Home » Cerita Seks Kakak Adik » Wolf Of Desert Bab 13

Wolf Of Desert Bab 13

BAB XIII: PENGEJARAN

Tubuh Rasyid tergeletak bersimbah darah. Ini pertama kalinya Arci membunuh orang. Dia mengambil sebuah peralatan obat di dapur. DIa mengambil alkohol 70% kemudian mengguyurkannya ke lengan dan pundaknya. Ia mengerang. Sayangnya di dalam kotak obat itu tak ada pereda nyeri. Arci kemudian berjalan sempoyongan meninggalkan dapur menuju ke ruang tengah. Ia melihat seluruh mayat tergeletak di sana, terkecuali ada seseorang yang sedang memegang dahi Inspektur James.

Begitu melihat Arci dia tersenyum.

“Siapa kau?” tanya Arci.

“Aku bukan musuh, aku ke sini ingin menolong kakekku itu saja,” jawab orang itu yang tak lain adalah White Wolf.

“Kakekmu?”

Luka yang ada di wajah Inspektur James tiba-tiba berangsur-angsur menghilang. Arci baru saja melihat sesuatu yang luar biasa. Inspektur James pun terbangun. Ia sangat terkejut melihat White Wolf.

“Tenang kek, tenang!” kata White Wolf.

“Siapa kamu?” tanya Inspektur James.

“Aku Yuki, cucumu,” jawab White Wolf.

“Tak mungkin, anaknya Michele?”

White Wolf mengangguk.

“Kamu berjambang,” kata Inspektur James.

“Hehehehe, tanpa salju aku akan cepat tua, begitulah.”

Inspektur James menoleh ke arah Arci, “Kamu?…”

“Saya Arczre, divisi Tangan Malaikat. Saya harusnya menjaga Riska tapi malah ke sini. Saya harus cepat mengejar Isna, dia sekarang menuju ke tempat Riska.”

“Sebentar!” kata White Wolf. “Kemarilah!”

Arci dengan langkah sempoyongan mendekat ke arah White Wolf. Dia pun berhenti di depan White Wolf. Tiba-tiba Arci melihat sesuatu yang tidak terduga. Beberapa bulir-bulir air melayang di udara. Arci sedikit bersiaga.

“Jangan takut, aku akan membantu menyembuhkan lukamu. Elemen air di tempat ini cukup baik. Sudahlah, tenanglah!” kata White Wolf.

Belum habis rasa terkejunya, tiba-tiba air itu pun menuju ke tempat luka-luka di tubuh Arci membuat sesuatu sensasi rasa nyaman seperti es. Inspektur James bangkit dengan dibantu oleh White Wolf. Arci merasakan tubuhnya sangat segar bahkan luka-luka di tubuhnya sedikit demi sedikit tertutup.

“Siapa kamu ini? Apa yang baru saja kamu lakukan?” tanya Arci.

“Aku seorang Mist, manusia yang bisa bicara dengan banyak hal. Kekuatanku adalah elemen salju. Seharusnya aku hidup di Syberia bersama orang tuaku, tapi aku tak menuruti nasehatnya dan ingin melihat dunia. Aku menyesal sekarang. Aku ke sini ingin bertemu kakek dan ayahku sebelum aku kembali ke rumahku,” jawab White Wolf.

“Ada hubungan apa kamu dengan semua ini?”

“Putra Nagarawan adalah salah satu muridku.”

“Kamu?”

“Iya, dia termasuk murid yang keluar dari jalanku. Aku tidak bisa mencegahnya sekarang ini.”

Inspektur James menepuk pundak White Wolf, “Sekarang tak ada yang bisa kita lakukan. Putra Nagarawan adalah orang yang paling berkuasa di negara ini. Dia ingin menghancurkan semua orang yang berhubungan dengan kejadian hari ini. Arci, pasti Pak Ruslan menyembunyikan sesuatu tentang SHS. Jangan sampai itu jatuh ke tangannya.”

“Iya, Proyek SHS harus disembunyikan dari dia. Aku tahu tempatnya,” kata White Wolf.

“Proyek SHS katanya membutuhkan kunci DNA dari Riska bukan?” tanya Arci.

“Iya, sekarang permasalahannya agak rumit,” kata White Wolf. “Isna sekarang sedang mengejar Riska sekarang. Setelah kamu nanti bisa mengalahkan Isna, ajak keluargamu semuanya pergi, kalau perlu ganti identitas kalian. Aku yakin kamu dan keluargamu akan diincar olehnya. Setelah yakin keluargamu sudah aman, aku ingin kamu dan Riska pergi ke kepulauan seribu. Akan ada sesuatu buatmu, ambil itu dan jangan sampai ada orang yang tahu. Kakekku akan membantumu nanti.”

“Kenapa harus ke sana?”

“Sebab di sanalah Proyek SHS berada.”

Arci melihat luka-lukanya yang sudah tertutup dan rasa sakitnya hilang. Ia cukup takjub dengan semua ini.

“Aku pergi,” kata Arci.

“Sampai ketemu lagi nanti dan….semoga kamu berhasil,” kata White Wolf.

Arci kemudian mengambil karambit yang ada di tangan Rasyid, kemudian ia berlari meninggalkan tempat itu. White Wolf kini sendirian dengan inspektur James. Mereka pun berpelukan seperti seorang kakek yang merindukan cucunya. Setelah menepuk tiga kali punggung kakeknya, kepala White Wolf diuyel-uyel oleh Inspektur James.

“Bagaimana kabar ibumu?” tanya Inspektur James.

“Ibu sudah tiada,” kata White Wolf.

“Michele? Ah…aku kira dia akan berumur panjang,” kata Inspektur James.

“Tidak ada yang abadi kek, semuanya sudah ada pada tempatnya.”

“Temuilah ayahmu, kalau sempat mampirlah ke tempat nenekmu!”

“Iya, aku sudah merencanakannya. Reuni ini mungkin sedikit berlebihan. Tapi aku sudah sangat merindukan ayahku. Sekaligus ingin mengucapkan salam perpisahan.”

“Kenapa? Salam perpisahan?”

“Aku akan kembali ke Syberia, menjauhi dunia ini. Dunia yang menuntunku ke dalam kegelapan. Kalau kakek melihat data buronan internasional aku ada di sana. Aku turut serta dalam kejahatan ini sebenarnya. Aku ingin menyepi di sana. Mungkin suatu saat nanti akan ada yang mengambil nyawaku, dan aku ingin mati di tanah kelahiranku.”

“Yuki.. jangan bicara seperti itu!”

White Wolf tersenyum, “Tekadku sudah bulat. Aku ingin kembali ke Syberia.”

****

Hiro duduk di sebuah mobil ambulance, tampak di sebelahnya Moon sedang menyelimuti dia sambil memberi plester ke wajahnya.

“Wataw,” Hiro mengaduh. “Sakiitt.”

“Udah deh, jagoanku koq gini aja sakit?” kata Moon.

“Hihihihi, tapi kalau tiap hari duduk begini ama kamu aku suka koq Moon,” kata Hiro.

Moon hanya tersenyum. Dia melihat ke jalan raya tampak sebuah sepeda motor dikendarai seorang wanita dengan helm full face melaju kencang di atas jalan raya. Hiro dan Moon hanya mengikuti saja kemana sepeda motor itu berlari.

“Eh, gilak, itu siapa ya? Kenceng banget,” kata Hiro.

Moon menjewer Hiro, “Hayo, lihat apa?”

“Adududuh, nggak koq, nggak.”

****

Riska sekarang sudah berada di dalam mobil pickup milik Pak Kosim suaminya Bi Asih. Mereka sudah berkendara kurang lebih setengah jam. Tujuan Riska adalah pergi dari tempat dia berada sekarang. Arci mengirim SMS agar Riska pergi saja ke rumahnya karena di sana adalah tempat teraman sementara ini.

Ponsel Riska berdering. Dari Arci, segera Riska mengangkatnya.

“Kamu ada di mana?” tanya Arci.

“Aku ada di jalan Ci, menuju ke rumahmu,” jawab Riska.

“Oke, aku terus memantau dirimu. Beberapa menit lagi aku akan berpapasan denganmu,” kata Arci.

“Kamu di jalan?” tanya Riska.

“Iya,” jawab Arci.

DOR! DOR! Terdengar suara tembakan.

“Hah? Suara apa itu?” tanya Arci.

Riska melihat ke arah spion. Tampak di belakang mereka seorang pengendara motor sedang menodongkan pistol ke arah pickup yang dikendarai oleh Riska. Pengendaranya seorang wanita dengan helm full face.

“Ada…ada yang nembakin kita, Pak Kosim cepetan pak!” kata Riska.

“Iya neng, ini juga udah maksimal!” kata Pak Kosim.

Motor itu melaju mendekati mobil pickup.

“Belok pak! Belok!” seru Riska.

Pak Kosim segera membanting setirnya menghindari kejaran motor itu.

“Ris, apa yang terjadi?” tanya Arci.

“Isna, Isna ngejar aku, nembaki aku!” jawab Riska.

“Aku hampir dekat, pokoknya bertahanlah aku segera datang,” kata Arci. Dia pun menutup teleponnya.

Terlibatlah kejar-kejaran antara mobil pickup itu dengan sepeda motor. Tentu saja mobil pickup dengan cc kecil itu tak akan mampu melaju lebih cepat lagi. Isna ternyata menggunakan perangkat GPS Tracker untuk melacak keberadaan Riska. Dia memasangnya di ponselnya yang sekarang berada di lengannya. Maka dari itulah ia bisa tahu keberadaan Riska sekarang. Dan kini kejar-kejaran maut pun sedang terjadi.

Isna membidik dengan pistolnya lagi.

DOR! DOR! DOR!

Spion pickup itu hancur terkena tembakan. Riska menjerit. Jantung Pak Kosim berpacu lebih cepat. Apalagi saat motor Isna sudah berada di samping kanannya dan siap membidik ke arah Pak Kosim. Lelaki tua ini pun membanting stirnya ke kanan sehingga Isna mengurungkan menembakkan pistolnya. Mobil pickup hampir saja menyambarnya. Pistol Isna terjatuh.

Isna pun gusar ia melajukan motornya lebih cepat lagi. Dia kemudian sudah sampai saja di samping mobil pickup. Dengan penuh keberanian dan mungkin sedikit sinting, cewek Kurdi ini pun menaikkan kaki ke sepeda motornya, lalu melompat hingga mendarat di atas bak pickup. Sepeda motornya pun ambruk di jalan raya. Ia agak terhuyung ketika mobil pickup bergerak ke kiri dan ke kanan. Isna berpegangan kepada pinggiran bak dan mencoba meraih pintu sebelah kiri tempat di mana Riska duduk di sebelah sana.

Tentu saja Riska terkejut dengan tingkah polah Isna sekarang ini. Dia yang dikenal sebagai gadis pemalu di kelas, sebagai cewek yang kalem, ternyata jati diri sebenarnya adalah seorang pembunuh bayaran. Riska juga tak tahu apa yang terjadi, kenapa ia menjadi diincar oleh Isna.

“Isna, hentikaan! Apa yang kamu lakukan? Bukankah kita berteman?” tanya Riska.

Tapi Isna tak menjawab. Tangannya berusaha membuka pintu samping pickup, Pak Kosim membelokkan pickup ke kanan ketika ada sebuah gang. Hampir saja Isna terlempar kalau tidak berpegangan. Namun Pak Kosim salah berbelok karena jalan yang ia tempuh ternyata buntu. Segera ia menekan rem. CKIIITTTT!

Kesempatan, pikir Isna. Ia segera membuka pintu sebelah kiri pickup dan meraih Riska. Pak Kosim dengan sigap memindahkan ke gigi R. Mobil pick up pun berjalan mundur. Segera saja Isna terkejut dan terjatuh di atas bak pickup. Agaknya Isna salah taktik, ia pun berguling ke kanan menuju ke tempat sopir. Mobil pickup terus mundur hingga kembali ke jalan raya. Beberapa mobil yang terkejut melihat mobil pickup yang tiba-tiba mundur segera banting stir sambil mengklakson. Isna pun berpegangan kepada pinggiran bak pickup.

Sejurus kemudian yang dilakukan oleh Isna adalah mengayunkan kakinya sambil berpegangan kepada pinggiran bak hingga menendang Pak Kosim. BUAK! Pak Kosim langsung merasa pusing dan kemudinya berputar tanpa kendali hingga menabrak pembatas jalan, mobil pickup mundur terus karena Pak Kosim terus menginjam gas. Riska menjerit. Dari arah jalan raya ada sebuah mobil sedan yang akan berbenturan dengan pickup itu. Melihat itu Isna segera melompat turun dan berguling di aspal.

BRAAAAKKK! Ekor mobil pickup tertabrak keras, Riska terombang-ambing. Mobil pickup pun berhenti. Melihat Riska masih bergerak, Isna mengeluarkan pisau belatinya. Orang-orang yang melihat tabrakan itu pun panik. Riska menggoyang-goyangkan tubuh Pak Kosim yang tidak sadarkan diri.

“Pak, Pak Kosim!? Bangun Pak!” kata Riska. Ia ketakutan. Ia shock, terlebih ketika melihat Isna sudah membawa pisau belati di tangannya.

Riska membuka pintu mobil pickupnya dan kemudian lari meninggalkan tempat itu sekencang-kencangnya. Ia tak peduli mau lari kemana. Isna pun menyusulnya. Terjadilah aksi kejar-kejaran di trotoar. Riska berusaha sekuat tenaga untuk bisa lari secepat-cepatnya. Dia pun berbelok ke sebuah pasar dan berlari melewati kerumunan orang. Isna terus mengejar dan menghalau orang-orang agar minggir.

Riska berbelok ke gang-gang sempit, ia benar-benar tak tahu arah yang penting berlari. Isna terus memburu dia. Matanya terus menatap ke depan, instingnya pun bermain.

Ketika melewati pos polisi Riska pun langsung minta bantuan.

“Pak, pak! Tolong! Tolong!” kata Riska.

“Ada apa mbak?” tanya seorang polisi, segera dua orang polisi yang berada di pos keluar.

“Ada yang mau bunuh saya,” kata Riska.

“Hah? Mana?” tanya polisi itu.

“Itu!” Riska menunjuk ke arah Isna yang berlari ke arahnya.

Ketiga polisi itu melihat ke arah Isna. Wanita Kurdi ini mengeluarkan pisau lagi dan melemparkan ke salah satu anggota polisi. WUSHH JLEB! Pisau terbang itu tepat mengenai leher sang polisi yang dimintai tolong oleh Riska tadi.

“KYYAAAA!” Riska menjerit.

Orang-orang pun terkejut dan sebagian dari mereka menjerit ketika sang polisi jatuh bersimbah darah sambil memegangi pisau yang menancap di lehernya. Kedua anggota lainnya segera mengeluarkan pistolnya. Riska pun kemudian berlari meninggalkan pos polisi itu. Kedua polisi pun tak memberikan peringatan, mereka telah membidik Isna tapi Isna lebih cepat. Dia berlari zig-zag sehingga kedua polisi itu bingung membidiknya apalagi itu dekat dengan para pejalan kaki yang berlalu-lalang.

“Berhenti! Atau saya tembak!” kata sang polisi.

Terlambat untuk bilang seperti itu, karena Isna sudah ada di depannya dan menancapkan pisau-pisaunya ke tubuh kedua polisi itu.

“Aaaarrghh!” sang polisi mengerang.

Isna menyerang sang polisi membabi buta. Dada mereka ditusuk-tusuk, dicacah, dan leher mereka pun disayat. Keduanya pun jatuh tersungkur dengan bersimbah darah. Sementara itu Isna melihat Riska sudah berlari jauh. Dia kemudian menyusul Riska.

Riska terus berlari, mungkin ini adalah lari paling jauh yang pernah ia lakukan. Dia mulai kehabisan nafas. Entah sekarang dia ada di mana. Dia baru sadar bahwa sekarang dia berada di tempat yang sepi, tak ada satu pun orang yang ada di tempat itu. Bahkan pemukiman pun jauh. Hanya ada jalan beraspal dan pekarangan kosong di kanan dan kiri. Tapi di belakangnya ia masih melihat Isna yang sedang berlari menuju ke arahnya. Ia pun heran Isna punya tenaga dari mana?

Riska melanjutkan larinya, ia harus lari lagi. Satu-satunya yang dia harapkan adalah Arci. Riska pun kelelahan, dia akhirnya terjatuh tersungkur. Nafasnya ngos-ngosan. Ia pasrah sekarang.

“Arci…haa….kuuhh…nggak kuat….lagi… Arci, tolong aku Arci….di mana…..kamu..?” Riska nafasnya memburu. Ia benar-benar tak kuat lagi berlari, seluruh tenaganya benar-benar habis.

Terdengar suara sepeda motor mendekat. Riska menoleh ke arah suara itu, akhirnya ia bisa tersenyum lega. Orang yang dinantinya telah datang. Arci tampak datang dengan mengendarai sepeda motornya. Isna menghentikan larinya. Tentu saja ia terkejut melihat Arci datang ke tempat itu. Pemuda itu segera turun dari sepeda motornya dan menolong Riska.

“Ris, kamu tak apa-apa?” tanya Arci.

Riska menggeleng. Bahkan untuk bicara pun ia sudah tak sanggup.

“Kamu istirahatlah, aku akan buat perhitungan dengan dia,” kata Arci.

“Arci…? Kalau kamu ada di sini berarti kakakku…,” gumam Isna.

“Ya, aku telah mengalahkan kakakmu,” ujar Arci.

Tampak Isna nafasnya mulai naik. Darahnya mendidih. “Tidaakk! Tidak mungkin! Kakakku tak mungkin kalah.”

“Dia telah kalah, aku gorok lehernya.”

“Aku akan minum darahmu!”

“Sebelum itu, kamu harus melangkahi mayatku,” Arci mengeluarkan karambit yang ia dapatkan dari Rasyid. Melihat karambit itu makin membuat Isna marah. Dan kini tak segan-segan dia pun mengeluarkan dua karambit dari pinggangnya.

Sekali lagi pertarungan antara Serigala dengan Harimau terulang kembali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*