Home » Cerita Seks Kakak Adik » Wolf Of Desert Bab 8

Wolf Of Desert Bab 8

BAB VIII: Please This Night!

Isna memandangi pemandangan di luar apartemennya dari atas. Ia berdiri dipinggiran lorong sambil menatap jauh ke depan. Ia masih tak percaya bahwa sekarang dirinya sudah berada di negara ini, selamat bersama dengan saudaranya. Menjadi seorang pembunuh bayaran, juga bukan impiannya sebenarnya. Impiannya yang paling tinggi sekarang ini bisa menjadi pengantin untuk kakaknya.

“Nak Isna? Ngapain di situ?” tampak Pak Romy pemilik apartemen menyapanya. Tentu saja dengan pandangan mesum seperti biasanya.

“Sedang menikmati pemandangan pak,” jawab Isna.

“Awas lho ya, nanti jatuh. Hehehehe,” kata Pak Romy.

Bau parfum Isna pun tercium dari jauh, membuat gairah lelaki tua ini naik. Ia pun mendekat ke Isna. Tangannya yang nakal pun sekarang memegang pantat Isna. Isna agak terkejut, namun ia tersenyum sambil menoleh ke arah pak Romy.

*****

Arci berada di ruang tamu keluarga Ruslan. Tampak Riska turun dari kamarnya.

“Eh Arci, mau nemuin papa?” tanya Riska.

“Iya,” jawab Arci.

“Tuh dia datang,” kata Riska ketika melihat papanya baru datang dengan mobil dinasnya. Beberapa ajudan dan pengawal pribadinya tampak mengirinya. Begitu masuk rumah Riska langsung mencium tangan papanya.

“Oh, nak Arci?” kata Ruslan. Menteri Pertahanan ini melihat sesuatu di mata Arci. Sepertinya pemuda ini ingin menyampaikan sesuatu. “Langsung ke ruang kerja saja.”

Arci mengangguk. Beberapa pengawalnya pun menunggu. Arci dan Pak Ruslan segera masuk ke ruang kerja yang terletak di sebelah ruang tamu. Riska beringsut pergi, tak mau mengganggu keduanya. Setelah pintu tertutup Pak Ruslan langsung mengambil gelas dan mengisinya dengan air yang ada di dispenser.

“Aku sudah tahu apa yang terjadi. Serigala gurun bukan?” tanya Pak Ruslan.

Arci mengangguk.

Orang tua ini kemudian meminum air, ia basahi kerongkongannya sampai dahaganya terpuaskan. Setelah itu ia menaruh gelas ke tempatnya semula. Kemudian dia duduk di kursi kerjanya. Badannya yang berat ditambah emosinya yang labil karena pekerjaan mulai membuat ia makin stress ketika tahu nyawanya juga terancam. Dia pun menghela nafas.

“Katakan kepadaku, apa yang kamu ketahui!” kata Pak Ruslan.

“Mereka teman sekelas saya, sang adik. Sang kakak juga sekolah di sekolah kami. Saya yakin mereka berhubungan dengan kematian para menteri. Saya sudah memberitahukan hal ini kepada Dwi, mungkin bapak dapat informasi dari dia.”

“Benar, aku dapat informasi dari dia. Terlebih divisi Tangan Malaikat aku yang membawahi.”

“Sebenarnya Anda tahu bukan siapa target berikutnya?”

“Aku tahu, Menteri Pertanian dan Industri. Ir. Totok Adiswara. Kemudian aku.”

“Apa yang sebenarnya terjadi? Saya perlu tahu.”

“Kami lima menteri mendapatkan sebuah proyek untuk menciptakan sesuatu yang mengerikan. Kami menyebutnya Super Human Soldier. Sebuah proyek yang diprakarsai untuk membentuk tentara yang tangguh. Project ini sebenarnya rahasia namun orang-orang dibaliknya mencoba mengkhianati, seperti mencuri blueprint dan memanfaatkan dana besarnya untuk korupsi sehingga proyek ini pun dibatalkan. Namun sebenarnya tidak. Proyek ini tetap berjalan, hanya saja dirahasiakan. Clasified.”

“Siapa orang yang paling dirugikan atas proyek ini?”

“Itulah yang harus kita cari. Teori konspirasi ataupun anti konspirasi, semuanya bisa menjadikan setiap orang yang ada di negara ini menjadi tersangkanya. Bahkan kamu juga bisa jadi tersangka. Yang jelas orang yang menyewa Serigala Gurun sampai bisa datang ke negara kita bukan orang biasa. Berani membunuh seorang pejabat sekelas menteri di siang bolong, itu sama saja dengan menantang pihak yang berwajib.”

“Pak Ruslan, lalu apa yang harus kita lakukan? Kalau misalnya kita serang dulu mereka kita bisa menghalangi mereka melakukan aksinya bukan?”

“Aku sudah memikirkan itu, sekarang pasukan amphibi, Densus 88, dan Tim Gegana sedang mengepung apartemen tempat mereka tinggal. Di sana akan terjadi pertumpahan darah. Semoga saja pihak yang berwajib bisa menyelesaikan tugas mereka.”

Arci menghela nafas lega.

“Bagaimana dengan Riska? Baik-baik saja? Kepalamu itu baik-baik saja?” Pak Ruslan melihat luka di kepala Arci.

“Ah, ini cuma luka kecil. Beberapa waktu lalu saya sedikit melakukan kesalahan.”

“Ada masalah dengan Riska?”

“Tidak, tidak ada masalah. Maaf kalau misalnya saya lancang, tapi saya mohon maaf.”

“Mohon maaf kenapa?”

“Kemarin saya hampir melakukan kesalahan dengan membuat Riska hampir celaka.”

“Masih hampir bukan? Saya percaya kepada kamu Arci. Kalian sudah berteman sejak kecil, maka dari itulah sebagai temannya sekaligus sebagai anggota Tangan Malaikat, aku percayakan sepenuhnya anakku kepadamu. Bahkan kalau aku sudah tiada, tolong jagalah Riska. Aku yakin kamu bakal jadi suami yang baik bagi anakku.”

“Eh? I…itu terlalu jauh pak. Saya tak berpikir sejauh itu.”

“Aku tahu semuanya. Aku mengawasi kalian juga, bagaimana Riska tertarik kepadamu, bagaimana juga kalian berada di jembatan itu. Aku tahu semuanya. Kamu tak perlu khawatir. Aku serahkan nyawa anakku kepadamu.”

“Maafkan saya,” Arci menunduk. Ia sangat malu ketika Pak Ruslan tahu kalau ia telah mencium Riska.

“Hahahahaha, itulah yang saya suka dari kamu. Ada yang ingin kamu sampaikan lagi?”

Arci menggeleng. “Tidak pak.”

“Kamu jangan khawatir. Pulang dan tidurlah dengan nyenyak. Besok jagalah Riska. Aku yakin malam ini kehidupan Serigala bersaudara itu akan berakhir.”

****

Rasyid duduk di tepi ranjang. Ia mengutak-atik ponselnya. Rupanya ia memasang beberapa CCTV di sekitar apartemen tempat ia tinggal. Dari ponselnya ia bisa melihat semuanya. Isna keluar dari kamar mandi dengan hanya terlilit baju. Melihat kakaknya sedang asyik memainkan ponselnya, dia pun menghampiri sang kakak, naik ke ranjang dan merayap hingga duduk di atas paha kakaknya.

“Kaak?” panggil Isna manja.

Rasyid langsung meletakkan ponselnya. Seolah mengerti apa keinginan Isna, dia pun langsung memagut bibir Isna yang merekah. Bau shampo dan sabun dari tubuh Isna begitu menggairahkan. Perlahan-lahan Isna pun melepaskan lilitan handuknya, terpampanglah dua bukit kembar mulus dengan puting kecoklatan.

Isna satu per satu melepaskan kancing baju Rasyid.

“Isna, misi kita belum selesai,” kata Rasyid.

“Persetan dengan misi, aku ingin malam ini,” kata Isna.

“Is…hhmmmhh….” mereka berciuman lagi. Kali ini Isna benar-benar sudah bergairah.

Kemeja Rasyid pun sudah dilepas. Kini dadanya telanjang berhimpitan dengan dada Isna. Mereka berdua lambat laun tenggelam dalam lautan nafsu. Isna menjilati lidah Rasyid, demikian juga sebaliknya. Rasyid pun mulai ikut permainan Isna, dia memeluk tubuh adiknya yang bugil itu. Isna kini membuka celana kakaknya hingga menyembullah tongkat sakti yang bisa memanjang dan mengeras milik Rasyid.

“Kamu yakin Is?” tanya Rasyid.

“Justru aku sangat inginkan hal ini sejak dulu kak,” kata Isna.

Bibir kemaluan Isna sudah sangat basah. Dia menggenggam batang Rasyid yang panjangnya 20cm itu dan menggesek-gesekkannya ke bibir kemaluannya. Rasyid menggelinjang. Ia tak pernah merasakan rasa seperti ini sebelumnya. Kemudian secara mengejutkan Isna memasukkannya sendiri ke dalam liang senggamanya.

“Jangan Isna!” cegah Rasyid. Terlambat.

“Aaahhkk!” pekik Isna.

“Isna….kamu???” Rasyid merasakan kemaluannya seperti menerobos sesuatu yang sangat sempit dan tertutup. Kemaluannya seperti diremas-remas. Isna memeluk kakaknya dengan erat.

Kemaluan Rasyid benar-benar seperti disedot dan dihisap dengan kuat. Isna tersenyum, “Akhirnya….kakak merobekku.”

“Tidak, kamu yang inginkan kakak merobekmu.”

“Sama aja kan?”

“Isna, hangat sekali kakak di dalam sana.”

“Iya, Isna juga kak. Hangat, keras.”

“Kamu tak kesakitan?”

“Sedikit, tapi inilah yang aku inginkan.”

“Maukah kamu jadi istriku, Isna?”

“Iya kak.”

“Menjadi ibu dari anak-anakku?”

“Iya kak.”

“Baiklah Isna, aku akan melakukannya denganmu malam ini.”

“Oh kakak.”

Rasyid mengangkat tubuh Isna sejenak, lalu berguling sehingga ia bisa dalam posisi misionary. Isna menatap lekat-lekat mata kakaknya. Mata saudaranya ini sekarang penuh nafsu. Penis kakaknya mulai bergerak keluar masuk. Sensasi pedih, geli dan nikmat bercampur menjadi satu hingga Isna menggigit bibirnya sendiri. Rasyid kemudian menciumi buah dada Isna, menjilatinya, dan menghisap putingnya keras-keras.

“Ahhh…kakakku, suamiku, terusss…ssshh…”

“Isna…tubuhmu menggairahkan,” bisik Rasyid.

Isna membuka lebar-lebar pahanya agar kakaknya bisa masuk dengan leluasa. Rasyid pun makin tak kuasa menahan rasa birahi yang sudah menggelora ke dalam dadanya. Pantatnya mulai ia tekan ke depan, kemaluannya pun akhirnya tenggelam sempurna sampai ke rahim Isna.

“Ahhh…kaak…punya kakak menyentuh rahimku..ohh….!”

Rasyid menariknya lagi kemudian ia goyang-goyang naik turun. Kini agak lancar, sebuah pergesekan tabu antara dua kemaluan kakak beradik menimbulkan sensasi yang aneh. Kasih sayang di antara keduanya makin lama makin dalam, perasaan cinta yang menggebu-gebu antara keduanya kini menghanyutkan kedua insan yang dimabuk cinta ini. Makin lama goyangan pinggul Rasyid makin cepat, menghentak-hentak, bahkan kedua buah pelernya pun menghantam pantat Isna yang padat dan bahenol.

“Ohh…kaaaakk….nikmat..ahhh…kalau tahu begini aku ingin kakak memerawaniku sejak dulu.”

“Aku juga nikmat sayangku….ahh…ahh…ahh…”

“Kaak, penis kakak….. keras…. banget. Isna bisa….. merasakannya ohh…ahhh….ahhh…”

“Ahh…Isna…dadamu menggemaskan…sluurrrpp…cuupp…”

Rasyid benar-benar gemas dengan dada Isna yang bergerak naik turun itu. Ia pun mencupangi dan menghisap puting susunya lagi.

“Ahkk….kakakku menyusu kepadaku. Aku jadi ibunya kakak,…ahhh…”

“Sluurrpp….ahhh…Isna…aku bernafsu sekali kepadamu. Kamu cantik sekali.”

“Kakak tampan sekali….ayo kak gagahi Isna terus…ahhh…yang cepat kaaak….Isna…Isna mau sampai…!”

“Ahh…iya, aku juga….aku mau jadi ayah bagi anak-anak kita.”

“Iya kak, aku juga ingin jadi….ibu…ahhhh…dari…anak…kitaaahhh…ah ahh…ahhhh…ahhh”

“Isna…ini…inih…ahhh…aahhhhhhhh..! ISNAAAAA!”

“Aahhh….!”

Keduanya kemudian berpelukan erat ketika gelombang kenikmatan orgasme itu datang. Mereka berciuman hangat. Rasyid menembakkan banyak sekali mani ke dalam rahim adiknya itu. Milyaran sel sperma menembak dengan kuat ke rahim Isna. Isna sempat terkejut ketika tembakan lahar panas itu membasahi rahimnya, mengantarkan dia kepada orgasme yang berikutnya, sensasinya luar biasa hingga membuat seluruh otot-ototnya kejang. Otaknya pun seperti disiram oleh air es, kehangatan lahar putih itu telah membuat dirinya makin erat memeluk Rasyid.

Rasyid masih membenamkan kemaluannya di dalam liang senggama Isna. Mereka berpandangan. Saling berciuman. Rasyid dengan lembut membelai rambut adiknya. Mata adiknya yang keabu-abuan itu ditatapnya. Dia makin cinta kepada sang adik, sekarang bukan saja sebagai saudara, tetapi juga sebagai seorang kekasih, dan juga suami.

“Aku bahagia malam ini kak,” bisik Isna.

“Iya Is, kakak juga.”

“Sayangku, hmmhhm….,” mereka berciuman lagi.

****

Sementara Rasyid dan Isna sedang dalam lautan birahi, tiga buah mobil panser mulai mendekat ke apartemen mereka. Diam-diam anggota kepolisian dan juga TNI memerintahkan para penduduk untuk pergi meninggalkan tempat mereka. Kawasan itu harus disterilkan agar tak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Dua helikopter melayang-layang di udara. Mereka mengawasi apartemen tempat Rasyid dan Isna tinggal. Salah seorang dari pasukan itu meneropong lantai tempat keduanya berada dengan teropong Thermal. Terpampanglah dua objek tampak sedang berada di dalam kamar.

“Target terlihat. Mereka ada di dalam kamar!” kata orang yang melihat mereka dengan Thermal Google.

Tim terdiri dari tiga kelompok. Kelompok pertama menyerbu dari bawah. Kelompok kedua menyerbu dari atas. Sepuluh orang sudah siap berada di atas apartemen lengkap dengan persenjataan dan tali untuk turun. Tim berikutnya adalah tim sniper yang membidik kamar tempat kedua kakak beradik pembunuh bayaran ini tinggal.

Kalau dilihat-lihat tidak ada cara bagi Rasyid dan Isna untuk melarikan diri. Mereka sudah terkepung dari segala penjuru. Di bawah tampak Inspektur James, Sersan Roni dan beberapa orang berseragam sedang menanti apa yang akan terjadi.

“Sudah saatnya,” kata Inspektur James.

Dengan berbekal informasi dari Dwi salah satu anggota Tangan Malaikat, para aparat keamanan dibantu dengan TNI benar-benar serius untuk menggerebek tempat tinggal Rasyid dan Isna.

“10-23! 10-23! Tetap pada posisi!” suara Komandan Nanang Suhendar di radio. Dia adalah komandan pasukan Amphibi. “Semua unit ingat, target adalah tersangka 338. Tangkap hidup atau mati. 10-1!”

“86!” terdengar suara salah satu anggota di radio.

****

Isna melenguh ketika Rasyid menyodok pantatnya. Dia menungging sambil memeluk bantal. Rasyid menyodok kemaluan adiknya dengan penuh tenaga. Hentakan-hentakan selakangan mereka beradu dan pantat Isna yang memukul-mukul perut Rasyid menimbulkan suara yang menggairahkan. Sementara itu lendir Isna pun makin banyak yang keluar. Agaknya ia sudah ka terasa sakit lagi. Hanya terasa nikmat saja.

“Kaaak…yang kenceng kak, sodok yang keras!” pinta Isna.

“Iya sayang….ahh…ahhh…ohhh…uhh….enak sekali memekmu!” Rasyid terus merancau sambil meremas-remas toket Isna yang menggantung bebas.

Kedua kakak adik ini kembali melakukan hubungan incest setelah tenaganya pulih lagi. Kali ini mereka berusaha untuk mendapatkan orgasme ke sekian kalinya. Pantat Isna diputar-putar menimbulkan sensasi yang menggelitik sekaligus gemes kepada diri Rasyid. Ia sendiri bingung kenapa rasanya makin enak. Biasanya ketika ia dioral oleh adiknya kepuasannya akan berhenti setelah spermanya keluar dan ditelan oleh adiknya, tapi ini tidak. Rasa kepuasan itu makin bertambah dan bertambah.

“Isna sayang, kakak nggak kuat lagi. Kakak semprotin lagi ya?” kata Rasyid.

“Iya kakakku, ayoo…..hhhmmm…aahhhh…!”

Rasyid pun makin cepat memompa keluar masuk kemaluannya. Dia pun akhirnya menghuja kuat-kuat ke dalam rahim Isna. Dia keluar lagi. Rasyid pun lemas dan ambruk menindih adiknya.

“Ahhh….ahh…sperma kakak, ahh…hangat….Isna suka,” kata Isna.

Rasyid pun memeluk dan meremas dada Isna. Rasyid mengambil ponselnya dan melihat di depan pintu sudah ada beberapa orang yang hendak menerobos masuk. Ia mengernyitkan dahi.

“Waktunya bekerja,” ujar Rasyid sambil menunjukkan ponselnya.

“Tapi aku masih lemes kak. Kakak hebat,” kata Isna.

“Nanti setelah kita menghabisi mereka kita ulangi lagi. Oke?”

“Iya kak, aku ketagihan,” kata Isna sambil tersipu-sipu.

Rasyid kemudian beranjak dari ranjangnya. Penisnya masih tegang mengkilat karena lendir mereka berdua. Rasyid berjongkok dan menarik sesuatu dari kolong tempat tidurnya. Dia mengambil sebuah kotak sepanjang dua meter. Kemudian dia buka kotak itu. Tampaklah sebuah senjata sniper laras panjang. Sebuah senjata Anti Material Rifle, Istiglal.

“Sudah waktunya menggunakannya?” tanya Isna.

“Iya. Aku rindu ama dia,” kata Rasyid sambil mengambil senjata berat itu. Dia kemudian berdiri dan memasangnya ke jendela.

Isna pun beranjak dari ranjangnya. Sperma kakaknya meleleh dari kemaluannya. Ia menghirup nafas dalam-dalam. Rasyid menghampiri Isna dan mereka berciuman lagi. Setelah itu mereka berpisah. Isna mengambil satu stel baju. Baju lengan panjang dan celana full press body. Bahkan putingnya pun sampai mencuat. Dia memasang ikat pinggang yang di sekitarnya ada banyak sekali pisau lempar. Di bagian belakang ada dua karambit terpasang di sana. Isna kemudian memakai cadar. Dua buah golok ia taruh dipunggung. Sebuah pistol ia taruh di pahanya. Dia sudah siap untuk bertarung.

“Aku berangkat dulu ya kak?!” kata Isna.

“Hati-hati cintaku,” kata Rasyid yang masih belum berpakaian. Dia membidik keluar.

Isna dengan langkah tenang keluar dari kamar apartemen.

****

“Pada hitungan ketiga!” kata Komandan Nanang. “Satu, dua, tiga!”

Beberapa prajurit yang ada di atas atap apartemen segera turun dengan tali, mereka menuju ke kamar jendela apartemen tempat di mana Rasyid dan Isna berada. Dari pintu pun tim kedua mendobrak pintu. BRAK! Mereka langsung masuk dan mendapati dua orang sedang duduk di dalam kamar. PRANG! Suara kaca pecah dan pasukan yang tadi turun dari atap apartemen masuk lewat jendela.

Salah seorang petugas menyorot ke arah dua orang yang sedang duduk. Ternyata mereka berdua adalah Pak Romy yang mulutnya tersumpal dengan tangan dan kakinya terikat. Sedangkan satunya adalah ….Ratri teman sekelas Isna?? Lalu di manakah Rasyid dan Isna sebenarnya berada?

“Komandan, kita sepertinya dijebak,” kata prajurit itu.

“Apa maksudnya?” tanya Komandan Nanang.

“Pak, di radar kami melihat titik putih mendekat….itu…?? Gantole?” terdengar suara pilot di radio.

Semuanya terkejut. APa yang sebenarnya terjadi? Di mana Rasyid dan Isna?

“Gantole?” Komandan Nanang mendongak ke atas langit. Ya, mereka melihat sebuah gantole mendekat ke tempat apartemen itu.

BLAM! Rasyid menembakkan Anti Material Riflenya. Dan tepat mengenai kepala pilot helikopter yang sedang melayang di udara.

BLAM! Satu lagi ia bidik ke helikopter satunya, berhasil mengenai mesin helikopter.

“May day! May day! Heli tertembak…..aaahhhhh! Kita jatuh!”

BLEDAAARRR! Tanpa disangka-sangka dua helikopter pun jatuh. Komandan Nanang makin bingung, apa yang sebenarnya terjadi. Dan gantole itu dinaiki oleh Isna. Dia menekan sebuah tombol remote di tangan kanannya. Sang polisi yang berada di dalam kamarnya itu melihat tv di dalam kamar menyala.

“Awas, ruangan ini telah dipenuhi oleh bom, dan akan meledak dalam waktu dua detik!” tampak wajah Isna di sana dengan bergaya centil.

“Jebakan!” seru para prajurit. Mereka menyelamatkan diri keluar dari kamar. Namun terlambat. DUAARRRR! Bom pun meledak menghancurkan satu lantai apartemen itu. Para prajurit yang menyerbu tadi pun sebagian jatuh dari lantai lima belas. Kaca-kaca berhamburan akibat ledakan dahsyat itu.

Isna kemudian melepaskan gantolenya dan dia menembakkan pistol jangkar ke tembok apartemen. Gadis ini pun bergelantungan seperti monyet dan mendarat dengan menendang sebuah kaca jendela. Tentu saja penghuni apartemen tempat dia mendarat terkejut dan terbangun dari tidurnya. Isna kemudian mengambil pistolnya dan menembak dua orang suami istri yang terbangun karena kaget. Dengan langkah santai ia pun keluar dari kamar itu.

Isna memasang headset di telinganya. Ia menyetel lagu di ponselnya, lagu Symphony no 9. Dari lorong apartemen dia melihat beberapa aparat yang berwajib dengan persenjataan lengkap sedang kebingungan, terlebih melihat Isna keluar dari kamar apartemen.

“Dia ada di sini!” seru salah seorang prajurit sebelum sebuah peluru ditembakkan Isna hingga menembus kepala polisi itu.

Terjadilah perang. Pertempuran antara Serigala Gurun dengan aparat yang berwajib yang terdiri dari pasukan khusus. Setelah seluruh pistolnya bersih dari peluru ia membuangnya. Isna mengambil golok yang ada di punggungnya. Dan ia menuju ke tangga. Di sana para aparat kaget karena Isna muncul. Isna bergerak lincah, ia seperti menari membabat satu demi satu anggota pasukan khusus itu. Goloknya menari-nari, suara daging terkoyak, tulang retak, dan jeritan pihak yang berwajib itu tak ia dengarkan. Ia hanya mendengarkan lagu-lagu yang dia dengar dari earphonenya.

Isna bersemangat malam ini. Karena ia baru saja mendapatkan nutrisi dari kakaknya. Yang mana nutrisi yang disebut sebagai sperma itu sekarang sudah bersemayam di rahimnya. Demikian juga Rasyid. Ia menembaki para petugas dengan Istiglalnya. Semuanya kalang kabut, rencana mereka untuk menggerebek Rasyid dan Isna gagal total.

****

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*