Home » Cerita Seks Mama Anak » Ibuku Cintaku dan Dukaku 26

Ibuku Cintaku dan Dukaku 26

Betapa terkejutnya aku dengan kalimat yang Bunda Aini ucapkan. Aliran darah dan napasku seperti berhenti seketika. Kepalaku terasa berat dan tubuhku melemas bagaikan baru saja terkena gelombang dahsyat. Apa sebenarnya yang baru saja kudengarkan ini? Apakah ini mimpi? Bunda Aini mengajakku bersetubuh? Ini mustahil. Tak mungkin.

“Kalo memang Rama dan Ibunya Tito udah ngelakuinnya berkali-kali, Tito juga bisa ngelakuinnya sama Bunda sepuas yang Tito mau…,” cetusnya lagi.

Aku semakin terperangah, nanap dengan mulut menganga. Tercengang aku memandangi wajahnya yang sungguh-sungguh. Tampaknya aku memang tak salah dengar. Aku menelan ludah. Kucoba mengumpulkan kesadaranku di tengah keadaan tak terduga ini.

“Kenapa, sayang?” tanya Bunda Aini. Senyum tipis perlahan muncul di bibirnya. Tangannya tiba-tiba memegang dadaku, merasakan degup jantungku. Senyumnya pun semakin lebar. “Tito mau ngerasain apa yang Rama lakuin di video itu, nggak?”

Aku tak mampu menjawab. Lidahku terasa kelu. Aku hanya bisa terdiam seperti orang bodoh.

“Sayang…? Mau nggak?” tanya Bunda Aini sembari memegang pipiku.

Aku yang merasakan tangan halusnya pun kembali menelan ludah. Sebuah benalu kecil muncul di benakku. Aku memang sangat menyukai kecantikan Bunda Aini. Baik paras maupun fisik. Semua yang melekat pada dirinya adalah kesempurnaan bagiku. Namun setelah mendengar semua ceritanya tadi, aku tak memikirkan itu semua. Aku terlalu terbawa kepada apa yang sudah menimpanya, dan itu malah membawaku kepada perasaan yang lain. Perasaan prihatin dan iba yang mendalam. Beberapa saat yang lalu, aku hanya menatapnya sebagai Ibu yang sempurna, itu saja.

Tetapi, sekarang pandanganku tiba-tiba berputar 180 derajat. Aku kembali menatapnya sebagai orang yang telah merebut hatiku, merebut akal pikiranku, dan merebut hawa nafsuku. Hasrat kelelakianku bangkit kembali. Di kepalaku tak ada lagi bayangan mengenai Ibu maupun Rama. Semua sirna. Aku hanya ingin kecantikan yang ada di dekatku sekarang. Bunda Aini, Bundaku yang cantik jelita. Aku pun mengangguk pelan, mengiyakan tawarannya.

Bunda Aini tersenyum dengan manisnya menerima jawabanku. Sepertinya dia memang sudah menantikan tanggapanku itu. Bunda Aini kemudian mengambil foto yang masih kupegang dan memasukkannya ke dalam kotak yang ada di pangkuannya. Dia beranjak ke lemari pakaian dan menyimpan kotak tersebut kembali ke tempatnya. Aku hanya memperhatikan dalam diam. Sesekali aku menelan ludah yang seakan tak kunjung melegakan tenggorokanku.

Sesaat kemudian Bu Aini mengambil sesuatu di dalam lemarinya. Sebuah pakaian terlipat berwarna biru muda lembut yang kainnya terlihat mengkilap dan licin. Setelah itu dia menutup pintu lemari itu dan datang padaku. “Tunggu sebentar ya, sayang…,” ucapnya sambil tersenyum dan membelai pipiku.

Aku hanya mengangguk lemah.

Bunda Aini lantas berjalan keluar dan menutup pintu kamar, meninggalkanku yang terdiam membisu.

***

Sepeninggal Bunda Aini, aku kelimpungan sendiri di dalam kamar. Berkali-kali aku menghela napas panjang, berusaha menenangkan diriku. Kuselonjorkan kedua kakiku, kupegangi pipiku, lalu kugosok-gosok pahaku sekencang mungkin dengan kedua tanganku. Namun tetap saja, aku merasa tubuhku seperti kehilangan kehangatannya.

Benar-benar tak bisa kubayangkan sedikit pun bahwa Bunda Aini akan bersedia melakukan apa yang ada di dalam video terkutuk itu denganku. Apakah ini hukuman untuk Rama? Ataukah ini bukti rasa cinta dan sayangnya padaku? Entahlah. Apapun alasannya, aku tak terlalu memikirkannya lagi. Yang ada di pikiranku sekarang hanyalah sosok Bunda Aini seorang. Sebentar lagi aku akan menikmati pengalaman yang mungkin berkali-kali lipat lebih dahsyat dari yang kudapatkan dari Kak Dina sebelumnya. Membayangkan diriku dan Bunda Aini yang beberapa saat lagi akan berdua di atas ranjang ini dalam keadaan bugil betul-betul menghantui benakku.

Entah kenapa reaksi tubuhku jadi begini. Mungkin ini disebabkan oleh diriku yang sebenarnya belum siap dengan kejutan yang diberikan Bunda Aini. Aku sungguh tegang dan gugup. Mataku tak henti-hentinya melihat pintu kamar yang tertutup itu, seolah-olah dari pintu itu akan muncul seseorang yang siap membunuhku. Kuremasi jari-jari tanganku yang dingin di tengah keadaan rahangku yang kaku dan ngilu. Setiap detik rasanya seperti siksaan.

Namun akhirnya apa yang dinantikan tiba. Bunda Aini kembali lagi ke kamar. Aku tersentak ketika pintu yang kutakuti itu tiba-tiba terbuka. Membuatku hampir terlonjak dari tempatku duduk. Tapi itu ternyata belumlah seberapa dibandingkan ketakjubanku melihat penampilan Bunda Aini saat kembali. Dia sudah melepas jilbabnya, membiarkan rambut panjang belah sampingnya tergerai indah. Dan yang lebih mencengangkan lagi, Bunda Aini tidak berpakaian serba tertutup lagi. Kini dia mengenakan pakaian yang dibawanya tadi. Ternyata pakaian itu adalah baju tidur satin model kimono yang panjangnya bahkan tak sampai ke lututnya. Lagi-lagi, aku hanya bisa meneguk ludah.

Bunda Aini tersenyum padaku. Diletakkannya pakaian yang dipakainya tadi di atas ranjang, lalu perlahan mendekatiku. “Yuk, sini sama Bunda…,” ujarnya seraya mengulurkan tangannya, bermaksud mengajakku entah ke mana.

Aku pun menurutinya saja dan mengulurkan tanganku.

Cara Bunda Aini menatapku benar-benar santai. Seperti tak ada beban di wajahnya. Wajahnya juga kelihatan agak segar dan bekas-bekas air matanya tadi sudah tak tampak. Kurasa tadi dia sempat cuci muka di kamar mandi. Bunda Aini sesekali tersenyum melihat gerak-gerikku yang kaku dan aneh. Mungkin dia tahu kalau aku sedang gugup setengah mati. Aku memang tak bisa menahannya.

Ternyata Bunda Aini hanya bermaksud pindah tempat. Dia menuntunku menuju ke sisi kanan ranjang untuk duduk di situ. Barangkali menurutnya lebih nyaman daripada duduk di bagian kaki ranjang.

Ketika kami berdua sudah duduk bersebelahan, Bunda Aini tak berkata apapun. Dia malah sibuk memperhatikanku sambil senyum-senyum. Sementara aku sendiri sudah hampir tak merasakan kakiku. Seluruh syaraf-syarafku seperti mati rasa. Aku hanya berani melirik mata Bunda Aini sesekali. Selebihnya aku habiskan dengan terdiam seperti patung.

“Tito kenapa, sayang?” tanya Bunda Aini. “Malu ngeliat Bunda kayak gini?”

Aku hanya bisa cengar-cengir, tak menjawab. Tanganku meremas kuat celana sekolahku demi menanggung rasa jengah.

Tiba-tiba saja Bunda Aini meraih tangan kiriku. Digenggamnya dengan erat tanganku sampai kemudian dia cekikikan dan melihatku dengan tatapan lucu. “Kok tangannya dingin banget, sayang?”

Lagi-lagi aku hanya bisa cengar-cengir. Bunda Aini benar-benar menekanku hingga ke titik puncak rasa maluku.

“Ya udah, sini tangan kanannya juga, biar Bunda angetin,” anjurnya.

Aku tak tahu apa maksud Bunda Aini dengan ‘menghangatkan’. Tapi tanpa pikir panjang, aku langsung menyerahkan tanganku yang satunya lagi begitu saja.

“Mmmuuaaahhh… Mmmuuaaahhh…” Bunda Aini mencium kedua punggung tanganku dengan mesra. Rupanya itu yang dia maksud dengan ‘menghangatkan’. Setelah mengecup, dia mengelus-elus kedua tanganku.

Ciumannya di tanganku itu memang sangat mujarab. Tak tahu kenapa, aku merasa lebih rileks dengan perlakuannya itu. Tubuhku pun terasa menghangat lagi. Walaupun jantungku masih berdetak keras dari biasanya, setidaknya aku jadi lebih tenang menghadapi wanita dewasa yang kecantikannya sangat ‘mematikan’ ini.

“Menurut Tito, Bunda cantik nggak?” tanya Bu Aini sambil masih mengelusi kedua tanganku.

Aku berpikir sejenak. Sesekali kulihat wajahnya yang tersenyum menanti jawabanku. Tapi bukannya menjawab, aku malah cengengesan.

“Kok Tito ketawa sih? Bunda jelek, ya?” Bu Aini melepaskan tanganku sambil cemberut manja.

“Nggak kok, Bunda,” jawabku tegas. “Bunda itu cantik banget…”

Bunda Aini tersenyum simpul, namun agak ditahan-tahan. “Masa…?”

Aku mengangguk, meyakini jawabanku.

“Terus, menurut Tito, Bunda lebih cantik pake jilbab atau nggak?” tanyanya lagi.

“Mmm…” Aku pun berpikir lagi, membanding-bandingkan penampilannya saat ini dengan penampilannya biasanya. “Kayaknya Bunda lebih cantik waktu pake jilbab…”

“Oh, gitu ya…,” jawab Bu Aini sambil mengelusi rambutnya yang tergerai indah. Tampak ada sedikit kekecewaan di wajahnya. Kelihatannya jawabanku tak sesuai dengan harapannya.

“Tapi, sebenarnya mau kayak apa pun gayanya, Bunda tetap cantik kok…,” sambungku, mencoba menghiburnya.

Pada dasarnya, aku masih bingung untuk memilih. Walaupun tidak memakai jilbab, Bundaku ini tetap saja cantik. Rambut panjangnya sekarang bahkan tampak lebih bagus daripada yang ada di foto tadi. Tampak bahwa dia cukup sering ke salon. Tapi, entah mengapa ketika aku melihat penampilannya yang seperti ini aku jadi merasa kalau aku kehilangan sosok Bunda Aini yang sebenarnya.

Bu Aini tersenyum menyambut kata-kataku. “Kenapa Tito lebih suka liat Bunda pake jilbab?” tanyanya lagi.

“Mmm… Soalnya, Tito lebih sering liat Bunda pake jilbab…,” jawabku apa adanya.

Kali ini Bunda Aini tampak puas dengan jawabanku. Dia tersenyum manis sambil mengelus rambutku. Tapi sekejap kemudian Bunda Aini berpaling. Dia membongkar tumpukan pakaiannya yang sudah terlipat rapi di atas ranjang tadi, dan mengambil jilbab beserta jepit rambutnya. Bunda Aini rupanya bermaksud memakai jilbabnya kembali.

Bunda Aini menggelung rambutnya dan menjepitnya. Jilbab paris motif abstrak berwarna campuran kuning, jingga, dan sedikit garis-garis merah itu dilipatnya menjadi segitiga, lalu dipakainya di kepalanya. Bunda Aini berdiri dan beranjak ke lemari pakaian yang ada di depan kami. Dia bercermin pada cermin yang ada di bagian kiri atas lemari itu. Jilbab itu diratakan dan ditatanya sedemikian rupa di kepalanya, lalu diakhiri dengan menyematkan jarum pentul di bagian leher dan ubun-ubunnya agar jilbab itu terpasang sempurna. Jarum pentul itu sedari tadi memang sengaja disematkan di bagian ujung jilbab tersebut agar tak hilang.

Aku hanya terdiam, menontoninya berdandan. Dari tadi pandangan mataku berulang kali menyapu ke seluruh tubuhnya. Dari jarak yang tak lebih dari 1 meter ini, aku bisa menatap Bundaku ini sepuasku. Ketika aku melihat kaki putih mulusnya yang terpampang jelas itu, pikiranku pun melayang. Jika memang di atas ranjang ini terdapat baju dan rok Bunda Aini yang sudah terlipat rapi, itu artinya di dalam baju tidur itu Bunda Aini hanya mengenakan pakaian dalamnya, bukan? Membayangkan hal itu saja penisku sudah menegang dan harus kutahan semaksimal mungkin, termasuk dengan menutupinya menggunakan kedua tanganku. Lalu bagaimana dengan yang lebih dari itu? Dan seperti apa pula jika tubuhku ini bersatu dengan tubuhnya? Tak mungkin aku mampu memprediksinya. Semoga aku kuat menghadapi keadaan ini.

“Gimana, sayang? Cantik, nggak?” tanya Bunda Aini yang sudah duduk rapat di sebelah kiriku.

Aku tersenyum dan mengangguk yakin. Namun ada suatu hal yang mengganjal di pikiranku. “Bunda kok pake jilbab lagi?” tanyaku.

“Lho? Tadi Tito bilang Bunda lebih cantik pake jilbab, kan?”

Aku nyengir, mengangguk pelan.

“Ya udah…,” balas Bunda Aini, kemudian merangkulku. “Lagian apa Tito nggak mau ngikutin yang Rama lakuin di video itu? Rama waktu itu nyuruh Ibunya Tito pake jilbabnya Bunda sambil begituan, kan?” timpalnya dengan suara yang menggoda.

Batinku tersentak. Otakku kembali bekerja. Aku ingat adegan itu. Rama waktu itu memang bersetubuh dengan Ibu yang memakai jilbab Bunda Aini di kepalanya. Aku masih mengingat bagaimana mereka berasyik masyuk dengan hebatnya, dan bagaimana Rama begitu puas dengan Ibu yang berperan seperti layaknya Bunda Aini yang tengah dilanda nafsu.

“Dasar anak kurang ajar! Rupanya diam-diam dia nafsu sama Bundanya sendiri,” maki Bunda Aini tiba-tiba. Ia melengos, menatap lantai, seakan-akan sedang memarahi lantai.

Aku yang tadinya agak terbawa suasana jadi terbengong melihat tingkah Bunda Aini. Entah kenapa tingkahnya itu membuatku sangat terhibur. Luka hatiku yang tadinya hendak terbuka pun tertutup lagi karena mendengar ketidaksukaannya dengan kelakuan anaknya.

Ketika kembali melihatku, Bunda Aini tersenyum manis, melupakan makiannya barusan. “Pokoknya kalo Tito pengen begituan, bilang aja sama Bunda ya, sayang. Biar tau rasa tuh si Rama…”

Di tengah rasa takjubku dengan pembelaan Bunda Aini, aku pun membalas senyumnya, malu-malu.

Setelah itu Bunda Aini tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Dia hanya sibuk memandangi wajahku sambil senyum-senyum sendiri dan mengelus-elus bahuku yang ada dalam rangkulannya. Pandangannya seperti meneliti ke seluruh celah. Mata, hidung, bibir, pipi, dahi, bahkan helaian rambutku pun tak lepas dari sorotan matanya itu.

Lama-kelamaan aku merasakan cara Bunda Aini memandangiku agak berubah. Matanya tak terlihat berbinar lagi sebagaimana ketika hasrat keibuannya memancar. Sekarang matanya lebih sayu dengan pandangan yang kosong. Wajahnya yang putih mulus menjadi agak kemerahan. Aku pernah melihat wanita dewasa yang menunjukkan gelagat seperti ini sebelumnya. Ini kurang lebih sama dengan Ibu dan Kak Dina yang sedang dilanda nafsu berahi waktu itu. Aku pun menelan ludah. Sepertinya aku benar-benar harus menyiapkan diriku saat ini, karena syahwat Bunda Aini tampaknya sudah mulai meningkat.

“Bunda kok ngeliatin Tito terus?” tanyaku memecah keheningan.

Bunda Aini tersenyum tipis. “Tito ganteng, sayang…”

Aku menelan ludah. Kegugupanku datang lagi. Darahku berdesir hebat di pipiku, dan rahangku kembali terasa ngilu. Jantungku berdebar kian keras menghantam-hantam dadaku.

Sesaat kemudian Bunda Aini mendekatkan wajahnya ke wajahku. Perlahan tapi pasti, hembusan napasnya terasa semakin dekat ke wajahku, dan Bunda Aini pun mendaratkan satu ciuman mesra di pipiku. Entah kenapa wajahku jadi terasa sangat sensitif. Ketika bibir Bunda Aini menyatu dengan pipiku, aku merasakan rangsangan yang luar biasa. Sentuhan bibirnya terasa menggelitik saraf-saraf di wajahku.

Namun ternyata ciumannya tak sampai di situ. Bunda Aini ternyata melakukannya lagi dan lagi. Dia menciumi seluruh wajahku yang bagian kiri berkali-kali. Nafsuku yang memang sudah bangkit pun menikmatinya dengan membiarkan Bunda Aini memuaskan hasratnya. Hingga suatu ketika, tanpa kuduga Bunda Aini merengkuh kepalaku dan mencium bibirku.

Bunda Aini mencium bibirku cukup lama. Bibirnya seperti mengemut bibirku yang hanya terdiam pasif. Aku benar-benar menikmati kelembutan bibirnya. Bunda Aini mengelus-elus rambutku, sementara tangan kananku dipegang erat oleh tangan kirinya. Napas kami berdua menderu-deru menerpa wajah satu sama lain.

Ciuman Bunda Aini tiba-tiba terlepas. Dia menatapku dengan senyum menggoda. “Bajunya Bunda buka ya, sayang…,” katanya seraya membuka setiap kancing yang ada di baju seragam sekolahku.

Aku tak menjawab. Kubiarkan saja kancing-kancing bajuku dilepas Bunda Aini satu per satu. Aku masih melayang-layang karena efek ciumannya tadi. Sampai sekarang aku masih tak menyangka kalau Bunda Aini, salah satu wanita pujaanku, berada di kamar tidur bersamaku dengan penampilannya yang paling intim. Aku tak menyangka wanita yang baru saja kusebut Bunda ini baru saja mencium bibirku dengan penuh nafsu. Layaknya mimpi, aku juga tak menyangka kalau wanita dewasa yang super cantik ini ingin mengajakku berhubungan badan. Semuanya masih tak terpikir olehku. Hingga tanpa terasa, aku sudah membuka baju beserta singletku.

“Rebahan di tempat tidur, sayang…,” suruh Bunda Aini.

Aku pun langsung merangkak naik ke atas ranjang dan berbaring. Aku menutupi kemaluanku yang terlihat menonjol dari luar celana dengan tanganku. Aku masih malu.

Bunda Aini ikut naik ke atas ranjang. Ia memasang posisi berbaring di sebelah kananku. Sekejap kemudian dia mencium bibirku lagi. Kali ini dia mencium sambil meraba-raba dadaku yang telanjang.

“Cupp… Cupp… Mmhhh… Cupp…” Bibir Bunda Aini mengecup-ngecup bibirku dengan intens, hingga kehangatan nafasnya pun bisa kurasakan.

Aku benar-benar terangsang. Tubuhku bahkan sampai tersentak-sentak kecil karena geli ketika Bunda Aini mengusap-usap dan memilin puting dadaku dengan lembut. Aku hanya bisa membalas tekanan bibirnya ke bibirku agar terasa lebih nikmat.

Beberapa saat kemudian, Bunda Aini berhenti menciumku. Dia bangkit untuk duduk bersimpuh. Diliriknya kedua tanganku yang masih menutupi tonjolan kemaluanku. “Tangannya dibuka dong, sayang…,” pintanya sambil tersenyum.

Aku peringisan karena malu. Tapi aku tetap membuka tanganku, menunjukkan kemaluanku yang sudah tampak mencuat di dalam celana sekolahku.

Bunda Aini agak terpana melihat tubuh bagian bawahku itu. Dia tersenyum genit padaku. “Bunda buka, ya…”

Aku mengangguk.

Jari-jari Bunda Aini pun melepas kaitan celanaku dan menarik perlahan-lahan resletingnya yang terasa agak ketat karena penisku yang membengkak. Aku mencoba menghilangkan rasa maluku dengan mencuri pandang ke arah paha Bunda Aini yang tak tertutup sempurna oleh baju tidur berbahan licin itu. Tapi yang ada aku malah bertambah malu karena penisku malah tambah mengeras dan menampakkan sesuatu ketika isi celanaku terpampang di hadapannya.

“Lho? Tito ngompol, ya?” ejek Bunda Aini sambil cekikikan.

“Nggak kok, Bunda. Tito nggak ngompol kok…,” kataku membela diri.

“Jadi ini apa?” Bunda Aini menunjuk celana dalamku yang sudah basah karena lendir.

“Ngg… Tito nggak tau, Bunda. Tapi itu bukan air kencing kok…”

Bunda Aini mendekati wajahku, lalu mengecup bibirku. Setelah itu dia tersenyum sambil membelai pipiku. “Bunda tau kok, sayang,” bisiknya mesra. “Bunda cuma bercanda. Dulu Bunda kan punya suami juga…”

Aku terbengong. “Iya juga, ya?” pikirku. Ternyata Bunda Aini sedang mempermainkanku saja.

Bunda Aini kemudian bergerak lagi. Dia menuju ke dekat kakiku. Dipegangnya kedua sisi celana sekaligus celana dalamku, bermaksud memelorotkannya. Dia melihatku sambil tersenyum centil. Senyum yang baru kali ini kulihat terukir di wajah Bunda Aini. Ketika Bunda Aini menarik ke bawah, aku pun menaikkan pantatku untuk mempermudahnya. Akhirnya terbeberlah kemaluanku untuk kesekian kalinya di depan salah satu wanita pujaanku.

Bunda Aini punya reaksi yang sama dengan Kak Dina, merasa kaget dengan ukuran penisku. Dia cukup lama memperhatikan kemaluanku itu. Aku sebenarnya agak minder dengan ukurannya yang konon kata Kak Dina lebih besar dan lebih panjang dari anak-anak seumuranku. Aku merasa punya kelainan. Tapi ketika Kak Dina berkata bahwa dia justru menyukainya, aku jadi sedikit percaya diri. Kuharap Bunda Aini punya pendapat yang sama dengan Kak Dina.

“Burungnya Tito kok udah sebesar ini, sayang?” ungkap Bunda Aini yang terkejut.

Aku meringis. “Ngg… Tito nggak tau, Bunda. Jelek, ya?”

Bunda Aini tersenyum, masih dengan ekspresi kagetnya. “Nggak kok, sayang. Nggak jelek kok,” ujarnya. “Bunda agak kaget aja punyanya Tito udah segini. Padahal Tito belum dewasa.”

Aku sudah menduganya. Ternyata Bunda Aini berpendapat sama dengan Kak Dina. Tapi jika dipikir-pikir, apa yang dikatakan mereka memang wajar. Waktu aku menonton video terkutuk itu, aku memang sempat melihat ukuran penis Rama, dan miliknya memang tak sepanjang dan sebesar milikku.

Bunda Aini kembali mendekatiku. Wajahnya didekatkannya ke wajahku. “Kayaknya ini gara-gara keturunan bule dari Bapaknya Tito nih,” bisiknya sambil meraba-raba puting dadaku lagi.

“Aduh… Geli, Bunda…,” keluhku sambil tertawa kecil. “Emangnya kenapa kalo Bapaknya Tito bule, Bunda?”

“Kan mungkin aja gara-gara itu burungnya Tito jadi gede…,” jawabnya dengan senyum menggoda.

“Oh, gitu ya, Bunda…,” jawabku sekenanya sambil menggeliat karena rabaan tangannya. “Nghh… Udah dong, Bunda… Geli banget…”

Bunda Aini cekikikan. Akhirnya dia melepaskan jarinya dari puting dadaku. Dia kembali duduk bersimpuh. Diperhatikanya penisku yang mengeras dan mengeluarkan lendir bening. “Hmm… Kayaknya Bunda bakal keenakan nih…,” ucapnya. Diliriknya aku dengan lirikan penuh misteri.

“Keenakan, Bunda?” balasku tak mengerti.

Bunda Aini tak menjawab. Tiba-tiba tangan halusnya meraba kemaluanku.

Aku pun tersentak kaget. Tubuhku langsung belingsatan. Kedua kakiku gelisah dan jari-jarinya menekuk-nekuk tak karuan merasakan kelembutan tangan dan jari-jari Bunda Aini di kemaluanku. Aku kegelian setengah mati. “Bunda… Ngghhh… Bunda… Geli…,” rengekku.

Bunda Aini seakan tak peduli. Dia malah menatapku sambil tersenyum senang seakan-akan menikmati penderitaanku. Penisku semakin mencanak dan mengeras. Lendirku keluar banyak membasahi perut bagian bawahku.

Di tengah kegelianku, tanpa kusadari tiba-tiba tanganku refleks memegang paha Bunda Aini. Bunda Aini agak terkejut dengan tindakanku itu. Tapi alih-alih menghentikan kelakuannya, dia malah meneruskannya sambil tersenyum semakin centil. Sesekali Bunda Aini mendesis-desis, memperparah kegelian dan imajinasi mesumku terhadapnya.

Ketika aku sudah menggeleng-geleng saking gelinya, Bunda Aini pun menghentikan aksinya. Matanya menatap kemaluan dan wajahku bergantian, seolah-olah sedang mengamati hasil ‘eksperimen’ yang sudah dilakukannya. Dadaku naik turun terengah-engah, sementara penisku sendiri mengeluarkan begitu banyak lendir yang bening dan lengket karena rangsangan yang dibuat tangan mulus Bundaku ini.

“Tangannya genit, ya…,” ujar Bunda Aini yang melihat tanganku masih memegangi pahanya.

Aku nyengir. Kulepaskan tanganku dari pahanya.

“Kalo mau pegang-pegang, jangan cuma di paha Bunda dong…,” katanya dengan senyum genit. Bunda Aini tiba-tiba tegak berlutut dan menghadap ke arah wajahku yang masih memperhatikannya dalam posisi berbaring. Disampirkannya bagian depan jilbabnya ke pundak kiri dan kanannya. Dengan gerakan menggoda, ia kemudian menarik ikatan baju tidurnya. Kedua tali yang berada di bagian pinggang itu langsung terlepas dengan mudahnya karena bahannya yang licin.

Jantungku berdegup kencang dan seluruh tubuhku semakin memanas demi melihat gelagat Bunda Aini yang tampaknya hendak membuka baju tidurnya. Walau gugup, aku tetap mencoba fokus memperhatikan. Kupersiapkan batin dan jiwaku, karena sesaat lagi mataku ini akan menyaksikan seluruh keindahan yang melekat pada dirinya.

Senyuman Bunda Aini semakin lama semakin menggoda. Dia terus menatapku dengan pandangan mata yang sayu ketika dia dengan perlahan-lahan menyingkap baju tidur sensual itu. Beberapa detik aku menunggu dengan tegang, hingga akhirnya tampaklah apa yang selama ini selalu menjadi khayalanku. Betapa terkejutnya diriku karena tak menduga bahwa Bunda Aini ternyata tidak memakai apa-apa lagi di balik baju tidurnya. Bundaku yang cantik ini kini telanjang bulat di depan mataku.

Bunda Aini melepaskan dan menaruh baju tidur itu begitu saja di tumpukan pakaiannya yang terlipat di atas ranjang. Walaupun menurutku penampilannya cukup aneh karena bertelanjang sambil menggunakan jilbab di kepala, tapi itu justru memperkuat kesan seorang Bunda Aini bagiku. Jilbabnya yang memang sudah menjadi ciri khasnya itu terlihat semakin menyempurnakan seluruh aurat vitalnya yang terekspos bebas.

Bunda Aini tersenyum demi melihatku yang sedang nanar memperhatikan seluruh tubuhnya. Buah dada Bunda Aini memang besar, kencang dan menantang, sama seperti milik Ibu. Putingnya kecil dan areolanya juga berwarna coklat muda seperti payudara Ibu. Yang membedakannya hanyalah ukuran areola Bunda Aini sedikit lebih lebar dari areola Ibu yang agak kecil. Vagina Bunda Aini juga berbulu tipis seperti milik Ibu. Tidak seperti Kak Dina yang waktu itu menggunduli bulu-bulu di vaginanya. Aset-aset kewanitaan Bunda Aini itu semakin disempurnakan oleh bentuk tubuh yang padat, sintal dan molek.

Benar sekali dugaanku selama ini. Jika aku membandingkan Bunda Aini dengan Ibu dalam hal kecantikan dan kesempurnaan fisik, aku pasti akan kebingungan. Pendapat Kak Dina sewaktu aku bersamanya di dalam angkot ketika hendak belajar di rumahnya juga tak meleset. Ibu dan Bunda Aini memang sangat pandai merawat kecantikannya.

Bunda Aini kemudian bersimpuh kembali, membuat vaginanya tersembunyi di balik pahanya. “Tito sayang…?” Bunda Aini memanggilku mesra.

“Iya, Bunda?” sahutku lirih.

“Nggak mau pegang-pegang?” tawarnya dengan wajah menggoda.

Aku menelan ludah. Zakarku sudah sangat keras.

Belum sempat aku menanggapinya, Bunda Aini merangkak ke dekatku dan berbaring terlentang di sebelah kananku. “Peluk Bunda, sayang…,” pintanya.

Dengan patuh, aku pun memeluknya dalam posisi menyamping. Tanganku merengkuh perutnya. Kulit Bunda Aini yang halus ditambah aroma tubuhnya yang harum membuat nafsu berahiku semakin memuncak. Ingin rasanya aku menjelajahi seluruh tubuhnya sesukaku. Tapi aku takut terbawa suasana seperti waktu bersama Kak Dina. Aku ingin menikmati hal ini selama dan senikmat mungkin. Lagi pula aku belum pernah bersetubuh sebelumnya. Aku juga masih tegang dan gugup. Biarlah Bunda Aini yang membimbingku melakukan apa yang harus kulakukan.

“Tito mau nenen, nggak?” tanya Bunda Aini.

“Mau, Bunda…,” jawabku cepat.

Bunda Aini tersenyum manis. “Ya udah… Isap aja dadanya Bunda…”

Dengan jantung yang berdetak kencang, aku perlahan menggeser tubuhku sedikit ke bawah. Sambil agak menelungkup, aku pun mencaplok puting payudara kiri Bunda Aini dan segera mengisap-isapnya.

“Mmhhh… Sshh… Ahhh…,” Bunda Aini mendesah pelan, menikmati sedotan mulutku di buah dadanya. Tangan kirinya mengelus-elus kepalaku.

Sesaat kemudian aku berhenti. Bibirku berdecap-decap sambil melihat pentil payudara yang baru saja kusedot. Di bagian itu tampak agak basah terkena liurku.

“Kenapa, sayang? Kok berhenti?” tanya Bunda Aini dengan pandangan sayu.

“Susunya Bunda nggak ada lagi, ya?” tanyaku balik.

Bunda Aini tertawa ringan. “Bunda kan nggak melahirkan, sayang. Mana ada air susunya…” Bunda Aini pun mengusap-usap kepalaku.

“Oh…” Aku nyengir, merasa bodoh dengan ocehan polosku. Tapi aku tak terlalu menghiraukannya. Kulanjutkan lagi acara menetekku.

Bunda Aini kembali mendesah-desah. Namun tak lama kemudian desahan itu mendadak berhenti. “Berhenti dulu, sayang,” ucapnya sambil mencoba menjauhkan kepalaku dari dadanya.

Kepalaku pun terangkat. “Kenapa, Bunda?” tanyaku dengan napas memburu.

“Tito naik aja ke atas badan Bunda…,” suruhnya.

“Ke atas Bunda?”

“Iya, sayang…,” Bunda Aini menowel hidungku sambil tersenyum manis. “Tindih aja badan Bunda biar nenennya enak…”

Aku yang kegirangan dalam hati langsung bangkit dan merangkak perlahan ke atas tubuh Bunda Aini. Sempat kulihat seluruh permukaan tubuh Bunda Aini yang sangat sempurna, khususnya vaginanya yang berbulu tipis itu. Sungguh sangat erotis. Dengan diiringi napas yang semakin menderu, aku pun perlahan-lahan menindih tubuh telanjang Bunda Aini dengan tubuh telanjangku, dan memposisikan wajahku tepat di depan buah dadanya. Kini tubuhku sudah melekat dengan sempurna dengan tubuh Bunda Aini. Penisku terasa begitu nikmat ketika bergesekan dengan pahanya.

“Oohhh…,” keluh Bunda Aini ketika mulutku kembali mencucupi pentil buah dadanya. Kali ini aku menyerang yang sebelah kanan.

Aku benar-benar menikmatinya bagaikan anak bayi yang sedang menyusu. Berahiku terasa mendidih. Sambil mengisap-isap payudara kanan Bunda Aini dengan penuh nafsu, aku menggerakkan tangan kananku untuk meremas-remas payudara kirinya. Kuremas dengan lembut, karena dari Kak Dina aku tahu bahwa jika kuremas dengan kuat Bunda Aini mungkin akan kesakitan.

“Ssshhh… Aaahhh… Tito nakal ya, sayang…,” ucap Bunda Aini lirih. Dia menjamah dan meremas-remas rambutku, menikmati apa yang kulakukan.

Mendengar ucapan Bunda Aini, aku makin semangat. Isapanku kemudian pindah ke puting payudaranya yang sebelah kiri. Dan tangan kiriku pun melakukan tugas yang sama dengan tangan kananku barusan, meremas buah dadanya yang sebelah kanan pula. Aku melakukan hal itu terus-menerus. Mengganti isapanku dan meremas payudaranya sepuas-puasnya. Selain puting, aku juga tertarik untuk merambah ke bagian dadanya yang lain. Kuciumi bulatan payudaranya yang putih itu dengan rakusnya.

“Uuhhh… Tito… Sshhh… Anak Bunda nakal banget…,” ujar Bunda Aini dengan napas berat. “Aahhh… Tito suka nenen sama Bunda, sayang?”

“Hmm-hmm…,” sahutku sekenanya. Bibir dan lidahku masih menikmati sedotannya di pentil payudara kanan Bunda Aini. “Cruupss… Mmhh… Cupp… Cupp…”

Sesaat kemudian tiba-tiba saja Bunda Aini kembali menjauhkan kepalaku dari payudaranya. “Berhenti dulu, sayang…,” perintahnya.

Kepalaku pun terangkat. Mulutku berdecap-decap sambil menatap wajah Bunda Aini. “Kenapa, Bunda?” tanyaku dengan suara agak serak.

“Cium Bunda lagi, sayang…,” pintanya.

Aku pun menaati keinginannya. Aku merangkak naik dan langsung mengarahkan bibirku ke bibir indah Bunda Aini. Bunda Aini menciumku ganas sekali kali ini. Bibirnya seakan membetot bibirku. Tangan kanannya digunakannya untuk menekan kepalaku ke arahnya, sementara tangan kirinya mengelus-elus punggungku. Aku yang memang sudah terlanjur ‘panas’ pun meladeni bibirnya sebisaku. Tapi aku tetap saja kewalahan, karena Bunda Aini mahir sekali menyosor bibirku.

“Cupp…Cupp… Mmhh… Cupp…” Bibir kami pun berduel dengan panasnya.

Sungguh nikmat rasanya tubuh kami yang menempel erat seperti ini. Buah dada Bunda Aini yang besar terasa seperti bantalan empuk yang begitu merangsang syahwatku. Di tengah peraduan bibir kami, tubuh bagian bawahku juga seperti punya intuisi sendiri. Kehalusan kulit Bunda Aini membuat kemaluanku begitu nyaman. Pinggulku bergerak-gerak perlahan menikmati pergesekan antara penisku dan perut bagian bawahnya. Lendirku keluar lagi dan membuat secercah rasa dingin di perutku. Bunda Aini pun mungkin merasakannya.

Tapi ternyata Bunda Aini juga turut menikmati perbuatanku. Di tengah gencarnya ciumannya padaku, ia menggesek-gesekkan paha dan betisnya yang mulus itu ke seluruh kakiku. Bunda Aini juga mengapit dan membelit-belit kakiku seakan ingin mengalahkan gerakanku dan memberikan kenikmatan versinya sendiri. Alhasil aku pun hanyut dalam permainan panasnya.

Beberapa saat kemudian Bunda Aini menjauhkan kepalaku lagi. Bibir kami terlepas di tengah napas kami yang menderu-deru. “Tito rebahan lagi, sayang…,” ucap Bunda Aini lirih. Tangannya mendorongku untuk berbaring di samping tubuhnya.

Ketika aku sudah terlentang, Bunda Aini bangkit dan beranjak ke atasku. Dia mencium bibirku sekejap sebelum akhirnya merangkak mengangkangi tubuhku. Ketika masih dalam posisi merangkak seperti itu, Bunda Aini tiba-tiba menggerakkan tangan kanannya ke bawah. Aku bisa merasakan kalau Bunda Aini memegang kemaluanku. Aku yang penasaran dengan apa yang dilakukan tangannya pun menyingkapkan kain jilbab bagian depannya yang terjuntai dan menutupi pandanganku. Sungguh menggelegak rasanya darah ini ketika aku melihat bahwa ternyata Bunda Aini hendak bermaksud memasukkan batang penisku ke dalam vaginanya. Dia akhirnya mengajakku kepada persetubuhan yang sesungguhnya.

“Tito diam aja ya, sayang… Biar Bunda yang masukin…,” ujarnya dengan mata setengah terbuka. Tubuh Bunda Aini perlahan-lahan bergerak turun.

Tersentak batinku ketika kurasakan ujung penisku akhirnya menyentuh bibir vaginanya. Rasa tegang dan gugupku sudah benar-benar memuncak. Mendadak ada semacam ketakutan aneh yang kurasakan. Bunda Aini tampak semakin menurunkan tubuh bagian bawahnya, membuat kepala penisku seperti didesak ke dalam sebuah liang yang sempit. Pikiranku agak kalut, berpikir apakah nantinya akan sakit atau tidak.

“Slepp…” Alangkah terkejutnya aku ketika tiba-tiba saja kepala penisku menerobos liang vagina Bunda Aini begitu saja. Aku sempat merasakan basahnya lubang itu. Tapi Bunda Aini mendadak mengangkat vaginanya.

“Kenapa, Bunda?” tanyaku gugup.

Bunda Aini tersenyum. “Nggak apa-apa, sayang…,” jawabnya singkat. Diturunkannya tubuhnya lagi.

Beberapa detik kemudian aku merasakan sensasi yang lebih hebat lagi. Penisku kembali merasakan terobosan ke liang vagina Bunda Aini, dan kali ini aku bisa melihat dan merasakan kalau penisku masuk lebih dalam. Namun baru sesaat aku merasakannya, Bunda Aini mengangkat vaginanya lagi hingga terlepas dari penisku.

“Kok dilepasin lagi, Bunda?” tanyaku. “Sakit, ya?”

Bunda Aini lagi-lagi tersenyum. “Nggak kok, sayang. Bunda cuma mau ngerasainnya aja. Bunda udah lama nggak beginian…”

Aku terdiam. Kupahami alasannya itu dari raut wajahnya terlihat tenang.

Sesaat kemudian Bunda Aini kembali melakukan hal yang sama. Diturunkannya selangkangannya perlahan-lahan hingga penisku kembali menyeruak masuk ke dalam lubang kewanitaannya itu. Aku pun kembali merasakan ketegangan yang sama untuk kesekian kalinya.

Namun ternyata Bunda Aini tak mengangkat tubuhnya lagi kali ini. Ditekannya tubuhnya terus ke bawah hingga akhirnya seluruh penisku ludes tertelan vaginanya. “Aaahhh… Ssshhh… Udah masuk, sayang…,” ujarnya dengan alis mengernyit.

Napasku sempat terhenti mendadak ketika Bunda Aini dengan mulusnya memerosotkan vaginanya hingga akhirnya penisku tertanam di dalam tubuhnya yang sempurna. Saat-saat menyatunya kelaminku dengan kelamin Bunda Aini benar-benar memberikan elemen kejut yang luar biasa. Aku nanap dengan mulut ternganga sejenak sampai akhirnya aku bisa merasakan saraf-sarafku bekerja kembali. Bisa kurasakan dengan jelas sensasi akan sesuatu yang lembut, hangat, dan basah yang terjadi pada penisku. Inikah yang disebut bersanggama? Sungguh mendebarkan.

“Gimana rasanya, sayang? Enak?” tanya Bunda Aini sambil membelai pipiku.

Aku meneguk ludah. “Enak banget, Bunda…,” jawabku.

Bunda Aini tersenyum. Perlahan dia tegak dari posisinya yang agak membungkuk itu, membuat dirinya kini duduk bersimpuh dengan penisku menancap sempurna di dalam vaginanya. Bunda Aini pun menambah kepuasan mataku ketika tangannya menyampirkan kembali bagian depan jilbabnya yang terjuntai itu ke kanan dan kiri pundaknya hingga kedua buah dadanya yang menggiurkan itu terpampang jelas. Hasrat seksualku benar-benar melambung tinggi melihat pemandangan porno yang ada di depan mataku.

Bunda Aini kemudian melakukan sebuah gerakan. Ia menaikkan vaginanya perlahan, lalu menurunkannya lagi, membuat pandangan mataku fokus ke arah kemaluan kami yang saling bertautan. Gesekan yang ditimbulkan oleh gerakan yang singkat itu memberi semacam gelitikan pada penisku.

“Enak?” tanya Bunda Aini dengan wajah mesum.

Aku mengangguk pelan.

Melihatku mengangguk, Bunda Aini pun memberikan gerakan itu sekali lagi. Tapi setelah itu dia terdiam, melihat ekspresiku. “Lagi?” godanya.

Aku mengangguk lagi.

Bunda Aini kemudian memberikan gerakan itu berkali-kali untukku. Naik, turun, naik, turun. Dia melakukannya dengan perlahan-lahan sambil terus melihat ekspresiku. “Ahh… Sshh… Mmmhh.. Ahhh… Enak, sayang? Ssshh… Enak, Nak?”

Aku meringis keenakan. “Iya, Bunda… Enak…”

Tiba-tiba Bunda Aini mengambil kedua tanganku yang sedang menganggur, lalu diletakkannya di buah dadanya. “Pegang, sayang… Aahh… Sshh… Remes teteknya Bunda…,” ujarnya di tengah genjotannya.

Aku yang sedang menikmati permainannya pun merasa semakin nikmat. Adrenalinku semakin terpacu dengan meremas-remas lembut kedua buah dadanya itu. Aku sampai tak bisa berkata apapun saking hebatnya pengalaman yang kualami ini.

Bunda Aini kemudian mendadak mengubah gerakannya. Dia tak lagi menaik turunkan tubuhnya, melainkan membuat gerakan maju mundur. “Aaahhh… Enak banget, sayang…,” erangnya manja sambil ikut memegang kedua tanganku yang sedang meremas-remas payudaranya. “Burungnya Tito enak banget, sayang… Aaahhh… Oohh… Remes terus tetek Bunda, Nak… Mmmhhh…”

Mataku tak berkedip menikmati suguhan Bunda Aini. Napasku tersengal-sengal menghadapi kenikmatan yang sedang melandaku. Goyangan pinggul dan ekspresi wajah Bundaku yang sedang dilanda nafsu ini benar-benar erotis. Penisku terasa nikmat tak terkira diganyang vaginanya yang hangat dan basah itu, sementara kedua pangkal pahaku menikmati gesekan lembut bongkahan pantat sintalnya. Aku pun tak tahan untuk tidak mengeluarkan suara. “Ngghh… Bunda… Egghh… Bunda…,” keluhku nikmat.

“Ahh… Oohhh… Enak kan, sayang? Hmm…? Sshh…” Bunda Aini menatapku dengan tatapan tajam. Dia menyeringai mesum. Tiba-tiba dia mempercepat goyangan pinggulnya.

Aku yang mendapat perlakuan binalnya itu langsung mengernyit menahan syahwat yang memuncak. Suhu tubuhku seakan mendidih merasakan penisku yang seperti diaduk-aduk. Persetubuhan ini nikmat sekali. “Aahhh… Nghhh… Bunda… Enak…,” rintihku.

“Sshhh… Aaahh… Apanya yang enak, sayang?” tanya Bunda Aini di tengah goyangan hebatnya.

“Ngghh… ‘Itu’-nya Bunda…,” jawabku malu-malu.

“Itunya Bunda…?” sahutnya. “Ssshhh… Ohh… Memeknya Bunda ya, sayang…? Aaahhh…”

Nafsu berahiku pun semakin memuncak demi mendengarkan Bunda Aini yang berkata vulgar. Sekujur penisku tiba-tiba memunculkan denyutan. Ada rasa geli yang muncul. “Engghhh… Aahh… Bunda…”

“Sshhh… Oohh… Ssshhh… Kenapa, sayang…?”

Aku meremas-remas buah dadanya semakin intens, kucoba untuk memuaskan segala hasratku. “Burung Tito mau… Ngghhh… Mau kencing… Bunda…,” rintihku.

Entah kenapa Bunda Aini seperti agak kaget mendengarkan rintihanku itu. Mata sayunya menatapku tajam. Alisnya yang mengernyit itu seperti sedang memendam sesuatu. Tiba-tiba suara erangan dan desahan Bunda Aini terdengar lantang. “Oohhh… Sayaaang… Aahhh… Ayo kencing, Nak… Oohhh… Ssshhhh… Kencing, sayang… Ngghhhh… Aahhh… Kencingi memek Bunda, anakku sayaangg…”

Aku yang memang sudah sedari tadi terkena rangsangan bertubi-tubi dari Bunda Aini pun tak mampu menahan lagi. Kemaluanku berdenyut-denyut hebat melihat Bunda Ainiku yang cantik sedang telanjang bulat di atas tubuhku, menggoyang-goyangkan pinggulnya seerotis mungkin untuk membuatku mencapai puncak syahwatku. Rasa geli di penisku meningkat drastis, dan tubuhku sekonyong-konyong terasa menggigil. “Bunda… Ngghhh… Nggak tahan, Bunda… Tito kencing…”

“Croott… Croott… Croott… Croott… Croottt… ,” air maniku terasa memancar-mancar dengan kencangnya di dalam vagina Bunda Aini.

Aku menatap nanar wajah Bunda Aini ketika klimaks menghampiriku. Napasku tertahan dan dadaku sampai terangkat-angkat menanggung rasa geli yang luar biasa. Pinggulku berkontraksi sehebat-hebatnya mengeluarkan seluruh cairan puncak nafsu berahiku. Jari-jari kakiku sampai menekuk-nekuk tegang di bawah sana merasakan kenikmatan yang tiada tara. Benar-benar tak terlukiskan rasanya ketika kemaluanku berdenyut-denyut dan menyemburkan begitu banyak sperma ke dalam vagina wanita pujaanku ini.

Ketika aku masih mengejat-ngejat mengeluarkan air maniku, Bunda Aini tidak menghentikan goyangannya. Dia terus menggilas penisku yang sudah ‘termuntah-muntah’ itu dengan gerakan pinggul yang lebih gila lagi. Keningnya semakin mengernyit dan ekspresinya semakin cabul. “Ooohhh… Ooohhh… Sayangku… Bunda mau keluar, sayang… Aaahhh… Ooohhh… Anakku… Bunda keluar… Bunda keluar… Tito… sayaangg… Aaaahhhh…!”

Aku bisa menyaksikan dengan jelas tubuh Bunda Aini yang tiba-tiba mengejang dan bergetar hebat. Matanya meredup dan mulutnya sedikit terbuka. Penisku terasa dicengkam dan dipijat-pijat di dalam lubang vaginanya. Di dalam pijatan itu, zakarku juga seperti disirami oleh cairan hangat yang dihasilkan oleh liang kewanitaannya. Bunda Aini tampaknya sedang merasakan hal yang sama dengan yang kurasakan. Dia mencengkeram tanganku yang berada di buah dadanya, seakan ingin aku untuk meremasnya sedikit lebih kuat.

“Ngghhh… Aaahhh… Sayangg… Enak banget… Ooohhh…,” ucapnya di tengah tubuhnya yang sedang bergetar-getar. Bunda Aini kemudian menurunkan badannya dan menciumi bibirku dengan ganas. Tubuh bagian bawahnya yang masih terkangkang itu terus menekan-nekan kemaluanku yang terasa agak ngilu.

“Cupp… Cupp… Mmhh… Mmhh… Cupp…,” Bunda Aini menciumku dengan binalnya. Aku pun mencoba membalas semua ciumannya tak kalah panas.

Beberapa saat kemudian Bunda Aini melepaskan bibirnya. Tubuhnya masih menelungkup erat di atas tubuhku. Napasnya terengah-engah, namun dia terlihat begitu menikmati segalanya. “Tito hebat banget, ya. Bunda sampe keluar tadi… Enak banget…” Bunda Aini tersenyum puas.

“Tito juga sama, Bunda…,” jawabku dengan napas tersengal-sengal. “Bunda enak banget ngegoyangnya…”

Bunda Aini menowel hidungku. “Anak Bunda nakal banget, ya…,” ujarnya dengan senyum genit. Bunda Aini pun menciumku lagi sekejap sebelum akhirnya dia merebahkan tubuhnya di atasku.

Aku begitu menikmati keadaan ini. Beberapa saat kami terdiam, sibuk mengatur napas kami masing-masing. Aku yang sudah begitu intim dengan Bunda Aini pun tanpa ragu memeluk tubuhnya dari bawah. Kuelus-elus punggungnya dengan lembut sambil menghirup harumnya jilbab yang telah menyerap semua aroma tubuhnya. Namun sekejap kemudian aku mendadak teringat sesuatu. Pikiranku kalut seketika.

“Bunda…,” ucapku memanggilnya.

“Iya, sayang?” sahutnya dengan wajah yang masih tenggelam di atas pundakku.

“Gimana nih, Bunda?! Bunda nanti nggak bakalan hamil? Kita kan udah ‘begituan’, Bunda?” Aku mencecarnya.

Namun Bunda Aini malah tampak tenang. Di bahkan tersenyum manis padaku ketika kepalanya bangkit dan menatapku dari dekat. “Tito tenang aja, sayang. Bunda udah minum pil KB kok. Tito tau pil KB?”

“Oh, yang untuk mencegah kehamilan itu ya, Bunda?”

“Iya…,” jawabnya. “Eh, Tito tau dari mana pil KB itu buat pencegah kehamilan?”

Aku terdiam. Ini kacau. Mulutku sudah ‘kelepasan’. Aku tak mungkin berkata bahwa aku dapat informasi itu dari Kak Dina. “Mmm… Tito tau dari Ibu, Bunda,” karangku cepat. “Waktu itu Tito liat iklan KB di TV.”

“Oh, gitu…,” balasnya maklum.

“Syukurlah, gue selamat…,” ucapku dalam hati.

Bunda Aini tersenyum. Dia memberiku satu kecupan hangat di bibir.

“Bunda…,” ucapku.

“Iya, sayang?”

“Tito mau lagi…,” pintaku.

Bunda Aini agak terperangah dengan ucapanku. “Oh, iya, sayang. Bunda baru sadar. Punyanya Tito kok terasa masih tegang, ya?” Bunda Aini ternyata baru menyadari bahwa dari tadi penisku masih tertanam di dalam vaginanya dalam keadaan yang masih tegak.

Dia bangkit dan duduk bersimpuh di sebelah kiriku. Dilihatnya penisku yang basah mengkilap karena perpaduan cairan kemaluan kami. Perlahan wajahnya terlihat sumringah. “Burungnya Tito kok masih keras, sayang?”

“Ngg… Nggak tau, Bunda…,” jawabku sekenanya. Tapi kupikir aku tahu penyebabnya. Kemaluanku tak akan pernah beristirahat dengan tenang jika Bunda Aini masih telanjang di depan mataku. Merasakan dia yang baru saja menindihku dengan buah dadanya saja sudah membuat perasaaanku gelisah tak karuan, apa lagi melihat tubuhnya dari arah samping seperti ini? Lihatlah, lekuk tubuhnya benar-benar sempurna. Tak hanya dadanya yang montok, pantat dan pahanya yang padat berisi itu turut mengambil pengaruh akan ledakan nafsu berahiku yang kembali menanjak naik.

Tapi tiba-tiba perhatian Bunda Aini pada kemaluanku teralihkan. Matanya melihat ke bawah, ke arah selangkangannya sendiri. Dia bergegas mengambil baju tidurnya yang tak jauh darinya, dan menempelkan bagian dari pakaian licin itu di mulut vaginanya. Dia menunggu sebentar, lalu diusapnya selangkangannya dengan lembut.

“Kenapa, Bunda?” tanyaku menyelidik.

Bunda Aini tersenyum. “Maninya Tito keluar, sayang. Banyak banget…”

Aku langsung bangkit dari pembaringanku, penasaran ingin melihatnya. Apa yang kudapati kemudian memang benar adanya. Ada banyak cairan putih yang tertampung di baju tidur itu. Cairan itu keluar dari bibir vagina indahnya yang tertutup rapat. Aku menelan ludah, terangsang.

“Hayo… Lagi liatin apa…?” goda Bunda Aini.

Aku cengengesan malu, tak bisa berkilah kalau aku tertangkap basah sedang memperhatikan kemaluannya.

Bunda Aini tersenyum simpul seraya meletakkan baju tidur itu kembali ke tumpukan pakaiannya. Dia kemudian melihat ke arah kemaluanku. Senyumnya pun semakin lebar sebelum akhirnya dia membelai mesra pipiku. “Tito mau lagi, ya?”

Aku nyengir, mengangguk.

Bunda Aini tak menjawab. Ia hanya menanggapi keinginanku dengan merangkak perlahan menjauhiku. Digerakkannya lutut dan tangannya itu dengan gemulai layaknya seekor kucing yang anggun.

Aku yang sudah terbakar nafsu pun hanya bisa melongo memperhatikan gerakan tubuh lentik dan sensual Bunda Aini. Napasku dan denyut jantungku terpompa dengan begitu cepatnya melihat pantat semok dan sintal Bunda Aini yang berlenggok seiring langkah pahanya. Namun itu belumlah seberapa dibandingkan dengan saat mataku melihatnya berhenti merangkak tepat di tengah ranjang. Bunda Aini dengan tenangnya membiarkan vagina dan lubang pantatnya yang begitu menggiurkan itu menghadap telak ke arahku. Tubuhku langsung mendidih dengan penis mengeras setegang-tegangnya.

Bunda Aini berpegangan di bagian kepala ranjang, lantas menoleh ke belakang, tepat ke arahku yang sedang nanar melihat organ seksualnya. “Tito mau lagi kan, sayang?” ucapnya menggoda. “Sekarang masukinnya dari belakang, ya…”

Aku mencoba menenangkan dada dan kepalaku yang memanas. Kutelan ludahku berkali-kali menghadapi ‘sajian’ yang sangat fantastis ini. Tak hanya mataku, hidungku pun dapat mencium aroma selangkangan Bunda Aini yang benar-benar merangsang saraf-saraf kelelakianku untuk segera menikmati permainan selanjutnya. Perlahan-lahan aku bangkit dan memposisikan diriku untuk berlutut di belakangnya. Aku mengingat apa yang diperbuat Rama di video ‘terkutuk’ itu. Dan mungkin saja, Bunda Aini memang bermaksud ingin mengajariku bagaimana cara berhubungan badan seperti di dalam video itu.

“Sini burungnya, sayang,” ujar Bunda Aini sambil menungging dan mengulurkan tangannya ke bawah, meraih kemaluanku di antara kedua pahanya. Kenikmatan itu pun dimulai kembali ketika dia memegang penisku dengan tangan halusnya. Dia membimbing penisku untuk memasuki lubang vaginanya dengan benar. “Dorong pelan-pelan, sayang…,” perintahnya kemudian.

Dengan instruksi dan tangan Bunda Aini yang masih mengarahkan, aku pun mendorong perlahan pinggulku ke depan. Penisku yang masih basah itu pun melesak dengan cukup mulus memasuki celah vagina hangatnya. Sekali lagi, aku menyetubuhi Bunda Aini.

“Ooohhh…,” Bunda Aini mengerang lembut ketika seluruh penisku berhasil memenuhi vaginanya. “Pegang pinggang Bunda, sayang…” Diraihnya dengan cepat kedua tanganku satu per satu untuk diarahkan memegang kanan dan kiri pinggangnya. “Goyang pelan-pelan… maju-mundur…”

Kulakukan dengan baik apa yang diperintahkan Bunda Aini. Aku mencoba meniru gerakan yang Rama lakukan di video itu. Perlahan tapi pasti, aku pun bisa melakukannya.

“Aahhh… Ssshhh… Mmhhh…,” Bunda Aini mendesah-desah mesra.

Aku sempat melihat ke arah cermin lemari pakaian yang tampak menampilkan bagian samping wajah cantik Bunda Aini yang sedang mengekspresikan nafsunya. Wajahnya sungguh menggoda. Namun itu tak lama sebelum aku melihat sesuatu yang lebih menarik perhatianku, pantatnya yang montok dan padat. Bagian tubuhnya yang berada di depan mataku ini benar-benar membuat syahwatku semakin menggelegak sampai-sampai napasku tersengal-sengal. Terbayang olehku Bunda Aini yang selama ini selalu begitu sopan dan berkarisma. Namun sekarang wanita cantik itu tak lagi ‘membatasi’ dirinya untukku. Ia kini telanjang bersamaku, dengan pantatnya yang sudah ada di depan mataku dan penisku yang sudah menancap di dalam vaginanya. Aku merasa seperti sudah memiliki setiap jengkal tubuh Bunda Aini.

“Oohhh… Sayang… Enak, sayang… Aahhh… Sodok terus, Nak…,” ujar Bunda Aini di tengah badai nafsunya.

Aku yang seperti diberi semangat oleh Bunda Aini, dengan segera mempercepat ayunan pinggulku. Kupegang pinggangnya erat sambil menusukkan penisku lebih dalam.

“Mmmhhh… Yaahhh… Iya, sayang… Aahhh… Anak Bunda pinter… Oohhh… Ohhh… Terus, sayangg…,” Bunda Aini meracau keenakan.

Namun agaknya aku terlalu bersemangat. Tiba-tiba saja penisku terlepas dari vaginanya. Bunda Aini pun segera meraih kembali batang kemaluanku, dan mengarahkannya lagi ke lubang kenikmatannya. Aku mendorong lagi sesuai dengan instruksinya, hingga penisku pun masuk kembali ke dalam sarangnya.

“Sshh… Sodok-sodok lagi, sayang…,” kata Bunda Aini tak sabaran.

Aku segera menaati keinginannya. Kuayunkan lagi pinggulku dengan tempo agak cepat. Kali ini aku tidak terlalu jauh-jauh menarik penisku ketika melakukan sodokan. Aku tak ingin meleset lagi.

“Hhmmhhh… Iya, sayang… Aaahhh… Sodok memek Bunda, sayangg… Ooohhh… Tito sayaangg…,” Rintihan dan desahan mesum Bunda Aini semakin berkumandang memenuhi kamar ini.

Selama proses ‘menyodok’, mataku tidak pernah lepas dari pantatnya yang terpampang indah. Aku benar-benar memanfaatkan setiap momen untuk memuaskan hasrat ‘pertama’-ku ini. Tubuh Bunda Aini memang sangat seksi. Demi melancarkan seluruh nafsu berahi yang memenuhi hati dan pikiranku, aku pun berinisiatif mengelus dan meremas lembut bongkahan pantat Bundaku.

“Oohhh… Ssshhh… Suka sama pantat Bunda, sayang…? Aahhh… Elus terus, sayang… Aaahhh… Mmmhhh… Iyaahh… Gituuhh… Ohh… Enak, sayangku…? Oohhssshh…” Bunda Aini ternyata menyambut baik perlakuanku. Racauannya semakin meriah.

Kenikmatan akan pergesekan penisku dengan vagina Bunda Aini sudah tak terlukiskan lagi. Kupompa penisku kian cepat sambil tetap meremasi pantat montoknya. Alhasil bokong sintal dan kenyal itu pun bergegar lembut setiap kali bertemu dengan hantaman pahaku, membuat pemandangan indah bagi syahwat cabulku yang semakin naik ke ubun-ubun.

“Plokk… Plokk… Plokk… Plokk… Plokk…” Suara benturan pantat Bunda Aini dengan panggulku pun turut menyemarakkan suasana.

“Aahhh… Bunda… Bunda… Nghh…,” aku hanya mampu memanggil-manggilnya dengan mulutku yang terasa kering. Mataku yang meredup sesekali menatap kepala berjilbab Bunda Aini yang agak terdorong-dorong ke depan mengikuti pergerakan tubuhnya.

“Ooohhh… Ngghhh… Sayaangg… Mmmhhh… Enak, anakku… Oohhh nikmatt… Ssshhh… Bunda cinta Tito, sayaangg… Aaahhh… Ooohhh… Bunda sayang Tito… Ssshhh… Aahhh… Teruss sayaangg… Sodok terus memek Bunda… Oohhh…”

Mendengar erangan dan racauan Bunda Aini yang begitu mesum, aku jadi kalap. Penisku perlahan menunjukkan adanya rasa geli yang begitu menyenangkan. Aku yang tak sanggup lagi menahan puncak syahwatku pun mengeluarkan seluruh tenagaku. Kupompa penisku yang terasa licin secepat yang kubisa. “Bunda… Bunda… Eghh… Nghhh… Enak, Bunda…,” ocehku.

“Iya, sayaangg…! Aaahhh…! Sodok yang kencang…! Ooohhh yaahhh…! Enak banget, sayaangg…! Aahhh…! Mmmhhh… Aaahhh… Iyaaahhh…!” Suara racauan Bunda Aini semakin keras. Dia bahkan turut menggoyang-goyangkan pantatnya yang seksi untuk menyambut tusukan penisku. Bunda Aini tampaknya merasakan kenikmatan yang sama.

“Hngghh… Bunda… Bunda… Geli, Bunda… Enakk… Aahhh… Nghhh… Tito mau… kencingg…” Aku benar-benar tak tahan dengan gerakan-gerakan erotis tubuh wanita berjilbab ini. Kepalaku terasa penuh dan berdenging. Kulit wajahku seperti dipanggang. Tubuhku merasakan sensasi yang teramat kuat. Ada sesuatu yang hendak meledak dari dalam diriku.

“Ooohhh…! Tito…!” Suara Bunda Aini tiba-tiba seperti tertekan ketika menyebut namaku. Pantatnya bergoyang tak karuan dengan vagina yang mendadak seperti menjepit laju batang penisku.

Aku yang sudah diambang puncak nafsu seksualku langsung tersentak karena perlakuannya. Kupegang pinggangnya dengan erat dan kutusukkan penisku sedalam-dalamnya ke liang vagina Bunda Aini.

Kepala Bunda Aini kemudian terdongak. Tubuhnya melentik, mengejang, lalu bergetar hebat. Vaginanya kembali mengeluarkan cairan hangat, mengguyur penisku yang sedang tertancap di dalamnya. “Oooohhh…! Sayaangg…! Bunda keluar, sayang…! Bunda keluar…! Nghhh…! Aaaahhh…! Enak, sayangku…! Oooohhhh…!”

Mataku terbeliak dan mulutku ternganga demi menyaksikan betapa erotisnya tubuh bugil Bunda Aini yang sedang berkontraksi mengeluarkan segala kepuasan yang dirasakannya. Erangan penuh nafsu dan pantat mulusnya yang bergetar-getar hebat itu seakan menyambut semua kecabulan yang ada di otakku. Dengan satu tarikan napas yang panjang, tubuhku pun menegang kaku menyentuh klimaks dari nafsu berahiku. “Bunda…! Enak, Bunda…! Tito kencing, Bunda…! Hhnnggaaahh…! Ahhnngghhh…!”

“Croott… Croott… Croott…” Air maniku kembali menyemprot liang vagina Bunda Aini dengan ganas.

Bunda Aini seolah tak sanggup menanggung kedahsyatan gelombang puncak seksualnya. Dia ambruk ke bantal dengan menyisakan pantat yang tetap menungging tinggi, berkelojotan menerima seluruh semburan air maniku. Vaginanya berdenyut-denyut mengurut penisku. “Ngghhh… Tito sayaangg… Oohhh… Enak banget… Aaahhh… Aaahhh… Mmmhhh… Sshhhh…”

Aku mengernyit, keenakan. Hidungku kembang-kempis dilalui napas panasku. Penisku kubiarkan tertusuk dengan dalamnya di vagina Bunda Aini, mengentak-entak mengeluarkan sperma mudaku. Kuremas-remas gumpalan bokong kenyalnya untuk memuaskan gairah mesumku. Betapa indah pengalaman yang kulalui ini. Kini aku sudah merasakannya. Sungguh, kenikmatan bersetubuh itu memang dahsyat.

Beberapa saat, aku dan Bunda Aini terdiam, meresapi semua yang baru kami lalui. Tubuh kami masih bertautan oleh alat kelamin kami yang saling mengisi. Perlahan-lahan denyutan di kemaluan kami berdua kian mereda. Ketegangan penisku pun terasa berangsur-angsur berkurang.

Bunda Aini kemudian bangkit dan bertumpu lagi pada kedua tangannya. Dijauhkannya pantatnya dariku hingga penisku terlepas dari vaginanya. Segera diambilnya baju tidurnya tadi untuk kembali dibuat sebagai penyeka vaginanya.

Aku masih tak bergerak dari tempatku. Aku hanya sibuk memperhatikan semua yang dilakukannya dengan mata sayu pertanda kepuasan. Bunda Aini mengelap vaginanya dengan telaten dalam posisi menyampingiku.

“Maninya Tito banyak banget, sayang,” ujar Bunda Aini dengan cekikikan lemah.

Aku tersenyum saja menanggapinya. Entah ide dari mana, aku kemudian iseng melihat-lihat bentuk tubuh Bunda Aini dari segala sudut. Badanku memiring ke kiri dan ke kanan memperhatikan tubuh bagian depan dan belakangnya. Aku benar-benar suka dengan seluruh lekuk tubuhnya. Sangat sempurna dan menggairahkan, sama seperti tubuh Ibu. Namun tampaknya apa yang kulakukan memberikan efek susulan. Penisku kembali menegang. Nafsuku bangkit kembali.

“Liatin apa?” tanya Bunda Aini sambil senyum-senyum melihat tingkah konyolku. Tetapi kemudian Bunda Aini langsung terperangah saat sorotan matanya terarah ke kemaluanku. “Lho? Tito…? Burungnya kok tegang lagi, sayang?”

Kutatap kemaluanku yang sudah mencuat. Aku pun cengengesan sambil menutupinya. “Bunda… Tito mau lagi…,” pintaku sambil nyengir.

Bunda Aini tercengang, lalu tersenyum. “Tito mau lagi…?” dia balik bertanya, seperti tak percaya dengan permintaanku itu.

Aku tersenyum simpul, mengangguk yakin.

Bunda Aini menatap wajah dan kemaluanku bergantian. Dia seperti memikirkan sesuatu di dalam senyumnya. Sesaat kemudian Bunda Aini mengelus kepalaku. “Untuk sekarang udah dulu ya, sayang. Tito nanti kecapean, Nak. Besok mau sekolah, kan?”

Senyumku pun langsung hilang. Kecewa berat. Aku sebenarnya masih sangat ingin melakukannya lagi. Tapi kalau Bunda Aini sudah mengatakan demikian, apa yang bisa kuperbuat? Aku harus mematuhinya.

“Jangan cemberut dong, sayang…,” ucapnya sambil membelai pipiku. “Besok-besok kalo Tito mau kan kita bisa begituan lagi…”

Mendengarkan itu, aku pun bersemangat lagi. “Beneran, Bunda…?”

Bunda Aini tersenyum lebar, mengangguk. “Iya… Tapi liat-liat keadaannya juga, ya. Kalo Bunda nggak sibuk, Bunda pasti bakal kasih lagi kok.”

Aku menghela napas berat, lesu kembali. “Tapi kira-kira kapan, Bunda? Tito kan jarang ketemu sama Bunda…”

“Pokoknya Tito tenang aja… Ntar Bunda sendiri yang kasih tau Tito kapan waktunya…,” ujarnya menghiburku.

Aku masih merengut layu, kehilangan gairah. Namun di dalam hati aku mencoba mengerti keadaannya. Agaknya aku memang cukup menyerahkan hal ini kepada Bunda Aini saja. Lagi pula Bunda Aini memang lebih memahami situasinya.

“Kok anak Bunda masih cemberut? Senyumnya mana nih?” Bunda Aini menatapku mesra.

Aku pun tersenyum lebar.

“Nah, gitu dong… Anak Bunda makin ganteng kalo senyum,” pujinya. Bunda Aini kemudian melihat kemaluanku yang masih berdiri gagah. Sambil tersenyum simpul, diambilnya baju tidurnya, lalu ditutupkannya ke selangkanganku. “Udah, burungnya ditutup aja. Ntar dia ‘kencing’ lagi. Hihihi…”

Aku pun tertawa sambil memegangi kemaluanku yang tertutupi kain licin. Kemaluanku memang memalukan. Tapi aku jadi teringat sesuatu. “Bunda tadi kencing juga, ya?” tanyaku.

Bunda Aini tersenyum malu, lalu mengangguk. “Bunda udah lama nggak ‘main’ sama laki-laki, sayang. Jadi waktu Bunda orgasme sama Tito tadi rasanya enak banget…”

“Orgasme?” gumamku tak mengerti. “Orgasme itu ‘kencing enak’ itu kan, Bunda?”

Bunda Aini terkekeh. Diusap-usapnya rambutku dengan lembut. “Iya, sayang. ‘Kencing enak’ yang Tito rasain itu orgasme namanya.”

Aku menaikkan alis, mengangguk mafhum tanda mengerti.

“Ya udah, Tito pake baju sama celananya lagi, ya. Bunda mau ke kamar mandi dulu.” Bunda Aini turun dari ranjang. Diambilnya tumpukan pakaiannya tadi sembari berlenggang keluar dari kamar. Matanya sempat melirikku dengan senyum menggoda.

Aku yang disuguhi lenggak-lenggok bokong telanjang Bunda Aini yang sedang berjalan hanya bisa tercengang dan menelan ludah. Ingin rasanya aku kembali merasakan persetubuhan itu lagi. Tapi aku masih bisa memaklumi situasinya.

Ketika pintu kamar itu tertutup, kuhela napas beratku. Kusingkirkan baju tidur lembut itu dari kemaluanku untuk beranjak turun dari tempat tidur, memakai seragam sekolahku. Namun ketika aku meraih baju sekolahku, aku kembali teringat kejadian traumatis yang belum lama aku alami. Batinku mengeluhkan rasa sakit dan sosok yang sama. Dengan berat hati, aku harus mengakui kalau aku akan tetap kembali untuknya.

“Ibu…,” ucapku berbisik.

***

Bersambung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*