Home » Cerita Seks Kakak Adik » Wolf Of Desert Bab 3

Wolf Of Desert Bab 3

BAB III: FIRST TARGET

Untuk menemui ayah Jefri yaitu Profesor Kemal Silalahi menteri Riset dan Teknologi, tidaklah mudah. Ada lima menteri yang memang diberlakukan secara khusus. Mereka adalah Menteri Pertambangan dan Energi, Menteri Pertahanan, Menteri Riset dan Teknologi, Menteri Pendidikan, dan Menteri Pertanian dan Industri. Kelima menteri ini oleh presiden diberlakukan secara khusus yaitu dengan penjagaan yang ketat daripada menteri-menteri yang lain. Ada sebuah proyek yang masih misteri dan pemerintah menyembunyikan ini secara khusus. Itulah kenapa kelima menteri ini lebih dijaga daripada yang lainnya.

Rasyid dan Isna ditugaskan untuk menghabisi mereka dengan cara mendekati anak-anak mereka agar mempermudah jalan mereka untuk menghabisinya. Hal itu dikarenakan satu, karena di dekat kelima menteri itu ada sebuah pasukan khusus yang memang tugas mereka adalah untuk melindungi mereka. Namanya adalah Tangan Malaikat. Tangan Malaikat sudah dikenal di dunia sebagai pasukan pelindung terkuat bahkan keberadaan mereka hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja. Presiden menggunakan jasa pasukan ini untuk melindungi orang-orang penting di negeri ini. Sejak kerusuhan dan serangan teroris beberapa waktu lalu terhadap orang-orang penting, keberadaan pasukan khusus ini diperlukan. Siapa sangka Rasyid mendekati target dengan cara halus agar tidak berurusan dengan mereka.

Besoknya Rasyid dan Jefri mulai dekat. Mereka saling mengobrol dan tentu saja hal itu membuat teman-temannya merasa aneh, karena tahu bahwa Jefri itu anaknya pendiam dan suka menyendiri. Begitu jam pelajaran selesai Rasyid menemui Isna sejenak.

“Bagaimana kak?” tanya Isna.

“Aku hari ini bergerak. Bagaimana denganmu?”

“Masih belum bertemu dengan target. Tapi Ratri tampaknya anak yang baik. Aku ingin pergi ke rumahnya hari ini.”

“Semoga kamu bisa melakukannya,” Rasyid menyentuh pipi adiknya. Isna mengusap dada kakaknya yang bidang. Setelah itu keduanya pun berpaling mereka punya tujuan masing-masing.

Jefri menunggu Rasyid di gerbang sekolah.

“Siap?” tanya Rasyid.

“Aku sudah tidak sabar, ayo!” kata Jefri.

Dari kejauhan Arci melihat keduanya berjalan bersama menuju ke sebuah mobil yang terparkir di luar sekolah. Penasaran tentu saja, tak biasanya Jefri menggunakan mobil apalagi dekat dengan Rasyid. Pikirannya menerawang jauh, apa yang sebenarnya terjadi.

“Arciiiiii!” terdengar lagi suara Riska, langsung saja Riska memeluknya dari belakang. BRUK!

“Aduh!” Arci mengaduh ketika punggungnya bertemu dengan badannya Riska. Dia saat itu menenteng ranselnya seolah-olah sudah siap aja kalau Riska memang akan memeluknya.

“Kamu tas ranselnya koq ditenteng aja? Emang sengaja ya biar kena ini?” Riska kembali menggesek-gesekkan payudaranya ke punggung Arci. Kembali lagi sensasi kenyal-kenyal gimana gitu terasa. Dan seperti biasa hal itu menyebabkan aliran darah ke otaknya lebih cepat hingga menembus dinding pembuluh darah di hidungnya. Sudah bisa dipastikan tahu apa yang terjadi.

CROOOTT! Mimisan lagi. Arci pun memegangi hidungnya.

“Hahahahahahaha, kamu ini emang cowok langka yang bisa masuk ke MURI. Digituin aja mimisan, gimana kalau disuruh pegang?” goda Riska.

“Kalau aku nggak nenteng tasku, ntar dadamu sakit kena ranselku!” kata Arci. “Kaya’ nggak tahu aja polahmu.”

Arci membersihkan hidungnya dengan tissue yang ia bawa. Riska ikut membantu membersihkan hidungnya. Setelah itu mereka berjalan beriringan. Tapi selama perjalanan pulang mereka tampak hanya diam saja.

“Marah nggak?” tanya Riska.

“Nggak.”

“Tapi koq diem terus sih?”

“Aku khawatir ama suatu hal.”

“Apa?”

“Sepertinya sebentar lagi sesuatu akan terjadi.”

“Ah, kamu ini insting detektifmu itu terlalu tajam. Yang santai aja dong!”

“Kalau tidak tajam aku mana bisa melindungi dirimu.”

“Oh iya ya, hihihihi.”

Arci mendongak ke langit. Ia melihat kumpulan awal yang bergerak. “Awan mulai bergerak ke arah yang salah. Sebentar lagi akan ada orang yang mati.”

“Ah, kamu ini ngomong apa sih?”

“Pulang yuk, aku nggak mau gara-gara kamu aku mimisan lagi.”

“Eh, kita jalan-jalan dulu yuk! Please! Ya ya ya?”

“Nggak, aku nggak mau. Nanti bisa dimarahi papa kamu lagi. Lagian di ranselmu ada GPS, papamu bisa melacak keberadaanmu dengan itu.”

“Biarin ajalah, aku yang akan marahi papaku. Aku telpon sekarang aja kalau gitu.”

Riska mengambil ponselnya dan menekan sebuah nomor. Kemudian tersambung.

“Papa? Aku mau jalan-jalan dulu. Arci akan mengawalku.”

Arci menghela nafas.

“Iya, dia ada di sebelahku koq. Nggak pecaya amat sih. Boleh?…..OK. Dah papa,” Riska tersenyum. “Naah, boleh kan? Yuk?!”

“Jangan pegang tanganku lagi!” kata Arci yang sudah bersiap untuk menghindar.

“Nggak deh, nggak deh!” kata Riska. Tapi ia tetap menggeret tangan Arci untuk pergi.

Siang itu mereka habiskan untuk jalan-jalan ke mall. Riska mencoba mencari pernak-pernik, aksesoris dan buku. Tapi sampai berputar-putar nggak satu pun di beli. Hal itu membuat Arci sedikit gusar bahkan tidak suka. Ia berputar-putar tanpa tujuan yang jelas, itulah yang membuat dia kesal.

“Udah yuk, dari tadi muter-muter nggak jelas,” kata Arci.

“Halah Ci, ayolah. Lo nggak kepingin beli? Aku beliin deh,” ujar Riska.

“Nggak ah. Aku nggak kepengen apa-apa.”

“Huu, dasar Arci. Oh iya, kamu nggak ada Kompetisi lagi ya?”

“Sementara ini belum ada. Kompetisi biasanya bulan Juni atau Agustus. Kenapa?”

“Yah, jadi kepengen lihat lagi dong. Kan aku yang bisa ngasih kamu semangat. Heheheh, wah bulan Juni ama Agustus ya? Lama banget.”

“Begitulah. Ada kompetisi antar propinsi, sama kompetisi memperebutkan piala gubernur.”

“Aku yakin kamu dapat juara satu lagi, jagoanku sih.”

“Yah, nggak jugalah. Aku saja nggak yakin koq kalau diriku bakal menang lagi kali ini.”

“Kamu itu merendah,” Riska memukul punggung Arci. BUK! “Tuh kaan? Punggungnya aja sekeras ini koq. Hehehehe.”

“Aku lapar, capek jagain kamu,” Arci pun berjalan menuju ke sebuah stand makanan.

“Eh, tunggu! Ikuut!” Riska beringsut menyusulnya.

***

Jefri berada di rumah ayahnya. Rumahnya bisa dibilang cukup besar. Begitu keduanya sampai, beberapa orang langsung memeriksa apa yang dibawa oleh Jefri dan Rasyid.

“Heh, anak sendiri saja diperiksa seperti ini? Brengsek benar tua bangka itu,” kata Jefri.

“Maaf Jef, ini sudah prosedur. Bapak memang memerintahkan kami untuk memeriksa siapapun yang akan masuk ke sini,” ujar salah satu pengawal yang memeriksanya.

Rasyid pun diperiksa. Setelah benar-benar bersih, mereka pun diijinkan masuk. Rasyid sangat waspada. Ia melihat pengawalnya ada di mana-mana. Semuanya bersenjata lengkap. Namun hanya satu orang yang membuat ia waspada. Seseorang yang berdiri di depan pintu. Bajunya memakai baju khusus, rompi khusus. Dia memakai kacamata, dari gerak-geriknya sepertinya ia berasal dari pasukan elit. Melihat Jefri dan Rasyid datang orang ini langsung menghentikan keduanya.

“Kamu mau apa?” tanya orang itu.

“Sugi, biarkan aku masuk. Aku mau bertemu dengan ayahku!” kata Jefri.

“Lalu urusan dia apa?” tanya Jefri sambil menoleh ke arah Rasyid.

“Dia temanku, kenapa?”

“Latar belakangnya? Siapa dia?”

“Hei, brengsek. Aku masih untung mau berkunjung ke tempat ayahku. Gara-gara cecunguk macam kalian ini pula aku nggak bisa menemui ayahku sendiri. HOI BANDOT TUA! KELUAR KAU!” Jefri berteriak.

“Kamu tahu sendiri ini prosedur, aku tak akan membiarkan siapapun mendekati Mentri. Terlebih keamanannya saat ini adalah prioritas utama. Ini demi keselamatan negara.”

“Persetan dan masa bodoh dengan itu semua. HEI BANDOT TUA INI JEFRI! KAMU MASIH ADA DI DALAM SANA?”

Tak berapa lama kemudian, pintu terbuka. Tampaklah seorang paruh baya wajahnya bulat membuka pintu. Melihat Jefri ia sumringah.

“Oh, Jefri. Sugi, biarkan ia masuk!” katanya.

“Pergi kau, brengsek!” kata Jefri sambil mendorong Sugi. Sugi bergeser beberapa langkah ke samping. Namun sejurus kemudian ia langsung menghalangi Rasyid untuk masuk.

“Itu temenmu?” tanya sang ayah.

“Iya, temenku kenapa biarkan saja dia masuk.”

“Maaf, aku tak bisa. Kamu saja ayo nak masuk!”

“Ayah itu sudah berubah, sama anak sendiri saja perlakuannya seperti ini? Aku tak sudi ke sini lagi kalau begitu,” Jefri kemudian berpaling.

“Jef, tunggu! Sugi, biarkan dia masuk! Dia steril bukan?” tanya sang ayah kepada Sugi.

Sang pengawal mengangguk. Ia lalu melepaskan Rasyid. Akhirnya Jefri dan Rasyid diijinkan masuk. Ruang kerja yang besar dan berantakan, itulah yang ada di pikiran Rasyid ketika masuk ke ruangan ini. Banyak rak buku dan buku-buku yang berserakan di lantai. Tampak Sang menteri sedang melakukan sesuatu dengan komputernya.

“Ayah sedang ngapain?” tanya Jefri.

“Maaf maaf, ayahmu akhir-akhir ini tak punya waktu buatmu sebab, ada proyek yang harus ayah kerjakan. Dan proyek ini cukup memusingkan ayah. Bagaimana kabar ibumu?”

“Ibu keadaannya makin memburuk.”

Pak Kemal menoleh ke arah Jefri dengan pandangan merasa bersalah. Ia menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Kemudian pantatnya pun dia ambrukkan ke kursi. Matanya terpejam.

“Kenapa? Baru merasa menyesal sekarang?” tanya Jefri.

“Iya, kamu tahu sendiri apa yang terjadi,” kata Pak Kemal.

“Aku ke sini tidak untuk memberitahukan kabar ini ayah,” kata Jefri.

“Lalu, apa?”

“Aku ingin ayah mati.”

“Apa kamu bilang?”

“Iya, mati.”

Tampak Rasyid mendekat ke arah Pak Kemal dan langsung mengunci lehernya. Pak Kemal agak terkejut. Namun ia tersenyum, mengerti apa yang terjadi.

“Jadi begitu ya, baiklah. Aku ingin mengatakan satu hal sebelum kamu mencabut nyawaku nak. Aku masih mencintai ibumu,” kata Pak Kemal.

“Apa kamu bilang? Mencintainya? Jangan bercanda. Kamu gunakan itu hanya untuk berkelit dari kenyataan pahit bahwa kematian akan menghampirimu. Aku tidak akan memaafkan terhadap apa yang kamu lakukan kepada ibuku.”

“Aku tahu itu nak, aku tahu. Setidaknya aku melakukan semua ini tidak sia-sia. Aku bertahun-tahun belajar dan melakukan riset untuk menemukan obat ibumu. Dan sekarang aku hampir berhasil. Kami telah menemukan sebuah artificial yang bisa menormalkan kerja jantung ibumu. Paling tidak, aku telah berhasil melakukannya. Jadilah anak yang baik. Jagalah ibumu ya!”

Rasyid melakukan gerakan memutar lengannya dan KLUK! Ia mematahkan leher Pak Menteri. Tampak Pak Kemal membelalakkan matanya setelah nyawanya tercabut. Rasyid kemudian perlahan-lahan melepaskannya. Dia melihat Jefri yang berdiri mematung melihat itu semua. Ia sudah kehilangan ayahnya secepat itu.

“Kamu mau di sini dulu atau tidak?” tanya Rasyid.

“Aku ingin di sini dulu,” kata Jefri.

“Baiklah, aku akan membereskan yang di luar,” kata Rasyid. Ia mengambil sesuatu dari bawah sepatunya. Sebuah pisau kecil dengan lubang kecil yang dibuat sebagai pegangannya. Jari tengah Rasyid masuk ke lubang itu. Dengan langkah santai ia meninggalkan ruangan itu.

Begitu membuka pintu. Sugi yang tak siap langsung ditusuk lehernya oleh Rasyid. Rasyid memutar tangannya hingga leher Sugi terkoyak. Rasyid dengan cepat mengambil pistol yang ada di pinggang Sugi ketika bodyguard itu akan terjatuh menggelepar di lantai meregang nyawa. Dua orang pengawal yang melihat ulah Rasyid segera mengambil pistol mereka, tapi mereka kalah cepat.

Rasyid sudah melepaskan dua tembakan tepat mengenai mereka. Beberapa orang lainnya pun datang, Rasyid berlari ke arah mereka dan menembakinya. Tiga orang terkapar. Rasyid kemudian mengambil sesuatu dari ransel sekolahnya. Karet penghapus. Itu bukan karet penghapus biasa, tapi merupakan C4 kecil. Daya ledaknya tidak begitu besar tapi bisa menghancurkan sebuah mobil. Cara kerjanya cukup mudah, Rasyid tinggal memotongnya menjadi dua dan melemparkannya. Ada beberapa orang yang mendengar tembakannya, ia pun segera memotong karet penghapus itu dan melemparkan ke arah beberapa pengawal yang mendekat ke arahnya. BLAAAMM!

Sementara Rasyid sibuk dengan para pengawal menteri. Jefri tampak menangis di depan jasad ayahnya.

“Kenapa? Kenapa kamu lakukan itu ayah? Kenapa?” dia berlutut di hadapan ayahnya. Menyesali segala yang telah ia lakukan. Hatinya mungkin tersentuh dengan kata-kata terakhir ayahnya. Tapi tidak bagi Rasyid. Ia telah menyelesaikan satu misinya dengan mudah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*