Home » Cerita Seks Kakak Adik » Wolf Of Desert Bab 9

Wolf Of Desert Bab 9

BAB IX: ANCAMAN!

Pagi menjelang. Bau anyir darah tercium menusuk di Apartemen HG. Rasyid dan Isna telah berpesta darah. Inspektur James, Komandan Nanang dan beberapa orang lainnya seakan tak percaya terhadap apa yang mereka lihat. Perbuatan ini lebih dari sekedar perbuatan teroris. Kedua kakak beradik itu pantas mendapatkan predikat sebagai pembunuh bayaran nomor satu. Satu bataliyon bisa dihabisi dalam waktu singkat. Kantung-kantung mayat berserakan, ini adalah penyerbuan terburuk yang pernah ada.

Lalu ke mana Rasyid dan Isna? Yang jelas mereka kini tak tersentuh lagi.

“Mereka benar-benar biadab, mereka ini bukan orang biasa!” kata Komandan Nanang.

“Mereka ternyata lebih mengerikan daripada yang kita duga,” kata Inspektur James.

Inspektur James melihat gantole yang dipungut oleh salah satu petugas. Tampak kain itu sudah robek di sana sini karena tersangkut di kabel listrik dan ditarik oleh beberapa petugas.

“Kita memang terlalu meremehkan mereka sepertinya. Mereka tak akan takut dengan serbuan. Mungkin kita bisa menjebak mereka,” kata Inspektur James.

“Menjebak mereka?”

“Kita selidiki siapa pejabat kementerian yang ingin mereka bunuh. Sehingga kita pasti akan bisa menangkapnya.”

****

Menteri Pertahanan Negara Ruslan Yudhistira sedang mengadakan rapat dengan beberapa pejabat dan juga para jendral di kantor kementrian. Mereka semua tampak sedang serius membicarakan hal berhubungan dengan pembunuhan para menteri dan juga penyerbuan yang gagal kemarin.

“Ini ancaman,” tegas Menteri Ruslan. “Ini benar-benar ancaman, saya ingin seluruh orang waspada. Pembunuh ini mengincar nyawa Menteri Pertanian dan Industri, Ir. Totok Adiswara. Saya menginstruksikan kepada seluruh petugas yang berwajib, baik dari dinas kepolisian dan militer untuk bisa melindungi beliau. Kepada divisi khusus satuan unit pengawal Tangan Malaikat, pilihlah orang-orang terbaik kalian untuk bisa melindungi beliau.”

“Tapi, bukankah kata Anda nyawa Anda juga terancam pak?” tanya seorang Jendral.

“Tenanglah, saya sudah mengantisipasi hal ini. Jangan khawatirkan saya. Saya bersama orang-orang terbaik yang melindungi saya. Selidikilah siapa yang merasa diuntungkan dan dirugikan dalam proyek SHS. Kalau ditanya tersangkanya maka akan sangat banyak sekali daftar tersangka. Aku ingin setiap jajaran menyelidiki hal ini, siapa para pejabat tinggi yang tidak suka terhadap project SHS, atau siapa yang merasa diuntungkan dengan kematian tiga menteri ini. Kalau kita cuma bisa menangkap dan membunuh sang pembunuh tapi tidak mengetahui siapa dalang pembunuhan ini, maka itu semua percuma. Pembunuhan ini akan terus berlanjut.”

“Tapi itu sama saja mencari jarum di tumpukan jerami,” kata Kepala Kepolisian Negara.

“Memang, tapi mau bagaimana lagi. Kita harus kerja cerdas, kerja cermat, ini adalah ancaman yang bisa menggoyahkan negara. Apalagi sebentar lagi akan ada KTT G-20, mau ditaruh di mana muka kita kalau pejabat sendiri saja sampai terbunuh dan beritanya disiarkan di media masa?”

“Sejujurnya kami dari BIN juga sedang dilanda kasus yang tidak biasa,” kata kepala BIN.

“Ada apa?”

“Genesis telah berhasil mengambil S-Formula dari gedung M-Tech,” jawab kepala BIN.

Seketika itu ruangan menjadi riuh.

“Kenapa baru ada laporan sekarang?” tanya Menteri Ruslan.

“Kami tidak ingin semua orang panik. Dengan terbunuhnya beberapa agen seperti CIA, SVR dan MI6 ini benar-benar membuat ancaman ini semakin luas. Saya yakin ini adalah perbuatan mereka.”

“Dan selamat, anda membuat kita semua panik sekarang. Lalu apa yang sudah dilakukan?”

“Sementara ini agen terbaik kita Devita sedang bekerja sama dengan agen NIS Jung Ji Moon untuk melacak dan merebut kembali keberadaan S-Formula. Hanya saja kemarin baru saja terjadi insiden ini,” jelas kepala BIN.

“Ini bahaya sekali. Kalau ini memang ulah Genesis, berarti gawat. Mereka benar-benar sudah bertindak terlalu jauh, ini sama saja mengajak perang. Apa insidennya?”

“Memori Devita berpadu dengan memori Jung Ji Moon. Itulah sebenarnya kegunaan dari S-Formula, sebuah algoritma untuk mengcopy dan memindahkan memori seseorang ke otak orang lain.”

“Apa itu bisa?”

“Bisa, dan sudah terjadi.”

“Di mana agenmu sekarang?”

“Sekarang ini dia tidak memberitahukan posisinya, yang jelas statusnya masih aman. Dua tersangka yang sudah kami dapatkan identitasnya. Pertama, Lucifer. Kami tak tahu banyak tentang dirinya. Kedua, Suni. Dia mantan anggota NIS. Sekarang mengaku sebagai pemimpin Genesis.”

“Jadi, mereka tersangkanya?”

“Tidak tahu pasti apakah mereka tersangka dari pembunuhan para menteri atau bukan. Karena sekedar menghubungkan saja pastinya bisa. Tapi kalau dirunut dari kematian para menteri dan hubungan dengan pencurian S-Formula itu tidak berhubungan. Pertama, Genesis telah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Kedua, ketiga menteri itu tak ada hubungannya dengan S-Formula. Maka dari itulah kami tidak memasukkan Genesis sebagai tersangka di dalam kasus pembunuhan ini.”

“Tapi apakah itu bukan tindakan ceroboh? Bagaimana kalau memang mereka pelakunya untuk memecah konsentrasi kita?”

“Memang bisa saja terjadi. Tapi saya punya pendapat lain.”

“Katakan!”

“Pelaku dari pembunuhan para menteri adalah dari kita sendiri. Dan pelakunya pasti dari pejabat-pejabat tinggi. Karena penyerbuan yang terjadi kemarin saja bisa gagal, itu berarti Sang pembunuh sudah diberitahu oleh salah satu dari kita. Karena hanya pejabat-pejabat tinggi saja yang mengetahui tentang hakekat penyerbuan ini. Dan yang jelas bukan para prajurit yang telah gugur mendahului kita kemarin.”

Tiba-tiba pintu diketuk, semua orang mengalihkan perhatiannya. Seorang prajurit masuk sambil memberi hormat. Setelah itu ia berkata, “Pak, maaf. Tapi pak Presiden datang.”

Semuanya terkejut. Mereka semua segera berdiri ketika sesosok seseorang dengan jas hitam dan dasi serta songkok masuk ke dalam ruangan. Dia adalah Presiden Negara Republik Indonesia.

“Tidak perlu berdiri, duduk saja! Saya tidak lama ada di sini,” kata Presiden.

Semua orang yang ada di ruangan itu langsung duduk. Presiden berjalan mondar-mandir kemudian mulai berbicara, “Saya panik, saya bingung dan saya resah, itu yang bisa saya sampaikan sekarang ini. Apa-apaan ini? Kenapa bisa sampai terjadi hal seperti ini? Baru saja saya ditelpon oleh Presiden Amerika, Presiden Rusia, Raja Inggris apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa agen-agen mereka bisa tewas di negeri kita? Lalu, kenapa tiga menteri kita bisa tewas tanpa ada kejelasan siapa pelakunya?”

“Saya bisa jelaskan,” kata Ruslan.

Presiden menoleh ke arah Ruslan.

“Kita memang tidak tahu siapa pelaku sebenarnya, tapi kejadian pembunuhan para agen itu berbeda pelakunya dengan apa yang terjadi dengan para menteri kita. Bahkan bukan tidak mungkin saya juga akan jadi korban berikutnya,” kata Ruslan.

Semuanya kemudian terdengar bergumam. Suasana ruangan jadi riuh.

“Sebentar, bagaimana kamu bisa yakin?” tanya Presiden.

“Anda juga pasti sudah faham Pak Presiden kenapa saya juga akan jadi korban berikutnya. Ini semua berhubungan dengan proyek SHS. Saya, ketiga menteri yang sudah meninggal, Ir. Totok dan Anda juga mengerti hubungan kami berlima dalam proyek SHS,” jelas Ruslan. “Prioritas kita sekarang adalah mengamankan Anda.”

“Kamu jangan bodoh Ruslan! Kita harus menangkap pelakunya!”

“Menangkap pelakunya? Mereka baru saja menghabisi satu bataliyon! Ini tidak mudah Pak Presiden! Saya justru mengkhawatirkan keselamatan Anda karena Anda juga terlibat dalam proyek SHS ini. Dan saya merasa Anda pun akan jadi target utama mereka.”

Semua orang terkejut. Beberapa orang pun berdiri. Termasuk Kapolri.

“Kita akan ambil semua cara untuk bisa melindungi Anda Pak Presiden,” kata Kapolri.

“Apa yang kalian katakan? Aku tak perlu kalian lindungi! Kalian harus mencari tahu siapa dalang dibalik ini semua. Jangan sampai saya sudah tidak berharap lagi kepada kalian!”

“Pak Presiden, keselamatan bapak adalah keselamatan negara ini,” kata Ruslan.

“Tinggalkan saya sendiri dengan Ruslan!” kata Presiden.

Semuanya berpandangan. Namun setelah presiden berkata seperti itu, akhirnya seluruh orang yang ada di ruangan itu terkecuali Ruslan pergi meninggalkan ruangan itu. Ada banyak pertanyaan di benak mereka. Namun hal itu hanya akan menjadi rahasia mereka nantinya.

Presiden berjalan hilir mudik. Ia sepertinya memikirkan sesuatu. Keheningan pecah ketika dia mengatakan sesuatu. “Kamu punya pendapat?”

“Sejujurnya tidak pak.”

“Harusnya SHS akan tetap menjadi rahasia. Dengan terbunuhnya ketiganya, kita tak bisa menutup lagi tentang proyek ini.”

“Tidak begitu pak presiden. Bapak jangan khawatir. Saya yakin proyek itu akan jalan terus sekalipun kita semua sudah tidak ada lagi. Saya yakin itu.”

“Aku tidak, Ruslan.”

“Program Gnome Soldier tetap akan terlaksana, sekalipun tanpa kita. Anda tak perlu khawatir. Ke depannya nanti tak akan ada yang bisa menghalangi kita, menghalangi jalan Anda. Orang yang berencana menghabisi saya pun tak akan tahu tentang hal ini. Semuanya tersimpan rapi di Aufklarung. Bahkan sebuah prototype sekarang sedang dikerjakan.”

“Pertama kali kita membuat Hypersuit, itu saja sudah menyusahkan. Andai saja tidak ada kambing hitam, maka proyek itu sekarang sudah selesai. Kali ini aku tak mau kegagalan. Apabila ini berhasil, aku tak akan menyesal dengan banyak berkorban seperti ini.”

“Tentu saja, Pak Presiden. Tentu saja.”

****

Menteri Totok Adiswara gemetar. Dia berkali-kali menelpon Ruslan tapi tak ada balasan. Seharian ini dia hanya berada di kamar, meringkuk sambil berkali-kali mendengarkan berita di tv tentang terbunuhnya tiga menteri. Ia berlindung di balik selimutnya.

Malam kian larut dan para penjaga makin memperketat penjagaannya. Anjing-anjing pun dikerahkan untuk patroli di sekeliling rumah Totok Adiswara. Di sekitar pagar tembok pun terlihat ada sebuah pengamanan laser, nyamuk pun pasti tak akan bisa masuk ke dalam kediamannya.

Totok merasa haus kali ini. Agaknya bersembunyi di bawah selimut, dengan keringat dingin yang terus mengucur membuatnya dehidrasi. Dia pun mulai berteriak, “Pelayaaaaan!?”

Sekali lagi, “Pelayaaaaaann!”

Tak ada suara. Tak ada yang menanggapi panggilannya. Di mana semua orang? Ia melihat jam yang ada di meja di sebelah tempat tidurnya. Masih jam dua pagi. Pasti para pelayannya masih terbuai mimpi malam ini. Dia kemudian memberanikan diri keluar dari selimutnya, lalu merangkak. Ya, merangkak seperti bayi yang baru belajar merangkak. Totok meraba dalam gelap, hingga ia kemudian menemukan pegangan pintu. Dia dengan perlahan membuka pintu kamarnya sendiri, kemudian mengintip, melongok keluar.

Setelah yakin tidak ada apa-apa ia pun segera berlari menuju ke dapur, tempat di mana ada sebotol air dingin yang bisa melepaskan dahaganya. Ruangan dapur menyala terang. Ia sangat gembira dan dengan kaki telanjangnya Totok pun segera membuka kulkas. Dia kemudian membuka tutup botol lalu meminumnya.

ZLASSH! BYURR!

Aneh. Botol air yang diminumnya jadi dua dan airnya tumpah membasahi bajunya. Tapi kenapa airnya berubah jadi merah? Ia memandang bagian dalam botol, nggak ada noda merah darah koq. Lalu ia melihat kalau noda merah darah itu keluar dari lehernya. Ia memegang lehernya dan baru sadar kalau lehernya sudah ditebas. Sesosok wanita dengan baju hitam seksi dan ketat berjalan meninggalkan Totok menggelepar di lantai dapur. Dia adalah Isna.

Isna membersihkan Karambitnya yang terkena noda darah. Ia lalu menyimpannya lagi. Dengan tenang ia keluar dari rumah Totok. Melewati mayat-mayat para penjaga yang bergelimpangan. Dia memberikan kiss bye kepada sebuah pohon yang ada jauh di luar sana. Di pohon itu ada seseorang yang sedang membidik rumah Totok. Dia adalah Rasyid, yang menghabisi semua orang yang berjaga-jaga di rumah Totok dengan sniper rifle. Tapi kali ini bentuknya lebih kecil dari Istiglal. Sebuah sniper rifle yang memakai silencer.

Isna melewati tubuh seorang penjaga yang masih hidup. Penjaga itu bergerak-gerak. Ia memegang leher orang itu lalu memutarnya hingga kebelakang. KLUK! Matilah orang itu dengan leher menghadap ke belakang. Isna mendapatkan pesan di ponselnya.

“Congratulations! Four Assigment cleared. Money Transfered.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*