Home » Cerita Seks Mama Anak » Ibuku Cintaku dan Dukaku 30

Ibuku Cintaku dan Dukaku 30

Jam menunjukkan pukul 07.00 malam.

Suasana rumah tampak sepi. Setelah aku mandi sore tadi, aku memang langsung sibuk melihat pelajaranku di dalam kamar. Meski tak ada PR, aku memang wajib mengulangi apa yang sudah kupelajari. Itu adalah “kode etik” yang ditanamkan Ibu padaku sejak dulu.

“Tito…! Makan dulu, Nak…!” seru Ibu dari luar kamar.

“Iya, Bu…!” sahutku.

Aku pun mengemas buku-bukuku ke dalam tas sekolah. Tak lupa juga kumasukkan baju olahragaku. Jangan sampai Pak Sugeng menyuruhku lari keliling lapangan berkali-kali besok, hanya karena tak membawa baju olahraga.

Setelah beres, aku segera keluar kamar.

***

Saat makan malam bersama, aku menyadari ada keanehan lagi pada penampilan Ibuku. Penampilannya sama dengan ketika aku melihatnya pagi tadi. Dia sangat cantik dengan rambutnya yang tergerai, tapi aku kembali melihatnya memakai daster hijau motif batik dan bunga-bunga itu. Bukankah itu dasternya tadi pagi? Kenapa dipakai lagi?

“Bu…,” ucapku sambil mengunyah.

Ibu menyahut dengan menatapku saja. Mulutnya juga sedang mengunyah.

“Itu daster Ibu yang tadi pagi, kan? Kok dipake lagi?” tanyaku.

“Kan nggak kotor,” jawabnya singkat. Tersungging senyum di bibirnya.

“Iya sih. Tapi apa nggak bau?”

“Nggak kok. Tadi pagi Ibu cuma sebentar pake ini. Ibu ganti baju yang lain.”

“Oh…,” ucapku maklum.

Sesaat kemudian, bukan hanya keanehan itu saja yang kulihat, tapi muncul pula pada diri Ibu yang lain. Ibu lebih banyak diam. Dan aku juga baru menyadari bahwa sejak aku mulai bersantap dengannya, Ibu begitu sering menatapku. Biasanya akulah yang melakukan hal yang demikian, tapi kini segalanya seperti berbalik.

“Ibu kok liatin Tito aja sih?” tanyaku. “Entar keselek lho, kayak Tito kemarin.”

Ibu tersenyum, tak menjawab.

Acara makan malam kami pun jadi terasa canggung. Ibu sangat berbeda dengan dirinya ketika di pasar tadi. Ibu seperti sedang menyembunyikan sesuatu dariku, tapi aku tak bisa menebaknya. Apakah dia hendak menceritakan apa yang kutanyakan kemarin? Tapi, jika memang dia mau menceritakan hal itu, bukankah dia seharusnya tidak senyum-senyum seperti itu? Ibu sungguh aneh malam ini.

***

“Langsung gosok gigi, ya,” ucap Ibu segera setelah kami makan malam.

Demi mendengar nada bicaranya yang singkat dan dingin ketika menyuruhku, aku pun melakukannya saja tanpa bertanya.

Selepas menggosok gigi, aku tak segera ke kamarku. Aku menonton TV sambil menunggu Ibu yang sedang membereskan sesuatu di belakang. Dalam pikiran, aku menebak-nebak, bahwa sebaik Ibu selesai berberes di belakang, pasti dia akan menonton sinetron favoritnya.

Sesaat setelah kudengar suara siraman air di kamar mandi, Ibu pun muncul. Aku yang paham akan keadaan itu langsung menukar film yang sedang kutonton ke sinetron kesukaannya. Tapi, alih-alih ikut duduk di sebelahku dan ikut menonton, Ibu malah tak menghiraukan dan masuk ke kamarnya begitu saja.

Aku menoleh ke belakang, ke pintu kamarnya yang menutup. Ibu kenapa, ya? tanyaku membatin.

Aku menghela napas panjang, lalu memutuskan untuk lanjut menonton. Pikiranku berkecamuk.

Apakah Ibu marah? Rasanya tidak mungkin. Bukankah dia tadi tersenyum-senyum melihatku saat makan? Jadi, mustahil kalau dia marah. Lalu, apakah penyebabnya? Apakah ibu kelelahan? Sepertinya itulah kemungkinan terbesar. Tapi, aku tahu benar Ibu itu seperti apa. Dia tidak akan pernah melewatkan sinetron kesukaannya, meskipun dia terkadang harus ketiduran di depan TV.

Lalu, apa sebenarnya yang terjadi padanya? Aku benar-benar bingung.

Kuputuskan untuk tetap menonton sinetron itu. Mungkin aja sebentar lagi Ibu keluar, pikirku.

***

10 menit sudah berlalu, namun Ibu tak kunjung keluar dari kamarnya. Berkali-kali aku melihat pintu kamarnya yang tertutup, seolah-olah pintu itu punya rahasia yang teramat besar. Tapi, tidak ada apa pun yang kudapatkan selain tulang leherku yang berputar terus-menerus.

Aku pun putus asa. Kupencet remote control TV, menukar sinetron itu ke stasiun TV yang menayangkan film.

“Tito…!” seru Ibu tiba-tiba, memanggilku.

Aku terkejut. “Iya, Bu…!” sahutku.

“Ke sini sebentar, Nak…!”

Aku yang tadinya agak cemas pun jadi lega. Ibu akhirnya berkomunikasi lagi denganku. Walaupun aku cukup bingung juga kenapa dia melakukan itu.

“Sekalian matiin TV-nya, ya…!” serunya lagi.

“Iya, Bu…!” jawabku seraya melangkah ke depan TV, menekan saklarnya.

Aku bergegas menuju kamar Ibu. Kubuka pintunya.

Tiba-tiba saja aku terdiam di mulut pintu yang sudah terkuak. Tanganku terlepas dari gagangnya. Aku tercengang melihat Ibu yang sudah menungguku.

Ibu sudah mengganti pakaiannya. Dia mengenakan sebuah daster berwarna biru muda motif bunga-bunga kecil yang roknya hanya menutupi setengah pahanya. Daster itu membuat darahku memanas dengan model tali halter neck-nya, membuat keindahan bahu dan pundak Ibu terpampang bebas. Ditambah lagi dengan payudara besar Ibu yang benar-benar terlihat menggoda karena belahan dadanya itu terlihat sangat jelas dari potongan “V” yang bergantung rendah oleh tali halter neck tersebut.

Pemandangan itu terlihat begitu jelas di mataku. Aku yang merasa ada keganjilan yang lain pun langsung melihat ke atas. Ternyata Ibu sudah mengganti lampu bohlam remang-remangnya dengan lampu jenis Tube Lamp putih yang terang memenuhi seisi kamarnya.

Ibu tersenyum dengan manisnya. Dia berdiri di tengah ruangan seakan memang hendak menyambutku dengan pakaian seksi itu.

“Ibu… kok… itu… bajunya…,” ucapku tersendat-sendat.

“Tutup pintunya…,” suruhnya lirih tanpa mengacuhkan omonganku.

Aku menurutinya begitu saja. Pikiranku mendadak kosong karena kekagetan. Menutup pintu pun kulakukan dengan masih tercengang-cengang.
Ketika aku berbalik badan, Ibu sudah duduk di tepi ranjang. Dia melambaikan tangan dan menepuk-nepuk tempat di sebelah kirinya, bermaksud menyuruhku mendekat dan duduk di sampingnya.

Ibu mau apa, ya? pikirku. Jantungku mulai berdebar kencang.

Entah kenapa, persendian di kaki-kakiku seperti kehilangan pelumasnya. Ketika aku melangkah mendekat, kedua kakiku seperti kaki robot yang sangat kaku. Aku pun semakin memperjelas kegugupanku dengan memegang erat bagian samping celanaku. Alhasil, aku berjalan seperti anak yang punya keterbelakangan mental.

Ketika aku duduk di sebelahnya, aku hanya bisa menelan ludah. Aku ingat betul seperti apa perasaan ketika aku berdua dengan Bunda Aini di kamar ruko. Darahku rasanya memanas, namun nyatanya kulitku terasa dingin. Persis seperti saat ini, di mana aku bisa merasakannya dengan saling menggenggamkan tanganku satu sama lain.

“Tito kemarin mau tau kan, kenapa Ibu bisa ‘begituan’ sama Rama?” tanya Ibu memecah suasana.

Aku mengangguk pelan.

Ibu terdiam sebentar, lantas menatapku dalam-dalam. “Itu gara-gara Tito,” ucap Ibu dengan suara lembut.

Aku mengernyit, bingung bercampur terkejut. “Lho, kok gara-gara Tito?”

“Iya… gara-gara Tito…,” ujarnya lagi sembari tertunduk memperhatikan pahanya sendiri. Ada senyum tipis yang sempat tersungging di bibirnya.

“Ibu kok nyalahin Tito sih?” bantahku. “Kan Ibu sendiri yang mau sama Rama?”

Ibu kemudian melirikku. Lirikan aneh yang juga disertai senyum yang aneh. Dia kemudian menunduk, terdiam lagi.

“Kenapa, Bu?” tanyaku. Aku betul-betul tak mengerti dengan apa yang disampaikannya.

Ibu menegakkan kepalanya. Kembali ditatapnya wajahku lekat-lekat. Dia tersenyum simpul.

Aku balas menatapnya, bingung bercampur grogi.

Ibu tiba-tiba menyentuh bagian belakang kepalaku, membelai-belainya perlahan. “Tito… suka sama Ibu, ya?” tanyanya lembut.

Aku tertegun seketika, kaget tak terkira. Jantung dan napasku seakan terhenti sekejap demi mendengar pertanyaan Ibu. Kepalaku yang tadinya seperti kosong melompong, sekarang seperti dipenuhi beban yang sangat berat.

Kubuang pandangan mataku ke lemari, tak sanggup aku melihat sorot matanya yang seakan menusuk batinku itu. Aku terdiam membisu.

“Iya, Nak? Tito suka sama Ibu?” desaknya, masih dengan nada suaranya yang begitu lemah lembut.

Meskipun suaranya sangat membuai, tapi aku lebih merasakannya seperti siksaan. Kepala dan dadaku bagai tersenak sesuatu. Aku pusing mendadak disertai napas yang kian memendek. Kini akulah yang tertunduk dalam, menatap pahaku. Aku tak mampu menjawab apa-apa. Diriku malu sekali.

“Sayang? Kenapa, Nak?” Ibu mendekatkan wajahnya, seolah ingin mengintip wajahku yang tertunduk.

Aku langsung menutup wajahku dengan kedua tangan. Aku benar-benar tidak tahan dengan pertanyaan seperti ini.

Ibu tertawa lembut. “Lho, kok malu? Nggak apa-apa, sayang, jawab aja. Ibu nggak bakal marah kok.”

Aku bukannya tak ingin menjawab, tapi aku takut. Waktu itu aku pernah berjanji untuk tidak kurang ajar lagi padanya. Dan sekarang, apakah aku harus melanggar janjiku?

“Tito…?” ucapnya sambil mengelus ubun-ubunku. “Tito sayang Ibu, nggak?”

Aku mengangguk, masih menutup wajahku.

“Mmm… Ibu cantik, nggak?” tanyanya lagi.

Aku mengangguk lagi, tetap menutup wajah.

“Berarti Tito suka dong sama Ibu?”

Aku terdiam sejenak. Namun akhirnya aku menyerah juga dengan perasaanku. Aku mengangguk lemah dengan kedua tangan yang masih saja menangkup di wajahku.

“Nah, gitu dong…. Masa bilang gitu aja takut…,” sambutnya. “Udah, sayang, jangan ditutupin lagi dong mukanya.” Ibu memegang tanganku, bermaksud membukanya.

Aku yang sudah merasa sedikit lega, pasrah menurutinya. Kubuka kedua tanganku pelan-pelan, lantas melihat wajahnya.

Wajah Ibu tampak cerah, tersenyum manis. Tidak ada tanda-tanda dia akan memarahiku atau memberiku ultimatum. Aku yang melihat keadaan itu pun menjadi plong, tenang rasanya.

“Ibu nggak marah?” tanyaku.

“Lho, kok mesti marah?” tanyanya balik. “Tito kan nggak salah….”

Aku tertunduk, berpikir sebentar. Kutatap lagi wajahnya. “Mmm… Tito takut, Bu….”

“Lho? Takut kenapa?”

“Takut Ibu bilang ‘kurang ajar’ lagi…,” keluhku, kembali tertunduk.

Ibu terkikih pelan. Dirangkulnya bahuku dan mendekatkan tubuhku ke dekapannya. Dipeluknya diriku dengan mesra sambil mengusap-usap pipiku. Seluruh beban pikiranku langsung enteng, terlepas begitu saja. Aku benar-benar suka dipeluk dengan penuh kasih sayang seperti ini. Meskipun wajahku sedemikian dekatnya ke tubuhnya hingga aku bisa merasakan keharumannya, nafsuku seperti tidak tercetus.

“Nggak apa-apa, sayang. Ibu nggak akan marah lagi kok,” ujarnya. “Maafin kata-kata Ibu yang waktu itu, ya.”

Aku tak menjawab, terlalu menikmati elusan tangannya di pipiku.

“Ibu memang salah, sayang. Nggak seharusnya Ibu ‘begituan’ sama Rama,” katanya.

Perlahan-lahan, kujauhkan diriku dari pelukannya, kembali menegakkan dudukku. “Mmm… tadi Ibu bilang kok gara-gara Tito, Bu?” ucapku mengulang pertanyaan.

Ibu tersenyum penuh arti. Ditatapnya wajahku lagi dalam-dalam. Sekejap, dia kemudian menatap celanaku, lalu menjalar ke seluruh tubuhku, dan berakhir ke wajahku lagi.

Jantungku makin berdebar. Cara Ibu yang memandangiku seperti itu sangat mirip dengan Bunda Aini kemarin. Apakah Ibu hendak melakukan hal yang sama dengan yang Bunda Aini lakukan? Ah, kurasa aku sudah berpikir terlalu jauh.

“Ibu mau ‘begituan’ sama Rama… gara-gara Tito sunatan waktu itu, Nak…,” ujar Ibu dengan suara pelan.

Aku mengernyit. Perasaanku makin campur aduk ketika Ibu melibatkan diriku. “Lho? Apa hubungannya sama sunatannya Tito, Bu?” tanyaku penasaran.

Ibu pun terkikih lembut. “Gara-gara Tito buka celana terus di depan Ibu waktu itu, sayang,” bebernya. “Gara-gara itu… Ibu jadi pengen ‘begituan’.”

Alangkah terkejutnya aku mendengar pengakuannya itu. Aku hanya bisa tercengang dengan dada dan wajah yang memanas. Tanpa diperintah, tanganku refleks merapat ke pangkuanku, seolah-olah menahan agar celanaku tidak terbuka dengan sendirinya. Nafsuku mulai bangkit.

Waktu masa penyembuhanku sesudah sunat, aku memang sangat dimanjakan olehnya. Semua kebutuhanku pasti dilayani. Dan sebagaimana yang kutahu, aku memang sangat suka ketika aku dimandikan olehnya. Sedikit malu memang, namun ada keasyikan tersendiri. Aku merasa sangat intim dengannya. Bukan keintiman dari seorang anak, melainkan hasrat ketertarikan dari seorang laki-laki.

Tapi, aku betul-betul tak menyangka kalau Ibu malah merasakan hal yang serupa. Dan sekarang aku mendengar sendiri darinya, bahwa dia terangsang karena kemaluanku yang terpampang bebas saat itu. Akal sehatku sulit menerimanya, namun nafsu berahiku berkata sebaliknya.

“Sekitar dua bulan setelah Tito sama Rama sunat, dan waktu Ibu masih kerja di rumahnya ‘Bunda Aini’,” ucap Ibu sambil tersenyum menekankan kata ‘Bunda’, “si Rama ketauan sama Ibu lagi onani di dalam kamar mandi.”

Aku tak menanggapi. Aku hanya memperhatikan Ibu yang tampak hendak memulai cerita.

“Waktu itu sebenarnya Ibu mau nasihatin dia, tapi gara-gara Rama lagi nggak pake celana, Ibu jadi… pengen….”

Aku menelan ludah, mengernyit. Entah kenapa, aku jadi membayangkan kronologi yang diceritakan oleh Ibu. Aku sebenarnya sudah cemburu setengah mati, tapi aku penasaran dengan kejujuran Ibu.

“Si Rama kaget banget waktu ngeliat Ibu muncul,” lanjut Ibu. “Tapi… gara-gara Ibu lagi pengen banget, ujung-ujungnya Ibu yang ngocokin burungnya dia, kayak Tito di kamar mandi waktu itu.”

Aku tertunduk perlahan, memandangi jari-jari tangan di pangkuanku. Kekecewaan datang mendadak memenuhi relung batinku. Kenyataan bahwa Rama yang menikmati kesenangan itu lebih dulu daripada aku benar-benar membuatku iri. Jika Ibu memang terangsang karenaku, kenapa dia justru memilih Rama? Aku benar-benar tidak habis pikir.

“Tito kenapa, Nak?” tanya Ibu sambil mengelus kepalaku. “Cemburu, ya?”

Aku berdecak kesal. Jari-jari tanganku saling menekan, seakan aku sedang melumat Rama di dalam genggamanku.

“Tito? Ibu kan udah minta maaf kemarin?” ujarnya. “Tito masih marah, ya?”

“Kenapa mesti Rama sih, Bu?” tanyaku dongkol, masih tertunduk.

“Terus sama siapa dong? Sama orang lain?” ujar Ibu sambil terkikik pelan.

“Ibu kan Ibunya Tito…?! Ngapain Ibu ‘main’ sama Rama…?!” ceplosku geram. Aku meneteskan air mata. Kesal, cemburu, sedih, tercampur jadi satu.

Ibu terdiam. Dia pun memelukku lagi. Dibelainya kembali kepala dan pipiku, menenangkan.

“Tito nggak suka liat video Ibu sama Rama itu, Bu…. Tito nggak suka…,” keluhku sambil menangis.

“Jadi… Tito taunya dari video itu, ya?” tanyanya.

Aku tak menjawab.

Ibu menghela napas. “Maafin Ibu ya, Nak. Ibu memang salah.”

Aku tetap membisu, lesu karena kekecewaan.

“Mmm… terus… kalo Ibu lagi pengen, Ibu ‘begituan’-nya sama siapa dong?” tanyanya tiba-tiba.

Aku langsung bangkit, terlepas dari pelukannya. Kutatap dia lamat-lamat.

Ibu tersenyum manis. Disekanya pipiku yang basah dengan tangannya. Dia balas menatapku, seakan meminta jawaban dariku.

Aku terdiam seribu bahasa, tak tahu harus menjawab apa.

Ibu tiba-tiba meraih tanganku, lantas menaruhnya di pipinya. “Mmm… kalo Ibu ‘begituan’-nya sama Tito, Tito mau, nggak?”

Tercengang-bengang seketika. Hanya itulah yang bisa kulakukan menanggapi pertanyaan Ibu. Aku merapatkan kedua kakiku, mencoba menahan kemaluanku yang dengan cepatnya mencuat ke atas. Ketika kutahu itu tak berhasil, aku memalanginya dengan pergelangan tanganku, mencoba mencegah agar pergerakannya tidak terlalu terlihat. Perasaanku benar-benar tak menentu. Nafsu syahwatku naik tak tertahankan. Singkatnya, aku sedang salah tingkah.

Namun, apa yang kudapati kemudian adalah Ibu tersenyum semakin lebar. Dia mengetahui gerak-gerikku yang susah payah menahan kegelisahan. “Gimana, sayang? Tito mau, nggak?” desaknya.

“Ngg…,” aku mendengung panjang, hilang akal. Napasku mulai sesak hanya karena dia membelai-belaikan punggung tanganku ke pipinya yang halus.

Aku bersumpah bahwa aku memang sangat menginginkan hal ini. Bagiku, ini adalah mimpi yang jadi kenyataan. Siapa sangka kalau Ibulah yang malah mengajakku melakukannya? Ini gila dan tak terbayangkan.

Ibu tertawa geli. Dikembalikannya tanganku ke pangkuanku seraya mendekatkan wajahnya padaku. Ibu pun mencium pipiku dengan mesra.

“Tito mau kan, sayang?” tanyanya dengan nada lembut. “Kan lebih enak daripada Tito ngintipin rok Ibu aja.”

Lagi-lagi aku hanya bisa terlongong. Pertanyaan Ibu seperti petir yang menyambar dengan kerasnya.

Ibu menyeringai. “Hayo… ketauan ya, yang sering ngintipin roknya Ibu…,” ucapnya sambil menunjuk wajah panikku.

Aku seperti penjahat yang tertangkap basah. Perasaanku benar-benar kacau-balau. Jika bisa, ingin rasanya aku mencampakkan mukaku ini ke mana saja. Aku selama ini dikenal sebagai anak yang berbudi pekerti, tapi setelah keusilanku ketahuan seperti ini, harga diriku seperti jatuh ke titik terendah.

“Ngg… nggak kok, Bu…. Tito… ngg… mmm…” Aku tak mampu menjelaskan apa-apa. Tidak ada sedikit pun kata-kata di otakku yang bisa kujadikan alasan. Semuanya menguap dibakar kegugupan.

Ibu membelai pipiku dengan lembut. Ditatapnya kedua bola mataku sambil tersenyum manis. “Tito suka ya, ngintip celana dalam Ibu?” tanyanya.

Aku terdiam. Kupandangi wajahnya dengan ogah-ogahan, takut sekaligus malu.

“Tito mau ngintip lagi, nggak?” sambungnya.

Aku terkesiap bukan kepalang. Kutatap wajahnya dengan tatapan tak menyangka. Apakah aku tidak salah dengar? Ibu minta diintip? Yang benar saja.

“Mmm… Ibu… maksud Ibu… apa?” tanyaku balik, terbata-bata.

Mata Ibu tiba-tiba meredup. Dia berdiri dan menarik tanganku, berjalan ke meja riasnya. Dia duduk di bangku, sementara aku masih berdiri.

“Jongkok, sayang…,” suruhnya seraya menarik tanganku ke bawah untuk menurunkan tubuhku.

Aku menurutinya. Dengan perlahan, aku pun berjongkok di hadapannya.

Ibu menempatkan tangannya di kanan dan kiri tubuhnya, memegang bangku. Aku yang sedang jongkok di hadapannya benar-benar tegang. Wajahku terasa begitu panas.

“Tito suka ngintipin rok Ibu, kan?” ucapnya lirih.

Aku agak mendongak, menatap wajahnya. Aku tak menjawab.

“Buka rok Ibu, sayang. Intip sampe Tito puas…,” ujarnya sambil tersenyum menggoda.

Aku tertegun. Kepalaku sontak mendenging di tengah keheningan dan nafsu syahwatku yang berkobar-kobar. Jantungku berdebar-debar, dan udara panas terasa tersendat-sendat di hidungku. Benarkah apa yang Ibu katakan ini? Apakah dia tidak sedang bercanda?

Aku melihat kakinya yang masih merapat anggun, menyembunyikan selangkangannya. Aku menelan ludah hanya demi memandang pahanya yang mulus itu. Lalu aku mendongak lagi, melihat wajah Ibu. Senyumnya tidak hilang, malah semakin lebar dan menggoda. Tampaknya Ibu tidak sedang main-main. Dia benar-benar ingin aku menikmatinya.

Aku yang sudah didorong hawa nafsu pun menuruti instingku. Tanganku bergerak menuju rok dasternya yang begitu pendek. Napasku semakin memburu, tertiup kencang ke lututku sendiri.

Aku menelan ludah ketika jari jempol dan telunjukku sukses menjepit tepian roknya. Aku mendongak lagi, menatapnya. Ibu masih tersenyum, kode bahwa aku dipersilakan meneruskan aksiku.

Kuangkat kain itu perlahan-lahan. Rok itu menggeletar, mengikuti tanganku yang bertingkah serupa.

Beberapa detik kemudian napasku seperti tersekat di leherku. Mataku nanap memandang ke dalam kolong kain tipis itu. Aku bisa melihat dengan jelas celana dalam Ibu yang berwarna merah muda lembut. Celana dalam itu tampak ketat melapisi kemaluannya. Kedua pahanya yang padat berisi pun semakin memperindah pemandangan dengan himpitan nan sempurna pada celana dalam itu. Seksi sekali. Aku menelan ludah berkali-kali sambil mencoba menahan panasnya wajahku yang dibakar api berahi.

“Tito…?” panggil ibu lembut.

Aku yang terkesiap seketika saja melepaskan kain yang kusingkap. Aku langsung menatap wajahnya.

“Apa warnanya, sayang?” tanyanya dengan senyum sensual.

Aku melirik sekilas ke roknya yang sudah tertutup, lalu menatapnya lagi. “Warna pink…,” jawabku pelan.

Dia terkikih lembut. “Suka?”

Aku tak menjawab. Aku cuma tersenyum malu-malu sambil menggesek-gesek lututku sendiri dengan jari-jari tanganku.

Ibu tiba-tiba bangkit berdiri. “Sini, sayang. Ada yang mau Ibu tunjukin.” Dia mengulurkan tangannya, mengajakku berdiri pula.

Aku memegang tangannya, mengikutinya yang berjalan menuju ke lemari pakaian. Dia tersenyum manis padaku sebelum kemudian membuka pintu lemari yang bagian kanan.

Apa yang kulihat benar-benar membuat jantungku berdetak kencang. Aku bisa dengan jelas menyaksikan tumpukan pakaian dalam miliknya tersusun rapi di situ. Yang mencengangkan adalah jumlahnya yang benar-benar banyak, terutama celana dalamnya. Saking banyaknya celana dalam dan BH yang ada di situ, bagian rak tempat lipatan pakaian yang satu itu terlihat penuh sesak.

Aku pun menelan ludah lagi. “Bu… ini…”

“Ini semua Ibu beli minggu lalu di kota,” ujarnya memotong kata-kataku. “Tito suka?”

Aku tercengang melihat wajah Ibu yang tampak begitu senang, seakan sedang menunjukkan hadiah ulang tahun padaku. Aku tidak tahu harus mengatakan apa untuk kejutan Ibu yang sungguh-sungguh mengejutkan ini. Otakku sudah dipenuhi akan lumpur erotisme.

Ibu merangkul bahuku, merapat ke tubuhnya. Dibelainya dahiku sambil terkekeh pelan. “Anak Ibu udah keringetan, ya?”

Aku nyengir, malu.

“Ini semua bakal Ibu pake, sayang. Biar Tito makin suka ngintipin rok Ibu…,” ujarnya dengan suara menggoda.

“Hah…?!” seruku tertahan, terkejut.

Ibu tertawa lembut sambil mencolek hidungku.

Aku kembali mencengangi tumpukan pakaian-pakaian dalam itu. Penisku menegang di dalam celanaku demi membayangkan mataku yang nantinya akan menyaksikan dengan leluasa satu demi satu pakaian dalam dengan berbagai macam warna itu melekat di tubuh Ibu yang sintal dan mulus. Sungguh pengalaman yang sangat mustahil didapatkan seorang anak dari Ibunya.

“Bu…?” ucapku lirih.

“Iya, sayang?” sahutnya mesra.

“Ibu kok mau sih diintipin sama Tito?” tanyaku. “Ibu nggak marah?”

Ibu menutup lemarinya, lantas berdiri di hadapanku. Dia menyibak sedikit poniku, melihat dan meraba bekas lukaku yang sudah hampir menghilang.

Ibu tersenyum, lalu membelai pipiku. “Ibu nggak mau Tito jatuh lagi kayak minggu lalu, cuma gara-gara mau ngintipin roknya Ibu. Ibu tau kok Tito ngintipin Ibu waktu itu.”

Aku pun agak tertunduk sambil tersenyum sipu.

“Mulai sekarang, kalo Tito mau ngintipin roknya Ibu, intip aja langsung kayak tadi, nggak usah malu-malu,” tandasnya.

Aku nyengir sambil menatapnya ragu-ragu. “Beneran, Bu?”

Ibu mengangguk, tersenyum genit.

Penisku benar-benar mengeras demi mendengarkan tawaran Ibu. Jantungku berdegup kencang. Aku menelan ludah lagi, cengar-cengir.

Apa aku tidak salah dengar? Aku dibolehkan melakukan hal cabul seperti itu padanya? Sulit dipercaya.

“Ngobrolnya di kasur aja yuk…,” ajaknya sambil menggandeng tanganku.

Aku pun mengikutinya menuju ranjang.

Ibu menyuruhku untuk naik ke atas tempat tidur, yang kemudian diikuti olehnya. Kami berdua duduk sambil bersandar pada dinding, karena tempat tidur ini terletak rapat di sudut kamar. Ranjang Ibu yang ukurannya lebih lebar dua kali lipat daripada ranjang yang ada di kamarku membuat kami berdua bisa duduk berselonjor.

Ibu merapatkan tubuhnya denganku, membuat suasana menjadi sangat menegangkan. Punggung tangan kananku dielus-elusnya, sesekali dia tersenyum manis sambil menatapku.

“Tangan Ibu halus…,” ujarku memecah keheningan.

“Halusan mana sama tangannya ‘Bunda Aini’?” tanyanya dengan kembali menekankan kata ‘Bunda’.

Aku nyengir, berpikir sekejap. “Mmm… kayaknya lebih halus tangan Bunda Aini,” jawabku.

Ibu langsung mengerang manja, tak terima. “Ibu kalah dong kalo gitu…,” ujarnya sambil cemberut. Tapi sekejap kemudian dia kembali tersenyum.

Sesaat, kami terdiam lagi. Ibu tetap asyik mengusap-usap punggung tanganku, sementara aku hanya terduduk kaku dengan lengan kiri yang menutupi tonjolan penisku.

“Tito suka sama Ibu?” katanya, mengulangi pertanyaan tadi.

Aku mengangguk, tersenyum malu-malu.

“Sejak kapan Tito suka sama Ibu?” tanyanya lagi.

“Mmm… sejak… Ibu mandiin Tito waktu Tito sunatan, Bu,” jawabku jujur.

“Oh, gitu…,” katanya sambil cengar-cengir. “Memangnya kenapa kalo Ibu mandiin Tito?”

Aku ikut-ikutan nyengir. “Nggak tau, Bu…. Tito suka aja dimandiin sama Ibu….”

Ibu terkikih halus, lantas terdiam. Dia kembali mengelusi punggung tanganku.

Aku juga berdiam, sibuk memandangi tanganku yang dibelai-belai olehnya. Sesekali pandangan kami berdua bertemu, lalu tersenyum seakan kami sedang berbicara melalui pikiran kami.

“Tito mau kan, ngebahagiain Ibu?” ucapnya membelah kesunyian.

Aku menatap wajahnya. “Mau dong, Bu,” tegasku.

Ibu tersenyum simpul, lantas menatap tanganku lagi. “Ibu udah lama nggak disayang-sayang sama laki-laki, Nak. Tito mau kan, sayang-sayangin Ibu?”

“Lho, Tito kan memang sayang sama Ibu?” timpalku.

Ibu tersenyum lagi, lebih lebar. “Iya. Ibu tau kok Tito sayang sama Ibu. Tapi bukan sayang yang itu….”

“Mmm… terus sayang yang gimana, Bu?” tanyaku dengan dada berdebar.

Ibu mengelus pipiku. “Sayang-sayangannya di sini, di atas kasur. Mesra-mesraan… kayak suami istri….”

Aku menelan ludah. Darahku tersirap, menggelegak karena nafsu berahi yang memuncak. Sekali lagi, Ibu mengajakku untuk bersetubuh.

“Tito mau kan, sayang?” tanyanya penuh harap. Matanya berbinar.

Aku sudah tidak tahan lagi dengan gejolak syahwatku. Dibarengi senyum yang tertahan, aku pun mengangguk.

Ibu tersenyum senang. Dia tiba-tiba duduk bersimpuh, memegang kedua pipiku, lantas mencium bibirku dengan mesranya.

Aku benar-benar terkejut. Kembali kurasakan bibir lembut menempel di mulutku hari ini. Aku hanya bisa menyandarkan kepalaku di dinding sambil merasakan kecupan Ibu yang luar biasa. Kuremas erat kain celanaku demi menahan ketegangan batinku.

Namun, baru sesaat kecupan itu hinggap di bibirku, Ibu melepaskan ciumannya. Aku yang baru saja “melayang” menikmati ciuman itu pun terpaksa harus menguasai diriku kembali.

Ibu masih memegang kedua pipiku. Wajahnya dan wajahku sangat dekat, terpaut sejengkal saja. Dia menatapku dengan mata redup dibarengi dengan senyuman tipis.

“Mulai sekarang, Tito bebas ngelakuin apa aja yang Tito mau sama Ibu,” ujarnya.

Aku menelan ludah, kutatap wajahnya dengan napas yang menderu.

“Malam ini Tito tidur di sini ya, sayang. Kita ‘sayang-sayangan’ sampe puas,” pungkasnya.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*