Home » Cerita Seks Umum » Si Rambut Merah Bonus Part 3 (Selesai)

Si Rambut Merah Bonus Part 3 (Selesai)

BONUS CHAPTER

Last Chapter

NARASI MOON

Aku melihat suamiku di depan tv sambil melihat sebuah berita. Berita tentang Black Knight. Tentu tahulah siapa itu Black Knight. Pahlawan super heroes yang baru. Sebenarnya dia adalah Faiz jr. dengan memakai baju buatan Profesor Andy. Dia menjadi trending topic dimana-mana di Twitter, di Facebook. Bahkan action figured-nya dijual di pasaran dan disukai anak-anak. Anak-anak pun mengidolakan super heroes ini.

Sejak kejadian di KTT G-20 dunia berterima kasih kepada Black Knight. Dan Faiz jr masih menyembunyikan identitas sejati dari Black Knight. Hanya keluarga Hendrajaya saja yang tahu siapa Black Knight itu.

“Mas Faiz terkenal sekarang, sibuk banget dia pasti,” kata Hiro.

Aku menyuapi Ivan. Ia makannya lahap sekali.

“Kamu kepengen seperti kakakmu?” tanyaku.

“Ogah ah. Lagian dia buat baju itu dengan menjual seperempat perusahaan ayah. Gila banget. Jadi superheroes bukan pilihanku yah, walaupun aku akui Hyper Suit itu keren. Tapi kalau musuhnya masih nggak ada yang seimbang maka Mas Faiz itu tetap orang yang invicible. Nggak terkalahkan.”

“Ivan…enak ya? sampai habis ini.” aku memberikan suapan terakhir. Kemudian kuberikan botol susu kepadanya.

Aku menoleh kepada Hiro. Ia memperhatikanku sekarang sambil tersenyum.

“Kenapa senyam-senyum?” tanyaku.

“Hihihi…nggak apa-apa. Hanya takjub aja. Dari agen rahasia tiba-tiba bisa ngurus anak,” katanya.

Aku menjulurkan lidah. “Emangnya mentang-mentang aku jadi agen rahasia nggak bisa ngurus anak gitu? Aku pernah lho, ada misi yang menyamar jadi ibu-ibu. Dan itu pake anak beneran.”

Hiro menaikkan alisnya. Ia mungkin terkejut, karena aku tak pernah cerita. Tiba-tiba wajahnya berubah. Ia sepertinya baru saja menemukan sesuatu hal.

“Aha! Itu dia!” tiba-tiba ia beranjak dan langsung memelukku. “Makasih Moon. Mmmmuuuaaccch!” ia mencium keningku lalu pergi.

“Eh, kemana?” tanyaku.

“Ada urusan, oh ya mungkin minggu-minggu ini aku akan lembur,” katanya. ANeh. Dia lalu pergi keluar dan menyetir mobil. Dia tak memberitahu mau kemana.

Beginilah hari-hariku sekarang mengurusi dua orang anak di rumah. Aku jarang keluar. Paling juga kalau keluar pasti ditemani Hiro. Setiap hari hanya berada di halaman menanam bunga, merawat tanaman-tanaman. Dan pembantuku tugasnya membantuku mengurusi rumah, menyapu, mengepel dan membantu mengurusi Ivan. Han-Jeong sudah bisa mengurusi dirinya sendiri. Aku cukup lega. Ia juga tak rewel. Mendapatkan teman-teman baru di Indonesia membuatnya sangat semangat pergi ke sekolah. Terkadang juga beberapa temannya mampir.

Esoknya Hiro bertingkah lebih aneh, “Sayang, ukuran sepatumu berapa ya?”

“Buat apa?”

“Tanya aja sih.”

Aku mulai curiga.

“35,” jawabku singkat.

“Ukuran celana?”

“Lihat aja sendiri sana!”

Suamiku lalu masuk ke kamar. Tak berapa lama kemudian dia keluar.

“Oh iya, karena aku lembur aku suruh Rara untuk menemanimu. Toh dia habis kuliah belum kerja masih jomblo pula. Biar belajar ngurus anak. Hehehehe,” katanya.

Tingkahnya sangat aneh. Apa dia punya selingkuhan? Nggak-nggak. Nggak mungkin. Tapi….aku tak akan heran kalau dia punya selingkuhan. Lelaki mana yang mau beristri dengan orang cacat seperti aku. Hiro, please ya. Jangan tinggalin aku.

Hari itu Rara datang. Aku agak terkejut juga sih melihat dia. Lama nggak ketemu.

“Hai Kak Moon?!” sapanya. “Kak Hiro nyuruh aku nemenin kakak nih. Nggak apa-apa kan?”

Aku mengangguk, “Nggak apa-apa koq. Malah aku senang kamu ada.”

“Aaaakkk…ini Ivan ya? Aduuuhhh gemeeeess!” Rara mencubiti pipi Ivan.

Mereka pun kemudian bermain akrab sekali.

Sehari, dua hari, tiga hari, hampir tiap hari Hiro pulang malam. Aku jadi penasaran. Masa’ lembur terus sih. Akhirnya aku iseng saja. Kutelepon kantornya.

“Halo?!” sapaku.

“Halo? Dengan M-Tech Building ada yang bisa dibantu?” tanya bagian front desk.

“Maaf, bisa disambungkan dengan Hiro Hendrajaya. Saya istrinya,” kataku.

“Oh, maaf. Pak Hironya sedang tidak ada bu. Tadi sudah pulang duluan,” jawabnya.

“Bukannya lembur?” tanyaku.

“Nggak bu. Pak Hiro selalu pulang tepat waktu, tak pernah lembur,” katanya. DEG! Benar kan? Hiro menyembunyikan sesuatu. Aku langsung menutup telepon itu dan menangis. Hiro….kenapa kamu berbohong?? Kamu tak pernah lembur, selalu pulang tepat waktu. Aku mendorong kursi rodaku masuk ke kamar. Aku kemudian beranjak ke tempat tidur. Aku menangis. Siapa wanita itu? Siapa wanita yang sudah merebut hati Hiro??

Hari ini Hiro tidak pulang. Sampai pagi menjelang aku baru mendengar suara mobil terparkir di luar.

Dia lalu masuk ke kamar. Dia melihatku sudah berada di kursi roda. Aku pasti terlihat buruk. Masih ada air mataku di pipi. Semalaman aku tak tidur karena menangis memikirkan Hiro. Kini dia ada di hadapanku. Aku menatapnya.

“Kenapa kamu menangis?” tanyanya.

“Aku tahu kamu tak lembur di kantor. Aku tanya di sana, kamu tak pernah lembur, selalu pulang tepat waktu. Apakah ada wanita lain Hiro? Katakan dengan jujur!” kataku.

Hiro lalu menghampiriku dan dia berada di depanku lalu berlutut. Dia tersenyum. Aku melihat kantung matanya. Ia seperti orang yang tidak tidur semalaman. Matanya juga memerah.

“Kamu cemburu?” tanyanya.

“Ya iyalah, aku kan istrimu. Jelas aku cemburu,” jawabku.

“Tak perlu, sebab hanya kamu satu-satunya wanita dalam hidupku. Aku selalu pergi malam karena ini,” katanya. Ia menunjukkanku sebuah gelang. “Aku memang tak bisa mempunyai Hyper Suit seperti Mas Faiz. Tapi aku bisa membuat sesuatu yang lain. Ini untukmu. Aku membujuk Profesor Andy untuk membuat ini. Maka dari itulah aku ingin tahu ukuran sepatumu, juga ukuran celanamu.”

Apa itu? Sebuah gelang? Hiro lalu memasangkannya tepat di pahaku.

“Bersiaplah!” kata Hiro. Ia menekan sesuatu di gelang itu.

Tiba-tiba aku bisa melihat sesuatu yang merambat dari gelang itu. Bentuknya kecil tapi mereka bergerak. Lambat laun mereka membentuk sesuatu, menyulam, membangun dan akhirnya aku tak percaya. Mereka membentuk sebuah kaki. Lalu perlahan-lahan warnanya disesuaikan dengan warna kulitku. Hiro….inikah alasanmu pulang malam??

Aku menggerakkan kaki kananku. Hei..aku bisa menggerakkan jari kakiku. Ini Artificial Leg! Hiro memberikanku artificial leg! Dan aku bisa merasakan semuanya. Seolah-olah ini benar-benar kakiku.

“Bagaimana, coba kamu berdiri!” kata Hiro.

Dia berdiri dan mengulurkan tangannya. Aku bingung, takut dan bahagia. Aku pun memegang tangannya. Perlahan-lahan aku pun berdiri. Aku bisa berdiri. Aku bisa berdiri dengan kedua kakiku.

“Yeeeaaaahhh! Berhasil!” Hiro melompat-lompat. “YES!”

Aku langsung memeluknya, “Suamiku, maafkan aku. Maafkan aku yang sudah salah sangka kepadamu. Sekali lagi maafkan aku.”

“Sudah, nggak apa-apa. Aku tahu koq kalau kamu cemburu. Untung saja di rumah ini nggak ada pistol. Kalau ada aku sudah ditembak ama kamu,” kata Hiro sambil ngikik. Aku cubit dia. “Aduh!”

Ya, aku punya kaki baru sekarang walaupun dari artificial leg. Ternyata Hiro menghabiskan seluruh uang tabungannya untuk membuat ini. Sepertinya sudah klop semua hidupku. Memang aku tidak sempurna tapi Hiro menyempurnakanku. Teknologi Nanobot buatan Profesor Andy luar biasa. Aku yakin beliau setelah ini bakal menjadi orang terkenal, apalagi telah menolongku.

“Oh iya, kamu jangan menendang pake kaki kananmu nanti ya,” kata Hiro.

“Kenapa?” tanyaku.

“Sebab, biarpun ini artificial leg, kekuatannya sama seperti Hyper Suit,” katanya.

“Ya, aku mengerti. Aku hanya akan menggunakannya ke dirimu kalau nanti kamu selingkuh,” kataku sebel. Aku tak menyangka ia memberiku kejutan ini.

Ia lalu memegang wajahku dan menciumku. Well, paling tidak ciuman dari orang yang dicintai di pagi hari ini adalah salah satu berkah. Matahari pun mulai masuk melalui celah-celah jendela kamar kami. Memberikan bayangan dua orang yang sedang dimabuk cinta berciuman dengan mesranya. Thanks Hiro, Thanks for everything.

NARASI HAN-JEONG

“Han-Jeong!” panggil ibuku.

“Ada apa ma?” seruku dari luar rumah.

Ibu keluar sambil memberikan uang. “Ini belikan telur organik kalau pulang nanti! Awas kalau sampai lupa!”

“Oke ma, berangkat dulu,” kataku.

Segera aku berangkat.

“Hati-hati!” kata ibuku. Dia terlalu khawatir denganku. Aku sudah terbiasa pergi ke sekolah dengan sepeda, kenapa juga disuruh hati-hati? Bawel ah.

Semenjak SMA aku sudah tak mau diantar oleh ayah. Beliau sudah berangkat duluan pagi ini bersama Ivan dan Cecilia. Aku enjoy aja dengan sepeda. Bisa menikmati udara pagi yang sejuuuk.

Butuh waktu kurang lebih lima belas menit hingga aku sampai di sekolah.

“Hai Han Jeong!” sapa teman-temanku.

“Hai, selamat pagi,” kataku.

Akhirnya aku sekolah lagi. Teman sebangkuku menyenggolku.

“Han Jeong, nanti pulang sekolah ikut yuk!” kata Rita.

“Kemana?”

“Nonton pertandingan klub basket kita. Jordan main lho,” kata Rita.

“Aaaaakkk…Jordan??!” aku sangat gembira. Jordan memang sudah jadi incaran cewek-cewek di sekolah. Dia udah cakep, berbakat lagi. “Mau dong! Mau mau mau!”

Akhirnya singkat cerita kami pun pulang sekolah langsung ke tempat Gelora Sasana Krida. Sebuah tempat di mana di sini diselenggarakan pertandingan basket antar sekolah. Aku dan Rita langsung masuk dan menonton paling depan dong menyemangati sekolah kami.

“Ayo Jordaaaan! Kamu bisaaaa!” seru teman-teman yang lain yang juga menonton.

Tampak cheerleaders juga terus menyemangati. Skornya masih imbang 20-20. Disaat enak-enak menonton tiba-tiba M-Tech Phone portableku berbunyi. Segera aku angkat.

“Halo?” sapaku.

“Han-Jeong, di jalan kebangsaan perampok baru saja membobol Bank. Sekarang menuju ke sana!” kata Hana.

“Hana, aku sedang nonton pertandingan basket niiiih,” gerutuku.

“Ayolah Han-Jeong!? Siapa lagi coba yang pake Hyper Suit selain dirimu?” tanya Hana. “Ayahku udah nggak bisa lagi pake itu karena badannya sudah lemah.”

“Aaarrrggh..! Baiklah, lagi pula ini sudah nasib jadi super heroes,” gerutuku.

“Han-Jeong mau kemana?” tanya Rita.

“Duty call,” kataku.

“Hah?” Rita tak tahu maksudnya. Tentu saja aku tak pernah cerita kalau aku adalah generasi baru Black Knight.

Segera aku keluar dari gedung itu. Kupasang gelang di pergelangan tangan dan pergelangan kaki. Lalu kupasang belt. Yak aku berubah!

“SCANNING DNA! DNA Approved!”

“Ya ya ya, DNA Approved. Apa nggak ada cara yang lebih praktis sih?” kataku. Kutekan angka 512. Aku berubah sekarang. Para nanobot membantuku menyulam baju tempur Black Knight. Tadaa! Saatnya bergerak. WUZZZZ! Dalam sekejap aku sudah pergi.

Aku berlari secepat mungkin hingga eiittt….oh iya, aku lupa belum beli telur organik. Beli dulu ah.

“Han-Jeong?! Kamu ngapain berhenti?” tanya Hana.

“Tenang ajalah ibuku tadi nyuruh aku beli telur!” jawabku enteng. “Toh bentar lagi mereka lewat jalan sini.”

“Han-Jeoooonnngg! Serius dong! Darurat ini emergency!” kata Hana.

Aku cuek. Aku masuk ke toko swalayan. Orang-orang terbelalak melihatku masuk toko. Sebagian di antara mereka mulutnya terbuka seperti baru saja melihat setan. Aku mengambil telur dan pergi ke kasir.

“Berapa?” tanyaku.

Kasir juga sepertinya melongo tak percaya. “Gratis aja deh mbak.”

“Makasih,” jawabku. Wah, pake Hyper Suit beli telur gratis. Besok beli pake Hyper Suit lagi ah…

“Han-Jeong, perampoknya!” seru Hana di alat komunikasi.

“Aku tahu!” kataku.

Perampok itu memakai mobil. Dan ia ada di jalan di depan toko swalayan itu. Aku langsung berlari menghadang mobil itu dengan satu tangan BRUAAK! CKIIITTTT! Mobil pun berhenti. Dan orang-orang yang ada di dalamnya terkejut.

“Kejahatan kalian tidak bisa diampuni. Menyerah!” kataku.

“Kami menyerah!” seru mereka yang ada di dalam mobil serempak.

Aku melihat tanganku yang menahan mobil itu. AAAAAAAARRGHH! Tangan itu kan membawa telur! Hancur semua deh. GOBLOOOK! Aku goblok.

“Kalian jangan lari kalau lari aku akan potong-potong kalian!” kataku kepada keempat perampok itu.

“I..IYAA!” seru mereka.

Aku pun kembali masuk ke swalayan. “Maaf, telurnya saya boleh ambil lagi?”

Sang kasir menjawab, “I..iya, silakan!”

Para pembeli lainnya cuma melongo melihatku. Aku mengambil telur lalu permisi. Aku melihat polisi pun datang dan meringkus para perampok itu.

“Terima kasih Black Knight!” seru pak polisi.

“Sama-sama pak!” seruku balik. Aku lalu pergi dengan cepat.

“Han-Jeong, Good work!” kata Hana.

“Yeah,” kataku.

Aku pun pulang ke rumah. Ibu sudah menyambutku. “Mana telurnya?”

“Ini ma,” kataku.

“Bagus,” kata ibuku. Kemudian beliau melanjutkan pergi ke dapur. Fiyuuh…untung selamat. “Sepedamu kemana? rusak?”

“Oh iyaaa, lupa,” kataku. Aku kan tadi langsung pulang nggak kembali ke Gedung olahraga. Gimana sih? Sepedaku ada di sana.

“Lho, Han-Jeong ibu bilang telur organik! Kamu koq beli telur asin siih??!” gerutu ibuku. Oh tidak. Ia akan marah besar. Aku pun segera berlari keluar rumah.

“Iya ma, aku akan beli lagi telurnya!” kataku.

“Han-Jeooonngg!”

Aku pun lari membeli telur lagi dan mengambil sepedaku. Paling tidak jangan sampai ibu marah lagi. Arghh…bodohnya aku.

End of Story

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*