Home » Cerita Seks Mama Anak » Ibuku Cintaku dan Dukaku 29

Ibuku Cintaku dan Dukaku 29

Aku masih memperhatikan cek di tanganku, seakan-akan aku melihat wajah Bapak di dalamnya. Cerita Ibu membuatku jadi terpikir sedikit tentang ideologi Bapak. Bapak memang punya banyak kesalahan, namun dia berusaha untuk menebusnya walaupun itu sulit. Bagaimana jika itu orang lain? Mungkin belum tentu mereka akan melakukan hal yang sama.

Sepertinya, aku terlalu berlebihan menanggapi egoku. Pada dasarnya apa yang Bapak dan Ibu perbuat semata-mata hanya untukku. Aku memang sudah salah menilai.

Lalu, apakah aku sudah jadi anak durhaka? Entahlah.

“Bu…,” ucapku lirih.

“Hmm…?” sahutnya.

“Bapak nggak mau balikan sama Ibu lagi, kan?”

“Maksud Tito jadi Bapaknya Tito lagi, gitu?”

Aku mengangguk.

“Ya nggaklah, Nak. Bapak kan udah punya keluarga sendiri,” jawab Ibu. “Lagian tadi Ibu kan udah cerita kalo Bapak suruh Ibu buat tandatangani surat isbat nikah. Nah, surat itu gunanya supaya Bapak bisa ngurus surat perceraian.”

“Oh…,” kataku singkat.

Suasana mendadak hening.

Aku dan Ibu seperti sama-sama sedang melamun.

“Bu…,” ucapku lagi.

“Iya, Nak?”

“Tito durhaka ya, Bu?”

“Lho, kok ngomongnya gitu?” jawab Ibu sambil membelai rambutku.

“Tadi kan Tito udah marahin Ibu sama Bapak…,” kataku lesu.

Ibu merangkul lembut bahuku sambil mengusap-usapnya, mencoba menenangkan. “Nggak apa-apa, Nak. Tito kan nggak tau….”

Aku menghela napas berat, menyesali perbuatanku.

“Udah, jangan dipikirin lagi…,” kata Ibu. “Bapak juga nggak marah kok.”

Aku tak bereaksi. Masih lesu.

“Mmm… katanya Bapak besok-besok mau datang lagi ke sini,” bebernya.

“Hah…?!” Aku refleks menatap wajahnya, memastikan. “Bapak mau ke sini lagi, Bu?”

Ibu mengangguk sambil tersenyum.

Sesaat aku sempat merasa riang, namun kemudian berganti menjadi agak cemas. Aku merasa rikuh.

“Kenapa?” tanya Ibu lagi.

“Ngg… Bapak beneran nggak marah sama Tito kan, Bu?” aku kembali memastikan.

Ibu terkikik. “Nggak, Nak…. Dari tadi kok takut banget sih Bapak marah?”

“Mmm… abis Bapak serem banget Bu, kalo lagi berantem…,” kataku beralasan.

Ibu pun tak bisa lagi menahan tawanya. Dicubitnya hidungku yang mancung dengan lembut, seolah kata-kataku benar-benar konyol. “Tito ada-ada aja deh. Memangnya Bapak kemari mau pukulin Tito, gitu?”

Aku nyengir, merasa seperti orang bodoh.

Ibu kembali merangkulku, lebih erat. “Bapak itu sayang banget sama Tito, Nak. Masa Bapak mau pukulin Tito sih? Nggak mungkin dia ngelakuin itu….”

Aku tersenyum tawar. Lagi-lagi aku terlalu cepat menilai dan menduga. Sepertinya prasangka-prasangka buruk ini terlalu mengakar dalam diriku.

Kami pun berpelukan hangat beberapa saat sebelum akhirnya Ibu tiba-tiba melepaskan rangkulannya. “Ihh… anak Ibu bau, belum mandi!” celetuknya.

“Ihh… Ibu juga bau… belum mandi,” balasku. “Buktinya dari tadi baju Ibu ini-ini aja, nggak ganti-ganti!”

Kami pun tertawa bersama.

***

Jam menunjukkan pukul 07.30 malam.

Aku masih di dalam kamar, di depan meja belajar. Sebenarnya kurang tepat juga jika dikatakan kalau aku sedang belajar. Aku hanya melihat-lihat modul UN yang diberikan oleh Kak Dina. Aku tak terlalu serius memperhatikan apa yang sudah kupelajari. Mungkin karena aku sudah begitu menguasainya.

Entah kenapa, pikiranku masih melambung ke mana-mana. Aku sedang tak ingin fokus kepada pelajaran. Masih banyak yang mengusik benakku.

Tanganku perlahan bergerak, menggulung kertas modul pelajaran pemberian Kak Dina hingga membentuk silinder. Entah karena iseng atau memang usil, aku menggunakan gulungan kertas itu persis seperti teropong. Kupicingkan mataku yang sebelah kanan dan dengan bodohnya mengintip pada lubang yang kubuat dari gulungan itu. Mataku menyorot ke sana-sini. Mendongak, menunduk, menoleh ke kanan dan ke kiri seperti sedang meneliti sesuatu. Hingga akhirnya seseorang mengagetkanku dengan membuka pintu kamarku dari luar.

Ibu berdiri di mulut pintu, tersenyum manis. “Lagi ngapain?” tanyanya.

Aku hanya cengengesan.

“Makan yuk…,” ajak Ibu dengan suara lembutnya.

Aku mengangguk cepat, lantas merapikan kertas itu dan memasukkannya ke dalam tas sekolahku. Kuikuti Ibu berjalan ke ruang belakang.

***

Setelah aku merasa tak fokus di dalam kamar, kini keadaan itu terulang kembali. Tak banyak yang kami bicarakan ketika makan, namun mata dan pikiranku seperti bekerja dengan beratnya. Penglihatanku tak lepas dari wajah dan tubuhnya. Daster kuning bercorak bunga-bunga tulip itu memang daster kesukaanku. Bahan kainnya agak tipis dan terlihat seksi. Tali BH warna hitam yang sedikit tersembul dari balik lingkar leher dasternya itu benar-benar memaksaku untuk terus-menerus melihatnya.

Belakangan ini ibu tampak sangat jarang memakai ikat rambut ataupun jepit rambut. Dia lebih gemar membiarkan rambutnya yang sudah memanjang itu terurai dihiasi poni menyampingnya yang betul-betul membuatnya jauh lebih muda. Dalam keadaan seperti ini, aku tidak bisa melihat selisih umurnya dengan Kak Dina lagi.

“Uhukk… uhukk… uhukk…,” tiba-tiba saja aku terbatuk hebat. Aku tersedak.

Aku langsung menangkupkan kedua tanganku di mulut, menampung butiran-butiran nasi yang belum sempat kutelan. Aku terbatuk dengan keras, terus-menerus. Rasanya tenggorokanku hendak keluar saja.

Ibu langsung beranjak dan berdiri di sampingku. Diusap-usapnya punggungku dengan lembut untuk meredakan gejolak di dadaku.

Dengan susah payah, akhirnya batukku pun reda, menyisakan napas yang terengah-engah.

“Kok bisa keselek sih, Nak?” ucapnya sambil menyodorkan air minum. “Nih, minum dulu.”

Kuteguk air minum beberapa kali, lantas kembali mengatur napasku. Tanganku yang belepotan dilapnya dengan serbet.

“Makanya kalo makan jangan liatin Ibu aja kerjaannya…,” ucapnya sambil mengusap-usap kantung mataku, menyeka air mata yang keluar.

Aku terperanjat. Wah, rupanya Ibu tau! seruku dalam hati.

“Udah enakan?” tanya Ibu.

Aku mengangguk lemah.

Ibu pun kembali ke kursinya, bersantap lagi.

Aku turut melanjutkan acara makanku. Tapi, entah karena bandel atau aku memang sudah tergila-gila dengan kecantikan Ibu, aku kembali mencoba melakukannya.

Kali ini aku hanya berani melirik-liriknya. Sejak kejadian tadi, Ibu tampak terus-menerus melihat ke arahku, bahkan sambil tersenyum. Aku jadi grogi sendiri. Tak jarang aku mengeluarkan senyum tertahan ketika pandangan kami bertemu.

“Tito kenapa sih, Nak? Kok dari tadi liatin Ibu aja?” tanyanya. “Nanti keselek lagi, baru tau rasa.”

Aku tersenyum sambil mengunyah, mengabaikan nasihatnya.

***

Setelah kami selesai makan malam, Ibu memilih untuk menonton TV. Seperti biasa, dia menonton sinetron kesayangannya. Aku yang dari tadi memang sedikit dibosankan dengan pelajaran dan keruwetan pikiran, ikut-ikutan duduk di sofa panjang itu, tepat di sebelahnya.

“Lho, Tito nggak belajar, Nak?” tanyanya.

“Udah, Bu. Tadi,” sahutku.

“Oh…,” katanya sekenanya, tersenyum singkat.

Beberapa saat kami hanya terpaku ke layar TV, namun pikiranku sebenarnya tidak pada tontonan. Aku masih tak tenang. Dan ketika aku makan dengan Ibu barusan, perasaan itu terasa kian menebal di dalam dadaku.

Sesekali kulirik Ibu yang berada di sebelahku. Dia tampak fokus ke layar kaca, seperti tak peduli dengan diriku yang sedang gundah ini.

Aku ingin menanyakan perkara hubungannya dengan Rama. Hal itu sama sekali belum terjelaskan. Tapi, bagaimana caranya? Apa yang harus kukatakan?

Ketika sinetron yang ditontonnya berganti dengan iklan, aku hendak mengajaknya bicara. Namun sayang, dia dengan cepat menekan tombol remote control TV, memindahkan ke saluran stasiun TV yang lain. Niatku pun urung.

Gimana, ya? Kalo gue omongin ke Ibu, Ibu marah nggak, ya? kataku menimbang-nimbang dalam hati. Aku agak tertunduk, asyik memain-mainkan jempol-jempol kakiku, menekuk-nekuknya.

“Kenapa, Nak?” tanya Ibu tiba-tiba, membuatku cukup kaget.

Aku menatapnya. Dia balas menatapku, lebih dalam.

“Mmm…,” aku cuma bisa menggumam, bingung mendadak.

Ibu tersenyum. “Apa, Nak?” desaknya sambil mengelus-elus kepalaku.

“Mmm… itu, Bu… mmm….”

“Itu apa?” Ibu nyengir.

“Ibu… kok… bisa ‘begituan’ sih sama Rama…?” tanyaku. Akhirnya aku bisa mengeluarkan kata-kata yang sulit itu dari mulutku.

Ibu langsung terdiam. Senyumnya hilang. Tangannya dikembalikannya ke pangkuannya, memegangi remote TV. Pandangannya juga dialihkannya ke TV.

Cukup lama aku menunggunya menjawab, namun dia tak kunjung membuka mulutnya. Aku seolah mati langkah. Pikiranku kalut dan bingung. Mataku ikut-ikutan melihat ke layar TV, tak berani lagi menatapnya.

Sepertinya aku sudah melakukan langkah yang salah.

Tapi, aku langsung tersentak ketika TV tiba-tiba saja dimatikan. Aku langsung menatap wajah Ibu. Dia tersenyum lembut.

“Tito kok nanya itu sama Ibu?” tanyanya. “Tito masih marah, ya?”

“Ngg… Nggak kok, Bu. Tito nggak marah,” jawabku cepat. “Tito cuma mau tau aja, kenapa Ibu bisa mau sama… Rama….”

Aku agak meringis ketika menyebut nama Rama. Namanya terasa begitu canggung ketika disandingkan dengan Ibuku.

“Mmm…,” Ibu menggumam sambil berpikir, seakan pertanyaanku itu cukup sulit baginya.

Aku terus menatapnya, menunggu.

“Ibu nggak tau, Nak,” jawabnya dengan wajah lesu. “Jangan tanya Ibu tentang itu, ya. Ibu… nggak bisa jawab.”

“Kok nggak bisa sih, Bu?” kataku menyoal.

Ibu melengos. Raut wajahnya seperti sedang memikirkan sesuatu yang rumit, namun mulutnya enggan berucap.

“Ibu suka ya, sama Rama?” tanyaku lirih.

Ibu menatapku. “Nggak, Nak. Ibu nggak suka sama Rama,” jawabnya cepat.

“Terus?” desakku lagi.

Ibu menghela napas. Berpikir sebentar, lantas berujar, “Besok aja Ibu jelasin ya, Nak. Ibu capek.”

Aku pun menatapnya kecewa.

“Tito juga masih capek, kan?” ucapnya sambil mengusap pelipisku. “Tito tidur sekarang, ya. Biar besok badannya seger.”

Aku tertunduk, masih berkeras. Alisku mengernyit, tanda kesal.

“Iya, besok Ibu ceritain,” katanya cepat, seakan tahu apa yang kukesalkan. “Tapi sekarang Tito istirahat dulu. Tito kan capek, sayang. Tadi abis kena pukul juga, kan?”

Aku pun menghela napas, memaklumi ucapannya. Aku tak bisa memungkiri bahwa tubuhku memang sangat letih hari ini.

“Tuh, liat! Matanya udah merah,” katanya menunjuk kedua mataku sambil tersenyum. “Tito tidur sekarang ya, Nak.”

Aku balas tersenyum, mengangguk lemah.

Kalau dipikir-pikir, sepertinya aku memang terlalu terburu-buru. Aku tidak punya alasan yang kuat untuk memaksanya bicara sekarang. Lagi pula, bukankah Ibu sudah berjanji agar tidak lagi mendekati Rama? Toh, Ibu juga tidak pergi ke mana-mana, kan? Tidak ada salahnya aku membicarakan hal ini esok hari.

Aku pun beranjak ke kamarku, dan langsung merebahkan diriku di atas ranjang. Kupeluk gulingku dan terpejam.

Segala yang kulalui hari ini terlintas kembali di otakku, laksana sebuah video yang memutar dengan cepat. Mataku semakin pejam, dan kulihat kembali ingatan dengan Bunda Aini, di kamar itu, berdua, berpelukan dengan kulit telanjang kami. Seketika saja kemaluanku bangkit menegang.

Aku mengernyit dengan mata yang masih menutup, berusaha menyingkirkan ingatan erotis itu. Kuubah posisi tidurku, menyamping ke arah lain sambil tetap memeluk guling. Kunaikkan sedikit guling itu untuk menutupi wajahku. Kutarik napas panjang untuk menikmati khayalanku yang selanjutnya, wajah Kak Dina.

Mungkin jam masih menunjukkan pukul 08.30 malam saat ini, namun memori akan senyuman manis dan suara Kak Dina pelan-pelan mampu melayangkanku ke dalam tidurku. Detak jantungku pun semakin melemah, hingga akhirnya aku benar-benar terlelap.

***

“Tito…! Bangun, Nak…!”

Aku tersentak dari tidurku, mataku terbuka seketika. Siapa yang memanggil? Bukankah ini masih malam?

Aku mengerjap-ngerjap sesaat. Eh, ini udah pagi, ya? kataku dalam hati sambil melihat ke sana-kemari.

Sinar matahari sudah menembus ventilasi, terang.

Kulihat jam dinding di atasku. Cukup kaget diriku yang mengetahui bahwa sekarang sudah pukul 06.30 pagi. Lho, kok? Perasaan masih malam deh. Kok cepat banget? batinku bertanya-tanya.

Namun aku tak mau terlalu banyak berpikir. Aku segera bangkit, buru-buru ke belakang, mandi dan melakukan segala macamnya.

***

Ibu tersenyum melihatku yang begitu fokus dalam sarapan. Aku pun membalas tersenyum pula.

Pagi ini agak aneh. Ibu tidak lagi memakai daster kuningnya tadi malam. Dia memakai daster hijau dengan motif batik dan bunga-bunga bermodel lengan tumpuk. Daster yang cukup tertutup.

Ke mana daster yang tadi malam? Apakah dia sudah menaruhnya ke ember tempat pakaian kotor?

“Gimana tidurnya? Enak?” tanya Ibu berbasa-basi.

“Hmm-hmm…,” sahutku sambil mengangguk. Mulutku masih penuh makanan.

“Bener, kan? Itu makanya tadi malam Ibu langsung suruh tidur, supaya bangun paginya seger.”

Aku mengangguk riang.

Tak ada lagi pembicaraan kami yang berarti pagi itu. Aku terlalu terburu-buru. Setelah makan, aku langsung ke teras setelah menyambar tas ransel yang sudah kusiapkan di kursi tamu. Kupakai sepatuku dengan cepat.

“Nggak ada yang ketinggalan?” tanya Ibu. Pertanyaan yang selalu menghiasi pagiku setiap hari.

“Nggak ada kok, Bu. Udah siap semua,” jawabku.

“Oh, ya udah kalo gitu. Hati-hati di jalan, ya….”

“Iya. Tito pergi ya, Bu,” ucapku bersemangat. Kucium tangannya.

Aku langsung berbalik badan, bergegas pergi.

“Jangan lari-lari…! Nanti perutnya sakit…!” serunya.

Aku menoleh ke belakang, tersenyum sembari memelankan langkahku.

Ibu balas mesem, tampak cantik.

Entah kenapa, pagi ini aku merasa sangat segar, sampai-sampai aku begitu gampang mengesampingkan masalah yang ingin kubicarakan dengannya tadi malam. Mungkin tadi malam aku memang terlalu lelah dan terlalu tertekan untuk memikirkan hal itu. Jadi, dengan keadaan segar seperti ini, emosiku jadi lebih jernih dan bisa bersabar.

***

“Eh! Itu kan…” Kalimatku terputus. Kulihat di depan sana ada sosok anak seumuranku, berseragam sekolah.

Itu adalah Rama, teman sekaligus musuhku.

Aku masih baru saja melewati rumah Bang Baim ketika kulihat dia keluar dari simpang jalan rumahnya. Meskipun waktu cukup sempit, aku rela memperlambat langkahku. Jarakku dengannya memang cukup jauh, tapi aku tetap tak ingin dia mengetahui keberadaanku yang sedang berjalan di belakangnya.

“Eh!” kataku lagi, terperanjat. Hampir saja aku menghentikan langkahku ketika Rama akhirnya menoleh ke belakang tak lama kemudian.

Rama tampaknya juga cukup kaget di depan sana, karena dia sempat dua kali menoleh ke arahku. Mungkin ingin memastikan bahwa ini benar-benar diriku atau tidak.

Setelah dia tahu ini memang aku, dia tak menoleh lagi sekali pun hingga kami akhirnya sampai di sekolah.

***

Diam. Itulah yang aku dan Rama lakukan sepanjang jam pelajaran bergulir. Ketika masa istirahat pun dia lebih memilih untuk bercakap-cakap dengan teman yang lain.

Salah seorang teman perempuanku sempat menanyakan perihal hubunganku dengan Rama yang sedang tidak baik, dan aku cuma mengiyakannya saja. Dia sempat menanyakan apa penyebabnya, namun aku enggan menjawabnya. Bagaimana bisa aku menjawab keretakan hubungan kami karena Rama sudah menggauli Ibuku? Bisa geger semuanya jika hal itu terjadi.

Mungkin Rama sempat bercerita juga pada teman-teman yang lain, tapi syukurlah aku belum mendengar dari mereka kalau dia mengoceh mengenai Ibuku. Dia hanya mengatakan kalau dia sudah kumarahi.

Aku tidak terlalu ambil pusing. Yang terpenting bagiku hanyalah Ibuku sudah berjanji untuk tidak lagi dekat dengannya. Itu sudah mewakili semua kelegaanku.

***

Mata pelajaran terakhir hampir usai. Kak Dina menjelaskan dengan sangat baik dan berwibawa. Hampir tak kulihat sosoknya yang biasanya. Ketika Kak Dina sedang mengemban tugas sebagai guru seperti ini, dia tiba-tiba seperti berubah menjadi orang lain. Aku benar-benar salut padanya.

Wuuuiiingg… Wuuuiiingg… Wuuuiiingg…

Bel tanda pulang sekolah sudah dibunyikan. Semua siswa dan siswi pun serentak berseru riang.

“Hari ini nggak ada PR kan, Bu…?!” tanya Toni, agak berseru.

Kak Dina menggeleng.

Satu kelas pun senang dan antusias menyambut kabar baik itu.

“Tapi ingat, ya! Besok rapornya udah bisa dikasih ke Ibu…!” imbau Kak Dina, menambahkan.

“Iya, Bu…!” sahut kami semua.

Seluruh teman-temanku bergegas keluar dari kelas.

Aku sedang memasukkan seluruh bukuku ke dalam tas ketika tiba-tiba sebuah tangan terulur padaku.

“Tito… maaf, ya…,” ucap Rama sambil menganjurkan telapak tangannya, hendak berjabatan. Matanya melihatku penuh harap.

Aku ragu. Namun sekejap kemudian aku tetap mengulurkan tanganku pula, bersalaman dengannya.

“Bunda gue marah. Dia nyuruh gue supaya minta maaf sama lu,” ujarnya.

Bunda Aini marahin Rama? ucapku dalam hati. Ada apa gerangan? Apakah Bunda Aini sudah memberitahukan yang sebenarnya pada Rama?

“Bunda lu kok bisa marah?” tanyaku cepat, menyelidik.

“Gue nggak tau. Kemarin dia nyuruh gue buat minta maaf sama lu. Katanya, kalo gue nggak mau, dia bakalan marah besar.”

Aku pun langsung bisa menyimpulkan kalau Bunda Aini sama sekali belum menyampaikan rahasia itu padanya. Bunda Aini juga tampaknya masih berpura-pura tidak tahu akan hubungan anaknya dengan Ibu. Apakah ada hubungannya dengan perkataannya yang ingin membalas kelakuan Rama? Entahlah. Yang jelas Bunda Aini pasti sadar dan tahu betul apa yang harus dia lakukan.

“Ya udah deh kalo gitu,” balasku lega. “Maafin gue juga ya, yang udah marah-marah sama lu waktu itu.”

Kami berdua pun saling tersenyum.

Aku melirik Kak Dina yang masih menyusun buku-buku di mejanya. Dia balas melirikku sekilas, tersenyum penuh arti.

“Pulang bareng yuk!” ajak Rama yang sudah siap dengan ransel di punggung.

“Mmm… kayaknya lu pulang duluan deh, Ram,” jawabku. “Gue masih ada urusan nih sama Kak… eh, Bu Dina.”

“Oh, ya udah kalo gitu. Gue duluan, ya,” pamitnya seraya melangkah pergi dengan riang.

Aku menghela napasku setenang mungkin. Hampir saja aku keceplosan barusan. Untunglah Rama tidak menyadarinya. Kalau tidak, dia bisa bertanya yang macam-macam.

***

Seperti biasa, aku dan Kak Dina adalah orang terakhir di dalam kelas. Kak Dina sudah tersenyum-senyum saja melihatku sejak tadi. Kutarik segera kursi terdepan dan duduk di dekatnya di meja guru.

“Cieee… cieee… yang salam-salaman…,” ujarnya sambil nyengir, menggodaku.

Aku hanya cengengesan.

“Rama sama Tito kok salam-salaman, Dek? Ada apa?” tanya kak Dina.

“Oh iya. Kakak nggak tau, ya?” kataku.

Kak Dina menggeleng.

“Jadi kemarin itu Tito sama Rama diam-diaman gitu, Kak, gara-gara Tito nggak sengaja ngebentak dia di jalan,” ujarku menjelaskan.

“Oh, jadi gara-gara itu…,” balasnya. “Kakak pikir tadi Rama minta maaf sama Tito soal… kasusnya sama Ibu.”

“Kalo masalah itu… masih belum, Kak. Tapi…”

“Tapi kenapa, Dek?”

“Tapi Tito udah bilang sama Ibu, Kak,” sambungku riang.

“Tito udah bilang masalah itu sama Ibu?” kata Kak Dina memastikan.

Aku mengangguk tegas.

Kak Dina tersenyum lebar. “Wah, bagus dong! Hebat banget nih Adeknya Kakak…,” sambutnya seraya mengusap-usap rambutku. “Terus Ibu bilang apa?”

“Ibu bilang, dia janji nggak bakal ‘begituan’ lagi sama Rama,” jawabku sambil tersenyum.

“Nah, bener kan, apa yang Kakak bilang? Ibu pasti mau dengerin Tito.”

Aku mengangguk setuju.

Sekejap kemudian aku nyengir, teringat sesuatu. Tiba-tiba aku terkekeh sendiri sambil sesekali melirik wajah Kak Dina.

Kak Dina mengernyit, tersenyum tanggung. “Tito kenapa, Dek?” tanyanya.

“Mmm….” Aku berpikir sejenak. Kugaruk kepalaku yang tak gatal, cengengesan lagi.

“Ihh… Adek kenapa sih, sayang? Kayak orang gila, ketawa-ketawa sendiri,” ujarnya demi melihat tingkah konyolku.

“Mmm… Bunda Aini, Kak…,” kataku.

Kak Dina semakin mengernyit. “Hmm…? Bunda Aini? Kok Tito manggil dia ‘Bunda’?”

“Ngg… dia sendiri yang nyuruh Tito manggil begitu, Kak,” jelasku.

“Kok bisa?” tanyanya lagi.

“Mmm… rupanya… dia itu Ibunya Tito juga, Kak.”

“Ibunya Tito juga? Maksudnya?”

“Katanya dia itu Ibu susunya Tito, Kak.”

“Ooo…,” ucap Kak Dina sambil manggut-manggut. “Tapi Adek kok bisa tau? Dia sendiri yang bilang itu sama Tito?”

Aku mengangguk. “Iya, Kak. Dia yang ceritain sendiri ke Tito kemarin di ruko-nya.”

“Di ruko-nya? Kemarin Tito ke ruko-nya? Ngapain? Beli sesuatu?”

Aku menggeleng, tersenyum simpul.

“Terus?”

“Mmm… Tito sama Bunda Aini… ‘begituan’ di ruko-nya, Kak…,” ucapku sambil nyengir.

“Hah…?!” seru Kak Dina sambil melotot. Dia refleks menutup mulutnya yang terlanjur berteriak kaget.

Aku sempat terkejut juga dibuatnya. Tapi sekejap kemudian aku bisa menguasai diri.

“Tito… main sama Ibunya Rama, Dek…?” tanyanya lirih. Wajahnya mendekat ke arahku, seakan tak ingin apa yang dikatakannya sampai didengar orang lain.

Aku mengangguk pelan, cengar-cengir salah tingkah.

Kak Dina agak menganga, seolah tak percaya. Perlahan-lahan senyum terukir di bibirnya. “Gimana ceritanya, Dek? Tito kok bisa…”

Kata-kata Kak Dina terputus. Dia kembali menutup mulutnya yang terbuka dengan tangan. Matanya menatapku dalam-dalam.

Dengan semangat, aku pun menceritakan seluruh kejadian dari awal hingga akhir. Sejak aku mendapati Ibu yang sedang memuaskan tiga orang sialan itu hingga aku pulang kembali ke rumah dan mengintrogasi Ibu habis-habisan.

Kak Dina menghujaniku dengan segudang pertanyaan. Tentang Bapak, tentang pria-pria itu, tentang hubunganku dengan Bunda Aini, bahkan dia juga sempat bertanya sedikit bagaimana perasaanku ketika aku bersetubuh dengan Bunda Aini. Aku menjawabnya semua dengan detail, karena ingatanku juga masih sangat segar.

Saat Kak Dina mendengarkan ceritaku dengan Bunda Aini, matanya tampak berbinar-binar. Dia terlihat sangat menyukai bagian di mana aku dan Bunda Aini bermesraan di kamar ruko. Wajahnya memerah, dan tubuhnya agak gelisah. Berkali-kali dia mengganti posisi duduknya sambil mendengar ceritaku dengan saksama.

Hingga pada suatu ketika, aku menghabiskan ceritaku. Kak Dina menghela napas berat sambil tersenyum lebar seakan baru saja mendengarkan cerita yang teramat dahsyat. Namun, aku tak bisa menampiknya. Cerita yang kupaparkan memang berdasarkan dari pengalamanku yang luar biasa.

Kak Dina tiba-tiba melongok melihat ke jendela, lantas berdiri dan berjalan ke pintu kelas. Dilihatnya ke koridor sebelah kanan, arah di mana kelas-kelas yang lain berikut ruang guru berada. Sesaat kemudian dia kembali ke dekatku.

Dia tiba-tiba menyeret kursinya hingga merapat ke kursi yang kududuki, lantas duduk kembali.

“Tito kok nakal banget sih, sayang…,” ujarnya memanja seraya merangkul kepalaku, lalu mencium bibirku dengan ganas.

Aku tak bisa berkata apa-apa. Mulutku telah tersumbat oleh bibir basah Kak Dina yang terasa begitu bersemangat melumat bibirku.

Sayangnya, belum lama aku menikmati kecupan itu, Kak Dina melepaskan bibirnya. Aku tersengal, dan perasaanku tak karuan.

“Itu hukumannya buat anak nakal…,” ucapnya sambil tersenyum manis.

Aku cuma bisa melongo dan cengar-cengir. Ciuman tadi seperti membuat isi kepalaku mendadak kosong.

Namun, sesaat kemudian, wajah Kak Dina tampak mendadak berubah, seperti ada sesuatu yang dipikirkannya.

Perlahan-lahan, aku menguasai diriku kembali. Seakan tersadar dari perasaan “aneh” itu, empatiku pun tumbuh melihat raut wajah Kak Dina.

“Kenapa, Kak?” tanyaku lirih.

Dia menatapku lekat-lekat. “Mmm… Tito jangan bilang-bilang sama Ibu, ya, tentang apa yang Kakak bilang waktu itu….”

“Tentang apa, Kak?” tanyaku menyelidik.

“Mmm… tentang Tito yang mesti ‘begituan’ sama Ibu…,” ucapnya takut-takut.

“Oh, yang itu…,” kataku sambil mengingat-ingat. “Emangnya kenapa, Kak?”

“Pokoknya jangan bilang-bilang sama Ibu, ya. Soalnya Kakak takut kalo Ibu mikir yang macam-macam tentang Kakak. Nanti dia pikir, Kakak udah ngarahin Tito ke jalan yang nggak bener….”

Aku mengangguk mafhum. “Iya, Kak. Tito nggak akan bilang-bilang sama Ibu.”

Kak Dina tersenyum getir. Diusapnya kepalaku sekali lagi. “Ya udah. Yuk pulang!” katanya sembari berdiri dan membereskan buku-buku dan tasnya.

Aku mengangguk, lalu mengikutinya yang kemudian berjalan keluar kelas.

Di jalan pulang, aku sempat berpikir, menebak-nebak maksud Kak Dina mengatakan hal itu. Mungkin dia takut kalau aku nekat mengajak Ibu melakukan apa yang dikatakannya. Dan jika Ibu marah padaku, mungkin Kak Dina juga takut kalau aku menceritakan pada Ibu bahwa yang menyuruhku melakukan itu adalah dirinya.

Emangnya gue berani ngajak Ibu ‘begituan’? pikirku jeri. Kak Dina terlalu takut untuk suatu hal yang bahkan aku tak punya keberanian sedikit pun untuk melakukannya.

***

Ketika aku sampai di rumah, Ibu menyambutku dengan cara berpakaian yang lain. Dia mengenakan kaus oblong dan rok a-line selutut yang biasa dikenakannya jika hendak berjualan atau ke luar rumah. Tak hanya pakaian, rambutnya yang sudah melebihi setengah punggung itu pun telah disisir rapi, ditambah polesan bedak lembut yang terpapar di wajahnya. Penampilannya benar-benar menyegarkan.

“Lho, Ibu mau ke mana?” tanyaku yang masih berada di mulut pintu.

Ibu tersenyum simpul. “Hari ini kita jualan ya, Nak?”

“Lho, kok?”

“Sebenarnya mau jualan kemarin, tapi kan nggak bisa gara-gara ‘itu’…,” imbuhnya, mengingatkan kejadian kemarin.

Aku pun tersadar. Oh, iya juga, ya? pikirku. “Ya udah deh, Bu,” jawabku sembari duduk di kursi teras, bermaksud membuka kedua sepatuku.

“Mmm… yang jualan Tito aja ya, Nak…,” ucapnya.

“Hah…?!” seruku sambil terlongong.

Ibu langsung tertawa melihat reaksiku. Dia memeluk kusen pintu, menyembunyikan sedikit wajah cantiknya.

“Masa Tito sendirian lagi, Bu? Emangnya Ibu mau ke mana?” tanyaku memelas.

“Ibu kan mau ngantar baju-bajunya Bu Ratmi, Nak,” jawabnya. “Abis itu Ibu juga mau ke kota sebentar.”

“Ah, Ibu ngakunya aja sebentar, tapi ujung-ujungnya lama banget,” repetku.

Ibu kembali terkikik. “Nggak kok. Kali ini nggak lama.”

“Emangnya Ibu mau ngapain sih, ke kota? Mau liat obral baju lagi, ya?”

Ibu langsung menutupi wajahnya dengan tangannya dan tertawa lepas. Sepertinya pertanyaanku sangat tepat pada sasaran.

Ibu membuka tangkupan tangannya. Mukanya merah karena malu bercampur geli. “Nggak apa-apa ya, Nak. Sekali ini… aja,” ujarnya dengan menekankan kata-kata ‘sekali ini’, seakan aku takkan pernah lagi berjualan sendirian selamanya.

Tapi, dibalik diriku yang sedang merajuk ini, sebenarnya aku benar-benar bahagia melihat Ibu yang tertawa riang seperti itu. Jarang sekali Ibu tertawa sampai sebegitu lepasnya, seakan tidak ada lagi sedikit pun beban di dalam hatinya. Apakah karena kejadian kemarin? Apakah karena Bapak yang sudah menunjukkan kepeduliannya pada kami? Entahlah.

“Hmm… ya udah deh…,” jawabku lesu sambil melepaskan kaus kakiku yang terakhir.

Aku bangkit dan pura-pura berjalan gontai ke dalam rumah. Ibu tersenyum dan terkekeh melihatku yang tampak sekali menyengaja berjalan dengan cara seperti itu.

“Habis ganti baju langsung makan, ya…,” ujarnya.

“Iya, Bu…,” sahutku ogah-ogahan sambil masuk ke dalam kamar.

***

Ketika sampai di pasar, kami langsung disambut ramah oleh Bi Ipah. Dia tampak begitu senang dengan kehadiran kami, seakan kami adalah keluarga yang telah lama terpisah darinya. Tapi, aku juga tidak bisa memungkiri kalau aku juga merindukannya.

“Gimana? Kepalanya masih sakit, To?” tanyanya padaku.

“Udah sembuh kok, Bi,” ucap Ibu, mewakiliku menjawab. Aku sendiri cuma nyengir.

“Oh, baguslah kalo gitu,” balas Bi Ipah, tersenyum lebar. “Gimana si Dewo, Yat?”

Demi mendengar pertanyaan itu, aku dan Ibu langsung serentak tercengang memandang Bi Ipah.

Bi Ipah masih tersenyum. “Gimana si Dewo, Yat? Dia udah pulang?” Bi Ipah kembali bertanya, menegaskan.

“Lho, Bi Ipah kok tau?” Ibu balas bertanya.

“Ya pastilah Bibi tau, dia kan sering ke sini…,” jawab Bi Ipah santai.

Ibu menatapku bingung, lalu kembali ke Bi Ipah dan berujar, “Jadi Mas Dewo udah pernah ke sini? Aku kok nggak tau?”

“Ya jelaslah kamu nggak tau, Yat,” kata Bi Ipah sambil terkekeh. “Si Tito tuh yang tau.”

Ibu kembali menatapku. “Jadi Bapak pernah ke sini?” tanyanya.

Aku mengangguk pelan sambil berpikir tentang ke mana arah pembicaraan ini.

“Tito kok nggak bilang?” ucapnya padaku. “Ibu pikir Bapak cuma liat dari jauh….”

Aku yang merupakan orang yang terbingung di sini pun menatap Bi Ipah. “Bibi kok tau itu Bapak?” tanyaku.

Bi Ipah terkekeh lagi. “Ya pastilah Bibi tau, To. Dulu Ibumu itu kan sering pacaran sambil jualan sama Bapakmu di sini.”

“Ihh… Bibi…! Bikin malu Yati aja…,” ucap Ibu yang tersipu malu.

Barulah aku ingat sekarang. Ibu pernah menceritakan mengenai hal ini dulu. Bapak memang sering mendatangi Ibu yang sedang berjualan.

“Tapi Bibi kok diam aja waktu Tito ngobrol-ngobrol sama Bapak?” tanyaku lagi pada Bi Ipah.

“Itu Bapakmu sendiri yang minta sama Bibi. Katanya dia nggak mau kasih tau Tito dulu,” ujarnya. “Tapi waktu Bibi tanya kenapa, dia nggak mau bilang.”

Aku terdiam, mencerna kata-kata Bi Ipah.

Kini aku mengerti maksud Bapak. Aku sempat melihatnya langsung pergi waktu menerima SMS di handphone-nya, dan aku juga sempat mendengar Jessica mengatakan mengenai mata-mata. Tampaknya waktu itu dia memang sedang melakukan pengawasan ketat kepada pergerakan Taufan, sesuai cerita Ibu kemarin. Mungkin dia sengaja menutupi identitasnya karena tak ingin aku membuat “kekacauan” dengan pertemuanku dengannya yang pertama kali itu, agar semua berjalan dengan lancar. Dan untuk itu pula dia baru mengakui siapa dirinya sebenarnya ketika berada di rumah. Mungkin baginya itu adalah saat yang tepat.

“Waktu kalian lagi nggak jualan, si Dewo itu suka ngobrol-ngobrol di sini sama Bibi, Yat,” imbuh Bi Ipah kepada Ibu. “Bibi ceritain semuanya tentang kalian sama dia.”

Ibu manggut-manggut, tersenyum simpul. “Pantes aja dia tau kalo aku nggak pernah nikah lagi, Bi.”

Bi Ipah dan Ibu terkekeh berbarengan.

“Ada urusan apa si Dewo kemari, Yat?” tanya Bi Ipah.

“Oh, nggak ada urusan apa-apa kok, Bi,” jawab Ibu berbohong. “Ada yang mau dia sampaikan aja.”

“Oh, tak pikir mau rujuk,” kelakar Bi Ipah.

Ibu pun tertawa. “Bibi nih ada-ada aja….”

“Ya udah tuh diangkat barangnya, entar kesorean,” ucap Bi Ipah sambil menunjuk ke etalase dan kotak kayu besar yang ada di depan ruko di belakang kami.

“Oh, iya, Bi,” pungkas Ibu.

Aku dengan sigap mengikuti Ibu menyiapkan segalanya.

Setelah semuanya tuntas, Ibu pun memberikan sejumlah pengarahan sebelum pergi sebagaimana biasanya jika aku berjualan sendirian. Dia juga meminta tolong Bi Ipah untuk membantu dan mengawasiku.

“Mudah-mudahan nanti ada yang ngasih Tito uang banyak lagi ya, kayak waktu itu,” kata Ibu sambil cengengesan.

“Oh, iya! Tito lupa bilang sama Ibu,” ujarku sembari menepuk jidat. “Yang ngasih uang banyak waktu Tito jualan minggu lalu itu Bapak, Bu.”

“Lho? Jadi yang ngasih uang banyak itu Bapak?” katanya agak terkejut, seolah tak terima. “Hmm… ya udah deh, kalo gitu….”

Wajah Ibu jadi mendadak lesu mengetahui itu.

Aku malah balas tertawa melihat semangat Ibu yang menyurut.

Ibu tersenyum malu. Dicubitnya perutku dengan lembut sebelum pergi meninggalkanku.

***

Matahari sudah condong di ufuk barat, sebentar lagi tenggelam. Ibu belum kunjung kembali dari kota, padahal gorengan sudah habis. Aku dan Bi Ipah bahkan sudah selesai membereskan semua perlengkapan dagangan kami.

Bi Ipah sendiri cukup gampang karena gerobaknya sudah terpasang ke sebuah sepeda motor. Dia hanya tinggal menyalakannya dan langsung pergi. Sementara aku? Aku terpaksa harus menunggu Ibu.

“Ibumu kok lama banget ya, To?” tanya Bi Ipah.

“Iya nih, Bi. Lama…,” sahutku.

Beberapa saat kemudian, Ibu pun kelihatan di seberang jalan, turun dari becak. Dia dengan cepat menyeberang dan menemuiku.

“Ibu kok lama banget sih?” rutukku.

Ibu terkikik. “Maaf ya, Nak. Ibu tadi agak lupa waktu.”

“Kalo udah liat obral, pasti lupa waktu…,” omelku lagi.

“Eh! Ssstt….” Ibu menaruh jari telunjuknya di bibir, menyuruhku diam. Dia melirik Bi Ipah di sebelahku. Mungkin dia malu pada Bi Ipah karena ucapanku.

Bi Ipah tergelak. “Nggak apa-apa, To. Ibu kan perempuan. Kalo liat obral memang suka lupa waktu. Bibi dulu juga gitu, Lebih parah malah….”

Aku melirik Bi Ipah, nyengir. Ternyata Bi Ipah juga sama aja, kataku dalam hati.

Alhasil, Ibu tidak jadi malu. Dengan riangnya, dia pun mengajakku pulang. Becak tadi ternyata disuruhnya untuk menunggu.

Hari melelahkan ini akhirnya berakhir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*