Home » Cerita Seks Mama Anak » Mamaku Hamil 18

Mamaku Hamil 18

Sabtu pagi ini begitu sejuk dan dingin, sedangkan tidak turun hujan semalam. Hal itu yang sedang dirasakan bayu. Tampaknya bukan suhu udara pagi yang dirasakan anak itu, melainkan sejuk hatinya menyadari ia dapat kembali bangun pagi di rumah sendiri. Akhir-akhir ini, ia begitu malas untuk bangun pagi, kecuali untuk urusan sekolah. Namun, semenjak kembali ke rumah tercinta dan berkumpul bersama papa dan mama, ia jadi begitu bersemangat untuk bangun pagi. Apalagi, hari ini ia berencana lari pagi bersama papa dan mamanya.

Usai bangun, tampak di kamarnya bayu yang belum mandi sedang mengenakan kaos hitam polos dan celana training panjang. Dengan hanya modal mencuci muka dan menggosok gigi, anak itu pelan-pelan memakaikan pakaiannya sendiri. Ia merasa mandi itu lebih baik setelah berolah raga, ketimbang sebelum olahraga karena nanti berkeringat lagi. Di sisi lain juga ia memilih pakaian yang cukup sederhana untuk dikenakan, namun cukup enak dilihat. Barulah setelah merasa dirinya tampil cukup keren, ia keluar kamarnya. Ketika berada di luar kamar, ia melihat suasana dalam rumahnya begitu sepi dan hening. Ia menduga jangan-jangan orang tuanya lupa kalau hari ini mereka berencana lari bersama atau, jangan-jangan keduanya terlambat bangun.

Hanya saja, ia melihat pintu kamar orang tuanya terbuka lebar. Di dalamnya kosong tanpa seorang pun. Ia menjadi bertanya-tanya kemana orang tuanya. Maka, ia coba telusuri seluruh ruangan, dari dapur hingga ruang tamu. Namun, tidak juga ia temukan. Pikirannya jadi buruk. Ia beranggapan orang tuanya meninggalkan dirinya sendirian di rumah. Sontak seketika pikiran itu berubah ketika ia melihat di balik jendela ruang tamu yang gordennya sudah terbuka. Ia memandang papa dan mamanya sudah berada di depan rumah. Tampaknya mereka sedang pemanasan sambil menunggu bayu. Tahu begitu, bayu buru-buru mengambil sepatu larinya yang di dalamnya terdapat kaos kaki yang lusuh dan sedikit bau. Dengan perasaan cuek, Ia kenakan kaos kaki yang tak lama dicuci itu secara tergesa-gesa. Selanjutnya barulah ia kenakan kedua sepatunya yang masih cukup elok. Nampak seiring pertumbuhan usianya, sepatu yang cukup tua ia miliki itu makin sempit ia kenakan. Bayu tak begitu peduli. Langsung saja ia mengikatkan simpul tali sepatunya kuat-kuat agar tidak terlepas.
Di depan rumah,
“Bayu kok lama banget ya pa?”, tanya nia sembari pemanasan meliak-liukkan tubuhnya ke kiri dan kanan.

“Tunggu aja ma, sebentar lagi paling”, jawab haris sedang sibuk dengan ponselnya.

Haris sedang mengecek pesan di ponsel miliknya karena pak arso baru saja mengabarkan kalau dia sudah berangkat menuju rumah orang tua Haris di Garut. Pak arso juga memberitahukan kalau haris tak perlu repot-repot meminta orang tuanya melayani pak arso dengan baik. Terlebih, pak arso punya villa pribadi di sana di mana haris pernah berkunjung. Setelah mengecek pesan pak arso di ponselnya, haris sontak melihat sang istri yang sedang pemanasan sebelum lari. Tampak sang istri memakai kaos putih polos yang sedikit transparan karena begitu terlihat tali bra yang mengait di tubuh wanita itu. Tak hanya hal tersebut, dari depan tubuh sang istri, haris dapat melihat cup bra tersebut menopang dan membopong buah dada nia yang ukurannya cukup besar. Belum lagi celana pendek hitam sang istri yang meskipun tidak ketat, namun bokong padat dan bulat milik istrinya tersebut sedikit terpampang jelas. Haris pun terkagum-kagum melihat istrinya.

“Ma, kamu makin seksi aja ya….” puji haris tersenyum menatap tubuh sang istri

“Ah, dari dulu memang begini kali pa. Papa aja kali yang baru sadar sekarang..” balas nia yang tak sabar menunggu bayu, putranya.

“Enggak kok ma. Papa serius kali ini”.

“Yaudah deh pa, mujinya entar aja. Sekarang mendingan papa panggilin bayu gih, suruh dia cepetan. Kalau enggak, kita bisa kesiangan larinya ini”, sahut nia kepada suaminya.

“Iya deh ma”.

Nia agak tersenyum ketika sang suami memuji dirinya. Dalam hatinya terdapat sedikit penyesalan yang cukup mendalam tentang hal yang menimpa dirinya selama tidak berada di sisi sang suami. Penyesalan tersebut tentu tidak bisa ia umbar kepada suaminya. Dia tidak tahu apa jadinya jika sang suami mengetahui hal tersebut. Maka, atas pertimbangan yang cukup matang mengenai baik buruknya, nia lebih menyimpan hal itu dalam-dalam saja.

“Kamu kenapa baru sadar sekarang sih mas? aku kan dari dulu udah begini. Gak ada yang berubah juga kok. Kamu ini memang selalu terlambat mas, diriku ini, istrimu, sudah mengkhianatimu kemarin. Istrimu ini sudah kotor. Aku sudah ditiduri laki-laki lain mas. Mereka laki-laki mesum itu dengan bebas menumpahkan cairan maninya ke liang peranakanku ini, termasuk ayahmu sendiri. Beruntung, setidaknya aku masih bisa mencegahnya supaya mereka tidak bisa menghamiliku…… Akan tetapi……., sebelum semalam, setelah kita berbaikan, dan kamu menumpahkan spermamu di dalam vaginaku, ada seorang laki-laki lain yang sudah menanam benihnya lebih dulu ke rahimku mas. Tentunya kalau begitu Aku hanya berharap benih laki-laki tersebut tidak berhasil aku buahkan dan hanya benihmu yang berhasil. Semoga pula sel spermamu mengalahkan sel sperma laki-laki itu. Namun, kalaupun nantinya itu tidak terjadi, aku berharap dengan sangat, kamu mau membesarkan anak yang bukan anakmu ini mas….walaupun aku tidak akan pernah memberitahumu tentang status anak itu nanti”, ucap nia dalam hatinya yang penuh kegalauan.

“Bayu! Udah belum?! Buruan de! kalau enggak nanti kita kesiangan nih!” teriak haris memanggil putranya

“Iyaa pa! sebentar aku nutup pintu rumah dulu..” sahut bayu menutup pintu rumahnya.

Setelah selesai memakai sepatu, bayu lekas keluar dan tak lupa menutup pintu rumahnya. Lalu dengan langkah cepat bayu menghampiri kedua orang tuanya yang sudah menunggu dirinya dari tadi. Namun, ketika sudah di dekat mereka, selain melihat wajah papanya yang sudah siap, Bayu melihat wajah sang mama yang begitu risau. Mata sang mama seperti orang linglung dan tidak begitu bersemangat. Bayu pun jadi bertanya-tanya apa yang sedang dirasakan dan dirisaukan mamanya.

“Yuk, langsung lari aja yuk..keburu siang nih”, ajak nia kepada suami dan putranya.

“Iya nih, yuk de, mama kamu udah nungguin kamu tuh sampai gak sabaran gitu” sahut haris membujuk bayu

“Iya, yuk ma, pa, kita langsung lari aja”.

Keluarga kecil itu pun akhirnya lari pagi bersama mengelilingi komplek perumahan dimana mereka tinggal. Mereka berlari sambil bercerita lucu seraya membangkitkan kembali romantisme keluarga yang sempat hilang. Haris dan nia lari membarengi bayu yang larinya cukup lambat. Keduanya juga mengatur nafas mereka masing-masing. Di lain hal, bayu malah sibuk memperhatikan buah dada sang mama yang berayun-ayun ketika berlari. Ia juga merasa bukan hanya dia yang memperhatikan, tetapi semua lelaki yang ia lihat sepanjang jalan. Mata mereka terlihat mengamati sang mama. Wajahnya tampak sangat bernafsu dan ingin sekali mencicipi payudara mamanya. Oleh karenanya, Bayu menjadi sedikit terganggu karena sang mama dipandangi begitu. Ingin sekali dalam hati bayu memukul para lelaki yang berpandangan mesum tersebut.

#############

Di tempat lain, tampak seraya menyambut pagi pak paijo sedang menyeduh secangkir teh hangat dengan pisang goreng buatan istrinya sambil menyaksikan berita di televisi. Sementara sang istri menemani di sisinya selagi melipat pakaian yang ia jemur kemarin hari.

“Atasannya haris jadi ke sini pak?”, tanya istri pak paijo.

“Jadi bu. Paling siangan dia ke sini”, balas pak paijo seraya mengamati televisi sambil mengunyah pisang goreng di mulutnya.

“Kita sediain apa nih pak untuk bosnya anak kita, terutama untuk makan siangnya”, tanya kembali istri pak paijo.

“apa aja deh bu. Si haris juga pesen ke aku gak usah repot-repot. Itu juga permintaan bosnya sendiri”.

“Oh yasudah kalau maunya begitu”, ujar istri pak paijo menyudahi aktivitasnya.

Istri paijo usai melipat pakaian membawa pakaian tersebut ke lemari yang ada di kamarnya. Sementara Pak paijo tetap asyik menonton televisi seraya menggonta-ganti chanel dengan remot yang ada di genggaman telapak tangannya. Lelaki paruh baya yang hobinya nonton berita politik di pagi hari tersebut, tiba-tiba malah menyaksikan berita olahraga. Amat jarang sekali pak paijo menyaksikan berita olahraga, sedangkan ia tidak begitu menyukai olahraga apapun jenisnya. Ya kalaupun ada berita olahraga yang ia sukai, paling-paling berita tentang bulutangkis, salah satu ikon cabang olahraga populer di Indonesia. Namun, kali ini beda persoalan. Ternyata bukan tentang berita olahraganya, melainkan presenter wanitanya yang cantik dan seksi.

“Cantik juga ini yang bawain acara… adduhh, jadi kepengenkan nih. Ohhh nia, menantuku sayang, kapan kamu ke sini? Ayah kangen berhubungan badan dengan kamu nih..”, ucap pak paijo menatap resah penisnya yang tegang.

Karena terlalu serius memperhatikan, akhirnya kemaluan lelaki itu berdiri di pagi hari. Penis tersebut mengacung seolah-olah ingin keluar dari balik celana pak paijo. Alhasil, pak paijo jadi bingung bagaimana menuntaskannya. Aneh sekali kalau ia bilang ke istri tentang apa yang dialaminya sekarang. Maka, buru-buru saja ia ganti chanel lain supaya batang kemaluannya itu mengendur.

Selagi masih menonton televisi, tiba-tiba terdengar sahutan dari depan rumah pak paijo. Suaranya tidak begitu asing di telinga pak paijo yang kian hari kian sulit mendengar karena usianya yang sudah menua.

“Pak paijo! Pak! Pak paijo! Pak!” teriak pak bejo dari depan rumah pak paijo

“Aduh, si bejo ini pagi-pagi udah ganggu waktu santaiku saja. Padahal, hari ini dia sudah aku beri libur…hemmm” ucap pak paijo mencoba menghampiri pak bejo

“Treeekkkkkkkkkk” pak paijo membuka pintu rumahnya

“Ada apa kamu bejo pagi-pagi udah main ke rumah saya, sedangkan sudah saya kasih libur kamu hari ini” gumal pak paijo melihat pak bejo di depan rumahnya.

“Eh iya pak, maaf. Saya cuma mau tanya, apa jadi bosnya haris ke sini?”, tanya pak bejo ingin tahu sekali.

“Terus kalau aku jawab iya, apa urusannya dengan kamu jo?”.

“Hehe. Enggak kok pak saya cuma kepengen tahu aja” balas pak bejo menggaruk kepalanya.

“Yasudah. Kamu pulang sana gih. Nikmati liburmu sebaik mungkin. Biar nanti kalau bekerja kamu bisa maksimal”, pesan pak paijo.

“Iya pak makasih. Mari saya pamit duluan”.

Pak bejo pun meninggalkan halaman depan rumah pak paijo yang tampak bersih sekali. Dalam perjalanan pulang, ia tersenyum-senyum tak jelas. Entah apa yang ada dibenak pikirannya. Di sisi lain, setelah memastikan pak bejo pergi, pak paijo lekas masuk ke rumahnya kembali. Ia terheran-heran ada apa dengan pak bejo yang bertanya tentang bosnya haris. Cukup dibuat penasaran dirinya. Mendadak muncul istrinya bertanya sesuatu,

“Pak, aku kok dua-tiga hari belakangan ini mimpiin si haris ya?” tanya istri pak paijo dengan raut wajah cemas

“Heeemm. Itu mah kamu kangen sama anakmu bu”, sahut pak paijo tersenyum.

“Aku sih awalnya ngira sih begitu pak. Tapi, anehnya kenapa perasaanku malah gak enak ya?”, balas istri pak paijo.

“Aduh bu. Jangan kamu pikir macam-macam. Gak baik seperti itu. Doakan saja anakmu itu selalu diberikan kesehatan dan keselamatan”, hentak pak paijo.

“Iya deh pak”.

###########

Bayu dan orang tuanya sedang melepas lelah di sebuah jajanan kaki lima di daerah rumahnya. Tampak mereka juga akan sarapan di sana. Saat sama-sama melepas lelah, bayu memperhatikan wajah sang mama yang terlihat lelah, namun tidak juga berubah, sama seperti ia melihatnya ketika di depan rumah. Ia pun ingin bertanya apakah jangan-jangan sang mama masih memikirkan persetubuhannya dengan pak broto kemarin hari. Namun, ia ragu karena ada papanya. Tiba-tiba sang papa menerima panggilan telepon.

“ma, aku jawab panggilan telepon dulu di luar ya?”, ucap haris keluar tempat jajanan seraya mencari sinyal.

“Iya pa”, sahut nia mempersilahkan.

Bayu terhenyak sejenak setelah sang papa keluar. Ia sudah tak sabar daritadi ingin lekas saja bertanya kepada mamanya. Maka, setelah tahu papanya akan keluar, ia langsung bertanya.

“Ma, kok daritadi wajah mama aku lihatin kayak ada pikiran gitu?”, tanya bayu menatap mata sang mama dengan penuh keingintahuan.

“Enggak kok de. Gak ada apa-apa”, jawab nia menyangkal.

“Serius nih ma. Mama masih kepikiran sama yang kemarin-kemarin itu?”, tanya bayu kembali

Nia terdiam sebentar. Ia ragu menjawab pertanyaan sang putra. Dalam lubuk hatinya, ia sungguh malas bercerita dan berbicara apa yang sudah dilakukannya selama ini kepada putranya. Tapi, apa boleh buat. Kini, hanya bayu yang bisa diajak bicara dan paling mungkin untuk membantunya untuk berbicara jujur dengan sang suami. Ia coba terus pikir matang-matang sebelum menjawab pertanyaan sang putra karena dalam dirinya juga masih ada semacam ketakutan rumah tangganya akan retak kembali. Di sisi lain, lagi dan lagi ini waktu yang pas dan jalan satu-satunya untuk melegakan batin yang selama ini terbebani dosa yang belum diketahui sang suami.

############

Sambil fokus menyetir menuju tempat tujuannya, pak arso bersiul-siul seraya menghibur diri dan mengusir kantuk. Ingin ia setel musik melalui setelan musik yang ada di dalam mobilnya. Namun, ia tidak mempunyai dvd apalagi flashdisk yang menyimpan kumpulan lagu kesukaannya. Kalaupun menyetel radio, ia tidak begitu suka dengan musik sekarang yang tidak cocok dengan selera lawasnya. Apalagi mendengar berita, itu dapat membuatnya jenuh dengan hingar-bingar politik yang tak jelas dan dimengerti oleh pak arso.

“Aduh si pak broto kok gak ada kabar ya. Wah, jangan-jangan dia udah menemukan nia, terus dia keasyikan genjot terus-terusan tuh perempuan di rumahnya. Awas aja ye tuh orang berhasil ngebuntingin si nia duluan”.

Penasaran tak ada kabar dari pak broto yang terakhir kali memberitahukan nia sudah tiada di tempat kosnya, pak arso pun mencoba menghubungi. Hanya saja, ponsel pak broto tidak aktif.

#############

“Huuhhhhh…akhirnya sampai rumah juga yaa pa”, ucap nia melemparkan tubuhnya ke sofa karena begitu lelah.

“Alaah mama, baru lari segitu aja udah cape hehe”, ledek haris.

“Ihhh papa mah, mama serius tahu”, gerutu nia.

“Iya deh papa percaya hehe”, senyum haris

Ketika orang tuanya sudah berada di dalam rumah, bayu masih berada di halaman depan rumahnya. Dia sedang memikirkan sesuatu tentang bagaimana memberitahu sang papa kalau mamanya sudah pernah ditiduri lelaki lain. Bagi bayu, hal tersebut perlu disampaikan secara hati-hati. Apalagi papanya belum tahu sama sekali. Kalau tidak demikian, bayu menduga rumah tangga papa dan mamanya akan retak lagi.

Di lain hal, nia barusan menceritakan semua yang dialaminya kepada bayu ketika sang suami tidak di dekat keduanya. Dalam pikir wanita itu, ia ingin melepaskan beban dosa yang ditanggungnya dengan cara bicara jujur kepada suaminya. Akan tetapi, dia sungguh tak berani. Ia khawatir rumah tangganya yang sudah akur bisa kembali pecah gara-gara pengakuan jujurnya nanti. Kalaupun dipendam, ia terus terbayang-bayang dan terbebani pikirannya. Beruntung, sang putra menawarkan bantuan. Putranya, bayu, mengatakan ia mau menjadi perantara mamanya untuk bercerita kepada sang papa. Bagi nia, ini merupakan jalan satu-satunya yang bisa diharapkan.

“Pa, mama mandi dulu yaa….”, ucap nia letih kepada suaminya

“Iyaa maa”, jawab haris yang sedang membuka ponselnya kembali.

Sambil terduduk di atas empuknya sofa, Haris kembali membuka ponselnya dan ternyata terdapat pesan singkat dari sang ayah, pak paijo. Dalam pesan singkat tersebut, ayahnya menginginkan haris bersama putra dan istrinya mengunjungi ayah dan ibunya di Garut. Bukan apa-apa, itu karena ibu haris memendam rindu di balik kekhawatiran kepada sang putra. Haris pun berpikir sejenak setelah membaca pesan singkat tersebut. Di tengah lamunan dan pikirannya itu, bayu melintas di depannya. Ia melihat wajah sang putra yang tampak kebingungan.

“De, ada apa? kok wajah kamu bingung begitu?” sapa haris kepada anaknya.

“Emmmm…. pa, aku boleh cerita sesuatu gak”, ucap bayu sedikit ragu.

“Boleh dong. Ayo sini-sini, duduk deket papa”, bujuk haris.

“Iya pa”.

“Ayo kamu mau cerita apa nih sama papa?”, tanya haris tersenyum

“Pa, papa tahu gak, selama papa enggak ada, mama selalu diganggu sama laki-laki lain?”, ucap bayu serius.

“Hah? Enggak, ini aja papa baru tahu dari kamu”, ucap haris terkejut menatap nanar mata sang anak yang sedang bercerita.

“Iya pa, jadi mama tuh sering diganggu sama laki-laki yang katanya suka sama mama. Ya jelas aja mama nolak mentah-mentah karena gak tahu siapa laki-laki gak jelas tersebut. Eh, tapi, sama laki-laki itu dipaksa juga mama ikut sama dia. Mama sempet ngelawan, tetapi laki-laki itu megang tangan mama kuat banget… yah mama ketarik deh ”.

“Hah? terus? Terus?”, haris penasaran.

“Untungnya aja ada aku. Aku bantuin tuh mama. Aku pegang deh sebilah kayu gede buat mukul itu orang supaya menjauhi mama. Untungnya orang itu gak tahu karena aku mukulnya tiba-tiba. Ya jadinya pingsan itu orang aku pukul”, ucap bayu terbata-bata

“Oh.. bagus dong kalau begitu”, timpal haris.

“Lah, kok bagus pa? Udah tahu kan mama diganggu….”, tanya bayu bingung.

“Bukan begitu, itu tandanya kamu bisa jagain mama kamu”, senyum haris.

“Oh…”.

“De, terima kasih ya udah jagain mama selama papa enggak ada. Papa harap kamu bisa selalu jagain mama kamu. Enggak kayak papa kamu ini, yang malah nyakitin mama. Papa juga yang bikin mama sama kamu menderita pasti karena harus pontang panting ke sana kemari dengan uang sedikit di luar sana. Sementara papa malah asyik-asyikan sendiri. Sampai sekarang tuh de, papa masih terus dihantui rasa bersalah sama mama”, ucap haris berkaca-kaca.

“Papa,….”, bayu menatap mata papanya.

“Terima kasih ya de udah jagain mama untuk papa. Sekarang papa percaya, kalau papa gak ada di rumah, ada kamu, anak laki-laki satu-satunya yang bisa papa percaya dan papa banggakan untuk nemenin mama selalu”.

“Kok papa ngomongnya gitu sih pa…?”, ucap bayu khawatir.

“Iya, papa ngomong begitu supaya ada yang selalu jaga mama kalau papa enggak ada di rumah. Lagipula kalau bukan kamu de, siapa lagi yang jagain mama? Sementara papa kan selalu sibuk. Eh iya maafin papa juga ya de kalau ada janji papa yang sering batal sama kamu dan mama”, haris tiba-tiba memeluk erat putranya dengan menitikkan air mata.

Mendengar ucapan sang papa, mata bayu berkaca-kaca. Namun, ia tidak ingin menitikkan air mata karena ia merasa sebagai anak yang kuat. Ia yang sebenarnya tidak paham betul persoalan yang dialami rumah tangga papa dan mama kini sudah ikut terlibat. Ia benar-benar tak mengerti apa yang telah terjadi kemarin hari, saat sang papa berpisah sejenak dengan mama. Namun, bagi bayu itu tak berguna lagi. Yang jelas sekarang ia harus menjaga agar senantiasa papa dan mamanya selalu bersama.

“Ciee ada apa nih papa sama anaknya lagi pelukan. Kangen-kangenannya belum selesai ya?”, senyum nia dengan handuk melilit tubuhnya usai mandi.

“ihh si mama malah dicie-in udah tahu kita berdua lagi serius nih”, sahut haris melihat istrinya hanya berbalut handuk.

“Iya nih mama”, timpal bayu.

Haris pun melepaskan pelukkannya dari sang putra. Ia tersenyum lega karena secara tidak langsung ia juga sudah melepaskan beban yang dirasakannya selama ini. Namun, suasana hatinya tiba-tiba berubah melihat nia yang membaluti tubuh telanjangnya dengan handuk. Penis laki-laki itu tiba-tiba mengeras. Ingin sekali ia menerkam tubuh sang istri yang masih montok dan sintal itu. Belum lagi haris melihat buah dada sang istri yang terlihat tersumpal oleh handuk yang menutupi.

“Bayu… sini….”, panggil nia kepada putranya.

“Iya ma”, lekas bayu berjalan.

Sesampai di dekat sang mama, mamanya berbisik,

“Kamu udah ngomong sama papa yaa?” bisik nia penasaran sekali di telinga sang putra.

“Iya ma”, jawab bayu mengangguk.

“Terus apa tanggapan papa?”, nia berbisik kembali.

“Enggak papa kok ma. Papa malah seneng justru mama sudah jujur”, balas bayu berbohong membisiki sang mama”.

Nia tersenyum menatap suaminya setelah mengetahui jawaban tersebut dari sang putra. Ia benar tak percaya suaminya tidak marah kalau dirinya pernah tiduri lelaki lain. Sebaliknya haris yang tak mengerti makna senyuman sang istri yang dilemparkan kepadanya membalas dengan senyuman juga. Kemudian Haris perlahan berjalan menghampiri anak dan istrinya. Tak lama untuk kesekian kalinya haris merangkul nia dan bayu.

#########

Pagi menjelang siang, usai peristiwa mesra yang singkat antara haris dan keluarganya, di dalam kamar, terlihat haris sedang rapi-rapinya dengan kaos berkerah dan celana jins santai. Pemimpin keluarga itu berencana pergi menemui ayah dan ibunya di Garut seorang diri. Haris memilih demikian karena tak ingin lama-lama berada di sana. Ia tidak mau mengajak bayu dan nia karena kalau diajak malah lain lagi ceritanya. Tentunya keberadaan haris di sana untuk menemui orang tuanya, terlebih sang ibu yang khawatir. Sekalian pula ia akan menemui atasannya, pak arso.

Di lain hal, nia amat setuju dengan pendapat sang suami. Ia tak mau kesana karena khawatir ia akan disetubuhi lagi oleh pak paijo dan pak bejo. Apalagi, pak arso juga ada di sana. Nia lebih memilih bersantai di rumah bersama sang anak. Ia juga bisa menikmati hari-hari tenangnya di rumah karena selama ini ia tidak mendapatkan iitu ketika berada di luar. Meskpun demikian, nia membantu kelengkapan sang suami yang akan berangkat ke Garut.

“Pa, papa enggak lama-lama kan di sana?”, tanya nia memperhatikan sang suami yang bersiap-siap.

“Enggak kok ma. Kalau udah beres ya udah pulang”.

“beneran nih?”.

“Sehari doang kok sayang, malam nanti aku udah pulang kok”, ucap haris mencubit pipi sang istri.

“Eh iya pa, bayu gak di kasih tahu kalau papa mau ke rumah kakeknya?”, tanya nia.

“Jangan deh ma. Nanti dia malah maksa mau ikut lagi. Bakal repotkan?”.

“Iya deh pa kalo begitu”, timpal nia.

Haris lekas berpamitan dengan istrinya setelah dirinya merasa sudah siap untuk berangkat. Keduanya pun melangkah pelan-pelan keluar rumah supaya bayu yang berada di dalam kamar tidak mengetahuinya. Nia yang mengantarkan sang suami ke depan, tak lupa memberi kecupan manis dan mengingatkan agar hati-hati di jalan. Sementara Haris pun tak lupa berpesan agar nia baik-baik di rumah bersama bayu. Lekas setelah berpamitan kedua kalinya di depan rumah, haris masuk ke mobilnya yang sudah terparkir di luar. Ia lantas menghidupkan mesin sejenak dan tak lama ia jalankan mobilnya berangkat menuju tempat tujuan. Tak lupa ia memberikan lambaian kepada nia, istrinya, sebagai tanda perpisahan. Nia pun juga membalas lambaian tersebut, hanya saja,

“aduh, kok perasaan aku enggak enak begini yaa….. heemm perasaan aja kali kayaknya…”, ucap nia berjalan masuk ke rumah.

Setelah melepas sang suami, nia mencoba untuk beristirahat di kamarnya. Terlebih, ia juga masih lelah usai lari pagi bersama haris dan bayu. Nia yang memakai pakaian lengkap, kaos dan celana pendek, merobohkan dirinya di atas kasur yang cukup lama ia tinggalkan. Perlahan-lahan wanita itu tertidur di kasurnya.

“hoaaheeemmmmmm…..” bayu terbangun dari tidurnya.

Bayu baru saja bangun dari tidurnya di pagi menjelang siang hari. Dia barusan tidur karena cukup lelah lari pagi dengan orang tuanya. Tubuhnya sempat lunglai dan pegal. Namun, usai bangun tidur, tubuh dan fisiknya cukup segar dan bugar untuk beraktivitas. Ia lantas beranjak dari kasurnya yang berantakan menuju luar kamarnya untuk melihat keadaan. Sesampai di luar, ia memandang ke seluruh ruangan di rumahnya yang tampak hening sekali. Dia berpikir kemana gerangan orang tuanya. Pintu kamar mereka tertutup rapat. Begitu juga dengan pintu depan rumahnya yang terlihat terkunci. Ia lantas mencoba berjalan ke arah kamar orang tuanya untuk mencari tahu. Tanpa mengetuk, ia membuka pintu kamar papa dan mamanya tersebut.

“cleeeeekkkkkkk……”

“Loh?”, heran bayu

Dia bingung mengapa cuma sang mama yang sedang tertidur di atas kasur. Dia pun bertanya-tanya kemana sang papa. Maka, karena dibuat penasaran, ia mencoba telusuri seluruh ruang yang ada di dalam rumahnya, mulai dari ruang tamu, dapur, hingga kamar mandi. Ternyata papanya tidak ada di rumah. Ia melamun sejenak memikirkan kemanakah sang papa. Namun lambat laun lamunannya itu malah berputar arah. Ia terpikirkan sang mama yang baru saja ia lihat sedang tertidur seorang diri atas kasur. Pikiran anak itu mengenang kembali ketika ia berada di rumah tante mira ketika ia bisa menyusu lagi pada mamanya. Kini, hasrat bayu kembali muncul. Apalagi dia dan mamanya cuma berdua di rumah.

“hehe, papa gak ada di rumah. asyik dong nih….” senyum bayu sendirian.

Ia yang tahu hanya berdua dengan sang mama di rumah, lekas menuju kamar di mana mamanya sedang tidur sendirian. Pelan-pelan ia buka pintu dan memasuki kamar orang tuanya. Dia lihat sang mama sedang terlentang di atas ranjang dengan gunung kembar yang membuat lekuk tubuh mamanya makin seksi saja. Ketika berada di dekat sang mama, Bayu mencoba naik ke ranjang dengan pelan-pelan supaya mamanya tidak terbangun. Ia perhatikan dengan sorot mata melotot seluruh jengkal tubuh sang mama dari kepala hingga ujung kaki. Ia merasa tubuh mamanya masih utuh seperti terakhir kali dia lihat. Tentu yang masih menjadi daya tarik anak tersebut ialah payudara mamanya. Ia ingat betul terakhir kali mencicipi susu sang mama ketika di rumah tante mira. Sayangnya, ia tidak terpuaskan karena keburu kepergok tantenya. Namun, kini betapa bahagianya bayu. Tak ada lagi yang akan mengganggunya menetek dengan sepuasnya. Mula-mula Ia coba sentuh gunung kembar yang padat dan kenyal mamanya,

“Nyet..nyett…nyettt”

“Masih gede aja ya nih tete mama…” ucap bayu menekan-nekan buah dada mamanya.

Sebetulnya bayu amat gemas dan ingin segera meremas karena dia mendadak lapar. Ia ingin sekali melahap susu mamanya. Namun, ia bingung bagaimana caranya. Kalau ia diam-diam menyusu, tentu kalau ketahuan dia bisa dimarahi mamanya lagi. Di sisi lain, di bawah sana, penis bayu sudah mengeras. Ternyata, ada yang ingin mencicipi juga di kala bayu masih belum menetek. Dia sedikit heran bagaimana bisa dirinya jadi bernafsu dengan mamanya sendiri. Mungkin, bayu terlalu sering menyaksikan aktivitas sang mama yang digauli oleh lelaki lain yang bukan ayahnya. Kini, anak itu berpikir sejenak bagaimana caranya menyusu karena sungguh ia sudah tak tahan. Mulutnya ingin sekali menjilati dan mengenyot puting mamanya tanpa batas. Selain itu, ada keinginan tersembunyi darinya agar sang ‘adik kecil’ juga bisa menyetubuhi sang mama. Namun, itu bagi bayu bukan yang utama, kecuali menetek tadi. Dan, ia pikir dengan meminta langsung akan lebih baik, meskipun mamanya nanti akan menolak. Bagi bayu, setidaknya ia berusaha dulu.

“Ma, mama, bangun dong ma… “, ucap bayu jarinya menyentuh lengan sang mama yang padat dan berisi.

“Hoaheeemm, eh kamu dee… ada apa kok di sini?” nia dengan mata masih mengantuk sedikit terheran.

“Ma, bayu mau nenen ma…..”, ucap bayu manja tanpa sungkan-sungkan.

“Hah? gak boleh!… gak boleh!”, mata sang mama terbelalak kaget dengan tubuh sedikit terbangun

“yah mama mah….. aku mohon ma”.

“Gak boleh!”, larang nia.

“uhhh mama mah gitu. Padahal, aku dari kemarin udah banyak bantu mama. Mukulin pak broto sampai bantuin mama ngomong sama papa. Kalau gak gitu kan, mama gak bisa akur lagi sama papa mah”, gerutu bayu.

“Tetep gak boleh!”.

“Ishh mama mah, giliran papa, kakek, pak broto, pak arso, dan pak bejo boleh dengan bebas netek sama mama. Mereka juga puas banget nyusu sama mama… Padahal, itu kan jatah susu aku maah. Eh giliran aku gak boleh. Udah gitu parahnya, mereka bisa ngentotin mama berulang kali lagi. Sedangkan aku kan cuma netek doang kan ma…apa salahnya sih?” ucap bayu meluapkan kekecewaannya.

Nia terdiam sejenak dengan apa yang baru diucapkan sang putra. Wanita itu mengubah posisinya menjadi terduduk di atas kasur. Ia agak menghiba setelah mendengar ucapan sang putra. Ia juga menjadi merasa bersalah apalagi hutang budinya kemarin hari belum terbayarkan. Ia merasa telah memperlakukan putranya secara tidak adil.

“Kamu kan udah gede de? kok masih aja nete sama mama…”, nia masih mencoba melarang

“Hhmmm bapak-bapak itu kurang gede apalagi sih ma? apa jangan-jangan mereka boleh nete sama mama karena mereka punya kontol gede? Terus timbal balik gitu? mama kasih mereka nete, mereka bisa ngentot mama. Gitu ma?”, balas bayu

“Ishh bayuu…”.

“ayo dong maa… aku mau nenen maa…. aku hausss nih….”, manja bayu.
“Yaudah deh de. Mama kasih kamu nete. Tapi, jangan lama-lama ya. Mama masih ngantuk banget nih de.”

“Oke ma”, sahut bayu dengan muka senang sekali.

Tanpa pikir panjang nia buka kaos yang menutupi tubuhnya. Tak ketertinggalan bra berwarna putih yang menopang payudaranya ia copoti. Kini, di depan bayu sudah terpampang buah dada mamanya yang terpampang bebas dan menggantung. Buah dada yang berputing coklat tersebut masih saja utuh dan kencang meski sudah beberapa kali disantap dan digigit oleh laki-laki. Bukit kembar tersebut juga masih bulat meski sudah sering diremas. Sekarang, Bayu sudah bisa melihat payudara mamanya dengan bebas karena keadaan sang mama sudah setengah telanjang. Perlahan dengan kondisi sama-sama duduk, bayu mendekati sang mama. Kedua tangannya tanpa ragu mencakup kedua susu mamanya.

“Plopppp”

“ahh ade katanya kamu mau netek aja, kok malah dipegang?”, tanya sang mama.

“Aku mau lihat tete mama dulu ma… apa masih utuh, meski udah sering disedot sama bapak-bapak mesum itu”.

“ohhh…”, nia membiarkan sang putra memperhatikan dengan amat serius bentuk payudaranya.

“netttt nettt glekk glekkk”

“Ohh sayaang, kok sekarang tete mama malah diremes sihh ohh…”, ucap nia geli

“Biar susunya nanti keluar banyak mah pas aku nete engghhhh”, ucap bayu gemas.

Nia tampak kegelian. Tubuhnya mencoba memberontak dan bergerak ke sana kemari ketika bayu putranya sedang meremas-rema payudaranya. Tangannya mencoba meremas sprei kasurnya. Ia melihat tangan bayu begitu liar menjamah. Bahkan, terkadang gunung kembarnya tersebut anak itu pencet-pencet tak karuan. Tak hanya geli yang wanita itu rasakan. Ia mulai menahan untuk tidak mendesah ketika sang putra masih saja gemas dengan buah dadanya. Di dalam hatinya, nia mulai merasakan kalau ia menikmati remasan bayu.

“grrrmmmm grmmm nnnyet.. nnnyeett…”

“ahhh geliii de….udah dong, mama geli ni kamu remas terus nenen mama ohh”, ucap nia yang masih kegelian

“erngggghh maahh aku mau tanya dongg…” ucap bayu meremas susu mamanya

“ohhh tanya apa de…?”, balas nia

“paling repot nyusuin siapa maa? Terus kenapa?”, ucap bayu mulai meremas agak kuat.

“aaggghhh pak broto de… soalnyaa dia udah nyodok memek mama kenceng banget, eh mulutnya gak kalah nyedot susu mama dengan lahap banget, sampe-sampe puting mama mau dimasukkin semua ke mulutnya…ahh bayuuu jangan diremes kenceng-kenceng sayang”.

“Ohh..kalo paling nyebelin siapa maa? Terus kenapa?”, tanya bayu kembali masih meremas buah dada mamanya dengan menggeliat.

“ahhh pak arso sama pak broto de…. Soalnya mereka berdua mama tetein sekaligus.. ohhh mulut mereka sama-sama ganas ngenyot nenen mama.. udah gitu keduanya kompak masukkin jari ke memek mama…ohh..udah dong deee geli mama nih”.

Kemudian Bayu melepas cengkraman kedua tangannya dari buah dada mamanya. Entah mengapa anak itu sekarang sedang sibuk menelanjangi dirinya sendiri. Semua pakaian yang menutupi tubuhnya ia geletakkan begitu saja dibawah ranjang. Kini anak itu di atas ranjang dalam keadaan bugil dengan batang penis yang ukurannya tidak besar sedang mengeras. Nia yang melihat itu sontak kaget. Dia dalam keadaan setengah bugil memperhatikan sang putra yang sedang menelanjangi dirinya sendiri. Nia benar-benar tak mengerti dengan kondisi yang sekarang ia hadapi. Ia juga melihat kemaluan sang putra tegak berdiri mengacung ke arah hadapannya. Dalam benak nia, sang putra sudah tidak hanya ingin menetek, tetapi juga ingin menidurinya.

“kamu mau ngapain dee…? mau netek kok telanjang?”, tanya nia bingung

“maaaa lihatt kontol bayuu maaa…. gara-gara bapak-bapak itu bayu kepengen ngentot mama juga..uhhh”, ucap bayu memperlihatkan penisnya yang tegang.

“ohhhh emm mama gak mau dekk….”, larangg nia.

“enggghh emmm enggak kok maa ini biar leluasa ajaa..,yaudah deh maa. Mama tiduran aja sekarang. Bayu mau nenen lagi nih…”. balas bayu.

“tapi jangan sampe yang aneh-aneh yaa de…”, ucap nia sambil berbaring di atas kasur bersiap meneteki sang putra lagi.

“Iya mahh”.

Bagi bayu mendengar larangan sang mama, jiwanya memberontak. Hasrat seksual yang sedang tumbuh dalam diri anak itu berguncang tak kalah hebatnya. Bayu berpikir ini kesempatan langka dimana di rumah tidak ada orang sama sekali yang akan mengganggu dia dan mamanya. Tentu dia tidak akan menyiakannya. Ia ingin lebih dari sekedar menyusu. Namun, bayu berpikir bahwa ia musti sedikit bersabar. Anak itu memilih untuk menetek lebih dulu sesuai apa yang dia sepakati dengan sang mama.

“Ayoo buruaann sini de katanya mau nete sama mama lagi..” ucap nia tak sabar.

“Iyaa maa..”

Bayu menatap kedua payudara sang mama yang tepat di depan wajahnya sekarang. Puting sang mama ternyata mencuat. Anak itu menjadi terangsang sekali untuk melumatnya. Rasa-rasanya puting sang mama bagi bayu sedang menantangnya untuk lekas menghisap. Sementara nia sedang mengatur nafasnya yang sedang terengah-engah. Jantungnya terasa berdebar-debar menunggu sang putra melumat bukit kembarnya. Pikiran wanita melayang tak tentu arah. Di lain hal, ia mulai merasa kemaluannya mulai berkedut-kedut.

“ohh maaa puting tete mama gede banget sih maaaa ……aaaammm emmm nyemmmm”, mulut bayu menerkam buah dada sang mama.

“aihhhhh… orghhhhhh bayu sayangg pelen-pelen dong netenya de…”

“srrrrrupppppttt…slerrrppppp….”.

Nia merasakan sensasi nikmat yang luar biasa ketika sang putra menikmati bukit kembarnya. Geli wanita itu bercampur nikmat yang tak tertahankan hingga ia mau tak mau mendesah. Ia dapat merasakan gigi sang putra terkadang menggigit puting susunya. Tak hanya itu, nia juga merasakan lidah anaknya tersebut menjilati seluruh permukaan kedua buah dadanya. Apalagi ketika bayu menghisapnya, nia dapat merasakan air susu yang tidak lazim ia keluarkan karena kelainan mengalir ke mulut sang putra. Tentunya bayu menikmati itu semua. Mulut dan lidahnya tak berhenti beraktivitas. Sementara kedua telapak tangannya membantu meremas susu sang mama dengan kuat.

“maaaaah enaaaaakk maaaa nenen sama mamaaah cyeeppp cruupppttt sruupptt”

“aihhhh iyyaaaa deee..” desah nia dengan mulut meracau tiada henti.

“ohh pantesss pakk broto demenn nenen sama mama yag, susunyaa mama manisss emmm cruppptttt”.

“aahhh bayuu sayaangg udaahhh dongggg dee…”, sahut nia.

Mendengar sahutan sang mama, bayu melepaskan mulutnya dari buah dada sang mama. Anak itu ternyata belum puas karena kedua tangannya masih tetap berada di payudara mamanya. Ia meremas-remas, bahkan memelintir puting mamanya tanpa rasa ampun. Selain itu, Ia juga membetot buah dada mamanya yang berukuran besar itu. Ia acak-acak tak tentu arah. Sementara nia tubuhnya mulai berkeringat. Hasrat seksual wanita itu juga mulai bangkit. Liang kemaluannya berkedut kencang, ingin segera dimasuki sebuah batang kemaluan laki-laki. Ia melihat raut wajah sang putra sudah dikuasai nafsu birahi untuk menyetubuhi dirinya.

“Dee aahh udahhh dongggg jangan diremess nenen mamah….”

“ohh gakk mau mahh sebelumm mamaa ngizininn bayuuu ernghhhhhh”, bayu meremas tanpa ampun payudara mamanya

“aihhhh ngizininn apaaa sayanggg ohh……kann udah mama kasih nenen tadi”.

“bayuu mauu ngentot mama ohhh”, ucap bayu berani.

“aahhh jangaannn bayuu sayanggg”, larang nia.

“Ahhh mama gitu…. mama tahu gak sih, setiap mama dientot sama bapak-bapak mesum itu kontol bayu mengeras mah. Nah, gara-gara kejadian itu kalau bayu suka teringet-inget penis bayu langsung keras maa.. bayu bingung ngelampiasinnya bagaimana nih ohhh”, bayu terus membetot payudara mamanya.

“ohhhh bayuuu sayanggg…”, desah nia bingung ingin menjawab apa.

Nia sekarang terjepit dalam sebuah kondisi yang amat serba salah. Dia melarang sang putra yang ingin menyetubuhinya. Di sisi lain, batinnya bergejolak. Ia malah khawatir jika bayu terus-terusan menahan hawa nafsunya, hal itu bisa menimbulkan sesuatu yang buruk pada diri sang putra. Hal lainnya ialah birahi nia sudah kepalang tanggung. Liang vaginanya sudah berkedut-kedut semenjak bayu meremas budah dadanya berulang kali. Ia ingin ada batang kemaluan laki-laki yang lekas segera menyetubuhinya. Setelah lama ia pikir-pikir. Ia berencana membiarkan sang putra memasukkan penis ke dalam liang kemaluannya. Lagipula, bagi nia itu akan berlangsung cukup sekali aja.

“Maaaa gimanaaa? Kontol bayuuu udah gak tahan pengen ngentot mama nih”, ucap bayu yang penisnya sudah amat keras.

“ohhh iyaaa sayangggg. Yaudahh sekarang kamu copotin celana pendek mama..”, pinta nia.

Mendengar ucapan sang mama, kedua tangan bayu berpindah dari buah dada ke pinggang sang mama, tepatnya ia memegang lingkaran pinggang celana mamanya.

“sreeettttttttt” bayu yang sudah dikuasai nafsu menarik celana pendek mamanya dengan paksa.

“ohhhh buru-buru banget sih dee… udah gak sabar yaa?”.

“Iyaa maa,,, lihat dong kontol bayu nih”, balas bayu menjatuhkan celana pendek mamanya ke sisi ranjang.

Usai mencopot celana pendek mamanya. Bayu cukup terkaget. Ia melihat sang mama tidak memakai celana dalam. Kedua paha putih mulus sang mama kini berada di hadapannya. Tak hanya itu, liang vagina mamanya yang ditumbuhi bulu-bulu halus kini untuk pertama kalinya terlihat di hadapan bayu. Sementara nia untuk pertama kalinya ia melihat penis sang putra yang tidak berukuran selayaknya penis dewasa sedang mengeras. Penis itu terlihat sudah tak sabaran ingin memasuki tubuhnya. Perasaan nia campur aduk. Namun, nafsu yang sudah menguasai mengalahkan segalanya. Keduanya kini sama-sama bugil di atas kasur.

“nihh memek mama nihhh….ohh”, nia mengangkang menunjukkan pada sang putra liang kemaluannya.

“ohhhh indahh maaa, meski udah sering dientot yaa..”.

“Ohh iyaa de…”, sahut nia.

“Maa, bayu mau tanya, mama kan udah dientot sama bapak-bapak mesum itu, nah paling enak dientot kontol siapa? Terus kenapa?”.

“Hemm Mama gak mau jawab de…”, bungkam nia.

“ahh mama mah… jawab dong biar cepet kelar nih ma…”, balas bayu.

“Pak broto dee… kontolnya meski item, tapi gede. Kontolnya demen banget nyodok kasar memek mama berulang-ulang. Memek mama yang dibuat sesek makanya ketagihan terus disodok sama kontol itu ohhh”, ucap nia mengenang

Penis bayu makin keras dan mengacung saja setelah mendengar jawaban sang mama. Ia sudah tak tahan ingin segera langsung saja menyetubuhi vagina mamanya yang belum begitu basah. Dalam pikir bayu yang tidak pernah menyetubuhi seorang wanita yang terpenting hasrat seksual yang membebani pikirannya harus segera tersalurkan. Ia sudah cukup menderita dengan penis yang terus berdiri kala mengingat-ngingat sang mama disetubuhi lelaki lain.

“Maaa, bayu masukkin kontol bayu sekarang yaahhh…bayu udah gak tahan banget nihhh”, mohon bayu yang hendak mengambil posisi tubuh di atas sang mama.

“Tapi memek mama kan belum basah de…”, ucap nia dengan wajah bingung.

“Bayu ludahin aja ya maa. Lagipula, penis bayu kan gede…”.

“heemmm, yaudah deh kamu ludahin aja….”. balas nia yang agak memaklumi.

“Cuihh cuih…..”, bayu meludahi vagina sang mama dengan air liurnya.

“Ohh.. ludahinnya kasar banget sihh de…”.

“Soalnya Bayuu udah gak sabar kepengen nyodok mama maahhh….”, timpal bayu dengan wajah blingsatan.

“Ohh yaudahh buruan siniii… masukkin kontol kamu ke memek mama sayang….”.

Sinyal dari sang mama, membuat bayu lekas memegang batang penisnya. Penis yang keras itu ia arahkan tepat di liang senggama mamanya. Ia gesekkan sesekali seperti apa yang pernah dia lihat ketika sang mama hendak disetubuhi lelaki lain. Sementara nia jantungnya berdegup kencang. Meski penis sang putra tidak sebesar penis laki-laki dewasa, liang vaginanya amat berkedut-kedut menanti penis putranya sendiri yang sebentar lagi akan menusuk. Kedua pahanya yang mulus ia buka lebar-lebar dengan sengaja agar bayu mudah memasukkan penisnya. Mata wanita itu menatap mata sang putra yang sedang fokus membimbing penisnya masuk ke vagina nia. Anak lelakinya, bayu, tak lama lagi segera menyetubuhinya. Kedua tangan nia meremas sprei selagi menunggu penis putranya menyeruak masuk ke dalam kelamin wanitanya.

“Deee buruannn de… jangan digesek teruss. Kapan masuknya kalo digituin mulu heemmhh”.

“Mama udah gak sabar juga yaa pengen bayu genjot memeknya?”, tanya bayu tersenyum.

“iyaaa sayanggg, mama kepengen ngrasain kontol kamuu nih”, ucap nia manja, yang juga sudah dikuasai nafsu birahi.

“Uhh iyyaa nih maa.. bentar lagi bayu masukkin kok kontol bayu….ohhh enghhhhhhh”, bayu perlahan memasukkan penisnya.

“ahhhh sayang kontol kamu udah mulai masuk yaaaa….”, nia merasakan kepala penis sang putra menembus gerbang kemaluannya.

“dikit lagi semuanya maahhh ohhhhh enaakk banget memek mamahh…bleessshhhhhh”, sahut bayu yang sedang serius memasukkan penisnya ke vagina sang mama.

“aaahhhh masukk semuaa ya sayanggg kontol kamuu ke memek mamaahh yahh..aihhhhhhhhh”, nia merasakan batang kemaluan putranya.

“uhhh iyaa maa.. akhirnyaa bayu bisa ngentot mamah juga uhhh enak mahhh…”.

Dalam posisi misionaris, nia sedang disetubuhi putranya. Meski penis sang putra tidak besar, nia dapat merasakan ketika batang kemaluan sang putra bergesekan dengan dinding liang vaginanya. Penis itu seperti sedang mengaduk-ngaduk liang kemaluannya layaknya adonan kue.Bagi nia, setidaknya penis putranya mampu menggaruk-garuk kemaluan wanitanya yang sedang gatal sekali. Nia merasakan penis tersebut secara perlahan-lahan keluar-masuk terus bergesekan dengan pinggiran liang vaginanya. Terkadang temponya cepat, terkadang temponya melambat. Nia menatap wajah sang putra yang sedang menikmati.

“Maaa angeet memek mama….uhhh uhh”, ucap bayu menggenjot mamanya untuk pertama kali.

“Clepphh clephhh cleeppphh”, bunyi penis bayu memompa vagina sang mama.

“ohhh iyaa sayaanggg ayoo buruan genjotnya de….”, pinta nia

“Iya maa…..enghh enghhh”

Pada usia pubernya, bayu untuk pertama kali memasukkan penisnya ke kemaluan sang mama. Begitu nikmat ia rasakan. Apalagi selama ini ia hanya bisa menyaksikan persetubuhan mamanya dengan lelaki lain hingga selalu membuat penisnya tegak berdiri. Semenjak itu pula bayu mempunyai nafsu yang tak pernah terlampiaskan dan selalu menggelora di dalam diri anak itu yang sedang memasuki usia puber. Namun, kini ia bisa melampiaskannya tidak hanya menyaksikan dan memototi. Ia sekarang menjadi pelaku langsung dimana penisnya sedang menggembosi vagina mamanya. Pinggul anak itu naik turun membimbing penisnya yang berada di dalam kemaluan sang mama. Nafasnya mendengus-dengus pertanda nikmat yang sedang ia rasakan. Matanya melihat mulut sang mama yang sedang meracau hingga ia tak mau kalah untuk terus memompa penisnya.

“cleephh clepphh cleephhh….”

“Maaa enak gak dientot bayu mahh?”, tanya bayu memperhatikan mulut sang mama yang mendesah tak karuan.

“Enak sayang ahhh ahhh”, desah nia yang merasakan vaginanya mulai basah.

“Maa bayu mau ciuman sama mama…boleh yaa..”, pinta bayu yang tak tahan melihat mulut sang mama yang terus mendesah.

“ohhhh iyyyaaa sayaangg sinii cium bibir mama..emmm muacchhhh”.

“ohh iya maa kitaa ciumann…emmm muachhh”, ucap bayu yang bibirnya langsung menyongsor mencium bibir mamanya.

Nia yang sudah dikuasai birahi seksual yang sedang memuncak, membuka mulutnya, membiarkan putranya memainkan lidah di mulutnya saat keduanya berciuman. Pada awalnya lidah nia pasif dan cenderung diam ketika lidah sang putra sibuk menjilati seluruh ruang di dalam mulutnya. Ia terheran-heran dari mana sang putra belajar memainkan lidah seperti itu. Ia mengira mungkin sang putra teramat sering menyaksikan dirinya disetubuhi lelaki lain. Lambat laun lidah putranya menggoda lidahnya untuk bermain lidah. Nia mencoba menahan dirinya. Namun, ia tak kuasa. Ia akhirnya tergoda juga untuk bermain lidah dengan putranya. Tak hanya itu, air liur putranya mencoba masuk ke mulutnya. Terasa sang putra menginginkan sang mama menelannya. Nia pun mau tak mau menelannya.

“slllerrppp sluurrpppp slerrrpppp”

“Maaa telen ludah bayu yaah maahh slurrrppppp”, pinta bayu.

“iyaaa sayangg emhhhh glekk glek…”

Kedua tangan bayu tidak tinggal diam. Tangan anak itu sibuk meremas kedua buah dada sang mama yang bergoyang-goyang ketika ia sibuk memompa penisnya di liang peranakan mamanya. Ia terkadang membetotnya ataupun mengelitik puting sang mama yang mengeras. Sementara pompaan penisnya di vagina sang mama tiada henti. Ia amat bersemangat di kala rumah yang sedang sepi itu. Baginya itu kondisi yang harus dimaksimalkan semaksimal mungkin.

“Maa… mama belum mau keluar yaa? Bayu mau keluar nihh uhh uhh”.

“ohhh belum sayangg,,,,mama bantu yaahh?”, ucap nia.

“Enghhhh…iyaa maa… tapi kita keluar bareng yah maa…”, pinta bayu masih sibuk memompa penisnya.

“Iyaa sayangg kita keluar barengg ahh ahh”, balas nia yang masih terus digenjot penis putranya.

Nia bisa merasakan penis sang putra yang akan segera ejakulasi. Ia merasakan penis tersebut berkedut cukup kencang di dalam kemaluannya. Nia yang belum mau orgasme, mau tak mau harus memaksakan orgasmenya agar persetubuhan dengan putranya lekas berakhir. Di lain hal, nia juga tak khawatir jika putranya melepaskan sperma di dalam rahimnya. Ia yakin sekali sperma sang putra tidak bisa membuatnya hamil karena jumlahnya pasti kalah banyak dengan sperma pak broto dan suaminya. Kini nia fokus untuk membuat dirinya dan sang putra agar bisa orgasme bersama. Nia yang merasakan sodokan penis putranya makin cepat, menyambutnya dengan menggoyang pinggulnya dengan sekuat tenaga agar terus bergesekan dengan batang kemaluan putranya. Kedua tangannya pun memegang pinggang putranya. Kedua pahanya tetap membuka lebar. Kakinya terasa ingin menendang-nendang ketika putranya terus memompa. Sementara buah dadanya yang sudah basah karena keringat dirinya dan bayu yang jatuh, terus berayun-ayun.

“deee mama goyang nih memek mama ahh ahhhh”, desah nia menggoyang pinggulnya cepat.

“Iyaa maa.. aku entot mama cepet yaa uhh uhh”.

“aaahhh iyaa de….entott terus memek mama sayang.ohh..”, desah nikmat nia.

Bayu sudah dipuncak orgasmenya. Kedua tangannya meremas-remas payudara sang mama yang berayun-ayun.

“Urngggghh iyaa maahhh, maaa….enak banget memek mamah….unghhh”, bayu memompa makin cepat.

“Iyaa sayaangg…ahhh ahhh…”, nia memegang pinggang putranya yang makin cepat menyodokkan penisnya

Nia juga mulai merasakan di puncak orgasmenya. Vagina wanita itu berkedut hebat. Apalagi sang putra sibuk meremas payudaranya dengan kasar.

“Maaaaa kontol bayu mau ngecrott nih maaa unghhhhh”.

“aaahhh ayo bareng memek mama sayang…”, nia terus menggoyang pinggulnya.

“manaa???? ayooo muncratin memek mama mahhh…unghhhhh”

“aaahhh iyaaa sayaaanggg iniii nihhh mama muncraaaattt crrussssssshhhhhhh creeeettttttt creeetttttt ahhhhhhhhhh”, desah nia panjang, pinggul wanita itu berguncang hebat sambil melepas cairan kemaluannya.

“unggggghh unggghhh mama sayaanggg terima peju bayuuuuu iniii arggggghhhhhh crotttt crottttttttt”, lenguh panjang bayu, menekan dalam-dalam penis anak itu dalam vagina mamanya sambil melepas spermanya.

“brrrrrrukkkkkkkk”, ambruk bayu di atas tubuh sang mama usai ejakulasi hebat bersama sang mama.

Nia terdiam sejenak merasakan lahar panas sang anak yang mengalir di dalam liang kemaluan bersamaan dengan cairan miliknya. Ia benar-benar tak menyangka sang putra akan menyetubuhinya juga. Dalam hatinya yang terdalam, jangan sampai sang suami tahu. Jika iya, ini akan lebih parah jadinya. Wanita itu terkulai lemas. Sementara sang putra terdiam lelah juga. Keduanya tertidur bersama di siang hari dalam keadaan bugil tak berbusana di kala sang suami sedang dalam perjalanan menuju rumah orang tuanya.

Tiba-tiba ponsel nia berdering,

“Kringggg kringgggg kringggg”

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*