Home » Cerita Seks Kakak Adik » Wolf Of Desert Bab 6

Wolf Of Desert Bab 6

BAB VI: I AM YOUR PROTECTOR

Inspektur James geleng-geleng menyaksikan kondisi mayat Erwan Wibisono. Dia pusing, saat-saat ia akan pensiun malah harus menangani kasus pembunuhan dua orang menteri. Tubuh Erwan benar-benar seperti dicabik-cabik oleh Harimau.

“Siapa psikopat ini?” gumam sang inspektur.

“Inspektur, seluruh rekaman CCTV telah dihapus. Saksi mata mengatakan Pak Erwan Wibisono masuk ke dalam dengan seorang gadis,” kata salah satu anggotanya.

“Gadis?”

“Iya, diperkirakan masih pelajar SMA.”

“Lalu kemana gadis itu?”

“Tidak ada yang tahu pak.”

“Ini jelas-jelas perbuatan psikopat. Menjerat lehernya, kemudian memotong pembuluh darahnya, lalu mencabik-cabik dada dan perutnya. Manusia waras tak akan melakukan ini.”

“Lalu bagaimana pak?”

“Apa kamu punya ide apa yang harus aku katakan kepada Pers? Mereka pasti akan mencekik leherku. Baru kemarin aku mengatakan bahwa rumah mentri Kemal Silalahi diserbu oleh teroris, sekarang apa aku harus mengatakan bahwa ini juga teroris? Kamu tahu ciri-ciri teroris, mereka membunuh sekali bunuh. Ditembak atau dipenggal. Tapi ini?”

Inspektur James segera meninggalkan TKP. Ia sudah cukup mencium bau anyir darah.

“Pak, ada jejak darah di kamar mandi setelah kami tes dengan luminol,” kata salah seorang tim forensik.

“Jejak darah di kamar mandi?”

Inspektur James mengernyitkan dahi. Pelakunya gadis yang dimaksud tadi kah? Bisa jadi. Setelah membunuh Erwan, ia akan membilas tubuhnya yang penuh darah di kamar mandi. Kalau benar perempuan itu adalah pembunuhnya, maka tersangkanya kali ini benar-benar seorang psikopat. Ponselnya berbunyi. Inspektur James segera mengangkat. Dari Sersan Roni.

“Pak, maaf. Kami telah menyelidiki keberadaan Jefri, anaknya Mentri Kemal Silalahi. Dia tertangkap sedang nge-fly bersama teman-temannya,” kata Sersan Roni.

“Bagus, kita akan tanyai kesaksian dia atas pembunuhan ayahnya. Aku akan segera ke markas,” kata Inspektur James.

****

Arci melihat berita pagi itu di tv. Ada dua berita besar pertama pembunuhan menteri Erwan Wibisono dan yang kedua pembobolan gedung M-Tech Industries milik Hendrajaya Group. Arci lebih tertarik berita pertama. Setelah sarapan hebat dan berganti pakaian, ia segera berangkat menuju rumah Riska. Pagi-pagi sekali dia berangkat seperti biasa. Berlari adalah kebiasannya di pagi hari. Dia berlari mengitari blok, melewati beberapa jalanan berkelok, menurun dan menanjak, setelah itu ia pun sampai di depan rumah Riska. Rumah yang cukup mewah, dari dalam tampak seorang anak remaja keluar dari pintu.

Dia adalah Riska. Hari ini dia lebih ceria dari hari-hari sebelumnya. Kenapa? Karena mengira ia telah ditembak oleh Arci kemarin.

“Arciiii!” lagi-lagi Riska ngamplok ke tubuh Arci.

“Aduh!” Arci agak terhuyung.

“Dari dulu kek kamu nembak aku!” Riska memeluk lengan Arci dengan gemas.

“Hah? Maksudnya?”

“Kamu kemarin bilang kalau aku pacarmu.”

“Masa’?”

“Idiiiihhhh…sebeeel, kamu kan bilang kemarin. Aku juga mau koq jadi pacarmu,” kata Riska sambil tersipu-sipu.

“Aku nggak ingat. Emang beneran aku bilang gitu ke kamu?” kata Arci.

BUAK! Sebuah tinju melayang menghantam pipi Arci hingga ia sempoyongan.

“Arci jeleeeeekk! Arci begoooo!” Riska kemudian berlari meninggalkannya.

Ratri hari ini tidak masuk sekolah. Bangkunya kosong. Kelas pun berduka pagi itu karena kepergian. Setelah kemarin kematian ayahnya Jefri, kini ayahnya Ratri. Berita hari itu mengabarkan tentang dua menteri yang tewas terbunuh serta teori-teori konspirasi tentangnya. Tapi Arci tahu pasti siapa yang berada di balik pembunuhan dua menteri itu. Hanya saja itu bukan tugas dia. Dan dia tak mungkin bicara tanpa bukti.

Arci masuk kelas, pukulan dari Riska tadi masih sedikit terasa. Riska sudah duduk saja di sebelahnya. Dia masih cemberut dan ngambek. Selama sehari itu Riska diam, tidak mengajak Arci bicara sama sekali. Isna, tetap masuk seperti biasa. Arci juga melihat Rasyid. Walaupun terlihat biasa saja, tapi mereka benar-benar waspada satu sama lain.

Bahkan setelah pulang Riska masih diam membisu. Walaupun mereka berjalan bersama, tapi Riska sama sekali tak bicara kepada Arci seperti biasanya, bahkan tak lagi menggandeng tangannya.

“Dari tadi diam terus, masih marah?” tanya Arci

Riska tak menjawab.

“Okelah aku pergi dulu kalau gitu, biar suasana hatimu lebih baik,” ujar Arci. Dia pun berbalik dan berjalan berlawanan arah dengan Riska.

Riska tak menggubrisnya. Dalam hati Riska pun bergejolak. Ia pun ngedumel dalam hati, “Ah, Arci nggak bakalan pergi koq. Dia kan jaga aku terus. Dia cuma menggoda. Biarin diemin aja. Dasar cowok nggak peka, cowok nggak sensitif. Tapi aku juga yang bodoh sih, terlalu berharap ama dia. Bego banget. Dasar. Arci jelek, Arci bego, Arci bego bego bego bego bego bego!”

Sampai tak terasa Riska melamun selama perjalanan. Dia nggak sadar sekarang ada di mana. Ia baru sadar ketika ada suara klakson mobil di jalan raya. Dia lalu kebingungan.

“Lho, koq aku sampai sini sih?” gumam Riska. Ia menoleh kiri kanan depan belakang. Nggak ada Arci. “Arci?? Arci?? Lho, kamu di mana? Arciii!”

Riska berbalik arah. Pasti Arci sedang menggodanya, pikirnya. Ia pun menyusuri kembali jalan di mana ia tadi lewati. Semakin jauh ia berjalan ia tak menemukan Arci. Riska pun berinisiatif pergi ke rumah sendirian.

“Huh, dikira aku nggak bisa pulang sendiri apa? Rumahku kan bisa ditempuh pake dua jalur, jalan kaki bisa, pake busway juga bisa. Kenapa harus bingung? Nggak ada kamu juga aku bisa koq pulang sendiri,” gumam Riska.

Dia lebih memilih jalan kaki. Ia berjalan menyusuri trotoar, ia bahkan bingung sekarang koq pemandangannya berbeda. Bisingnya kendaraan, asap kendaraan yang menimbulkan polusi dan para pedagang kaki lima yang menggelar lapaknya ia makin sering temui. Riska bingung, koq dia sampai ada di sini??

“Koq aku sampai di sini sih? Apa aku tersesat ya?” gumamnya.

Hingga tak terasa, ia sampai di sebuah lokasi yang sangat sepi dari kendaraan. Dia juga bingung bagaimana bisa sampai di tempat itu. Terlihat sebuah jembatan yang digunakan oleh kereta api melintas terlihat di sana. Tak ada kendaraan satu pun di tempat itu, bahkan pedagang keliling ataupun orang yang melintas dengan sepeda motor pun tak terlihat.

“Aku di mana ini? Arciii?? Kamu di mana? Maaf deh, maaf. Aku ngaku salah diemin kamu. Arcii…hikss…Arcii…tolong aku…hiks…,” Riska pun menangis.

Tiba-tiba dari dua arah muncul beberapa gerombolan orang. Mereka membawa senjata dari pipa besi, kayu, bahkan ada yang bawa parang. Riska ketakutan.

Daerah tempat Riska berada ini memang terkenal sebagai daerah yang menjadi rebutan antar dua kelompok gank. Karena itulah jarang orang-orang yang mau lewat daerah ini kalau tidak terpaksa. Riska sekarang berada di tengah-tengah. Ia panik kemudian minggir merepet ke pinggir jalan.

“Woi bangsat, hari ini kita selesaikan! Gua udah nggak sabar kepengen bacok lo pada,” ujar salah satu anggota dari kelompok kanan.

“Ayo, gua juga udah nggak sabar kepengen ngancurin kepala lo,” kata salah satu anggota dari kelompok kiri.

“Hari ini kita buktikan siapa yang berhak menguasai wilayah coret ini.”

Maka, pecahlah tawuran antar gank itu. Kedua kelompok maju dan saling menyabetkan senjatanya. Riska yang berada di tengah-tengah peristiwa itu panik. Ia pun menjerit, “Arciiiii toloooonnggg!”

Riska pun berjongkok, ia meringkuk dan melindungi kepalanya. Lemparan batu, sabetan golok dan parang, sabetan kayu saling bertemu. Perkelahian tak bisa dihindari. Ada yang terkena lemparan batu, kemudian dia membalas. Parang dan golok bertemu, pipa besi bertemu, suara hantaman ke bagian tubuh yang kena bersahut-sahutan. Rintihan rasa sakit dari mereka yang terkena satu sama lain terdengar bergantian.

Riska memejamkan mata. Ia pasrah. Ia berada di tengah tawuran. Tak bisa menghindar. Ia menutupi kepalanya dan berdo’a. Harapannya adalah agar Arci bisa datang saat itu melindungi dirinya. Ia berjanji akan minta maaf ke Arci.

“Arci aku akan minta maaf ke kamu, aku salah. Aku egois. Maafin aku yah. Arci, ke sini dong. Aku butuh kamu, lindungi aku, hiks…hikss….Arciiiiiii!” jerit Riska.

“Jangan teriak-teriak! Aku ada di sini,” kata sebuah suara.

Riska langsung mendongak. Rupanya Arci ada di depannya. Tubuh Arci melindungi Riska dari serangan batu nyasar. Ternyata selama ini cowok itu mengikuti Riska dan melindungi Riska ketika tawuran itu pecah. Kepalanya terkena lemparan batu nyasar hingga berdarah.

“Arcii….,” Riska menangis.

“Ayo pergi!” Arci langsung menggandeng Riska. Mereka merepet ke pinggir jalan untuk menghindari tawuran. Keduanya lari secepatnya agar tidak ikut menjadi korban tawuran itu.

Arci dan Riska pun akhirnya sudah jauh dari tempat tawuran itu. Nafas Riska terengah-engah. Mereka berdua pun istirahat di atas sebuah jembatan penyebrangan. Riska memegang lututnya. Ia masih gemetar karena peristiwa tadi. Arci mengambil nafas dilihatnya orang yang dilindunginya selama ini.

“Kamu tak apa-apa?” tanya Arci.

Riska lalu mendekat ke Arci. Ia pun memukuli Arci. “Kamu jahat! Kamu jahat! Kamu jahat! Rasakan ini! Rasakan ini! Huaaaa….” Riska pun memeluk sang bodyguardnya sambil menangis.

“Udah, udah, pukul deh pukul! Yang penting kamu nggak apa-apa,” kata Arci.

“Aku….aku..hikss….huaaaa…”

“Udah yuk, pulang! Ntar kamu dicariin ama keluargamu.”

Riska melihat baju Arci yang terkena noda darah. Ia terkejut dan melihat kepala Arci ada yang bocor.

“Arci…kepalamu, Ci. Kita obati dulu yuk!…hikss..,” kata Riska masih sambil sesenggukan.

“Ah, nggak apa-apa. Cuma luka kecil,” kata Arci.

“Nggak, aku nggak mau kehilangan kamu. Ayo kita ke rumah sakit sekarang! Ayo!”

“Aku nggak apa-apa.”

“Udah, ayo pokoknya ikut!”

Akhirnya Arci dan Riska pergi ke klinik terdekat. Luka Arci langsung dijahit saat itu juga. Riska sangat khawatir dengan teman dan sekaligus pengawal pribadinya itu. Dia terus menangis bahkan sampai Arci selesai dijahit lukanya. Setelah diobati Arci berniat mengantarkan Riska naik taksi, karena Riska masih shock sepertinya.

“Maafin aku ya,” kata Arci. “Aku nggak seharusnya buat kamu khawatir. Lagipula aku tadi kepengen bercanda aja sebenarnya.”

“Arci, jangan lakuin itu lagi yah? Kumohon!”

“Ya, aku janji.”

“Kamu boleh bilang nggak mau kehilangan aku karena itu tugasmu, tapi aku juga punya hati. Aku nggak mau kehilangan kamu. Aku suka kamu Arci, aku suka kamu. Hikss….hikss…,” Riska memeluk Arci dengan erat. Ia seakan nggak mau melepaskan Arci begitu saja.

Arci tak menjawab. Entah apa yang ada di pikirannya sekarang. Bau rambut Riska ia hirup dan ia cium ubun-ubun Riska.

“Kamu….hikss….nggak boleh bikin aku patah hati. Kamu…hikss…harus….suka juga ama aku…hikss…awas kalau nggak….aku laporin ke papa…hiks,” kata Riska.

“Tapi aku cuma bodyguard Ris,” kata Arci.

“Aku nggak peduli, kamu harus jadi pacarku. Aku suka kamu….,” wajah Riska dipegang Arci dan dengan cepat cowok itu pun mencium bibir Riska. Mungkin sore itu menjadi sore terindah bagi Riska. Di mana matahari mulai tenggelam, sinarnya keemasan dan dia mendapatkan apa yang diinginkannya ciuman dari sang kekasih. Pengawal pribadinya. Pelindungnya. Riska pun menikmati momen ciuman pertamanya ini, ia memejamkan mata. Meresapi bibir kekasihnya yang sekarang sudah menempel, mengecupnya. Riska tahu bahwa Arci tak pernah banyak bicara, terlebih untuk urusan cinta, cowok ini memang payah. Tapi untuk bahasa tubuh, Riska tahu bahwa Arci juga menyukainya.

*****

Jefri berada di ruang interogasi. Inspektur James berada di depannya bersama Sersan Roni. Mata Jefri tampak menatap dengan tatapan kosong, karena dia setengah sadar. Entah berapa dosis sabu yang ia konsumsi hari itu. Yang jelas untuk bisa berfikir jernih harus dengan dibentak, dimarahi dan dipukul.

“Jefri, katakan! Kamu ada di tempat kejadian perkara waktu itu?” tanya Inspektur James.

“Apanya? Siapa?” tanya Jefri sambil senyum-senyum sendiri.

BRAK! Sersan Roni menggebrak meja.

“JEFRI! KAMU ADA DI TEMPAT WAKTU AYAHMU TEWAS? JAWAB!” Sersan Roni membentaknya.

“Oh, ayah ya? Si brengsek yang menelantarkan ibuku itu? Aku sudah tak peduli lagi kepadanya. Mau dia hidup, mau mati, mau hidup lagi aku tak peduli. Hehehehe…,” kata Jefri.

“Jefri, kamu belum menjawab pertanyaan!” kata Inspektur James.

“JEFRI, KAMU BELUM MENJAWAB PERTANYAAN!” bentak Sersan Roni.

“Pertanyaan yang mana?” tanya Jefri.

“Sudah Sersan!” Inspektur James mencegah Roni untuk membentak Jefri lagi. “Kita tanya dia kalau sudah sadar. Sama saja kita ngomong dengan orang gila kalau dia ngefly seperti ini. Bawa dia untuk dirawat, besok kita akan tanyai lagi!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*