Home » Cerita Seks Kakak Adik » Wolf Of Desert Bab 11

Wolf Of Desert Bab 11

BAB XI: TEMAN LAMA

Seorang lelaki berwajah oriental sedang duduk menikmati kopi panas yang disuguhkan oleh pelayan kafe. Dia kemudian menghirupnya, sensasinya luar biasa nikmat setelah lama ia tak merasakannya. Dari kafe yang terletak di lantai dua, ia bisa melihat gedung Srikandi Hall milik Hendrajaya Group itu. Gedung itu besok akan menjadi tempat KTT G-20. Ketika asyik menikmati kopinya ia dikejutkan dengan seorang lelaki dengan jambang dan kumis yang rapi dan berpakaian tebal duduk di depannya. Hampir saja ia menyemburkan kopinya.

“Guru?” kata lelaki yang hampir saja menyemburkan kopinya itu.

“Nikmati saja kopimu. Aku ingin mengunjungi teman lama. Itu saja,” kata pria berjambang.

“Maaf, aku tak tahu kalau….”

“Suni, sudahi semua ini. Apa kamu lebih memilih jalan yang gelap ini sekarang?”

“Iya, tidak ada cara lain. Inilah yang aku pilih.”

“Aku saja sudah tidak ingin berurusan dengan dunia ini lagi. Hidup tanpa orang tua dan merantau membuatku sadar bahwasannya tempatku bukan di dunia ini. Maka dari itulah ibu tidak pernah keluar dari Syberia sampai beliau meninggal. Aku sudah bertobat Suni. Dan sebaiknya kamu mengikutiku juga.”

“Maaf guru, aku tidak bisa.”

“Kenapa? Bukankah sudah jalan kebaikan itu banyak?”

“Karena sekali kita menempuh jalan ini, maka kesudahannya pun juga buruk. Aku tak bisa kembali.”

“Kamu bilang tak bisa kembali? Tidak Suni, kamu bisa kembali. Pergilah dari Genesis, jauhi Lucifer. Dia dan adiknya memang bukan orang baik. Yang satunya gila, yang satunya psikopat. Kenapa kamu lebih memilih dekat dengan Lucifer dan Astarot?”

“Karena aku berhutang budi kepada mereka.”

“Kamu telah mengecewakan seorang wanita. Aku takut kamu akan dapat karmanya setelah ini.”

“Aku tak mencintainya, ia hanya alat.”

“Suni, ini nasehatku yang terakhir. Jangan lakukan.”

Suni menghela nafas. Dia menggeleng.

“Aku tetap pada pendirianku guru. Maafkan aku.”

Pria berjambang itu beranjak dari tempat duduknya.

“Negara yang indah. Aku suka. Aku akan tetap melihatmu sampai akhir Suni. Kalau kamu tidak bisa berubah, aku pun akan tetap melihat murid-muridku.”

“Murid-murid? Apa ada selain aku?”

“Iya, ada. Dan aku juga akan mengunjunginya sebentar lagi. Tapi sebelum itu aku ingin bertemu dengan kakekku terlebih dulu. Selamat tinggal.”

Pria berjambang itu pergi meninggalkan Suni seorang diri. Suni menghabiskan kopinya lalu beranjak pergi setelah memberikan beberapa lembar uang di atas meja. Pria berjambang tadi adalah White Wolf, seorang Mist, guru dari Suni.

****

Inspektur James sudah berada di kediaman Menteri Pertahanan Ruslan Yudhistira. Tidak hanya dia. Tapi juga beberapa orang lain yang memang berkepentingan untuk melindungi menteri itu. Sejak terbunuhnya Ir. Totok Adiswara, rumah Ruslan tidak pernah sepi dari pihak keamanan. Keselamatannya menjadi prioritas. Sebenarnya kekuatan pihak keamanan terpecah. Separuh menjaga keamanan KTT G-20, separuh lagi menjaga Ruslan.

Rambut dan kumisnya sudah memutih, tak bisa menyembunyikan bahwa dia memang sudah tua. Seminggu lagi dia pensiun. Hari itu dia berangkat dengan perasaan tidak menentu. Bagaimana tidak? Memandang wajah istrinya seakan tak tahu apakah ia akan bisa pulang dengan selamat ataukah tidak.

Lili duduk di kursi rodanya. Dia tidak bisa berjalan lagi sekarang. Tubuhnya mulai melemah. Masa mudanya sudah menghilang begitu saja dengan cepat. James mencium kening istrinya itu.

“Kamu akan pulang jam berapa sayang?” tanya Lili.

“Mungkin tidak, mungkin seperti biasa,” jawab James kepada istri tercintanya itu.

“Oh, James. Andai kekuatanku masih ada aku bisa membantumu saat ini,” kata Lili.

“Lili, justru yang seperti inilah kita bisa disebut sebagai manusia biasa. Sangat manusiawi malah. Aku sudah menikmati hidup sebagai manusia biasa selama lima puluh tahun ini. Jadi tak perlu kamu menyesali semuanya.”

“Bagaimana kabar Ray?”

“Dia baik-baik saja. Kamu ingin berkunjung ke tempatnya menengok cucumu?”

“Ahh…andainya waktu itu tidak berlalu begitu cepat.”

“Semuanya akan ada akhirnya sayang. Manfaatkan segalanya dengan sebaik-baiknya.”

“Kamu benar.”

“Aku berangkat dulu,” James lagi-lagi mencium kening istrinya, kemudian melangkah keluar rumah. Agaknya kenangan pagi itu tak bisa dilupakan oleh James. Apakah perasaannya saja atau memang dirinya hari ini akan menghadapi sesuatu yang luar biasa?

Dan di sinilah Inspektur James. Berada di rumah Ruslan. Ketegangan menyelimuti semua orang yang ada di sini.

“Personil kita sudah siaga. Kapan saja pasti si brengsek itu akan tiba,” kata Inspektur James.

“Aku serahkan ini kepada kalian. Divisi Tangan Malaikat, jangan sampai dia bisa masuk ke sini,” kata Ruslan.

Dwi Handoyo tampak berada di tengah-tengah mereka. Dia sudah siap apapun yang akan terjadi hari ini. Bagaimana Serigala Gurun itu akan menembus pertahanan berlapis? Yang jelas, mereka berdua juga sudah siap. Isna berada di sebuah bangunan yang cukup jauh dari tempat Ruslan berada. Bahkan bangunan itu tampak tersembunyi, namun rumah Ruslan cukup jelas terlihat dari tempat Isna berdiri.

Isna menempatkan sebuah senapan laras panjang dengan bobot 33 kg dengan kedua tangannya. Dia memasang codec di telinganya. Begitu alat komunikasi itu menempel suara Rasyid langsung terdengar di sana.

“Bagaimana keadaan biadadariku di sana?” tanya Rasyid.

Isna kemudian berbaring dan menempatkan kakinya agar bahu dan pundaknya nyaman untuk menahan hentakan senjata Istiglal yang sekarang ia pakai untuk membidih kediaman Menteri Ruslan. Matanya sudah meneropong jauh 3km ke depan.

“Sayang, lawan kita satu pasukan,” kata Isna.

“Tak masalah. Aku sudah siapkan hal yang tidak terduga bagi mereka,” kata Rasyid.

Sementara itu di tempat lain. Seseorang laki-laki sedang duduk di sebuah kursi. Di telinganya juga terpasang codec. Secangkir kopi panas berada di tangannya dan dia meminumnya sedikit. Dari kejauhan dia melihat rumah Ruslan. Rambutnya panjang tergerai, warnanya sangat hitam. Jemari tangannya dipukul-pukulkan di lututnya. Terlihat senyuman jahat terukir di bibirnya.

“Menikmati rencana saudaramu?” sesosok pria berbaju putih tiba-tiba sudah duduk di sebelahnya. Lelaki berambut panjang ini pun terkejut dan hampir saja menumpahkan kopi di cangkirnya.

“White Wolf!” seru lelaki berambut panjang ini.

“Aku tidak akan mengganggumu Astarot, aku hanya ingin memastikan bahwa keluargaku selamat di sana.”

“Hmm? Keluarga kamu? Mustahil kamu punya keluarga di sini?”

“Ada, kakekku.”

“Wahahahahahaha. Kenapa kakekmu ada di sana? Di sana akan ada kekacauan!”

“Yang jelas. Aku ke sini untuk melindunginya.”

“Itu sudah terlambat kurasa. Persiapan dua serigala gurun itu tak akan membiarkan seekor lalat pun hidup. Kamu dari mana saja? Kenapa sekarang baru muncul?”

“Aku ingin menyudahi perjalananku. Aku ingin pensiun dan kembali ke Syberia. Tempatku bukan di sini.”

“Setelah semua yang terjadi?”

“Iya, masaku sudah berakhir.”

“Hahahahahaha. Baiklah, tapi setidaknya kita nikmati dulu pertunjukan ini. Oh ya, kamu sudah bertemu dengan muridmu yang satu lagi selain Suni?”

“Sudah. Dia memilih jalan yang berbeda.”

“Maksudmu baik atau jahat?”

“Sangat jahat.”

“Ohohoho, aku suka itu. Bagaimana kalau kita lihat saja, apa yang akan terjadi?”

“Suni telah mati.”

Astarot terdiam. Ia menoleh ke wajah White Wolf yang tampak sedih.

“Ia sudah tahu bahwa ini adalah jalan yang salah, tapi kenapa juga ia memilih jalan ini,” kata White Wolf.

“Hidup itu pilihan Wolf, kamu tak perlu risau. Kamu berada di sini juga pilihanmu bukan?”

“Tidak. Aku ada di sini karena terpaksa. Karena aku ingin melihat dunia yang luas. Aku tidak mengikuti nasehat ibuku untuk tetap berada di Syberia. Dan sekarang aku merasa akan mendapatkan karma dari apa yang telah aku lakukan. Genesis sudah selesai. Itu yang terakhir.”

“Ayolah teman lama. Masih ada Titan. Sekarang semuanya sudah bergerak. Kenapa kita tidak nikmati masa kejayaan kita sebentar lagi?”

“Aku tak bisa melihat itu. Aku tak akan sanggup. Aku akan kembali ke Syberia setelah bertemu dengan ayahku. Itu saja.”

“Baiklah, terserah kamu.”

“Lucifer sudah pergi.”

“Maksudnya?”

“Dia sudah mendahuluimu.”

“Ah, ternyata begitu. Ia memang sudah memprediksikannya. Hypersuitnya tak akan mampu melawan Hypersuit buatan profesor Andy sang pencipta aslinya. Tapi apa yang ia lakukan sudah lebih dari cukup. Karena gnome soldier sudah selesai dirancang, tinggal dibuat. Kekuatannya lebih besar dari Hypersuit. Sementara ini biarkan saja kejayaan mereka, tapi nanti akan ada saatnya di mana Project Titan akan selesai dan mereka sudah terlambat.”

DUARR! DUARR! DUARR! DUARR! DUARR! DUARR! DUARR! DUARR! DUARR! DUARR! DUARR!

Tiba-tiba ada bom meledak, berurutan menghancurkan pagar rumah Ruslan. Ledakannya bukan saja mengejutkan tapi juga menghancurkan. Beberapa penjaga yang berada di sekitar tempat itu pun tak pelak lagi hangus jadi korban ledakan bom itu. White Wolf dan Astarot yang mendengar ledakan itu langsung menoleh ke rumah Ruslan.

“Sudah dimulai. Enjoy the show!” kata Astarot.

Debu-debu berhamburan kaca-kaca rumah Ruslan pun sampai hancur berkeping-keping karena getaran bom itu. Tentu saja Inspektur James dan Ruslan terkejut. Tak pernah menduga sebelumnya serangan sudah dimulai. Dari kejauhan Isna menarik pelatuk Istiglal.

BLAAM! Dua kepala penjaga langsung hilang. Dua nyawa satu peluru. Bahkan tembok yang terkena pun berlubang.

“Apa-apaan ini?” kata Inspektur James.

Para prajurit yang masih tersisa pun segera membentuk pertahanan. Tapi kejutannya tak berakhir di situ. Karena debu yang mengepul di luar pagar, maka mereka tidak tahu apa yang ada di baliknya. Kejutan sebuah roket RPG muncul. Mereka pun lari berhamburan.

BLAARRRRRR!

Inspektur James menarik Ruslan untuk pergi. Tapi Ruslan menolak. “Aku tetap akan di sini. Aku akan menghadapi dia. Kamu jangan meremehkan aku James. Aku tahu apa yang aku lakukan.”

RATATTATATATA! Terdengar suara tembakan bersahut-sahutan. Kemudian disusul ledakan demi ledakan. Entah apa yang terjadi di luar sana. Tak berapa lama kemudian muncullah sesosok pria dengan baju hitam, di kedua tangannya tampak dua bilah golok. Seorang prajurit akan menembaknya tahu-tahu BLAAASTT! Kepalanya hancur. Isna menembaknya dari jauh.

Rasyid sudah bersiap untuk membantai siapapun yang menghalangi jalannya. Dwi Handoyo sang bodyguard elit pun tak tinggal diam. Dia langsung menghadang Rasyid. Tubuh Rasyid berputar dan menebas Dwi. Dwi menghindar dan menangkisnya dengan pisau yang ia bawa. TRANG! Hentakan antar kedua senjata itu membuatnya mundur.

“Pisau dan golok. Kamu memang cari mati,” kata Rasyid.

“Kita lihat siapa yang cari mati,” kata Dwi.

Dwi kemudian mengambil sebuah pisau lagi di pinggangnya. Kini dia pun memakai dua pisau. Tapi tentu saja, jangkauan dia tak akan mampu mengalahkan jangkauan golok Rasyid. Maka satu yang harus diwaspadai adalah gerakan dari mata golok Rasyid. Sebagai seorang yang juga belajar pencak silat, Dwi termasuk ilmunya tinggi. Ia harus bisa melumpuhkan Rasyid bagaimana pun caranya.

Ada seorang prajurit yang diam-diam akan menyerang Rasyid dari belakang, tapi lagi-lagi kepalanya meledak. Rasyid percaya bahwa Isna bisa membereskan siapapun yang mengganggu Rasyid untuk menyelesaikan misinya. Kepercayaannya itulah yang membuat Dwi gemetar. Baru kali ini ia berhadapan dengan orang seperti Rasyid. Orang yang sangat percaya diri. Kalau tak ada yang mampu menyentuh Rasyid, maka sama saja sekarang Dwi harus menghadapinya seorang diri.

Golok Rasyid pun mulai menari-nari, badannya berputar-putar. Dwi menghindar, mundur, mundur lagi. Rasyid benar-benar menggila, ia tak melepaskan Dwi begitu saja. Dwi berusaha mencari celah bagaimana caranya bisa menyerang Rasyid.

“Bagaimana caraku untuk menghabisi dia?” pikir Dwi.

****

Sementara itu Arci terbangun. Ia masih memeluk Riska yang masih tertidur pulas. Arci tak pernah menduga sebelumnya ia akan bercinta dengan kekasihnya malam itu. Hari sudah pagi, matahari bersinar. Ternyata semalaman mereka tertidur di sofa dan hanya berselimutkan dengan baju-baju mereka saja. Kehangatan tubuh merekalah yang membuat mereka nyaman. Arci mencium pipi Riska, hal itu membuat Riska terbangun.

“Eh…udah pagi ya?” tanya Riska.

“Iya Ris, udah pagi,” jawab Arci.

Arci mengambil ponselnya. Ada sebuah pesan masuk.

“We are ambushed. Arci, segera balik! ~ Dwi”
“Celaka, Ris kita harus balik Ris!” kata Arci.

“Hah? Ada apa?” Riska terbangun.

“Ehhmm…mereka diserang tapi kayaknya kamu nggak usah pulang ke rumah. Kamu di sini aja deh!”

“Eh, nggak boleh gitu! Aku juga kepengen balik kalau memang itu genting.”

“Masalahnya di rumahmu terjadi pertempuran, aku tak mau kamu kenapa-napa!” Arci membelai pipi Riska.

“Papa bagaimana?”

“Tidak ada kabar, sepertinya mereka sedang sibuk. Aku akan segera ke sana, sementara itu kamu di sini sama Bi Asih. Ok?”

“Baiklah Ci, aku percaya kepadamu. Tolong papa, ya?!”

“Tentu saja. Lagi pula dia calon mertuaku.”

Riska tersenyum sejurus kemudian mereka berdua berciuman sangat dalam. Setelah itu Arci berpakaian. Tak berapa lama kemudian Arci segera meninggalkan rumah itu. Riska berharap tak terjadi apa-apa dengan papanya.

*****

Dwi kehabisan tenaga, ia tak bisa menghindar lagi. Sabetan golok Rasyid mengenai pundak kanannya dan memotong tubuhnya. Ia mengerang kesakitan melihat bahu dan lengannya sudah terlepas dari tubuhnya. Rasyid pun menuntaskannya dengan bergerak cepat menggorok leher Dwi. Darah segar mengucur dari sayatan lehernya. Dwi pun ambruk seketika dengan bersimbah darah.

Di depan Rasyid hanya ada Ruslan dan Inspektur James.

“Pergilah Pak, dia akan aku hadapi,” kata Inspektur James.

“Kamu gila apa? Dia pembunuh nomor satu!”

“Saya tahu, tapi saya tidak gila. Siapa namamu?” tanya Inspektur James kepada Rasyid.

“Namaku Rasyid.”

“Aku menantangmu duel, satu lawan satu. Tangan kosong! Itu pun kalau kamu mau,” kata Inspektur James.

“Oh, baiklah. Lagipula aku punya banyak waktu bersenang-senang. Semua pasukan kalian pasti sedang sibuk sekarang ini mengamankan KTT G-20. Tapi jangan khawatir mereka yang sekarang mengamankan KTT G-20 bukan orang-orang kalian,” kata Rasyid.

“Maksudmu?” tanya Inspektur James.

“Salah satu partner kami, Genesis telah menggantikan para prajurit itu. Jadi tak ada yang bisa menghalangi Genesis lagi.”

“Non-sense!” kata Ruslan.

“Terserah kamu mau percaya atau tidak. Baiklah Inspektur James, aku terima tantanganmu. Duel satu lawan satu,” kata Rasyid.

“James, ini gila. Kamu jangan meladeni dia. Tembak dia James!”

“Tidak, aku tak takut dengan dia. Aku bisa menjaga diri,” kata Inspektur James.

Rasyid menjatuhkan kedua goloknya. KLANG! Suaranya benar-benar ribut. Inspektur James menjatuhkan pistolnya. Dia membuka jasnya, lalu ia lempar. Dasinya dilepas lalu dilempar. Kini ia berpose seperti seorang petinju.

“Jangan membunuh dia, kamu boleh menyakiti dia tapi jangan dibunuh. Ingat tugasmu!” bisik sebuah suara di codecnya.

“Ini siapa?” tanya Rasyid sambil memegang codecnya.

“Orang yang menyuruhmu. Tugasmu yang lain, tidak membunuh Inspektur James. Kamu mengerti? Uang akan kami gandakan apabila tugas selesai,” kata Astarot.

“Tapi, bagaimana kamu bisa tahu frekuensi ini?”

“Kamu jangan meremehkan kami. Kami tahu segalanya, bahkan hubungan terlarangmu dengan adikmu kami juga tahu. Tak perlu disembunyikan. Kami memilih kalian karena kalian sangat profesional dan kalian memang pantas untuk pekerjaan ini. Jadi, Wolf of Desert! Lakukan apa yang aku perintahkan!” kata Astarot di codec.

“As you wish boss,” kata Rasyid.

Rasyid mengepalkan tinjunya dan mengangkat tangannya untuk pose bertarung. Ia sudah bersiap untuk bertarung dengan James.

“Kuharap kamu tidak kasihan melawan orang tua seperti aku,” kata James.

“Tidak. Bahkan aku akan menghajarmu habis-habisan,” kata Rasyid.

“Bagus kalau begitu.”

James segera maju, memukul DUESH! Cepat. Ternyata ia masih ingat dengan caranya bertinju. Rasyid sempat terhuyung. Baru kali ini ia merasakan pukulan seperti itu. Kalau saja James masih muda, mungkin ia bisa merobohkan Rasyid.

“Tidak buruk, buat orang tua sepertimu,” kata Rasyid.

James menggerakkan kakinya seperti seorang petinju kiri kanan punggungnya pun meliuk-liuk kiri kanan, kedua tangannya mengambil posisi seperti Peek a boo. Rasyid tenang, dia tetap memasang kuda-kuda. James mendaratkan pukulannya lagi, tapi Rasyid bisa menghindar dan mendaratkan sebuah body blow. Mungkin karena memang faktor usia sehingga James telat untuk mengadangnya. Body blow itu cukup mengena, perutnya seperti diaduk-aduk. Namun ia berhasil menangkap tangan Rasyid kemudian ditariknya lalu dengan sikunya ia menghantam perut Rasyid. BUAK!

Rasyid terhenyak ketika siku itu menghantam telak ulu hatinya. Kedua orang ini ambruk.

“Kakak, kau tak apa-apa?” tanya Isna yang melihat itu dari jauh.

“OK, aku tak apa-apa. Tua bangka ini kuat juga rupanya,” ujar Rasyid. Ia berguling lalu berdiri. James masih berada di lantai tapi belum sempat ia mengambil nafas sebuah tendangan tepat ke kepalanya membuat kepalanya seperti dihantam sebuah kereta api.

James menggelepar hingga kepalanya membentur lantai. Ia mengerang sambil memegangi bibirnya. Pelipisnya berdarah. Rasyid kemudian menoleh ke arah Ruslan. Rasyid perlahan-lahan menghampiri Ruslan. Ruslan sudah bersiap. Diambilnya sebuah pistol dari pinggangnya dan membidik Rasyid.

“Kau tahu bukan menembakku itu percuma,” kata Rasyid.

“Tapi setidaknya aku…AAAHHH!” Ruslan mengerang ketika peluru Istiglal menghantam tangannya hingga hancur. Seolah tak diberi kesempatan lagi Rasyid melompat dan memegang leher Ruslan dengan lengannya, kemudian menjepit dan memutar tubuhnya.

“HENTIKAAN!” terdengar suara seseorang.

“Ohohoho, kamu akan suka ini,” ujar Isna.

Hampir saja Rasyid mematahkan leher orang tua itu ketika Arci sudah berdiri di pintu. Nafasnya terengah-engah. Dia melihat teman-temannya terkapar tak berkutik. Mereka semua telah tewas di tangan dua serigala bersaudara ini. Rasyid tersenyum menampakkan giginya. Arci tak sanggup melihat luka di tangan Ruslan.

“Lepaskan dia!” kata Arci melangkah dengan tenang menuju ke arah Rasyid.

KRAK! Tiba-tiba Rasyid memutar kepala Ruslan. Orang tua Riska itu pun membelalakkan matanya dan menghembuskan nafas terakhirnya. Rasyid tersenyum lebar.

“Dasar psikopat. Kau tak akan aku maafkan!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*