Home » Cerita Seks Umum » Si Rambut Merah Bab 31 (Tamat)

Si Rambut Merah Bab 31 (Tamat)

BAB XXXI

Finding You

Mas Faiz menghubungiku lewat M-Tech Portable. Yang layarnya terhubung dengan Smart TV yang ada di kamarku.

“Hai Hiro, gimana kuliahnya? Kapan lulus?” sapanya.

“Bentar lagi. Kenapa?” tanyaku.

“Nih, pacarmu dah lulus nih. Main ke sini,” katanya.

Aku melihat Yunita di layar monitor. “Hai sayang? Apa kabar?”

“Hai,” sapaku. “Sudah lulus ya?”

“Iya dong! Kapan kamu lulusnya? Masa’ betah sih jauh-jauhan kaya’ gini?” tanyanya.

Ada yang berbeda dengan Yunita hari itu. Dia mewarnai rambutnya dengan warna merah.

“Eh, kenapa itu rambutmu?” tanyaku.

“Aku mewarnainya dengan warna merah. Kamu suka nggak?” tanyanya.

“Aneh-aneh aja ah,” kataku.

“Hehehe, cepet pulang dong ya?!”

“Ya ya ya,” kataku.

“Ya udah,” katanya. “Sampai nanti, eh ini kakakmu mau ngomong.”

“Hiro, nih salam ama ponakan dulu!” kata Mas Faiz.

“Heh? Aku sudah punya ponakan??” aku terkejut tentu saja.

“Iya dong, emangya sudah berapa lama aku kawin? Nih, haai paman?” Mas Faiz menunjukkan wajah keponakanku itu. Waaaahhh…lucunya.

“Namanya siapa mas?”

“Namanya Hana Fadeva Hendrajaya,” jawab kakakku. Aneh banget namanya.

“Itu gabungan namaku dan Devita. Hana Faiz Devita Hendrajaya gitu.”

“Ya ya ya, mirip banget ama Mas.”

“Ya iyalah, bapaknya koq.”

Aku ketawa.

“Hai Hiro?!” sapa Devita, istri kakakku.

“Hai Mbak,” sapaku. Setelah menikah katanya Devita pensiun dini dan konsen sebagai ibu rumah tangga. Tampak keceriaan di wajahnya.

“Dapat salam dari ibumu, katanya ‘Cepet pulang!'” kata Devita.

“Aneh, perasaan semua orang kepengen aku pulang deh, ya udah, ya udah, aku bakal cepetan nyelesaikan kuliah,” kataku.

***

Setahun kemudian aku lulus. Semua keluargaku menyambutku, termasuk Yunita. Yah, kelulusanku merupakan hal yang besar bagi keluarga ini sepertinya. Maka dari itu malamnya mereka syukuran. Ayah pun sudah mempersiapkan pekerjaan untukku sebentar lagi. Tapi aku berkata kalau aku belum siap untuk kerja. Nunggu beberapa bulan dulu. Ayahku tak memaksa.

Melihat Yunita dengan rambut merahnya, mengingatkanku kepada Jung Ji Moon. Ke mana dia sekarang? Apakah dia baik-baik saja?

Yunita menemaniku di bangku belakang rumah. Duduk berdua seperti ini, kembali lagi kenangan itu datang. Kenapa? Kenapa kembali datang? Aku tak banyak bicara. Hanya membelai rambut Yunita, itu saja sudah membuatku nyaman.

“Aku tahu yang kamu pikirkan,” kata Yunita.

“Apa?” tanyaku.

“Kamu masih ingat Jung Ji Moon bukan?” tanyanya.

Aku terdiam tak membenarkan atau menyalahkan. Iya, aku ingat Jung Ji Moon.

“Katakan, ketika kamu melihat rambutku, kamu ingat kepadanya?” tanya Yunita. “Tak apa-apa Hiro, jujur saja. Aku tak marah. Aku bisa mengerti. Kamu masih mencintainya bukan?”

“Aku…,” aku tak bisa melanjutkan.

“Kenapa kamu tak mencarinya di Seoul?”

Aku pun berdiri dari bangku.

“Kalau aku pergi ke sana, bagaiman dengan kamu. Aku tak bisa meninggalkanmu begitu saja,” kataku.

Yunita berdiri dan memelukku dari belakang. “Hiro, pergilah! Tak apa-apa. Aku lebih senang engkau cintai dengan tulus daripada engkau mencintaiku dengan kepalsuan. Aku bisa menerimanya.”

“Nit, maafkan aku.” Aku mendekap tangan Yunita.

“Please, biarkan aku memelukmu untuk yang terakhir kali,” kata Yunita. “Kalau kamu nanti bersama Moon, jangan pernah berpikiran tentangku lagi, OK? Aku akan marah kepadamu kalau kamu lakukan itu.”

“Nit, maafkan aku,” kataku lagi.

“Tak apa-apa Hiro, aku mengerti,” katanya lagi.

****

Seoul, kota yang besar. Bagaimana aku mencari Jung Ji Moon di sini? Menyebar fotonya? Nggak mungkin. Aku memang hanya memakai pasport berlibur ke Korea. Kepergianku ke negara ini pun tanpa sepengetahuan ayah dan kakakku, maupun adik-adikku. Aku tak ingin mereka khawatir kepadaku.

Aku menghabiskan waktu jalan-jalan di Seoul tanpa tujuan. Aku sudah mengunjungi Myeongdong, Insadong, maupun Namdaemun. Dan benar-benar tanpa tujuan. Aku juga tak tahu harus kemana. Foto-foto tentang Moon? Aku hanya punya foto facebooknya sebelum ia menghapusnya. Aku iseng saja sih masuk ke Kona Beans Cafe. Karena di dalam kafe ini ajaibnya adalah aku mendengar salah satu lagu ibuku dilantunkan di sini. Lagunya tentang kerinduan. Uniknya adalah ini dilagukan dengan bahasa Indonesia.

Wahai Kasih, dengarkan diriku
Kutakkan mengulangi lagi
Wahai Kasih, peluklah aku
Karena ku takkan melepasmu lagi

Hati ini pun lelah tuk bersandar
Apa yang bisa aku lakukan
Kala jiwa ini membutuhkan kerinduan
Dari dirimu yang nun jauh di sana

[Reff:] Wahai kasihku
Dengarkanlah kata rindu di hatiku
Kuingin kau rasakan rasa cintaku
Bahwa hati ini adalah untukmu….

Wahai kasih, maafkan aku
Yang tak bisa menahan rindu ini
Wahai kasih, ciumlah aku
Karena ciumanmu pelepas dahaga ini

Akankah aku bertemu lagi denganmu
Akankah aku mencintai dirimu lagi
Aku pun berjanji kau tak kan kulepas lagi
Hingga sampai akhir nanti

[back to reff 2x]

Penyanyinya seorang cewek cukup cakep. Tapi bukan itu masalahnya. Dia menyanyikannya mirip sekali dengan suara ibuku. Setelah dia selesai menyanyi aku menyapanya.

“Hai, may I talk to you?” tanyaku.

“Hai, is there is something wrong?” tanyanya.

“No no no, I just want to talk,” kataku.

“Okay,” katanya. “Just wait a sec.”

Akhirnya sang penyanyi pun mau bicara denganku di sebuah meja. Namanya adalah Bae Yun-ah, Kemudian aku menceritakan bahwa orang yang menyanyi lagu itu adalah ibuku dan aku sangat suka kepada suaranya. Maka dia langsung gembira sekali mendengarkan penjelasanku.

“Oh My God! I’m your mother big fans!” katanya.

“How do you like it?” tanyaku.

“Ahahahaha, someone interduce me to her song,” jawabnya.

“Oh yeah? So he must be known alot about my mom then?” kataku.

“Naah…not he, but she. She said she was met her once,” jawabnya.

“No Kidding,” kataku.

“No, I am not,” katanya meyakinkanku.

“Who is she?” tanyaku.

“Her name is Jung Ji Moon,” katanya. Bagai disambar geledek. Aku terkejut.

“No way!” aku kemudian mengeluarkan ponselku dan menunjukkan kepadanya foto dari Jung Ji Moon dulu. “Is that her?”

Dia mengerutkan dahi. “Yes, she is!”

Mataku berkaca-kaca. “Do you know where I can find her? Please!”

“Yeah, but… I’m not sure you want to meet her right now,” katanya.

“Why? Is she died?”

“No no, she is still alive. Come again tomorrow. You will meet her in this Cafe,” katanya.

“Thank you, thank you very much,” kataku.

“What your relationship with her?” tanyanya.

“I’m her boyfriend,” jawabku.

“Oh my God….,” tiba-tiba matanya berkaca-kaca.

“Why?” tanyaku.

“Nevermind, just come here again tomorrow. She’ll come tomorrow morning,” katanya.

“Sure, sure!” kataku.

Aku senang sekali malam itu dan memberikan tip banyak ke pelayan. Aku tak sabar ingin bertemu dengan Jung Ji Moon. Aku sangat sangat merindukannya. Malam itu pun aku tak bisa tidur di hotel. Malam itu aku persiapkan semua. Aku pilih baju terbaik, dan pagi hari pun aku mandi bersih banget. Wangi banget dah pokoknya.

Jam menunjukkan pukul 8 pagi. Aku pergi lagi ke kafe itu. Bae Yun-Ah menyambutku. Dia berkata, “Just wait in here. She will come soon. But I hope you are not surprise.”

Baiklah, aku pun menunggu. Aku pun menikmati kopi di kafe ini diiringi musik yang dimainkan oleh Bae Yun-Ah. Lagi-lagi dia memainkan lagu-lagu ibuku. Hingga setelah tiga buah lagu. Tiba-tiba Bae menghentikan permainan pianonya. Aku pun terkejut.

Seorang anak kecil masuk ke dalam kafe sambil berlari ke arah Bae. “Eonni(Kakak)!”

“Hi Han-Jeong!” sapa Bae. “Eomeonineun eodi? (Di mana ibu?)”

Anak itu menunjuk ke pintu. Aku pun menoleh ke arah pintu kafe. Astaga…dia…benarkah yang aku lihat ini????

“Han-jeong ppalli silhaeng haji anhdwae! Dangsin-eul da-eum su eobseo! (Han-Jeong, jangan lari cepat! Aku tidak bisa mengikutimu)” kata seorang perempuan berambut merah. Dan dia berada di sebuah kursi roda.

Hatiku pun langsung seperti tertusuk oleh pisau yang sangat tajam. Air mataku mengalir tanpa terkendali. Wajah itu, wajah yang sangat aku kenal. Jung Ji Moon! Aku mendekat ke arahnya. Jung Ji Moon menoleh ke arahku.

“Excuse, you’re on the way!” katanya.

“Moon?!” sapaku.

“Yes?” jawabnya.

“You don’t remember me?” tanyaku.

Jung Ji Moon mengerutkan dahinya. Wajahnya masih cantik. Rambutnya masih berwarna merah. Masih rambut yang aku sukai. Dia yang dijuluki dengan kode Si Rambut Merah. Seorang agen rahasia yang paling disegani. Yang baru saja menyelamatkan dunia. Sekarang berjalan memakai kursi roda. Aku melihat kaki kanannya adalah kaki palsu. Aku tak bisa membendung tangisku.

Jung Ji Moon tak ingat aku, tapi ia pasti ingat ini. Aku mengeluarkan kalung yang aku pakai. Lalu aku berikan kepadanya. Kalung yang liontinnya berbentuk separuh lingkaran. Dan di sana ada ukiran namanya. Dia pasti masih mempunyainya. Aku berikan kalung itu kepadanya.

Dia menerima kalung itu. Ketika melihat namaku di sana, tangannya gemetar. Matanya berkaca-kaca.

“Hiro??”

“Iya, ini aku. Aku mencarimu….Moon,” kataku.

Ia mengeluarkan kalung dari lehernya. Ia pun memasangkan liontin itu dan pas. Di sana ada tulisan nama kami.

“Kenapa kamu tak memberiku kabar?” tanyaku.

“Bagaimana aku bisa memberimu kabar dengan tubuh seperti ini?” katanya.

“Pergilah denganku!” kataku. Aku berlutut di hadapannya.

“Tidak Hiro…aku tidak bisa. Aku…aku… tidak bisa. Aku tidak bisa pergi dengan kondisi seperti ini. Aku tak pantas bersamamu Hiro,” katanya.

“Moon, kau tetap pantas bersamaku. Selama ini aku tak bisa melupakanmu. Aku mencarimu, kamu tak ada kabar sama sekali, tak pernah meninggalkan pesan untukku. Bagaimana kamu setega ini kepada aku? Aku sangat mencintaimu Moon. Sangat mencintaimu,” kataku. “Aku ingin menjadikanmu sebagai istriku. Aku tak peduli siapapun kamu, apapun yang terjadi kepadamu.”

Kami terisak sambil memegang wajah dan saling mengusap pipi.

“Oh, Hiroo…kamu tak malu punya istri seperti aku yang cacat? Misi terakhirku mengakibatkan aku kehilangan kakiku dan harus pensiun,” katanya.

“Aku tak akan malu. Kalau kamu tak bisa jalan, aku akan jadi kakimu. Kalau kamu tak punya tangan aku yang akan jadi tanganmu, kalau kamu tak bisa melihat aku akan jadi matamu,” kataku.

“Hiro…!” dia memelukku.

Tangis kami pecah. Kafe itu pun terisi suasana keharuan.

“Eomeoni, geuneun nugu-inga? (Ibu, siapa dia)” tanya Han-Jeong yang kemungkinan usianya sekitar lima tahun.

“Hiro, lihatlah! Ini Han-Jeong, ini anak kita,” kata Jung Ji Moon.

Aku tak bisa membendung lagi kerinduanku. Aku tambah senang dan gembira dengan hal ini. Aku tak sangka aku sudah mempunyai seorang anak.

Inilah kisahku dengan Si Rambut Merah. Aku pun pulang ke Indonesia dan hidup bersama Jung Ji Moon serta si kecil Han-Jeong. Sedikit memang waktu perjumpaan awal kami, tapi kami masih harus menulis hidup kami ke depan. Jung Ji Moon, engkaulah Si Rambut Merah yang aku cintai. Dan tak akan ada yang mengubah itu.

Fin ~

The End

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*