Home » Cerita Seks Mama Anak » Ibuku Cintaku dan Dukaku 27

Ibuku Cintaku dan Dukaku 27

Kesakitan dan kegelisahan hati ini rasanya terus berlarut-larut, menggerogoti diriku yang sudah sangat rapuh. Bayangan akan semua yang telah dilakukan oleh Ibu benar-benar meracuni pikiranku. Otakku masih saja dipenuhi oleh kegilaan-kegilaan terkutuk itu.

Di kamar yang sunyi ini, aku merenung. Kucoba mengingat semua kejadian yang belum lama kusaksikan. Rasanya sudah tidak ada lagi yang bisa kunetralkan. Semua usaha sudah tak ada gunanya. Hatiku sudah hancur, berkeping-keping. Tidak ada lagi cara untuk menyatukannya. Apakah aku harus mulai belajar merelakan cinta di usiaku yang sekarang ini? Apakah itu hal yang normal?

Aku menghela napas berat, tertunduk menatap lantai.

Ibuku adalah orang nomor satu bagiku di dunia ini. Aku tak mungkin meninggalkannya begitu saja layaknya seorang lelaki yang meninggalkan pacarnya yang lari ke pelukan orang lain. Walau bagaimanapun juga, aku harus memaafkannya. Tapi, apa mungkin? Ibu tak hanya membuatku sakit hati, tapi dia juga sudah membuatku malu. Setiap adegan gila yang dinikmatinya bersama dengan pria-pria lain bagaikan sembilu yang terus-menerus menusuk dadaku.

Belum lagi persoalan Bapak yang aku bahkan tak tahu harus melakukan apa. Bayangkan saja, sekarang dia tiba-tiba muncul di kehidupanku setelah dia meninggalkanku selama ini. Dia juga sempat menyembunyikan jati dirinya yang sebenarnya dengan nama barunya untuk menikmati kehidupannya yang baru, yang penuh dengan kemewahan. Orang itu seharusnya tak pantas kusebut Bapak. Tapi mengapa dia memutuskan untuk kembali? Apa yang dia mau?

Aku merasa keluargaku ini bukanlah sebuah keluarga. Semua ikatan terasa terpecah belah. Sekarang, harapan kecil itu juga sudah musnah. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Aku tak tahu.

“Jgrekk…” Gagang pintu tiba-tiba menghentak, menampilkan daun pintu kamar yang terbuka.

Bu Aini kembali lagi ke kamar, sudah berpakaian lengkap. Dia tersenyum ringan padaku. “Udah siap, sayang?”

Aku mengangguk lemah. Pakaianku sudah selesai kukenakan dari tadi. Namun aku tak segera berdiri. Pikiranku masih melayang-layang.

Bunda Aini mendekatiku, masih tersenyum. Dia duduk di sampingku, lalu mengelus rambutku. “Anak Bunda kenapa? Masih ada yang dipikirin?”

Aku mengalihkan pandanganku darinya, tertunduk lagi. Aku menghela napas berat.

“Masih kepikiran tentang Rama, ya?” tanya Bunda Aini, menyelidik.

Aku tertunduk semakin dalam, tak menjawab.

“Katanya Tito udah maafin Rama… Tapi kok masih kepikiran?” tanyanya lagi. Tangannya masih betah mengusap-usap kepalaku.

Aku terdiam sejenak, mengartikan perasaanku yang tak menentu. Padahal aku baru saja menikmati pengalaman yang begitu indah dengan Bunda Aini, tapi entah kenapa ada naluri yang justru mendorongku untuk memikirkan Ibuku.

Masih sulit rasanya bagiku untuk menerima keadaan ini. Aku memang sudah memaafkan Rama, tulus dari hati. Tapi aku benar-benar tak tahu apa yang harus kuperbuat selanjutnya. Entah apa yang menyebabkan diriku merasa enggan untuk pulang ke rumah. Dilema datang bertubi-tubi ketika aku teringat akan sosok Ibuku.

“Tito udah maafin Rama kok, Bunda…,” ucapku pelan.

“Terus? Tito kok kayak masih bingung?”

Aku menghela napas beratku lagi. “Ibu, Bunda…”

“Ibu? Kenapa dengan Ibu?”

Aku menatap pahaku dengan tatapan kosong, seolah cuplikan video itu sedang bermain di pahaku. “Tito… malu liat kelakuan Ibu, Bunda…,” ujarku lirih.

Suasana lengang sejenak. Bunda Aini terdiam. Elusan tangannya terhenti. Sepertinya dia mulai sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Bunda…” Aku menegakkan kepalaku, memandangnya.

“Hmm…?” Bunda Aini menyahut. Dipandanginya wajahku balik dengan pandangan kosong.

“Bunda marah sama Ibu, nggak?”

Bunda Aini menatapku lekat-lekat. Sesaat kemudian raut wajahnya berseri kembali. Senyum menghiasi wajahnya. “Nggak kok, sayang. Bunda nggak marah sama Ibu…,” jawabnya.

Aku balas menatap wajahnya dalam-dalam, menilai keseriusannya. Sepertinya ada yang aneh dari jawabannya. Tidak masuk akal. Bagaimana dia bisa setenang itu menghadapi masalah ini? Bukankah anaknya juga terlibat? Apakah dia tidak keberatan anaknya melakukan perbuatan itu?

“Bunda beneran nggak marah?” tanyaku lagi, memastikan.

Bunda Aini akhirnya menunjukkan ekspresi yang sesungguhnya. Senyumnya hilang digantikan wajah yang perlahan berubah serius. Dia mengalihkan wajahnya dariku, menatapi kaki lemari pakaian yang ada di depan kami.

Aku hanya memperhatikannya, menunggu apa yang hendak disampaikannya dengan raut wajahnya itu.

“Kalo Tito tanya ‘Bunda marah atau nggak’, sebenarnya Bunda marah banget…,” ucapnya dengan nada dingin. “Tapi, kemarahan Bunda udah Bunda simpan sejak terakhir kali Ibunya Tito kerja di rumah Bunda…”

Alisku mengernyit, bingung. Apa maksud Bunda Aini sebenarnya? Ada hubungan apa antara kemarahannya dengan Ibu yang berhenti bekerja di rumahnya dua setengah bulan yang lalu? Apakah ada sesuatu yang terjadi pada saat itu?

Bunda Aini tiba-tiba membalas tatapanku dengan sorot mata yang tak kalah tajam. “Tito tau nggak kalo Rama punya video yang lain?” cetusnya.

Batinku tersentak, terkejut hebat. Aku tercengang mendengar kalimat Bunda Aini. Rama punya video yang lain? Apakah maksudnya video selain video-video yang pernah kulihat? Jadi, Ibu dan Rama punya pengalaman yang lain lagi? Dan aku tidak tahu sama sekali?

“Tito tau video Ibunya Tito buka baju daster batik warna coklat di kamar Rama?” tanya Bunda Aini.

Kutatap matanya dalam-dalam. Aku mengangguk lemah.

“Ada satu video yang mereka rekam sebelum video itu, dan yang Bunda tau, itu video mereka yang pertama,” ungkap Bunda Aini. “Video itu dipindahin Rama dari handycam ke komputer, tapi nggak lama kemudian Bunda nggak liat lagi. Mungkin udah dihapus sama dia.”

Perasaanku terguncang untuk yang ke sekian kalinya. Ini betul-betul masalah besar. Sekali lagi, aku terlihat seperti orang bodoh bagi Rama. Jelas sudah kalau dia memang menginjak-injak harga diri keluargaku.

“Bunda kok bisa tau?” tanyaku dengan napas tersekat.

Bunda Aini terdiam sejenak, mengingat-ingat. Pandangannya dialihkannya dariku, kembali menatap lemari pakaian yang ada di hadapan kami. Dia menghela napas panjang.

“Bunda nggak sengaja liat Rama lagi main komputer waktu itu…,” bebernya dengan nada datar. “Tapi dia bukan cuma main game kayak biasanya. Dia keliatan sibuk banget ngurusin sesuatu sambil bawa-bawa handycam ke dekat komputer. Bunda nggak tau dia lagi ngapain. Tapi waktu Bunda muncul, dia keliatan kaget banget, dan buru-buru matiin komputernya. Waktu itu Bunda tanya dia lagi apa, tapi dia bilang nggak ngapa-ngapain. Dia bilang cuma main game. Dalam hati, Bunda nggak percaya sama apa yang dibilangnya. Tapi Bunda pura-pura aja percaya sama dia.

“Waktu dia tidur, Bunda coba selidikin apa yang udah dia kerjain di komputer itu. Bunda iseng nyalain komputer dan buka semua dokumen yang ada di sana. Di situlah Bunda ngeliat video itu…”

Tubuhku lemas, seperti tak merasakan setiap sarafnya. Otakku mendadak terjejali kembali oleh kerasnya kenyataan yang sudah kudapatkan. Aku benar-benar tak menyangka, ternyata Ibu sudah pernah melakukan hal itu dengan Rama jauh sebelum ini.

Bodohnya, aku baru tahu hal ini sekarang. Sementara Bunda Aini? Dia sudah lama mengetahuinya. Sudahkah dia berbuat sesuatu? Atau sama sekali tidak berbuat apa-apa? Apakah dia tidak keberatan melihat anaknya melakukan hal semacam itu? Mengapa hal itu dibiarkan berlarut-larut? Apa sebenarnya yang ada di dalam pikirannya?

“Bunda bener-bener kaget liat video itu…,” sambung Bunda Aini. “Ibunya Tito waktu itu udah nggak pake apa-apa lagi. Rama juga udah ngelepas celananya. Mereka berdua ada di dalam kamar mandi. Ibunya Tito…”

“Bunda…!” aku refleks berseru, memotong kalimatnya. Kedua tanganku sudah kutangkupkan rapat-rapat ke telingaku. “Jangan diceritain lagi…”

Bunda Aini terperangah, seakan tersadar dari larutnya cerita yang disampaikannya. Melihatku yang tersiksa dengan segala penuturannya, Bunda Aini pun bergegas memelukku. “Tito kenapa, Nak? Iya-iya, Bunda nggak bakal ceritain lagi. Tito nggak suka, ya? Maafin Bunda, ya… Maafin Bunda…” Diciuminya kepalaku dan diusap-usapnya bahuku untuk menenangkanku.

Aku mencoba meredakan emosiku. Kujernihkan pikiranku yang kalut sambil mendinginkan dadaku yang terasa panas dan sesak.

Kamar pun lengang. Kami masih sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Mataku meredup layaknya orang yang mengantuk, namun sebenarnya tidak. Aku hanya merasa letih memikirkan Ibuku.

“Bunda…,” ucapku lemah.

“Iya, sayang?” sahut Bunda Aini yang masih memelukku erat.

“Bunda kok nggak ngehukum Rama waktu itu? Kenapa Rama bisa ngelakuin itu lagi sama Ibu?”

Napas berat Bunda Aini terasa menerpa rambutku. Dia terdiam sejenak sambil menikmati pelukannya. Tampaknya dia juga cukup sulit memikirkan hal ini.

“Bunda nggak mau terlalu fokus kepada siapa yang salah, sayang. Bunda cuma berpikir jalan yang terbaik aja,” ujar Bunda Aini seraya melepaskan pelukannya. “Waktu itu Bunda sengaja berhentiin Ibunya Tito kerja di rumah Bunda sebagai jalan keluarnya. Bunda pikir, dengan begitu, Ibunya Tito sama Rama nggak ada kesempatan berduaan lagi. Menurut Bunda, mereka berdua ngelakuin itu karena nggak ada Bunda di rumah, dan mereka berdua juga sama-sama mau.

“Ibunya Tito waktu itu sempat tanya sama Bunda, kenapa Bunda berhentiin dia. Tapi Bunda cuma jawab kalo Bunda kayaknya udah bisa ngatur rumah sendiri. Ayahnya Rama kan udah nggak ada. Jadi setidaknya kalo urusan nyuci baju sama urusan rumahan lainnya Bunda masih bisa.

“Tapi Bunda benar-benar nggak nyangka, ternyata mereka ngelakuin itu lagi setelah sekian bulan Bunda pikir masalah itu udah selesai. Bunda marah banget waktu ngeliat ada video lagi yang malah lebih parah dari sebelumnya. Di situ Bunda nggak kasih belas kasihan lagi ke mereka. Bunda putuskan buat menghukum mereka, tapi dengan cara yang lain.”

“Hukuman yang gimana, Bunda?” tanyaku tak mengerti.

Bunda Aini tersenyum getir. Dielusnya rambutku dengan lembut. “Waktu itu Bunda langsung kepikiran Tito, sayang. Bunda pikir, kalo memang Ibunya Tito bisa ngajakin Rama buat begituan, kenapa Bunda sama Tito nggak bisa? Di situlah Bunda mulai minum pil KB…”

Aku terdiam, kehabisan kata-kata. Menurutku Bunda Aini memang ada benarnya.

“Sebenarnya, Bunda nggak mau menempuh cara yang kayak gini, sayang,” lanjut Bunda Aini sambil membelai pipiku. “Menurut Bunda, cara kayak gini punya pengaruh besar ke dirinya Bunda, apalagi buat Tito yang masih kecil. Tapi, Bunda nggak nyangka, ternyata Tito udah liat video itu juga. Bunda nggak bisa ngebayangin gimana sakitnya hati anak Bunda yang ngeliat kelakuan Ibunya yang kayak gitu. Hati Bunda pun semakin teguh buat ngejalaninnya.

“Bunda nggak sanggup liat anak Bunda yang paling Bunda sayangin ini disakitin. Apapun bakal Bunda lakuin buat Tito, sayang. Apapun yang Tito minta, Bunda bakal kasih. Bunda bakal selalu ada buat Tito. Tito jangan sedih lagi, ya.”

Aku mengatupkan bibir, mengangguk lemah.

Bunda Aini kembali merengkuh bahuku, memelukku dengan penuh kasih sayang. Dikecupnya kepalaku dengan satu kecupan dalam. “Lain kali kita bakal balas kelakuan mereka lebih dari ini. Bunda bakal pake handycam itu juga buat ngerekam semua yang kita lakuin. Mereka bisa, kenapa kita nggak? Iya kan, sayang?”

Aku tak menjawab. Sebenarnya aku cukup terkejut dengan ide Bunda Aini itu, karena pikiranku tidak sampai ke sana. Aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi bila kami melakukan hal itu. Tapi, apa yang dikatakan oleh Bunda Aini memang benar. Jika Ibu dan Rama bisa melakukannya, aku dan Bunda Aini juga tak akan tinggal diam.

Namun, itu masih jauh. Saat ini, aku hanya ingin menikmati ketenanganku di dalam pelukan Bunda Aini, Ibuku yang kedua. Ada rasa senang sekaligus rasa gelisah di hatiku. Aku senang karena aku kini bisa memiliki Bunda Aini, sekaligus gelisah karena aku masih belum menyelesaikan masalahku. Walau bagaimanapun juga, aku tetap harus menguatkan diriku ketika pulang ke rumah nanti.

***

Matahari semakin turun ke ufuk barat. Hari sudah beranjak sore. Sepanjang jalan pulang, aku terus terpikir akan keadaan di rumah. Berulang kali Bunda Aini mengajakku mengobrol, namun aku hanya meladeni seadanya. Mataku sesekali kualihkan ke kantong plastik hitam besar yang ada di tanganku, tempat lauk-pauk yang sama sekali belum termakan tadi siang. Bunda Aini menghadiahkannya untukku.

Bunda Aini sepertinya mengetahui apa yang ada di dalam otakku. Berkali-kali dia mencoba menenangkan perasaanku.

“Tito masih kepikiran lagi, Nak?” tanya Bunda Aini ketika kami sudah berada di kampung kami, berjalan mengantarku menuju rumahku.

Aku tersenyum, menggeleng.

Bunda Aini terkekeh pelan. “Udah nggak kepikiran, tapi dari tadi kok ngelamun terus?”

Aku hanya cengengesan malu. Diriku memang tak pandai menyembunyikan perasaan yang sedang kurasakan.

Bunda Aini merangkul bahuku sambil mengusap-usapnya. “Udah, nggak apa-apa. Nanti pikiran itu hilang sendiri kok. Kalo ada apa-apa, bilang aja sama Bunda, ya.”

Aku mengangguk.

Bunda Aini pun tersenyum manis.

Kami sudah hampir mencapai rumah Bang Baim, yang sekaligus juga merupakan simpang jalan menuju rumahku. Aku semakin berdebar-debar. Kekuatan pijakan dari langkah-langkah kakiku terasa goyah. Perasaan resah dan gelisah itu kian pekat memenuhi dadaku. Sebenarnya masalahku tak hanya terfokus kepada Ibu, tapi juga mengenai Bapak. Aku benar-benar khawatir jika Bunda Aini bertemu dengan Bapak.

Bunda Aini dan Bapak sudah lama tidak bertemu, dan hubungan mereka berdua yang sebelumnya sudah kandas itu didasari oleh ikatan cinta yang sangat besar. Akan sangat mustahil perjumpaan itu terjadi tanpa ada reaksi emosional dari keduanya. Katakanlah Bapak sudah tak terlalu menyimpan perasaannya pada Bunda Aini, tapi bagaimana dengan Bunda Aini sendiri? Ia baru saja bercerita bagaimana manis dan pedasnya masa lalu yang dialaminya bersama Bapak, dan saking cintanya ia kepada Bapak, seluruh foto-foto kenangan masa lalunya pun masih tersimpan rapi. Aku tak bisa membayangkan bagaimana terguncangnya perasaan Bunda Aini ketika bertatapan lagi dengan Bapak.

Kutatap wanita cantik yang berada di sampingku. Dia tersenyum padaku dengan manisnya.

Senyum Bunda Aini itu seolah menorehkan semacam rasa sakit di hatiku. Rasa sakit yang didasari oleh rasa sayangku padanya. Apa yang akan terjadi pada senyuman tulus itu beberapa saat nanti? Apakah senyuman itu akan sirna? Semoga Bunda Aini kuat menghadapinya. Aku tak ingin melihat air matanya lagi.

“Mmm… Sayang, Bunda boleh tanya, nggak?” Bunda Aini membuka obrolan lagi.

“Mau tanya apa, Bunda?” sahutku.

Wajah Bunda Aini perlahan-lahan berubah. Dia terlihat serius kali ini. “Mmm… Kalo Bunda boleh tau, kapan Tito ngeliat video itu?”

“Ngg… Kemarin, Bunda…,” jawabku asal. Padahal aku sudah melihatnya hari Minggu, dua hari yang lalu.

Bunda Aini mengangguk kecil menyambut jawabanku. “Terus, kenapa tadi Tito mau ke rumah Bunda? Kalo memang Tito marah sama Rama, kenapa Tito nggak ngomong langsung sama Rama di sekolah?”

“Aduh! Mati gue!” seruku dalam hati. Aku terperanjat. Tak kusangka akan ada pertanyaan seperti ini.

Bagaimana cara menjawab pertanyaan ini? Apakah aku harus bilang kalau siang tadi sudah terjadi banyak hal di rumah? Tidak mungkin. Semua bisa terbongkar, dan perkara semakin runyam. Tapi, apakah aku harus terus-terusan menahannya? Cepat atau lambat Bunda Aini pasti akan mengetahui perkara ini, khususnya mengenai Bapak yang sudah kembali. Akankah aku mengatakannya? Atau membiarkan Bunda Aini melihat Bapak dengan mata kepalanya sendiri? Aku benar-benar bingung.

“Ngg… Tadi, Tito… berantem sama Ibu, Bunda…,” kataku mengarang jawaban.

“Hmm…? Berantem sama Ibu?” Bunda Aini tampak terkejut.

Aku mengangguk.

“Kok bisa berantem sama Ibu, sayang? Gimana ceritanya?”

Aku langsung terdiam seribu bahasa. “Aduh, kacau! Gimana nih? Gue udah terlanjur bohong…,” kataku dalam hati.

Kira-kira jawaban apa yang bisa kuutarakan? Aku tak punya ide. Aku mengarang alasan tanpa persiapan, hingga akhirnya diriku yang jadi kelabakan sendiri.

“Lho, kok diam, sayang? Kenapa?” Desak Bunda Aini.

“Mmm… Ngg…,” aku tak bisa mengeluarkan kata-kata, semuanya terkemam di dalam mulut.

Langkahku mendadak berhenti, terpatung di pinggir jalan. Aku tertunduk dan mengernyit demi memikirkan jawaban yang terbaik.

“Sayang…” Bunda Aini mengelus lembut kepalaku. “Tito nggak mau cerita, ya?”

Aku menegakkan kepalaku, menatap wajah Bunda Aini yang sekarang tampak begitu cemas.

“Udah, nggak usah cerita kalo Tito nggak mau. Nggak apa-apa…,” ujarnya. Dia kembali merangkul bahuku dan mengusap-usapnya. “Yuk, jalan lagi…”

Sungguh lega perasaanku. Syukurlah, Bunda Aini berinisiatif mengakhiri pertanyaannya sendiri. Sepertinya dia tidak tega melihat keadaanku yang begitu tertekan.

Bunda Aini meraih tanganku, menggandengku berjalan.

“Bunda…,” ucapku.

“Iya, sayang?”

“Tangan Tito jangan dipegang dong, Bunda. Tito malu…”

Bunda Aini cekikikan. “Iya-iya… Ya udah, Bunda lepas nih.” Dia pun melepaskan tangannya yang halus.

Aku tersenyum. Kulanjutkan lagi perjalananku dengannya.

Di sisa perjalanan kami, aku terus berharap-harap cemas. Semoga saja aku bisa menghadapi semuanya, dan semoga saja apa yang kutakutkan tidak akan terjadi. Aku harap Bapak sudah pulang. Ya, semoga…

***

Langkah demi langkah sudah kulalui. Tanpa terasa aku dan Bunda Aini sudah berada di lingkungan rumahku. Aku sungguh senang ketika dari kejauhan aku tak lagi melihat mobil Bapak yang terparkir di sana. Sepertinya dia sudah pulang ke rumahnya.

Aku refleks menoleh ke samping, menatap wajah cantik Bunda Aini. Aku tersenyum simpul.

Bunda Aini menatapku balik, ikut tersenyum. “Kenapa, sayang?”

Aku menggeleng. “Nggak apa-apa, Bunda…”

Bunda Aini terkekeh kecil, lantas mengalihkan pandangannya kembali ke depan.

Mataku menatap ke sepanjang sisa jalanan. Di tengah seok langkahku, aku bermenung. Sesuatu mulai memenuhi pikiranku lagi.

Kini aku tinggal memikirkan bagaimana kelanjutan masalahku dengan Ibu. Aku masih tidak punya jalan dan upaya yang tepat. Kak Dina bersikeras kalau Ibu tak punya hubungan spesial dengan Rama. Tapi bagaimana dengan ketiga pria itu? Siapa mereka? Mengapa mereka bisa “bermain api” seleluasa itu dengan Ibu? Apa yang terjadi sebenarnya? Semakin dipikirkan rasanya dadaku semakin sesak saja.

***

Ketika jarakku dan Bunda Aini sudah dekat ke rumahku, kedua kakiku mendadak lunglai. Aku sontak menghentikan langkahku karena terkejut melihat Ibu yang tiba-tiba muncul sambil berlari tergopoh-gopoh ke arah kami. Agaknya dia sudah menantikan kami, dan mengetahui keberadaan kami yang sudah dekat dengan rumah.

“Tito…!” Dengan satu teriakan, Ibu langsung memelukku dengan eratnya. Dia menangis tersedu-sedu. Diciuminya dahiku dengan bibirnya yang sudah basah karena lelehan air matanya.

Perasaanku sempat terguncang melihat keadaannya yang lemah. Tampaknya Ibu sudah lama menungguku. Kubiarkan saja dia meluapkan emosinya. Aku hanya berdiri mematung.

“Tito ke mana, Nak…? Tito kok pergi, sayang…?” Dilepaskannya pelukannya. Dipegangnya kedua bahuku. Ditatapnya wajahku dengan matanya yang merah dan basah. “Tito mau ninggalin Ibu…? Tito nggak sayang sama Ibu…?”

Aku melengos, tak ingin melihatnya. Batinku terombang-ambing tak menentu. Melihat Ibu yang ada di depan mataku, aku kembali teringat dengan jelas akan perbuatan-perbuatan yang telah dilakukannya. Rasa sakit hatiku benar-benar tidak setimpal untuk digunakan sebagai alasan untuk memaafkannya. Nuraniku seakan terhapus oleh sajian tubuh telanjangnya yang menghamba untuk mendapatkan kepuasan seksual dari setiap lelaki. Diriku sudah hancur diterjang keputusasaan. Namun, aku juga tak mampu melihat Ibu yang seperti ini. Aku tidak pernah sanggup menyaksikan air matanya. Aku benci padanya, tapi aku juga sangat sayang padanya.

“Tito kenapa, Nak…? Tito marah sama Ibu…?” tanya Ibu dengan isakan tertahan.

Emosiku tiba-tiba tersulut lagi. Kedongkolanku padanya membesar kembali. Kenapa dia tetap tidak menyadari kesalahannya? Kenapa dia begitu tidak mengerti perasaanku? Tidakkah dia berpikir kalau apa yang sudah dilakukannya itu sebuah kesalahan besar? Aku tidak peduli seberapa besar rasa sayangku padanya, tapi mata hatiku akan tetap tertutup untuknya jika dia terus seperti ini.

“Sebaiknya kamu selesaikan masalahmu sama Tito, Yat…,” sela Bunda Aini. “Dia stres berat karena kelakuan kamu…”

Ibu termangu menatap Bunda Aini dan aku bergantian. Aku tidak tahu apakah dia paham atau masih bertanya-tanya tentang apa yang sudah diperbuatnya. Tapi Ibu tampak begitu mencerna kata-kata Bunda Aini.

“Kamu kok bisa sama Tito, Ni…?” tanya Ibu dengan nada lemah. “Tadi waktu aku ke rumahmu kok kamu sama Tito nggak ada?”

“Aku tadi ketemu dia di jalan, terus aku ajak dia ke toko…,” jawab Bunda Aini datar.

“Oh…,” ucap Ibu singkat.

“Ya udah, aku pulang dulu, ya…,” kata Bunda Aini berpamitan.

“Oh, iya, Ni…,” balas Ibu dengan senyum yang dipaksakan. “Makasih banyak ya, Ni…”

Bunda Aini tak menjawab Ibu. Dia meraih tanganku, menghadapkan tubuhku padanya. “Tito, Bunda pulang dulu, ya…,” ucapnya padaku sambil tersenyum.

“Iya, Bunda…,” sahutku.

Bunda Aini mengecup keningku, lantas melangkah pergi.

Aku menatap Bunda Aini yang menjauh dariku, meninggalkanku dalam keheningan. Kini, tiba saatnya aku menghadapi masalahku. Entah apa yang harus kulakukan. Bahkan aku juga tidak tahu apa yang harus kukatakan kemudian. Sepertinya aku hanya berpegang pada diriku sendiri.

“Tito, pulang yuk, Nak…,” ajak Ibu seraya meraih tanganku.

Aku menyentakkan tanganku, melepaskan tangan Ibu, lantas berlalu meninggalkannya. Aku hendak berjalan ke rumah sendiri.

“Tito…” ucap Ibu lirih. Suaranya terdengar sangat sedih.

Aku menahan emosiku. Kedua kakiku tetap berjalan cepat ke rumah.

***

Aku memasuki pintu depan yang tak terkunci. Kuletakkan kantong plastik yang kubawa di meja tamu, dan lekas masuk ke dalam kamarku.

Aku terduduk di atas tempat tidur, termenung tanpa tahu apa yang sedang kumenungkan. Sepanjang jalanku menuju kemari, aku hanya mendengar Ibu memanggil-manggil namaku, namun aku enggan menoleh. Kepalaku rasanya berat sekali. Semua hal terasa mengawang di atas benakku.

“Jgrekk…” Pintu kamarku terbuka, menampilkan wujud Ibu yang hanya berdiri di mulut pintu, terdiam.

Aku melirik sedikit, lantas melengos. Menyesal aku tak mengunci pintu itu.

Suasana lengang sejenak, menyisakan isak tangis Ibu yang sesekali terdengar dari mulut pintu.

Sesaat kemudian Ibu berjalan mendekatiku, lalu duduk di sebelahku. “Tito kenapa, Nak?” katanya sambil memegang tanganku.

Aku menepis tangannya, tetap terdiam.

Tangis Ibu semakin menjadi. Dilepaskannya seluruh duka lara dan air matanya. Napasnya tersendat-sendat di antara erang tangis yang terdengar pilu.

Aku mencoba menahan, namun aku tetap tak sanggup. Kepalaku tertunduk, ikut meneteskan air mata. Tega-teganya aku memperlakukan Ibuku seperti ini. Tapi aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Aku benar-benar dikuasai oleh amarah. Aku tak punya jalan lain.

Ibu tiba-tiba turun dari ranjang. Dia berlutut dan memeluk kakiku. Wajahnya yang sudah basah dan sembap itu menatapku penuh haru. “Tito… maafin Ibu, Nak… Kalo memang Ibu salah, maafin Ibu… Tapi Ibu nggak tau apa-apa, Nak… Ibu nggak tau apa-apa…”

Demi mendengarkan kata-katanya, emosiku pun meledak. “Kenapa Ibu mau ‘begituan’ sama Rama…?! Kenapa, Bu?!” seruku membentaknya. Air mataku berderai deras.

Ibu terkejut hebat. Mata basahnya terbelalak. Tampaknya dia betul-betul terjebak dengan dosa yang telah dilakukannya. Dia terdiam, tak bisa mengatakan apa-apa. Perlahan-lahan, dia tertunduk.

“Kenapa Ibu kayak gitu, Bu…?! Kenapa…?!” kataku dengan suara tertahan. Aku semakin sulit menahan tangisku.

Ibu kembali menangis. Kepalanya kian tertunduk. Mungkin dia sedang menyesali kesalahannya.

“Tito malu sama kelakuan Ibu…! Tito malu, Bu…!” bentakku lagi.

Tubuhku terasa panas, dan kepalaku berdenging menanggung emosiku yang sedang meluap-luap. Aku ingin mencurahkan segalanya, namun sepertinya tubuhku tak sanggup untuk itu. Jauh di dalam lubuk hatiku, saat ini, aku hanya ingin Ibu sadar akan perbuatannya.

“Maafin Ibu, sayang… Ibu khilaf…,” ucap Ibu lirih.

“Nggak usah panggil ‘sayang-sayang’ lagi sama Tito!” sergahku. “Ibu suka sama Rama, kan? ‘Sayang-sayangan’ aja sama Rama sana!”

Ibu menggeleng lemah. “Ibu cuma sayang sama Tito, Nak…”

“Ibu bohong!” tampikku. “Kenapa sih Ibu jahat banget sama Tito…?! Kenapa, Bu…?! Tito salah apa sama Ibu…?!”

Ibu memegang erat kakiku, menggeleng lagi. “Tito nggak salah, Nak… Tito nggak salah…,” ujarnya dengan suara serak.

“Terus kenapa Ibu mau ‘begituan’ sama Rama, Bu…?! Kenapa…?!” tegasku lagi sambil menangis.

Ibu terisak-isak. Penyesalan tampak pekat dari raut wajahnya. “Ibu khilaf, sayang… Ibu nyesel… Maafin Ibu…”

“Tito nggak bisa maafin Ibu…,” ucapku. “Ibu jahat…”

“Ibu ngaku salah, Nak… Ibu ngaku salah… Maafin Ibu, Nak… Maafin Ibu…” Ibu menatapku mengiba.

“Gimana Tito bisa maafin Ibu…?! Ibu bukan cuma main sama Rama aja, tapi sama tiga laki-laki yang tadi juga, kan…?!” timpalku. “Tito udah liat semuanya, Bu! Tito liat waktu Ibu ngeladenin tiga laki-laki itu!”

Ibu agak mengernyit. Wajahnya terlihat berubah. Dia menggeleng tegas. “Itu bukan maunya Ibu, sayang… Ibu nggak kenal sama mereka… Ibu berani sumpah…”

“Terus kenapa Ibu mau ‘begituan’ sama mereka…?!” desakku. “Sampe Ibu mau-maunya ‘gitu-gituin’ ‘anunya’ mereka…”

“Itu Ibu lakuin buat Tito, Nak,” jawab Ibu dengan raut wajah serius. “Mereka ngancam mau bunuh Tito kalo Ibu nggak ngelakuin itu…”

Aku terperangah menatap wajah Ibu. Darahku berdesir. Apa yang barusan Ibu bilang? Membunuhku?

“Percaya sama Ibu, Nak. Ibu bener-bener nggak kenal sama tiga laki-laki itu,” ujar Ibu memelas. “Ada satu laki-laki yang namanya Taufan. Kata Bapak, dia itu sebenarnya temen baiknya Bapak sekaligus manajer keuangan di perusahaan yang Bapak pimpin. Tapi, ternyata dia berkhianat sama Bapak. Dia udah menggelapkan uang perusahaan. Dia ketahuan sama Bapak, dan Bapak akhirnya pecat dia. Dia nggak terima itu, dan ngancam bakal celakain keluarga Bapak.”

Aku menatapnya tajam, terdiam.

“Ibu berani sumpah, sayang… Ibu nggak ada apa-apa sama mereka…,” timpal Ibu sungguh-sungguh.

Dalam diam, aku coba menimbang-nimbang. Untuk perkara yang satu itu, walaupun berat, sepertinya aku tetap harus memaafkannya. Aku tidak melihat kebohongan di matanya. Bisa dikatakan kalau itu adalah sebuah musibah. Aku tak patut menghakiminya untuk itu.

“Tito mau maafin Ibu, kan?” kata Ibu memohon.

Aku melengos, wajahku masih menunjukkan kemarahan. Hatiku mengeras lagi. Sekarang aku memang menerima alasan tentang hubungannya dengan ketiga lelaki itu. Tapi bagaimana dengan hubungannya dengan Rama? Dia masih belum mampu untuk menjawabnya.

“Tito kok diam aja, Nak? Tito mau maafin Ibu, kan?” desaknya.

Aku menggeleng tegas.

Ibu kembali tertunduk. Ia sesenggukan. “Maafin Ibu, Nak…”

“Tito benci sama Ibu… Ibu pembohong…,” kataku lirih.

Ibu mendongak. Ditatapnya wajahku, namun aku mengalihkan pandanganku. Dipegangnya tanganku, namun aku menepis tangannya. Dia semakin menangis.

“Maafin Ibu, Nak… Ibu nyesel…,” ujar Ibu tersedu-sedu. “Ibu janji nggak bakal ngelakuin itu sama Rama lagi… Ibu janji, Nak… Maafin Ibu…”

Aku bergeming, tak menggubris kata-katanya.

“Tito mau hukum Ibu…? Iya…?” Tiba-tiba saja Ibu meraih tanganku, dan menamparkannya ke wajahnya sendiri. “Pukul aja Ibu… Pukul…!”

Aku yang terkejut dengan tindakannya refleks menahan tanganku agar tak mengenai wajahnya. Namun Ibu terus saja memaksa agar aku memukulnya. Aku jadi tidak tega melihatnya. Ibu menangis sejadi-jadinya seakan ingin mencurahkan segala emosinya.

“Pukul Ibu kalo Tito benci sama Ibu…! Pukul Ibu, Nak…!” Ibu meraung pilu. Tubuhnya semakin melemah. Tangannya bahkan seperti tak punya tenaga lagi untuk memaksakan tanganku menerpa wajahnya.

Aku benar-benar tak sanggup melihat keadaan Ibu yang seperti ini. Sudah tidak ada lagi alasan bagiku untuk menahan pendirianku. Ibu sudah sangat menyesal.

“Udah, Bu… Udah…,” ucapku sambil turun dari ranjang. Kupeluk dirinya seerat mungkin. “Tito udah maafin Ibu…”

“Nggak, Nak… Pukul Ibu…! Pukul Ibu…!” Ibu meronta-ronta di dalam pelukanku. “Ibu udah kayak pelacur, Nak… Ibu nggak pantas jadi Ibunya Tito… Ibu perempuan nggak bener… Pukul Ibu, Nak… Pukul Ibu…”

“Nggak, Bu… Ibu perempuan baik-baik… Ibunya Tito yang paling baik… Maafin Tito, Bu…” Aku ikut menangis.

“Maafin Ibu, sayang… Maafin Ibu…,” ucapnya penuh haru, memohon ketulusan dariku.

“Iya, Bu… Tito udah maafin Ibu… Ibu jangan nangis lagi…”

“Jangan pergi lagi, Nak… Jangan benci sama Ibu…” Suara tangisan Ibu tiba-tiba terdengar begitu tertekan, seolah-olah suaranya seperti terkumpul di lehernya.

Sepertinya kata-kata benciku tadi memang sangat menusuk hatinya. Harusnya aku sadar akan ucapanku. Aku sudah melupakan pesan Kak Dina agar membicarakan ini baik-baik dengannya, tapi aku malah terbawa emosi. Ini memang salahku.

“Ibu nggak akan ngelakuin itu lagi sama Rama, Nak… Ibu janji…,” ujarnya di tengah tangisnya.

“Iya, Bu… Tito percaya kok…,” jawabku sambil mengusap-usap bahunya. “Ibu jangan nangis lagi, ya… Tito sayang sama Ibu…”

Ibu membalas pelukanku. Napasnya senguk-sengak, tersedu-sedan didera kesedihan yang berkepanjangan. Tubuhnya terasa sangat lemah. Belaian-belaiannya di tengkukku mungkin adalah tenaga terakhirnya.

Kini, aku baru paham akan apa yang dikatakan oleh Kak Dina. Aku tak boleh memusuhi Ibuku sendiri, apalagi menghardiknya. Ibu adalah orang yang telah melahirkanku dengan susah payah. Sudah sepatutnya aku menjadi anak yang terbaik baginya. Jika aku sudah menjadi anak yang baik di matanya, pastilah Ibu akan mengerti dan mendengarkan kata-kataku. Aku sungguh menyesal karena sudah memperlakukannya dengan buruk.

Beberapa saat telah berlalu. Kami begitu menikmati pelukan kami. Rasanya benar-benar damai. Napas Ibu sudah mulai teratur. Saking tenangnya dia dalam pelukanku, dia terasa seperti sedang tertidur.

“Ibu udah makan?” tanyaku memecah keheningan.

“Belum, sayang…,” jawabnya dengan suara serak dan lemah.

Aku melepaskan pelukanku. Kutatap wajahnya yang sembap itu. Kondisinya benar-benar lemah. Matanya sayu, dan senyumnya terlihat getir.

“Lho, Ibu kok belum makan?” tanyaku lagi.

“Ibu belum masak dari tadi siang…,” jawabnya sambil terkekeh kecil.

Aku tersenyum. “Ya udah, sekarang Ibu makan dulu, ya. Itu tadi Tito ada bawa lauk yang dikasih Bunda Aini.”

Ibu agak mengernyit. “Bunda…?”

Aku tersenyum simpul.

***

Bersambung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*