Home » Cerita Seks Kakak Adik » Wolf Of Desert Bab 12

Wolf Of Desert Bab 12

BAB XII: Wolf vs Tiger

“Aku sudah menunggu saat seperti ini Arci,” kata Rasyid. “Sayang kamu terlambat untuk menyelamatkannya.”

“Brengsek! Rasyid, aku tak akan memaafkanmu,” kata Arci.

“Kamu tahu Arci, meninggalkan seorang gadis sendirian itu perbuatan yang bodoh. Terlebih tugasmu harusnya menjaga Riska bukan ke sini,” kata Rasyid.

“Kamu….”

“Isna, habisi Riska itu assigment terakhir kita,” kata Rasyid sambil memegang codec yang ada di telinganya.

“Hentikan! Dia tak ada hubungannya dengan semua ini,” kata Arci.

“Siapa bilang?”

Arci masih tak mengerti.

“Target kami sebenarnya adalah menghabisi orang-orang yang mempunyai kunci untuk mengaktifkan Project Super Human Soldier atau yang biasa disebut Gnome Soldier. Kelima menteri ini telah memberikan DNA mereka untuk dijadikan kunci, tapi sayang sekali Menteri Ruslan tidak demikian. Ia membuat sebuah kunci lagi yaitu dengan menggunakan DNA anaknya. Hal itu membuat kami menambahkan lagi satu target yaitu Riska. Sekarang, kamu ucapkan saja selamat tinggal kepadanya karena Isna sudah menuju ke sana.”

“Kalau begitu, aku akan membunuhmu dan aku akan menyelamatkan Riska.”

“Sayangnya, aku tak akan membiarkanmu.”

Arci memasang kuda-kudanya. Rasyid juga. Keduanya sudah siap bertarung. Arci mengetahui ini adalah untuk pertama kalinya ia harus bertarung dengan seorang pembunuh profesional seperti Rasyid. Sang serigala gurun. Dia juga menyadari bahwa bisa saja ia tewas dalam pertarungan ini. Tapi ini adalah pilihan dirinya. Ia tak takut lagi akan kematian, karena sejak pertama kali mengikuti Divisi Tangan Malaikat ia sudah siap untuk mati.

Arci mencondongkan tubuhnya ke kanan dengan jemari tangan terbuka seperti cakar harimau. Kakinya dilebarkan matanya menatap nanar, Rasyid mengepalkan tinjunya. Dengan cepat Rasyid tiba-tiba sudah melayangkan tendangan ke arah Arci. Arci bisa mengelak. Keduanya sama-sama cepat. Arci kini menyerang Rasyid dengan jurus-jurusnya.

Keduanya saling menyerang. Rasyid menangkis dan mengelak. Tangan Raysid begitu cekatan berusaha menangkap tangan Arci, tapi berkali-kali Arci bisa meloloskan diri dengan melayangkan pukulan dan lututnya. Hal itu membuat Rasyid tak bisa leluasa untuk menangkap Arci dan cenderung melindungi tubuhnya. Sebab ia tahu pukulan Arci sangat keras, tidak seperti pukulan orang-orang yang pernah ia kalahkan selama ini. Arci punya kesempatan dan dia bisa mendaratkan punggung tangannya ke wajah Rasyid, kemudian disambung dengan tendangan keras ke dada Rasyid. Rasyid terhenyak hingga mundur beberapa langkah.

Rasyid memijat dadanya yang sakit.

“Tendanganmu boleh juga,” kata Rasyid.

“Aku bisa lebih keras lagi dari ini,” ujar Arci.

“Kenapa kamu tidak melakukannya?”

“Katakan kepadaku siapa yang telah menyuruhmu untuk membunuh Pak Ruslan?”

“Aku tak bisa mengatakannya, rahasia perusahaan.”

“Aku akan bertarung sampai mati denganmu, aku hanya ingin mengetahui hal ini sebelum kamu membunuhku.”

Rasyid berpikir sejenak. “Baiklah, rasanya juga aku perlu berbaik hati daripada kamu mati penasaran.”

Arci tetap bersiap dengan kuda-kudanya. Tangan bergerak kiri dan kanan. Cakar harimaunya sudah bersiaga.

“Kami beberapa bulan yang lalu bertemu dengan seseorang. Bukan orang biasa. Biasanya para klien hanya menghubungi kami lewat email, surat atau ponsel. Baru kemudian kita bisa bicara bisnis dengan bertemu langsung. Tapi ini tidak. Dia menemui kami secara langsung. Seseorang yang sangat misterius, dia menyebut dirinya Lucifer dan Astarot. Satu psikopat yang satunya gila. Yang gila tentu saja Lucifer. Dia adalah mastermind dari semua kekacauan ini. Tapi ide untuk membunuh para menteri adalah dari Astarot. Perlu kamu ketahui juga satu hal. Astarot dan Lucifer bukan orang dibalik semua ini. Mereka hanyalah pion,” jelas Rasyid. Dia mengambil goloknya

“Dari mana kamu tahu mereka hanya pion?”

“Mereka bilang sendiri, bahwa di belakang mereka ada orang yang memang berencana untuk bisa mempunyai kekuatan yang tidak terbatas. Menguasai dunia.”

“Kalian gila! Bagaimana kalian bisa menguasai dunia?”

“Bukan aku. Tapi mereka. Aku hanya orang yang bertugas untuk menghabisi para pejabat yang terlibat.”

“Ini tentang Proyek SHS bukan?”

“Aku tak tahu. Dan aku tak peduli.”

“Lalu siapa orang dibalik semua ini?”

“Dia murid White Wolf.”

“Siapa?”

“Putra Nagarawan.”

Arci terkejut mendengarnya.

“Tak mungkin, ini semua….”

“Ya, tepat sekali. Semua adalah perintah dari orang ini. Dia otak atas segala yang terjadi. Apapun yang kamu lihat di berita, semuanya atas prakarsa dirinya.”

“Baiklah, aku sudah mengetahuinya. Aku akan mati dengan tenang sekarang.”

Rasyid bersiap dengan goloknya. Kini kedua tangannya sudah ada dua bilah golok yang sudah bersimbah darah. Arci sudah bersiap, ia tak bisa menghindar lagi. Nyawa Riska dalam bahaya. Ia harus cepat. Maka, sebelum Rasyid menyerang ia harus menyerang lebih dulu. Untuk mengayunkan golok seseorang akan mengambil ancang-ancang, maka Arci punya sedikit waktu untuk memakai kesempatan itu. Yang dilakukan Arci adalah maju. Dan benar Rasyid mengambil ancang-ancang tangan kanan terlebih dulu, sedangkan tangan kirinya bergerak ke depan.

Kesempatan, pikir Arci. Dia meliukkan badannya ke kanan menghindari sabetan golok tangan kiri Rasyid. Arci dengan cepat menarik lengan kiri Rasyid dan mendaratkan beberapa pukulan dengan punggung tangan dan sikunya ke tubuh Rasyid. Rasyid menahan sakitnya dan menebaskan golok dengan tangan kanannya. WUSSHH!

Reflek Arci lebih cepat sehingga ia mundur satu langkah tapi kakinya masih di tempat ia semula. Dengan kedua lengannya ia memukul kedua lengan Rasyid sehingga tangan Rasyid terbuka. Arci mendaratkan beberapa belas pukulan cepat ke dada Rasyid. Rasyid melemah seakan-akan seluruh oksigen paru-parunya habis karena pukulan itu. Belum selesai sampai di sana, Arci memutar pergelangan tangan kanan Rasyid dan memukulnya hingga goloknya terjatuh. Kemudian tubuhnya merendah menyapu kaki Rasyid, setelah itu dengan cepat tubuhnya berputar dan mendaratkan lututnya di dada Rasyid yang sudah melayang karena sapuan kakinya tadi. Rasyid seperti terhempas hebat ke lantai.

Arci ingin menambahkan sebuah hantaman lagi tapi golok di tangan kiri Rasyid hampir saja menggoresnya kalau ia tidak secara reflek melompat. Rasyid kemudian berguling-guling untuk menghindari serangan dari Arci. Setelah beberapa kali berguling ia langsung berdiri dan menghambil nafas.

Rasyid mengalihkan golok ke tangan kanannya. Kini ia maju untuk menerjang Arci. Sang Harimau pun berkelit, mengelak, mundur, karena Arci tak ada senjata maka segala yang dilakukannya adalah agar Rasyid bisa melepaskan goloknya itu. Tapi sepertinya sulit karena tebasan-tebasan yang dilakukan oleh Rasyid benar-benar tidak main-main.

Arci pernah bertarung dengan orang yang memakai golok, tapi kebanyakan orang yang memegang senjata golok takut dengan senjatanya sendiri. Sehingga ada kalanya orang yang memegang golok lebih berhati-hati untuk tidak menebas dirinya sendiri, tapi tidak bagi Rasyid. Ia sangat lihai bahkan semua gerakannya seolah-olah digerakkan dengan menggunakan insting. Kiri, kanan, kiri, kanan, bahkan sebelum Arci menyadari ternyata ia sudah terdesak hingga membentur sebuah pintu kaca. Rasyid tak menyia-nyiakan ini. Ia pun menendang Arci hingga menjebol pintu kaca itu. Kaca itu hancur akibat dorongan dari tubuh Arci.

Pertarungan kini berpindah di ruang keluarga. Di sini terdapat televisi, ornamen-ornamen, beberapa hiasan dan patung-patung kecil, serta buffet. Ada sebuah patung kayu hanooman yang tergeletak di atas meja kecil dengan dengan sofa melingkar. Arci yang baru saja terhempas merayap mundur hingga menabrak sofa, Rasyid dengan gusar segera menedangnya. Arci bisa menghindar. Ia melempar apa saja yang ada ke arah Rasyid. Patung-patung kecil melayang mendarat ke arah Rasyid, tapi dia bisa menghindari semuanya.

Sang Serigala itu pun melompat melewati sofa sambil mengayunkan goloknya ke arah Arci. Arci tidak mundur, tapi ia malah maju sehingga tubuhnya membentur tubuh Rasyid. Kesempatan ini dibuat Arci untuk memegang tangan kanan Rasyid dan menghentakkannya sehingga goloknya pun lepas. Tapi Rasyid menggunakan kesempatan ini, dia menangkap leher Arci dengan lengan kirinya. Rasyid lalu menghempaskan Arci ke atas meja kaca. BRAK! Rasyid heran kaca itu tak retak atau pun pecah. Ternyata kacanya cukup tebal sehingga sebuah bantingan saja tak akan cukup untuk menghancurkan kaca itu. Rasyid pun menambahkannya dengan mendaratkan lutut kirinya ke dada Arci. Arci yang tidak siap pun menerimanya PYAAR! Meja kaca itu pun hancur bersamaan itu tubuh Arci ditindih oleh lutut Rasyid.

Arci menggerakkan kaki kanannya untuk menendak kepala Rasyid. Rasyid tak menyangka Arci bisa melakukan hal itu, ia tak siap sehingga tubuhnya terdorong ke depan. Arci berguling di antara serpihan kaca, sebagian menusuk telapak tangannya. Sejurus kemudian dia berdiri dan kedua orang ini kembali saling menerkam. Tangan kanan Arci memegang tengkuk Rasyid, demikian juga Rasyid mereka berusaha menarik dan mendorong hingga akhirnya keduanya mendorong ke arahnya sama hingga membentur sebuah lemari yang berisi hiasan patung-patung kecil. Kedua kepala mereka berdarah karenanya.

Rasyid menyerang Arci dengan lututnya, dan tangan kanannya memukul-mukul kepala Arci berulang-ulang. Merasa kesakitan Arci pun melakukan hal yang serupa kepada Rasyid. Mereka saling pukul bergantian. Rasyid lalu menedang Arci hingga ia terdorong ke belakangan. Lagi-lagi Rasyid mendaratkan tendangannya namun kini dengan menggunakan lutut kirinya sehingga kepala Arci oleng ke kanan. Dengan cepat Rasyid menyambutnya dengan menangkap kepala Arci lalu menghantamkannya ke sebuah buffet hingga pintu buffet itu hancur.

Arci agak pusing, tapi dia harus sigap. Luka di kepalanya makin banyak saja karena serpihan kaca pun turut menggores wajahnya. Mulutnya berdarah, Rasyid juga demikian. Pelipis mereka mengucurkan darah yang sama banyaknya. Arci mengambil sebuah patung kecil dan melemparkan ke arah Rasyid. Rasyid dengan sigap bisa menghindarnya. Kesempatan itu membuat Arci melarikan diri sejenak untuk mengambil nafas agar tak di serang oleh Rasyid saat ia sedang lengah.

“Krav maga?” gumam Arci.

“Kamu tahu juga rupanya,” kata Rasyid.

Arci pun mundur hingga kini secara tak sadar mereka sudah berada di dapur. Rasyid meraba sesuatu di pinggangnya. Kemudian dia menunjukkan kepada Arci di kedua tangannya, dua buah karimbit dengan matanya bergerigi. Sial, aku lupa bawa itu, pikir Arci.

Tanpa basa-basi Rasyid pun segera maju menyerang Arci. Arci berkelit dan berputar. Dia menemukan pisau dapur di sebuah rak pisau. Akhirnya ia ambil dua buah pisau. Karambit dan pisau dapur pun bertemu, benturan keduanya menimbulkan suara logam saling membentur.

Rasyid menebaskan karambitnya. Arci mengelak, ia juga menebaskan pisau dapurnya. Ketika sabetan karambit Rasyid ke atas, dada Arci terkena tapi tak seberapa dalam. Baju Arci terkoyak darah mengucur di lukanya. Bersamaan dengan itu ia juga menebas dan menyayat perut serta dada Rasyid dengan kedua pisaunya. ZRAT! SLASH! SERRR!

Rasyid melingkarkan karambitnya ke lengan Arci. ZRAATT! Luka lebar langsung terbentuk di sana. Arci juga melakukan hal yang serupa. ZRATTT! Lengan Rasyid tersayat. Tangan kanan Rasyid menghujam ke perut Arci, tapi Arci menangkisnya. Arci lupa kalau Rasyid punya dua karambit, alhasil karambit satunya menancap di pundaknya.

“Arrgghh!” mulutnya merintih rasa sakit.

Arci kemudian menusukkan kedua pisau dapur itu ke paha Rasyid kiri dan kanan.

“AARRGGHH!” Rasyid ganti mengerang.

Arci kemudian memegang lengan kiri Rasyid kemudian menggigitnya. Ia meraba jemari tangan Rasyid yang memegang Karambit. Mungkin karena luka tusuk di pahanya pegangan Rasyid melemah di karambitnya sehingga dengan mudah Arci merebut senjata itu. Namun sebagai imbasnya Rasyid menarik karambit yang menancap dipundak Arci. Kulit Arci terkoyak. CLAAKKK! SERRR! Darah mengucur di pundaknya.

Arci sanggup merebut karambit itu walaupun dengan tubuh terkoyak. Kini satu karambit di tangan kanannya. Arci kini sudah bersiap dengan kuda-kuda lagi. Ia terpaksa menahan rasa sakit senut-senut yang ada di pundak kirinya.

Rasyid perlahan-lahan mencabut kedua pisau yang menancap di kedua pahanya dengan mengerang. Ia meringis kesakitan dan membuang pisau dapur itu.

“Brengsek!” umpat Rasyid.

Arci merendahkan tubuhnya kini posisi kuda-kudanya merendah, lutut kirinya menempel di lantai. Rasyid menahan sakit di kedua pahanya dan ia paksakan untuk bergerak menyerang Arci, tapi karena tubuh Arci merendah hal itu membuat rasa nyeri di pahanya menghentikan langkahnya. Kesempatan, pikir Arci.

Arci berguling ke depan. SRATT! satu sayatan di kaki Rasyid. Rasyid menyabetkan karambitnya, tapi Arci sudah berguling ke belakang tubuhnya. SRRAATT! Lagi-lagi satu sayatan mengarah ke betis Rasyid. Rasyid memutar badannya, tapi Arci sudah ada di sampingnya memberikan dua sayatan lagi, Rasyid berputar dan Arci menyabetkan karambitnya lagi. Rasyid pun merasa seluruh syaraf dan otot di kakinya tak bisa digerakkan bahkan rasa sakit itu mengharuskan ia berlutut. Ia tak bisa berdiri sekarang.

Arci menatap tajam mata Rasyid. Mereka berdua bertatapan sekarang.

“Jurus tingkat tujuh, cabikan harimau!” kata Arci.

Tangan kanan Arci yang memegang karambit itu meliuk-liuk di lengan kanan Rasyid. Lengan kanan Rasyid yang memegang karambit itu disayat-sayat, dirobek, dengan sayatan membujur dan melintang. Rasyid masih belum bisa berfikir ketika kakinya tak bisa digerakkan lagi. Kini Arci memegang dan mengunci lengan kanan Rasyid dengan lengan kirinya. Kemudian karambit yang ada di tangan kanannya mencabik-cabik dada dan perut Rasyid.

ZRAT! CLESS! SRET! CROK! ZRAT! CLESS! SRET! CROK! ZRAT! CLESS! SRET! CROK! ZRAT! CLESS! SRET! CROK!

Entah berapa kali sabetan dan sayatan yang ia berikan hingga Rasyid membelalakkan mata, tak bergerak. Paru-paru Rasyid bocor. Darah masuk ke sana sehingga dari hidung dan mulutnya keluar darah. Sabetan terakhir, Arci menancapkan karambit ke leher Rasyid dan memotong leher Serigala Gurun itu. Setelah itu tubuh Rasyid tak bergerak lagi untuk selamanya.

****

Riska melihat berita di tv. Di sana ada berita kekacauan di KTT G-20 yang sedang berlangsung di Gedung Srikandi Hall. Ia bertanya-tanya ada apa gerangan? Reporter mengatakan baru saja terjadi peperangan antara pasukan Kopasus dengan para teroris yang menguasi dan menyandera para pemimpin dunia.

Ia sangat khawatir kepada ayahnya. Tapi ketika di telpon tak ada suara bahkan tak diangkat. Apa yang sebenarnya terjadi?

Setelah ia mandi, Bi Asih menemani dia di rumah tersebut. Riska menceritakan apa yang terjadi kepada Bi Asih.

“Jadi begitu ya, Neng Riska? Bi Asih ikut berdo’a berharap papanya neng baik-baik saja,” kata Bi Asih.

“Makasih bi,” kata Riska.

Ponselnya Riska pun berbunyi. Dari Arci. Ia pun segera mengangkatnya.

“Halo, Arci?” sapa Riska.

“Ris, pergi dari sana!” ujar Arci.

“Kenapa?”

“Isna, Isna ke arahmu sekarang. Dia akan membunuhmu.”

“Isna? Isna siapa?”

“Isna teman sekelas kita. Dia adalah pembunuh bayaran nomor satu di dunia. Dia sekarang menuju ke arahmu. Dan aku mohon maaf, aku terlambat datang….”

“Lalu, papa bagaimana?”

Arci agak lama menjawab. “Maaf Ris…aku terlambat…”

“PAPAAAAA….,” Riska menjerit. Tangisnya tiba-tiba meledak.

“Neng? Neng Riska kenapa?” tanya Bi Asih. “Ada apa dengan Pak Ruslan?”

“Segera pergi dari sana. Aku akan menyusulmu!” kata Arci.

“Pergi ke mana?” tanya Riska sambil masih menangis.

“Kemana saja, kamu tak perlu khawatir. Ponselmu ada GPS Tracker. Aku bisa melacak keberadaanmu dengan itu. Yang jelas segera pergi!” kata Arci.

“I…iya, Iya Arci……”

“Aku sayang kamu Ris,” kata Arci.

“Hikss…Aku juga Ci,…aku cinta ama kamu,..hikss,” Riska lalu menutup teleponnya dan mencoba tegar.

“Kenapa non? Ada sesuatu yang terjadi ama Bapak?” tanya Bi Asih.

“Papa meninggal bi. Papa meninggal,” jelas Riska.

“Innalillahi…,” Bi Asih menutup mulutnya.

“Bi…tolong Bi, aku harus pergi dari sini,” kata Riska masih dengan sesenggukan. “Bibi tahu tempat yang aman?”

“Ada, emangnya ada apa neng?”

“Ada pembunuh yang menuju ke sini.”

“Astaga, beneran itu?”

“Beneran bi!”

“Ya sudah, ayo ikut bibi sekarang!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*