarik napas dalam, lalu kemudian menyedot lagi dengan rakus.

Beberapa saat kemudian, aku melepaskan bibirku dari putingnya. Aku menciumi dengan lembut seluruh buah dada Ibu yang putih mulus itu. Kubenamkan pula wajahku ke belahan payudaranya, menikmati kehangatan tubuhnya.

Ibu terkikih pelan sambil mengelus-elus rambutku dalam pelukannya. “Terus, sayang…. Sshhh… rasain tetek Ibu sampe puas….”

Kugesek-gesekkan pipiku di antara kedua buah dadanya, menikmati kemulusan daging bulat itu. Payudara Ibu memang sangat lembut, mirip seperti milik Bunda Aini.

Jika saja di dunia ini ada kewajiban seorang anak untuk selalu menetek pada Ibunya hingga ia remaja, aku pasti tak akan pernah bosan melakukan ini.

Aku menjauhkan wajahku dari dadanya. Sesuatu terlintas di benakku yang sudah begitu banyak pemikiran mesum ini. Aku mendongakkan kepalaku, menatapnya.
Ibu merenggangkan pelukannya. Dia balas menatapku dengan matanya yang redup. “Kenapa, sayang?”

“Tito mau cium, Bu…,” pintaku.

“Cium bibir?” Ibu balas bertanya.

Aku mengangguk.

Ibu dengan cepat menurunkan badannya, lalu menciumkan bibirnya ke bibirku. Dirapatkannya kepalaku kepadanya seakan ingin memuaskan penyatuan bibir kami.

Ketika aku sedang menikmati kecupannya, aku menambahkan kenikmatan itu dengan memegangi buah dadanya kembali. Ibu yang sedang menciumku pun semakin menyedot-nyedot bingkai mulutku.

Ibu melepaskan bibirnya tak lama kemudian. Dia mengelus rambutku lagi. “Enak, sayang?” tanyanya.

Aku tersenyum kecil, mengangguk.

Namun, Ibu tidak melanjutkan ciumannya lagi setelah itu. Dia tiba-tiba mengarahkan tangannya ke celanaku, meraba-raba kemaluanku yang sudah menegang.

“Nghh… Ibu…” ucapku yang sedikit kaget dengan suara lirih. Aku memegang lengannya, namun tidak mencegahnya melakukan itu.

Ibu tersenyum simpul. Matanya bergantian melihat wajahku dan tangannya yang sedang memegang kemaluanku. Caranya memandang sangat menggoda.

“Burung anak Ibu udah tegang banget nih…,” ujarnya centil.

Aku nyengir sambil sesekali tersentak-sentak kecil karena merasa geli.

Sesaat kemudian, Ibu menghentikan aksinya, membuatku bisa mengatur napas kembali. Pandangan kami beradu sesaat sembari melihat ke sekujur tubuh kami satu sama lain.

Ibu yang tahu aku mengamati tubuhnya langsung berbuat aksi yang lain. Dia memainkan buah dadanya dengan kedua tangannya dengan cara mengelus-elus benda itu perlahan, persis seperti apa yang dilakukan Kak Dina waktu itu. Selain itu dia juga memainkan puting payudara dengan memilin-milinnya lembut, lantas mengemut jari bekas pilinan yang dilakukannya itu seakan jarinya itu adalah sebuah permen.

Aku cengar-cengir saja melihat tingkahnya.

Mataku tak hanya terpaku ke buah dadanya, namun juga ke paha padatnya yang sangat mulus. Kemaluanku pun semakin mengejang di dalam celanaku demi memperhatikan celana dalamnya yang mengintip di balik roknya yang pendek. Ketika Ibu duduk bersimpuh seperti ini, rok bagian depannya mengetat dan membuat celah yang bagus untuk mata mesumku.

Inisiatifku pun datang kembali. Aku memberanikan diri untuk mengintip sekali lagi.

Aku menjulurkan tanganku dan menggepit roknya. Kutatap wajahnya sekilas sebelum melanjutkan aksiku.

Saat kulihat Ibu tersenyum, aku pun meneruskan niatku. Dengan jantung yang berdebar-debar, tanganku akhirnya berhasil menaikkan roknya ke atas, membuka celah sempit tadi dengan cukup lebar. Celana dalam merah muda Ibu pun kembali menjadi suguhan indah bagiku.

“Tito suka ya, liatin celana dalam Ibu?” tanyanya sambil tersenyum manis.

Aku menarik tanganku cepat, menyatukannya kembali di antara pahaku yang sedang duduk bersila. Aku nyengir sambil menatapnya malu-malu, grogi karena perbuatanku sendiri. Aku masih agak jengah melakukan hal semesum ini.

Ibu terkikih pelan, lalu mengelus pelipisku. “Tito kok malu? Malam ini kan kita mau ‘sayang-sayangan’?”

Aku masih tersenyum sipu, agak tertunduk, namun mataku tidak lepas dari buah dada dan celana dalamnya yang mengintip itu.

“Tito mau liat Ibu telanjang?” ucapnya lirih.

Aku tercengang demi mendengarkan kalimat Ibu. Darahku seakan mengalir deras ke kepalaku, menimbulkan sedikit denyutan. Jantungku seperti sedang dipakai untuk berlari sprint, degupannya keras sekali. Aku hanya bisa menelan ludah sambil menatap wajah cantiknya.

Ibu tidak melanjutkan kata-katanya. Dia cuma tersenyum genit seraya membaringkan tubuhnya perlahan.

Mataku tak berkedip ketika tubuh sintal nan mulus itu rebah di hadapanku. Moleknya paha Ibu berikut buah dadanya yang berguncang pelan itu membuatku gemas. Ingin rasanya aku meremas-remas seluruh bagian tubuhnya terus-menerus.

“Tito hadap sini, sayang…,” suruhnya sebaik dia berbaring, memintaku duduk menghadap ke arahnya.

Ibu menyusun bantal dan posisinya sedemikian rupa hingga dia berada di tengah-tengah ranjang dengan aku yang sudah berada di bawah kakinya. Aku bisa melihat dengan jelas celana dalamnya.

Namun ternyata itu bukanlah akhir dari apa yang diinginkannya. Ibu tiba-tiba memelorotkan dasternya perlahan-lahan ke bawah melewati pinggul, pantat, paha, hingga kemudian lolos dari kakinya. Aku terpana sekilas ketika daster itu melewati pahanya. Ibu melepaskan dasternya dengan mengangkat kedua kakinya, membuat pantat dan pahanya yang semok dan padat itu merapat, mengapit celana dalam merah muda ketat itu. Pemandangan seksi itu sontak membuat napasku tertahan sebentar hingga akhirnya dia melepaskan pakaian yang terbuat dari kain rayon tipis itu.

Ibu meletakkan dasternya begitu saja ke sampingnya. Dia tersenyum manis ke arahku sebelum sedetik kemudian melakukan sesuatu yang lebih gila lagi.

Ibu tiba-tiba mengangkat kakinya seperti tadi, lantas mengangkang lebar, mempertontonkan selangkangannya yang berbalut celana dalam merah muda itu tepat di hadapanku.

Aku yang begitu terkejut dengan posisi cabul itu langsung menatap nanar dengan nafsu syahwat yang mendidih. Kemaluanku mengejang-ngejang di dalam celanaku, tegang sejadi-jadinya. Tubuhku panas seolah-olah sedang berada di dekat kobaran api. Jantungku meledak-ledak di dadaku, dan paru-paruku seperti kekurangan oksigen saja. Aku seakan terkena demam mendadak.

Ibu kemudian memegang dan mengelus-elus buah dadanya sendiri. Dia tersenyum melihat ekspresi tegangku. “Udah Ibu buka, sayang. Liatin deh sampe Tito puas…,” ujarnya lirih.

Aku menelan ludah berkali-kali sambil memandangi celana dalam Ibu yang menunjukkan sedikit noda basah di tengahnya. Napasku tersendat-sendat karena nafsu berahi yang meroket. Samar-samar aku bisa merasakan aroma selangkangannya yang menggiurkan, persis seperti ketika dia masturbasi seminggu yang lalu. Aku masih mengingat dengan jelas bagaimana aku diantarkan ke tingkat orgasmeku yang tertinggi oleh perantara bau celana dalam itu.

Aku betul-betul tidak tahan dengan pemandangan ini. Batin dan benakku yang sudah diisi oleh kecabulan mendorongku untuk segera melakukan sesuatu. Aku tidak sanggup jika terus menahan. Ibu sudah mengatakan bahwa mulai sekarang aku bisa melakukan apa pun padanya, bukan? Dan Ibu juga mengatakan bahwa malam ini aku bisa memuaskan diriku dengan ‘sayang-sayangan’, yang mana itu berarti aku sebentar lagi akan berhubungan suami istri dengannya. Kupikir, sudah tak ada lagi yang bisa kujadikan alasan untuk malu-malu melakukan apa yang aku inginkan. Aku bebas berbuat apa pun dan semesum apa pun.

Aku beringsut sedikit, mendekatkan diriku ke selangkangannya. Nafsu berahiku yang memuncak pun mengantarkan tanganku untuk menyentuh celana dalamnya, tepat di bagian vaginanya.

“Aahhh…,” desah Ibu pelan saat jari-jariku mendarat di kemaluannya yang masih tertutup.

Batinku sempat terguncang dengan gerakan tanganku sendiri, namun perlahan aku bisa menguasai diri. Ternyata perkataan bahwa Ibu menerima seluruh perlakuanku padanya memang benar. Sekarang, aku tinggal memainkan fantasi mesumku.

Aku tidak tergesa-gesa. Kunikmati sentuhan jari-jariku di alur selangkangannya itu dengan perlahan, seolah ingin merasakan benar seperti apa tekstur vagina Ibu yang sedang bersembunyi di balik celana dalamnya.

“Ssshhh… sayang… mmhh… sshhh… sayang…,” Ibu mendesah-desah meresapi rabaanku. Tangannya mengelus-elus kedua payudaranya sendiri disertai dada yang turun naik dengan cukup cepat dan tersendat-sendat, tanda dia sangat terangsang. Helaan napas berat di hidungnya bahkan sampai terdengar ke telingaku.

Aku memindahkan rabaan ke bagian samping celana dalamnya, di mana selangkangan dan pangkal pahanya bertemu. Tak hanya dengan jari, aku juga menikmati sentuhanku dengan perut telapak tanganku. Aku juga menggunakan tangan kiriku agar bisa menyentuh bagian kanan dan kiri tepi celana dalamnya sekaligus. Seketika itu pula aku bisa merasakan kulit selangkangannya yang sudah memanas.

“Mmhh… ssshhh… aahhh… sayang….” Ibu tersentak-sentak kegelian sambil melihatku dengan mata yang redup. Wajahnya memerah demi menahan jari-jariku yang menjalar-jalar di dekat kemaluannya.

Noda basah di celana dalam Ibu terlihat sedikit melebar. Mungkin akibat rabaanku itu. Tapi aku justru semakin bernafsu melihatnya. Kukembalikan lagi rabaanku ke tengah selangkangannya, merasakan noda basah itu.

“Ssshhh… aahhh… Tito sayang… sshh… enak, sayang…,” Ibu mendesis keenakan.

Sesaat kemudian aku melepaskan tanganku dari celana dalamnya. Seakan tak puas dengan indra penglihatan dan peraba saja, aku pun memainkan indra penciumanku. Aku menghidu tanganku yang baru saja menjamah cairan vaginanya. Kuhirup dalam-dalam aroma memabukkan itu dengan napasku yang memburu.

“Enak baunya, sayang?” tanya Ibu lirih. Dia tampak sangat menyukai perbuatanku.

Aku mengangguk saja.

Ibu tiba-tiba bangkit dari pembaringannya, duduk bersimpuh di hadapanku. Dia meraih tanganku yang kupakai untuk meraba selangkangannya, dan memindahkannya ke hidungnya. Dengan sekali tarikan napas panjang, dia pun menghirup bau lendir kemaluannya sendiri. Ibu tampak menyukai perbuatannya itu.

Ia tersenyum manis padaku, dan sekejap kemudian ia mencium bibirku. Lagi-lagi aku hanya bisa menuruti nafsunya. Kudorong otot bibirku untuk membalas tekanan bibirnya.

Sensasi dari berciuman memang nikmat.

Tapi itu tak berlangsung lama. Baru saja batinku “melayang” karena ciumannya, Ibu melepaskan bibirnya. Dia mengeluarkan sedikit lidahnya untuk menyapu bibirnya, seakan ingin menikmati rasa bibirku yang tertinggal di bibirnya. Dia tersenyum lagi.

Aku sendiri cuma bisa tercengang dengan napas berat yang terengah, persis ketika aku “dibuai” oleh ciuman Kak Dina di sekolah.

“Buka bajunya, sayang…,” suruhnya tiba-tiba sembari meraih ujung kaus oblong yang kupakai.

Aku menurutinya saja. Kubantu tangannya yang mengangkat bajuku hingga terlepas dari kepalaku, lantas kuletakkan pakaian itu di tepi ranjang.

Sedetik setelah bajuku lepas, Ibu menyuruhku berbaring. Bagai terhipnotis, aku pun lagi-lagi menurutinya. Sesaat kemudian, posisi kami jadi berbalik dari keadaan sebelumnya. Aku berbaring, sementara Ibulah yang kini berada di bawah kakiku.

Ibu menyeringai melihat posisiku. Tanpa sepatah kata pun, dia kemudian merangkak sedikit ke sebelah kakiku, lantas membuka kaitan celana pendekku.

Keintiman yang kurasakan bersama Ibu benar-benar berbeda dengan yang kudapatkan dengan Bunda Aini maupun Kak Dina. Ketika aku mendapatkan perlakuan mesum seperti ini dari Ibu, aku pasrah saja membiarkannya, seakan-akan Ibu adalah istriku. Dengan Ibu pula, aku jadi seperti bebas mencurahkan apa yang kuinginkan. Apakah karena dia adalah Ibuku sendiri, sehingga aku merasa lebih nyaman? Entahlah.

Aku sedikit mengangkat pantatku untuk mempermudah Ibu memelorotkan celanaku. Aku betul-betul pasrah saat dia akhirnya melepaskan celana itu dari kakiku. Entah kenapa, aku benar-benar berdebar dan tak sabar agar Ibu segera melihat kemaluanku. Aku juga tak sabar ingin menerima perlakuan mesumnya padaku.

Ibu tersenyum simpul saat aku akhirnya berstatus sama seperti dirinya, hanya celana dalam yang melekat di tubuh kami berdua. Batang penisku mencuat di balik celana dalamku, dan mengeluarkan cukup banyak lendir di permukaannya.

Ibu kemudian beringsut, merangkak ke antara kakiku setelah dia sedikit melebarkan pahaku. Aku bertanya-tanya dalam hati tentang apa yang hendak dilakukannya.

Ibu kian melebarkan selangkanganku hingga aku benar-benar mengangkang di hadapannya. Posisi ini sungguh posisi yang sangat tidak sopan dilakukan oleh seorang anak pada Ibunya. Tak heran aku sedikit canggung melihat keadaanku sekarang. Namun, aku yang sedang dalam berahi tinggi tak lagi memikirkan norma kesopanan. Yang ada di pikiranku sekarang hanyalah hal-hal cabul.

Ibu berlutut di antara kelangkangku. Tangannya memegang bagian belakang betisku, bermaksud mengangkatnya. Aku pun menaikkan kakiku sendiri, membantunya, hingga sekejap kemudian aku sudah mengangkang di depannya dengan kaki yang terangkat. Selangkanganku yang masih berbalut celana dalam dapat disaksikannya dengan bebas.

Ibu tersenyum melihat posisiku yang tak senonoh ini. Dia bahkan menyorotkan tatapan yang sangat menggoda padaku.

Aku yang sudah terangsang berat hanya membalasnya dengan pandangan kosong.

Sesaat kemudian, Ibu melakukan sesuatu yang membuatku terkejut. Perlahan-lahan, dia memposisikan tubuhnya bersujud di celah kangkangku, lantas mengarahkan wajahnya ke selangkanganku.

Sungguh erotis. Ibu mengendus kemaluanku yang masih dilapisi celana dalam.

Napasku tarasa semakin sesak saat dia melakukannya. Udara yang keluar masuk di hidungku begitu panas melihat tontonan luar biasa ini. Sungguh tak kusangka Ibu mau mempraktikkan hal semacam ini. Lihatlah, Ibu dengan leluasanya menghidu aroma selangkanganku seolah celah pahaku itu sangatlah harum.

“Bu…,” ucapku lirih, menelan ludah menyaksikan gundukan celana dalamku sedang dieksplor olehnya.

“Mmhh… hmmhh… baunya enak, sayang…,” katanya di antara endusannya.

Kemaluanku rasanya mengeras ke titik maksimal. Aku mengikuti naluriku. Kakiku bahkan tak lagi dipegangi olehnya karena aku sudah menahannya sendiri agar tetap terangkat dan mengangkang lebar.

Namun, belum lama dia melakukan itu, kakiku diturunkan perlahan. Otakku langsung berjalan ketika dia memegang sisi kanan dan kiri celana dalamku. Dengan sigap, aku pun membantunya melepaskan celana dalamku, hingga sesaat kemudian aku sudah telanjang bulat di hadapannya.

Ibu tak berkedip menatap kemaluanku yang sudah berlendir itu. Wajahnya merah merona, mungkin karena nafsu berahinya yang juga telah naik. Aku sendiri malah menontoni payudaranya yang bergelayut indah di dadanya. Singkatnya, kami saling melihat apa yang kami inginkan.

Ibu kemudian memperhatikan tangan kanannya. Namun, belum sempat aku menebak apa yang hendak dia lakukan, dia sudah menjalankan aksinya. Ibu tiba-tiba menangkupkan celana dalamku ke mulut dan hidungnya.

Lagi-lagi aku hanya bisa tercengang melihat perbuatan Ibu. Sebegitu terangsangnyakah dia padaku sampai-sampai dia tak segan-segan melakukan itu? Dia bahkan menghirup dalam-dalam bau celana dalamku sambil mengelus-elus payudara kirinya.

Lendir kemaluanku terus-menerus keluar, bening, menggenangi bagian bawah perutku. Pembuluh darah di dalam penisku terasa berdenyut-denyut. Nafsuku semakin berkobar saja.

Beberapa saat kemudian, Ibu melepaskan celana dalamku dari hidungnya. Tangannya bergerak kembali ke bawah betisku. “Angkat lagi kakinya, sayang…,” suruhnya.

Aku segera mengangkat kakiku, dan mengangkang lagi.

Sekian detik kemudian Ibu kembali bersujud di selangkanganku, lantas melakukan hal yang sama seperti tadi.

Seluruh tubuhku sontak menggigil, seperti terkena setrum halus. Sungguh tak kuasa aku menahan terpaan napas berikut ciuman-ciuman bibir Ibu yang membabi-buta menyerang kemaluanku. Ibu mengendus-endus selangkanganku dalam-dalam seolah ingin merasakan setiap rongga yang ada di sana. Sesekali dia mengecup kantung zakarku seperti harta karun yang sangat berharga.

“Ibu… nghh… Bu… geli…,” ujarku dengan tubuh yang agak tersentak-sentak karena rangsangan yang diberikannya.

“Mmmhhh… sshhh… hmmhh… kontol anak Ibu wangi banget, sayang…,” ujar Ibu di tengah-tengah keasyikannya menghidu dan mencium.

Alangkah terkejutnya aku mendengar Ibu yang mengucapkan kata kotor itu. Darahku tersirap, seakan-akan berdesir di pipiku. Aku menelan ludah untuk kesekian kalinya. Tampaknya Ibu sudah lupa daratan. Nafsu syahwat sudah menguasainya.

Hidungnya kemudian berpindah ke batang penisku. Dia pun menarik napas panjang, menghirup aroma batang kejantananku itu. “Hmmhh… kontol Tito wangi banget, sayang…. Kontol kesukaan Ibu….”

Aku mengerang-erang halus. Sesekali tubuhku tersentak-sentak ketika dia mendaratkan bibirnya di tempat-tempat yang sensitif. Batinku terombang-ambing oleh nafsu berahiku sendiri. Aku begitu terangsang melihat wajah cantiknya menjelajah organ vitalku, menyaksikan Ibu menyentuh dan menggesek-gesekkan bibir lembut dan hidungnya yang cukup mancung itu hingga terolesi keringat selangkanganku. Hidungnya kembang-kempis demi menghirup aroma “segar” dari kemaluanku, dan dia melakukannya dengan penuh nafsu, bahkan sambil sesekali melihat wajahku untuk memerhatikan ekspresi gelisahku.

“Kontol anak Ibu udah banyak lendirnya…,” ucapnya lirih sambil menatap ujung penisku.

Ibu mendesis-desis demi melihat lendirku yang begitu banyak keluar. Dia lalu memandangiku, menyeringai.

Aku yang sedang mengontrol napasku langsung tersentak hebat ketika tiba-tiba saja Ibu memasukkan batang penisku ke dalam mulutnya. Dia langsung menyedot zakarku dalam-dalam, seolah ingin menelan cairan bening yang masih tersisa di dalam batang penisku.

“Aaahhh…! Ibu…! Ibu…! Aahhhnngghhh…!” aku kontan menjerit-jerit dan merengek seperti hendak menangis saking gelinya. Jari-jari kakiku menekuk semua. Kaki dan seluruh tubuhku menggelinjang tak karuan.

Tapi untung saja, hanya beberapa detik setelah itu Ibu langsung melepaskan kulumannya. Napasku tersengal-sengal sambil menatap wajahnya yang berada di kangkanganku. Mulutku juga turut menarik napas, seakan aku baru saja terkena shock berat. Batang zakarku kembali “mengudara” di dekat wajahnya.

Ibu terkikih pelan. “Enak, sayang?”

“Geli banget, Bu…,” jawabku sekenanya.

Kini, barulah kurasakan apa yang diceritakan oleh Kak Dina. Rasanya penis yang dihisap oleh mulut memang luar biasa. Rangsangannya juga semakin hebat karena yang melakukannya adalah Ibu, wanita pujaanku. Aku hanya bisa terpana dan menggelinjang hebat tatkala bibirnya yang menggoda itu mengatup untuk menyedot penisku. Aku benar-benar tak menyangka wajah Ibu yang begitu cantik dan elok itu bersedia dipakai untuk sarana pelampiasan ketegangan batang zakarku.

Tetapi, Ibu ternyata belum selesai. Dia tiba-tiba mengangkat tubuhnya sedikit sembari mendorong pelan bagian belakang pahaku hingga tubuhku agak menekuk layaknya seekor udang. Sekilas, Ibu melihat ke arah selangkanganku, lantas kembali menatapku. Dia menyeringai lagi.

Ibu mau ngapain lagi nih? batinku dengan dada yang berdebar kencang.

Seakan tak ingin membuang waktu, Ibu kemudian bersujud dan menyodorkan wajahnya kembali ke selangkanganku. Sempat kupikir Ibu hendak melakukan “kuluman” itu lagi, namun ternyata dugaanku salah besar. Dia melakukan sesuatu yang lebih liar.

Ibu menjilat dan menciumi lubang pantatku dengan rakus.

Aku yang sudah salah duga, alhasil kembali menggelinjang, lebih heboh dari yang tadi. Rasanya benar-benar geli. Saking gelinya, aku berteriak-teriak parau. Aku bahkan tak tahu apa yang sedang kurasakan. Aku merengek-rengek dan cekikikan sekaligus.

“Enghh…! Ibu…! Aahhh…! Geli, Bu…!” ucapku sambil meremas sprei kasur. “Lubang pantatnya Tito… ekhh… kok… dijilatin, Bu…?! Bu…! Ahh… haakhh… geli, Bu…!”

Ibu seolah tidak mendengarkan rintihanku. Dia malah menyapu-nyapukan lidahnya di lubang pantatku sambil sesekali menyeruputnya.

“Ibu…! Ampun…! Ehnghhh…!” aku merintih sambil cengar-cengir karena geli yang teramat sangat. “Udah, Bu…! Geli…! Ampun…!”

Ibu pun melepaskan wajah berikut lidahnya. Dia bangkit, terduduk sambil menatapku dengan tatapan puas dan senang. Aku sungguh tak habis pikir dengan Ibu yang tampak sangat liar ini, namun aku juga sangat bahagia diperlakukan semesum ini.

“Enak, sayang?” tanyanya lagi dengan nada manja sambil mengelus-elus kedua pahaku.

“Geli banget, Bu…,” jawabku dengan napas terengah-engah. Kakiku tersentak kecil saat dia meraba pahaku. “Ibu kok… mau sih jilatin lubang pantatnya Tito? Kan jorok?”

Ibu tersenyum, lalu perlahan-lahan merangkak dengan sensual ke atas tubuhku. Setelah itu, dia pun meletakkan tubuhnya pelan-pelan di atasku. Aku bisa merasakan dadanya yang kenyal dan empuk menekan badanku. Enak sekali.

“Ibu udah nggak tahan, sayang…,” ujarnya dengan napas berat dan menderu. “Ibu udah lama pengen ‘sayang-sayangan’ sama Tito….”

Aku tersenyum sipu mendengar kalimat Ibu. Bagiku, itu adalah kalimat termesra yang pernah diucapkannya, terlepas dari mesumnya kalimat itu atau tidak. Karena itu pula aku bisa dengan mudahnya memaklumi perbuatan gilanya tadi sebagai salah satu dari permainan seksnya. Hingga sesaat kemudian, datang ide yang tak kalah gila dari otakku.

“Bu…?” ucapku.

“Iya, sayang…?” sahutnya.

“Tito mau juga dong….”

“Mau apa, sayang…?”

“Mau… ngerasain kayak Ibu barusan…,” pintaku.

Ibu tersenyum genit. “Tito mau ngerasain memek Ibu, sayang…?” tanyanya lirih.

Aku menelan ludah, nyengir. “Iya, Bu….”

Ibu sontak mendesis. Napasnya memberat dan tak teratur. Matanya yang layuh menatap wajahku dengan penuh nafsu.

“Sayang…?” ucapnya dengan agak mendesah.

Aku memandangi wajahnya, tak menyahut.

Ibu tiba-tiba menciumku dengan ganas. Bibirnya mendorong bibirku dengan cukup kuat. Napasnya menderu-deru di wajahku. Dia membelitkan kakinya ke kaki-kakiku, seakan hendak memuaskan dirinya dengan ciuman ini.

Aku yang memang sudah didera berahi tinggi langsung antusias menyambut ciumannya. Kutekankan bibirku sekuat yang kubisa. Kenikmatan akan buah dadanya yang menempel di tubuhku ini semakin mendongkrak libidoku. Ditambah lagi dengan pahanya yang bergesekan dengan pahaku, membuat ciuman ini seakan ciuman terdahsyat yang pernah kurasakan seumur hidupku.

Ketika Ibu sudah cukup lelah, dia melepaskan ciumannya. Ditatapnya wajahku sebentar sambil mengelus-elus rambutku.

“Ibu sayang Tito…,” ucapnya mesra, tersengal-sengal. “Tito sayang sama Ibu, nggak…?”

“Iya dong, Bu…,” balasku. “Tito sayang banget sama Ibu….”

Ibu tersenyum manis. Tangannya turun, membelai-belai pipiku.

Sesaat kemudian, Ibu bangkit dari tubuhku, duduk bersimpuh. Dia mengajakku untuk ikut bangkit juga. Ibu segera berbaring, memposisikan dirinya di tengah-tengah ranjang, sama seperti tadi.

“Buka celana dalam Ibu, sayang,” ucapnya sembari tersenyum genit.

Aku membalas senyumnya sambil mencuri pandang ke celana dalamnya. Demi melihat kain merah muda menggiurkan itu, ide nakal datang lagi ke dalam otakku.

Aku memegang lututnya, melebarkannya pelan-pelan. Aku pun memposisikan diriku, berlutut di antara kakinya.

Ibu awalnya hanya diam saja melihatku, namun setelah aku cengar-cengir dan menempatkan diriku di antara pahanya, dia tersenyum simpul.

“Mau ngapain, sayang?” tanyanya penasaran.

“Mmm… Ibu angkat kakinya lagi kayak tadi dong…,” pintaku.

“Yang kayak gimana, sayang?” tanyanya lagi, tersenyum menggoda.

“Ngg… yang tadi, Bu. Yang waktu Ibu…”

“Yang kayak gini?” ucapnya memotong kalimatku. Ibu mengangkat dan mengangkangkan kakinya lebar-lebar, mempertontonkan selangkangannya yang terlihat penuh di balik celana dalam ketatnya.

Aku menelan ludah. Sontak menatap nanar bagian kewanitaannya. “Ngg… bukan, Bu…. Yang… satu lagi…,” ujarku tersendat-sendat menahan nafsu.

“Yang ini?” katanya lagi sambil menaikkan kedua kakinya lebih tinggi. Dia merapatkan kedua kakinya, menyajikan celana dalamnya yang terjepit rapat di selangkangannya.

“Iya, Bu. Yang ini,” jawabku cepat. Mataku sekarang mungkin sudah berbinar-binar karena pemandangan indah ini.

Aku benar-benar suka pose ini. Pantat dan paha Ibu yang padat dan penuh itu bagaikan seni yang eksotis. Kemaluanku mengejang dan berdenyut-denyut mengeluarkan lendir bening. Aku menatap selangkangan Ibu tanpa berkedip. Napasku kian memanas, berdesak-desakan keluar-masuk dari hidungku.

Ibu terkikih manja melihatku yang begitu detail menyoroti selangkangannya. “Suka, sayang?” tanyanya.

Aku mengangguk saja, cengar-cengir.

Seolah senang dengan pendapatku, Ibu kemudian memberiku “hadiah”. Dia menarik bagian belakang lututnya dengan kedua tangannya, membuat selangkangan dan pantatnya semakin jelas tersaji di depan mataku.

“Udah keliatan, sayang?” tanyanya sambil tersenyum genit.

Aku mengangguk, tercengang-cengang sambil menelan ludahku lagi berkali-kali. Jantungku berdegup sangat kencang, memompa berliter-liter darah panasku.

Sesaat kemudian, imajinasi mesumku mendorongku untuk melakukan hal yang lain lagi. Aku mengulurkan tanganku, memegang kedua betis Ibu. Sambil memperhatikan selangkangannya dengan penuh nafsu, aku melebarkan kedua kakinya perlahan-lahan hingga dia kembali mengangkang. Ibu menuruti kemauanku dengan membantuku memegang kakinya sendiri.

Ibu tersenyum manis saat aku melakukannya. Dia terlihat begitu suka melihatku yang sedang menjalankan eksperimenku sendiri. Aku melancarkan aksiku dalam diam, hanya cengar-cengir sesekali ketika aku melihat Ibu mesam-mesem.

Aku perlahan merapatkan kedua kaki Ibu kembali, lantas melihat selangkangannya lagi. Lalu melebarkan kakinya kembali, dan memperhatikan sudut kangkangnya lagi. Aku melakukan hal itu beberapa kali hingga kulihat kedua kaki Ibu seperti gunting saja. Aku sangat suka melihat celana dalam yang membaluti vaginanya itu melebar dan menguncup, mengikuti pergerakan paha Ibu. Gairah seksku meledak-ledak saat menyaksikannya.

Beberapa saat kemudian, aku berhenti melakukannya. Aku melepaskan kaki Ibu, dan Ibu pun kembali menggunakan tangannya sendiri untuk menahan kedua kakinya. Pergerakan yang kulakukan tadi kuhentikan di posisi Ibu yang mengangkang lebar. Ibu masih setia tersenyum, bahkan wajahnya tampak semakin terangsang saja.

“Sayang…?” Ibu memanggil, lirih.

“Iya, Bu…?” sahutku dengan suara agak serak.

Ibu mendesis. Matanya meredup. “Ibu pengen telanjang…,” ungkapnya.

Seluruh darahku kontan terpompa naik memenuhi kepalaku. Mata dan wajahku panas sekali. Jantungku seperti hendak pecah karena degupannya yang tampaknya sudah diambang batas maksimal. Sungguh sesak napasku demi mendengarkan Ibu mengatakan hal yang sangat mesum itu. Kata-kata itu terdengar canggung melihat dia mengatakannya sendiri padaku. Namun, jika diingat kembali ketika dia masturbasi waktu itu, agaknya kata-kata vulgar itu bukanlah barang baru baginya.

“Buka celana dalam Ibu, sayang…,” pintanya. “Biar Tito bisa liat memek Ibu….”

Aku menelan ludah. Tubuhku lemas tiba-tiba, seolah kehilangan tenaga. Kelopak mataku ikut meredup dan pandanganku sedikit memburam. Efek seperti demam itu terasa semakin parah saja melingkupi seluruh tubuhku.

“Buka, sayang…,” suruhnya lagi sambil merapatkan dan mengangkat kakinya ke atas, menunjukkan pose menggiurkan itu.

Imajinasi mesumku bagai melambung tinggi ketika Ibu kemudian memintaku untuk membuka celana dalamnya dengan pose seperti itu. Dia menyuruhku untuk menarik celana dalamnya ke atas, mengikuti alur kakinya, sebagaimana dia membuka dasternya tadi.

Aku yang sudah “meriang” karena syahwatku pun melaksanakan perintahnya dengan baik. Aku mendekat ke bagian kakinya, lantas memegang sisi kanan dan kiri celana dalamnya. Napasku makin sesak saja ketika jari-jariku memegang kain merah muda itu, membayangkan Ibu yang akan segera kutelanjangi dengan tanganku sendiri.

Ibu meletakkan kedua betisnya di kanan dan kiri pundakku. Aku mulai menarik, dan Ibu mengangkat pantatnya sedikit. Saat celana dalam itu sudah terlepas dari selangkangannya, aku melihat celana dalam itu seolah mendatangi wajahku. Benda berwarna merah muda itu mengalir lancar di sepanjang paha dan betisnya yang mulus hingga sekian detik kemudian terlepas bersamaan dengan gerakan kaki Ibu yang mengangkat kakinya dari pundakku.

Ibu mendesis penuh nafsu ketika dia akhirnya telanjang di depan anaknya. Kakinya langsung dinaikkan dan dikangkangkannya selebar-lebarnya, mempersembahkan vaginanya yang tak berbulu sebagai objek seksualku.

Tak hanya penis, tubuhku pun serasa menegang kaku ketika melihat organ seksual Ibuku. Aku tak pernah melihat vagina sejelas dan sedekat ini seumur hidup. Bahkan, Ibu pun tampaknya baru saja mencukur bulu kemaluannya seperti Kak Dina waktu itu, membuatku begitu leluasa memandangi “bibir kenikmatan” yang mengatup rapat tersebut.

Napasku berkempul-kempul dengan cepat seperti banteng yang hendak menyeruduk musuhnya. Mataku nanar bagaikan orang yang sedang mabuk. Penisku telah meregang sekeras-kerasnya. Bau vagina Ibu yang sudah telanjang itu benar-benar menghantui rongga penciumanku, membangkitkan syahwatku sampai ke ubun-ubun.

“Sayang…?” Ibu memanggil mesra. Suaranya agak parau.

Aku hanya menengok wajahnya, tak menyahut.

“Ibu cantik, nggak?” tanyanya dengan wajah merona kemerahan.

Aku mengangguk sambil curi-curi pandang ke vaginanya.

Ibu tersenyum ringan. “Cantikan Ibu pake baju… atau Ibu telanjang…?”

Aku menelan ludah. “Cantikan Ibu… telanjang…,” ucapku lirih.

Alis Ibu agak mengernyit. Dia mendesah dan mendesis pelan, mengejawantahkan nafsunya yang melonjak. Kedua tangannya kembali mengelusi payudaranya sendiri.

“Kalo Ibu telanjang, Tito mau apain Ibu, sayang?” tanyanya.

Aku terlongong, gelagapan tiba-tiba. Mataku yang panas ini mengerjap-ngerjap, menatap wajah dan vaginanya bergantian. “Ngg… Tito mau…”

Kalimatku terputus. Aku tidak tahu harus bagaimana mengucapkannya. Hasrat seksualku seolah membakar seluruh tubuhku hingga membuat semua kosa kata di benakku menguap begitu saja.

“Tito mau ngentot sama Ibu kan, sayang…?” ucapnya sambil tersenyum simpul, menatapku dengan tatapan penuh berahi.

Aku seperti terkena serangan jantung mendadak demi mendengar kata yang benar-benar porno itu terucap dari mulut Ibu. Tubuhku terasa semakin lemas karena semua hal yang tak terduga ini. Lihatlah, Ibu bahkan jauh lebih mesum daripada dirinya ketika masturbasi beberapa waktu yang lalu. Aku sudah tak ingat lagi sudah berapa kali dia mengucapkan kata-kata vulgar dan luar biasa cabul padaku sejak tadi. Dia seakan sudah tidak peduli lagi akan citranya sebagai seorang Ibu di mataku.

Aku tercengang-bengang menanggung semua keerotisan ini. Batang penisku bahkan tidak punya kesempatan untuk beristirahat barang sedetik saja. Selangkanganku sudah mulai pegal menahan ketegangan penisku. Aku ingin memuaskan syahwatku segera. Aku ingin bersetubuh dengan Ibu.

“Tito mau ngentot sama Ibu, nggak?” tanya Ibu lagi, memperpanas suasana.

Aku mengangguk pelan, masih terbengong.

Ibu terkikih manja. Dia meninggikan kakinya dan menarik bagian belakang lututnya dengan kedua tangannya, membuat vaginanya yang basah semakin mendongak. “Kalo Tito mau ngentot Ibu, cium memek Ibu dulu ya, sayang…,” ujarnya seraya tersenyum genit.

Napasku semakin tersengal-sengal. Aku sudah tak kuat lagi. Tubuh telanjang Ibu yang mengangkang lebar disertai kata-kata “kotor” itu betul-betul menghabiskan semua keraguan di dalam diriku. Aku ingin segera melampiaskan hasratku yang sudah kupendam selama ini terhadap Ibu. Menyentuhnya, memegangnya, memeluknya, menciumnya, aku akan melakukan segalanya yang kuinginkan.

Di tengah mataku yang sedang nanar melihat vaginanya, tanganku melakukan hal yang lain. Aku mendekatkan sesuatu ke hidungku, mengendusnya perlahan.

Ibu agak mengernyitkan alisnya. Ada sedikit keterkejutan di raut wajahnya ketika aku melakukan itu, namun sekejap kemudian digantikan tatapan penuh nafsu disertai senyuman tipis.

“Tito suka cium celana dalam Ibu, sayang?” tanyanya lirih.

Aku menjawabnya dengan menarik napasku dalam-dalam berkali-kali. Kuhirup aroma vagina Ibu yang tertinggal di celana dalam merah muda itu sepuasku sambil memandangi seluruh kemolekan tubuhnya.

Ibu mendesis-desis dan mendesah demi melihatku yang begitu antusias melakukannya. Bibir vaginanya tampak sedikit berkontraksi, mengeluarkan cukup banyak cairan bening. Mata kami berdua kian meredup, menikmati khayalan dan imajinasi mesum kami masing-masing.

“Sayang…?” ucap Ibu tiba-tiba.

“Iya, Bu…?” sahutku dengan suara parau. Kulepaskan sejenak celana dalam itu dari mulut dan penciumanku.

“Ambilin celana dalam Tito yang tadi, sayang…,” pintanya. “Ibu mau juga….”

Aku melongo, mencerna permintaan Ibu. Namun, sekian detik kemudian, aku menoleh ke sampingku, tepat ke tepi ranjang. Kuambil celana dalamku, lantas memberikannya dengan ragu-ragu ke Ibu.

Ibu dengan cepat merebut celana dalam berwarna coklat itu dari tanganku. Dia benar-benar bernafsu sampai-sampai mulut dan hidungnya langsung dibekapnya dengan benda itu. Dadanya naik turun, menghirupi kenikmatannya sendiri.

Aku terpegun sesaat melihat betapa liarnya fantasi yang sedang dimainkan oleh Ibu. Cairan kemaluanku menetes ke sprei, membentuk semacam tali lendir yang bening. Vagina basah Ibu yang mengeluarkan aroma semerbak itu betul-betul menggoda. Aku sudah tidak sanggup lagi.

“Bu…?” ucapku memanggil.

Ibu melepaskan bekapan di mulutnya. “Iya, sayang…?”

Aku menatap vaginanya. “Tito… boleh cium kan, Bu…?” tanyaku terbata-bata. Napasku tersendat-sendat saking tegangnya.

“Tito mau cium memek Ibu…?” Ibu balas bertanya. Napasnya tak kalah menderu.

Aku mengangguk.

Ibu mendesis keras. Alisnya mengernyit. “Cium, sayang…,” ucapnya singkat.

Aku yang sudah dipenuhi syahwat langsung bersujud dan mengarahkan wajahku perlahan ke vaginanya. Napasku yang terengah-engah seakan meniup-niup selangkangan Ibu, menyebarkan aroma kewanitaan yang luar biasa. Ketika wajahku berjarak sekitar 10 sentimeter dari vaginanya, aku tak tahan lagi. Mulutku langsung menyergap dan mencium vaginanya dengan ganas.

“Ooohhh… sayaaangg…!” Ibu menjerit parau ketika bibirku mencium bibir vaginanya. “Cium memek Ibu, sayang…! Cium memek Ibu…! Aahhh…!”

“Mmmhhh… cupp… cupps… mmhh….” Aku mencium sambil mengendus membabi buta, menikmati tajamnya bau vagina Ibu. Kelakuanku seperti serigala yang baru saja mendapatkan mangsa.

“Tito…! Aahhh…! Sayaaangg…!” Ibu berteriak-teriak semaunya. Tubuhnya menggelinjang dengan paha yang bergetar-getar.

Sambil memuaskan berahiku, aku mencoba membalas kelakuannya padaku tadi. Aku tak hanya menciumi daging vagina gundulnya, namun aku juga menyedot-nyedotnya. Sejumlah cairan masuk ke mulutku, dan aku menyambutnya dengan antusias. Meskipun cairan itu rasanya aneh, aku sangat menikmatinya. Pikiranku menyampaikan pesan bahwa itu adalah lendir “istimewa” yang keluar dari bagian tubuh Ibu yang sangat istimewa. Aku tak boleh melewatkannya.

“Ooohhh… iya, sayang…! Sedot memek Ibu, sayang… aahhh…!” Ibu terpekik nikmat dengan tubuh yang gelisah. “Jilat memek Ibu, sayang…! Jilat memek Ibu, Nak…!”

Kepalaku berat sekali. Rasanya seluruh darah terkumpul di kepalaku. Namun nafsuku tetap tidak berubah, malah semakin meninggi. Aku yang mendengar permintaan mesum Ibu pun langsung menaatinya. Kujulurkan lidahku, lantas menjilat sekujur memeknya dengan rakus.

“Ooohhhh…! Tito…! Aahhh…! Enak, sayaaangg…!” seru Ibu sambil sedikit menggoyang-goyangkan pinggulnya, menikmati jilatanku. “Jilat terus, sayang…! Ooohhh…!”

“Mmmhhh… cupps… crupp… nghh… cupp… mmhhh…,” aku mencium, menjilat, dan menyedot bergantian, memberikan efek yang berbeda-beda pada Ibu. Aku benar-benar rakus seakan aku sedang menjilati es krim yang sangat nikmat.

Sempat terlintas anggapan di kepalaku akan betapa liarnya perbuatan kami saat ini. Aku masih tak percaya, tak menduga, tak menyangka, kami bisa melakukan hal ini. Aku bahkan tak pernah membayangkan kalau kami akan saling merasakan kemaluan kami satu sama lain. Tak hanya dengan tangan, bahkan dengan mulut. Sejatinya, ini memang tak senonoh, namun aku tak bisa memungkiri kalau memadu kasih dan nafsu itu memang sangat nikmat, meskipun itu harus kudapatkan dengan menciumi vagina Ibuku yang cantik jelita.

“Tito… oohhh… enak, sayang…. Ssshhh… aahhh…,” Ibu mengerang dan merintih kesedapan. Suaranya sedikit tertahan, karena ia kembali mendekap celana dalamku di mulut dan hidungnya. “Jilat terus, sayang…. Aahhh… Tito pinter banget, sayang…. Ssshhh… ngghhh… mmhhh… celana dalam Tito wangi, sayang…. Mmmhhh… wangi kontolnya Tito… Oohhh….”

Erangan Ibu sangat menggoda, membuatku semakin kalap dan beringas. Aku yang sudah gelap mata pun melakukan hal yang lebih gila. Kudorong sedikit paha Ibu, kubuka celah pantatnya, dan kuturunkan mulutku.

Aku pun mencium dan menjilati lubang pantatnya dengan penuh nafsu.

“Oohhh… sayaaang…!” seru Ibu meriah. Celana dalamku yang terbekap di mulutnya dilepaskannya. Ia cukup kaget dengan perbuatanku dan langsung menggeliat-geliat.

Aku juga sempat terkejut dengan perbuatanku sendiri. Tubuh gelisah dan lubang dubur Ibu yang tiba-tiba berkontraksi ketika menyambut bibir dan lidahku itu seakan menyadarkanku akan nafsu gila ini. Betapa gilanya aku sekarang, dan betapa tak masuk akalnya apa yang sedang kulakukan.

Namun, aku lekas teringat akan apa yang sudah dilakukan Ibu padaku tadi. Bukankah dia juga melakukan hal yang sama? Lantas kenapa aku harus ragu? Ibu begitu menikmati semuanya, jadi tidak ada alasan bagiku untuk tidak menikmati juga apa yang aku inginkan.

Aku tetap meneruskan aksiku. Ciuman dan jilatanku bahkan semakin rakus.

“Ngghhh… cium, sayang…. Cium pantat Ibu… oohhh…!” Ibu memekik nikmat sambil menarik lutut bagian belakangnya lagi hingga vagina dan pantatnya terbuka lebih bebas. “Jilat, sayang… aahhh… Tito… enak, sayang…. Oohhh…. Jilatin pantat Ibu sampe puas, sayang…. Aahhh… aahh…!”

Entah karena sudah gila atau memang sangat bernafsu dengan Ibu, aku membenamkan mulut dan hidungku di permukaan lubang pantatnya. Aku menciumi dan menghirup aromanya seintensif mungkin. Sambil menikmatinya, aku meremasi paha sintalnya yang mulus. Sungguh luar biasa rasanya.

“Sshhh… aahhh… sayang…,” desah Ibu dengan suara yang melemah. Dia tampak menikmatinya juga, walupun pantatnya sesekali tersentak-sentak geli karena ciumanku.

Sesaat kemudian, kulepaskan ciumanku di pantatnya. Kutatap sebentar lubang dubur yang berdenyut halus itu sambil mengatur napas panasku. Lubang itu tampak basah terkena liurku.

Ibu melihatku tanpa berkata apa pun. Dia hanya mendesis dengan buah dada naik turun. Seksi sekali.

Syahwatku kian meluap. Aku masih belum puas. Dengan napas yang masih menderu kencang, aku menyalurkan kecabulanku lagi. Kusosor kemaluannya dengan bibirku.

“Oohhh…!” pekik Ibu manja.

Kucium vagina Ibu dalam-dalam tanpa mengecupnya. Aku menekankan bibirku ke belahan vagina empuknya erat-erat, memuaskan hasratku.

“Sayang… aaahhh…!” laung Ibu lagi. Dia merapatkan kedua paha halusnya ke kepalaku.

Kepalaku terasa penuh dan setiap urat-uratnya berdenyut kencang dialiri banyak darah. Aku menghirup napasku dengan susah payah sambil tetap merapatkan bibirku ke bibir kemaluannya. Mataku agak terpejam, menikmati lezatnya vagina Ibu. Tubuhku lunglai seakan-akan seluruh tulang-tulang di dalamnya rontok semua dibantai berahiku yang menggebu-gebu. Fantasi pornoku akan tubuh Ibu benar-benar terpuaskan, bahkan dengan cara yang tak pernah terpikirkan olehku sama sekali.

Ibu tiba-tiba memegang kepalaku dengan kedua tangannya, lantas mengelus-elus rambutku. “Oohh… ssshhh… sayang… udah dulu, sayang…,” ucapnya pelan.

Aku tak menggubrisnya. Bibirku malah semakin meraup vaginanya, berulang-ulang dengan ganas seperti sedang menggaruk vaginanya dengan bibirku. Tak kupedulikan napasku yang sudah terengah-engah.

“Sayang… ngghhh….” Paha Ibu bergetar-getar seakan sedang menahan setrum. “Tito… berhenti dulu, Nak…. Aaahhh…!”

Ibu tiba-tiba menolak kepalaku dengan cukup kuat. Aku sontak tersadar akan ulahku yang berapi-api.

Ibu merapatkan pahanya. Dia lalu bangkit, duduk bersimpuh. Aku yang masih bersujud dibimbingnya untuk duduk pula.

Belum sempat aku berpikir apa yang hendak dilakukannya, Ibu tiba-tiba menarik kepalaku dan mencium bibirku. Sebuah kecupan mesra yang singkat sebelum akhirnya dia melepaskan bibirnya dan menyuruhku untuk berbaring.

“Mau ngapain, Bu?” tanyaku dengan polosnya seraya beringsut untuk memasang posisi terlentang.

Ibu diam saja sambil tersenyum menggoda. Dia melebarkan pahaku ketika aku sudah berbaring, lalu mendesis penuh nafsu melihat kemaluanku yang kembali terpampang di hadapannya.

“Sebelum ngentot memek Ibu, kontolnya Ibu cium dulu ya, sayang…,” ucapnya mesum seraya menatapku dengan wajahnya yang sudah terangsang berat.

Aku hanya bisa menelan ludahku lagi, mencerna kata-kata cabul Ibu sambil melihatnya kembali bersujud dan mengarahkan wajahnya ke kemaluanku. Napasku menderu kencang hingga sesaat kemudian aku refleks menegangkan tubuhku, bermaksud menahan geli yang akan kurasakan.

Namun apa yang terjadi tak sesulit yang kukira. Rasa geli itu memang datang, tetapi tidak begitu ekstrem. Ibu tidak “mencaplok” batang zakarku lagi seperti tadi, melainkan hanya mencium-cium lembut dan mengendus-endus seluruh kemaluanku. Aku kembali menikmati detak jantungku yang terpompa kencang demi menyaksikan wajah cantiknya menelusuri organ intimku.

“Mmmhh… hmmffhhh… aahhh… ssshhh… cupp….” Ibu menghidu dan mengecup mesra buah dan batang zakarku.

“Nghh… eghh… hnghh…,” aku mengeluh tersekat-sekat. Tubuhku tersentak-sentak kecil merasakan hidung dan bibirnya yang menjalar ke seluruh pelosok organ intimku. Cairan bening semakin banyak keluar dari lubang penisku, membasahi bagian bawah pusarku.

“Hmmhh… wangi, sayang… sshhh…. Kontolnya Tito wangi banget, Nak…,” ucap Ibu sambil menggesek-gesekkan bibir dan hidungnya di buah pelirku. “Ibu cium sebentar dulu ya, sayang…. Sshhh… mmhh… biar maninya Tito nanti keluarnya banyak, sayang…. Ahh… sshhh… hmmhh….”

Aku benar-benar tak tahan dengan ungkapan-ungkapan porno Ibu. Gejolak nafsuku tampaknya memang tidak bisa dibendung lagi. Seluruh badanku sudah gemetaran menanggung rasa nikmat yang bertubi-tubi.

“Bu… nghh… geli…,” rengekku lirih. Aku mengernyit menatap Ibuku yang tampak betah membenamkan indera penciumannya di selangkanganku. “Bu… eghh… Bu….”

Ibu tiba-tiba melepaskan wajahnya dari kangkanganku, membuat gejolak pada kemaluanku sedikit mereda. Dia tersenyum mesum dengan mata yang redup.

Sekejap kemudian, Ibu menurunkan kedua kakiku hingga berselonjor. Dia lalu merangkak perlahan dengan gerakan dan wajah yang sangat menggoda. Buah dada besarnya bergoyang-goyang dengan lembut, menggemaskan. Dia mengangkang, menumpukan kedua lututnya di sebelah kanan dan kiri perutku, lalu menyejajarkan tubuhnya di atasku.

Ibu menyampirkan rambutnya yang sebelah kiri ke belakang telinganya, membuat wajahnya sedikit terbebas untuk pandangan mataku. Dia menurunkan tubuhnya perlahan. Payudara kenyalnya menekan lembut dadaku, dan wajahnya mendekat ke wajahku.

“Tito mau ngentot sama Ibu ya, sayang?” tanyanya sambil tersenyum genit.

Aku menelan ludah, mengangguk. Aku tak tahu harus berkata apa lagi.

Ibu mendesah pelan. Dia mengecup mesra bibirku sekilas, lantas segera menegakkan tubuhnya. Digeser-gesernya posisi lututnya sedikit hingga selangkangannya tepat berada di atas kemaluanku.

“Ibu juga pengen ngentot, sayang…,” ujarnya vulgar seraya memegang penisku. Diarahkannya ujung batang zakarku ke selangkangannya, lalu digesek-gesekkannya di permukaan bibir vaginanya.

Mataku menatap nanar ke arah kelamin kami yang saling bergesekan. Kepalaku terasa sangat berat membayangkan aku dan Ibu yang sesaat lagi akan menyatukan kelamin kami. Kegembiraan dan nafsu berahiku tidak bisa lagi terlukiskan dengan kata-kata. Dengan tubuh yang menggigil halus dan ujung penis yang sudah “mencium” bibir vaginanya, kucoba merasakan sedalam-dalamnya momen berharga dan genting ini.

“Oohhh… sayaaangg… ngentot…!” seru Ibu dengan cabulnya ketika dia tiba-tiba menekan vaginanya ke penisku, membuat penisku langsung tertanam hampir setengahnya ke dalam vaginanya.

“Hnghh…,” napasku tertahan. Jari-jari kakiku menekuk-nekuk merasakan ketegangan ini.

Wajah Ibu meringis dengan mulut yang agak terbuka. Mata sayunya menatapku, melihat ekspresi dan wajahku yang kurasa tak berbeda jauh darinya.

Belum sempat aku menenangkan keterkejutanku, Ibu mendadak menggerak-gerakkan pinggulnya sekaligus menekankan selangkangannya lagi ke bawah, membuat batang penisku semakin tertanam ke vaginanya. “Aaahhh… sayaaangg… oohhh… ngentot…,” ucap Ibu lagi dengan vulgarnya.

Aku mengernyit ketika kulihat penisku ternyata sudah masuk seluruhnya ke dalam relung vaginanya. Aku pun menatap Ibu yang turut mengernyit sambil mendesis nikmat. Ibu tampak sangat menikmatinya.

Vagina Ibu ketat sekali. Jepitannya sangat kuat, berbeda dari vagina Bunda Aini yang terasa mencengkeram penisku sedikit lebih ringan. Batang kemaluanku tertaut rapat di dalamnya. Vagina yang hangat, basah, dan berdenyut-denyut.

Kami terdiam sesaat, menikmati bertemunya alat kelamin kami.

Ibu membelai-belai wajah panasku. “Enak banget, Nak…. Ssshhh… enak banget kontol Tito, sayang….”

Aku tak menjawab, hanya diam sambil merasai elusan tangannya yang seakan menggelitik saraf-saraf di wajahku. Sungguh bahagianya diriku yang akhirnya menempatkan diriku ke tahap yang seintim ini dengan Ibu.

Perlahan-lahan, Ibu mulai menggoyangkan pinggulnya, ke atas dan ke bawah, lalu maju dan mundur. Kedua tangannya diletakkannya di dadaku. “Oohhh… sayang…. Tito ngentot sama Ibu, sayang… oohhh… sshhh….” Ibu menatapku dengan penuh nafsu.

Baru saja Ibu menggerakkan pinggulnya sedikit, gairah seksku langsung melambung tinggi. Kelembutan vagina Ibu yang bergesekan dengan kulit penisku terasa sangat nikmat. Aku yang tersentak keenakan refleks memegang kedua buah dadanya.

“Aahhh…,” Ibu mendesah kuat. Dia tampak cukup terkejut dengan kelakuanku, namun juga bercampur senang. Dia pun menggenggam erat tanganku, ikut menikmati remasan lembutku di payudaranya. “Enak, sayang…. Oohhhsshhh… remes tetek Ibu, sayang…. Remes tetek Ibu sambil ngentot… oohhh….”

Ibu tiba-tiba saja mempercepat goyangannya. Dia menekan dan mengaduk-aduk penisku dengan goyangan maju mundurnya. Tubuh seksinya sukses menaikkan tensi persetubuhan.

“Nghhh… Ibu… enak… eghh…,” rintihku spontan. Napas panasku tersekat-sekat di leherku, menahan kenikmatan. Tangan-tanganku semakin rajin meremas payudaranya. Libidoku mendidih dengan kejutan balasan yang diberikannya ini.

“Oohhh… sayaaangg…! Entot Ibu, sayang…. Aahhh… kontol Tito ngentot memek Ibu, Nak… oohhh…!” Ibu semakin menjadi-jadi. Goyangan dan erangannya kian kencang. Cairan vaginanya sudah merembes keluar, membasahi pangkal penisku. Ibu betul-betul dilanda kenikmatan.

Aku benar-benar tak tahan. Tubuh telanjang Ibu yang meliuk-liuk serta kicauan kata-kata kotor nan mesum dari mulutnya membuat dia terlihat sangat binal dan seperti perempuan murahan saja. Tidak kusangka Ibu seliar ini dalam bersetubuh. Aku bahkan sedikit takut ketika dia menatapku sambil mengucapkan kalimat-kalimat vulgar itu. Dia seperti orang mabuk.

“Ibu… Ahh… Bu… ehnghhh…,” aku tak bisa mengucapkan kata-kata apa pun selain merengek-rengek memanggil dirinya. Kemaluanku terasa nikmat sekali. Rasa geli di selangkanganku sangat hebat. Kenikmatan ini terbalur jadi satu dengan melelehnya bulir-bulir keringat dari tubuhku.

“Aahhh… sayang… enak… oohhh… nghh… aahhh…! Kontol Tito enak, sayang…. Aahhh… memek Ibu geli…. Ooohhh… ngentot, sayang… hngghh… aahhh… ngentot…!” goyangan Ibu semakin dahsyat. Racauannya semakin liar dan cabul. Bagian tengah dadanya tampak memerah mengikuti wajahnya, mengindikasikan nafsu berahinya yang meluap-luap. Tak hanya diriku, tubuhnya juga tampak mengkilap karena peluh-peluh halus.

Rasa geli di kemaluanku mendadak memuncak. Alisku mengernyit demi merasakan tubuhku yang menggigil seketika. Aku tidak sanggup melihat tubuh telanjang Ibu yang mulus dan sintal itu bergoyang-goyang sedemikian erotisnya di atas tubuhku. Racauan-racauan porno dan vagina lembutnya yang mengaduk batang penisku dengan cepat mengantarkanku kepada puncak syahwatku.

“Ibu… nghhh… Tito mau kencing…! Aahhnngghhh… Ibuuu…!” aku merintih seperti hendak menangis saja. Napasku megap-megap. Kepalaku terasa penuh dan berdenging. Kemaluanku geli sekali. Ada sesuatu yang hendak menyembur keluar dari penisku.

Ibu tiba-tiba menarik napas panjang, lantas mendengus-dengus. Dia menatapku dengan matanya yang sangat redup sambil mengernyit. Dia menggoyangkan pinggulnya dengan kencang seperti sedang memacu seekor kuda. “Oooohhh…! Ngentot, sayaaangg…! Ngentot sampe muncrat…! Ssshhh… oohhh… ngentooott…!” Ibu berteriak-teriak parau.

Aku tak tahan lagi. Hampir terpejam mataku ketika aku merasakan rasa geli luar biasa itu menerpa seluruh tubuhku. Kedua tanganku menegang di buah dada Ibu. Tubuhku mengejang, menggigil dan bergetar hebat.

Croott… Croott… Croott… Croott… Croott…

Air maniku menyemprot-nyemprot dengan hebatnya di dalam vagina Ibu. Dadaku terangkat-angkat dengan napas yang tertahan di setiap pancutan cairan nikmat yang kukeluarkan. Suhu tubuhku memuncak ke titik didihnya. Sesuatu mengalir hebat di dalam darahku, seperti disetrum listrik.

“Ngghhh… hngghhh… hngghhh…,” aku menggeram seperti sedang tercekik saja demi menanggung kegelian luar biasa di kemaluanku saat seluruh cairanku menyemprot-nyemprot kencang. Rasanya sangat-sangat enak.

Persetubuhan ini benar-benar menembus kepuasan jiwa dan ragaku. Orgasmeku terasa semakin meledak-ledak ketika kulihat Ibu tiba-tiba saja mengejang hebat sedetik setelah aku menyemprotkan pancaran air mani pertamaku ke dalam liang vaginanya. Tubuhnya lantas menggelinjang dahsyat dan menggigil bahkan berkali-kali lipat lebih parah dari yang kualami. Dengan mataku yang redup, aku betul-betul menyaksikan bagaimana erotisnya saat Ibu menggapai puncak kenikmatan seksualnya itu.

“Oooohhhh…! Ngentooott…! Ngentooott…! Ngentooott…!” teriaknya lantang sambil mengentak-entakkan pantat dan pinggulnya dengan ganas. Tubuh bugilnya kelojotan dan menggigil tak karuan. Dia mengenyak dan menekan selangkangannya dengan begitu kuat hingga seluruh penisku ditelan habis oleh vaginanya. “Aaaahhh…! Ibu muncrat di kontol Tito, sayang… ooohhhh…! Memek Ibu muncrat…! Ngghhh…! Nghhhh…! Ooohhh… ngentooott…!”

Ingin pingsan rasanya diriku demi menanggung kedahsyatan orgasmeku sendiri. Ibu betul-betul memberikan puncak syahwat yang luar biasa untukku. Tubuh dan kemaluanku seolah tak ingin berhenti mengejang, menyemburkan setiap tetes air mani yang kumiliki ke dalam liang vaginanya. Aku merasa begitu nikmat dan nafsu berahiku bahkan melewati puncaknya tatkala menyaksikan Ibu yang telanjang bulat berteriak dengan kata-kata kotor dan porno sambil menerima pancutan-pancutan cairan kemaluanku. Vagina Ibu juga membalas “tembakan” air maniku dengan cairan hangat yang mengguyur seluruh batang penisku. Cairan yang kurasa jauh lebih banyak dari yang dihasilkan kemaluan Kak Dina maupun Bunda Aini ketika mereka orgasme.

“Ooohhh… Ibu keluar, sayang…. Oohhh… ngentot… ngghhh…. Kontolnya enak banget, sayang…. Ngghhh… Aaahhh….” Ibu mengelejat-ngelejat, bergetar-getar tubuhnya mengeluarkan seluruh beban seksualnya. Vaginanya yang becek berdenyut-denyut dan menyedot-menyedot zakarku.

Aku hanya memperhatikan kepuasan seksual yang dialami Ibu sambil meremas-remas payudaranya, mendalami kenikmatan yang kurasakan. Tubuhku masih meregang kesedapan.

Aku sungguh-sungguh tak pernah membayangkan dan mengira Ibu akan sebinal ini, sangat cabul sekaligus terlihat mengerikan. Dia tak seperti Ibu yang kukenal selama ini, lemah lembut dan penuh cinta. Ketika dia bersetubuh seperti ini, aku seperti melihat orang yang kesurupan setan. Sewaktu berhubungan badan dengan Rama, Ibu bahkan tidak bertingkah sedemikian mesumnya. Inikah Ibu yang sebenarnya? Apakah dia memang seliar ini? Namun, bukanlah takut yang kurasakan, melainkan rasa senang dan puas yang berlipat-lipat.

Sesaat kemudian, getaran badan Ibu berangsur-angsur mereda. Aku sendiri merasa cukup lunglai karena orgasmeku yang luar biasa tadi, namun penisku belum menunjukkan adanya penurunan performa karena emutan rongga vagina Ibu yang seakan terus menggelitik saraf-sarafnya untuk tetap tegak. Ibu yang masih terengah-engah menelungkup perlahan, lantas mencium bibirku dengan ganas.

“Mmmhh… cupp… cupp… nghh… cupp….” Ibu menciumiku dengan penuh nafsu. Rambutnya yang acak-acakan menutupi wajah kami berdua, membuat nuansa panas kembali datang.

Aku menikmati setiap detik dari ciuman Ibu. Lenganku melingkar di punggungnya, memeluknya sambil meraba-raba kemulusan kulitnya. Entah mengapa, aku begitu betah dengan yang namanya berciuman. Bagiku berciuman itu punya esensi, semacam perwujudan dari bersatunya rasa cinta dan gairah berahi. Ada “faktor X” yang membuatku mendadak kemaruk jika melakukannya, entah itu dari kelembutan bibir yang kucium, hangatnya napasnya, ataupun suara kecupannya. Namun, terlepas dari itu semua, aku memang sudah kadung cinta dan bernafsu pada Ibuku sendiri.

Ibu kemudian melepaskan ciumannya. Disampirkannya rambutnya lagi ke belakang telinga kirinya sambil tersenyum padaku dengan rona wajah penuh kepuasan. Napasnya masih belum teratur.

“Enak, sayang?” ucapnya seraya mengelus pipi dan keningku, menyeka gelintiran keringat yang ada.

Aku nyengir, mengangguk.

Ibu terkikih lembut, lantas mengecup pelan bibirku.

Melihat Ibu yang begitu mesra padaku, semangatku kembali terkumpul. Rasa panas muncul lagi dari dalam tubuhku, dipicu oleh payudara besarnya yang sedang melekat di dadaku. Aku terangsang.

“Bu…,” ucapku.

“Iya, sayang…?”

“Mau lagi…,” pintaku lirih.

***

Bersambung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*