Home » Cerita Seks Umum » Si Rambut Merah Bonus Part 1

Si Rambut Merah Bonus Part 1

BONUS CHAPTER
part 1
NARASI MOON

Aku meninggalkan Hiro di hotel. Mungkin bukan keputusan yang tepat. Tapi inilah yang harus aku lakukan. Negaraku membutuhkan aku. Hanya secarik kertas dan sebuah pesan yang aku sampaikan ke Hiro. Kuharap ia mengerti. Aku akan mencarinya lagi suatu saat nanti.

24 jam kemudian, aku sudah berada di markas NIS. Komandan sedang membriefingku.
“Misi kali ini agak sulit, kamu single fighter di misi ini. Karena dari semua agen, hanya engkau yang bisa melakukan hal seperti ini,” ujar komandan.

“Siapa targetnya sekarang?” tanyaku.

“Tugasmu, cukup mudah sebenarnya. Habisi White Wolf. Tapi yang sulit adalah kamu harus masuk ke daerah musuh. Dan itu tidak baik, karena posisinya ada di Syberia,” kata komandan.

Aku melihat sebuah gambar wajah seseorang.

“Habisi dia dan cepat kembali. Ini lokasinya dan ini lokasi penjemputan,” kata komandan sambil menunjukkan peta.

Aku mengeluarkan GPS-ku dan mencatat koordinatnya. Paling tidak aku sudah tahu harus kemana. Siap atau tidak, inilah yang harus aku lakukan di bagian ujung negeri Rusia itu.
Setelah menyelamatkan dunia barusan, aku tak ada waktu istirahat ternyata. Sebelum komandan pergi aku meminta sesuatu.

“Komandan, aku ingin minta sesuatu,” kataku.

“Silakan!” katanya.

“Aku ingin ini adalah misiku yang terakhir. Sebab, aku ingin berhenti setelah ini,” kataku.
Komandan tak bicara. Dia hanya menghela nafas.

“Moon, di NIS ini hanya engkaulah yang sekarang ini menjadi Top agent. Siapa yang bisa menggantikanmu?”

“Pasti ada. Aku sudah tidak ingin lagi menembakkan senjataku. Dendam NIS sudah aku balaskan. Suni sudah tewas. Aku tak mau membebani diriku dengan jauh dari orang-orang yang aku cintai,” kataku dengan nada gemetar.

“Kamu teringat Hiro?”

Aku mengangguk.

“Sebenarnya aku sayang sekali melepasmu. Selesaikan saja misinya, setelah itu kita akan pikirkan ke depannya nanti seperti apa,” ujar Komandan.

Aku pun membungkuk. “Terima kasih komandan”

***

Syberia kali ini sedang dilanda badai salju. Aku kali ini menggunakan kereta api untuk sampai ke sana. Kereta api ini khusus, bahkan memang disediakan oleh orang-orang yang punya “kepentingan”. Selama kurang lebih dua jam kemudian aku sampai di sebuah stasiun kecil.

Untuk sampai ke target sasaran, aku harus membelah hutan. Titik penjemputan adalah di pantai yang terdapat banyak batu karangnya. Aku sendiri tak mengerti kenapa titik penjemputannya ada di sana.
Lebih lanjut, aku pun kemudian harus survive di sini. Perbekalanku hanya membawa tiga ration.

Paling tidak, makanan tentara ini cukup untuk tiga hari survive di tempat ini. Begitu sampai di stasiun kecil, aku sudah harus mempersiapkan segalanya. Sniper rifle, pistol glock, pisau dan beberapa hal kecil lainnya. Aku harus menunggu sampai badai saljunya reda dulu sepertinya. Karena jarak pandang sangat pendek.

Dan tepat pukul sebelas malam, badai berhenti. Aku segera memakai mantel dan pergi dari stasiun kecil tak berpenghuni itu. Malam benar-benar gelap. Aku hanya mengandalkan NVG yang terus aku pakai selama berjalan di kegelapan malam.

Aku sudah menyadari sejak masuk hutan gerombolan serigala sudah mengikutiku. Aku tak peduli. Aku tak takut kepada mereka. Seekor panther saja bisa aku bunuh, kenapa seekor serigala saja tak bisa aku bunuh?

Beberapa menit lagi aku sampai. GPS trackerku sudah berkedip-kedip. Aku mencoba mengontak An Li.
“Aku sebentar lagi sampai. An Li kamu dengar?” tanyaku.

“Aku bisa lihat itu,” kata An Li. “Ceritakan keadaanmu sekarang!”

“Aku baru saja berlindung dari badai. Suhu minus lima belas derajat. Salah sedikit saja aku bisa kena hypothermia.”

“Bukannya suit itu melindungimu dari dingin?”

“Sementara An Li, sementara.”

Aku memakai kostum yang biasa aku pakai ketika misi. Baju buatan NIS ini cukup lumayan untuk mengusir hawa dingin dan menipu sensor panas. Tapi tidak oleh serigala, karena mereka bisa mencium darahku.

Aku pun semakin masuk ke dalam hutan. Hingga kemudian kurang lebih 1,5 km aku melihat sebuah bangunan di sana. Bangunan seperti bungker yang terletak jauh dari pemukiman dan berada di tengah hutan? Mencurigakan.

Dengan langkah berhati-hati, aku mulai membidik bangunan itu dengan menggunakan teropong yang ada di sniper rifleku. Ternyata benar itu adalah bungker, tapi bagaimana aku bisa menemukan White Wolf? Tak ada cara lain, aku harus mendekat.

“An Li, kira-kira berapa orang yang ada di bungker?” tanyaku.

“Dari Thermal View ada kurang lebih lima,” jawab An Li. “Kamu sudah dekat, mestinya bisa melihat mereka.”

“Sebenarnya apa yang dilakukan oleh White Wolf kalau aku boleh tahu. Bukankah dia tidak melakukan kejahatan?” tanyaku. “Dan kalau alasannya hanya dia pernah melakukan pemalsuan identitas dan membunuh salah seorang agen kita, maka harusnya ditangkap saja kan?”

“Aku akan bilang kepadamu, tapi ini off record ya…sebentar…,” aku menunggu An Li agak lama. “OK, saluran ini aman. Dia ini perancang bom yang meledakkan gedung NIS. Sekaligus juga guru dan saudaranya Suni. Mendapatkan julukan White Wolf, karena dia terkenal sebagai assasins White wolf. Sebenarnya ia sudah pensiun lama. Hanya saja, pihak NIS tak ingin satupun anggota keluarga dari Suni hidup.”

“What?”

“Iya, beberapa waktu lalu, keluarga Suni dihabisi semuanya oleh agen-agen lain. Dan kamu mendapatkan tugas terberat. Membunuh boleh dibilang gurunya Suni. Dari data yang aku terima, Suni sebelum masuk NIS dilatih oleh dia.”

“Tapi ini harusnya menjadi misi yang mudah bukan?”

“Ada sebuah alasan kenapa dia disebut White Wolf.”

“Apa?”

“Dia bisa memerintahkan serigala, dan mampu berkomunikasi dengan serigala dengan cara yang aneh. Aku juga tak tahu bagaimana.”

Aku melihat ke teropong lagi. Oh shit, aku lihat White wolf, dia berdiri di antara kerumunan Serigala di depan bungker. Dia duduk dan sepertinya berbicara dengan salah satu serigala. Apa yang dia lakukan? Celaka dia melihat ke arahku.

“Moon, habisi dia sekarang. Waktumu tak banyak. Serigala-serigala itu memberitahukan keberadaanmu!” kata AN Li.

Aku membidik White Wolf dan DOR! Kepala langsung tertembus peluru dan ambruk. Tiba-tiba para serigala itu mengaung panjang. Kemudian disusul oleh yang lainnya. Aku menembak dua orang yang bersama White wolf. DOR! DOR! Setelah itu terjadilah sesuatu yang aneh. Semua serigala yang ada di dekat White wolf tadi berlarian menuju ke arahku.

“Moon, lari!” seru An Li.

“Fuck!” aku mengumpat dan segera berlari.

Agak susah karena aku juga menggendong senapan sniper. Aku juga belum memeriksa mayat White wolf, apakah dia sudah mati ataukah masih hidup. Yang jelas sekarang ini aku harus berlari dari kejaran serigala-serigala itu.

“An Li, bagaimana wolf? Apakah sudah mati?” tanyaku.

“Dari jejak panasnya, sepertinya sudah. Berangsur-angsur hilang,” kata An Li.

Aku terus berlari, mendaki lalu menurun. Para serigala itu terus mengejarku. Dan, aku bodoh. Aku melihat ke GPS-ku, aku terlalu jauh dari tempat penjemputan. Akhirnya aku berlari menelusuri bibir sungai. Saat itulah aku melihat serigala hitam, sangat besar badannya. Berlari di seberang sungai.

Apa-apaan ini? Mereka mengikutiku? Aku masih mendengar serigala-serigala itu melolong bersahut-sahutan, seolah-olah seluruh hutan ini sudah menjadi musuhku.

Serigala hitam dengan mata berwarna kuning itu melompat di atas gleiser. Ia tergelincir, tapi masih bisa berdiri. Aku mengambil pistolku dan menembaknya. DOR! DOR! Tidak kena. Tapi ia mulai menjaga jarak. Dan bodohnya aku, sekarang aku terantuk batu dan berguling ke tepi sungai lalu BYUR! Aku terjerembab dan masuk ke sungai. Aku mencoba menggapai permukaan. Celaka tertutup balok es! Di mana tempat aku jatuh tadi? Belum sempat aku berpikir arus sungai itu terlalu kuat hingga aku terdorong. Nafas….nafas…aku butuh oksigen sekarang.

Hingga kemudian aku melihat ada batu di depanku. Aku arahkan kakiku ke depan agar tidak menabrak batu itu secara frontal. Berhasil. Aku tak menabraknya, tapi aku masih terseret arus hingga aku tak melihat lagi ada sesuatu di depan sana. Tunggu dulu, kalau tidak ada sesuatu artinya itu air terjun. Ohhhh…..tidaaaakk!

Aku terdorong hingga meluncur bebas dari puncak air terjun dan BYUR! Ternyata air terjunnya tidak tinggi. Tapi aku selamat. Aku bisa mendapatkan oksigen lagi. Tapi tubuhku menggigil sekarang. Aku harus keluar dari dalam sungai. Aku pun melemparkan sniper rifleku. Karena benda itu hanya akan menghambatku.

Dengan susah payah akhirnya aku menepi. Suara lolongan serigala itu masih terdengar. Aku melihat lagi GPS trackerku. Sedikit lagi sampai. Walaupun aku harus memutar sepertinya. Dan aku terkejut karena dari atas air terjun, aku melihat serigala hitam tadi. Aneh, seharusnya serigala-serigala di Syberia ini berwarna putih dan agak abu-abu. Ini tidak. Dia benar-benar hitam sepenuhnya, hanya terlihat matanya yang kuning.

Kulepas mantel yang menutupi tubuhku kemudian aku berlari lagi. Dari depan ternyata sudah ada kawanan serigala. Aku pun berbelok ke kiri, ternyata ada lagi. Aku lalu ke kanan. Tunggu dulu. Ini tidak salah lagi. Mereka sedang mengarahkanku. Tapi kemana?

Aku masih terus berlari. Kalau aku tidak berlari suhu tubuhku akan menurun dan aku bisa kena Hypothermia. Dan aku pun terantuk. Tidak, tidak, aku terlalu jauh. Terlalu jauh. Aku berguling dan mencoba bangkit. Nafasku terengah-engah, kepulan uap air keluar dari mulutku. Dan benar. Aku sekarang dikepung oleh kawanan serigala di mana-mana. Aku melihat sekelilingku. Tengkorak? Tulang belulang? Jangan-jangan….iya, ini sarang mereka.

Segera saja aku mencabut kedua pistolku. Minggir kalian!

Aku menembakkan senjataku, mengenai beberapa ekor serigala. Dan mereka pun mulai menyerbu ke arahku. Semua peluru aku tembakkan hingga habis. Seekor serigala berhasil menggigit kaki kananku. Aku langsung mengganti magazineku dan menembak kepala serigala itu hingga dia terkapar. Aku harus lari dari sini. Itulah yang ada di benakku sekarang. Aku tak mau jadi santapan serigala-serigala ini.

Dengan luka di kaki, aku terus berlari menuju ke tempat penjemputan. Aku terus berlari tanpa mempedulikan darah yang mengucur dari luka gigitan tadi. Serigala-serigala tadi masih melolong. Kurang lebih selama setengah jam aku berlari.

“An Li?! An Li?! Kamu dengar aku?” tanyaku. Tak ada jawaban. Sepertinya codec-nya rusak karena aku terjatuh ke sungai tadi. Aku melihat GPS trackernya. Seratus meter ke depan….dan…langkahku terhenti.

Di depan ternyata sudah menunggu serigala hitam tadi. Serigala ini cukup besar. Kemungkinan lebih besar lagi dari manusia. Cakarnya saja sebesar lenganku. Sialan, tak ada yang bisa kulakukan. Lolongan serigala-serigala itu berhenti. Kini hanya geraman “Si Hitam” saja yang aku dengar.

Aku tak tahu apa yang dia inginkan. Tapi entah bagaimana aku melihat sniper rifleku ada di bawahnya. Dia tadi membawa sniper rifleku yang aku lemparkan di tepi sungai? Si Hitam menggigit sniper rifleku dan dengan mudah mengangkatnya lalu melemparkannya ke arah lain. Lalu dia menggeram lagi. Apa maksudnya aku harus membuang senjataku? Oh tidak, aku tidak mau. Aku todong dia. Dia makin menggeram. Mau apa dia?

Aku tak peduli, aku pun menembak Si Hitam, tapi dia mengelak dan pergi menjauh. DOR! DOR! Dua tembakanku meleset. Lalu dari arah lain muncul serigala lain yang langsung mencakar lenganku, senjataku terjatuh sebelum aku menembak dengan tangan kiri ada serigala lain yang menggigit pistolku sehingga terlepas dari tanganku.

Mereka melucutiku. Tapi entah kenapa, mereka tak menyerangku lagi. Dan sepertinya membuka jalanku agar maju ke depan. Benar saja. Mereka mempersilakanku maju ke depan. Dan ternyata setelah aku maju ke depan 100 meter ada sebuah tanah lapang. Tak salah lagi, ini adalah tempat penjemputan. Lalu, apa yang harus aku lakukan? Tunggu dulu…..kenapa Si Hitam itu ada di depanku?

Oh, aku mengerti sekarang. Ia ibarat last man standing. Baiklah. Kamu ingin memakanku? Fine. Aku juga pernah melawan hewan seperti kamu. Kuambil pisauku. Ternyata hewan ini benar-benar ingin aku bertarung dengannya.

Bertarung dengan dua pisau. Boleh juga. Aku pun mengikat tangan kananku yang menggenggam gagang pisau dengan ikat pinggangku. Dan tangan kiriku menggenggam pisau satu lagi dengan bebas.
Tanpa aba-aba Si Hitam langsung menerkamku. Setelah itu terjadilah pertarungan antara aku dan Si Hitam. Tenaga Si Hitam ini berbeda ketika aku bertarung dengan Panther hitam dulu itu. Tenaga Si Hitam lebih kuat, mungkin karena tubuhnya yang lebih besar. Dia menerkamku dan aku menahannya dengan pisauku. Dia menggigit pisauku kuat-kuat. Gila, tenaganya. Dia pun menghantam tubuhku dengan kakinya yang kuat. Buk! Aku terpelanting ke samping. Aku berguling-guling, tapi segera bersiaga.

Si Hitam ini kembali menerjangku. Kali ini dia dengan cakarnya. Aku gores lehernya. Dia mengkaing. Aku berkelit, berlari, berkelit menghindar serangannya yang terus-terusan itu. Tapi bukan berarti ia berhenti dia makin membuatku kelelahan dengan serangan-serangannya.

Saat itulah aku lengah. Entah kenapa aku pusing sekali. Kenapa? Aku melihat di atas tanah yang penuh salju itu. Darah….Darah siapa? Hampir saja aku lupa kalau aku tadi terluka. Jadi…aku mulai banyak kehilangan darah. Dan aku mulai merasakan tubuhku menggigil. Oh tidak, Hypothermia mulai menyerangku.

Aku tetap harus hidup. Aku harus menghabisi Si Hitam.

Baiklah serangan terakhir. Aku menunggu Si Hitam maju. Dan sekarang serigala raksasa itu pun melesat ke arahku, tapi dia melakukan gerakan yang aneh, yaitu seperti meluncur ke bawah, apa yang ia lakukan? Biasanya kalau binatang buas akan melakukan gerakan melompat, tapi ini tidak. Ia tertarik dengan kakiku yang terluka. Ia tertarik dengan darah. Dan….CRAK! Aku digigitnya.
“AAAAAAAAARRGGHHHHH!” aku menjerit. Dia menerkam kakiku. Mengunyahnya. Aku lalu menusuk-nusuk kepala Si Hitam. Lagi, lagi, lagi, lagi, lagi. Entah berapa banyak darah binatang itu yang keluar. Aku pun akhirnya dilemparkan olehnya hingga terhempas beberapa meter.

Dari mulutku keluar darah. Ughh…benturannya sangat keras. Aku harus berdiri, Si Hitam itu kelihatannya masih hidup. Tapi ada yang aneh….iya, dia masih hidup dan berdiri tapi sambil mengigit sesuatu dengan darah di mulutnya. Kepala srigala raksasa itu penuh darah. Itu kakiku! Aku melihat kakiku sudah tidak ada. Kaki kananku sudah tak ada lagi…..

Dan saat itulah dari udara aku melihat sesuatu, helikopter! Suara baling-balingnya langsung membuat serigala raksasa itu takut dan lari menuju ke dalam hutan. Aku lalu terkapar tak sadarkan diri.

Ketika tak sadarkan diri itulah aku sayup-sayup mendengar orang-orang memanggilku. “Moon! Moon?! Bertahanlah!”

***

Itulah ceritaku ketika misi terakhirku. Dan yang paling mengejutkanku adalah ketika dokter memberitahuku kalau aku hamil. Hamil seorang calon bayi. Tidak salah lagi. Itu adalah anakku dengan Hiro. Ketika di rumah sakit itu, entah sedih atau bahagia aku mengelus-elus perutku.
Sang komandan pun masuk ke kamarku. Dia pun berkata telah memenuhi permintaanku untuk pensiun. Yah, bagaimanapun juga, aku tak akan mungkin untuk kembali ke misi dengan kondisi satu kaki seperti ini.

Hari-hari yang kulalui adalah merawat kandunganku. Hingga kemudian Han-Jeong lahir. Aku ditolong oleh salah satu temanku yang bernama Bae Yun-Ah. Dia bekerja di Kane Bean Cafe sebagai pengisi lagu-lagu.

Aku juga hidup bersama ibuku setelah itu sampai akhirnya beliaupun menyusul ayah. Tapi paling tidak beliau sangat senang sekali sudah punya cucu.

Bae aku beritahukan sebuah lagu dari ibunya Hiro. Dan ternyata ia suka sekali dengan lagu itu. Aku harap, Hiro akan datang mencariku. Sebab, aku sudah tak bisa lagi mencarinya. Setahun, dua tahun, tiga tahun, tak ada kabar, bahkan sekarang Han-Jeong sudah mulai besar. Harapanku pun pupus. Aku kini hidup sendiri bersama Han-Jeong.

***

Suatu ketika, Bae memintaku untuk datang pagi hari. Karena mau memperkenalkanku dengan seseorang. Aku pun bilang, “Apaan sih? Nggak usah jodoh-jodohin aku.”

“Nggak koq, mungkin kamu akan suka ama dia nanti. Coba saja! Melihatmu sendirian aku juga kasihan!” kata Bae.

Akhirnya pagi itu aku mengajak jalan-jalan juga Han-Jeong ke kafe. Tak ada firasat saat itu, kalau aku akan ketemu lagi dengan Hiro. Bagaimana aku bisa ingat Hiro? Terlebih dia sangat berubah. Dulu dia agak culun, tapi sekarang ia sangat tampan. Jelas saja, sekarang ia telah dewasa, sudah diberi jabatan oleh ayahnya. Dan dia mau menerimaku apa adanya. Juga Han-Jeong.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*