Home » Cerita Seks Mama Anak » Ibuku Cintaku dan Dukaku 25

Ibuku Cintaku dan Dukaku 25

Cerita Sebelumnya : Ibuku Cintaku dan Dukaku 24

Aku hanya bisa memperhatikan dan mendengarkan cerita Bu Aini dengan perasaan tak menentu. Wajah cantik wanita yang duduk di sampingku sudah basah dilinangi air mata. Bu Aini masih tenggelam dalam duka nestapa. Ia tertunduk, menghayati apa yang sudah begitu lama dilaluinya.

Kulihat foto yang ada di tanganku. Pikiran kosongku tak mampu menakwilkan apapun dari benda yang kupegang. Pandanganku pun tertuju ke kotak yang ada di pangkuan Bu Aini. Kini aku baru menyadari betapa berartinya isi kotak itu. Puing-puing masa lalunya masih tersimpan baik di sana. Sepotong bait kenangan yang sempat dimilikinya semasa hidupnya ternyata punya bagian yang begitu memilukan.

Bu Aini kemudian menatapku. Menangis, namun tetap tersenyum lembut padaku. Diusapnya kepalaku perlahan. Sorot mata sedihnya mengisyaratkan kalau Bu Aini masih menyimpan sesuatu.

Aku masih memperhatikannya. Sesekali aku melihat ke arah lain, tak sanggup terlalu lama menatap wajah sedihnya. Aku terdiam dan menanti, di ruangan sunyi yang sudah dipenuhi haru akan peliknya masa lalu.

Bu Aini kembali menatap ke depan, agak tertunduk, merenungkan apa yang ada di dalam pikirannya. Di tengah sedu sedannya, ia menghela nafas panjang. “Sejak saat itu Bunda nggak pernah lagi ketemu sama Bapaknya Tito…,” tuturnya lirih. Dengan suara yang agak serak, Bu Aini melanjutkan ceritanya. “Waktu pengambilan ijazah Bunda juga nggak liat dia. Tapi, kalaupun Bunda ketemu dia waktu itu, Bunda juga nggak mau ngomong sama dia. Hati Bunda rasanya masih sakit.”

Kupandangi Bu Aini dalam-dalam. Aku seakan bisa merasakan apa yang dia rasakan. “Ibu nggak coba ke rumah Bapak?” kataku angkat bicara, ingin tahu. “Ibu tau rumah Bapak waktu itu, kan?”

Bu Aini tak menoleh ke arahku. Ia hanya mengangguk pelan. “Bunda memang nggak bisa lama-lama jauh dari Bapaknya Tito. Bunda kangen banget sama dia,” ujar Bu Aini dengan nada lemah. “Beberapa minggu setelah pembagian ijazah, Bunda coba datangi rumahnya. Tapi apa yang dibilang Bapaknya Tito waktu di perpisahan sekolah itu memang benar. Kata Neneknya dia udah nggak tinggal di situ lagi. Tapi waktu Bunda tanya, Neneknya malah keliatan nggak suka sama Bunda. Dia nggak mau kasih tau di mana Bapaknya Tito tinggal waktu itu.”

“Tapi Bunda nggak mau nyerah gitu aja. Bunda coba cari alamat Bapaknya Tito. Bunda tanya ke temen-temennya yang dulu dekat sama dia. Untunglah waktu itu Bunda dapat alamatnya dari Rendi, salah satu temen baik Bapaknya Tito waktu itu. Tapi sayangnya dia nggak tau alamat lengkapnya. Dia cuma tau nama desanya dan di daerah mana. Tapi buat Bunda itu udah lebih dari cukup. Di situlah Bunda mulai coba nyariin keberadaan Bapaknya Tito.”

Aku termenung. Entah mengapa tiba-tiba saja aku teringat dengan Bapak. Wajahnya muncul di dalam pikiranku. Aku sungguh tak menyangka ternyata pria itu punya hubungan yang sejauh ini dengan Bu Aini. Bu Aini bahkan rela mengejarnya ke mana pun demi mendapatkan cintanya lagi. Apakah semua ini mungkin? Fakta dari mulut Bu Aini ini justru terdengar begitu mustahil.

“Waktu itu…,” lanjut Bu Aini, “Bunda benar-benar berusaha. Bunda tanya sana-sini. Banyak banget orang-orang yang bilang nggak tau. Padahal udah hampir seharian Bunda keliling di kampung itu. Tapi akhirnya Bunda bersyukur. Waktu itu Bunda ketemu sama orang yang ternyata kenal sama Pak Bimo, Kakeknya Tito. Dia juga bersedia ngantar Bunda ke tempat tujuan Bunda. Bunda senang banget waktu itu…”

Suasana lengang beberapa saat. Bu Aini tiba-tiba tampak melamun. Wajah sembapnya terlihat kosong. Aku masih terdiam dan menunggu. Bu Aini seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Tapi…,” sambung Bu Aini kemudian. Suaranya mendadak parau. Bu Aini kembali menangis. “Tapi waktu Bunda ketuk pintu rumahnya, ternyata yang ngebukain pintu itu Pak Bimo, Kakeknya Tito. Dia bilang kalo Bapaknya Tito nggak ada di rumah. Waktu Bunda tanya, entah kenapa Kakeknya Tito juga kayak nggak suka liat Bunda. Dia malah bilang, ‘jangan pernah lagi ganggu kehidupan anak saya’.”

Aku cuma bisa tercenung melihat Bu Aini yang menangis pilu. Ia menangkupkan kedua tangannya menutupi matanya yang berlinang air mata. Kesedihannya benar-benar bisa kurasakan.

“Bunda nggak tau harus ngelakuin apa lagi…,” ucap Bu Aini sambil pasrah melepaskan kedua tangannya yang tertangkup di wajahnya. “Bunda udah usahakan segalanya… Bunda juga datang sendirian, jauh-jauh cuma buat ngobatin rasa rindu Bunda… Tapi ternyata perjuangan Bunda nggak ada artinya… Bunda cuma bisa pulang dengan kecewa… Sebenarnya Bunda salah apa…? Bunda salah apa…?”

“Bunda nggak salah, Bunda…,” ucapku lirih. “Bunda nggak salah…” Aku meneteskan air mata. Aku tak bisa lagi menahan semua duka pilu Bu Aini. Bagiku, apa yang dirasakan Bu Aini adalah apa yang juga kurasakan. Dia tak boleh menanggung kesedihannya sendiri. Jika dia menangis, aku juga akan menangis untuknya.

Bu Aini menatapku. Air matanya meleleh deras di pipinya. Ada sedikit senyuman dari bibirnya yang mengatup rapat karena menahan haru. “Anakku…,” ucapnya seraya memelukku erat.

Apa yang kusematkan dalam hatiku hanyalah untuk membahagiakan orang yang kusayangi. Aku ingin melihat orang-orang yang berarti dalam hidupku selalu tersenyum. Jikalau panggilan ‘Bunda’ itu mungkin dapat menghiburnya, itu sudah pasti akan kulakukan untuknya. “Bunda jangan nangis lagi, ya…,” ujarku lirih di dalam pelukannya.

Sengal nafas dan isakan Bu Aini semakin santer terdengar. Emosinya terasa meluap-luap. Aku pernah mendengar ratapan seperti itu sebelumnya dari Kak Dina. Apakah itu juga merupakan tangis bahagia? Entahlah. Aku hanya ingin Bu Aini segera melupakan kesedihannya. Melupakan semua masa lalu yang sudah menyengsarakannya.

Bu Aini memelukku cukup lama. Dikecupnya kepalaku dengan begitu mendalam sebelum akhirnya dia melepaskan rangkulan tangannya. Ditatapnya lekat-lekat kedua bola mataku. Tersungging senyum bahagia di bibirnya. “Bunda udah lama banget nunggu Tito ngucapin panggilan itu buat Bunda, sayang…”

Aku pun mencoba tersenyum pula. “Bunda suka Tito panggil ‘Bunda’?” tanyaku sambil mengusap air mataku.

Bu Aini mengangguk lemah. Senyumnya semakin lebar, dan air matanya semakin membanjir. Dipeluknya lagi diriku untuk kedua kalinya. Kubiarkan Bu Aini menikmati tangis dan alur emosi di dalam hatinya hingga dia benar-benar merasa tenang.

Sejumlah pikiran terlintas di benakku. Mengapa wanita-wanita yang sangat kusayangi dalam hidupku selalu saja begini? Ibu, Kak Dina, Bu Aini, kenapa mereka bertiga harus mendapatkan pengalaman yang demikian pahitnya? Inikah kenyataan? Inikah takdir? Aku tak bisa melakukan apapun untuk mereka bertiga. Aku juga belum bisa menjadi apapun. Aku ini hanya anak-anak. Rasa cintaku yang sangat tipis ini belumlah cukup untuk mengobati apa yang mereka rasakan. Namun diriku ini selalu saja menjadi orang yang membuka luka lama mereka. Apakah kehidupan orang dewasa memang seperti ini? Mereka selalu penuh akan beban. Akankah aku merasakannya juga suatu hari nanti? Aku hanya bisa mengharapkan yang terbaik.

***

Damai. Itulah yang kurasakan ketika berada di dalam pelukan seorang Bunda Aini, Ibu keduaku. Entah mengapa, di balik rasa hormatku padanya selama ini, tersimpan suatu perasaan yang tak bisa kujelaskan. Aku begitu ingin memiliki dirinya, dan aku juga ingin dimiliki olehnya. Apa ini salah satu perwujudan cinta monyet itu? Entahlah.

“Waktu itu Bunda nggak tau harus mikirin apa lagi, sayang. Bunda udah nyerah…,” Bunda Aini melanjutkan ceritanya sambil memelukku. “Bunda juga dimarahin Ayahnya Bunda waktu itu karena Bunda pulang kemalaman. Ayahnya Bunda juga akhirnya tau ke mana tujuan Bunda, karena Bunda memang jawab jujur kalo Bunda ngunjungin Bapaknya Tito. Akibatnya Bunda nggak pernah dibolehin lagi keluar rumah sendirian.”

“Bunda…,” ucapku.

“Iya, sayang?” sahut Bunda Aini sembari melepaskan pelukannya.

“Kalo Bunda sedih, nggak usah diceritain lagi…,” ujarku. “Tito nggak mau liat Bunda nangis…”

Bunda Aini tersenyum lemah. Disekanya air mata yang sempat mengalir di pipiku dengan tangannya. “Nggak apa-apa, Nak. Bunda memang mau ceritain semuanya. Bunda nggak mau nyimpan beban di hati Bunda lebih lama lagi. Bunda mau Tito tau siapa Bunda, dan kenapa Tito itu berharga banget buat Bunda. Bunda mau ngejelasin semuanya bukan cuma supaya Bunda ngerasa lega, tapi supaya Tito juga bisa sayangi Bunda… Sama seperti Tito sayang sama Ibunya Tito sendiri…”

Aku menatap matanya dalam-dalam, tak menjawab. Bunda Aini memang wanita yang baik. Ketulusan hatinya selalu saja membuatku seperti merasakan limpahan berkah. Aku tak tahu apa yang dirasakan Bunda Aini selama ini. Tapi tanpa dikatakannya pun, aku sudah menganggapnya seperti Ibuku sendiri.

Sesaat kemudian Bunda Aini mengalihkan pandangannya dariku. Ia menatap kotak yang ada di pangkuannya. Dirinya kembali bermenung sejenak, mengolah-olah ingatannya. “Sejak saat itu, Bunda coba melupakan Bapaknya Tito, sayang…,” sambungnya. “Udah sekian lama Bunda berusaha… Tapi Bunda tetap nggak bisa sedikit pun menghilangkan ingatan Bunda tentang dia. Setiap kali Bunda liat piano kecil ini, Bunda selalu teringat lagi ke masa lalu. Bukan cuma rasa rindu Bunda yang datang, tapi juga rasa sakit di hati Bunda…

“Bunda tau kalo piano kecil ini terus meracuni pikiran Bunda. Tapi Bunda benar-benar nggak sanggup ngebuangnya. Benda ini berharga banget buat Bunda. Semua rasa cinta Bunda yang paling dalam ada di piano kecil ini. Entah kenapa piano ini seakan-akan terus-menerus ngasih harapan buat Bunda. Bunda nggak tau itu harapan palsu atau bukan. Yang jelas, apa yang ada di pikiran Bunda cuma Dewo, Bapaknya Tito.”

Mataku kembali memandangi foto yang kupegang. Aku tercenung, menyelami pikiranku. Sosok lelaki di dalam foto ini benar-benar sudah membuat semua orang di sekitarku terpuruk. Dia sudah menyakiti hati Ibu dan Bunda Aini. Kesalahannya sangatlah besar. Pantaskah kukatakan kepada Bunda Aini bahwa ternyata lelaki pujaannya itu sedang berada di rumahku sekarang? Pantaskah kujawab segala penantiannya selama ini terhadap orang yang dicintainya itu? Kurasa tidak. Sama sekali tidak.

Bapak sudah menghancurkan cinta Bunda Aini. Tak mungkin aku mengatakan tentang apa yang sebenarnya terjadi di rumahku. Jika aku mengatakannya, aku bisa pastikan kalau Bunda Aini akan pergi menemui Bapak ke sana, dan aku malah akan semakin membuka luka lama Bundaku. Aku tak akan membiarkan Bunda Aini tenggelam lagi ke masa lalunya yang kelam itu. Terlebih lagi yang kurasakan sekarang adalah Bunda Aini sudah cenderung mampu menekan apa yang dirasakannya dengan menjalani kehidupannya sendiri. Jadi biarlah segalanya berjalan seperti ini.

“Tito…,” ucap Bunda Aini lemah.

“Eh, iya, Bunda?” sahutku yang tersadar dari lamunan.

Bunda Aini kembali menatapku. Dia tersenyum. Dielusnya bagian belakang kepalaku dengan lembut. “Tito mau tau nggak, kenapa Bunda sekarang tinggal di kampung kita sekarang?”

Alisku agak mengernyit mencerna kalimatnya, kurang paham. Tapi sekejap kemudian aku langsung tergugah karena aku baru menyadari bahwa Bunda Aini sebenarnya bukanlah orang yang besar di kampung di mana aku tinggal. Dari ceritanya aku dapat dengan gampang menyimpulkan bahwa keluarga dan tempat tinggal di mana Bunda Aini berasal adalah dari luar kota. Aku pun mengangguk, ingin tahu. “Iya, Bunda. Bunda kok bisa tinggal di kampung itu?”

Bunda Aini tersenyum lebih lebar. Dia menghela nafas beratnya sambil menyeka pipinya yang basah dengan tangannya. Dialihkannya lagi pandangannya dariku, mencoba menggali pikirannya untuk mengumpulkan ceritanya lagi. “Ada sekitar tiga tahun Bunda nggak ngelakuin apa-apa…,” ujarnya. “Bunda nggak punya niat buat kuliah atau apapun waktu itu. Bunda masih bingung mau ngapain. Sampai akhirnya Bunda dijodohin sama seorang laki-laki… Dan laki-laki itu Ayahnya Rama…”

Aku diam saja memperhatikan wajah Bunda Aini yang tampak berubah, menunjukkan adanya kegetiran dalam ceritanya. Di sisi lain benakku sudah dapat menanggapi lika-liku ceritanya.

“Bunda sebenarnya nolak waktu Bunda mau dijodohin sama dia, tapi Bunda nggak punya daya ngelawan Ayahnya Bunda,” papar Bunda Aini. “Ayahnya Bunda udah terlanjur kepincut sama status Ayahnya Rama waktu itu yang terbilang mapan. Padahal Ayahnya Rama umurnya terpaut jauh sama Bunda waktu itu. Bunda masih 20, sedangkan dia udah 37 tahun.”

“Hah…?! 37 tahun, Bunda?!” seruku terkejut.

Bunda Aini mengangguk lemah. “Tapi walaupun Ayahnya Rama udah 37 tahun, dia masih lajang waktu itu. Mungkin karena dia terlalu sibuk merintis karirnya. Dia punya jabatan asisten kepala di perkebunan.”

“Mmm… lajang itu apa, Bunda?” tanyaku ingin tahu.

Bunda Aini tersenyum. “Lajang itu bujangan, sayang. Belum nikah…”

“Oh…” Aku pun mengangguk mafhum.

Bunda Aini kembali terdiam, bermenung. Pandangannya lurus ke depan. Tampaknya ada bagian yang sulit di dalam ceritanya. Ia pun menghela nafas panjang. “Sehari sebelum Ayahnya Rama bermaksud datang ke rumah Bunda buat acara lamaran, Bunda waktu itu pergi diam-diam…”

Tatapanku mengarah tajam pada Bunda Aini. “Bunda pergi? Pergi ke mana, Bunda?”

“Ke kampung ini… Buat ketemu sama Bapaknya Tito,” jawab Bunda Aini tanpa menoleh ke arahku. “Bunda masih berharap kalo Bunda bisa ketemu Bapaknya Tito. Padahal udah sekian tahun Bunda nggak tau apapun tentang kabarnya. Bunda nggak tau apa yang ada di pikiran Bunda waktu itu. Perasaan Bunda nggak menentu.

“Tapi, lagi-lagi Bunda nggak bisa ketemu sama Bapaknya Tito. Waktu itu kejadiannya malah lebih parah dari sebelumnya. Waktu Bunda ketuk pintu rumahnya, Bunda kaget banget karena yang keluar dari rumahnya bukan Bapaknya Tito ataupun Kakeknya Tito, tapi orang lain. Dia bilang kalo rumah itu udah dijual, dan keluarga Bapaknya Tito udah nggak tinggal di situ lagi.”

Aku yang tergemap hanya bisa memandangi wajah Bunda Aini yang tertunduk murung. Ceritanya sangat mirip dengan cerita Ibu ketika hendak menjenguk Bapak setelah tiga bulan ditinggal pergi. Sungguh takdir yang tak terduga mengetahui mereka berdua terbalut di dalam kisah yang sama.

“Bunda udah nggak punya harapan lagi waktu itu, sayang…,” lanjut Bunda Aini dengan suara lemah. “Perasaan Bunda udah hancur banget menghadapi kenyataan bahwa Bapaknya Tito udah nggak akan pernah lagi bisa Bunda temui. Segalanya udah berakhir buat Bunda. Tapi, walaupun begitu, Bunda tetap coba mengikhlaskannya. Mungkin jalan hidup Bunda memang nggak ditakdirkan seperti yang Bunda bayangin.”

Aku kembali menatap foto yang kupegang. Sebuah tatapan kosong. Senyuman yang terukir dari dua wajah yang ada di dalam foto itu begitu tulus. Namun sayang, ternyata apa yang terjadi di akhir riwayat ketulusan itu malah melenceng jauh dari dugaan.

“Bunda memang kehilangan cinta Bunda waktu itu…,” ujar Bunda Aini. “Tapi…”

Aku menoleh, memandang wajah Bundaku yang menggantung kalimatnya. Bunda Aini rupanya sedang tersenyum manis padaku. Dia juga menatapku penuh arti. Aku begitu bahagia melihatnya tersenyum seperti itu. Namun tampaknya masih ada misteri lain yang harus kutunggu darinya. “Tapi kenapa, Bunda?” tanyaku.

“Tapi, ternyata waktu itu Bunda juga lagi ditunggu sama cinta Bunda yang lain…,” ucap Bunda Aini.

Alisku lagi-lagi mengernyit, bingung dengan kalimat Bunda Aini. “Maksud Bunda Ayahnya Rama?” tanyaku memastikan.

Bunda Aini menggeleng. “Cinta Bunda itu lagi duduk di samping Bunda sekarang…”

Aku tercengang. Perasaanku bergejolak seketika mendengar kata-kata Bunda Aini. Ada semacam kesejukan yang bersilir di dadaku. Jantungku pun terasa berdebar dengan irama yang lain. Masih ada kebingungan di benakku. Tapi aku hanya bisa menerima kata-kata itu begitu saja sambil terperangah memperhatikan wajahnya yang cantik.

“Bunda ingat waktu itu Bunda nggak langsung pulang,” tutur Bunda Aini. “Setelah tau kalo rumah itu bukan rumah Bapaknya Tito lagi, Bunda udah putusin buat menyudahi pencarian Bunda yang sia-sia itu. Bunda sadar kalo Bunda memang harus ngejalanin hidup Bunda sendiri. Tapi waktu itu Bunda nggak serta-merta bisa ngelupain Bapaknya Tito. Selalu aja ada yang mengingatkan Bunda sama apa yang sering Bunda lakuin waktu pacaran sama dia dulu.

“Waktu itu Bunda lagi di perjalanan pulang dari rumah Bapaknya Tito yang udah dijual itu. Angkot yang Bunda tumpangin lewat di kota, dan waktu itu Bunda ngeliat banyak pedagang jajanan kaki lima. Entah perasaan apa yang mendorong Bunda buat turun dari angkot waktu itu. Bunda ngerasa pengen banget mengenang masa-masa waktu Bunda masih sama Bapaknya Tito dulu dengan makan jajanan pinggir jalan. Terus, entah karena memang udah takdir atau apa, Bunda pilih makan rujak waktu itu. Tito tau kan siapa pedagang rujaknya?”

“Mmm… Bi Ipah, Bunda?” tebakku spontan.

Bunda Aini mengangguk sambil tersenyum. “Kejadiannya benar-benar nggak disengaja, sayang. Waktu itu Bunda yang lagi makan rujak nggak sengaja dengar Bi Ipah manggil Ibunya Tito yang lagi jualan gorengan di sebelahnya dan nanya tentang kabar orang yang namanya Dewo. Bunda kaget banget waktu itu. Dalam hati Bunda bertanya-tanya tentang si Dewo yang dimaksud Bi Ipah itu. Bunda pengen tau apa itu Dewonya Bunda atau bukan. Jadi Bunda putuskan buat nguping pembicaraan mereka.

“Waktu itu Ibunya Tito bilang kalo Bapaknya Tito lagi merantau ke luar kota sama Kakeknya Tito. Tapi nggak tau ke mana. Anehnya, Ibunya Tito waktu itu sempat nangis. Alasannya karena Dewo melarikan uang keluarganya. Bunda sih agak kurang ngerti di bagian itu. Tapi yang bikin Bunda yakin kalo Dewo yang dimaksud itu Dewonya Bunda adalah waktu Bi Ipah ngomong tentang kehamilan Ibunya Tito. Dia bilang, ‘Gimana nih keturunan si Jatmiko? Sehat, kan?’ Di situ Bunda kaget banget, sayang. Bunda benar-benar ngerasa nggak percaya. Ternyata, orang yang Bunda cari selama ini udah nikah. Dia memang udah ngelupain Bunda.”

Aku semakin terperangah dan terheran-heran mendengar cerita Bunda Aini. Kepalaku mendadak terasa berat. Bunda Aini pun seolah mengetahui tanggapanku. Ia menatapku dengan senyuman getir.

Bunda Aini menghela nafas berat untuk kesekian kalinya. Dia memalingkan wajahnya lagi. Pikirannya mengawang sejenak. Tampak kesedihan kembali menguasai dirinya, namun dia terlihat lebih tegar kali ini. “Bunda nggak tau apa yang Bunda rasain waktu itu…,” lanjutnya. “Pikiran sama perasaan Bunda udah campur aduk. Nggak ada yang bisa dilakukan lagi… Semuanya udah berakhir… Bunda yang udah putus asa cuma bisa pulang ke rumah dengan tangan hampa. Setelah itu Bunda nggak mau mikirin apa-apa lagi. Waktu acara lamaran, Bunda langsung minta pernikahan Bunda sama Ayahnya Rama dipercepat aja. Bunda pasrahkan semuanya. Bunda udah capek mengejar sesuatu yang Bunda pikir memang nggak ada gunanya.”

Aku dan Bunda Aini terdiam sesaat. Keheningan menyelimuti kamar. Bunda Aini melamun lagi. Mungkin masih ada sedikit beban di pikirannya.

“Tapi… Setelah Bunda nikah sama Ayahnya Rama, entah kenapa Bunda kayak nggak tenang…,” ujar Bunda Aini kemudian dengan suara datar.

“Nggak tenang kenapa, Bunda?” tanyaku.

Bunda Aini tersenyum lagi padaku. “Entah kenapa Bunda malah teringat kehamilan Ibunya Tito.”

“Memangnya kehamilan Ibu kenapa, Bunda?”

Bunda Aini menggeleng, masih tersenyum. Dia mengelus kepalaku. “Nggak apa-apa kok, sayang. Bukan kehamilan Ibunya Tito yang ada di pikiran Bunda waktu itu, tapi justru Tito yang ada di dalam kandungan Ibunya Tito itu yang Bunda pikirin…”

Aku nyengir. Lagi-lagi Bunda Aini membuatku tersipu malu. “Memangnya… Tito kenapa, Bunda?” tanyaku penasaran.

“Sebenarnya itu juga kesalahan Bunda, sayang,” jawab Bunda Aini. “Bunda udah terlanjur cinta banget sama Bapaknya Tito. Entah kenapa Bunda nggak pernah bisa ngelupain dia. Akhirnya Bunda nekat minta sesuatu sama Ayahnya Rama sebagai hadiah perkawinan. Bunda minta rumah…”

“Hah?! Rumah, Bunda?” seruku terkejut.

Bunda Aini mengangguk sambil tersenyum simpul.

“Mmm… Rumah buat apa, Bunda?”

“Rumah buat tinggal di kampung kita sekarang, Nak,” jawab Bunda Aini. “Bunda pikir, dengan Bunda tinggal di kampung itu, Bunda bakal bisa sering liat Bapaknya Tito. Walaupun Bunda udah nikah, setidaknya perasaan Bunda lega karena bisa dekat sama dia. Tapi, apa yang Bunda pikirin dan yang membuat Bunda nggak tenang waktu itu ternyata terjadi juga…”

“Memangnya ada apa, Bunda?” tanyaku penasaran.

Bunda Aini menghela nafas panjang. “Setelah Bunda dan Ayahnya Rama punya rumah di kampung itu, Bunda diam-diam cari informasi tentang di mana tempat tinggal Ibunya Tito. Bunda yang waktu itu lagi hamil pergi ke pasar buat cari informasi, tapi ternyata waktu itu Ibunya Tito lagi nggak jualan. Jadi Bunda coba tanya-tanya ke Bi Ipah. Dari dia Bunda tahu bahwa Ibunya Tito baru aja melahirkan. Dia juga bilang bahwa Bapaknya Tito nggak kunjung pulang dari perantauannya. Menurut Bi Ipah, Bapaknya Tito memang kemungkinan besar minggat dari rumah sambil melarikan uang keluarganya Tito. Ada sedikit rasa kecewa Bunda sama Bapaknya Tito waktu itu. Tapi Bunda ini ‘orang luar’. Bunda nggak tau apa alasannya sebenarnya. Jadi Bunda coba singkirin masalah itu dari pikiran Bunda.

“Bunda tau dari Bi Ipah kalo Ibunya Tito cuma tinggal berdua sama Neneknya Tito. Waktu itu Bunda mikir, gimana caranya Ibunya Tito ngurusin semuanya tanpa suaminya? Dia juga butuh dinafkahi, kan? Tapi Bi Ipah nggak mau ungkit-ungkit masalah itu ke Bunda. Mungkin dia merasa itu urusan keluarga orang. Dia cuma kasih tau Bunda di mana Ibu sama Neneknya Tito tinggal. Tapi Bunda nggak langsung ke rumah Tito waktu itu. Bunda masih sekadar memantau dari jauh aja. Bunda masih belum sanggup berhadapan langsung dengan istri orang yang paling Bunda cintai…”

“Lho… Kenapa gitu, Bunda?” tanyaku.

Bunda Aini memandangku, lalu tersenyum getir. “Bunda nggak tau, sayang. Bunda cuma ngerasa canggung aja. Nanti kalo Tito udah dewasa, Tito bakal tau kok…”

Aku mengangkat alis, lalu mengangguk pelan. Sebenarnya aku masih tak paham apa maksudnya. Tapi untuk sekarang, anggaplah itu pertanyaan yang akan terjawab suatu hari nanti.

“Sekitar lima bulan setelah itu, Bunda melahirkan,” lanjut Bunda Aini. “Kehidupan waktu di rumah sakit pasca Bunda melahirkan memang enak. Semua dilayani sama pihak rumah sakit. Tapi nggak lama setelah itu, Bunda berperan lagi jadi istri yang baik di rumah. Mengerjakan pekerjaan rumah sambil ngurusin Rama yang masih bayi. Neneknya Rama yang sempat tinggal di rumah Bunda waktu itu sering banget ngomelin Bunda karena ngeliat Bunda kerepotan ngurusin semuanya tapi tetap bersikeras tinggal di kampung itu. Padahal kalo di rumah Bunda yang lama, semua pekerjaan rumah pasti ditangani pembantu rumah tangga. Apalagi waktu itu di kampung itu belum ada listrik. Segalanya terasa susah. Ayahnya Rama juga terpaksa beli genset buat keperluan rumah tangga. Tapi entah kenapa, hati Bunda kayak berat banget buat ninggalin kampung itu. Ada sesuatu yang membuat Bunda betah.

“Dua minggu kemudian, Ayahnya Rama kembali kerja di perkebunannya. Begitu juga dengan Neneknya Rama yang sebelumnya Bunda paksa buat balik ke rumahnya karena Bunda merasa udah sepantasnya hidup mandiri. Ayahnya Rama pun sebenarnya ngajakin Bunda buat tinggal di rumah perkebunan, tapi Bunda nggak mau. Ayahnya Rama akhirnya ngalah sama keinginan Bunda, dan dia putuskan buat pulang seminggu sekali. Tapi, sebelum itu dia nyariin Bunda seseorang buat ngebantuin Bunda ngerjain pekerjaan rumah sehari-hari sekaligus buat temen biar nggak terlalu kesepian. Tito pasti tau siapa dia…”

“Ibu?” ucapku pelan.

Bunda Aini mengangguk sambil tersenyum lebar. “Waktu itu Ayahnya Rama cari-cari informasi tentang orang yang bisa diupah buat kerja di rumah Bunda. Dia udah tanya-tanya tetangga, tapi informasinya kurang memuaskan. Tetangga-tetangga nggak pernah dengar ada orang yang profesinya sesuai dengan yang Ayahnya Rama cari. Tapi, waktu dia singgah ke rumah kepala desa, baru deh dia dapat titik terang. Kebetulan waktu itu yang nyambut dia istrinya kepala desa, Bu Ratmi. Bu Ratmi bilang ada satu orang yang bisa direkomendasikan buat kerja di rumah Bunda. Dia juga baru kerja di rumah Bu Ratmi waktu itu jadi buruh cuci. Tapi katanya dia janda anak satu, dan anaknya juga masih bayi. Jadi dia ke mana-mana bakal bawa anaknya.

“Bunda benar-benar nggak nyangka bahwa orang yang dimaksud Bu Ratmi itu ternyata Ibunya Tito. Waktu Ibunya Tito datang ke rumah Bunda, Bunda langsung kaget karena Bunda ingat betul wajah wanita hamil yang jualan gorengan di samping gerobak dagangan Bi Ipah itu. Dia menggendong anak bayi yang lucu banget waktu datang ke rumah Bunda. Itulah saat-saat pertama kalinya Bunda liat cinta Bunda ini…”

Aku tertunduk dan tersenyum sipu saat Bunda Aini menyanjung sekaligus mengelus rambutku. Sungguh berbunga-bunga perasaanku menerimanya. Bunda Aini pun tampak sangat bahagia saat menyatakan cintanya padaku.

“Semenjak saat itu, hati Bunda terasa terikat sama Tito, sayang…,” ungkap Bunda Aini sambil tetap mengelus lembut kepalaku. Wajahnya terlihat begitu damai. “Waktu liat bayi kecil Bunda ini tidur siang di rumah Bunda, waktu liat bayi kecil Bunda ini main dengan riangnya di rumah Bunda, sampai waktu bayi kecil Bunda ini nangis di rumah Bunda pun Bunda ngerasa benar-benar bahagia.”

“Mmm… Tito waktu bayi sering nangis ya, Bunda?” tanyaku iseng.

Bunda Aini tersenyum simpul. Dia tampak mengingat-ingat sejenak. “Yang Bunda tau sih Tito nggak pernah rewel waktu masih bayi dulu. Nggak kayak Rama yang rewelnya luar biasa. Tito nangis cuma waktu Tito lapar atau waktu Bunda iseng ngambil mainannya Tito… Hihihi…”

“Ihh…! Kok gitu sih, Bunda…?” rengekku. “Berarti Tito dulu dimain-mainin sama Bunda, ya?”

“Nggak kok, Nak,” kata Bunda Aini sambil cekikikan. “Bunda dulu cuma lucu aja liat Tito kalo main kayaknya seru banget. Padahal mainannya cuma dipelototin sama digoyang-goyang aja. Bunda gemes banget liatnya. Terus Bunda gangguin deh…”

Bukannya cemberut, aku malah tersenyum. Mendengarkan penuturan Bunda Aini yang begitu mengingat tingkah-tingkahku semasa kecil memang menyenangkan. Ternyata hubunganku dengan Bunda Aini dahulu memang cukup dekat. Baru kali ini aku mendengar riwayat ini. Ibu tidak bercerita terlalu banyak mengenai Bunda Aini padaku sebelumnya. Jadi menurutku ini adalah kesempatanku untuk mendengarkan pengalamannya sebanyak-banyaknya.

“Waktu Tito nangis, pasti Ibunya Tito langsung ke ruang tengah buat nengokin Tito,” timpal Bunda Aini sembari tertawa kecil. “Waktu awal-awal kerja di rumah Bunda, Ibunya Tito memang selalu panik waktu Tito nangis. Dia takut tangisannya Tito bisa ngeganggu Rama yang lagi tidur. Tapi lambat laun dia jadi agak tenang karena dia tau kalo Bunda selalu ada terus di samping Tito.

“Ibunya Tito sebenarnya cuma ngerasa segan sama Bunda karena takut ngerepotin Bunda. Bunda paham kok masalah itu. Waktu Bunda menenangkan Tito yang lagi nangis, waktu Bunda main sama Tito, waktu Bunda gendong Tito buat jalan-jalan keliling rumah, Ibunya Tito pasti minta maaf terus-terusan dan bilang kalo nanti dia malah ngerepotin Bunda. Padahal Bunda malah senang banget ngelakuinnya.”

Aku tersenyum melihat wajah cantik Bunda Aini yang tampak begitu menikmati ceritanya. Namun sesaat kemudian ada sesuatu yang mengganjal di benakku. “Bunda…,” ucapku lirih.

“Iya, sayang?” sahut Bunda Aini.

Aku memandanginya sejenak, berusaha memastikan jika pertanyaanku tak akan menyinggungnya. “Mmm… Bunda sayang sama Tito… karena Tito anak Bapak?” tanyaku sambil terus memperhatikan ekspresinya.

Bunda Aini terdiam. Dia menatapku dalam-dalam. Sesaat kemudian ia tersenyum. Senyum yang mengembang dengan perlahan. Lalu direngkuhnya diriku ke dalam dekapannya.

Aku pun ikut terdiam. Batinku hanya menebak-nebak salah atau tidaknya pertanyaanku barusan. Tapi aku merasa pelukan hangat ini bermakna positif. Kutunggu dengan sabar untuk Bunda Aini menyatakan apa yang ada di dalam hatinya.

Beberapa saat berselang, Bunda Aini melepaskan pelukannya. Senyumnya masih belum hilang. “Awalnya Bunda juga ngerasain perasaan kayak gitu, sayang,” ujarnya. “Bunda merasa kalo cinta Bunda ke Bapaknya Tito memang nggak pernah hilang. Hal itu juga yang membuat Bunda menyimpulkan kalo Bunda memang punya perasaan tersendiri sama anak dari orang yang Bunda cintai. Obsesi itu muncul gitu aja di pikiran Bunda…

“Tapi… entah kenapa sewaktu liat Tito dari hari ke hari, ada yang berubah di dalam diri Bunda. Lambat laun Bunda merasa jadi orang yang berbeda. Rasa cinta Bunda yang dulu udah hancur terasa bangkit lagi. Bangkit dalam bentuk yang lain. Cinta tulus seorang Ibu yang memberi segalanya untuk anaknya. Titolah yang selama ini udah mengarahkan Bunda ke jalan yang lebih baik, Nak.

“Sejujurnya, awalnya Bunda sempat punya perasaan nggak suka sama Ibunya Tito. Bunda sempat berpikir bahwa dialah yang udah ngerebut Dewo dari Bunda. Tapi, ketika Bunda liat Tito, entah kenapa kemarahan Bunda hilang gitu aja. Hati Bunda rasanya damai. Bunda jadi punya kekuatan buat menghadapi semua masalah. Bunda bisa mengatasi semua beban di hati Bunda dengan lapang dada.

“Sejak Tito hadir dalam kehidupan Bunda, Bunda jadi punya semangat hidup yang baru. Bunda nggak terdorong lagi dengan obsesi hampa Bunda yang udah lama menjatuhkan Bunda. Bunda mau berubah. Cinta Bunda yang nggak sempat Bunda curahkan buat Bapaknya Tito, akan Bunda kasih sepenuhnya buat Tito. Apapun akan Bunda lakuin supaya Tito bahagia.”

Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Aku tercenung akan secuil curahan hati Bunda Aini ini. Kepalaku terasa berat memikirkan apa yang selama ini sebenarnya sudah ada di dalam hidupku. Inikah arti semua bantuannya untuk keluargaku selama ini? Begitu banyaknya pemberiannya untuk keluargaku, hanya demi tujuan untuk membahagiakan diriku? Atau, masih adakah bentuk cinta Bunda Aini yang lain yang belum aku ketahui?

“Tito tau nggak kalo dulu Bunda sering curi-curi kesempatan buat nyusuin Tito?” kata Bunda Aini sambil membelai kepalaku.

Aku tersadar dari lamunanku. Kulihat Bunda Aini yang tersenyum manis. “Bunda pernah nyusuin Tito?” ucapku keheranan.

Bunda Aini mengangguk. “Setiap Tito nangis karena kelaparan pasti Bunda langsung nyusuin Tito.”

Aku tercengang, merasa tak percaya. “Ngg… Nyusuin dari… dadanya Bunda?” tanyaku kemudian.

Senyuman Bunda Aini semakin lebar. “Ya iyalah, sayang… Memangnya Dari mana lagi?” Bunda Aini pun mencolek hidungku.

Aku menelan ludah. Jantungku berdetak lebih cepat. Tiba-tiba aja aku merasa grogi tak karuan. Aku mencoba menahan senyumku, tapi tak bisa. Tanpa kuperintah, mataku melirik sekilas ke arah dadanya.

“Kenapa? Kok senyum-senyum sendiri?” selidik Bunda Aini sambil tersenyum simpul.

“Eh… Mmm… Nggak kok, Bunda. Nggak apa-apa…,” kataku terbata-bata.

“Bener nih nggak apa-apa?” godanya. “Tadi matanya kok ngelirik ke dada Bunda?”

Sungguh terkejut diriku mendapati Bunda Aini yang ternyata mengetahui tingkahku tadi. Sontak aku jadi panik sendiri. “Eh… Ngg… Nggak kok, Bunda. Tito nggak liat kok… Tadi Tito cuma liat gitu aja… Eh, maksud Tito… itu…” Aku kalang kabut mencari jawaban.

Bunda Aini pun tertawa melihatku yang salah tingkah. “Iya-iya… Ya udah, sayang, nggak apa-apa… Masa gara-gara itu aja jadi gelagapan gitu.” Bunda Aini mengelus bahuku, menenangkan.

Aku cuma bisa cengar-cengir mengakui kepolosanku. Ketahuan melakukan ‘kejahilan’ memang rasanya malu tak terkira. Tapi untung saja Bunda Aini tak terlalu mempermasalahkannya. Kalau saja yang di sebelahku ini Kak Dina, pasti aku akan semakin digoda habis-habisan.

“Jadi Tito nggak tau kalo Bunda dulu sering banget nyusuin Tito?” lanjut Bunda Aini.

Aku menggeleng pelan.

Bunda Aini tersenyum mesra. Diraihnya tangan kananku, lalu dikecupnya lembut. Aku tertegun melihatnya.

“Salah satu hal yang paling membahagiakan buat Bunda adalah waktu Bunda nyusuin Tito dulu…,” ujarnya sambil menggenggam tangan kananku. “Itu Bunda lakuin hampir setiap Ibunya Tito datang ke rumah Bunda.”

“Ngg… Itu ceritanya gimana, Bunda?” tanyaku ingin tahu.

Bu Aini pun mengingat-ingat sejenak. “Mmm… Sebenarnya kejadiannya nggak disengaja, sayang. Awalnya cuma sekadar inisiatif Bunda aja. Waktu itu Ibunya Tito lagi jemur pakaian-pakaian yang baru dicuci di belakang rumah Bunda. Tito tidur di ruang tengah, sementara Bunda lagi nyusuin Rama di kamar. Tapi tiba-tiba Bunda dengar Tito nangis waktu itu. Bunda langsung letakin Rama yang udah tidur di tempat tidurnya, terus nengok Tito di ruang tengah yang ternyata udah telungkup sambil nangis. Tanpa pikir panjang, Bunda susuin deh…”

“Ibu nggak dengar Tito nangis waktu itu, Bunda?” aku bertanya lagi.

“Iya. Waktu itu Ibunya Tito juga dengar kok. Dia langsung lari ke dalam rumah. Tapi waktu dia liat Bunda nyusuin Tito kayaknya dia ngerasa nggak enak banget sama Bunda. Berulang kali dia bilang kalo dia aja yang nyusuin Tito, tapi Bunda nolak. Bunda bilang terusin aja kerjaannya di belakang, biar Tito Bunda yang urus. Akhirnya Ibunya Tito pun ngebolehin Bunda nyusuin Tito.

“Sejak saat itu, setiap Tito keliatan udah ngantuk, atau misalnya nangis gara-gara kebangun dari tidur, pasti Bunda susuin. Ibunya Tito juga lama-kelamaan nggak ngerasa canggung lagi sama Bunda. Akhirnya nenennya jadi keterusan deh… Hehehe…”

Mendengar guyonan dari kalimat terakhir Bunda Aini itu tak pelak membuatku nyengir karena malu. Aku pun refleks menggaruk-garuk kepalaku yang tak gatal. Mungkin wajahku sudah memerah sekarang.

Namun sesaat kemudian suasana berubah menjadi senyap. Bunda Aini terdiam. Dia masih menggenggam tanganku, terasa semakin erat. Dia juga memandangiku cukup lama. Entah apa yang sedang dipikirkannya.

“Sebenarnya…,” ucap Bunda Aini memecah keheningan, “Bunda bisa aja ngasih Tito ke Ibunya Tito waktu itu, sayang. Tapi… Bunda waktu itu agak memaksa biar bisa nyusuin Tito…”

Aku mengernyit. “Lho? Kenapa gitu, Bunda?”

Bunda Aini menunduk, menatap tanganku yang sedang digenggamnya. “Semua itu Bunda lakuin supaya Tito juga bisa jadi anak Bunda…,” ujarnya lirih.

“Anak Bunda…?” timpalku.

Bunda Aini mengangguk lemah.

Tatapanku padanya semakin tajam. “Mmm… Emangnya kalo Bunda nyusuin Tito, itu berarti Tito…”

Seakan sudah bisa menebak apa yang kumaksudkan, Bunda Aini pun mengangguk lagi. “Walaupun Tito bukan anak kandungnya Bunda, tapi dengan Bunda menyusui Tito itu artinya Tito juga jadi berstatus sama kayak Rama. Sama-sama anak Bunda.”

Aku langsung tercengang. Berguncang rasanya batinku mendengar penjelasan Bunda Aini. Sungguh, aku baru tahu mengenai hal tersebut. Bagaimana bisa?
Ada sesuatu yang tiba-tiba berkecamuk dalam hatiku. Di satu sisi aku merasa sangat senang. Rasa senangku bahkan seperti meluap tak terbendung. Sungguh tak bisa kuungkapkan lagi betapa gembiranya diriku yang ternyata memang punya dua Ibu. Namun di sisi lain, aku juga tak mampu membayangkan bahwa statusku dengan Rama ternyata tak hanya sekadar sahabat, tapi terikat dalam tali persaudaraan. Entah mengapa, aku jadi merasa sangat rikuh.

Kepalaku tertunduk. Ada rasa tidak enak yang semakin santer kurasakan. Dadaku bagai kembali terbebani. Otakku seakan penuh akan berbagai pikiran, tapi tak satu pun yang bisa kupilah. Semuanya mendadak berselirat seperti benang kusut.

“Tito kenapa, Nak? Kok jadi sedih?” tanya Bunda Aini.

Aku menggeleng pelan. Tak menjawab.

“Tito marah sama Bunda, sayang? Bunda salah, ya?”

Aku menggeleng lagi. “Tito nggak marah kok sama Bunda…”

“Terus kenapa, sayang?” tanya Bunda Aini sambil ikut tertunduk, berusaha melihat wajahku. Tangan kananku digenggamnya erat dengan kedua tangannya.

Aku menghela nafas panjang, mencoba menenangkan gejolak di dalam dadaku. “Rama, Bunda…,” ucapku lirih.

Bunda Aini tak menjawab. Genggaman tangannya mengendur. Kurasa dia tahu apa yang sedang kupikirkan. Sekali lagi, suasana hening.

Di tengah kesunyian, Bunda Aini kembali merengkuh tubuhku ke dalam dekapannya. Dibelai-belainya bahu dan kepalaku dengan lembut. Beberapa saat, sentuhan-sentuhan keibuan yang dimilikinya cukup memberikan rasa nyaman untukku. Ada ketenangan yang kudapatkan. Tetapi tetap tak sebanding dengan sakit yang kurasakan.

“Dulu… Bunda suka banget waktu liat Tito tidur di pelukan Bunda…,” tutur Bunda Aini sembari mengecup kepalaku. “Waktu ngeliat Tito yang tidur nyenyak… Bunda cuma berpikir satu hal. Apapun yang terjadi, anak Bunda ini harus ngerasain kebahagiaan yang sama dengan yang dirasain Rama. Bunda nggak peduli apapun atau gimanapun caranya. Semua bakal Bunda lakuin.

“Bunda sengaja membuat seluruh fasilitas yang ada di rumah Tito sama persis dengan yang ada di rumah Bunda. Setiap kali Rama punya mainan baru, Bunda juga bakal nyuruh dia buat ajak Tito ikut main juga. Bunda ceritain ini bukan karena Bunda mau ‘hitung-hitungan’ dengan apa yang Bunda kasih sama Tito. Nggak sama sekali, Nak. Tapi Bunda mau Tito tau bahwa apa yang udah Bunda lakuin selama ini buat Tito itu cuma sebagian kecil dari betapa besarnya rasa sayang Bunda ke Tito. Tito itu darah daging Bunda, sayang. Cinta Bunda ke Tito nggak terbatas…”

Aku sungguh tersentuh dengan perkataan Bunda Aini. Air mataku menitik perlahan. Hubunganku dengan Bunda Aini ternyata tak hanya dekat, tapi sangat erat. Pertalian itu bahkan sudah ada di dalam darahku sejak aku bayi. Bunda Aini memang sangat menyayangiku, bahkan jauh dari apa yang kupikirkan selama ini. Kini, aku sudah tahu semuanya. Sudah sepantasnya aku membalas semua kebaikannya.

Bunda Aini melepaskan pelukannya. Ditatapnya wajah sedihku, lalu diusapnya air mataku. “Maafin Rama ya, sayang…,” mohonnya.

Dengan air mata yang terus berlinang, aku pun mengangguk.

Mata Bunda Aini berkaca-kaca. Ia pun tersenyum. “Tito memang anak Bunda yang paling baik…,” ucapnya seraya mencium keningku.

Aku menghela nafas panjang, mencoba tegar.

Bunda Aini menatapku lagi, tersenyum simpul. “Lho? Senyumnya anak Bunda mana nih?”

Sambil menyeka sisa-sisa air mataku, aku pun tersenyum lebar padanya.

“Nah, gitu dong. Itu baru anak Bunda…,” ujarnya bangga.

“Bunda…”

“Iya, Nak?” sahutnya.

Aku terdiam sejenak, menatap wajahnya. “Tito sayang Bunda…”

Bunda Aini tersenyum penuh arti. “Bunda juga sayang Tito…” Dikecupnya keningku sekali lagi.

Betapa leganya perasaanku sekarang. Walaupun rasa sakit itu masih belum hilang, namun setidaknya aku bisa mencoba memaafkan Rama maupun diriku sendiri. Aku tak boleh menambah luka di hati Bunda Aini lagi. Cukuplah sudah semua itu.

“Bunda ngerti perasaan Tito, sayang…,” ujar Bu Aini. “Tito sakit hati gara-gara kelakuan Ibunya Tito sama Rama, kan?”

Aku pun tertunduk, tak menjawab. Aku hanya menghela nafas beratku.

“Tito ingat nggak apa yang Bunda bilang tadi?” cetus Bunda Aini. “Tito itu anak Bunda, dan Tito juga harus ngerasain apa yang Rama rasain. Tito nggak boleh sedih, karena Bunda bakal ngelakuin apapun supaya Tito bahagia.”

Aku menatapnya, tergugah dengan kata-katanya.

Bunda Aini membelai kepalaku. Wajahnya tampak serius. “Tito boleh hukum Rama dengan ngelakuin hal yang sama…,” ucapnya.

Sontak aku mengernyit bingung. Mataku menyorotnya tajam. “Maksud Bunda?”

Bunda Aini memandangiku dalam-dalam. “Kalo Rama ngelakuin itu sama Ibunya Tito, Tito juga boleh ngelakuinnya sama Bunda…”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*