Home » Cerita Seks Kakak Adik » Wolf Of Desert Bab 5

Wolf Of Desert Bab 5

BAB V: Terlahir Psikopat

Hari Minggu, Arci berlatih. Dia sedang memperagakan jurus-jurus silat kepada para juniornya. Tampak Riska datang melihat dia latihan. Rumah Arci juga adalah sebuah padepokan perguruan Silat Taring Harimau Putih. Perguruan ini cukup terkenal di seluruh Indonesia. Ayahnya Arci adalah seorang keturunan dari Ceko Slovakia yang sudah lama menetap di Indonesia. Ibunya sendiri orang Jawa tulen.

Tampak sang ibu sedang berada di teras sedang membersihkan teras. Sang ibu melihat ke arah Riska yang menghampirinya. Ia agak tertegun karena Riska sudah jarang main ke tempatnya.

“Eh…ada nak Riska,” sapa ibunya Arci.

“Eh, tante. Apa kabar?” sapa Riska.

“Lama nggak maen. Masuk-masuk!”

Riska langsung duduk di kursi yang ada di teras. ia memakai celana training dan kaos lengan pendek. Rambutnya dikuncir, tampak ia mengawasi Arci dari jauh.

“Gimana kabarnya?” tanya sang ibu.

“Baik. Tante, masih latihan aja ya si Arci?” tanya Riska.

“Halah, Arci ya begitu itu. Apalagi ia sekarang sudah resmi jadi anggota Tangan Malaikat, apalagi sekarang tugasnya melindungi bidadarinya ini, Hehehehehe.”

“Ah, tante bikin malu aja.”

“Ngomong-ngomong gimana hubunganmu ama Arci? Udah jadian?”

“Aduh tantee…jangan bahas itu aaah…malu nih.”

“Ah berarti belum. Nanti tante bakal marahin tuh bocah, nggak sensitif banget ama cewek.”

“Jangan deh tante! Jangan! Aku ama Arci temenan aja koq.”

“Yaelah, Riska kamu nggak usah sembunyiin deh dari tante, cara kamu mandang Arci aja tante tahu kalau kamu suka ama dia. Mirip masa muda tante dulu, Ahh…” ibunya Arci mendesah mengingat-ingat memorinya ketika bertemu pertama kali dengan suaminya.

“Emang dulu ketemuannya gimana, tan?”

“Tante itu dulu ngefans ama ayahnya Arci. Trus ehh…diajak kencan, ya melayang dong pastinya. Karena lama nggak nembak-nembak juga akhirnya tante tantangin tuh suami tante buat nembak, akhirnya dia kagok juga. Hihihihihi, sempet bingung juga apa dia harus balik ke negaranya atau menetap di sini. Akhirnya yah, menetap di sini deh. Katanya lebih cinta negara ini.”

“Oh, begitu yah tante.”

Arci menoleh ke arah Riska yang ada di teras rumahnya. Riska melambai ke arahnya.

“Lanjutkan sendiri ya!” kata Arci.

“Siap kang,” kata para yuniornya.

Sang ayah menoleh ke arah teras. Ia lalu berkata, “Oh, udah disamperin ama bidadarinya ya? Hehehehe.”

“Ayah ini apaan, sih?” Arci segera bergegas.

“Jangan lama-lama. Habis ini ayah mau ngajarin kamu sesuatu,” kata sang ayah.

“Iya, iya,” Arci pun menuju ke teras rumahnya.

“Ada apa Ris?” tanya Arci.

“Cuma maen aja,” jawab Riska.

“Ibu tinggalin kalian dulu ya, nyiapin minum buat non Riska,” kata ibu.

“Eh, nggak usah tante, jangan repot-repot!” kata Riska.

“Nggak apa-apa, wong cuman air aja koq,” ibu segera bergegas masuk ke dalam rumah.

Arci menemani Riska sekarang. Ia duduk di bale-bale. Riska pun ikut-ikutan duduk di bale-bale.

“Sorry ya yang kemaren,” kata Riska sambil tersenyum.

“Masalah apa?” tanya Arci.

“Ih, dasar kamu nggak sensitif!” Riska menghela nafas.

“Apaan sih? Emang nggak ngerti koq.”

“Ya udah deh nggak usah dibahas. Oh iya, hari ini temenin aku dong!”

“Ke mana?”

“Aku mau beli sepatu, kamu bisa anterin kan?”

“Ini hari Minggu, bisa ajalah,” kata Arci menyanggupi.

“Minumnya dataang!” ujar ibunya Arci sambil menaruh nampan berisi minuman di bale-bale.

“Makasih lho tante,” kata Riska.

“Kalian mau kencan, ya?”

“Nggak tante, cuma kepengen dianter beli sepatu aja koq,” sanggah Riska.

“Iya, cuma beli sesuatu aja koq,” kata Arci.

“Halah, kencan juga nggak apa-apa. Ibu ngerti koq anak muda itu malu-malu kalau urusan beginian,” kata ibunya Arci.

Arci dan Riska sama-sama menghela nafas. Arci dan Riska terkejut ketika mereka sadar gerakan mereka sama.

“Naah, menghela nafas aja bersamaan, udah jodoh tu, hahahahahaha!” sang ibu lalu kembali lagi ke dalam rumah.

“Maafin ibu yah, emang begitu wataknya,” kata Arci.

“Iya, aku ngerti koq. Dari sejak dulu kalee tante begitu,” kata Riska.

“Kamu aku jemput jam berapa?” tanya Arci.

“Siang aja deh jangan sore-sore,” jawab Riska. “Pake sepeda motormu itu lagi?”

“Iya dong,” kata Arci.

“Horeeeee!”

“Heh, ngapain teriak-teriak gitu?”

Riska lalu membisikkan sesuatu, “Soalnya kalau pake sepeda motor itu aku bisa ngamplok kayak cicak. Hihihihi.”

Arci langsung teringat ketika ia membonceng Riska dengan sepeda motornya. Dada Riska yang kenyal-kenyal gimana itu nemplok di punggung Arci. Menimbulkan sensai lembut-lembut enak. Hal itu membuat otaknya mendidih dan…..CROOOOOOTTT! Mimisan deh….

“Aduh, maaf Arci. Kamu inget ya yang kemaren itu?” Riska panik mencari tissue. “Tanteee…ada tissue nggak?”

“Inget yang kemarin…..,” Arci kembali mimisan dan ia pun menekan hidungnya. CROOOOTTTT! mimisannya keluar lagi.

Sang ibu langsung keluar membawa tissue. Riska menyeka darah di hidung Arci.

“Hahahahaha, ealah anaknya ibu udah gedhe. Hihihihihi,” goda sang ibu.

“Ibu ini ah, nggak ditolong malah anaknya digoda,” gerutu Arci.

“Ris, kamu apain Arci?”

“Aku cuma ngingat-ingat kemarin pas waktu dia bonceng aku,” kata Riska.

CROOOOTTT! Arci ingat lagi kejadian itu, darahnya menyembur seperti keran air. Ia langsung lemes dan terkulai di atas bale-bale dengan bajunya penuh darah mimisannya.

“Eh, Arciii!” Riska panik.

*****

Isna pagi itu dijemput oleh Erwan di apartemennya. Sebelumnya Isna berpesan kepada kakaknya, “Kakak coba periksa, kalau ada pengawal rahasia menyertainya maka itu tugas kakak untuk membereskannya, Erwan bagianku.”

“Aku mengerti,” kata kakaknya.

Mobil pun melaju di atas jalan raya. Selama di dalam mobil itu Isna dan Erwan melakukan French Kiss. Erwan benar-benar terbakar nafsunya, tapi Isna pandai merayu agar tiba di tempat saja mereka melakukannya. Perjalanan pun mulus dan lancar hingga mereka sampai di sebuah hotel. Erwan pun masuk ke hotel tanpa di kawal, diikuti oleh Isna. Saat itu Isna memakai baju lengan panjang, kerudung abu-abu dan rok berwarna abu-abu selaras dengan kerudungnya.

Setelah Erwan mengurus administrasi check in dan segala tetek bengeknya mereka pun naik ke lantai tempat kamar mereka berada. Selama berjalan bersama Erwan memegangi dan meremas pantat Isna. Isna memang pantas dijuluki pembunuh nomor satu. Ia akan menggoda korbannya sampai benar-benar seluruh pertahanan korbannya lepas, baru setelah itu ia akan menerkam sang korban. Erwan tak menyadari bahwa detik-detik kematiannya akan segera ditemuinya. Malaikat maut sudah bergerak mengerubungi dirinya, Isna menampakkan senyuman manisnya kepada menteri cabul ini sehingga sang mentri tidak curiga sama sekali.

Begitu masuk kamar Erwan langsung mengunci pintunya dan merengkuh Isna. Diciuminya gadis itu dengan penuh nafsu. Mereka berdua melakukan French Kiss. Perlahan-lahan Isna melepaskan kancing kemeja Erwan satu per satu. Erwan pun melepaskan kemeja Isna satu persatu. Karena sudah dibuai oleh birahi, Erwan pun hanya menurut ketika celananya dilepas oleh Isna, batangnya pun langsung mencuat, mengeras dan menantang siap untuk digunakan sebagaimana mestinya.

Isna benar-benar lihai dalam menggoda lelaki. Dia terampil meledakkan titik-titik sensitif lelaki, ia tentu saja sudah berlatih untuk itu. Siapa lagi kalau bukan Rasyid yang menjadi subjeknya. Mulai dari sentuhan-sentuhan lembut ke puting lelaki, menghisap dan menjilatinya, menciumi lehernya, kemudian menggelitik kepala pionnya itu merupakan hal-hal yang disukai oleh Rasyid dan ternyata tak beda jauh dengan Erwan.

“Isnaa…..aahhh,…kamu hebat, teruskan sayang!” kata Erwan.

Baju Isna satu demi satu dilepas. Kini ia pun telanjang hanya menyisakan sebuah arloji di tangan kanannya. Benar-benar tubuh yang mulus. Tidak. Bahkan sangat licin sehingga mungkin kalau ada semut yang berjalan di atasnya bisa terpeleset. Payudara Isna membusung. 34c taksirannya. Isna pun berlutut dan mulai memegang batang Erwan.

“Ohhh…yeahhh…come on baby!” bisik Erwan.

Isna menciumi kepala pion Erwan, kemudian dikecupnya batangnya sampai ke pangkal dan buah pelernya. Kocokan-kocokan lembut pun kemudian diiringi dengan kuluman-kuluman penaik birahi. Tubuh Erwan menggeliat, bergetar. Sensasi mulut seorang gadis ini benar-benar membuatnya mabuk kepayang, lebih memabukkan dari gin dan vodka yang selama ini pernah ia minum. Kepala Isna maju mundur, hingga batang itu tenggelam. Tanpa sepengetahuan Isna, Erwan mengambil borgol. Ia memang suka main kasar sebenarnya daripada lembut.

Saat Isna sedang sibuk mengoral batangnya, tanpa disadari Erwan mengambil tangan Isna dan CKLIK! Isna terkejut ketika tangan kanannya sudah terborgol.

“Kita coba ya sayangku, bercinta dengan tangan diborgol. Sensasinya enak pastinya,” kata Erwan.

Isna hanya mengangguk. Kemudian Erwan menarik Isna berdiri dan menempatkannya di atas ranjang. Isna merebahkan diri tangan kirinya pun akhirnya terpasang borgol, CKLIK! Kalau dilihat Isna tak akan punya kesempatan untuk bisa lari. Bagaimana ia akan menjaga keperawanannya dengan keadaan seperti itu? Tidak. Isna tak bisa diremehkan. Ia pernah mengalami kondisi yang lebih buruk daripada ini.

Melihat seorang gadis mulus, pasrah dengan borgol terbaring di atas ranjang, siapa yang tidak bernafsu? Erwan benar-benar merasa mendapatkan rejeki nomplok. Penisnya sudah ngaceng dengan sempurna. Tidak, sensasinya kali ini lebih keras daripada sebelum-sebelumnya. Hal itu mungkin karena Isna bukan orang Indonesia tapi seorang gadis Kurdi, bermata abu-abu menatapnya sayu dan siap untuk digarap.

Penis Erwan mulai menggesek-gesek bibir kemaluan Isna. Isna merintih, “Omm…peluk Isna dong!”

Erwan mengerti bahwa gadis yang masih perawan ini butuh pelukan karena ini baru pertama kalinya penis laki-laki akan bersarang di dalam liang senggamanya. Menteri hidung belang ini pun merendahkan tubuhnya dan mulai memagut Isna. Clopp…ahh…slruupp…cloopp. Suara kedua mulut mereka beradu sungguh merdu. Menampakkan birahi yang meluap-luap. Erwan mulai memeluk tubuh Isna. Kedua dada mereka berhimpit, sesekali Erwan hisapi puting gadis itu. Isna melingkarkan tangannya ke leher Erwan. Dia menarik pengatur jarum di arlojinya. Sebuah kawat tajam mulai keluar dari arloji di tangan kanannya. Penis Erwan sudah siap untuk masuk, posisinya sudah berada di depan mulut kemaluan Isna. Isna menggigit ujung kawat tajam dengan giginya, dalam hitungan detik, tangan kanannya memutari kepala Erwan.

Erwan yang masih terbius oleh birahi tak menyadari bahaya yang terjadi. Tahu-tahu lehernya sudah terbelit kawat tajam.

“HEEGGGHHHHH!” pekik Erwan. Erwan mencoba meronta dan ingin melepaskan kawat itu. Kaki Isna mendorong tubuh Erwan hingga berguling ke samping. Kini Isna ada di atas tubuhnya. Menguasai sepenuhnya jalan permainan ini.

“Googgghkkkk…ggkkkkhh….ggkgkhhh!” Erwan mulai kehabisan nafas dengan jeratan kawat itu. Darah mulai mengalir dari lukanya. Erwan memegangi lehernya dan mencoba menggapai kawat yang dililitkan oleh Isna itu.

“Tidak, tidak, tidak. Ini bukan kematian yang indah,” gumam Isna. Ia pun melepaskan lilitan kawat itu.

Erwan terbatuk-batuk. Matanya memerah dan berair. Isna mengambil penjepit rambut yang ada di rambutnya kemudian melepaskan borgol yang ada di tangannya dengan mudah. Ia pun kemudian memborgol tangan Erwan. Erwan terkejut, belum sempat dirinya sadar akan apa yang terjadi kedua tangannya telah terborgol.

“Aphhaa….yahhng…terjadi? Aphhaaa yang kamu lakukan?” tanya Erwan dengan suara yang parau.

Isna berdiri. Ia turun dari ranjang dan mengambil ikat pinggang yang ia kenakan di roknya tadi. Ternyata di balik ikat pinggang itu ada sebilah pisau karambit. Tidak, lebih tepatnya dia pisau karambit kecil. Kini Isna dengan tubuh tanpa busana berdiri dengan kedua tangannya memegang pisau karambit.

“Aku akan berikan kematian yang indah buatmu, Om. Kamu tak akan menyesal nanti sekalipun mati. Percayalah,” kata Isna.

“Hah? Siapa kau ini?”

Isna naik ke ranjang. Erwan akan bergerak tapi Isna secepat angin sudah membabat bahu bagian dalam Erwan. Yaitu tempat aliran pembuluh darah. Erwan terkejut, kedua bahu bagian dalam dekat dengan ketiaknya nyeri. Isna juga menyayat kedua paha Erwan bagian dalam. Keempat titik ini adalah titik vital manusia. Jika tidak segera ditolong. Maka dalam tiga puluh sampai lima puluh detik siapapun akan menemui ajalnya.

Kaki Isna menghimpit dada Erwan.

“Om, tiga puluh detik lagi kurang lebih. Om akan mati. Tapi selama tiga puluh detik itu, Om masih bisa bicara. Aku akan mencabik-cabik tubuh Om, mungkin organ-organ om akan aku keluarkan semuanya, mungkin juga tidak. Om mau?”

Erwan membelalakkan mata, ia menggeleng-geleng. Tatapan mata Isna bukan tatapan mata biasa. Seperti mata seekor serigala. Tajam, haus darah. Seorang psikopat yang telah dididik sejak kecil, mengenal darah sejak dalam buaian, dan kini ia akan mendapatkan mangsanya lagi.

Tangan Isna sudah bersiap. Kemudian…..

JLEEEB! SRAAATT! CROK! JLEB SRAAATT! CROK! JLEEEB! SRAAATT! CROK! JLEB SRAAATT! CROK! JLEEEB! SRAAATT! CROK! JLEB SRAAATT! CROK! JLEEEB! SRAAATT! CROK! JLEB SRAAATT! CROK!

Tangannya dengan pisau karambitnya membabi buta mencabik-cabik dada dan perut Erwan. Menteri hidung belang ini tak menyangka ia akan mati dalam keadaan seperti ini. Telanjang, terborgol, oleh gadis yang hendak ia perawani. Darah mengucur dari seluruh lukanya. Isna bermandikan darah. Isna tertawa, tertawa puas. Sebagian darah Erwan masuk ke mulutnya dan ia telan. Rasanya manis, manis seperti gula baginya.

Erwan tak bergerak. Dia terbujur kaku. Hanya melihat pandangan seorang psikopat seperti Isna yang baru saja mencabik-cabik tubuhnya. Tatapannya pun mulai gelap, gelap…..malaikat maut pun sudah mencabut nyawanya begitu saja. Dengan senyum kepuasan Isna pun beranjak dari ranjang. Ia masuk ke kamar mandi dan membilasi tubuhnya yang penuh darah. Dijatuhkannya pisau karambitnya, ke bawah kamar mandi. Dibiarkannya rambut panjangnya terkena air, air itu pun mulai menyentuh tubuhnya dan menelusuri lekuk tubuh seksinya, dari kepala, leher, buah dada hingga menuju ke tempat sensitifnya.

Setelah mandi dan membersihkan diri. Isna pun memakai lagi bajunya. Dia mengambil ponselnya dan mengambil foto korbannya. Setelah itu ia mengirim foto itu ke orang yang menyewanya. Sebuah pesan masuk.

“2 Asigment done. Congrats! Money Transfered.”

Isna kemudian berjalan keluar dari kamar hotel. Ketika ia turun di lobi tampak Rasyid sudah ada di sana.

“Hai kak? Mau jalan-jalan denganku?” tanya Isna.

“Yuk! Ruang sekuritinya sudah aku amankan videonya. Mereka tak akan tahu siapa yang membunuh Erwan,” kata Rasyid.

****

Arci digeret ke sana-kemari oleh Riska. Inilah yang tidak disukai oleh Arci, mendampingi anak cewek belanja. Mereka bahkan tak tahu apa yang hendak mereka beli. Berbeda dengan anak laki-laki, sudah pasti tahu apa yang mereka beli dan mereka akan membeli itu, bukan yang lain.

“Eh, ini ini! Waaahh….keren ya modelnya,” kata Riska.

Arci mengerutkan dahi. Ia tak seberapa tahu tentang model sepatu. Baik atau jelek, modist atau tidak. Sebab menurutnya asalkan sepatu itu enak dipakai dan bahannya bagus, maka itu adalah sepatu yang bagus.

“Ya udah, beli aja!” kata Arci. “Aku udah bosan nemenin kamu dari tadi sudah satu jam tapi nggak beli-beli.”

“Yaah, kan namanya juga anak cewek Ci!? Wajar dong,” kata Riska. “Kamu suka nggak?”

“Ya deh suka, yuk bungkus!”

“Aaargghh…mesti gitu deh. Kasih penilaian dong.”

Arci menghela nafas.

“Ris, apapun yang kamu pake itu cakep, baik. Bahkan kalau nggak pake apa-apa lebih cakep. Eh…sorry, maksudku kamu pake apapun itu cakep,” kata Arci.

“Heeh….?? Nggak pake apa-apa? Nah lho? Kamu pernah ngintip aku??” Riska menyenggol-nyenggol bahu Arci.

“Yyyaa…itu sih nggak sengaja,” kata Arci sambil menutup hidungnya.

“Hihihihihihi, nih!” Riska langsung mengambilkan tisu buat Arci tapi kali ini Arci menolaknya.

“Nggak, nggak perlu. Aku bisa tahan koq.”

“Eh, beneran kamu pernah lihat aku nggak pake apa-apa? Kapan?”

“Pas waktu berenang, di kamar bilas.”

“Waaaaahh, kamu ngintip kan berarti. Itu kamar bilas buat cewek!”

“Soalnya kamu menjerit waktu itu kukira ada apa-apa trus aku segera berlari ke tempatmu, ternyata kamu ngelihat tokek. Jadi ya bukan salahku. Lagipula aku pengawalmu kan?” kata Arci dengan muka memerah.

“Hihihi, iya deh aku percaya koq. Emang tokeknya besar waktu itu bikin aku kaget. Makasih ya, Ci. Cup..ah!” Riska tiba-tiba mencium pipi Arci.

“A…apa itu tadi?”

“Terima kasih, karena sudah care kepadaku selama ini.”

“Yah, itukan tugasku.”

“Ya udah deh, aku beli ini, bungkus yuk!” kata Riska sambil membawa sepatu itu ke kasir. Setelah menyelesaikan pembayaran, mereka berdua pun berjalan keluar dari toko sepatu itu. Dan sesuatu tak terduga terjadi.

“Eh, Isnaa!?!” seru Riska ketika melihat teman sekelasnya itu berjalan bergandengan dengan Rasyid.

“Hei, Riska!” balas Isna.

Rasyid bertatapan mata dengan Arci. Kenapa mereka ada di sini? pikir Arci.

“Cari apa?” tanya Riska.

“Jalan-jalan aja, kamu?” tanya Isna balik.

“Cari sepatu nih,” jawab Riska.

“Oh, kalian pacaran ya?” tanya Isna.

“Kami Bb…,” belum sempat Riska menjawab Arci sudah memotong.

“Iya, kami pacaran. Mau jalan-jalan bareng?” kata Arci.

Riska terkejut tentu saja mendengar itu. Pipinya tersipu-sipu. Ia sangat malu ketika Arci berkata seperti itu. Benar-benar seperti apa yang dia harapkan selama ini. Apakah ini artinya Arci nembak dia?

Raysid dan Isna saling berpandangan. Rasyid tersenyum dan berkata, “Ayo, siapa takut.”

Dalam hati Rasyid berkata, “Mau apa anak ini?”

“Aku tahu restoran Korea di dekat sini kalau boleh, kita mampir ke sana untuk makan siang??” tanya Arci.

“Eh, iya. Kami juga belum makan. Yuk?” ajak Riska.

“Oke deh, yuk!” jawab Isna.

Akhirnya mereka berempat berjalan bersama, tapi Rasyid dan Arci berjalan di belakang kedua kekasih mereka.

“Serigala Gurun, aku tahu penyerangan di rumah menteri kemarin ulah kalian, bukan?” tanya Arci.

“Siapa kau ini sebenarnya?” tanya Rasyid.

“Untuk saat ini aku bukan siapa-siapa. Tapi aku yakin kita pasti akan bertemu di masa depan.”

“Aku melihat profilmu, semuanya sampah. Ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari dunia ini. Kau bukan orang biasa. Jelas keberadaanmu di sekolah ini juga bukan sesuatu yang biasa.”

“Sementara ini tugasku hanya melindungi Riska. Aku mencium bau anyir darah dari tubuh adikmu. Kalian pasti baru saja membunuh seseorang.”

DEG! Rasyid terkejut. Penciuman Arci lebih tajam daripada apa yang ia sangka sebelumnya. Lebih tajam daripada seekor serigala. Tapi Rasyid menampakkan ekspresi dingin. Ia tak boleh gentar dengan pemuda yang ada di sebelahnya ini.

“Dua pisau di pinggang, di pergelangan kaki, dan beberapa senjata lainnya. Kamu ini ingin bunuh orang dengan itu semua?” tanya Arci.

Lagi-lagi Rasyid tertegun. “Bagaimana kamu bisa tahu? Kamu pasti bukan orang biasa.”

“Sudah kubilang, sementara ini tugasku hanya melindungi Riska. Kalau sampai dia kalian sentuh, aku tak akan segan-segan menghabisi kalian,” ancam Arci.

“Baiklah, kita lihat saja nanti Sang Harimau Putih. Selama kamu tidak menghalangiku untuk menghabisi target-targetku, aku tak akan menyentuhmu.”

Mereka berempat pun kemudian masuk ke sebuah restoran ala Korea dan menikmati makan siang di sana. Entah bagaimana mereka berempat tidak canggung dan seperti anak sekolahan pada umumnya. Terutama Rasyid, ia bisa berubah 180 derajat di hadapan semua orang. Yang tadi dingin sekarang lebih bersahabat.

Akhirnya setelah menikmati makan siang itu pun mereka berpisah. Rasyid dan Isna hanya melihat kepergian Arci dan Riska dari jauh. Mereka saling bergumam.

“Dia orang yang berbahaya. Mungkin misi kita untuk membunuh ayah gadis itu akan sulit. Kita perlu menyingkirkan Arci,” kata Rasyid.

“Seberapa berbahayakah dia?”

“Dia tahu identitas kita. Dia juga tahu aku membawa banyak pisau di bajuku. Dia juga mencium bau darah di tubuhmu. Itu sudah cukup mengerikan buatku. Kalau dia tidak disingkirkan sekarang, aku yakin dia akan menjadi ganjalan buat kita nantinya.”

“Aku akan mengurus hal itu. Setiap pria pasti punya kelemahan yang sama.”

“Tidak untuk yang satu ini, Isna. Jangan terlalu dekat dengan dia. Dia seperti macan yang tertidur. Dan aku yakin ia sudah dilatih untuk itu. Terlebih, ia sudah tahu identitasmu.”

“Hmm…sulit berarti, kita akan jadikan dia target terakhir.”

“Aku setuju.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*