Home » Cerita Seks Mama Anak » Mamaku Hamil 14

Mamaku Hamil 14

Di sebuah kamar seorang wanita bermandi keringat bersama dua orang lelaki tanpa sehelai busana pun di atas satu ranjang yang sama. Wanita itu masih terbangun di atas ranjangnya sementara dua laki-laki yang bersamanya tampak sudah terlelap dengan wajah amat lelah. Ya, wanita itu adalah Nia. Nia tidak ikut tidur melepas lelah usai berhubungan badan dengan pak broto dan pak arso yang sudah terlelap lebih dulu setelah menyetubuhi dirinya. Ia masih sibuk membersihkan mulut dan vaginanya yang dipenuhi oleh sperma pak broto dan pak arso yang berejakulasi di kedua bagian tubuhnya itu. Sambil membersihkan, tatapan matanya memandangi dua lelaki yang berbaring pulas di dekatnya. Terlebih nanar matanya mengarah ke pak broto, Begitu serius ia memandangi lelaki yang telah memberinya tempat bernaung sementara. Hanya saja entah apa yang dipikir ibu satu orang anak tersebut.

Nia segera beranjak dari ranjang yang baru saja menjadi medan pertempuran manusia bergumul satu sama lain. Ia mengambil pakaian tidurnya yang terletak di sisi kanan bawah ranjang. Tubuhnya yang padat dan sintal lantas ia tutupi dengan pakaian yang baru saja ia ambil itu. Tanpa berpikir lama setelah mengenakan pakaian, nia meninggalkan kamar tersebut sekaligus rumah kayu dan tua milik pak broto. Ia berjalan pelan langkah demi langkah menuju tempat kosnya kembali. “Bayu kemana ya?” pikir nia ketika membuka pintu. Wanita itu tak melihat sang putra di ruang depan tempat kosnya. Padahal, sebelumnya ia melihat bayu sedang tertidur di lantai dengan buku-bukunya. Lantas ia tutup rapat-rapat tempat kosnya. Setelah itu ia langsung menuju kamarnya untuk mengecek apakah bayu ada di dalam. Dan ternyata anak itu sudah berbaring tengkurap di atas kasur. Nia menarik nafas lega. Ia susul sang anak dengan berbaring di sebelahnya. Wanita itu berpikir sejenak sambil mencoba menutup matanya untuk beristirahat. Sementara sang anak di sebelahnya hanya memejamkan mata. Padahal anak itu belum tertidur. Dia terengah-engah usai berjalan terburu-buru dari rumah pak broto setelah baru saja menyaksikan untuk kesekian kalinya persetubuhan sang mama.

“De, ade, bangun sebentar de. Mama mau ngomong” ucap nia mengelus kening sang putra

“hoaaaaheeem…..Ada apa sih maaa?, aku kan masih ngantuk banget” jawab bayu yang sebenarnya pura-pura sedang tidur.

“Emmm….. besok kamu gak usah sekolah dulu ya de” terang nia

Lantas bayu menoleh ke wajah sang mama,”loh kok gitu ma?”

“Iya, besok kita pindah dari sini. Kita bakal ke rumah tante mira” nia menjelaskan dengan lembut

Bayu terdiam sejenak. Anak itu dalam hatinya begitu bahagia karena ia bersama sang mama akan segera meninggalkan tempat kos. Bagi bayu, ini berarti sang mama tidak akan lagi berkeharusan untuk berhubungan badan dengan pak broto. Itu juga berarti lepas sudah ketergantungan ia dan mamanya dengan lelaki paruh baya tersebut. “rumah tante mira kan jauh maa dari sekolahku, kenapa kita gak pulang ke rumah aja maa biar kita bisa tinggal sama papa lagi” sahut bayu kepada sang mama dengan mata masih mengantuk.

“Bayu, mama kan udah bilang. Mama gak mungkin lagi tinggal sama papa. Udah berapa kali mama jelasin sih” kesal nia pada sang putra.

“yahh mama” gerutu bayu kecewa

“Yaudah de kita tidur sekarang. Besok pagi-pagi banget kita harus meninggalkan tempat ini” timpal sang mama tidur membelakangi bayu

Malam itu nia tertidur lebih dahulu ketimbang putranya. Bayu belum tidur lagi. Ia masih memikirkan kemana gerangan akhir cerita kehidupannya akan berujung kalau terus begini. Ia masih berharap keluarganya dapat utuh kembali, walaupun peluang itu kelihatannya kecil. Di balik itu semua, ia bersyukur akan pergi dari rumah pak broto, lelaki yang mau menikahi sang mama. Tak lama anak itu menyusul sang mama yang sudah terlelap.

Di rumah pak broto, pak arso tampak mengucek-ngucek matanya. Lelaki yang juga atasan haris tersebut nampak terbangun di ranjang yang baru saja ditinggalkan nia. Ia melihat nia sudah tidak ada lagi di kamar itu. Lekas ia mengambil sarung lusuh pinjaman pak broto yang tergeletak di sisi ranjang.

“Pak broto, pak broto, bangun pak. Nia kok udah gak ada di sini?” teriak pak arso membangunkan musuh yang telah menjadi kawannya tersebut

“Alaaaahhh dia udah balik pak ke tempat kosnya” sahut pak broto lemas masih mengantuk

“Hooohh. Yasudah pak. saya pulang dulu pak. Pakaian saya di mana ya?” tanya pak arso memakai sarungnya

“Itu pakk di bangku ruang tamu depan” jawab pak broto tampak menoleh

Lekas memakai sarungnya, pak arso langsung mengambil pakaiannya di ruang tamu depan rumah pak broto. Buru-buru lelaki itu mengenakannya karena ia akan segera pulang ke rumah. Setelah mengenakan pakaiannya ia pergi meninggalkan rumah pak broto menuju mobil sedannya yang terparkir di halaman. Sebelum masuk ke mobilnya, ia menatap tempat kos nia.

“Ini belum berakhir nia sayang….. hehe. Sampai kamu mengandung anakku” gumamnya dalam hati

Masuklah pak arso ke mobilnya. Tak beberapa lama meluncurlah pak arso meninggalkan tempat yang baru saja disinggahi untuk melampiaskan nafsu birahinya.

Keesokan pagi,

Pagi-pagi buta dengan dibalut daster yang sama seperti semalam, nia sudah terbangun. Terlihat ia membereskan dan memasukkan seluruh perlengkapan dan pakaiannya ke plastik dan tas besar. Ia pastikan tidak ada lagi yang tersisa di tempat kosnya. Ia juga sekalian memasukkan perlengkapan dan pakaian bayu ke sebuah plastik dan ransel. Setelah itu ia berganti pakaian langsung tanpa membersihkan dirinya usai bersetubuh semalam. Ia mengganti pakaiannya dengan kaos berkerah berwarna dengan celana jins ketat panjang menutupi bagian bawah tubuhnya. Setelah itu, ia membangunkan sang anak dengan tergesa-gesa.

“De, ayo bangun de. kita musti berangkat sekarang nih” ucap nia dengan nada agak keras

“Addduhhh mamaaaa…. kok buru-buru banget sih. Ke rumah tante mira kan gak harus pagi-pagi begini juga maa” keluh bayu

“Udaahhh buruan bangunn deee… lihat tuh barang-barang udah mama siapin semua” sahut nia kepada putranya seraya menunjukkan semua barang yang sudah dibereskannya.

“huuuuhhh iyaa maa” bayu menarik nafas

Anak itu lekas terbangun. Ia lekas mencari handuknya, tetapi handuk anak itu sudah dimasukkan ke ransel miliknya.

“Ma, handukku mana?” tanya yang sudah beranjak dari kasur

“Gak usah mandi de, kita musti buru-buru nih” sahut sang mama yang masih memeriksa satu per satu seluruh kelengkapan

“gakk mau maaa. Aku mau mandi pokoknya. Kalo gak mandi bau” kesal bayu

“Yaudah sana mandi. Itu handuknya di ransel kamu, bawa baju sama celana kamu sekalian biar langsung dipakai di kamar mandi” jawab nia

“iyaa maa” balas bayu membuka ranselnya

Bayu mengambil handuk, kaos kerah berwarna hitam, celana dalam hitam, dan celana jins panjang dari ranselnya. Lekas semuanya itu ia bawa ke kamar mandi.

Sementara nia sedang mengecek keuangannya. Uangnya akan habis sekali pakai untuk berkunjung ke rumah sang kakak dengan menggunakan taksi. Memang tidak ada pilihan untuk ibu satu orang anak itu. Barang bawaan memaksanya untuk menggunakan taksi agar lebih nyaman. Lagipula ia yakin sang kakak akan membantu keuangannya. Selama ini ia tidak memilih bernaung di rumah kakaknya selepas pergi dari rumah karena ia khawatir akan membebani sang kakak. Namun karena keadaan mendesak, tidak ada pilihan lain bagi nia kecuali sang kakak sebagai tempat tinggal sementara untuk dirinya dan bayu.

Cukup lama nia menunggu sang putra mandi hingga ia mencoba mengecek ke kamar mandi sekalian memeriksa apakah masih ada barang yang tertinggal. Berjalanlah nia dari kamarnya menuju kamar mandi. Betapa kagetnya nia…..

“uuuhhh mamaaaa, bayyuuu mau ngentott mamaaa maa…. mama mau kan bayu ento ma……” suara pelan bayu dari dalam kamar mandi

Mendengar ucapan sang anak, nia sontak kaget. Entah apa yang membuat sang putra yang sedang beranjak dewasa itu mengkhayalkan bersetubuh dengannya. Buru-buru ia kembali ke kamar. Ia berpikir sejenak kiranya apa membuat bayu demikian. Tak lama wanita itu berteriak,

“Dee… buruann mandi-nyaa! Bentar lagi kita harus berangkat!” teriak nia

“Iyaa maa sebentar lagi!” sahut bayu membalas

Sambil menunggu bayu yang sedang berada di dalam kamar mandi, nia menerka-nerka apa penyebab bayu demikian. Nia agak shock mengetahui hal itu. Bagaimana mungkin anak kandungnya sendiri itu ingin menyetubuhinya yang merupakan ibu kandungnya. Nia akan berusaha menyelidikinya. Ia lupakan sejenak persoalan bayu. Nia mengeluarkan seluruh barang yang akan dibawanya satu per satu ke luar tempat kos. Dan, di luar tempat kos, langit pagi masih gelap. Cahaya mentari belum menampakkan sinarnya. Nia mencoba tarik nafas dalam-dalam udara pagi yang masih segar itu seraya merehatkan pikirannya sejenak. Setelah itu, barulah ia keluarkan barangnya satu per satu.

Ketika barang terakhir nia keluarkan, keluarlah bayu dari kamar mandi dengan pakaianya yang sudah rapi ia kenakan.

“Maa… aku udah siaapp” ucap bayu menunjukkan dirinya kepada sang mama

“Yaudah yuk kamu buruan keluar. Mama mau tutup pintu kosnya” jawab nia di depan pintu tempat kosnya.

“Iya maaa” sahut bayu

Setelah bayu keluar, nia menutup pintu kosnya tersebut. Lalu kuncinya ia letakkan begitu saja menggantung di pintu.

“De, kamu tunggu sini dulu yaaa. Mama mau cari taksi dulu ke depan” terang nia kepada putranya

“Okee maa” balas bayu.

Nia lantas melangkah meninggalkan bayu yang menunggui seluruh barang bawaan. Ia berjalan ke arah luar wilayah rumah pak broto untuk mencari taksi. Selagi sang mama mencari taksi, bayu melamun sejenak entah apa yang dipikirkan anak itu. Tak beberapa lama datanglah taksi sedan berwarna biru masuk ke halaman rumah pak broto. Taksi itu kemudian berhenti pas di depan bayu yang sedang menunggui barang bawaan. Lalu, pintu bagasi pun terbuka. Sang mama keluar bersamaan dengan supir taksi. Sang mama menemui bayu. Sementara supir taksi memasukkan seluruh barang bawaan nia dan bayu ke bagasi. Setelah sang supir memasukkan semua barang bawaan, nia dan putranya lekas masuk ke taksi disusul sang supir. Kemudian taksi tersebut meluncur meninggalkan halaman rumah pak broto.

Di dalam taksi bayu bercengkrama dengan mamanya,

“Ma, kenapa kita gak pamit dulu ke pak broto? Kan dia udah berjasa banget membantu kita…” tanya bayu heran

“Emmm gak usah dee. Itu kenapa mama pengen pergi pagi-pagi dan buru-buru banget supaya gak ketahuan pak broto”

“Lah emang kenapa maa?” tanya bayu makin heran

“Gapapa. Eh iya nanti pas sampai di rumah tante mira, kamu bakal ketemu sama sepupu laki-laki kamu” jawab nia sambil mengalihkan pembicaraan

“Hah? siapa ma?” tanya bayu penasaran

“Iyaaa… itu anaknya tante mira, mas Jodi… Dia lebih tua dari kamu, umurnya 18 tahun. Sekarang dia masih kuliah” teran nia kepada bayu di dalam taksi

“emmmm” bayu mengangguk seolah mengetahui

“Jadinya sekarang kamu ada temen mainnya deh” ucap nia mencoba menghibur bayu

“Yaa semoga ajaa deh maa………” sahut bayu tidak yakin

Taksi itu pun melakukan perjalanan yang lumayan jauh dari tempat kos nia. Di dalamnya si supir fokus mengemudi, sedangkan bayu dan mamanya terkadang asyik sendiri, terkadang mengobrol satu sama lain.

Sementara itu pak broto tampak terbangun di ranjang kamarnya.

“Hoaahheeeeeeem fuuuuhhhh….. cape juga semalam. Meski begitu, puas deh ngentot si nia hehe..” ucap pak broto sambil mengenakan sarungnya.

“Dasar pak arso, nyelonong kabur aja. Padahal, udah di kasih kesempatan tempur bareng. Giliran dah nyembur kaga pamit sama sekali sama yang kasih kesempatan” keluh pak broto seorang diri. Padahal, semalam pak arso sempat pamit. Namun, pak broto mungkin lupa.

Pak broto beranjak keluar kamarnya. Ia memilih duduk di ruang tamunya sejenak selagi mengambil nafas pagi itu. Selagi terduduk di bangku, kepalanya ia senderkan ke dinding tembok rumahnya. Lelaki itu memejamkan matanya kembali, dari mulutnya keluar ucapan pelan..

“aduh… Gak sabar nunggu rencana besar pak arso” ucap pak broto pelan sambil memulai tidur kembali

“Jodii! Hey! kamu bangun! Hari ini kamu kan ada jadwal kuliah!” ucap seorang wanita berhijab kepada lelaki muda yang masih tertidur memeluk gulingnya.

“Nanttii ajaa maa ahhh… masih ngantuk akuu” ucap lelaki muda itu melawan

“Kamu mau gak lulus satu mata kuliah lagi gara-gara jatah absen habis?!” marah wanita berhijab tersebut

“Ihhh sih mama bawel banget sih. Iya deh ma iyaa aku bangun nih.. nihh…” kesal anak muda itu

“Kamu udah gede, kelakuan masih kayak anak kecil aja” sahut wanita berhijab kembali

“Mama juga… makanya maa, buruan cari papa baru buatku biar mama gak bawel kayak gini juga” timpal anak muda itu bangun dari tempat tidurnya yang awut-awutan.

Tiba-tiba ketika keduanya masih terlibat perbincangan serius, terdengar bel berbunyi dan suara wanita memanggil di depan pagar rumah wanita berhijab tersebut,

“Mira…. miraaa, ini akuu niaa” sahut nia sambil membunyikan bel berulang kali

Wanita berhijab itu pun langsung turun menuruni tangga rumahnya yang berlantai dua ketika bel berbunyi dan suara seorang wanita berteriak tidak begitu jelas di telinganya. Ia berjalan terburu-buru menghampiri suara tersebut. Sementara lelaki muda itu malah kembali tidur lagi.

“Eh kamu niaa…. adikku..” ucap wanita berhijab tersebut membukakan pagar

“Iya nih kak mira, aku kangen sama kakak” timpal nia

“Kamu sendirian? Si bayu mana?” tanya wanita berhijab itu.

“Ini…” ucap nia sambil menunjuk bayu

“Eh bayu, adduuhhh tante kangen sama kamu. Gak nyangka ya… dulu terakhir ketemu sama kamu, kamu masih kecil banget. Sekarang udah agak gede hehe” senyum wanita berhijab sambil menyalami bayu.

Bayu terdiam sejenak ketika wanita berhijab itu menyapanya. Ia mencoba mengingat siapa wanita itu. Tak beberapa lama barulah ia ingat. Wanita itu adalah tante mira. Kakak dari mamanya. Padahal kalau dia sadar sebenarnya mamanya sudah memberitahu kalau dia dan mamanya akan berkunjung sekaligus pindah ke rumah tante mira. Hanya saja, mungkin bagi bayu, penampilan tante miralah yang membuatnya lupa. Tante mira amat berbeda dari sebelumnya. Tante mira tak kalah cantik dengan mamanya. Dahulu, wanita itu suka berpenampilan persis seperti mamanya, ya berpakaian ketat, suka menonjolkan aurat tubuh. Namun, kini ia sedikit terkaget. Tante mira yang ia kenal dulu sekarang sudah berhijab. Wanita itu mengenakan hijab berwarna putih dengan kaos tangan panjang dan celana panjang kain berwarna biru.

Tak hanya itu, ia mencoba melihat dan mengingat sejenak rumah tantenya ketika terakhir ia mengunjunginya terakhir dan sekarang. Sungguh berbeda, rumah tantenya agak kurang terawat dibandingkan dahulu. Rumah dua lantai bercat putih itu sudah mulai mengelupas cat dinding rumahnya. Pikir bayu, wajar saja. Tante mira sudah tidak bersuami lagi. Seingat bayu, suami tante mira sudah meninggal dunia karena gagal jantung beberapa tahun yang lalu. Kejadian itu juga sudah cukup lama. Mungkin kaitannya karena tidak ada lagi suaminya, tante mira mengalami kesulitan keuangan.

“ehh ayo masuk dulu yukk… sini aku bantu sekalian” ucap mira sambil membantu barang bawaan adiknya masuk ke dalam rumahnya

“Terima kasih kaak” balas nia terhadap perlakuan sang kakak

Bayu hanya mengikuti saja pergerakan sang mama masuk ke rumah tante mira. Anak itu berbarengan bersama mama dan tantenya masuk ke rumah. Di dalam rumah tantenya, bayu melihat dinding rumah bercat hijau muda. Penampilannya sangat berbeda jika dibandingkan di luar rumah. Bagian dalam rumah tante mira, begitu terawat. Di dalam rumah itu bayu melihat sofa di ruang tamu dan televisi juga. Tak beberapa jauh dari ruang tamu bayu melihat meja makan beserta kursi-kursinya.

“Ayo duduk dulu sini…” ucap mira mempersilahkan duduk sambil tersenyum kepada adik dan keponakannya

“Iya makasih kak” balas senyum nia

“Barang bawaan kalian kok banyak banget kayak orang mau pindahan?” tanya mira heran

Tiba-tiba nia mengedipkan matanya kepada sang kakak sambil berkata, “nanti aja ya kak kita jelasin” nia tersenyum. Mira yang menangkap sinyal itu langsung membalas, “eh yasudah kalau gitu kalian duduk sambil istirahat saja dulu”

“Eh iya kak, si jodi mana?” tanya nia kepada kakaknya

“aduhh iyaaaa. Jod… jodiii… ada tante nia di bawah nih jod… sama bayu…” teriak mira memanggil putranya

Mira mencoba memanggil putranya kembali. Namun, tak disahut oleh jodi, sang anak. Pada akhirnya wanita itu dengan kesal mencoba menghampiri sang putra.

“Maaf yaa jodi memang suka begitu. Dia tadi lagi tidur udah aku bangunin soalnya udah pagi. Lagipula, dia ada jadwal kuliah juga. Eh, kayaknya dia tidur lagi nih. Maklum yaa sekarang dia sudah kuliah yaa jadi begitu hehe…Yasudah aku samperin dulu yaa” ucap mira kepada adik dan keponakannya

“Udah gak usah kak… biarin aja.. Dia mungkin cape…” nia memakluminya

“Emm biarin nia, si jodi memang harus digituin” timpal mira yang beranjak menghampiri sang putra di kamarnya yang terletak di lantai dua.

Bayu hanya terdiam ketika tantenya hendak mencoba memanggilkan saudara sepupu laki-lakinya. Sebenarnya bayu juga tidak begitu ingat kebersamaan dirinya bersama sang sepupu ataupun terakhir ia bertemu. Sebaliknya, bayu justru malah khawatir sepupunya yang diharapkan bisa menjadi kawan juga, malah cuek padanya.

Tak beberapa lama, muncullah mira bersama putranya yang berambut ikal dan agak gemuk berkulit sawo matang itu. Jodi namanya. Wajahnya agak bopengan. Matanya agak sipit menurun dari mata mamanya. Anak itu sedang memakai kaos hitam dan celana training pendek berwarna biru.

“Nih nia, si jodii…” ucap mira kepada adiknya

“ehh tantee nia… tante apaa kabar?” sapa jodi kepada tantenya sambil menyalami

“tante baik kok jod. Kamu sendiri bagaimana?” nia membalas sapaan.

“aku mah selalu baik tante. Eh iyaa ini bayu yang waktu kecil aku temenin main bola kan?” ucap jodi melihat bayu

“Iya jod, kamu masih inget aja” timpal nia kepada keponakannya

“Bayu apa kabar? Masih inget sama mas gak? Kamu dulu waktu kecil sering main bola sama mas?” ucap jodi mengingatkan

Bayu terdiam. Anak berumur 12 tahun itu tidak ingat sama sekali kenangan bersama sepupunya. Sebaliknya sang sepupu ingat. Beberapa kali ia mencoba mengingat namun tak ada memori tentang sepupunya tersebut. Bayu malah sedang menerka-nerka sifat sepupunya. Menurutnya, jodi adalah anak yang gampang akrab dengan orang atau mudah bergaul. Selebihnya, bayu tidak tahu. Cuma itu yang bisa ditangkap bayu dari sikap jodi kepadanya dan kepada sang mama.

“Kok malah diem, bayu? Mungkin kamu lupa yaa… iya juga sih waktu itu kamu masih umur empat tahun” senyum jodi kepada sepupu mudanya

“Iya mas. aku lupa. Malah gak keinget sama sekali hehe” senyum bayu kepada sepupu tuanya

“Kamu sekarang kelas berapa?” tanya jodi sambil menatap mata bayu

“kelas 6, mau naik smp mas” jawab bayu tersenyum

“Ohh bentar lagi bayu abg dong ya hehehe” tawa jodi kepada sepupunya

Mira lalu menyela pembicaraan kedua sepupu yang sedang bertemu dan bersapa,

“Yaudah jodi, kamu ajak bayu ke kamar kamu gih. Eh, iya sekalian aja kali yaa kamu tidurnya sekamar sama bayu, gimana?” tanya mira kepada putranya

“Boleh aja ma, jadi bayu biar makin akrab deh sama aku. Tapi bayunya mau gak?” ucap jodi kepada sang mama

“bayu mau kok” sahut bayu yang entah apa dasar kemauannya tersebut

“eh iya, tapi kuliah kamu gimana jodi, kata mama kamu sekarang kamu ada jadwal kuliah?” timpal nia kepada keponakannya.

“Gak usah khawatir tante. Aku bisa izin kok. Bilang aja ada saudara lagi ke rumah” jodi menanggapi kekhawatiran tantenya.

“Yaudah sana buruan kamu ajak bayu ke atas gih. Mama mau ngobrol sama tante nia dulu” mira mempersilahkan putranya mengajak bayu ke kamar jodi.

Bayu pun diajak jodi ke kamarnya di lantai dua. Selagi berjalan masuk ke kamar, jodi bayu melihat ada tiga pintu di lantai dua. Entah ruang apa saja itu. Di lantai dua di luar ruang tersebut terdapat lemari yang berisikan buku-buku dan benda-benda hiasan saja. Selain itu, hanya lampu yang menggantung dan jam yang menempel di dinding. Tak lama masuklah bayu ke kamar sepupu tuanya itu…..

Bersambung….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*