Home » Cerita Seks Kakak Adik » Wolf Of Desert Bab 2

Wolf Of Desert Bab 2

BAB II: Friends or Foe?

Arci tampak sedang berbincang-bincang dengan beberapa temannya, ketika itu Rasyid dan Isna melihatnya dari kejauhan.

“Kenapa dengan dia?” tanya Rasyid.

“Dia sepertinya orang yang mencurigakan, kakak tahu siapa dia?” tanya Isna.

“Tidak ada data mengenai dia. Arczre, Panggilannya Arci, seorang anak SMA usia 17 tahun. Hobinya traveling, hiking, bersepeda, membaca. Prestasi olahraga mendapatkan tiga kali medali emas kejuaraan beladiri pencak silat. Dia murid padepokan Silat Taring Harimau Putih. Selain ia ahli beladiri tak ada yang spesial dari dirinya,” Rasyid tampak sibuk dengan ponselnya menyelidiki tentang Arczre.

“Menurutku lebih daripada itu, tatapan matanya seperti matamu. Tajam, menyelidik dan menusuk.”

“Lakukan apa saja kalau sampai ia menghalangi tujuanmu.”

Isna menggeleng, “Ia tidak seberbahaya itu, hanya saja dia menjengkelkan. Aku yakin ada sesuatu pada dirinya yang sangat mengerikan, aku berani bertaruh itu.”

“Mengerikan?” gumam Rasyid.

“Dia seperti seekor macan yang sedang tertidur.”

Arci menoleh ke arah kedua bersaudara itu dari kejauhan. Rasyid dan Isna pura-pura membuang muka seperti saling berbicara.

“Sepertinya dia berbahaya,” kata Rasyid.

“Kita harus waspada. Dia bukan pemuda biasa,” kata Isna menyetujuinya.

****

“Hai Isna?!” panggil Ratri.

Isna menoleh ke arah Ratri, “Ya?”

“Mau bareng?” Ratri menongolkan kepalanya dari dalam mobilnya. Mobil mewah, tentu saja. Dia adalah anak seorang menteri. Lebih tepatnya menteri Pertambangan dan Energi, Erwan Wibisono.

“Boleh,” Isna langsung menanggapi. Ratri membukakan pintu mobilnya kemudian Isna masuk.

“Waah, mewah ya mobilnya,” kata Isna.

“Iya dong, kamu tinggal di mana?” tanya Ratri.

“Di Apartemen HG,” jawab Isna.

“Wah, gilak. Mahal apartemen lho itu!”

“Iya, aku memang tinggal di sana. Ayahku yang menyewakannya untuk kami.”

“Waaah…iya juga sih anak konsulat pasti juga banyak duitnya, hehehehe. Ya udah, jalan aja pak!” Ratri memerintahkan sopirnya untuk melajukan mobilnya. Dalam hitungan detik mobil sudah melaju membelah aspal.

Sementara itu Arci tampak sedang berdiri bersandar di tiang listrik sesaat kemudian seorang cewek menghampirinya.

“Arciiiiiiiiii!” seru cewek itu. Namanya Riska. Ada hubungan khusus antara dia dan Arci.

“Nggak usah lari kenapa? Toh aku nggak bakal lari juga,” ujar Arci.

“Hehehehe, iya dong bodyguard nggak boleh ninggalin majikan. Yuk?!” Riska langsung menggandeng Arci begitu saja.

“Lepaskan!” kata Arci sewot.

“Iddiiiiiihh….sewot banget. Aku bakal aduin ke papa biar tau rasa lo!”

Bukan masalah nggak boleh menggandeng, karena Arci itu risih dengan dada si Riska yang menempel ke bahunya. Kenyal-kenyal gimana gitu.

“Gandeng yang wajarlah, masa’ sampe itu lo juga nempel?” kata Arci.

“Ohh…, enak kan? Kenyal-kenyal gimana gitu?” Riska malah makin menempelkan dadanya ke bahu Arci dan menggesek-geseknya. Arci mengambil sapu tangan dan memegang hidungnya. CROTT! Ia mimisan.

“Hahahahahahahaha!” Riska tahu kalau Arci itu bakal mimisan kalau diperlakukan seperti itu. “Lo itu masih aja polos ya? Jangan-jangan bener selama ini lo belum punya pacar. Hahahahahaha.”

Digoda seperti itu wajah Arci memerah. “Udah ah, bodo’. Pulang nggak nih? Aku tinggalin.”

“Iya, iya, sewot amat. Sinih aku bersihin!” kata Riska. Dengan telaten Riska membersihkan darah yang keluar dari hidungnya Arci. Setelah bersih mereka pun berjalan beriringan.

“Bagaimana kabar papamu?” tanya Arci.

“Yah, tahu sendirilah gimana papa. Jadi seorang menteri, apalagi menteri pertahanan pasti banyak kerjaannya ngurus pertahanan negara. Jarang di rumah, makanya dia menyewamu. Selain ia kenal ayahmu, kamu juga orang yang sangat dikenal ayahku dalam pekerjaanmu,” jawab Riska.

“Kamu harusnya bersyukur punya papa seperti Pak Ruslan. Dia orang yang berwibawa dan tegas dalam bertindak. Mendidik anak-anaknya untuk selalu disiplin.”

“Tapi aku nggak suka, papa nggak pernah perhatian kepadaku. Sibuk terus, mungkin kalau anaknya hilang pun papa nggak peduli.”

“Jangan gitu dong, papamu juga nyewa aku bukan karena tidak peduli. Justru karena beliau peduli makanya menggunakan jasaku.”

“Mungkin karena ia tak peduli, ia pun menyerahkan putrinya kepada orang lain. Sama aja kan? Udah ah, jangan bahas papa lagi.”

Mereka berjalan sampai ke halte bus Trans Jakarta. Menggesekkan kartu kemudian ikut mengantri bersama para penumpang lainnya. Para penumpang memenuhi halte itu. Dan ketika bus Trans-J datang, mereka pun satu per satu masuk ke dalam. Arci mengambil tempat duduk untuk Riska. Mendapatkan perlakuan istimewa itu Riska tersenyum. Arci berdiri dan berpegangan, Riska tersenyum melihat Arci yang selalu menjadi bodyguardnya itu.

“Hmmm? Kenapa lihat-lihat terus?” tanya Arci.

“Nggak apa-apa, seneng aja lihat kamu,” jawab Riska sambil nyengir.

“Aneh.”

Setelah setengah jam kemudian mereka pun sampai. Arci dan Riska turun di sebuah pemberhentian protable. Begitu keluar Arci tiba-tiba memegang pergelangan tangan seseorang.

“Adududududuh!” orang itu langsung meringis kesakitan karena pergelangan tangannya diputar oleh Arci. “Ampun! Ampun! Ampun!”

“Arci ngapain kamu?!” tanya Riska. Semua orang pun keheranan melihat pemuda ini melakukan hal itu.

“Dia mau megang bokongmu!” ujar Arci.

“Beneran?” tanya Riska.

“I…iya. Iya..maaf, maaf, lepasin! Lepasin!” kata lelaki yang dipelintir tangannya itu.

“Woo…dasar mata keranjang, tampar aja itu!” seru beberapa penumpang.

Arci mendorongnya hingga lelaki itu terjerembab. Ia kemudian segera lari dari tempat itu. Riska senyum-senyum sendiri melihat sikap Arci.

“Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Arci.

“Kamu emang pahlawanku,” jawab Riska.

“Udah ah. Pulang nggak nih?” tanya Arci.

Riska hampir saja merangkul lengan Arci lagi, tapi Arci segera menghindar.

“Ayolah Ci, aku kepengen gandeng lenganmu lagi!”

“Stok sapu tanganku habis!”

“Hihihihihi.”

***

Rasyid mengikuti Jefri dari jauh. Anak ini cukup mudah untuk diikuti, terlebih karena anak ini tak mempedulikan sekitarnya. Ia jalan dengan seenaknya, bertingkah seenaknya. Ia habiskan siang itu di Timezone, setelah itu nongkrong di salah satu tempat bersama anak-anak punk. Ia kemudian membeli bunga dan makanan kecil kue bikang dan kue pukis, kemudian sore harinya pergi ke rumah sakit.

Rumah sakit? Apa yang dilakukannya di sini? pikir Rasyid.

Karena tertarik ia pun mengikuti Jefri hingga masuk ke rumah sakit. Di dalam rumah sakit Jefri menuju ke sebuah kamar. Di dalam kamar itu ada Jefri yang sedang mengelus-elus tangan seorang wanita paruh baya dan tampak sakit-sakitan. Bunga yang tadi dibelinya sekarang sudah mengisi di sebuah vas bunga yang ada di meja.

“Kamu uda pulang sekolahnya Jef?” tanya wanita tua itu.

“Iya, aku sudah pulang, sengaja menjenguk ibu di sini,” jawab Jefri.

“Oh, begitu. Rajin belajarnya kalau gitu,” kata ibunya. “Bagaimana kabar ayahmu?”

“Tak usah dihiraukan itu si tua bangka. Aku saja tak sudi sebenarnya menyandang status sebagai anaknya.”

“Hei, jangan begitu. Tidak baik Jef! Dia juga ayahmu!”

“Ayahku tidak akan pernah meninggalkan ibuku dan menikah dengan wanita lain.”

“Kamu tahu sendiri bagaimana kondisi ibu kan nak? Makanya ibu ijinkan ayahmu menikah lagi.”

“Aku tetap tidak terima. Sudahlah bu, nggak usah bahas ayah. Hari ini ibu sudah makan? Ini Jefri belikan makanan kesukaan ibu, kue bikang dan pukis,” kata Jefri sambil menyerahkan bungkusan makanan kecil yang tadi ia beli.

“Jef, nggak perlu repot-repot. Ibu tadi juga sudah makan koq.”

“Inikan kesukaan ibu, Jefri suapin yah,” kata Jefri sambil membuka bungkusan makannya.

Sang ibu tersenyum sambil mengangguk. Rasyid yang melihat itu semua dari kamar tertegun dengan sikap Jefri. Ternyata dibalik sifat pendiam dan urakannya ia sangat menyayangi ibunya. Rasyid jadi teringat kepada orang tuanya yang dibunuh oleh orang-orang Zaidiyah. Semenjak mereka menguasai Yordania, mereka terus mendesak dan membantai orang-orang Kurdi hingga tersisa sedikit bahkan mungkin Rasyid dan Isna adalah orang-orang Kurdi terakhir.s Kalau saja kehidupan mereka damai mungkin ia bisa memberikan kasih sayang kepada ibunya.

Rasyid kemudian meninggalkan tempat itu, ia pergi dari rumah sakit dan menunggu Jefri di luar. Lima belas menit kemudian Jefri pun keluar dari rumah sakit.

“Yo Jefri!?” sapa Rasyid.

“Kamu? Siapa?”

“Aku teman sekelasmu. Nggak ingat?”

“Oh, anak baru. Ada apa?”

“Kamu dendam dengan ayahmu ya?”

Jefri mengerutkan dahinya. “Apa urusanmu? Pergi sana!”

“Kalau kamu memang dendam kepada ayahmu. Aku bisa menjadi temanmu untuk mengabulkan permintaanmu itu.”

“Aku tak butuh bantuanmu. Emangnya kamu ini siapa?”

“Kamu hanya perlu tahu namaku. Rasyid. Kalau kamu ingin membunuh ayahmu, aku bsa membantumu. Kamu lihatlah, keadaan ibumu yang seperti itu di rumah sakit, sedangkan ayahmu malah bersenang-senang dengan wanita lain.”

“Cukup! Aku tak mau mengungkit-ungkit hal itu!”

“Katanya kamu dendam dengan ayahmu bukan? Aku memberikan kesempatan ini untukmu. Tenanglah, aku tak ingin minta imbalan apapun. Kamu bisa percaya kepadaku.’

Jefri terdiam. Dia benar-benar penasaran dengan Rasyid. “Katakan siapa kamu sebenarnya!?”

“Aku boleh dibilang, satu-satunya orang yang mampu mengabulkan permintaanmu. Bagaimana?”

Jefri pun berkata, “Ya, aku ingin sekali bisa membunuhnya, aku ingin sekali ia mati.”

“Baiklah, besok kita akan bekerja,” ujar Rasyid. “Kalau begitu, kita berteman?”

Rasyid mengulurkan tangannya sambil tersenyum.

“Aku tak tahu apa yang akan kamu lakukan, tapi kalau itu agar ayahku mati, ayo kita lakukan!”

Jefri tidak mengerti apa yang akan Rasyid lakukan. Tapi mereka punya satu tujuan yang sama menghabisi nyawa seseorang yang sama. Sang serigala mulai bergerak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*