Home » Cerita Seks Kakak Adik » Wolf Of Desert Bab 1

Wolf Of Desert Bab 1

PROLOG

Dunia yang luas. Siapa sangka di salah satu belahan bumi ada seorang anak membawa senjata AK-47. Berjuang melawan maut. Bertahan hidup dari ganasnya perang. Dialah Rasyid, anak terakhir dari suku Kurdi. Sejak usia sepuluh tahun dia sudah menenteng senjata. Baginya peluru, mortar, granat, RPG adalah santapan dia sehari-hari. Sejak kecil ia hidup dengan keras, ia sudah tak lagi muntah melihat darah, tak jijik melihat belatung yang mengerubuti mayat-mayat, bahkan terkadang ia pun memakan potongan-potongan mayat itu untuk bertahan hidup.

Rasyid hanya punya seorang saudari. Dia bernama Isna. Apapun selalu berbagi dengan Isna. Berbagi tempat tidur, berbagi makanan, berbagi nafas. Sudah menjadi adat bagi bangsa Kurdi bahwa anak-anak mereka harus menutupi diri mereka dengan kerudungnya, Isna selalu ta’at. Namun bukan berarti ia lemah. Sejak kecil ia seperti saudaranya, tak takut dengan darah, tak takut dengan desingan peluru, bahkan menyembelih manusia sudah ia lakukan semenjak kecil. Dan saudaranyalah yang mengajarinya.

Angin gurun menerpa tenda-tenda para musafir. Mereka mendirikan tenda malam ini, namun sepertinya angin gurun tidak bersahabat. Dari kejauhan tampak gelombang badai gurun mulai datang. Dalam sekejap semua orang terkena badai gurun, onta-onta mereka menderum, kuda-kuda mereka tidak tenang mengeluarkan suara-suara risih.

“Kak, badai gurun akan tiba sebentar lagi,” kata Isna di mulut gua menyaksikan badai gurun yang mendekat ke arahnya.

Rasyid dan Isna berada di sebuah gua, tak jauh dari gerombolan musafir itu. Beruntung keduanya menemukan gua. Padahal jaraknya dengan para musafir itu tak seberapa. Hanya terpaut beberapa mil.

“Masuklah!” kata Rasyid.

Isna pun masuk ke dalam gua. Sekejap kemudian gua itu pun dihantam angin yang mengangkut debu-debu dan pasir. Rasyid menyalakan api unggun, kemudian Isna masuk ke dalam pelukannya. Sang kakak kemudian memberikan selimut tebal. Malam di gurun hawanya sangat dingin, berkebalikan dengan siangnya yang panas. Isna pun tidur dalam pelukan kakaknya.

Dalam balutan selimut itu Rasyid memasukkan tangannya ke dalam baju adiknya. Mengelus-elus perut adiknya, lalu kemudian bergerilya ke buah dada adiknya yang sekal. Hampir tiap kali mereka tidur, sang kakak melakukan hal itu. Isna diam saja. Baginya ia sangat percaya kepada kakaknya. Ia tahu kakaknya butuh kehangatan, ia juga. Walaupun mereka bersaudara, tapi mereka saling membutuhkan kehangatan. Kehangatan fisik, maupun kehangatan tabu yang seharusnya tidak mereka sentuh.

Tanpa ragu Rasyid menciumi bibir Isna yang menggemaskan itu. Bukan pertama kalinya Rasyid menikmati bibir adiknya itu. Dan bukan pertama kalinya Isna menerima ciuman birahi kakaknya. Bahkan Isna pun membalas dengan panggutan yang dalam. Dibelainya wajah sang kakak, dielusnya. Sang adik pun memejamkan mata membiarkan kakaknya menyentuh tubuhnya.

“Isna, tidurlah. Besok perjalanan kita panjang,” kata Rasyid. “Aku kasihan kalau besok kamu akan kelelahan.”

Isna mengangguk. Mereka berciuman lagi sebelum tidur. Malam itu mereka saling memeluk, memberikan kehangatan. Isna tahu kakaknya sangat perhatian kepadanya, maka dari itulah ia tak akan mengecewakan kakaknya.

Pagi pun menjelang, badai sudah berhenti. Para musafir itu sudah mulai berbenah untuk pergi meninggalkan tempat mereka kemah. Rasyid sudah terbangun dari tadi. Dia mengambil sebuah ponsel di sakunya, membuka sebuah gambar. Ada gambar seseorang. Rasyid kemudian memakai teropongnya dan melihat orang itu ada di sana.

“Sudah ditemukan orangnya, sesuai dengan permintaan klien. Kita tak salah,” kata Rasyid.

“Perlu aku bantu?” tanya Isna.

“Kamu di sini saja,” kata Rasyid. Ia mencium bibir adiknya lagi.

“Hati-hati kak,” katanya.

Rasyid segera berlari meninggalkan adiknya seorang diri. Di tubuh Rasyid tersimpan banyak senjata. Dua golok di punggungnya, karambit di kedua pinggangnya dan pistol di baju bagian depan. Selagi mereka membereskan tenda Rasyid sudah menyerbu. Ia langsung menghunuskan goloknya dan membabat kepala sang target. Orang-orang ketakutan, beberapa di antara mereka melawan Rasyid, tapi Rasyid terlalu tangguh bagi mereka. Setelah selesai membunuh, Rasyid mengambil gambar korbannya dengan ponsel. Kemudian dia mengirim gambarnya ke klien.

Sebuah pesan masuk.

“Congrats, assigment done. Money Transfered!” kata pesannya.

Dengan langkah santai, Rasyid meninggalkan para musafir itu. Ia tak tahu apa salah orang itu sampai ia bunuh. Dia hanyalah seorang pembunuh bayaran sekarang. Pembunuh nomor satu saat ini. Rasyid dan Isna dikenal dengan sebutan Serigala Gurun.

BAB I

THE CITY and THE SCHOOL

“Ini kamarnya,” kata Pak Romi penjaga apartemen. “Dan ini kuncinya.” Diserahkannya kepada Rasyid sebuah kunci apartemen.

“Makasih pak,” kata Rasyid.

“Orang tua kalian menyerahkan kalian kepada bapak. Uangnya juga banyak. Bapak jadi nggak enak. Apalagi langsung dibayar sampai setahun. Kerja di mana orang tua kalian tadi?” tanya Pak Romi.

“Konsulat,” jawab Isna singkat.

“Oh iya, ya sudah. Bapak tinggal dulu,” kata Pak Romi. Orang separuh baya ini melirik ke arah Isna beberapa saat sebelum pergi.

Rasyid memutar kuncinya dan membuka pintu kamar sambil menyeret koper. Isna membantunya. Setelah masuk mereka berdua langsung berebut untuk ambruk ke atas ranjang.

“Ahhh, akhirnya ada tempat tinggal juga,” kata Rasyid.

“Aku tak suka cara Pak Romi menatapku,” ujar Isna.

“Kenapa?”

“Tatapan matanya seolah mengatakan bahwa aku ini wanita murahan. Aku boleh bunuh dia kak?”

“Jangan, kalau sampai dia mati kita bisa kena batunya.”

“Kalau dia macam-macam dengan aku, aku bisa bunuh dia kan?”

“Lakukan sepuasmu.”

Isna beringsut menindih tubuh kakaknya. Ia menciumi bibir kakaknya. “Aku cuma cinta ama kakak, tubuhku milik kakak. Hmmmhhh…”

Rasyid mengusap kepala adiknya yang tertutup kerudung. Ia lalu melingkarkan tangannya ke punggung sang adik.

“Kak, Isna siap hari ini,” kata Isna.

“Siap?”

“Iya, Isna mau berikan keperawanan Isna buat kakak.”

Rasyid mengerutkan dahi, “Kenapa?”

“Sebab hari ini Isna tujuh belas tahun.”

“Oh, kamu ulang tahun hari ini? Aku lupa.”

“Kakak mau kan? Aku ingin bisa merasakan itu kak. Ya?”

“Belum saatnya Isna, kita masih ada tugas. Kalau tugas kita selesai, terserah deh kamu mau apa.”

“Kakaaaak…dari dulu Isna sudah ingin, kenapa kakak nggak mau?”

Isna lalu ngambek dan membiarkan kakaknya sendiri berbaring di atas ranjang. Rasyid hanya mendesah. Tujuannya ada di kota ini adalah dia mendapatkan tugas untuk menghabisi lima pejabat. Karena tugas ini sangat berat bayarannya pun sangat mahal. Kota ini adalah kota Jakarta. Tempat di mana berputar, semua kehidupan dari yang kaya dan miskin berpadu, bertemu dan saling sikut. Orang yang kuat yang menang, yang kaya yang dihormati. Apartemen ini mampu disewa oleh Rasyid dari uang yang ia miliki.

Rasyid sudah mengurus semuanya. Ia harus tampak seperti seorang anak remaja pada umumnya. Ia akan masuk ke sekolah bersama Isna. Sebenarnya ia sudah berjanji kepada Isna dulu tak akan merobek keperawanan Isna sampai usia tujuh belas. Tapi agaknya ia tak tega. Banyak hal yang ia takutkan, seperti bagaimana kalau nanti ia bisa punya anak dari adiknya sendiri? Bagaimana kalau anaknya tahu bahwa ayahnya seorang pembunuh berdarah dingin. Tapi ia melakukan ini karena memang keahliannya di bidang ini.

Mereka sudah mendaftar di sebuah sekolahan elit di kota ini. Hal itu semata-mata mereka lakukan untuk bisa dekat dengan target yang kebetulan anak-anak targetnya ada di sekolah itu. Sangat tepat untuk membaur.

Rasyid bergegas untuk membuka kopornya. Ternyata kopor itu bukan kopor biasa. Di dalamnya memang ada beberapa pakaian. Namun ada sebuah kotak hitam besar. Ia pun mengambilnya. Dibukanya kotak itu. Tampaklah beberapa potongan senjata rakitan. Ada peluru-pelurunya, ada magazinenya. Ada pistol glock, ada sniper rifle yang masih berantakan. Rasyid pun memasang-masangkan senjata itu ke tempatnya.

Tangan Rasyid sangat terampil, tentu saja. Dia sudah berpengalaman. Dalam waktu singkat ia sudah membentuk sebuah pistol glock. Dan sebuah Magnum sniper rifle. Sang adik, Isna tampak berada di dapur sambil bernyanyi. Rasyid meletakkan mainannya dan berjalan ke dapur.

Isna masih sewot. Ia memalingkan wajahnya dari Rasyid. Rasyid dengan mesra memeluk adiknya dari belakang.

“Kakak masih belum siap, nanti akan kakak beritahukan kapan. Tapi tidak sekarang ya. Hari ini kamu mau apa selain itu? Kakak akan berikan,” kata Rasyid.

“Isna nggak ingin apa-apa,” kata Isna.

“Apa kamu mau mengambil kredit dari First Target?”

Isna menoleh ke kakaknya. “Boleh?”

Rasyid mengangguk.

“Ohh…kakakku sayang,” Isna mencium bibir kakaknya. “Kenapa aku nggak bisa marah kepada kakak ya?”

Rasyid hanya tersenyum saja.

“Karena aku sayang ama kakak.”

****

Sekolah. Rasyid tidak pernah sekolah. Semua pelajaran tentang dunia ini ia dapatkan dari membaca. Membaca apa saja. Koran, majalah, internet. Tapi sekalipun begitu Rasyid ini anak yang jenius. Ia bisa memalsukan identitasnya sehingga seperti anak SMA pada umumnya. Mempunyai orang tua yang bekerja di sebuah konsulat. Sejak kecil ia sudah pintar komputer, senjata, dan berbagai peralatan membunuh lainnya. Sama seperti adiknya. Mereka berdua tak terpisahkan.

Sekolah ini cukup besar. Ketika Rasyid pertama kali masuk, banyak anak-anak yang bertanya-tanya siapa dia? Dia dan adiknya bergandengan tangan. Cukup erat sang adik menggandeng kakaknya.

“Isna, kelasmu di sana. Aku di sana,” kata Rasyid sambil menunjuk ke dua arah.

Isna tersenyum. Dia rapikan kerudungnya dan berjalan dengan tenang menuju kelasnya. Aku juga berjalan menuju kelasku.

“Moon, tunggu!” seru suara seorang pemuda yang mengejar seorang cewek berambut merah dengan wajah oriental.

“Eh, ngapain itu Hiro ngejar Moon?” beberapa anak tampak mengomongkan mereka berdua.

‘Ah, biarin Bukan urusanku,’ pikir Rasyid.

Rasyid berada di depan kelas. Benaknya berpikir tentang banyak hal. Tentang target-targetnya. Dia melihat wajah-wajah siswa itu ada dua orang yang dikenalnya? Dua anak targetnya. TEEEETTTTT….bel sekolah berbunyi. Rasyid masih di luar kelas, hingga sesosok guru laki-laki datang menghampiri.

“Murid baru? Oh iya, Rasyid ya? Mari masuk,” katanya

Rasyid pun masuk.

Setelah memberi salam kepada guru kemudian guru tersebut memperkenalkan tentang murid baru.

“Anak-anak kita ada murid baru namanya Rasyid dari Yordania. Ayahnya adalah seorang konsulat di sini. Baik-baik ya,” kata guru wali kelas.

“Perkenalkan namaku Rasyid.”

Beberapa anak tampak tertegun dengan Rasyid. Dia melirik kiri kanan dan mendapati sebuah meja yang kosong.

“Nak Rasyid silakan duduk di sana. Kita akan mulai pelajarannya,” kata Pak Guru.

Rasyid berjalan ke arah meja kosong itu. Tepat di sebelah target. Bagus, pikirnya. Mimik Rasyid berubah. Ia lebih banyak menampilkan senyum.

“Hai?!” sapa Rasyid.

“Hai, juga. Wah, bahasa Indonesiamu lancar ya?” kata sang target.

“Kamu siapa?” tanya Rasyid.

“Namaku Anton, salam kenal,” kata sang target. Cukup terkejut Rasyid ternyata Anton anaknya cukup baik.

“Namaku Iwan,” kata anak di depan Rasyid.

“Aku Joyce,” kata seorang cewek di belakang Rasyid.

“Aku Inge,” kata cewek lagi di depannya Anton.

“Semoga betah ya, aku Marisa,” kata seorang cewek yang ada di sebelah Iwan.

Rasyid tersenyum dan menampakkan keramahan. Berbeda dengan dirinya yang sebenarnya adalah pembunuh berdarah dingin. Rasyid tetap ingat tujuannya, mendekati anak menteri. Dia sudah ketemu dengan target pertama Anton dan seorang lagi yang belum ia ajak kenalan karena duduknya jauh. Tapi Anton tahu namanya, namanya Jefri.

Dari apa yang dia ingat Anton ini anaknya baik, suka bergaul easy going. Tidak seperti Jefri, pendiam dan tidak mudah berbaur. Dari kedua orang ini yang paling susah didekati adalah Jefri. Jefri termasuk orang yang sedikit nakal dan urakan. Dia akan melakukan apapun demi tujuannya. Bahkan Jefri sendiri dikenal mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Hanya Rasyid yang tahu hal ini, mungkin.

Sementara itu hal yang sama terjadi juga kepada Isna.

Isna masuk ke dalam kelas. Sang guru bernama Bu Wida memperkenalkan Isna.

“Anak-anak kita ada murid baru, namanya Isna,” kata Bu Wida. “Dia dari Yordania, ayahnya kerja di konsulat. Silakan perkenalkan diri.”

“Pagi, namaku Isna. Isna aja. Salam kenal,” kata Isna dengan senyumannya yang manis.

Tampak anak-anak cowok terperangah, seolah-olah mereka baru saja menemukan oase di padang pasir.

“Duduk sama gue aja sini!” kata seorang cowok yang duduknya di pojokan.

“Sama gue aja!” seru yang lain.

“Huuuu enak di elu, aku juga mau!” seorang murid cowok yang lain juga menimpali.

Isna memasang tampang malu-malu. Tampak murid-murid cewek nggak suka dengan hal ini. Mereka menatap tajam ke Isna.

“Isna tuh duduk di bangku nomor dua itu ya. Di sebelah Arci,” kata Bu Wida.

“Makasih bu,” kata Isna. Dia kemudian duduk di bangku nomor dua yang memang kosong. Seorang anak lelaki tak memperhatikan dirinya. Pandangan Isna menyapu seluruh ruangan. Ada tiga target di dalam kelasnya. Mereka adalah anak-anak pejabat yang memang menjadi targetnya. Dua anak cewek, satu anak cowok. Hanya saja Isna sedikit merasa aneh aneh kepada Arczre. Anaknya pendiam. Tak meliriknya sama sekali, sibuk dengan bukunya.

Arczre pun melirik ke arahnya. Tatapan mata Arczre tajam, seperti menyelidik. Isna sedikit takut. Tatapan mata itu persis seperti mata kakaknya. Tajam, menusuk dan menyelidik hingga hati seseorang akan mengatakan kejujuran kepadanya.

“Labaik yaa Urdun,” kata Arczre.

“Syukran,” balas Isna. Terkejut karena Arczre berkata dengan bahasa arab.

Setelah itu ya sudah, itu saja. Arczre panggilannya Arci, cowok yang berada di sebelahnya ini sangat misterius. Ada sesuatu yang tidak biasa pada diri Arczre. Namun hal itu yang membuatnya seperti tertarik oleh magnet. Tapi ia harus ingat tujuan dia ke sini. Mendekati anak-anak targetnya dan membunuh mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*