Home » Cerita Seks Kakak Adik » Wolf Of Desert Bab 10

Wolf Of Desert Bab 10

BAB X: STAY WITH ME

Kematian Mentri Totok Adiswara membuat gempar semuanya. Terlebih itu terjadi di kediamannya sendiri. Lagi-lagi hari itu adalah menjadi hari berkabung untuk semuanya. Arci dan Riska tentu saja shock mendengar kabar itu, namun untunglah Hadi tidak kenapa-napa.

Arci dan Riska pulang dari sekolah. Keduanya tumben tak bicara hari itu. Riska diam saja. Kalau Arci memang tak akan bicara kalau memang tak diajak bicara. Menurutnya sederhana dalam perkataan itu lebih baik daripada banyak bicara.

“Menurutmu apa yang akan terjadi kepada papa, Ci?” tanya Riska. Untuk pertama kalinya ia bicara.

“Maksudnya?”

“Iya, aku takut terjadi sesuatu kepada papa.”

“Tak akan terjadi sesuatu kepada papamu. Dia orang yang dilindungi oleh orang-orang terbaik di negeri ini. Timku melindunginya, jadi pasti dia akan baik-baik saja.”

“Semoga aja. Ci, hari ini jangan pulang yuk?!”

“Hah? Kenapa?”

“Plis,” Riska mengiba.

“Aku perlu bilang kepada papamu dulu kalau itu.”

“Terserah deh, tapi jangan bilang kita ada di mana yah!”

Arci kemudian mengirimkan pesan ke Ruslan dengan ponselnya. Tak berapa lama kemudian setelah ia mengirim pesan ada balasan.

“Oke, ayahmu udah tahu. Sekarang kamu mau kemana?” tanya Arci.

“Ke tempat mama,” jawab Riska.

“Maksudnya?”

“Ke tempat mama.”

“Ke makamnya?”

“Bego banget sih, ngapain ke makamnya? Maksudnya ke rumah mama. Tahu kan rumah mama.”

“Oh, iya iya. Oke.”

Arci kemudian mencegat taksi. Setelah itu dia dan Riska masuk ke dalam. Mama Riska sudah meninggal beberapa tahun lalu. Dia sekarang hanya hidup bersama ayahnya. Kehilangan mamanya merupakan pukulan telak bagi dirinya, apalagi papanya sangat sibuk bahkan untuk bersama dengan dirinya sendiri saja sangat susah. Namun papanya tahu bahwa dia butuh teman, maka dari itu kebetulan Arci temannya sejak kecil ini juga adalah seorang anggota Tangan Malaikat, sebuah divisi yang berada di bawahnya.

Mobil taksi berjalan menjauh dari pusat kota, mereka pun sampai di pinggiran kota. Arci tahu kemana tujuan mereka. Sebuah rumah kecil yang berada di pinggiran kota. Tempat mama Riska dulu pernah tinggal di sini. Biasanya mamanya memakai rumah ini untuk menenangkan dirinya. Menghabiskan waktu bersama Riska di sini. Mamanya tak suka rumah besar yang dia tempati sekarang. Menurutnya lebih mirip bunker daripada dikatakan sebagai rumah.

Setelah berputar-putar selama kurang lebih satu setengah jam. Mereka pun sampai. Dan selama perjalanan itu Riska tidur di pangkuan Arci. Pikirannya kalut. Riska memang butuh ketenangan sekarang ini.

“Ris, udah sampai tuh,” kata Arci.

Riska yang sedari tadi menyandarkan kepalanya di paha Arci kini bangun. Setelah membayar taksi, mereka pun keluar. Bangunan rumah kecil itu sederhana. Mungkin karena kesan sederhanalah yang membuatnya tampak nyaman.

“Tak ada yang tinggal di sini?” tanya Arci.

“Ada. Namanya Bi Asih. Setiap hari disuruh papa untuk membersihkan halaman. Lihat aja halamannya terawat,” jawab Riska.

Dari sebelah tampak seorang ibu paruh baya menghampiri mereka berdua.

“Lho, neng Riska? Koq nggak kabar-kabar bibi dulu?” tanya perempuan itu.

“Iya nih Bi. Maaf ya, Riska kepengen nenangin diri dulu,” jawab Riska.

“Ohh…begitu, ya sudah. Kuncinya seperti biasa di bawah pot. Kalau butuh apa-apa tinggal bilang ke bibi, ya? Neng mau nginep sini kan?”

“Iya bi.”

“Trus ini siapa?”

Bi Asih menoleh ke arah Arci.

“Dia Arci bi, pengawalku.”

Arci menyalami Bi Asih.

“Pengawalnya ya? Ya udah deh. Bibi tinggal dulu.”

“Iya bi, makasih banyak. Oh iya, sekalian siapin makanan ya bi. Kita laper nih belom makan dari tadi.”

“Oh, iya neng. Bibi akan segera siapkan kalau begitu. Mau makan apa neng?”

“Terserah deh bi.”

“Ya sudah kalau gitu. Bibi akan cari nasi padang di dekat sini. Mari neng.”

Riska kemudian mengajak Arci untuk masuk ke rumah itu. Ia membuka pagar yang memang tidak di gembok. Tampak bebatuan kecil masih berserakan di halamannya. Setelah melewati beberapa tanaman kecil dan pot bunga mereka pun sudah berada di teras. Riska kemudian mengambil kunci yang berada di bawah pot bunga, lalu membuka pintu.

Pintu pun terbuka. Riska lalu masuk dan langsung duduk di sebuah kursi panjang yang ada di ruang tamu.

“Aku rindu banget rumah ini,” kata Riska.

“Bi Asih tadi berarti selama ini digaji ayahmu?”

“Iya, dia memang mengurus rumah ini koq. Udah bekerja selama lima belas tahun lho orangnya. Anak-anaknya saja sudah berkeluarga semua sekarang.”

“Aku keluar dulu yah, lihat-lihat keadaan.”

“Kenapa?”

“Yah, tahu sendirilah. Protokol.”

“Ya ya ya, dasar bodyguard.”

“Maaf Ris, ini juga demi keselamatanmu.”

“Aku ngerti koq.”

Arci pun keluar dari rumah. Ia hirup dalam-dalam udara sore itu. Sebentar lagi senja turun. Arci berkeliling rumah, memeriksa segala keadaan. Yang terpenting bagi bodyguard adalah ia harus tahu mana saja tempat untuk melarikan diri kalau-kalau terjadi sesuatu. Mencarikan jalan alternatif bagi klien agar selamat kalau-kalau terjadi sesuatu seperti kebakaran, bencana atau bahkan diserang musuh. Semua ini dia sudah pelajari sejak lama. Bahkan kalau misalnya keadaan terburuk dia mati misalnya, maka Arci harus punya cara bagaimana agar kliennya selamat walaupun nyawanya adalah taruhannya.

Ketika berjalan-jalan mengitari rumah Bi Asih datang membawa bungkusan. Arci tersenyum kepada Bi Asih yang menyapanya, kemudian Bi Asih masuk ke dalam rumah.

“Ni neng, makannya,” kata Bi Asih.

“Makasih ya bi,” kata Riska.

“Eh, itu bodyguardnya eneng, cakep yah.”

“Hehehehe, bibi naksir ya?”

“Hihihi, iya neng naksir. Bercanda neng. Temen sekolahnya eneng sendiri ya? Koq seragamnya sama.”

“Iya bi. Dia temen Riska sejak kecil. Trus jadi anak buah papa.”

“Ohh… tapi koq kayaknya tadi mesra banget. Jangan-jangan cinlok nih?”

“Sejujurnya iya bi. Dia pacar Riska juga.”

“Waaahh…bener kan? Ya udah bibi tinggal dulu kalau begitu.”

“Makasih ya bi.”

“Iya neng sama-sama. Mari…”

Bi Asih keluar rumah. Ia mengangguk kepada Arci. Arci juga mengangguk. Setelah itu Arci masuk ke dalam rumah.

“Makan nih Ci, mumpung masih anget nasi padangnya,” kata Riska.

Mereka berdua pun makan sambil ngobrol banyak. Riska kebanyakan ngobrol tentang pengalaman dia waktu kecil di rumah ini. Sepertinya Riska benar-benar menemukan ketenangan di tempat ini. Syukurlah kalau begitu, pikir Arci.

Setelah makan Riska pun pergi mandi. “Kamu nggak ikut?”

“Jangan aneh-aneh ah,” kata Arci.

“Hihihihi, iya iya. Aku nggak bawa kantong darah soalnya. Hehehehe.”

Setelah mandi Riska pun menuju ke sebuah kamar. Ia memakai baju kaos dan celana pendek.

“Mandi sana, bau!” Riska melempar handuk ke arah Arci.

“Ya ya ya,” kata Arci.

Di dalam kamar mandi Arci membuka keran dan air shower pun langsung mengguyur kepalanya. Dia berfikir tentang banyak hal. Tentang pembunuhan-pembunuhan ini. Ia belum pernah berhadapan langsung dengan Serigala Gurun, hanya saja tidak ada yang tahu nanti ke depannya seperti apa. Dari seluruh kejadian yang ia ketahui, kedua serigala gurun ini benar-benar kuat. Mampu menghabisi satu batalyon itu bukan orang biasa. Pertanyaannya adalah bagaimana mereka bisa bergerak dengan bebas, leluasa dan bisa membunuh orang-orang itu? Orang dalam pemerintahan kah? Tapi apa pedulinya?

Tugas dia hanya menjaga Riska, walaupun sebenarnya ia ingin sekali peduli terhadap keadaan-keadaan yang ada sekarang ini. Arci terus merenung entah berapa lama hingga suara Riska terdengar dari luar.

“Arciii?? Kamu ngapain di dalam koq lama?” tanya Riska.

“Eh, Nggak ngapa-ngapain,” jawab Arci.

“Hayooooooo….lagi anu ya?”

“Nggak ngapa-ngapain koq. Bener.”

“Hihihihi, anak cowok sih gitu juga biasa kale. Ya udah, cepetan yah!”

Arci pun bergegas menyelesaikan mandinya. Setelah selesai mandi ia pun keluar kamar, Ia tak memakai baju atasan, menampakkan tubuhnya yang atletis. Riska baru kali ini melihat Arci tanpa baju atasan. Ia menelan ludah. Entah kenapa ia kali ini merasa berdebar-debar. Apalagi melihat bulir-bulir air mengalir dari lekukan otot bisepnya, lehernya, juga dadanya. Riska merasa tak betah untuk duduk di kursi.

“Duh, cowok ini….,” kata Riska dalam hati sambil melihat Arci tanpa berkedip.

“Kamu ngapain bengong? Kaya’ nggak pernah lihat orang baru mandi aja.”

“Eh, hehehehe. Nggak ada apa-apa koq,” Riska langsung membuang mukanya. Tapi dadanya masih berdebar-debar.

“Ada baju ganti nggak?” tanya Arci.

Riska kembali menoleh kepadanya. Lagi-lagi ia menelan ludah ketika Arci memperlihatkan punggungnya yang berotot. Tidak begitu kekar seperti binaragawan, tapi dari punggungnya saja sudah ketahuan bahwa otot-otot punggungnya telah dilatih dengan sempurna. Pantas dulu ia memukul punggung cowok ini malah tangannya yang terasa sakit.

“S..se..sebentar aku ambilin baju dulu di lemari. Sepertinya ada baju ayahku di lemari kamar. Aku ambilkan dulu ya,” Riska buru-buru beranjak dan pergi ke kamar.

“OMG..OMG…OMG..OMG, apa-apaan itu tadi. Baru kali ini aku lihat dadanya Arci. Duh, berdesir dadaku,” kata Riska dalam hati. Ia pun mengambil sebuah pakaian dari lemari. Kemudian menyerahkan pakaian itu kepada Arci. Arci kemudian memakainya.

“Kenapa sih lihat-lihat melulu?” tanya Arci.

“Eh, nggak koq. Ge-er deh kamu,” jawab Riska sambil tertawa kecil.

Riska lalu mendekat ke Arci kemudian memeluknya. Ditempelkan kepalanya ke dada cowok itu. Ia bisa merasakan detak jantung pemuda ini. Dag dig dug dag dig dug. Teratur, tenang. Apakah Arci selalu seperti ini? pikirnya. Bau sabun Arci masih tercium membuat sensasi di dalam dirinya terjamah, darahnya berdesir.

Tiba-tiba Riska terus merayap hingga kepalanya sekarang sejajar dengan Arci. Pemuda ini tahu bahwa Riska sedang dalam kondisi di mana dia butuh kehangatan. Entah kehangatan model apa yang diinginkan oleh Riska. Hingga kemudian ia pun sadar ketika bibir Riska sudah menempel di bibirnya.

“Arci…tinggallah di sini bersamaku ya malam ini,” kata Riska.

“Aku kan tak bisa kemana-mana, harus mengikutimu terus,” kata Arci.

“Bukan itu maksudku,” kata Riska. Riska naik ke pangkuan kekasihnya itu. Perlahan-lahan ia melepaskan kaos yang ia pakai. Arci terkejut. Ia tahu ia tak akan kuat kalau melihat buah dada Riska, tapi Riska kemudian langsung menciumnya. Otomatis darah yang ada di otak Arci tak mungkin keluar lewat hidungnya, melainkan langsung terdorong ke bawah. Ke tempat di mana pusakanya yang dari tadi tidur tiba-tiba mengeras. Riska yang menduduki kemaluan Arci kaget. “Aw…!”

“Mm…maaf Ris,” kata Arci.

“Kamu cinta aku Ci?”

Arci mengangguk.

“Aku ingin kamu dan aku melakukannya malam ini.”

“Tapi Ris…”

Arci langsung dipagut lagi oleh Riska tanpa diberi kesempatan untuk bicara. Arci mencoba tenang tapi tak bisa. Ia pun terhanyut dalam buaian nafsu. Nafsu seorang remaja yang baru saja menikmati masa puber. Riska pun melepaskan kaitan branya. Bra itu pun kemudian dilemparkannya ke lantai, seolah-olah seperti barang yang mengganggu.

Arci gemetar, ia baru kali ini melihat payudara Riska. Wajah Riska tersipu-sipu ketika pemuda ini melihat buah dadanya.

“Kenapa Ci?”

“Ris,…dadamu….”

“Jelek ya?”

“Nggak, justru keduanya indah sekali. Boleh aku pegang?”

“Apapun untukmu Arciku.”

“Aku…cinta kamu Ris.”

“Aku juga Ci.”

Tangan Arci yang gemetar itu pun mulai menyentuh buah dada teman wanitanya ini. Riska menggelinjang. Perasaan cintanya kepada Arci membuat sentuhan itu begitu spesial, begitu terasa, membuatnya melayang.

“Cii…Aaahhh..”

“Kenapa Ris? Sakit?”

Riska menggeleng. “Sentuhanmu enak Ci.”

“Benerkah?”

Riska mengangguk. Arci lalu meremas buah dada itu. Birahi Riska makin terpancing. Tangannya mulai melingkar di leher kekasihnya itu. Jemari tangan Arci kemudian menggelitik puting yang berwarna kecoklatan milik Riska yang kini sudah mengeras.

Dengan instingnya kini Arci mulai menempatkan puting susu itu ke mulutnya. Gemetarlah tubuh Riska seperti terkena aliran listrik 1.000 watt.

“Ciii,” desahnya.

Arci mengisapnya, menjilatinya dan menggelitik puting itu dengan lidahnya. Tidak puas dengan kanan, kemudian dilanjut yang kiri. Dia melakukannya dengan lembut, bahkan tangannya pun aktif dengan gemas meremas-remas buah dada Riska. Kepala Riska mendongak, matanya terpejam. Baru kali ini ia merasakan sensasi birahi seperti ini. Nafsunya pun terbakar.

“Kamu suka dadaku Ci?”

“Iya.”

“Sungguh?”

“Ini adalah dada terindah yang pernah aku lihat.”

“Sebentar Ci.”

Riska beranjak dari pangkuan Arci. Dia kemudian turun dari kursi dan berlutut di depan Arci. Kedua tangannya memegang celana Arci, dilepaskanlah kancing celana itu, lalu resletingnya dan Riska menariknya sekaligus celana dalam Arci. Arci mengangkat pantatnya sedikit. Tersembulah sebuah tongkat besar dengan kepala mirip seperti jamur Shitake. Riska tak peduli berapa ukuran milik Arci yang jelas ketika ia menggenggam benda itu tangannya tidak cukup, bahkan benda itu tingginya sampai hampir menyentuh pusar kekasihnya itu.

“Kamu mau apa Ris?”

“Aku ingin memberimu sesuatu, Ci.”

Riska lalu mencium batang berotot itu. Ia hirup dalam-dalam baunya.

“Ci, aku lakukan ini karena aku sangat mencintaimu. Jangan khianati aku ya? Janjilah kepadaku bahwa kamu hanya milikku dan satu-satunya.”

“Riska, aku janji.”

“Aku bersyukur.”

HAP. Mulut Riska pun sudah melahap kepala “Jamur Shitake” yang kulitnya berwarna pink itu. Arci melayang. Seluruh syarafnya serasa disentuh, ketika lidah Riska mengelamuti kepala pionnnya. Tangannya pun secara reflek memegang kepala Riska.

“Riss…aahhhh….oohh…oouuuwwwhhh.”

Kepala Riska kini naik turun, memberikan efek sensasi yang nikmat ke batang Arci. Rangsangan itu pun terus merambat ke otak Arci. Ubun-ubunnya serasa dibor, darahnya seperti mendidih, tapi otot-ototnya lemas. Hanya satu otot saja yang sangat tegang waktu itu yaitu otot di kemaluannya. Riska masih amatir. Ia hanya belajar melalui video bokep yang pernah ia tonton bagaimana seorang model wanita mengulum kemaluan pasangannya. Dan ia belajar dengan baik.

Arci menggeliat ketika bola-bolanya disentuh oleh tangan Riska yang lembut. Ia tak pernah berfikir bahwa cewek ini bisa melakukan hal seperti ini. Riska tak jijik dengan batangnya, terutama ketika lidah wanita ini sudah menjilati pangkal penisnya dan juga kedua bolanya.

“Riss…udah Ris…, oohhh…..aku nggak kuat Ris!” kata Arci. Riska pun menghentikan aktivitasnya. Cewek ini berdiri melihat hasil karyanya di kemaluan Arci. Batang itu kini keras, tegang sempurna, tegak seperti Tugu Monas. Lebih dari itu air liur dari hasil oralnya pun terlihat di sana, mengkilat seolah-olah nyamuk saja bisa terpeleset kalau berdiri di atas batang itu. Riska benar-benar sudah jauh. Ia sudah terbakar nafsu. Dilepaskannya celana pendek dan celana dalamnya. Arci terkesima dengan pemandangan yang baru saja ia lihat.

Sebuah tempat yang harusnya terlindungi, ditumbuhi sedikit pepohonan tipis, dan bibirnya merekah berwarna pink. Riska tersipu-sipu. Tangannya ia jalin di belakang membuat dadanya membusung dan kemaluannya makin terekspos.

“Memekku jelek ya, Ci?”

“A…aku malah tak pernah melihat ini sebelumnya Ris.”

“Bohong.”

“Beneran. Kamu….yakin Ris? Melakukan ini sekarang?”

“Iya. Aku pasrahkan diriku kepadamu Ci. Malam ini, aku milikmu.”

Riska berjalan mendekat dan mencium Arci, ia lalu merebahkan diri di sofa. Arci pun juga mengikutinya bibir mereka terus berpagutan. Dada mereka saling berhimpit dan kemaluan Arci pun sudah menempel di depan lubang kenikmatan Riska.

“Ci…, janjilah untuk setia kepadaku!” kata Riska.

“Iya, aku berjanji.”

“Sampai maut memisahkan kita?”

“Iya.”

“Oh Arciku, sayangku, cintaku. Masuklah! Aku akan tahan sayang. Puaskanlah dirimu!”

Arci mengambil nafas. Riska memejamkan matanya. Ia rilekskan tubuhnya. Ia tahu kalau ia tegang, maka Arci akan kesulitan menjebol pertahanannya, apalagi dirinya akan terasa sakit nantinya. Ia rileks, lemaskan otot-otot vaginanya. Riska tak menyadari kalau kemaluannya sangat banjir dan Arci tergelitik.

Kepala kemaluan Arci mulai masuk, seolah-olah seperti mengetuk pintu. Perkenalan. Riska menggigit bibirnya ketika kepala pionnya masuk.

“Heeghh….!”

“Kenapa Ris?”

“Tak apa-apa, teruskan Ci, jangan pedulikan rintihanku. Ini rintihan nikmat, Ci.”

Arci pun kemudian menusuknya lagi. Lalu menariknya, dorong, tarik, dorong, tarik. Sementara ini hanya kepala pionnya saja yang masuk, belum sepenuhnya. Arci penasaran, bagaimana kalau ia masuk lebih dalam lagi. Kedua paha Riska terbuka lebar, mempersilakan Arci untuk beraksi. Arci memeluk kekasihnya dan memberikan dua ciuman sebelum mendorong lebih dalam lagi. SRETTTT!

“Ouuuhhh…uuuuhh….uuhhh…hhmmmhhh!” desah Riska sambil meringis.

“Kenapa Ris? Sakit?”

“Nggak Ci, enak Ci,” padahal Riska saat itu merasakan sakit.

Arci menariknya lalu mendorong lagi dengan kuat, kini separuh kemaluannya terbenam. SRRETTT! Kemaluan Riska robek. Selaput daranya robek dan Arci seperti merasakan sesuatu yang ia dorong, menyeruak lebar. Namun liang senggama Riska benar-benar mencengkramnya dengan kuat. Efek pijat-pijat dan sedot-menyedot dari kemaluan Riska membuat Arci melayang. Seumur hidup baru kali ini ia merasakan kenikmatan seperti ini.

“Ris…enak sekali Ris,” kata Arci.

Riska tak menjawab. Karena ia masih sakit. Masih pedih. Arci mulai menarik lagi dan ingin memasukkannya lebih dalam lagi. SLLEEBBB! Kini seluruh kemaluan Arci ditelan oleh liang senggama Riska. Sempurna. Bahkan Arci bisa merasakan sesuatu yang mentok di dalam sana. Rahim Riska.

“Ciii….enak banget ya?”

“Iya Ris.”

“Goyang ci sekarang, pelan-pelan yah?!”

“Iya Ris.”

Arci pun bergoyang pelan-pelan, stabil. Makin lama rasa sakit yang dirasakan oleh Riska berangsur-angsur menghilang. Kini di mulutnya hanya terdengar lenguhan dan lenguhan. Arci makin bersemangat. Ia cupangi leher Riska, tak peduli itu membekas atau tidak nantinya, buah dadanya pun ia hisap dengan gemas. Riska semakin menggelinjang mendapatkan perlakuan seperti itu. Vaginanya benar-benar banjir.

“Cii….enak banget Cii..terus…ciii…ohhhhhh!” rancau Riska.

Arci terus menggenjot kemaluan Riska. Wanita ini memegang pantat Arci dan menariknya kuat-kuat agar memasukkan kemaluannya lebih dalam lagi.

“Cii…geli Ci, aku ingin keluar Ci…” ujar Riska.

“Duh, aku juga geli Ris. Rasanya ada yang mau keluar.”

“Keluarin bareng yuk Ci.”

“Tapi, kamu nggak apa-apa?”

“Nggak apa-apa. Kalau toh aku sampai hamil pun nggak apa-apa. Aku rela koq Ci. Aku justru senang kalau memang itu adalah anakmu. Ayo Ci…ohhhh….ahh…Ciii…Arciku sayang……aaahhh…ahhh…ahh!”

“Ris….keluar Ris…udah di ujung!”

Arci makin cepat menggenjot Riska. Dan sudah bisa ditebak, apa selanjutnya. Semburan lahar putih kental membasahi rahim Riska. Riska membuka matanya dan menatap Arci dengan tatapan sayu. Mulutnya pun sambil membentuk huruf O. Arci menempelkan dahinya ke dahi Riska. Ia agak menunduk karena Riska memang pendek. Sementara itu pantatnya masih menekan kuat ke selakangan Riska. Puas. Itulah yang digambarkan oleh keduanya.

Malam itu Arci dan Riska pun tidur saling berpelukan. Riska meringkuk di dada Arci yang menurutnya nyaman. Ia tak menyesal malam itu menyerahkan keperawanannya untuk Arci. Sama sekali tidak. Apalagi Arcilah satu-satunya yang paling mengerti dia, dan yang melindungi dia selama ini. Hadiah ini rasanya tak sepadan dengan seluruh pengorbanan yang telah Arci lakukan untuknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*