Home » Cerita Seks Kakak Adik » Wolf Of Desert Bab 7

Wolf Of Desert Bab 7

BAB VII: KUNJUNGAN BERDARAH

“Ton, itu beneran papamu akan datang ke sini?” tanya Rasyid.

“Iya, besok Menteri Pendidikan akan datang ke sekolah ini untuk memeriksa program sekolah percontohan untuk sekolah internasional,” jawab Anton.

“Wah, boleh minta tanda tangannya dong?” kata Rasyid sambil nyengir.

“Wahahahaha, bisa bisa. Perlu aku bantu sekarang?”

“Nggak besok aja, aku ingin minta langsung.”

“Ngomong-ngomong, kenalin aku ke adikmu dong. Cakep banget adikmu itu, namanya Isna, kan?”

“Apa? Kamu naksir? Langkahi dulu mayatku,” kata Rasyid.

“Hahahaha, tenang ajalah. Namanya juga usaha,” kata Anton sambil ketawa.

Tapi sebenarnya Rasyid memang tidak suka. Dan dia sangat lihai dalam menyembunyikan perasaannya. Senyuman dan matanya bisa menipu banyak orang. Tangan Rasyid mengepal. Ingin rasanya saat itu ia mencekik Anton, tapi ia tahan. Rasyid selalu mengingat-ingat misinya. Ia tak ingin misinya rusak duluan gara-gara perbuatan yang tidak perlu. Setelah misinya selesai ia bisa memuaskan dirinya dengan mandi darah. Darah siapapun orang yang ingin dibunuhnya.

****

“Arcii,” panggil Riska. “Nih buatmu.”

Riska menyerahkan sebuah kotak makan.

“Makan yah, mumpung istirahat. Aku bikin sendiri lho, moga kamu suka,” kata Riska. Senyumnya tersungging dan manis.

Arci tersenyum dan menerimanya. “Makan bareng yuk!”

Mereka pun kemudian pergi ke kantin. Arci mendapatkan tempat duduk kosong. Kemudian mereka berdua duduk dan membuka kotak bekal itu di atas meja. Arci melihat sebuah makanan yang tertata rapi. Nasi, lauk, sayuran, membentuk sebuah wajah berbentuk hati dengan bibir tersenyum.

“Ini…kamu yang buat?” tanya Arci.

“Iya, buatmu. Pasti kamu setiap hari capek kan melindungi aku. Aku buatkan ini khusus untukmu, mulai hari ini dan seterusnya,” jawab Riska.

“Nggak perlu repot-repot Ris.”

“Eit, udah nikmati saja. Aku suapin yah?”

Riska mengambil sendok yang ada di kotak bekalnya. Kemudian ia mengambil sesendok nasi dan lauk, setelah itu disuapkan ke mulut Arci. Arci membuka mulutnya, kemudian mulai mengunyah makanan itu.

“Enak?” tanya Riska.

“Hmm…enak sekali, nggak percaya kalau kamu yang bikin,” kata Arci.

“Hihihihi, makasih,” Riska tersenyum.

Arci merebut sendok yang dipegang Riska, kemudian dia mengambil nasi dan lauk kemudian gantian menyuapi Riska. Riska yang baru pertama kali diperlakukan seperti itu sangat senang tentunya.

“Eh, Arci denger-denger besok Menteri Pendidikan datang lho ke sini,” kata Riska.

“Oh ya?”

“Iya, pasti kelas sebelah heboh nanti.”

“Oh iya, pasti. Si Anton…,” Arci menghentikan bicaranya.

“Iya, ayahnya Anton,” kata Riska.

Arci merasakan sesuatu. Dia pun berpikir menteri yang jadi target adalah semua menteri yang anak-anaknya sekolah di sini. Jangan-jangan…..? pikir Arci.

“Kenapa Ci?”

“Papamu sekarang di mana?”

“Oh, mestinya ada di kantor Kementrian, kenapa?”

“Aku ingin menemuinya kalau boleh.”

“Pulang nanti yuk?”

“Tapi, aku nggak mau kamu ikut, Ris.”

“Lho, kenapa?”

“Ini soalnya gawat urusannya.”

“Soal apa sih?”

“Soal keselamatan beliau.”

“Hah? Kenapa ama papa?”

“Panjang jelasinnya, tapi sebaiknya kamu nggak perlu tahu. Perasaanku nggak enak, itu aja.”

“Ah, dirimu selalu begitu. Itu cuma perasaanmu aja, Ci. Papa dijaga oleh bodyguard terbaik di negeri ini. Kan kamu juga anggotanya.”

“Tapi ini lain, Ris.”

“Ya udah deh, tapi kayaknya papa nggak pulang hari ini. Ada proyek apa gitu. Nanti aku kasih tahu deh, ya?”

“Baiklah.”

“Sekarang, lanjut lagi ma’emnya. Aaaaa….” Riska lagi-lagi menyuapi Arci.

Setelah sekolah selesai hari itu, Arci mengantar Riska sampai ke rumahnya seperti biasa. Ada yang berbeda kali ini keduanya bergandengan tangan. Sesampainya di depan pagar rumah, langkah mereka berhenti.

“Nggak masuk dulu, Ci?” tanya Riska.

“Nggak dulu deh. Aku ada ujian dari ayah sore ini,” jawab Arci.

“Makasih ya.”

“Sama-sama.”

Riska melepaskan pegangan tangannya, lalu melambai ke arah Arci. Setelah itu ia membuka pagar, kemudian masuk ke dalam rumah. Setelah Arci melihat Riska masuk, ia segera berbalik. Direnggangkannya otot-otot tubuhnya. Tangann, kakinya. Ia pun melompat-lompat sejenak, setelah itu tiba-tiba dia melakukan dash. Arci lari sekuat tenaga. Sore ini ia ada ujian terakhir dari sang ayah.

Setelah melewati rute seperti biasa. Ia sampailah di rumah. Sang ayah sudah menunggu di sebuah bale-bale yang ada di depan rumah. Melihat putranya sudah pulang sang ayah dengan ngos-ngosan sang ayah memberi isyarat agar Arci segera ganti baju. Arci masuk ke dalam rumah. Ia melepaskan bajunya dan ganti dengan baju latihan.

Begitu keluar sang ayah sudah ada di halaman rumahnya. Berdiri di sebuah balok kayu besar yang dililiti oleh tali. Balok kayu ini biasanya digunakan untuk latihan memukul.

“Sudah pemanasannya?” tanya sang ayah.

“Siap yah,” jawab Arci.

“Sekarang, peragakan jurus terakhir yang ayah berikan. Ini adalah ujian terakhirmu.”

“Hah? Ujian terakhir. Maksud ayah?”

“Sudah, lakukan saja! Nanti ayah jelaskan.”

“Jurus terakhir, Harimau Mengamuk.”

Arci memberi hormat dan melakukan kuda-kuda. Tangannya seperti membentuk cakar harimau. Badannya condong ke kanan, kaki kirinya lurus ke samping dengan kaki kanan ditekuk. Tiba-tiba gerakan Arci berbeda, ia berkelebat menghantam balok kayu yang ada di depannya. Beberapa pukulan didaratkan ke balok kayu, kemudian tendangan, lalu gerakan pukulan satu dua, siku, pukulan satu dua, siku, kemudian pukulan cepat.

“Pakai tenaga, keluarkan seluruh tenagamu. Hantamkan!”

Kedua tangan Arci kemudian mencabik-cabik balok kayu hingga meninggalkan bekas seperti cakaran seekor harimau. Setelah itu ia menyerang balok kayu dengan tendangan, pukulan, lalu lutut. Dan terakhir ia kembali memukul bertubi-tubi balok kayu itu. Cepat, sangat cepat, entah berapa kali pukulan yang mendarat di sana. Kemudian Arci melebarkan tangan kirinya, ia mundur satu langkah. Tangan kanannya dikepalkan lalu ia hantamkan ke balok kayu yang ada di depannya. BRAK!

Suara itu membuat Arci sedikit kaget. Ia telah menyelesaikan jurusnya. Nafasnya sedikit ngos-ngosan. Sang ayah melihat balok kayu bagian belakang yang bentuknya sedikit aneh. Lelaki ini kemudian melepaskan lilitan tali yang ada di balok dan balok kayu berdiameter 30 cm itu pun patah setelah lilitan talinya dilepas. Patahannya pun jatuh ke tanah. Arci sendiri kaget melihat apa yang baru saja ia lakukan.

“Kamu tahu, sudah tidak ada lagi yang ingin ayah ajarkan kepadamu. Ini adalah jurus terakhir dan tingkat terakhir,” kata sang ayah.

“Tapi kata ayah aku masih tingkat sembilan, belum sampai tingkat sepuluh,” kata Arci.

Sang ayah menggeleng. “Tingkat sembilan adalah ini. Tingkat sepuluh, engkau sudah dapatkan sebenarnya. Hanya saja kamu tidak menyadarinya. Apa yang selama ini ayah latih ke kamu setiap saat?”

Arci melihat ke langit, ia sendiri bingung.

“Dasar, masa’ nggak ingat?”

“Bentar. Kalau nggak salah ayah selalu mengajarkanku untuk fokus.”

“Iya, lainnya?”

“Menajamkan insting, menajamkan panca indera.”

“Selain itu?”

“Menjaga hati.”

“Beladiri sejatinya adalah menolong orang untuk bisa bangkit. Bukan untuk menjatuhkan mereka. Apa yang kamu dapat hari ini adalah bekal untukmu di masa depan. Kamu bisa jadi orang jahat, kamu bisa jadi orang baik. Tergantung bagaimana kamu menyikapinya, tergantung kamu mengambil keputusan. Lihatlah di luar sana, banyak orang-orang yang lemah yang butuh pertolongan, tolonglah mereka untuk bisa bangkit. Jangan pilih-pilih orang untuk menolong, tolonglah sebisamu. Itulah gunanya ilmu silat ini. Lindungilah orang-orang yang kamu cintai, lindungilah mereka yang engkau kasihi, teman, sahabat, keluarga. Ayah sejak kecil sudah mengajarimu untuk sampai ke tingkat sepuluh sebenarnya. Kamu tahu sekarang bukan? Apa itu tingkat ke sepuluh.”

“Pengendalian diri dan Peduli terhadap sesama.”

“Benar. Ayah sudah mengajarkanmu itu dari dulu. Jadi sekarang ayah tak perlu mengajarkan ini lagi kepadamu. Kamu sudah mendapatkan pelajaran tingkat ke sepuluh ini sejak lama. Biasanya orang-orang yang belajar silat akan merasa sombong di tingkat sembilan ini, karena jurusnya benar-benar mengerikan seperti yang kamu lihat. Dan di tingkat ke sepuluh mereka benar-benar tersiksa bahkan ada yang sampai putus asa karena belum tahu maksud dan tujuan tingkat ke sepuluh itu apa. Ayah saja perlu waktu sepuluh tahun untuk bisa sampai ke tingkat ini. Baru kemudian ayah sadari kerendah hatian adalah kunci dari segala ilmu beladiri. Karena di atas langit masih ada langit. Di dalam dunia ini tidak ada yang terkuat, kamu, ayah, siapapun pasti bisa dikalahkan. Yang harus diperhatikan adalah apakah kamu sudah siap untuk bisa kalah dari orang lain. Apakah kita mampu untuk bisa melindungi orang lain dengan sekuat tenaga kita?”

“Terima kasih ayah,” Arci menghormat kepada ayahnya.

“Ayah ingin memberikanmu sesuatu. Tunggu di sini!” kata ayahnya. Sang ayah berbalik dan menuju ke dalam rumah. Arci menunggu di luar. Ia melihat kepalan tangannya. Ia tak merasa sakit lagi dengan memukul balok kayu seperti tadi, sejak kecil hampir tiap hari ia memukulnya sekarang tangannya benar-benar keras. Mungkin sudah jutaan pukulan yang ia daratkan di sana. Sikunya pun begitu. Orang yang pertama kali memukul pasti akan berdarah, tinjunya akan hancur dengan kekuatan seperti tadi, tapi tidak bagi Arci.

Tak berapa lama kemudian sang ayah keluar membawa sebuah kotak. Arci keheranan. Apa yang dibawa ayahnya itu? Karena penasaran dia pun mencoba menerka-nerka. Duit? Pusaka? Kitab Atau apa?

Sang ayah lalu membuka kotak yang dibawanya. Kotak itu kecil, panjang 30cm lebar sekitar 10cm. Arci tertegun ketika mengetahui isinya.

“Ambillah, kamu sudah berhak menerima ini,” kata sang ayah.

“Tapi ayah, ini…terlalu berharga apa aku bisa?” tanya Arci.

“Kenapa tidak? Bahkan kamu sudah menjadi pewaris dari padepokan ini sekarang. Kamu boleh mewariskan semua jurus Taring Harimau Putih kepada orang lain. Terimalah!”

Arci menerima isi kotak itu dengan gemetar. Kotak itu berisi dua buah karambit. Panjangnya 15cm, bentuknya seperti kuku harimau. Lubang diujung pegangannya hanya cukup diisi oleh jari telunjuk. Karambit ini berasal dari Minang yang biasa disebut Kuku Harimau. Arci memegang dua karambit itu dengan kedua tangannya. Ia mencium pusaka leluhur itu. Sebuah kehormatan yang tidak pernah bisa dibeli dengan apapun. Arci benar-benar gemetar. Seperti baru saja menerima beban yang sangat berat.

****

“Aku tidak tahu,” kata Jefri. Ia sekarang telah sadar sepenuhnya. Inspektur James ada di depannya dengan sorot mata menyelidik.

“Aku tak percaya, kamu pasti tahu sesuatu. Apa perlu kami berikan tes kebohongan kepadamu? Ingat persaksian palsu bisa menjebloskan orang ke dalam penjara,” ancam Inspektur James.

“Benar, aku tidak bohong,” kata Jefri.

“Bagaimana kalau misalnya kami ada rekaman kamu masuk ke dalam rumah ayahmu?”

“Itu tidak mungkin.”

“Kenapa tidak mungkin?”

“Karena rekamannya sudah …..,” Jefri keceplosan.

“Sudah?? Sudah apa?”

“Maksudku sudah pasti tidak ada.”

“Bagaimana bisa dipastikan, kamu tahu sesuatu kan, Jefri?”

“Tidak, tidak tahu.”

“Kamu tak perlu berbohong. Dengarlah, dengar ini penawaran yang menarik bagiku. Kamu bukan tersangka jadi kamu tidak akan dijebloskan ke dalam penjara. Tapi kalau kamu memberikan kesaksian palsu, aku tidak bisa menjamin dirimu selamat. Sekarang katakan apa yang terjadi sebenarnya?”

Jefri terdiam. Ia berpikir keras. Ia teringat ancaman Rasyid.

“Kalau kamu sampai bocorkan identitas tentang diriku, aku akan menghabisi ibumu juga.”

Jefri lalu tersentak, “Tidak, tidak tahu.”

“Jefri, aku tak bisa menolongmu lagi kalau begitu. Cukup sudah. Aku akan membawamu ke penjara dan kamu akan hidup lama di sana.”

“Mm…maksudku aku tak tahu siapa dia.”

Inspektur James mulai tertarik. “Jadi kamu lihat orang yang membunuh ayahmu?”

Jefri mengangguk.

“Trus? Apa yang kamu lakukan di sana?”

“Aku…hari itu ingin mengabarkan keadaan ibu ke ayahku. Ibu sudah lama di rumah sakit. Anda bisa bertanya kepada pihak rumah sakit.”

“Iya, kami tahu itu. Lanjutkan!”

“Ketika aku di sana menemui ayah, dia memaksaku untuk masuk melewati sekuriti. Setelah kami berada di ruangan itu, dia mengancamku agar tak berbuat macam-macam, lalu terjadilah hal itu.”

“Kamu bisa masuk ke ruangan yang dijaga oleh banyak pengawal dengan dirinya? Bagaimana mungkin? Apa yang kamu lakukan sampai petugas keamanan mengijinkanmu?”

“Aku hanya bilang dia temanku. Aku tak bisa apa-apa. Dia mengancam akan membunuh ibuku kalau aku tak menurut!”

Jefri tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aktingnya kali ini luar biasa. Dan inspektur James pun percaya.

“Baiklah, jelas sudah sekarang. Oh ya, bagaimana ciri-ciri orang itu?”

“Dia masih muda, umur kemungkinan dua puluhan. Aku tak begitu jelas wajahnya karena saat itu aku juga sedikit nge-fly.”

“Ah, brengsek. Baiklah. Terima kasih. Semoga kesaksianmu kali ini bisa meringankanmu.”

“Aku belum bebas?”

“Hei ingat, kamu dituduh mengkonsumsi obat terlarang. Berbeda dengan tuduhan membunuh orang tuamu sendiri!”

Jefri kemudian menghela nafas. Inspektur James menepuk pundak Jefri dan keluar dari ruang interogasi. Di luar ia sudah disambut oleh Sersan Roni yang sejak dari tadi mengawasi.

“Bagaimana menurutmu?” tanya Inspektur James.

“Pelakunya sendirian?”

“Benar. Jadi dua orang berbeda membunuh dua orang menteri. Aku jadi punya perasaan tak enak.”

“Pembunuh profesional?”

“Assasins.”

***

Iring-iringan voojrider masuk ke halaman sekolah. Seluruh murid menyambut kedatangan Menteri Pendidikan Gatot Suherman. Sang menteri kemudian langsung berjalan ke ruang guru. Murid-murid kembali ke ruangannya. Isna dan Rasyid berpandangan penuh arti. Rasyid sudah mempersiapkan sesuatu yang tidak pernah diduga sebelumnya. Ia akan membuat kunjungan menteri ini menjadi kunjungan berdarah.

Pelajaran berjalan normal seperti biasa. Murid-murid mengikuti semua pelajaran dengan baik. Di kelas Isna yang sekarang duduk sendirian karena Ratri tidak masuk juga mengikuti pelajaran dengan antusias, seolah-olah tak terjadi apa-apa. Berbeda dengan Arci, ia menduga-duga apa yang akan terjadi. Riska tahu Arci sedang memikirkan sesuatu, perasaannya tidak tenang. Dipegangnya tangan Arci.

“Sudahlah, nggak akan terjadi apa-apa, Ci,” bisik Riska.

Tapi Arci makin tetap tidak tenang.

Sang menteri mulai berkeliling ke kelas-kelas. Dan memang disengaja sang menteri berkunjung di kelas anaknya. Saat itu Rasyid tersenyum, rencananya bakal lebih mulus daripada apa yang disangka sebelumnya. Anton jaim di depan teman-temannya ketika sang ayah muncul.

“Apa kabar anak-anak?” tanya sang menteri.

“Baik paak,” jawab serentak satu kelas.

Sang menteri kemudian basa-basi dengan mencoba menjadi guru, mengajar. Rasyid menampak raut wajah gembira. Dan kali ini ia sangat tulus karena rencananya bakal berhasil. Setelah berbasa-basi mengajar, Rasyid mengacungkan jarinya.

“Ya ada apa nak?” tanya sang menteri.

“Saya boleh minta tanda tangan bapak? Saya ngefans ama bapak soalnya,” jawab Rasyid.

“Oh boleh-boleh,” kata sang menteri.

Rasyid kemudian memutar ujung pulpennya lalu menyerahkan pulpen dan bukunya kepada sang menteri. Namun sang menteri mengambil pulpennya sendiri. Dicoret-coretnya buku Rasyid. Dia sangat senang mendapat tanda tangan itu. Senang dalam arti sesungguhnya. Sang Mentri kemudian menepuk-nepuk pundak Rasyid.

“Yang rajin belajar ya nak?” kata sang mentri. Sang menteri sedikit menggaruk punggungnya lalu ia pun keluar dari kelas.

“Kamu seneng ya?” kata Anton.

“Iya dong,” kata Rasyid.

Rasyid tinggal menunggu. Pelajaran di kelas berlangsung seperti biasa lagi.

Sang menteri tiba-tiba merasa nggak enak. Perutnya serasa mual. Dia langsung bilang kepada ajudannya. “Ada toilet nggak nih?”

“Ayo pak ke sini!” ajak sang ajudan menuju ke kamar mandi yang terletak tidak jauh dari kelas yang mana tadi dia kunjungi.

Belum sempat sang mentri masuk ke toilet tiba-tiba dia langsung muntah. Hampir seluruh makanan yang ia makan tadi keluar. Sang ajudan menolong dia dengan menepuk-nepuk punggungnya. Sang menteri mencegahnya. Kemudian tiba-tiba Gatot Suherman berlutut kemudian dengan mulut penuh hasil muntahannya ambruk ke tanah.

“Pak, Pak!? Panggil ambulance! Cepat!” perintah sang ajudan.

****

Inspektur James sudah berada di tempat kejadian perkara ketika mendapatkan laporan bahwa menteri pendidikan mendapatkan musibah di sekolah tempat di mana putra dari sang menteri juga sekolah di sana. Dalam sekejap seluruh sekolah gempar. Terutama Anton yang menangisi jasad ayahnya yang dibawa masuk ke dalam mobil ambulance. Dia terpaksa mendampingi ayahnya yang sudah terbujur kaku.

Arci yang melihat itu semua dari jauh mencari-cari keberadaan Rasyid dan Isna. Keduanya tampak bergandengan tangan. Wajah keduanya tanpa ekspresi melihat mobil ambulance keluar dari sekolah. Setelah itu mereka berdua menatap ke arah Arci yang sedari tadi mengamati mereka. Rasanya perasaan tidak enak Arci tadi adalah ini. Bagaimana cara mereka membunuh sang menteri? Padahal sang menteri tidak didekati oleh mereka sama sekali. Pikiran Arci pun melayang entah kemana menebak-nebak segala kemungkinan.

Inspektur James pun kemudian menanyai beberapa saksi mata, termasuk Rasyid. Arci dihampiri oleh seseorang. Dia sangat kenal orang ini. Namanya adalah Dwi Handoyo. Seorang bodyguard Tangan Malaikat, sama seperti Arci, tapi tugasnya berbeda dengan Arci. Sang bodyguard tugasnya menjaga sang menteri. Arci tiba-tiba digeret oleh Dwi. Mereka pun diajak pergi ke tempat di mana tidak ada seorang pun melihat keduanya. Di tempat parkir yang sepi.

“Arci, katakan kamu tahu sesuatu tentang sekolah ini. Tak mungkin pak menteri tiba-tiba tewas begitu saja!”

“Iya, aku tahu sesuatu.”

“Lalu kenapa kamu diam saja?”

“Masalahnya aku tak punya bukti untuk bisa membuktikan bahwa mereka pelakunya! Tapi aku tahu siapa mereka.”

“Siapa?”

“Wolf of Desert, pembunuh bayaran nomor satu.”

“Apa? Kenapa kamu tidak memberitahuku?”

“Kamu tahu sendiri harus bagaimana untuk menjaga keselamatan klien bukan? Seharusnya kamu membaca seluruh keadaan tidak main masuk ke sini seenaknya. Setidaknya kamu sudah dilatih untuk itu. Kamu sendiri tidak menghubungiku padahal tahu aku ada di sini. Aku punya tugas yang cukup melelahkan, menjaga anaknya Pak Ruslan.”

“Arci, ini tidak main-main,” Dwi mencengkram kerah rekan kerjanya itu.

“Aku juga tahu apa yang aku lakukan tidak main-main. Apa kamu kira aku tidak ketakutan hingga menggigil ketika tahu aku sekelas dengan pembunuh bayaran nomor satu di dunia?”

“Brengsek!” Dwi menyerah. Ia tahu tugas Arci juga berat.

“Awalnya aku sudah curiga kenapa ada dua orang Kurdi berada di sekolah ini. Padahal bangsa mereka baru saja dibersihkan oleh orang-orang Zaidiyah,” kata Arci. “Dan ketika mengetahui bahwa mereka berdua dekat dengan Riska aku benar-benar makin waspada. Tapi sekarang mereka menjaga jarak denganku. Tenang saja, mereka tak tahu siapa aku.”

“Berarti semua pembunuhan ini ulah mereka?”

“Aku tak tahu, tak punya bukti. Tapi dari kata-kata Rasyid ini ulah mereka. Aku tak tahu siapa target mereka selanjutnya, tapi kalau dilihat-lihat mereka akan mengincar pejabat-pejabat yang anak-anak mereka sekolah di sini.”

“Itu banyak Ar, ada sepuluh anak menteri yang sekolah di sini. Anak-anak duta besar, anak konsulat, kita tak mungkin bilang ada pembunuh bayaran yang mengincar mereka.”

“Maka dari itu, pasti mereka punya sasaran tertentu. Tak mungkin sembarangan bergerak dan membunuhi para pejabat.”

“Selidikilah, aku tak punya waktu untuk menyelidiki hal-hal semacam itu. Kamu yang lebih banyak berada bersama para pejabat bukan? Aku serahkan ini kepadamu, Dwi.”

“Argh, sialan. Aku pergi. Aku akan cari informasi hubungan ketiga korban. Sementara itu kau tetap di sini dan laporkan kepada kami apa yang mereka lakukan!”

“Aku siap.”

Dwi kemudian pergi meninggalkan Arci.

Bagaimana pak menteri bisa tewas? Apa sebenarnya yang terjadi? Padahal Rasyid tidak menyentuhnya, Isna juga tidak menyentuhnya. Semuanya adalah rahasia dari sebuah pulpen. Pulpen Rasyid bukan pulpen biasa. Ketika diputar ujungnya sampai bunyi klik. Maka pulpen itu berubah menjadi senjata. Senjata itu adalah sebuah panah kecil yang mana jarumnya berukuran sangat kecil berdiameter 0,1 mm. Jarum itu sendiri sangat runcing sehingga bisa menembus baju bahkan orang yang terkena tusukan jarum itu seperti digigit serangga. Ketika sang mentri akan pergi dari kelas Rasyid menembakkan jarum itu ke punggung sang menteri. Setelah itu sang menteri merasa gatal di punggungnya.

Racun merupakan racun arsenik dengan kekuatan tinggi. Sekali terkena ia akan mual, muntah dan kinerja jantungnya tiba-tiba cepat. Kalau tidak segera ditolong dia akan tewas dalam waktu yang tidak lama. Rasyid sangat puas rencananya berhasil.

Kunjungan ini menjadi kunjungan berdarah bagi Menteri Pendidikan. Dan ia tak pernah bermimpi akan mendapatkan kejutan seperti ini. Kejutan kematian. Sekali lagi sekolah ini pun berduka karena orang tua muridnya telah tiada. Belum selesai orang tua Jefri, kemudian orang tua Ratri, terakhir dan baru saja terjadi orang tua Anton. Kini sasaran tinggal dua menteri saja. Orang tua Riska dan orang tua Hadi. Riska anak Menteri Pertahanan Panglima TNI Jendral Ruslan Yudhistira. Hadi anak Menteri Pertanian dan Industri, Ir. Totok Adiswara. Pembunuhan ini belum berakhir.

Inspektur James kebingungan sekarang. Bagaimana bisa ketiga menteri tewas dalam waktu dekat? Setelah mewawancarai para saksi dia benar-benar harus dipusingkan untuk bisa memberi pernyataan di depan pers. Situasinya sangat buruk. Apa hubungan ketiga menteri itu? Kenapa mereka harus tewas?

Setelah Rasyid diwawancarai oleh Inspektur James tadi sebuah pesan masuk ke ponselnya.

“Three Assignment Cleared. Money Transfered.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*