Home » Cerita Seks Mama Anak » Mamaku Hamil 19 (Tamat)

Mamaku Hamil 19 (Tamat)

Sepasang ibu dan anak sedang tergeletak berbaring di atas kasur tanpa mengenakan sehelai benang pun. Keduanya tampak lelah dan letih usai bersetubuh, menuntaskan hasrat dan birahi satu sama lain. Nia, si ibu, sedang mengatur pola nafasnya yang terengah-engah setelah melepaskan orgasmenya. Pinggul yang tadinya kaku kini terasa enteng. Dari liang peranakan miliknya mengalir cairan kemaluan yang bercampur dengan sperma si anak yang bernama bayu. Cairan itu tumpah membasahi selangkangan nia dan jatuh mengotori sprei yang sebenarnya baru ia ganti usai bersetubuh dengan suaminya semalam. Akan tetapi, wanita itu tidak terlalu mempedulikannya. Ia sudah terlalu lelah memikirkan hal tersebut.

Sementara bayu yang tak berpakaian itu terlihat lunglai usai mencapai klimaksnya sebagai seorang anak lelaki. Penis yang tadinya tegak dan keras sekarang layu dan lemas. Pikirannya mengawang-ngawang terbawa kantuk. Matanya demikian pula ingin mengatup. Ia coba lihat sejenak mamanya yang juga sedang kelelahan di sebelahnya. Tampak tubuh sang mama berkeringat membasahi jenjang leher hingga belahan ‘gunung kembar’.

Ketika keduanya melepas lelah, ponsel Nia mendadak berdering dan bergetar di atas lemari pakaian yang terletak tidak jauh dari ranjang, tempat baru saja ia bersetubuh dengan bayu, putranya.

“kringggg….brmmmmmm”, bunyi ‘jadul’ dan getaran yang merambat di atas lemari pakaian yang ada di kamar nia.

“Huh, huh, huh,.. De, tolong ambilin hp mama dong di atas lemari sana”, ucap nia yang masih lunglai berusaha menunjuki dimana ponselnya kepada sang putra.

“enggak ah ma, bayu cape banget nih”, jawab bayu.

“ishh, kamu kok gitu sih de. Hemm yaudah kalo gitu, mama sendiri aja deh yang ngambil”, gerutu nia seraya beranjak dari kasur untuk mengambil ponsel.

Bayu tampak terpesona memandang tubuh sang mama yang dalam keadaan bugil berjalan mengambil ponsel. Bokong bulat dan kencang mamanya berganti bergoyang seiring berjalan. Dari paha putih mamanya, ia melihat cairan yang menjalar membasahi hingga ujung kaki. Tak hanya itu, bayu melihat bukit kembar mamanya menggantung dan berayun-ayun selagi bangun dari kasur dan berjalan menuju lemari pakaian. Dalam hati bayu, ia sungguh beruntung memiliki mama yang cantik dan juga seksi. Lebih beruntung lagi papanya, yang jelas-jelas memiliki dan mempersunting samg mama. Tidak heran, bayu berpikir bahwa begitu bodoh sang papa jika benar menceraikan sang mama kemarin hari, karena di luar sana sudah banyak lelaki yang pastinya siap menafkahi mamanya lahir dan batin. Hanya saja bayu bersyukur hal itu tidak terjadi.

Nia yang tidak sadar bahwa tubuh telanjangnya diamati sang putra, tampak serius memperhatikan nomor tak dikenal yang sedang menghubunginya. Sambil menggenggam ponsel, perasaan wanita itu diselimuti keraguan untuk menjawab. Terlebih, panggilan yang sudah sekali berakhir malah panggilan tersebut berulang-ulang menghubungi. Ia khawatir sekaligus trauma kalau yang menghubunginya tersebut seseorang seperti pak broto ataupun pak arso, para lelaki yang pernah bersetubuh dengan dirinya. Di lain hal, bayu tampak kebingungan mengapa mamanya tak juga mengangkat panggilan dari ponsel yang berulang kali terus berdering.

“Ma, kok teleponnya gak diangkat”, tanya bayu heran.

“Ehmm, enggak apa-apa kok de hehe”, senyum nia menenangkan sang putra.

“Enggak apa-apa apanya ma. Itu dari tadi hp mama bunyi terus, tapi kok malah dibiarin aja, gak diangkat-angkat?”.

“Eemmm….”, nia terdiam tak menyahut.

“Yaudah deh ma. Sini biar aku aja yang angkat teleponnya”, kesal bayu berjalan menghampiri mamanya.

Dalam keadaan bugil, bayu beranjak dari kasur. Ia berjalan dengan penisnya yang sudah mengendur ke dekat sang mama. Tak lama, ia berusaha merampas ponsel mamanya yang terus berbunyi. Namun,

“Sini ma, bayu aja yang angkat”, pinta bayu.

“Enggak usah deh, biar mama aja yang angkat..”, tolak nia.

“Ishh mama, sinii bayu ajaa yang angkat…”, paksa bayu.

“Enggak usahh de! Biar Mama aja!”, sahut nia dengan tegas.

“Yaudah ma, makanya buruan diangkat!”, kesal bayu dengan jawaban mamanya.

Tanpa pikir panjang, nia yang sebenarnya masih ragu untuk menjawab panggilan terus, mau tak mau harus menjawab.

Halo?
Iya. Selamat siang.
Betul. Saya istrinya.
Apa?! Serius pak?!
Aduh… mas haris….
IGD-nya ya pak?
Iya pak baik. Saya akan segera ke sana sekarang juga sama anak saya
Begitulah untaian kalimat yang keluar dari mulut sang mama. Bayu tidak dapat mendengar suara dari seseorang yang sedang menghubungi mamanya lewat ponsel. Hanya saja, ia sekarang menjadi amat cemas, bingung, dan khawatir. Hal itu karena perubahan ekspresi wajah sang mama yang pada awalnya tersenyum kala menjawab telepon hingga di tengahnya sang mama tiba-tiba menampakkan raut muka kaget diserta sedih yang menitikkan air mata. Bayu ingin tahu dan mendengar berita apa yang baru saja didapat mamanya. Sebaliknya, ia sudah menerka-nerka itu berita buruk. Terasa hatinya amat resah menanti mendengar berita tersebut.

### ####

“Pak, kok perasaan ibu tambah gak enak yaa”, ucap istri pak paijo menghampiri suaminya yang masih duduk santai di pelataran rumah.

“Ada apa lagi sih bu? Masih masalah haris?”.

“Gak tahu nih pak. Daritadi bapak kan tahu perasaan ibu gak enak terua. Dan sekarang kok perasaan ibu malah bertambah gak enak yaa pak”, cemas istri pak paijo.

“Yasudah. Sekarang kamu mending tenangin diri kamu, bu. Hari ini haris bakal datang ke sini sendirian. Soalnya, Aku bilang ke dia kalau ibumu udah kangen. Lantas, bapak nyuruh anakmu si haris ke sini”.

“Aduh pak, gak usah begitu. Ibu jadi gak enak sama haris”, timpal istri pak paijo.

“Bu, bu. Masa kamu sama anak sendiri gak enakkan. Yasudah, mending kamu sekarang istirahat saja sana. Sekalian menenangkan diri”, perintah pak paijo kepada istrinya.

Begitulah istri pak paijo sekaligus ibu dari haris, neneknya bayu. Haris merupakan anak semata wayangnya. Karena anak satu-satunya, sejak kecil haris selalu dimanja oleh sang ibu. Itu mengapa ibu haris amat menyayangi putranya karena begitu dekat hubungan mereka. Bahkan, ketika haris bertempat tinggal dan mencari nafkah di Jakarta, ibu haris selalu meminta suaminya untuk menanyakan kabar haris yang ada di Jakarta. Tak hanya itu, terkadang ia meminta sang suamiagar haris mau berkunjung menemui keduanya.

###

Di sebuah rumah sakit negeri di Jakarta siang itu, tampak riuh ramai orang yang berobat. Ada yang menunggu giliran diperiksa, ada pula yang sudah selesai dan pulang menuju rumah masing-masing. Di sisi lain terdapat yang masih atau akan dirawat-inap. Selebihnya, mereka dokter, suster, dan petugas kesehatan lainnya. Atau, mereka yang sedang menunggui dan menengok kerabat yang sedang dirawat karena sakit.

Dari sekian banyak ruang di rumah sakit, terdapat ruang yang hampir menjadi lalu-lalang bagi mereka yang sifatnya darurat ‘hampir mati’. Ruangan itu ialah ruang Instalasi Gawat Darurat ( IGD). Di sanalah terdapat para pasien yang sakitnya terbilang sedang darurat dan harus dirawat. Mereka itu seperti yang terkena serangan jantung, gagal nafas, atau muntah darah. Pada dasarnya orang-orang yang berada di sana adalah orang orang yang membutuhkan pertolongan kesehatan dengan cepat.

Tiba-tiba seorang pasien baru masuk. Ia diantar oleh tiga orang lelaki berpakaian kaos berwarna polos dengan menggunakan sebuah mobil ambulans milik sebuah yayasan. Ketika masuk ke IGD ia langsung di tidurkan di sebuah tempat pembaringan guna segera diperiksa dokter jaga di sana. Pasien yang baru masuk ke IGD tersebut dalam keadaan kepala berlumur darah. Kesadarannya pun tak ada. Seorang dokter lelaki dibantu dengan dua orang suster wanita sedang berusaha keras menghentikan pendarahan yang mengalir di kepala pasien yang tak sadar itu. Ruang ICU pun dipersiapkan.

Di luarnya, sekitar 5 orang berkumpul membicarakan pasien yang sedang dalam kondisi gawat darurat itu. Usut punya usut ternyata pasien berkelamin pria tsb merupakan korban kecelakaan. Mobilnya menabrak pembatas jalan. Alhasil, lelaki yang tampaknya terburu-buru tersebut karena lupa memakai sabuk pengaman, kepalanya membentuk stir mobil. Maka, pendarahan dari kepala pun tak dapat terelakkan lagi. Di lain hal, keluarga pasien yang bersangkutan belum juga tiba.

### ##

Masih di sekitaran rumah sakit, terdapat seorang ibu dan anaknya yang berpakaian dengan begitu ala kadar. Tentu penyebabnya mereka terburu-buru dan diselimuti rasa panik yang luar biasa karena pemimpin rumah tangga mereka dikabarkan mengalami sebuah kecelakaan tunggal. Raut wajah keduanya pucat pasi. Mata si ibu sayu habis menangis. Si anak menyiratkan wajah bingungnya seakan tidak percaya bahwa ayahnya mengalami kecelakaan. Langkah keduanya begitu cepat berjalan ke arah ruang IGD usai turun dari transportasi umum, taksi.

“IGDnya dimana yaa pak?”, tanya nia memastikan kalau ia tidak salah arah.

“Di sana mba”, jawab seorang laki-laki gempal.

“terima kasih pak”, ucap nia tak memberi senyum karena suasana hatinya yang sedang sedih.

Sambil berjalan bersama bayu, nia memasuki ruang IGD. Ramainya pasien di sana, nia tidak hiraukan. Meskipun sebetulnya ia kelimpungan mencari sang suami. Maka, Ia lekas bertanya kepada seorang suster yang sedang berjaga.

“Maaf sus, pasien bernama haris di sebelah mana ya?”.

“Haris siapa yaa bu?”, tanya suster.

“Haris Prawira”, ucap nia.

“Oh. pasien tersebut ada di ruang ICU lantai 2 bu.”

Tanpa berkata-kata lagi, nia yang pikirannya sudah kosong itu lekas menyeret sang anak ke lantai 2 untuk melihat keadaan sang suami. Bayu sungguh tak bisa berkata apa-apa semenjak mengetahui kabar sang papa mengalami kecelakaan. Pikiran anak itu jadi kemana-mana. Ia berpikir kalau sang papa akan meninggalkan dia selama-lamanya. Karena pikiran itu, mata bayu berkaca-kaca. Anak itu betul-betul khawatir papanya akan meninggal dunia. Padahal, ia belum melihat persis keadaan papanya, hanya bayang-bayang imajiner saja. Sambil menaiki tangga menuju lantai 2 yang sebetulnya bisa menggunakan lift ‘elevator’, bayu bersama mamanya berjalan tergesa-gesa. Tubuh mereka yang lemas dan perut mereka yang lapar tak sempat lagi terpikirkan. Sesampai di lantai 2, keduanya lekas mencari ruang ICU.

Karena letaknya yang tak begitu jauh dari tangga, nia dan putranya berhasil menemukan ruang ICU. Di sana terdapat seorang lelaki yang mereka tak kenali sedang berdiri di dekatnya. Namun, langkah dan pikiran keduanya langsung tertuju ke arah ruang ICU. Hanya saja, baru mereka ingin masuk ruang yang tertutup rapat itu ternyata diawasi seorang suster. Langkah keduanya pun mau tak mau terhenti.

“Maaf, ibu siapa?”, tanya suster mencegah nia dan bayu masuk.

“Saya istrinya pasien ini sus”, timpal nia yang sudah tak sabar melihat kondisi sang suami.

“Oh. Maaf ya bu sekali lagi saya mohon maaf, kata dokter yang merawat suami ibu, suami ibu belum boleh ditemui dulu untuk sementara waktu. Suami ibu butuh istirahat banyak sekarang. Untuk sementara ini ibu cukup melihat dari kaca jendela ruang ICU”, ucap suster mengingatkan

“Tapi sus, saya kan istrinya sus. boleh yaa suster saya mohon. Saya pengen ketemu suami saya sus…”, pinta nia merengek memohon

“Maaf bu, tidak boleh. Lagpula, saya ini hanya melaksanakan perintah dokter”, ucap suster meninggalkan nia.

“Suster, suster, sayaaa mohon suster!……”, teriak nia lemas.

Tak ditanggapi oleh suster, alhasil nia hanya bisa memandang sang suami yang tak sadar dari kaca jendela ruang ICU. Ia lihat kepala suaminya diperban cukup banyak. Sementara itu, sang suami juga harus memakai alat bantu pernafasan. Mulut dan hidungnya tertutupi masker oksigen yang mengalirkan oksigen agar suaminya tetap bernafas. Di lain hal, banyak terdapat kabel-kabel yang nia tidak mengerti fungsinya. Ia lihat pula sang suami dipasang alat pemantau jantung supaya terkontrol detak jantungnya. Melihat posisi sang suami yang berbaring tak berdaya dan tak sadarkan diri itu, nia amat sedih. Matanya mulai berkaca-kaca memandangi sang suami.

“Mas Harisss, masss…. ini nia mas! Nia datang untuk nengok mas!”, teriak nia dengan suara parau menitikkan air mata.

“Mas, jawab dong mas… nia mohon….mas hariiiissss”. tangis nia tak tega melihat kondisi sang suami.

Sementara bayu terdiam, bingung melihat kondisi sang papa yang demikian. Anak itu sepertinya shock. Dalam pikirnya mengapa hal mendadak seperti ini bisa terjadi pada sang papa. Apakah ini hukuman dari Tuhan kepada papanya begitulah pikir bayu. Ia yang sudah lelah dan lunglai itu pada akhirnya menitikkan air mata juga. Ia terbawa pada bayang-bayang ketika bersama papanya. Anak itu tak kuasa menahan tak tangis. Ia khawatir papanya bakal meninggal dunia. Kalau benar demikian, ia akan ditinggal sosok yang bisa membimbing dan melindungi.

“Papaaa…… bangun dongg paaa….. bayu mohonn papaa bangun….pa…..”, tangis bayu hanya mampu melihat dari kejauhan.

Ibu dan anak itu tak kuasa menahan sedih melihat suami sekaligus ayah sedang tak sadarkan diri dengan kondisi tergantung pada alat-alat. Keduanya mulai cemas akan ditinggal oleh Haris.

### ####

Pak paijo sangat terpukul mendengar sang anak mengalami kecelakaan. Ia yang sudah renta menangisi keadaan putranya meski hanya mendapat kabar. Dari nia pula, ia mendapat kabar kalau putranya sedang dirawat sekarang. Ia pun juga tahu sang anak dalam kondisi tak sadarkan diri. Kini Pak paijo sedang menyalahkan dirinya yang bodoh menyuruh haris pergi berangkat menuju rumah orang tuanya. Kalau saja ia tak menyuruh, mungkin kecelakaan tidak menimpa haris.

“Ris…maafin bapakmu ini riss…..riss…Bapakmu ini sungguh bodoh..bodoh…ris”, ucap pak paijo di sebuah rumah sakit di daerah tempat tinggalnya.

Mendapat kabar putranya mengalami kecelakaan tentu
Pak paijo ingin segera ke Jakarta. Hanya saja, sang istri setelah mendengar kabar anaknya mengalami kecelakaan, mendadak pingsan tak sadarkan diri. Sekarang, tak hanya mencemaskan keadaan haris, anaknya, pak paijo juga mencemaskan keadaan sang istri yang tak sadarkan diri. Ia terpaksa membawa istrinya ke rumah sakit karena setelah melakukan tindakan pertolongan pertama kepada orang yang pingsan tak membuahkan hasil. Menurut dokter, istri pak paijo mengalami serangan jantung. Bertambahlah derita pak paijo.

### ####

Di kursi tunggu ruang ICU, bayu menahan kantuk seraya melamun di sore menjelang magrib. Ia mengantuk terlebih perutnya lapar. Namun, ia tak begitu mempedulikan karena baginya kesadaran sang papa yang utama. Anak itu masih mencemaskan papanya yang belum juga sadarkan diri. Di lain hal, sang mama sedang berbicara dengan pria yang berdiri tadi di depan ruang ICU. Dan ternyata pria itu yang membawa papanya kemari. Tak lama pria itu pergi. Kemudian mamanya berpindah berbicara dengan suster. Entah apa yang dibicarakan. Mata bayu yang masih membekas air mata tampak mengantuk berat. Anak itu tak lagi mampu menahan rasa kantuk yang terus menggodanya. Pada akhirnya anak itu memilih duduk sambil tertidur di kursi.

### ####

“Inget ya de. Kamu itu anak yang kuat. Heemm jadii tolong jagain mama untuk papa yaaa. Papa titip mama sama kamu”.

“Memangnya papa mau kemana paaa?”, tanya bayu amat cemas.

“Papa gak kemana-mana. Papa selalu di hati kalian.
Oh ya de, bilang yaa sama mama. Tolong maafin dosa papa selama ini “.

“Iya pa pasti bayu bilangin. Ayo yuk pa sekarang kita pulang ke rumah”, ucap bayu.

“Gak bisa de,….”, senyum haris kepada putranya tersayang.

“kok gitu paa?”, ucap bayu heran.

“De sampai jumpa suatu hari nanti yaa…. papa titip mamaa…..”, senyum haris meninggalkan putranya.

“Paaaaa papaaaaaaa jangannn tinggalin bayu dong paaaaa…….papaaaa!”, teriak bayu memanggil papanya yang berjalan meninggalkan dirinya.

“Paaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”, teriak bayu di kursi tempat ia tertidur.

“huh, huh, huh, itu cuma mimpi kan?”, bayu bertanya pada dirinya sendiri usai bangun dari tidur.

Akan tetapi, baru ia bilang demikian. Ia melihat para suster dan seorang dokter sedang berkumpul di ruang tempat papanya dirawat. Tak tahu apa yang sedang terjadi, di sisi lain, ia melihat mamanya sedang menangis dengan tangisan yang luar biasa. Ia benar-benar bingung apa yang sebenarnya terjadi. Tak lama, ia melihat dokter dan suster perlahan meninggalkan tempat dimana papanya dirawat. Pintu ruang yang tadinya tertutup rapat kini terbuka lebar. Di sana ia melihat sang papa seluruh tubuhnya ditutupi selimut, dari kepala hingga ujung kaki. Anak itu terheran-heran. Maka, Ia mencoba bertanya kepada mamanya yang sedang menangis. Sambil berjalan mendekati sang mama, perlahan pikiran anak itu memburuk.

“Ma, papa kenapa maa… kok dokter sama suster tadi masuk?”, tanya bayu mulai berkaca-kaca.

“Papaaa kamuu udahhhh meninggal deeeeeee….”, ucap nia menangis mendekap erat putranya.

Mendengar jawaban itu, tubuh bayu ingin roboh seketika. Namun, ia ingat pesan papanya dahulu kalau ia anak yang kuat. Tentu tidak boleh ia menangis. Hanya saja, mata yang terus menahan tangis, membuat kaca-kaca air matanya begitu terlihat. Bayu tetap kukuh menahan tangisnya. Ia menjadi pondasi ketika mamanya memeluk dan meluapkan tangisnya karena papanya sekaligus suami dari mamanya telah meninggal dunia.

“Selamat Jalan Papa. Semoga kita dapat bertemu lagi suatu hari nanti”, ucap bayu tegar dalam hatinya.

### ######

Tiga Minggu lebih kemudian setelah kematian haris….

Malam itu bayu sedang belajar di kamarnya usai makan malam. Ia amat fokus sekali hingga nyamuk yang menggigitnya ia tidak sadari. Dalam batin anak itu, ia harus rajin belajar supaya sukses di kemudian hari. Terlebih, kini ia yang tidak mempunyai seorang papa. Namun, ia mensyukuri karena memiliki sang mama. Atas dasar itu dan pesan papanya, maka Ia berjanji akan selalu menjaga mamanya. Di tengah ia sedang sibuk belajar, ia mendengar mamanya sedang muntah-muntah. Tentu ia penasaran barangkali saja mamanya sedang sakit. Lekas bayu meninggalkan kamar dan pergi menghampiri mamanya. Ternyata sang mama yang hanya memakai daster seksi berwarna hitam ada di kamar mandi yang pintunya terbuka.

“Mama kenapa ma?”, tanya bayu cemas.

“Enggak apa-apa kok de. Mama cuma mual aja. Mungkin kekenyangan”, ucap nia kepada putranya.

“Serius ma? apa gak perlu ke dokter?”.

“Iya serius. Engga perlu kok de”, timpal nia.

Mendengar jawaban itu, bayu kembali ke kamarnya. Sebelum memasuki kamar, ia melihat kakeknya, pak paijo, sedang menonton tv. Pak paijo pindah ke rumah anaknya dan tinggal bersama nia dan bayu usai haris dan istrinya meninggal dunia. Istri pak paijo sempat siuman dua hari setelah haris meninggal. Namun, mengetahui meninggalnya sang putra tersayang membuat keadaannya memburuk. Tak lama istri pak paijo berpulang kehadirat ilahi menyusul putra tercintanya. Pak paijolah yang membiayai hidup nia dan bayu sekarang. Oleh karenanya, ia pindah ke rumah haris. Bisnis jagungnya tetap berjalan sebagaimana mustinya karena di kampung ia percayakan semua kepada pak bejo, buruh taninya.

“Belum tidur kek?”, tanya bayu pada kakeknya yang sedang asyik menonton tv.

“belum. lagi seru nih berita politiknya, kamu sendiri udah belajarnya?”.

“Belum kek, ini baru mau lanjut lagi hehe”, senyum bayu.

Bayu kembali masuk ke kamar untuk melanjutkan belajarnya. Di lain hal, nia, mama bayu, usai ditinggal matinya dihadapkan masalah baru. Ia yang baru saja mual-mual, kemarin hari baru saja tes kehamilan. Dan hasilnya, ia positif hamil. Dalam pikirnya ia cemas tentang siapa anak yang dikandungnya. Terlebih, yang berhasil menanamkan benih ke rahimnya ialah pak broto, suaminya, bayu,…… Wanita itu terus mual-mual.

Sementara itu bayu di dalam kamarnya kerap mendengar suara sang mama muntah-muntah. Alhasil, Ia menjadi penasaran. Maka, bayu mencoba mencari tahu dengan mencari informasinya di internet. Ia hidupkan komputernya. Ia tunggu sebentar hingga layar desktop muncul. Barulah setelah itu ia mengklik mesin pencari/browser. Di dalamnya cukup lama ia gali informasi tentang mengapa mamanya muntah-muntah alias mual terus. Hingga pada akhirnya,

“Hah?! Mamaku hamil…..?!”, ucap bayu menyimpulkan dengan cukup terkejut.

Bayu berpikir matang-matang sesaat khawatir dugaanya salah. Namun, akhirnya ia menyimpulkan hal tersebut benar setelah membaca informasi yang dibutuhkannya. Terlebih ia tahu bahwa dirinya, pak broto, dan papanya berhasil menanamkan benih di rahim mamanya ketika bersetubuh. Apalagi saat itu mamanya tidak meminum pil kb. Tahu begitu, bayu jadi malas belajar. Ia memilih tidur di atas kasurnya tepat pukul setengah 9 malam. Sebelum tidur, ia mencoba berpikir positif bahwa anak yang dikandung sang mama adalah anak almarhum papanya, bukan anak pak broto apalagi dirinya. Coba dan coba terus ia meyakini dirinya bahwa anak mama nanti adalah anak papanya.

Selagi menenangkan diri, ia amat bersyukur bahwa 3 minggu terakhir selepas kepergian sang papa tidak ada masalah yang menaungi. Pak broto, pak arso, dan pak bejo tak lagi terdengar kabarnya. Hidupnya kini jadi aman, nyaman, dan tentram. Apalagi ada kakeknya yang siap melindungi menggantikan papanya. Bayu berharap dan berdoa sebelum tidur bahwa semoga hidup dia dan mamanya selanjutnya akan selalu senantiasa damai tak diganggu orang. Tak lupa pula ia berdoa agar selalu urusan keluarganya dipermudah oleh Tuhan.

“Ya, Tuhan semoga hidupku dan mama selalu diberikan kesehatan rasa nyaman, aman, tentram, dan damai. Jauhi kami dari orang-orang jahat. Ya Tuhan permudahlah urusan kami agar selalu kami bisa melalui segala rintangan dan ujian yang Engkau berikan…. Aaamiinnn”.

(Tamat)
———————————————

“Hoaaaaheeeeeeemmm…aduuhhh jadi kebangun, kan. Tidurnya sih di bawah jam 10 malam”, ucap bayu seorang diri melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul setengah 1 malam.

Lewat tengah malam bayu terbangun karena ia tidur terlalu awal. Anak itu lekas terdiam sejenak seperti ada sesuatu yang menganggu tenggorokannya. Ya, tenggorokannya kering. Ia ingin minum. Lantas segera ia beranjak dari kasurnya yang sudah ia ganti spreinya. Anak itu berjalan melangkah keluar kamar. Tampak di luar kamarnya hening. Ia berpikir sang mama sudah tertidur, begitu juga kakeknya. Maka ia lantas pergi ke dapur. Namun, sebelum pergi ke dapur ia dikejutkan suara desahan yang memang sudah tak asing lagi ia dengar. Suara desahan sang mama. Bayu sontak tersenyum. Ia berpikir mamanya pasti sedang masturbasi karena sang papa telah tiada. Bayu mencoba menengok ke kamar sang mama yang lagi dan lagi selalu ada celah yang terbuka. Dan, amat terkejutnya anak itu.

Sang mama sedang bugil dan dalam keadaan menungging. Buah dadanya berayun cepat. Mulutnya meracau hebat. Pinggulnya bergoyang-goyang menerima penis lelaki tua yang tengah meyodoknya dengan gaya doggystyle. Ya kakeknya sedang memacu penisnya dalam vagina sang mama. Tubuh lelaki paruh baya itu tampak berkeringat membasahi dada seraya terus menggenjot penis dalam liang peranakan mamanya.

“Ohhh niaaa sayyyaaangggg nikmaaatttt sekalii… memekmu masih tetep perettt sayang”, lenguh pak paijo.

“Ahhhhh ayaaaahhhh terusss sodokkk memekk niaa pakaaii kontoll ayaah yahhh….”, desah nia menerima hujaman penis ayah mertuanya.

“Siaaaappp sayaaanggg uhhh uhhhh dasar lonteeee… aku dah lama gak ngentottt”.

Bayu benar tidak menyangka persetubuhan sang mama dan kakeknya kembali terjadi. Ia kini melihat kedua tangan kasar kakeknya sedan meremass kedua buah susu mamanya. Sang mama mendesah nikmat karena lama tak disetubuhi. Bayu bertanya-tanya sejak kapan persetubuhan ini dimulai. Kini ia memandang sang mama dsn kakeknya hampir mencapai klimaks.

“Aaaahhhhhh ayahhhhhhhh”, desah nia menerima remasan tangan pak paijo di kedua buah dadanya.

“Ohhhhh niaaa sayaaanggg bapaakk mau ngecrotttt”, ucap pak paijo mempercepat pompaan penisnya.

“Aaaahhhh nia jugaaa yaaaahhh”, ucap nia mempercepat gerakan pinggulnya.

Sambil tetap mempercepat pompaan penisnya dan remasan kedua tangannya di payudara nia, pak paijo merapatkan tubuhnya dengan tubuh nia. Bunyi gesekan badan mereka yang berkeringat pun terdengar, “plekkk plekkk pleekkk”. Mulut pak paijo pun tak mau diam ia mencumbu leher nia di tengah keduanya akan klimaks.

“Aaaaahhh ahhhh ayaaaahhh buruaaann kontollnya sodokkk lebih cepet lagi”; ucap nia menggelinjang.

“Huuuuummm iyyaaaaa memek nia sayang urggggh urghhhh”.

“Aaaaaaaahhhhhh yaaaaaahhhh memekk niaaa maauu keluuaaarrr”, desah nia tak tahan sodokan penis pak paijo.

“Orgghhhhhh konttolll ayaahhh jugaaa sayaaanggggg”.

“Aaaaahhhh ayooo kontolll semburrr memekkk pakaiii sperrrrrrmaaaaaa aaahhhhhh creertrrrrrrt crrussssshhhh”, nia mencapai orgasme.

“ohhhhhh nnniiaaaa sayyaangg terima peju ayahh di memmmekkkkmu crotttt crrooottttt”.

Nia dan ayah mertuanya baru saja mencapai orgasme mereka. Tubuh mereka menyatu dalam keadaan telanjang. Nia dalam keadaan bugil ditindih ayah mertuanya usai mencapai orgasme. Sperma kental mertuanya pun mengalir dari liang senggama nia yang meluber hingga sisi pahanya. Wanita itu begitu pasrah. Di lain hal, bayu di luar sana yang sedang mengintip. Ia benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kakek dan mamanya. Walau penis anak itu sempat mengeras, dalam hatinya ia risau melihat mama dan kakeknya.

“Bayu, ngapain di situ? Sini kamu lihat mama kamu”, panggil sang kakek yang melihat cucunya sedang mengintip.

“Hah?!”, bayu kaget karena terpergok

Apa yang bakal terjadi selanjutnya?

Tunggu di Mamaku Hamil Season 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*