Home » Cerita Seks Mama Anak » Ibuku Cintaku dan Dukaku 28

Ibuku Cintaku dan Dukaku 28

Aku menemani Ibu yang makan dengan lahapnya. Sesekali kami berdua saling tatap dan tersenyum satu sama lain. Ibu sempat menawarkanku untuk makan juga, tapi kutolak karena kurasa aku masih kenyang, dan kupikir lauk pemberian Bunda Aini juga tidak akan habis hingga besok pagi.

Di sela-sela acara makannya, Ibu mempertanyakan perkara panggilan “Bunda” yang masih menggantung itu. Aku hanya menjawab kalau Bunda Aini sendirilah yang ingin dipanggil seperti itu. Dia merasa lebih senang jika kupanggil demikian.

Aku bertanya balik kepada Ibu tentang kebenaran Bunda Aini yang selalu menyusuiku saat kecil, tentang kebenaran bahwa dia adalah Ibuku juga. Ibu pun tersenyum sambil mengiyakan. Rupanya Ibu sengaja menyimpan rahasia kecil itu selama ini agar aku tidak menganggap Bunda Aini terlalu dekat layaknya Ibuku sendiri. Ibu ingin aku lebih “tahu diri” akan status kami, dan ingin aku menghormati keluarga mereka dengan cara yang lain. Ibu ingin aku sadar bahwa walaupun keluarga kami dan keluarga mereka itu punya hubungan yang erat, aku masih tidak cukup pantas untuk memanggil Bunda Aini dengan sebutan itu. Lagi pula, dulu Ayah Rama masih ada. Tidak mungkin Ibu membeberkan rahasia itu padaku. Bayangkan saja jika aku keceplosan menceritakan hal itu pada Rama, lalu kemudian sampai ke telinga Ayahnya, bisa-bisa malah akan muncul hal lain yang tidak diinginkan.

Aku hanya bisa terdiam dan memaklumi penjelasan Ibu. Cukup pelik memang, untuk anak seusiaku yang masih polos ini mengetahui perkara seperti itu. Terkadang aku terlalu antusias untuk hal-hal yang memang belum aku ketahui, namun aku hanya berpikir bahwa aku perlu tahu, tanpa memikirkan apakah itu baik atau buruk dan apakah itu layak disampaikan atau tidak. Mungkin aku hanya terlalu sakit hati pada apa yang sudah dilakukan oleh Ibu, dan betapa bencinya jika aku dibohongi. Aku hanya ingin apapun terlihat jelas, tanpa ditutup-tutupi lagi.

“Tito nggak mandi, Nak?” tanya Ibu setelah meneguk air minum, tanda acara makannya telah berakhir.

“Eh, iya, Bu. Sebentar lagi,” kataku sambil cengengesan.

Ibu mengusap-usap rambutku, tersenyum. Sekejap kemudian dia terdiam, seperti memikirkan sesuatu.

“Tito… masih marah sama Ibu?” tanya Ibu dengan suara lirih.

Aku menatap kedua matanya. Aku pun menggeleng. “Kan Tito udah bilang, Bu…. Tito udah maafin Ibu….”

Ibu menatapku lamat-lamat, lantas matanya terarah ke piring bekas makanannya yang sudah kosong, terlihat agak murung. Dia menghela napas.

“Ibu kenapa?” tanyaku.

Dia kembali memandangiku. “Tito memang maafin Ibu, tapi Tito masih marah sama Ibu, kan?”

Kini giliranku yang menatap piring kosong itu, terdiam seribu bahasa. Agaknya kata-kata Ibu memang benar, aku masih menyimpan sedikit rasa marah padanya. Dalam hati, aku masih tidak bisa menerima apa yang sudah dia lakukan. Semua itu masih terlalu berat untuk dibebankan kepada anak seusiaku. Aku seakan tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis dan pasrah, namun apa yang ada di dalam hati kecilku tetap tidak bisa diungkapkan. Alhasil, hanya amarah itulah yang mewakili rasa cemburu dan kesal yang kurasakan.

“Ibu tau kok…,” katanya seraya mengelus kepalaku. “Ibu memang udah keterlaluan….”

Aku menghela napas berat, tertunduk.

“Kepalanya masih sakit, Nak?” tanyanya sambil membelai-belai pelipisku.

“Nggak, Bu. Udah nggak sakit lagi….”

Kutatap wajah Ibu yang tampak sedih. Matanya berkaca-kaca. Sepertinya dia teringat dengan kejadian tadi siang, ketika aku dipukuli oleh laki-laki bernama Taufan itu. Tamparan orang itu memang keras. Sungguh tak bisa kubayangkan bagaimana takut dan paniknya Ibu saat melihatku terjatuh setelah menerima hantaman di pelipisku. Aku masih ingat betapa histerisnya jeritan Ibu dan memohon-mohon kepada pria itu agar tidak menyakitiku, namun pria itu tidak menggubrisnya. Ingin rasanya aku menghabisi mereka semua.

“Ibu jangan sedih lagi, ya. Tito nggak apa-apa kok,” kataku menghibur.

Ibu mencoba tersenyum, walaupun senyumnya terlihat hambar. Diusapnya air mata yang terlanjur menetes di pipinya. “Maafin Ibu ya, Nak. Ibu sebenarnya nggak mau Tito terlibat ke masalah itu. Ibu takut Tito kenapa-kenapa. Tapi, kalo tadi nggak ada Tito, Ibu juga nggak tau kelanjutannya kayak apa.”

Aku menatapnya prihatin. Ibu tampaknya memang tidak berdaya dengan apa yang terjadi tadi siang. Jelas saja Ibu akan menyerah mendengar mereka bertiga bermaksud membunuhku. Ibu pasti akan melakukan apa saja demi keselamatanku.

“Ibu dipaksa sama mereka buat ngelakuin itu?” tanyaku.

Ibu mengangguk lemah. “Awalnya yang ngetuk pintu cuma satu orang, si Taufan, yang sempat ngancam Tito pake pisau. Dia nanya sama Ibu, apa ini benar rumahnya Ibu Irena Irmayati. Ibu yang nggak tau apa-apa jawab ‘iya’ aja. Eh, nggak taunya dari balik dinding kamar Tito sebelah luar tiba-tiba muncul dua orang lagi. Waktu mereka berdua datang, si Taufan itu langsung ngancam Ibu. Katanya, kalo mau Tito selamat, turutin semua yang disuruh sama mereka…”

Ibu menangis, meneruskan sisa-sisa dukanya. Peristiwa tadi sepertinya sudah memberikan rasa trauma yang mendalam pada jiwanya. Bisa kurasakan dari sedu-sedannya yang terdengar amat lemah.

Ternyata aku telah salah sangka. Pantas saja wajah Ibu tidak menunjukkan ekspresi sedikit pun ketika “melayani” mereka bertiga. Rupanya Ibu memang terpaksa melakukannya demi aku, anaknya yang ingin dilindunginya.

“Udah, Bu… jangan sedih lagi…,” ujarku berusaha menenangkan sambil mengusap-usap bahunya. “Tito kan nggak apa-apa.”

Ibu meraih bahuku, memelukku dengan erat. “Jangan pergi lagi, Nak…. Jangan tinggalin Ibu…,” ucapnya lirih dalam isak tangis.

“Iya, Bu…,” jawabku pelan. “Tito nggak bakal pergi lagi kok. Tito janji.”

Aku benar-benar menyadari kesalahan yang sudah kuperbuat. Sungguh tega diriku meninggalkan Ibu di saat dia justru membutuhkan kehadiranku di sisinya, dengan alasan picik bahwa dia sudah tega melakukannya karena kesenangan pribadinya. Mengapa aku bisa melakukan hal yang keterlaluan itu? Anak macam apa aku ini?

Semua ini memang tidak terlepas dari ulah Rama. Jika tidak karena peranannya yang sangat melecehkan itu, tidak mungkin aku bisa berbuat begitu. Tindakanku juga cukup beralasan, bukan?

Tetapi, setidaknya konflik ini sedikit mereda sekarang, baik antara aku dan Ibu, maupun antara aku dan Bunda Aini. Yang masih mengganjal di pikiranku hanya tinggal dua hal lagi: tentang Bapak, dan tentang apa yang terjadi pada Ibu dan Rama sehingga mereka bisa melakukannya.

Ibu melepaskan pelukannya. Ditatapnya wajahku beberapa saat sambil tersenyum.

“Kenapa, Bu?” tanyaku yang jadi ikut-ikutan tersenyum.

Ibu menggeleng sembari menyeka bekas lelehan air mata di pipinya. “Nggak apa-apa. Ibu cuma… bahagia banget liat Tito udah pulang….”

Aku menghela napas lega. “Iya dong, Bu. Emangnya Tito mau ke mana? Rumah Tito kan di sini?”

Ibu terkekeh pelan. “Iya sih…. Tapi… Ibu kan takut kalo Tito beneran pergi.”

Aku menggeleng tegas. “Masa Tito mau ninggalin Ibu sih? Tito kan bukan anak durhaka.”

Ibu memandangi wajahku lagi, tersenyum sambil mengelus-elus kepalaku. “Benar apa kata Bapak…”

Aku mengernyit. “Kata Bapak?”

Ibu mengangguk.

“Emangnya Bapak bilang apa, Bu?” tanyaku penasaran.

“Bapak bilang kalo Tito pasti bakalan pulang lagi….”

Aku memandangi wajah Ibu sesaat, berpikir sejenak.

“Kenapa?” tanyanya.

“Mmm… waktu Bapak di sini, dia ngobrolin apa aja sama Ibu?”

“Oh, itu…. Mmm…” Ibu berpikir sesaat. “Tunggu sebentar, ya…,” ucapnya seraya pergi meninggalkanku.

Aku menunggu.

Sesaat kemudian Ibu kembali dengan secarik kertas seperti kuitansi. Diberikannya kertas itu padaku.

Aku menatap tajam lembaran itu, terkejut dengan tulisan yang ada di atasnya. Pandanganku kemudian terarah ke wajah Ibu. Dia tersenyum kecil.

“Ini apa, Bu?” tanyaku penasaran.

“Itu cek dari Bapak,” jawabnya singkat.

Kuperhatikan lagi kertas itu lekat-lekat. Ya, ini memang cek, persis seperti yang kulihat di sinetron-sinetron yang ada di TV. Tapi, apa penglihatanku ini tidak salah? Angka-angka yang tertulis di atasnya, membuat jari-jari tanganku seperti mati rasa.

“Bu…” Aku kembali menatap wajahnya. “Ini buat…”

Ibu langsung mengangguk, memahami arah kalimatku yang belum selesai. “Itu dikasih sama Bapak buat kita.”

Aku menelan ludah, terpaku melihat kertas di tanganku. Cek ini… untuk kami? Yang benar saja.

“Bapak sebenarnya udah tau mereka bertiga itu bakal datang kemari,” ujar Ibu.

Aku kembali menatapnya, alisku mengernyit, menyelidik. “Maksud Ibu?”

“Tito mau Ibu ceritain?”

Aku mengangguk.

Ibu tersenyum kecil. Dilihatnya cek yang kupegang, merenungkan apa yang telah terjadi.

Ibu mulai bercerita.

***

“Tito…! Jangan pergi, Nak…! Tito…!” Yati menjerit-jerit memanggil Tito, anaknya. “Tito mau ke mana, Nak…?! Jangan tinggalin Ibu…!”

Yati bangkit dari tempatnya jatuh, lantas berupaya mengejar anaknya. Namun Dewo dengan cepat mencegahnya.

“Jangan, Ren!” ucap Dewo. Dipegangnya lengan wanita itu dengan erat. “Jangan dikejar. Biarin dia pergi.”

“Gila kamu, Mas!” seru Yati melawan. “Jangan biarin Tito pergi! Tito masih anak-anak, Mas! Dia mau ke mana?!” Ibu meronta-ronta di dalam pegangan Bapak. “Tito…! Jangan pergi, Nak…!”

“Ren… udah… jangan dikejar,” ujar Dewo lagi.

Yati tidak menghiraukannya. Dia terus berteriak memanggil Tito yang bahkan tak menoleh ke belakang sedikit pun. Hingga kemudian dilihatnya anaknya menghilang dari pandangannya, membuat teriakannya melemah, larut dalam tangisnya.

Yati duduk bersimpuh kembali, tak kuat menahan beban kesedihannya. Dewo melepaskan pegangannya. Dibiarkannya Yati menangkupkan kedua tangannya diwajahnya, melepaskan tangis yang terdengar pilu.

Beberapa saat kemudian, Yati bangkit kembali. Dia terpikir akan anaknya lagi. Tidak akan dilepaskannya anaknya begitu saja.

Sambil menangis, Yati mulai berlari, mencoba mengejar Tito. Namun, belum lagi dia meninggalkan teras rumah, Dewo kembali menangkap lengannya.

“Lepasin tangan aku, Mas!” pekik Yati sambil menyentak-nyentakkan lengannya, berusaha melepaskan diri. “Lepasin!”

Dewo bergeming, tetap mengunci tangannya di lengan Yati.

“Apa-apaan sih kamu, Mas…?! Lepasin aku!” seru Yati marah.

“Kamu tenangin diri kamu dulu, Ren…,” ucap Dewo. “Tito nggak bakalan ke mana-mana….”

Yati berhenti meronta. Ditatapnya Dewo dengan pandangan berang. “Bisa-bisanya kamu ngomong kayak gitu, Mas. Memangnya kamu tau apa kamu soal Tito?!”

Dewo menatap kedua bola mata Yati, terdiam.

“Jawab, Mas!” bentak Yati geram. “Tau apa kamu soal Tito?!”

Dewo tertunduk, menggeleng pelan. Dilepasnya genggaman tangannya pada lengan Yati.

“Kalo kamu nggak tau apa-apa soal Tito, kamu jangan sok tau, Mas!” hardik Yati sambil memukul-mukul dada Dewo dengan keras. “Tito itu anak aku! Aku yang udah ngebesarin dia, tau kamu!”

Yati kembali menangis.

Dewo tetap tertunduk, membisu.

“Ke mana aja kamu selama ini, Mas…?!” tanya Yati emosional. “Udah puas kamu ninggalin aku…?!”

Dewo tak menjawab. Dia cuma menggeleng pelan. Alisnya mengernyit dengan mata yang tertutup rapat. Air mata tampak menitik dari sudut-sudut kelopak matanya.

“Sekarang… Tito juga pergi ninggalin aku…! Itu semua gara-gara kamu, Mas…!” bentak Yati sambil terisak.

Dewo mengangguk perlahan. Dihapusnya air matanya yang sempat keluar itu dengan jari-jarinya. “Iya, Ren…. Aku memang salah…. Aku tau…,” ujar Dewo. “Tapi, lebih baik kamu tunggu aja Tito di sini…. Menurut Mas dia cuma mau menenangkan diri aja…. Abis itu dia pasti pulang….”

Yati melengos, berbalik badan. Dia mendekati pagar tembok selutut yang membatasi teras, lalu memeluk tiang kayu yang menopang atap di atasnya. Dia menatap jauh ke depan rumah. Kesedihannya tak terkira. Bermacam-macam pikiran berkecamuk di benaknya.

“Kamu ada masalah apa sama Tito, Ren?” tanya Dewo.

Yati diam saja, menghayati dukanya.

Suasana hening sejenak.

“Aku nggak tau, Mas…,” ucap Yati lirih, memecah kesunyian. “Tiba-tiba aja dia begitu sama aku….”

Dewo kembali terdiam, membuat keadaan lengang lagi.

“Buat apa kamu ke sini, Mas…?” tanya Yati dengan nada datar. “Tolong jangan ganggu hidup aku sama Tito….”

Dewo tak menjawab. Ada sesuatu yang masih dipikirkannya.

“Aku udah lama ngelupain kamu, Mas…,” tandas Yati. Tangannya menggenggam erat tiang kayu, mencoba meyakinkan dirinya untuk bersikap tegas.

“Iya, Ren… Mas tau,” jawab Dewo. Dia menghela napas dalam. “Mas ke sini karena… Mas memang mau nolongin kalian dari mereka. Mas kenal sama salah satu orang dari mereka bertiga….”

Yati yang terkejut langsung berbalik badan, menoleh ke belakang. Dia mengernyit, menatap penuh tanya maksud perkataan Dewo. “Apa maksud kamu, Mas?”

Kembali Dewo menghela napasnya. “Aku kenal sama Taufan, laki-laki yang aku tendang itu….”

“Maksud kamu, yang udah ngancam Tito pake pisau?”

Dewo mengangguk.

“Jadi, dia temen kamu, Mas?!” tanya Yati memburu. Suaranya meninggi.

Dewo mengangguk lagi. “Dia itu…”

“Kamu tau nggak, apa yang mereka lakuin ke Tito, Mas?!” potong Yati lantang, seolah tak ingin Dewo berbicara lagi.

Dewo terdiam, menatap Yati yang diselimuti kemarahan.

“Mereka mau bunuh Tito, Mas…! Mereka mau bunuh anak aku! Kamu tau itu, nggak?!” Bibir Yati bergetar menahan emosinya. Fakta bahwa Tito, anak yang sekaligus hartanya yang paling berharga hendak dicelakai orang lain benar-benar meledakkan naluri keibuannya. Dia sangat takut jika sesuatu terjadi pada anaknya.

“Iya, Ren… Mas ngerti perasaan kamu. Tapi…”

“Apa kamu bilang, Mas?! Kamu ngerti perasaan aku…?!” celetuk Yati dengan nada geram. Tatapannya tajam menyorot mata Dewo. “Setelah aku susah payah ngelahirin Tito, setelah aku susah payah ngebesarin dia, sementara kamu nggak ada, dan Ibu aku juga udah nggak ada sejak Tito masih bayi… kamu bilang kamu ngerti perasaan aku…?!”

“Bukan gitu, Ren…. Maksud Mas…”

“Kamu nggak ngerti apa yang aku rasain, Mas!” sergah Yati keras. Air mata mengalir di pipinya. “Kamu nggak ngerti apa-apa…!”

“Ren….” Suara Dewo menipis.

“Cukup, Mas! Jangan kamu ganggu lagi keluarga aku!” bentak Yati lagi. “Kamu nggak perlu pulang ke sini lagi, Mas! Pergi kamu sana!”

Dewo tiba-tiba berlutut, tertunduk dan menangis. “Maafin Mas, Ren…. Maafin Mas…. Mas memang salah…. Mas udah berdosa sama kalian…. Mas memang nggak pantas buat kalian…. Mas memang nggak berguna….”

Yati sontak terdiam. Batinnya cukup terkejut melihat Dewo seperti ini.

“Orang kayak Mas memang nggak pantas dapat pengampunan dari kamu, Ren…,” ujar Dewo di antara tangisnya. “Mas udah terlantarkan kalian sebegitu lamanya…. Mas udah biarkan kalian kesusahan…. Mas memang bajingan….”

Yati bergeming. Bukan karena dia masih dikuasai amarah, namun karena dia merasa hatinya tersentuh. Dia mendadak bingung. Tak pernah disaksikannya Dewo yang begitu mengiba sampai-sampai bertelut di hadapannya.

“Kalau kamu memang masih marah sama Mas, Mas terima…,” ucap Dewo tersedu. “Kamu juga pasti nggak mau liat Mas lagi, ya? Mas paham kok….” Dewo terkekeh kecil sambil menghapus air matanya, merasa putus asa.

Yati semakin serba salah, tak tahu apa yang harus dia perbuat dengan situasi seperti ini. Gejolak batinnya seakan memuncak, memaksanya untuk melakukan sesuatu.

Dewo mendongakkan kepalanya, menatap wajah Yati.

Yati melengos, tak mau menatap wajah Dewo. Dia masih berat untuk melakukannya.

“Kalau kamu memang nggak suka dengan kehadiran Mas di sini, Mas bakal pergi….”

Yati tak menjawab.

Dewo menarik napas dalam. “Sebelum Mas pergi… Mas mau minta maaf sama kamu, untuk yang terakhir kali….”

Tiba-tiba saja Dewo membungkukkan badannya, lalu bersujud sambil memegang kedua kaki Yati. Didekatkannya wajahnya menuju ke kaki-kaki itu, bermaksud menciumnya.

Perasaan Yati pun luluh seketika. Dengan sigap ditangkapnya lengan Dewo, mencegahnya untuk tidak berbuat lebih jauh. “Jangan, Mas….”

Namun Dewo tak menggubrisnya. Ia terus saja menurunkan wajahnya ke kaki Yati.

“Mas… jangan….” Yati menarik kedua kakinya, lantas melangkah mundur.

Dewo tak berhenti. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia merangkak mengejar kaki Yati.

Yati yang baru selangkah mundur langsung terhenti ketika kakinya bertemu dengan pagar beton yang membatasi teras. Dia terhuyung, lantas terduduk di atas pagar itu setelah tangannya refleks memegangi tiang agar tak jatuh terjengkang ke belakang. Dia hanya bisa tercengang melihat Dewo yang akhirnya meraih kedua kakinya, bersujud, lalu mencium kedua kakinya itu berkali-kali.

“Mas… udah, Mas, udah…,” pinta Yati kalut. Dia tak hanya terharu karena menyaksikan betapa merasa bersalahnya lelaki yang pernah hadir dalam kehidupannya itu, tapi dia juga merasa sangat bersalah dan terpukul. Yati tidak menyangka Dewo rela berbuat seperti ini demi menebus kesalahannya.

Batin Yati betul-betul bercampur aduk. Dia pun ikut menangis demi merasakan tetesan air mata Dewo di punggung kakinya. Walau bagaimanapun juga, Dewo adalah Bapak dari anaknya. Sebesar apa pun rasa bencinya terhadap lelaki itu, hatinya tak akan pernah tega melihat orang yang pernah dicintainya bersujud-sujud seperti ini demi mengharapkan secercah maaf dan belas kasihan.

Dewo mendongak, menatap wajah Yati. Yati tak berpaling lagi.

“Kamu mau kan, maafin Mas?” tanya Dewo lirih.

Yati pun menatap wajah Dewo dalam-dalam. Melihat kesungguhan di mata lelaki itu, ia tersenyum tulus, lantas mengangguk pelan.

Dewo tertunduk sekejap, lantas mendongak lagi, balas tersenyum. “Makasih ya, Ren….”

Yati mengangguk lagi.

Dewo menghela napas berat, merasa lega. “Sebenarnya… banyak yang Mas mau jelasin ke kamu, Ren. Tapi… kalau memang kamu lebih pingin Mas pergi, Mas bakalan pergi kok.”

“Udah, Mas, nggak usah dipikirin lagi. Aku juga minta maaf karena udah berlebihan tadi,” pungkas Yati. “Kalo memang Mas mau ngejelasin sesuatu, aku bakal dengerin. Tapi Mas nggak usah sampe cium-cium kaki aku kayak gitu, ya. Aku jadi ngerasa nggak enak banget….”

Dewo tersenyum kecil, mengangguk. “Iya. Maafin Mas juga, ya, karena terlalu berlebihan. Tapi Mas bener-bener ngerasa bersalah, Ren. Mas nggak tau harus berbuat apa lagi….”

“Ya udah…. Sekarang Mas bangkit dulu dong. Nggak enak aku ngeliat Mas berlutut terus.”

Dewo terkekeh pelan. Dia menyeka air matanya, lantas bangkit berdiri. Dia ikut duduk di atas pagar teras di sebelah Yati.

Suasana lengang sejenak.

Dewo tampak berpikir, sementara Yati hanya menunggu. Sesekali Dewo hanya menggesek-gesek kuku jempolnya dengan perut jempolnya yang satunya lagi, menaksir-naksir sesuatu yang akan disampaikannya.

“Mas udah nikah lagi, ya?” tanya Yati memecah kesunyian. Yati tak sengaja melihat cincin kawin di jari Dewo ketika dia memainkan jemarinya.

Dewo menoleh, menatap yati, lantas tertunduk melihat cincin di jarinya. Dia pun mengangguk pelan.

Terbersit sedikit rasa kecewa di dalam hati Yati. Namun, dia juga tak bisa menolak keadaan. 12 tahun lebih Dewo sudah berada di luar sana, sangat tak mungkin lelaki itu tidak punya pasangan hidup yang baru. Di lain pihak, Yati juga sudah begitu lama merelakan Dewo. Rasa cintanya pada lelaki itu hanyalah tinggal ingatan-ingatan semata yang tak terharapkan lagi. Kebahagiaannya bersama Tito sudah menelan rasa cinta lamanya. Yati pun dapat dengan mudahnya berbesar hati, menerima kenyataan itu.

“Maafin Mas, Ren. Mas udah berpaling dari kamu…,” ucap Dewo sambil tertunduk.

Yati menghela napas, tersenyum. “Nggak apa-apa, Mas. Aku ngerti kok.”

Dewo menatap Yati, balas tersenyum. “Makasih ya, Ren. Tito beruntung banget punya Ibu yang tegar kayak kamu.”

Senyum Yati mendadak hilang. Dia termenung, terpikir akan anaknya lagi.

“Ren…,” ucap Dewo.

Yati menatap Dewo acuh tak acuh. Dia begitu cemas akan nasib Tito di luar sana.

Dewo tersenyum lebar. “Kamu tenang aja, Ren. Walaupun Mas belum terlalu mengenal anak Mas sendiri, tapi Mas tau betul Tito itu seperti apa,” ujar Dewo mencoba menghibur.

“Maksud Mas?” tanya yati balik.

“Mas tau betul gimana sayangnya dia sama kamu. Dia itu anak yang berbakti sama orangtuanya, Ren. Mas liat sendiri kok, waktu dia ngebantu kamu jualan di pasar. Dia rajin dan tulus….”

Yati terperanjat. “Hah? Mas kok tau?”

Dewo tersenyum saja.

“Jangan-jangan, Mas selama ini…”

Dewo langsung mengangguk dan tersenyum, memotong kalimat Yati. “Mas sering ngawasin kalian belakangan ini, walaupun cuma dari jauh….”

“Kenapa Mas nggak mau samperin kami?” tanya Yati sewot.

Dewo terkekeh pelan. “Mas juga pinginnya begitu, Ren. Tapi, Mas pikir kalau Mas nyamperin kalian, pasti kalian berdua bereaksi negatif. Jadi, Mas putusin buat tahan keinginan Mas. Lagi pula, tujuan Mas ngawasin kalian cuma buat mastiin kalau kalian… aman….”

Wajah Dewo tiba-tiba berubah serius.

“Aman? Maksud Mas?” tanya Yati lagi.

Dewo menatap Yati dalam-dalam. “Mas mau mastiin kalian aman dari Taufan, temen Mas itu….”

Yati mengernyit. “Mmm… Mas, aku masih belum ngerti nih. Kalo memang si Taufan itu temen Mas, kenapa dia mau celakain Tito?”

Dewo menghela napas dalam. Matanya menatap lurus ke kursi teras yang ada di depannya. “Dia memang temen baik Mas semasa kuliah. Kami berdua terbilang dekat, selalu sama-sama. Bahkan, setelah kuliah, kami masuk ke perusahaan yang sama, dan sama-sama diterima bekerja di perusahaan itu. Tapi, dia agak berubah waktu Mas tiba-tiba dipromosikan….”

Kernyitan di alis Yati agak mengendur. “Terus, dia nggak suka kalo Mas dipromosiin?”

Dewo mengangguk pelan. “Awalnya, Mas nggak tau alasan Mas dipromosikan. Padahal, waktu itu Mas kerja di perusahaan itu masih belum genap setahun, dan posisi Mas juga masih asisten manajer, sama dengan si Taufan. Tapi, tiba-tiba aja Mas diangkat ke posisi general manager. Dan yang mempromosikan Mas malah Bu Direktur Utama yang Mas bahkan sama sekali belum pernah berkomunikasi sedikit pun sama dia dalam pekerjaan.”

“Lho, kok bisa gitu, Mas?”

“Itu dia yang Mas nggak tau,” ujar Dewo. “Tapi, suatu hari, akhirnya Mas tau juga. Ternyata… Bu Dirut itu… suka sama Mas….” Dewo tersenyum lebar.

Bibir Yati pun perlahan-lahan menunjukkan senyuman. “Suka? Maksudnya?”

Dewo melirik Yati sekilas, lantas tertunduk malu. “Dia itu yang jadi istri Mas sekarang….”

“Oh…,” ucap Yati singkat dengan senyum kecilnya.

“Dia direktur utama yang sekaligus anak dari pemilik perusahaan itu,” lanjut Dewo. “Mereka punya banyak perusahaan selain perusahaan properti yang Mas jalanin sekarang.”

“Mas yang jalanin? Maksudnya?”

Dewo tersenyum simpul. “Perusahaan itu udah diserahkan sama orang tuanya dia ke Mas sepenuhnya….”

Yati sempat agak melongo mendengarkannya, namun dia dengan cepat menguasai dirinya. “Mmm… terus, gimana dengan si Taufan itu?”

Raut wajah Dewo kembali serius. Dia menghela napas berat. “Waktu Mas nikah dengan istri Mas sekarang, dan perusahaan itu dipercayakan orang tuanya ke Mas, Mas sama sekali belum tau kalau Taufan itu menyimpan dendam sama Mas. Mas baru tau belakangan, setelah dia Mas angkat jadi manajer keuangan. Rupanya, dia menyalahgunakan jabatannya itu buat korupsi. Untung aja Mas bisa mencegah sejak dini, sebelum korupsinya terlanjur semakin jauh dan membuat kerugian semakin besar.

“Waktu Mas tau kalau dia udah menyelewengkan uang perusahaan ratusan juta, Mas nggak langsung pecat dia karena Mas masih mikir kalau dia itu temen Mas. Mas cuma turunkan jabatan dia jadi karyawan biasa, sekaligus Mas mewajibkan pengembalian uang yang dia gelapkan. Tapi, dia nggak terima, dan malah marah besar sambil bilang kalau posisi yang Mas dapatkan sekarang ini cuma karena Mas beruntung.

“Mas nggak terlalu menanggapi itu, karena Mas pikir itu cuma dianya aja yang terlalu buruk sangka sama Mas. Tapi, emosi Mas benar-benar tersulut waktu dia bersumpah mau celakain ‘keluarga lama’-nya Mas. Mas nggak tau lagi harus gimana ngehadapinnya. Mas nggak peduli lagi sama dia. Mas langsung pecat dia saat itu juga.”

Alis Yati kembali mengernyit, mencoba mencerna cerita Dewo. “Mmm… ‘keluarga lama’? Maksud Mas… aku sama Tito?”

Dewo mengangguk.

“Lho? Si Taufan kok bisa tau tentang aku sama Tito, Mas?”

Dewo menghembuskan napas berat, seolah melepaskan beban yang ada di dadanya. Kedua tangannya menopang di atas pagar. Kepalanya agak terdongak, menatap kosong ventilasi di atas jendela.

“Itu memang kesalahan Mas…,” ujar Dewo sambil bermenung. “Dulu, waktu Mas masih sahabatan sama dia, Mas pernah cerita-cerita mengenai kalian. Mas pikir, nggak ada salahnya kalau Mas ceritain sedikit tentang masa lalu Mas sama sahabat Mas sendiri. Dulu dia itu baik banget orangnya. Sering ngebantu Mas waktu Mas lagi kesusahan, dan Mas juga ngelakuin hal yang sama. Bisa dibilang, kami memang akrab. Mas bahkan nggak pernah menduga sedikit pun kalau dia bakal berbuat kayak gini.

“Tapi, apa mau dikata? Beginilah adanya. Entah apa yang membuat dia sekarang jadi begitu. Mas nggak bisa juga serta-merta nyalahin dia, karena mungkin keadaan juga bisa mempengaruhi. Barangkali dia nggak terima dengan apa yang Mas punya sekarang.”

“Mmm… Mas ada cerita sama dia kalo aku sama Tito tinggal di sini?” Yati kembali menyoal.

Dewo mengangguk lesu. “Itu sebabnya Mas ke sini. Ternyata Taufan nggak cuma menggertak waktu itu. Dia langsung gencar nyariin keberadaan kalian.”

“Terus gimana, Mas? Apa dia bakal datang ke sini lagi?” tanya Yati cemas.

“Kamu tenang aja, Ren. Kalian aman,” ujar Dewo dengan yakin. “Sebelum mereka pergi, aku udah ancam mereka, terutama Taufan. Aku bisa penjarakan dia sewaktu-waktu kalau dia berani ganggu kalian lagi, karena aku punya bukti-bukti yang kuat tentang perkara korupsi itu. Lagi pula, yang aku tau Taufan itu sayang banget sama anak dan istrinya. Dia nggak mungkin berbuat sesuatu yang bodoh lagi.”

“Kamu yakin, Mas?”

Dewo mengangguk dalam. “Selain ancaman penjara, aku juga udah kasih ancaman pribadi ke Taufan. Aku bakal berbuat hal yang mungkin lebih parah lagi sama keluarganya kalau dia berani sentuh kalian lagi.”

“Terus, yang dua orang lagi?”

Dewo tersenyum. “Mereka justru orang yang lebih ketakutan daripada Taufan, Ren. Mereka berdua nggak akan berani main-main dengan orang kayak Mas. Lagian, Taufan juga bakal bertanggung jawab sama mereka berdua, karena mereka berdua ke sini atas ajakan Taufan. Mereka nggak akan ngambil risiko yang sama.”

Yati menggenggamkan tangannya satu sama lain dengan erat. Sesekali kedua tangannya saling meremas demi merasakan kekhawatirannya yang masih sangat besar. Yang di pikirannya hanya ada Tito seorang.

“Ren…,” ucap Dewo lembut.

Yati tak menyahut maupun menoleh. Matanya hanya sibuk menatap lantai dengan pikirannya yang kacau.

“Kalau kamu masih belum yakin, Mas bakal suruh orang kepercayaan Mas untuk mata-matain mereka lagi. Kamu mau?”

Yati tergugah. “Mata-mata, Mas?”

Dewo tersenyum lebar, mengangguk. “Mas bisa bergerak cepat kemari juga berkat bantuan mata-matanya Mas itu. Mereka bisa ngawasin pergerakan Taufan setiap saat.”

Yati mendadak panik. “Lho? Berarti mata-matanya Mas tau tentang aku sama Tito juga?”

Dewo tertawa ringan. “Kenapa, Ren? Kamu kok kayak ketakutan gitu? Kamu takut mata-mata Mas itu gangguin kalian juga?”

“Ya iya dong, Mas!” tegas Yati gusar. “Aku takut kalo aku sama Tito juga dimata-matain. Orang yang kerjaannya jadi mata-mata itu kan biasanya orang jahat.”

“Kamu tenang aja, Ren. Mata-mata Mas itu nggak tau apa-apa sedikit pun tentang kampung ini ataupun tentang kalian yang tinggal di sini. Dia cuma Mas suruh awasin pergerakan Taufan aja. Kan Mas yang kontrol dia? Jadi Mas bebas nyuruh dia apapun, termasuk untuk nggak ngikutin Taufan sampai ke kampung ini.”

Yati bimbang. Ketakutan dan kekhawatiran masih mengisi batinnya.

Dewo kembali tersenyum. “Kamu tenang aja, Ren. Kamu sama Tito aman. Mas sendiri yang jamin itu. Jadi, jangan takut lagi, ya.”

Yati menatap Dewo dalam-dalam, memastikan kata-kata Dewo.

“Percaya sama Mas, Ren…,” ucap Dewo sungguh-sungguh. “Mas bakal jaga kalian baik-baik. Mas nggak akan biarin siapa pun mengganggu kalian lagi. Pegang kata-kata Mas.”

Akhirnya Yati menghela napas panjang. Hatinya lega dan lapang setelah melihat kesungguhan Dewo. “Ya udah, aku percayakan semuanya sama Mas. Tapi nggak usah pake mata-mata lagi, ya. Aku takut.”

Dewo nyengir. “Iya. Lagian tiga berandalan itu nggak bakalan berani ke sini lagi kok. Percaya sama Mas….”

Yati balas tersenyum, lalu mengangguk. “Iya, aku percaya kok….”

“Eh, mm… mereka nggak ada ngerekam kamu kan, waktu kamu…” Dewo tak melanjutkan kalimatnya. Dia hanya menunjukkan bahasa tubuh ke arah sekujur tubuh Yati.

“Maksud Mas… ngerekam video gitu?” tanya Yati, menebak maksud Dewo.

Dewo mengangguk. Wajahnya tampak sedikit cemas.

“Nggak kok, Mas. Aku nggak ngeliat mereka ada ngeluarin handphone atau alat-alat buat ngerekam atau foto-foto gitu.”

Dewo pun menghela napas lega, tersenyum damai.

Suasana pun lengang kembali, menyisakan Yati dan Dewo yang sibuk dengan pikirannya masing-masing.

“Oh, Mas hampir lupa,” ucap Dewo membuyarkan kebisuan. “Tunggu sebentar, ya.”

Dewo berdiri dan berlari kecil ke mobilnya yang terparkir cukup jauh di depan rumah.

Yati menunggu dalam diam. Dilihatnya Dewo yang mengambil sesuatu di dalam mobilnya, lantas kembali lagi dengan cepat ke dekatnya sambil membawa beberapa kertas.

Dewo menyodorkan apa yang dibawanya kepada Yati.

“Apa ini, Mas?” tanya Yati.

“Ini surat pengurusan isbat nikah,” jawab Dewo. “Mas mau kamu tanda tangani surat ini.”

“Mmm… buat apa, Mas?”

“Supaya pernikahan kita disahkan secara hukum, Ren. Jadi aku juga bisa secepatnya ngurusin surat perceraiannya,” papar Dewo. “Dengan begitu, Tito bisa dapetin hak-haknya juga secara hukum. Status Tito, akta kelahiran Tito, dan segala macamnya jadi bisa diurus nantinya. Kamu ngerti, kan?”

Yati terdiam, mengangguk mafhum.

“Dan ini…,” ucap Dewo sambil merogoh sakunya, lalu memberikan secarik kertas kepada Yati, “buat kamu.”

Yati mengernyit. “Apa ini, Mas?” tanyanya sambil membuka lipatan kertas itu.

“Itu cek,” jawab Dewo. “Tolong kamu terima.”

Yati refleks menutup mulutnya yang agak menganga melihat jumlah yang tertera di atas kertas itu. Dia lalu menatap Dewo tajam, lantas kembali memandang kertas yang dipegangnya.

“Tolong kamu simpan cek itu, Ren,” ujar Dewo. “Kamu bisa buat itu sebagai tabungan untuk biaya hidup kalian.”

Yati menggeleng pelan, merasa tak percaya. “Kamu serius, Mas?” Ditatapnya wajah Dewo lekat-lekat.

Dewo mengangguk santai.

“3,5 miliar…?” ucap Yati dengan suara tertahan.

“Cuma itu yang bisa Mas kasih ke kamu, Ren,” imbuh Dewo. “Mudah-mudahan itu bisa menggantikan apa yang udah Mas ambil dari kamu, sekaligus sebagai kompensasi Mas yang nggak pernah kasih nafkah buat kalian dari dulu.”

Yati terpaku sejenak menatap kertas itu. Sesaat kemudian dia menyodorkannya kembali kepada Dewo. “Maaf, Mas. Aku nggak bisa terima uang sebanyak ini.”

Dewo segera menolak tangan Yati. “Nggak, Ren, tolong kamu terima. Kamu ingat dulu Bapak Mas pernah pinjam uang dari kamu, kan?”

Yati bersikeras menyodorkan cek itu kembali kepada Dewo. “Iya, Mas. Tapi kan nggak sebanyak ini? Lagian aku udah…”

“Tolong, Ren…,” potong Dewo. “Almarhum Bapak nggak akan tenang di alam sana kalau kamu nggak terima uang ini.”

Yati terperanjat. Tangannya melemah, menuruti dorongan tangan Dewo untuk mengembalikan cek itu kepadanya. “Pak Bimo udah…”

Dewo mengangguk. “Sekitar dua bulan yang lalu,” ujarnya menjelaskan.

Yati terdiam. Pandangannya menyorot lemah ke secarik kertas yang ada di tangannya. Batinnya kembali berkecamuk.

Suasana hening sejenak.

Dewo menghela napas panjang, tertunduk. “Dulu, Bapak ditipu orang, Ren.”

Yati memandangi Dewo, masih membisu.

“Uang ratusan juta yang Bapak pinjam dari kamu buat menebus rumah warisan itu ludes karena Bapak tergiur investasi bodong,” lanjut Dewo. “Waktu tau dia udah ditipu orang, dia marah besar dan kena serangan jantung. Dan setelah diperiksakan ke dokter, ternyata serangan jantung Bapak lumayan parah. Dia juga kena stroke, sampai-sampai sebagian anggota tubuhnya lumpuh.

“Keluarga Mas ganti-gantian ngerawat dia, sampai akhirnya kondisinya membaik. Mas benar-benar bersyukur. Tapi, setelah kejadian itu, Mas jadi bingung. Bingung harus gimana mengembalikan semua uang itu ke kamu. Bude sama Bulik-nya Mas juga nggak bisa ngelakuin apa-apa. Mereka juga nggak punya banyak uang. Akhirnya, Mas cuma bisa diam. Mas nggak berani pulang ke sini, Ren.

“Waktu Mas bingung dan stres harus ngelakuin apa, akhirnya Mas putusin buat kuliah. Mas pikir, kalau Mas selesai kuliah nanti, setidaknya Mas mungkin bisa cari kerja yang jauh lebih baik dan pulang kemari. Tapi, Mas takut, Ren. Takut kalau kamu nggak bisa nungguin Mas selama itu. Mas takut kehilangan kamu.”

Yati tertunduk, membisu.

“Tapi… Mas pikir Mas nggak punya cara lain lagi,” sambung Dewo. “Mas cuma berharap apa yang Mas takutkan nggak terjadi. Mas akhirnya kuliah, dibiayai sama Bude-nya Mas. Mas berusaha sebaik-baiknya, berharap masa depan Mas bakal cerah nantinya.

“Masa-masa itu benar-benar masa-masa yang sulit buat Mas. Selama Mas kuliah, Mas nggak berhenti mikirin kamu sama Tito yang waktu itu masih di dalam kandungan. Mas cuma bisa berdoa supaya kamu sama Tito nggak kenapa-kenapa. Bertahun-tahun Mas meyakinkan diri Mas sendiri kalau Mas pasti bisa. Mas terus berkata sama diri Mas sendiri kalau penantian Mas pasti membuahkan hasil.

“Sampai akhirnya, Mas selesai kuliah dan dapat pekerjaan. Tapi, apa yang Mas lakuin malah hal-hal yang bodoh. Mas terlalu sibuk bekerja sampai-sampai Mas ngelupain kamu. Mas terlalu fokus sama diri sendiri sampai-sampai nggak ingat lagi apa sebenarnya tujuan Mas ngelakuin itu. Bahkan, Mas juga jatuh cinta sama perempuan lain. Mas benar-benar laki-laki yang nggak berguna, Ren…. Mas memang nggak berguna….”

Dewo tertunduk. Matanya terpejam dengan kedua tangan memegangi kepalanya. Penyesalan yang luar biasa terukir di raut wajahnya yang kusut.

“Udahlah, Mas. Kamu nggak usah mikirin itu lagi…,” ujar Yati, mencoba menegarkan.

Dewo menggeleng pelan. Dia lalu mendongak, menghela napas berat. “Belakangan ini, Mas sering mimpi buruk, Ren. Mas teringat janji yang udah Mas ucapin sama kamu. Janji itu menghantui Mas terus.”

Yati kembali terdiam, membiarkan Dewo mencurahkan perasaannya.

“Mas berpikir, walaupun Mas udah menjalin kehidupan dengan orang lain, Mas tetap harus melunasi janji Mas,” kata Dewo sambil bermenung. “Mas sadar bahwa kalian itu juga keluarga Mas, dan Mas harus bertanggung jawab. Apapun bakal Mas lakuin buat kalian untuk menebus semua kesalahan Mas. Mas mau jadi Bapak yang baik di mata Tito. Mas nggak mau Tito nganggap Mas orang jahat, Ren….”

Yati tertunduk perlahan. Air matanya menitik.

“Ren… tolong kamu terima uang itu,” kata Dewo memohon. “Mas nggak akan tenang kalau kamu nggak terima uang itu, Ren.”

Yati bergegas menghapus air matanya. Dia mengangguk sambil tersenyum getir. “Iya, Mas. Aku terima. Makasih, Mas….”

“Kamu nggak perlu berterima kasih sama Mas. Itu memang udah kewajiban Mas.”

“Mmm… tapi… gimana sama istri Mas?” tanya Yati yang masih bimbang.

Dewo tersenyum. “Kamu tenang aja, Ren. Dia itu istri yang pengertian. Dia juga yang nasehatin Mas supaya cepat-cepat jenguk kalian di sini.”

“Jenguk? Emangnya kami sakit?” gurau Yati asal.

Dewo dan Yati pun tertawa. Tawa yang terdengar canggung.

Beberapa saat kemudian, suasana kembali lengang.

Yati agak melamun. Batinnya sedikit lebih tenang, namun pikirannya tetap terpaku pada Tito. Sesekali dia melihat kertas yang ada di tangan dan pangkuannya. Ingatan masa lalunya sedikit mengusik benaknya.

“Ren….” Dewo membuyarkan kesunyian.

“Iya, Mas?” sahut Yati tanpa menoleh dari cek yang ada di tangannya.

“Kalau Mas boleh tau, kenapa kamu nggak nyusul Mas waktu itu?” tanya Dewo. “Kamu nggak kepikiran sama Mas yang nggak pulang-pulang?”

Yati tetap tertunduk. Dia menghela napas. “Waktu itu Ibu marah banget sama aku, Mas. Dia ngelarang aku buat nyusulin kamu karena dia pikir kalo kamu memang suami yang baik, kamu pasti bakalan pulang. Awalnya, Ibu memang marah soal uang itu, tapi belakangan aku tau kalo ternyata alasannya bukan cuma karena itu.”

Yati terdiam, tak melanjutkan ceritanya. Dia sebenarnya tak ingin lagi membahas hal ini. Dia tak ingin membongkar masa lalu yang sudah dikuburnya dalam-dalam.

“Jadi… apa alasannya?” tanya Dewo lirih.

Yati menghela napas berat. Emosinya meninggi. “Ibu cuma mau kamu jadi suami yang bertanggung jawab, Mas,” bebernya tegas sambil menatap wajah Dewo tajam. “Aku lagi hamil waktu itu, dan Ibu cuma berharap Mas ada di samping aku. Tapi… Mas malah hilang gitu aja. Ibu cuma nggak mau aku ngerendahin diri aku di depan mata keluargamu, Mas. Dia nggak mau aku pergi jauh-jauh nyusulin kamu cuma buat bikin kamu sadar kalo kamu itu udah punya istri sama anak.”

Dewo pun terdiam. Dia tampak terpukul akan kata-kata Yati. kepalanya tertunduk, menyesali segalanya.

“Udahlah, Mas. Aku nggak mau ingat-ingat masalah itu lagi,” ujar Yati cepat. Dia mengalihkan pandangan ke kursi di depannya, menatap kosong, memenungkan anak semata wayangnya. “Aku cuma mau mikirin Tito. Dia nggak ada hubungannya sama masa lalu aku. Aku mau dia bahagia.”

“Iya, Ren. Mas paham,” ujar Dewo pelan.

Suasana lengang sejenak sebelum sesaat kemudian Dewo mengempaskan napas beratnya, membuang semua yang membebani dada dan pikirannya. Yati melakukan hal yang sama sambil melipat cek yang ada di tangannya.

“Kalian kok tinggal di sini, Ren?” tanya Dewo memecah keheningan. Dewo menengadah, melihat ke sana-kemari seakan mengecek keadaan rumah.

“Rumah yang satu lagi itu disewakan, Mas,” sahut yati singkat.

“Oh….” Dewo manggut-manggut.

“Eh, mm… Mas mau minum apa?” ucap Yati yang tiba-tiba tersentak, mencoba meringankan kecanggungan.

Dewo nyengir, tak menjawab.

“Kenapa, Mas?” tanya Yati, ikut-ikutan nyengir.

“Mmm… nggak apa-apa…,” sahut Dewo sekenanya. “Ngg… Air putih aja deh.”

“Oh, ya udah. Sebentar, ya…,” ucap Yati sambil beranjak ke dalam rumah.

***

Dalam kesempatan itu, Yati dan Dewo saling menceritakan banyak hal, terutama tentang keluarga mereka masing-masing. Yati sangat antusias mendengarkan cerita Dewo mengenai Sarah, istri baru Dewo. Wanita yang sekaligus eksekutif muda itu ternyata berasal dari Australia, sama dengan Ibunya Dewo dahulu. Proses kedekatan Dewo dengan Sarah terbilang sangat spontan. Hanya selang beberapa minggu setelah Dewo diangkat menjadi general manager, mereka langsung memutuskan menikah. Di hari yang sakral itu, Dewo menginjak umur 27 tahun, tepatnya 7 tahun yang lalu.

Mertua Dewo berkata bahwa Dewo sangat berbakat dalam dunia bisnis real estate dan properti. Tak tanggung-tanggung, orang tua Sarah itu pun langsung memercayakan perusahaan itu di tangan Dewo 2 tahun setelah dia menikahi Sarah. Sementara, Sarah sendiri sekarang sedang fokus mengurusi dua anaknya yang masih kecil. Dia hanya mendukung dan membantu Dewo di rumah, ketika pekerjaan Dewo menumpuk ataupun ketika Dewo butuh “otak tambahan”. Dewo sering meminta bantuan istrinya tentang analisa dan kalkulasi terhadap suatu keputusan besar pada setiap kesepakatan dengan mitra bisnis maupun kliennya.

Sejujurnya, apa yang dikatakan Taufan memang benar. Dewo memang sangatlah beruntung mendapatkan semua itu. Namun, Dewo lebih menganggapnya kepada kepercayaan dan amanah, bukan sekadar keberuntungan. Menurut Dewo, jika seseorang menganggap sesuatu semacam itu adalah keberuntungan, dia pasti hanya ingin merasakannya semata tanpa ingin menjalankannya. Hingga pada akhirnya apa yang kita dapatkan itu akan hilang dengan sendirinya karena tergerus waktu.

Yati pun akhirnya memahami semuanya. Dewo, keluarga Dewo, pekerjaan Dewo, dan semua yang menghalangi kepulangannya. Segalanya memang rumit, namun Yati tidak menampik bahwa itu juga merupakan garis hidupnya.

Dewo sudah tahu mengenai Yati yang tidak menikah lagi sejak melahirkan Tito. Dia sempat menanyakan tentang keinginan Yati untuk bersuami lagi, namun Yati dengan tegas berkata tidak. Tito pernah mengatakan kalau dia tidak ingin punya Bapak yang baru, dan Yati juga mengaku hidup lebih bahagia dengan jalan seperti ini. Mungkin Yati terlalu naïf untuk mengatakannya, tapi dia tidak ingin ada masalah yang baru jika dia menikah lagi. 12 tahun sudah dia hidup dengan Tito, dan 12 tahun pula dia sudah merasa lebih dari sekadar “bersuami”. Yati sudah memiliki Tito, dan dia tidak ingin yang lain.

Dewo mafhum dan menghormati segala keputusan Yati. Baginya, yang terbaik bagi Yati dan Tito adalah apa yang Yati dan Tito pikir baik bagi diri mereka sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*