Home » Cerita Seks Kakak Adik » Wolf Of Desert Bab 4

Wolf Of Desert Bab 4

BAB IV: Target Yang Bernafsu

“Whoaaa!” seru Riska melihat berita pagi itu melalui ponselnya. “Inikan ayahnya Jefri! Lihat lihat lihat!”

Arci beringsut melirik ke ponsel Riska. Dia manggut-manggut.

“Serangan teroris! Gila nggak tuh?” kata Riska.

“Keselamatanmu makin terancam sepertinya Ris,” kata Arci.

“Ih, kamu jangan nakut-nakuti dong!”

“Lha, emangnya aku nakut-nakuti? Berita itu fakta kan?”

Dari kejauhan Arci melihat Isna tampak keluar dari mobil bersama dengan Ratri. Arci juga heran sejak kapan kedua anak itu bisa akrab? Riska melirik ke arah Arci yang melihat kedua cewek itu berjalan beriringan masuk ke gerbang sekolah.

“Sejak kapan Ratri dan Isna bisa sedekat itu?” tanya Arci.

“Bukan urusan gue! Huh, sebel!” Riska tiba-tiba sewot meninggalkan Arci sendirian.

“Eh, tunggu Ris?!”

Arci buru-buru menyusul Riska yang berlari-lari kecil meninggalkan dirinya.

“Ngapain sih koq cepet-cepet?”

“Bodo,” Riska berlari lebih cepat meninggalkan Arci. Arci cuma mengangkat bahu.

Di dalam kelas Arci meletakkan ranselnya di kursi kemudian duduk. Riska sudah ada di sampingnya.

“Heh? Ngapain kamu di sini?” tanya Arci.

“Aku tadi tukeran tempat duduk ama Isna, biar ia duduk sama Ratri aja. Nggak boleh?” tanya Riska.

Arci mengerutkan dahinya. “Aneh ini anak, salah obat kali ya?” pikirnya. Cowok itu kemudian duduk dan menunggu jam pelajaran di mulai. Isna melirik ke arah Arci. Dia masih merasakan ada sesuatu pada diri pemuda ini yang tidak biasa. Dan tatapan keduanya bertemu.

“Mata yang cantik, tapi mengerikan. Aku tahu siapa identitas kalian, pasti kematian Pak Kemal Silalahi kemarin ada hubungannya dengan kalian,” kata Arci dalam hati.

“Dia tahu. Selama tidak menggangguku, aku akan biarkan dia hidup,” kata Isna dalam hati.

“Iiiihhhhh!” Riska menjewer kuping Arci.

“Adudududuh!” Arci mengaduh. “Apaan sih? Sakit tauk!”

“Habis ngapain sih kalian koq saling bertatapan? Bete tauk!” kata Riska.

“Lah? Emangnya nggak boleh?”

“Nggak boleh! Kamu pengawalku nggak boleh lihat yang aneh-aneh!” kata Riska sambil serius menatap ke arah Arci.

Arci sedikit merinding. Riska kalau marah memang agak mengerikan. “Lah, kan aku boleh-boleh aja toh melihat apa saja. Kenapa kamu yang sewot?”

“Dasar cowok nggak sensitif!” Riska langsung berdiri dan berlari keluar kelas.

“Lho? Ris, Riska!” Arci segera mengejar Riska.

***

“Eh, hari ini ke rumahku yuk, Is?!” ajak Ratri.

“Hmm?? Emang boleh?” tanya Isna.

“Boleh dong, yuk?!” ajak Ratri.

“Aku harus bilang kakakku dulu,” jawab Isna.

Tampak Rasyid sedang berdiri di gerbang sekolah.

“Bentar ya Ratri,” kata Isna. Ia berlari-lari kecil menghampiri kakaknya. Mereka terlibat pembicaraan yang tidak dimengerti oleh Ratri. Bagi Ratri mendapatkan teman yang kaya apalagi seperti Isna adalah memang kesukaannya. Menurutnya teman yang sama-sama kaya itu lebih ia hargai, lebih bisa diajak fun. Maka dari itulah sekolah elit ini kebanyakan diisi oleh anak-anak para konglomerat, pejabat maupun anak-anak duta besar atau siswa transferan dari luar negeri.

Tak lama kemudian Isna kembali ke Ratri.

“Oke deh, kakak mengijinkan,” kata Isna sambil tersenyum.

“Ayuk!” Ratri menggandeng Isna masuk ke mobilnya.

Mobil mewah itu berjalan dengan kecepatan sedang melintasi jalanan Jakarta yang halus. Isna tetap memasang tampang polos. Ratri kemudian bercerita banyak hal tentang kekayaannya, tentang baju-bajunya, tentang liburannya ke luar negeri dan lain-lain.

“Kamu banyak diem ya, Is?” kata Ratri. “Ceritain dong tentang kehidupanmu!”

“Apa ya? Aku juga sering berpergian koq. Ke Itali, Inggris, Rusia, Jepang, Korea,” kata Isna.

“Waahhh…kereeen, trus ngapain aja di sana?”

“Kerja, eh maksudku dampingi ayahku kerja.”

“Yaahh…nggak ada yang seru dong. Kamu nggak belanja-belanja gitu?”

“Iya sih, ada belanja-belanja juga. Tapi aku lebih suka ngirit. Hehehehe.”

“Waah…enak ya kamu udah pergi kemana-mana. Aku iri deh ama kamu. Oh ya, hari ini kita akan bertemu dengan ayahku. Aku akan kenalkan kamu kepadanya. Orangnya baik lho.”

“Oh ya?”

Mobil hitam itu pun sampai di sebuah rumah yang berada di kawasan Menteng. Rumahnya sangat besar, bahkan mungkin seperti istana. Erwan Wibisono adalah seorang pengusaha sebenarnya. Punya empat perusahaan yang bergerak di bidang makanan dan bahan tambang. Dia termasuk orang yang berpengaruh selain Faiz Hendrajaya tentunya. Dengan jabatannya sebagai seorang menteri ia mempunyai terobosan pengembangan energi selain minyak bumi. Dia juga yang memprakarsai mega proyek “MENJARING MATAHARI” yaitu sebuah proyek pemerintah Indonesia yang besar-besaran untuk mengambil energi panas matahari untuk dijadikan tenaga alternatif.

Turun dari mobil, Ratri langsung mengajak Isna masuk, mereka berdua langsung disambut oleh beberapa bodyguard. Dan agaknya pengamanannya cukup ketat. Tapi Ratri bisa masuk begitu saja tanpa kendala. Begitu masuk rumah ia langsung disambut oleh sang ayah yang sedang berbicara dengan beberapa orang.

Melihat putrinya datang, sang ayah mengernyitkan dahi.

“Aku pulang. Hai ayah?!” sapa Ratri.

“Hai, Sayangku. Bawa temen?” tanya Erwan.

“Ia nih. Kenalkan ini Isna, ayahnya kerja di konsulat dari Yordania,” jawab Ratri.

“Hai Om,” kata Isna.

“Nanti ayah akan temui kalian, langsung aja ke atas ya. Ayah sedang ada urusan,” kata Erwan.

“Ok yah,” kata Ratri sambil menggandeng Isna naik tangga. Tapi Erwan dari tadi menatap Isna tanpa berkedip, gadis berjilbab itu sepertinya menarik hati Erwan.

Erwan kemudian menandatangani surat-surat yang ada di mejanya.

“Cuma ini aja?” tanya Erwan.

“Iya, pak. Pak Presiden hanya memberikan data ini saja, jadi untuk proyek selanjutnya mungkin cukup ini,” kata orang yang ada di depannya. Dia adalah asisten presiden namany Sapto Hadi. Ia memakai songkok dan kacamata. Perawakannya sopan, namun kata-katanya menyiratkan ia tahu banyak hal tentang proyek yang dikelola oleh Erwan Wibisono ini.

Setelah menandatangani surat-surat itu Sapto Hadi berterima kasih.

“Terima kasih, mungkin setelah ini urusannya tinggal persetujuan DPR saja,” ujar Sapto Hadi.

“Gampang mereka itu, paling yang rese’ yang dari partai lain. Sudah jangan diurus, pasti deal koq,” kata Erwan.

“Permisi pak,” kata Sapto.

“Iya, silakan!” kata Erwan.

Setelah itu Erwan meregangkan ototnya. Ia memang sengaja membuat rumahnya sebagai kantor, karena hal itu lebih membuantnya nyaman daripada harus bekerja di kantor Kementrian. Erwan kemudian membuka laptopnya, kursor mousenya diarahkan ke sebuah aplikasi berjudul Video CCTV. Setelah di klik, tampak di layar monitor ia bisa melihat ruangan kamar anaknya. Erwan melihat Isna ada di sana sedang ngobrol ama Ratri, entah apa yang mereka bicarakan. Erwan pun menyorot dan menzoom Isna lebih dekat. Mata gadis itu benar-benar telah membuatnya terpesona.

Erwan pun mengcapture gambar gadist itu, wajah gadis itu benar-benar membuatnya tergoda. Dia kemudian menyimpan gambarnya ke sebuah folder yang di sana ada beberapa nama-nama gadis yang kesemuanya adalah gadis-gadis yang menjadi target dan korbannya. Hampir kesemuanya telah dia perawani. Tapi baru kali ini ia tertarik dengan teman anaknya sendiri. Ia pun bingung bagaimana mengatur siasat agar bisa berdua bersama Isna. Tapi kalau dilihat Isna ini anaknya lugu dan polos, hal itu makin membuat Erwan terangsang.

“Isna ya? Baiklah, kamu akan merasakan kontolku nanti Isna yang cantik,” senyum Erwan dengan wajah mesum. Tak terasa Erwan mengelus-elus barangnya sendiri sampai mengeras. Ia pun berfantasi dengan Isna sambil berbisik-bisik. “Ohhh…Isna, aku ingin lihat toketmu, kulum penis om yah….ahhh….uhhh….eehhhmmm!”

Hasil fantasinya itupun berakhir dengan enam lembar tissue yang sudah ia siapkan untuk membersihkan sperma yang muncrat dari kemaluannya.

Hari sudah mulai sore ketika Isna ingin pulang. Ia sudah bersiap di depan rumah. Namun Erwan menghalanginya.

“Biar ayah aja yang anter Isna, sekalian mau keluar soalnya,” ujar Erwan.

Isna tersenyum mendengar penjelasan itu.

“Hmm…gitu yah? Hati-hati lho Is, ayahku ini orangnya genit,” kata Ratri.

Erwan tertawa. “Tenang aja, nanti ayah akan antarkan dia sampai ke rumah dengan utuh.”

“Makasih Om,” kata Isna.

Mereka berdua pun segera keluar. Seorang sopir pun masuk ke mobil, Erwan dan Isna pun menyusul. Tak berapa lama kemudian mereka pun mulai menyusuri jalan raya ibu kota dengan mobil pribadi Erwan. Setelah agak jauh dari rumahnya Erwan pun mulai nakal, dia mulai meraba paha Isna. Isna sedikit jual mahal.

“Isna, kamu sudah punya pacar?” tanya Erwan.

Isna menggeleng.

“Berarti masih single ya?”

“Om mau apa?”

“Om boleh cium kamu?”

“Jangan Om!”

“Tenang aja, om cuma cium koq, nggak ngapa-ngapain kamu.”

Erwan pun langsung merangkul Isna dan menciumnya. Bibirnya mulai mengobok-obok mulut Isna. Isna pura-pura melawan. Ia merasa targetnya ini memang suka perempuan, maka dari itu ia akan mencoba cara yang lain untuk mendekatinya. Ia mendorong Erwan dengan kuat.

“Omm, jangan…sebentar Om, sebentar!” kata Isna.

Erwan pun melepaskannya.

“Bagaimana cantik?” tanya Erwan.

“Jangan di sini ya Om? Besok kan hari Minggu, Om boleh koq ngajak aku,” kata Isna.

“Oh, begitu ya? Oke, besok. Om jemput yah?”

Isna mengangguk.

“Trus ini gimana? Udah kepalang tanggung nih?” tanya Erwan sambil menunjuk ke penisnya yang sudah mengeras.

“Isna kocok aja yah?” tanya Isna.

“Iya deh, daripada nggak ada hasil hehehehe,” kata Erwan.

Isna perlahan-lahan membantu melepaskan resleting celana Erwan. Lelaki hidung belang ini ikut membantu menurunkan celana dalamnya, batangnya yang tadi mengeras pun segera menyembul keluar. Isna memegangnya dengan lembut, batang lelaki ini panjang, tapi tak sepanjang milik kakaknya. Punya kakaknya lebih khas milik orang arab, besar dan panjang. Dia sudah melihat banyak kemaluan lelaki dan memang kebanyakan korbannya dibunuh dengan cara seperti ini, yaitu digoda. Tapi Isna tak ingin terlalu cepat untuk melakukannya, karena pasti Ratri akan curiga kepadanya. Maka dari itu ia akan melakukannya besok.

Isna mulai mengocok perlahan. Erwan pun memejamkan mata menikmatinya.

“Kocokanmu enak, Isna,” kata Erwan.

Isna tak hanya mengocok tapi juga meremas-remas buah dzakar milik Erwan. Erwan makin melayang mendapatkan perlakuan itu dari Isna. Sebenarnya kepingin sekali ia melakukan blow job, tapi ia tak mau ini terlalu cepat. Apalagi baru saja ia mendapatkan persetujuan dari Isna untuk bertemu dengannya besok. Ia berencana akan menghabiskan seluruh stok spermanya bersama gadis ini.

“Kamu pernah melakukan ML Is?” tanya Erwan.

Isna menggelengkan kepalanya. “Tapi kalau cuma ngocok punya pacar saya pernah, Om.”

“Oh begitu, pantes kamu tak kaget,” kata Erwan. “Terus Is, yang kenceng. Ludahi dulu deh!”

Isna pun meludahi kepala penis Erwan, sehingga tampaklah penis Erwan mengkilat. Tangan Isna makin licik untuk mengocok kemaluan menteri hidung belang ini. Erwan makin menggelinjang ketika lubang kencingnya diusap-usap oleh tangan lembut Isna. Tangan kanan Isna kemudian meremas buah peler Erwan, kemudian batangnya dijepit dengan jari telunjuk dan jari tengah. Setelah itu tangan kanannya mengocok-ngocok buah peler Erwan.

Perlakuan Isna ini membuat Erwan keenakan dan makin tersiksa oleh birahi.

“Aahh…Isna, enak banget….Ahhh!” Erwan merancau. Ia sekarang meremasi buah dada gadis Kurdi itu. Tangan kiri Isna sekarang menggeseki kepala penis Erwan dengan cara memutar-mutar hal itu membuat penisnya makin keras dan tegang maksimal.

“Enak Om?” tanya Isna.

“Luar biasa, kamu luar biasa. Aduh…Om nggak kuat, mau muncrat!” kata Erwan.

Sesuatu yang tak terduga, tiba-tiba Isna menundukkan kepalanya dan melahap kepala penis Erwan ketika Erwan akan muncrat. Maka CROOOOTTTT! CROOTT! Muncratlah sperma Erwan ke dalam mulut Isna. Erwan pun melayang seperti berada di surga ke tujuh. Isna menampung seluruh pejuhnya hingga benar-benar kering. Isna buru-buru mengambil tissue dan memutahkan sperma lelaki hidung belang itu ke tissu.

Erwan agak takjub dengan apa yang dilakukan oleh Isna. Gadis ini sepertinya sudah berpengalaman.

“Kamu beneran masih perawan, Is?” tanya Erwan.

“Iya om, beneran,” ujar Isna.

“Berarti kalau misalnya besok kita begituan Om jadi yang pertama dong?”

Isna mengangguk. Erwan berjingkat hatinya. Ia tak sabar menunggu besok rasanya. Mobil pun berjalan hingga sampai ke depan apartemen HG. Isna pun turun dari mobil.

“Besok Om jemput jam sembilan?” tanya Erwan.

“Boleh, tapi jangan ada yang tahu ya Om, Isna malu,” kata Isna dengan tampang polosnya.

“Gampang itu manis. Oke deh, Om akan pergi. Sampai besok yah sayang,” kata Erwan.

“Sampai besok Om ganteng,” balas Isna.

Mobil menteri hidung belang itu pun pergi meninggalkan Isna seorang diri di halaman apartemen HG. Isna tersenyum, matanya menatap tajam ke arah Erwan. Besok akan jadi hari terakhirku melihatmu, Erwan Wibisono, katanya dalam hati.

Isna naik ke atas, ke tempat di mana ia dan kakaknya tinggal. Dia berpapasan dengan Pak Romi orang yang mengelola apartemen itu. Lelaki paruh baya itu tersenyum kepadanya dan menatap seluruh tubuh Isna dengan penuh arti. Terlebih dada Isna yang membusung itu membuat jiwa laki-lakinya sedikit tergoda sekalipun usianya sudah berkepala lima.

Isna masuk ke kamar apartemennya. Di dalamnya tampak Rasyid sedang mengelap sebuah sniper rifle. Ketika Isna datang, ia langsung menghampiri Rasyid dan mencium pipinya.

“Hai kakakku sayang,” sapa Isna.

“Bagaimana targetmu?” tanya Rasyid.

“Besok Ratri kan kehilangan ayahnya,” jawab Isna. “Dia terlalu mudah, penjahat kelamin.”

“Hahahaha, kesukaanmu berarti?” tanya Rasyid.

“Iya, tapi aku sabar. Jangan sampai identitas kita terbongkar gara-gara kita melakukan kesalahan,” Isna melepaskan bajunya satu per satu di hadapan sang kakak. Gadis ini pun membuka kaitan branya, kemudian celana dalamnya diloloskan. Kini ia telanjang bulat, memperlihatkan kemaluannya yang tak berbulu. Dia mendekat ke kakaknya dan memeluknya. “Kapan kak?”

Seolah tahu apa yang dimaksud Isna, Rasyid tersenyum. “Nanti yah kalau pekerjaan ini selesai, toh targetnya ya tidak susah-susah amat.”

Isna cemberut. Gadis itu kemudian meninggalkan Rasyid ke kamar mandi. “Kalau kakak nggak segera memerawaniku, bisa-bisa targetku malah mendapatkannya lho.”

“Kalau ia melakukannya aku akan cincang dia sampai tak ingin mati ataupun hidup,” kata Rasyid.

“Hihihihi, aku sudah menduga. Baiklah, aku akan buat kematian yang indah esok buat Erwan Wibisono,” ujar Isna yang disusul dia menyalakan shower. Tubuhnya pun terguyur air dingin melepaskan segala kepenatan dia hari ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*