Home » Cerita Seks Kakak Adik » Wolf Of Desert Bab 14

Wolf Of Desert Bab 14

BAB XIV: Wolf vs Tiger II

Isna dan Arci memasang kuda-kuda. Kini keduanya sama-sama memegang senjata. Bakal terjadi pertempuran hidup dan mati kali ini, sebab senjata keduanya sangat berbahaya. Karambit memang diperuntukkan untuk pertarungan jarak dekat. Semakin kecil sebuah senjata maka semakin berbahaya, itulah faktanya. Berapa banyak korban yang berjatuhan akibat senjata karambit ini. Senjatanya sangat tersembunyi dan mematikan. Kalau pisau biasanya hanya satu kali melukai, karambit tidak. Dia akan menusuk sekaligus merobek.

“Kamu yakin mau melawanku?” tanya Arci.

“Kenapa kamu berkata seperti itu?” tanya Isna.

“Karena kamu orang terakhir dari suku Kurdi. Bangsa kalian sudah mulai punah, kemungkinan saja engkau orang terakhir.”

“Aku tak peduli. Ini sudah menjadi jalanku.”

Isna memutar-mutar karambitnya. Tujuannya sekarang hanya satu, membunuh Arci. “Bajumu penuh darah, itu artinya kamu terluka tapi kenapa kamu terlihat biasa saja?”

“Aku memang terluka, tapi aku disembuhkan oleh seseorang.”

“Seseorang?”

“Yah, orang baik. Dan aku belum berterima kasih kepadanya.”

“Kalau kakakku bisa melukaimu, maka aku lebih bisa lagi.”

“Maksudmu?”

“Aku lebih jago dalam bertarung jarak dekat daripda kakakku. Kakakku lebih jago dalam menggunakan senjata api, artinya kamu sama saja mimpi buruk bertemu denganku.”

“Kita lihat saja kalau begitu.”

Isna dengan berlari menuju ke arah Arci. Kemudian dia mengayunkan karambitnya ke kiri dan ke kanan. Arci menghindar dan juga sama-sama menyerang. Mereka berusaha untuk saling menyerang dan menebas, tapi Arci refleknya lebih bagus, setiap karambit akan menebas tubuhnya selalu Arci bisa menghindar, demikian juga Isna.

Benar ternyata. Isna jago dalam pertarungan jarak dekat. Terlebih dari gerakan karambit Isna yang sangat cepat membuat Arci mundur beberapa langkah ke belakang menjaga jarak. Tapi bukan Arci namanya kalau hanya mengandalkan serangan dari jarak dekat, ia juga punya kaki yang bisa dia buat untuk menendang, maka dari itu dia pun menyapu kaki Isna, wanita itu bisa melompat untuk menghindar. Arci menyapu lagi, kemudian langsung menebaskan karambitnya ke atas. Isna mundur dua langkah.

Arci kemudian mengubah taktik. Mungkin kelemahan Isna adalah ketika mendapatkan serangan dari bawah, maka dia merendahkan kuda-kudanya. Arci berguling ke depan mendekat ke Isna sambil menebaskan kedua karambitnya Isna bisa menghindar mundur. Namun yang terjadi kemudian justru di luar dugaan, Isna pun merendahkan posisinya sehingga kedua orang ini pun bertarung lagi dalam jarak dekat sambil menyabetkan karambitnya.

SLASSH! Lengan Arci terkena sabetan. SLASH! Lengan Isna juga.

Arci pun berguling ke belakang kemudian berdiri. Ia keliru kalau bertarung dengan jarak sedekat itu, tapi sekarang Isna mengejarnya. Isna berguling ke depan dan mengayunkan lagi karambitnya. Arci agak sedikit terlambat menghindar sehingga betisnya tersayat.

Arci berputar-putar dan kakinya terus menghindar ketika dengan cepat Isna terus menerjang dan mengayun-ayunkan karambitnya. Arci mundur beberapa langkah. Isna dan Arci kemudian sama-sama berdiri. Darah mengalir dari luka-luka di tubuh mereka.

“Tak bisa, kalau terus menghindar. Aku tak akan bisa mendaratkan satu serangan pun kalau hit and run. Satu-satunya cara agar aku bisa menyentuhnya adalah membiarkan aku diserang,” pikir Arci.

“Dia benar-benar sang Harimau, seranganku bisa dielakkannya,” pikir Isna.

Arci sudah bertekad, itu satu-satunya cara. Membiarkan tubuhnya terkoyak. Ia harus berani.

“Ris, Riska?!” panggil Arci.

Riska menjawab, “Ada apa Arci?”

“Kalau aku tak bisa mengalahkannya, aku ingin kamu tahu bahwa aku sangat mencintaimu,” Arci berkata seolah-olah tak ada harapan lagi untuknya.

“Arci….aku juga mencintaimu,” kata Riska sambil tersenyum. “Berjuanglah harimauku!”

Arci tersenyum. Semangatnya membara lagi. Kini ia bersiap, taktiknya adalah diserang dan menyerang. Dengan cepat Arci menuju ke arah Isna, tangannya meliuk-liuk seiring dengan berputar-putarnya karambit di tangannya. Isna juga menyerang Arci. Dia dengan cepat menusukkan karambit ke tulang rusuk Arci. CROK! Tertancaplah karambit di tangan kanan Isna ke tulang rusuk Arci. Arci dengan cepat memegang lengan Isna dengan tangan kirinya dan menusukkan karambitnya ke tulang rusuk Isna.

“AAahh!” jerit Isna.

Isna berusaha menggerakkan tangan kanannya tapi sia-sia. Tangan kanan Arci pun dikunci oleh tangan kiri Isna. Keduanya kini saling mengunci, sekali mereka melepaskan diri maka salah satunya akan merobek tubuhnya.

“Arciiiii!” teriak Riksa.

Isna menahan sakitnya, demikian juga Arci. Ia makin dalam menusukkan karambitnya, Arci juga demikian. Keduanya mengerang kesakitan. Isna terus menekan karambitnya hingga masuk lebih dalam, menusuk lebih dalam. Arci mengerang dan dia juga menusuk lebih dalam lagi. Kemudian Isna memainkan kakinya untuk memberi lututnya ke tubuh Arci. Arci pun dengan sigap menggerakan kakinya juga. Dan akibat gerakan kaki keduanya itu, Isna berhasil mematahkan tulang rusuk Arci. Arci pun berhasil mematahkan tulang rusuk Isna. Mereka seimbang.

Isna terhuyung hingga berlutut. Darah mengucur dari lukanya. Demikian pula Arci.

“Brengsek, hanya orang bodoh yang melakukan hal itu tadi,” pikir Isna. “Orang ini benar-benar ingin mati bersamaku. Baiklah kalau begitu, aku harus membunuhnya terlebih dulu sebelum ia membunuhku.”

Isna maju ke depan ia tak menghiraukan rasa sakit yang ada di tulang rusuknya. Karambitnya pun langsung ia babatkan ke arah Arci. Arci menerimanya, pundaknya jadi korban, tapi hasilnya adalah karambitnya bisa menusuk perut Isna. Isna mencabik pundak Arci, Arci juga mencabik perut Isna. Arci lalu membabat dada Isna, Isna juga membabat perut Arci. Mereka berdua saling berbalas untuk menebas tubuh masih-masing.

Riska tak sanggup melihat itu ia menutup matanya. Darah bertebaran kemana-mana.

SLASH! ZRAT! SRET! JLEB! CROK! SLASH! ZRAT! SRET! JLEB! CROK! SLASH! ZRAT! SRET! JLEB! CROK!

Entah berapa kali mereka melakukannya hingga rasanya kedua orang ini benar-benar mati rasa. Tubuh mereka pun bersimbah darah. Pakaian mereka telah compang-camping karena sayatan dari senjata keduanya. Arci masih sanggup berdiri. Karambitnya bersimbah darah. Luka mereka benar-benar parah dan dalam.

“Arciii! Bertahanlah!” seru Riska.

“Kubunuh kau! Kunubuh kau! Kubunuh kau!” gumam Isna.

“Bertahan! Bertahan! Bertahan!” gumam Arci.

Mereka berdua sudah tak punya kekuatan lagi rasanya untuk bisa mengayunkan senjata mereka masing-masing. Pakaian Isna terkoyak hingga payudaranya terekspos. Luka di payudaranya pun mengaga lebar. Arci tanpa ampun melukai wanita ini. Hal itu karena kalau dia tidak melawannya, sudah pasti dia yang akan mati. Lawannya di depan ini bukan wanita biasa, dia adalah pembunuh bayaran nomor satu.

Riska kebingungan apa yang harus dia lakukan. Akhirnya ia pun menelpon nomor darurat.

“Halo? Polisi? Pak, tolong kemari! Aduh, di mana ini saya nggak tahu, cepat saja lacak nomor ini ada di mana. Sedang terjadi bunuh-bunuhan di sini……saya…saya anaknya menteri Ruslan Yudhistira! Cepetaaann!” Riska berteriak panik.

Dengan jalan sempoyongan Arci maju mendekat ke arah Isna. Isna yang juga sudah tak punya tenaga melemparkan karambitnya hingga karambit itu menancap di dada Arci. JLEB! Arci terus berjalan hingga ia mengayunkan karambitnya SRATT! JLEB! Karambit itu menancap ke pundak Isna. Isna menancapkan karambit di tangan satunya ke tulang rusuknya Arci sekali lagi.

“Kubunuh kau! Kunubuh kau! Kubunuh kau!” Isna terus bergumam, kesadarannya pun mulai hilang.

“Bertahan! Bertahan! Bertahan!” demikian juga Arci.

Kedua orang ini hanya bertarung dengan insting mereka.

ZRAT! SLASH! Lagi-lagi sayatan karambit melukai keduanya. Tulang rusuk Arci bertambah lagi yang patah karena karambit, demikian juga Isna. Keduanya lalu saling menyandarkan diri. Isna menggigit pundak Arci. Dicabut karambit yang menancap di dadanya Arci, Arci menjatuhkan karambitnya lalu menahan kedua tangan Isna.

“Bertahan! bertahan!” bisik Arci. Diputarnya pergelangan tangan Isna hingga sekarang ia bisa mengunci tangan Isna agar tak bergerak lagi.

Isna masih menggigit pundak Arci. Gigitannya makin keras, Arci sudah tak peduli lagi, dia pun menggunakan sisa-sisa tenaganya.

“Harimau……mengamuk…!” gumamnya.

Arci melepaskan pegangannya dari tangan Isna. Kemudian tangan Arci mengepal dengan kuat lalu memukul berkali-kali tubuh Isna. Isna terdorong ke belakang. Gigitannya di pundak Arci pun membawa sebuah potongan daging kecil dari tubuh Arci. Arci tak peduli dia memukul berkali-kali tubuh Isna. Gerakan terakhir dari Harimau Mengamuk. Dia memundurkan kakinya ke belakang, kemudian tangan kirinya terbuka tangan kanannya membuat ancang-ancang untuk memukul.

Serangan Harimau Mengamuk ini berakibat balok kayu berukuran 30cm saja bisa hancur. Maka apabila ini sampai mengenai Isna, maka tamat sudah riwayatnya. Arci pun melepaskannya, tangan kanannya mulai bergerak maju dengan cepat. Inilah sisa-sisa tenaga terakhirnya. BUAK! Pukulan Arci tepat mengenai jantung Isna.

“UGghh!” darah keluar dari mulut Isna.

Arci pun hilang keseimbangan dia mundur beberapa langkah ke belakang dan jatuh terlentang. Riska lalu berlari menuju ke arah Arci. Arci melihat langit. Matanya masih terbuka. Dari tubuhnya keluar darah sepertinya darah sudah masuk ke paru-parunya.

“Arciii…Arciii….jangan mati Cii….jangan mati…!” kata Riska. “Jangan tinggalin aku Cii… aku tak mau kehilangan kamu….Arciiii…!”

Mata Arci setengah terbuka, luka di tubuhnya sangat parah. Ia bahkan tak tahu apakah dia bisa hidup atau tidak dengan luka seperti itu. Isna tampak masih berdiri. Ia sudah menerima serangan terakhir Arci, tapi dia berdiri dalam keadaan tidak sadarkan diri. Kedua tangannya masih memegang karimbitnya. Darah keluar dari mulutnya, matanya menatap tajam ke depan tapi tidak fokus.

Tak berapa lama kemudian suara sirine mulai mendekat. Beberapa mobil patroli mulai mendekat ke tempat mereka bertarung.

“Cii…lihat Cii…polisi udah datang, bantuan sudah datang! Bertahanlah Ci! Bertahanlah!” kata Riska.

Isna lalu mulai terhuyung dan jatuh terlentang. BRUK! Matanya menatap langit yang sama seperti dilihat Arci. Di atas sana ia seperti melihat wajah kakaknya. Ia menyunggingkan senyumnya, seolah-olah kakaknya mengajaknya untuk ikut bersamanya.

“Kakak…ughh…,” darah keluar dari mulutnya lagi.

Entah luka siapa yang lebih parah. Tapi pertarungan ini pun sudah berakhir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*