Home » Cerita Seks Umum » SI Rambut Merah Bab 30

SI Rambut Merah Bab 30

BAB XXX

End of Mission?

NARASI HIRO

Misi telah berakhir. Aku tak pernah merasakan petualangan yang seperti ini sebelumnya. Dan petualangan ini sayangnya harus berakhir. Ada awal ada akhir. S-Formula sudah dihancurkan. Para pemimpin dunia yang kehilangan memorinya sekarang sudah puling. Dr. Edward dibebaskan. Aku? Aku kembali ke sekolah. Jung Ji Moon?

Well, ceritanya tak mudah seperti menurunkan credit di layar dan kemudian memberikan title THE-END. Nope. Setelah misi itu Moon kemudian berkata kepadaku, “Aku harus kembali Hiro.”

“Kenapa kita cuma sebentar berjumpa?” kataku

“Aku masih punya misi lagi,” kata Moon.

“Moon, tinggallah sehari dulu di sini. Please,” kataku.

Jung Ji Moon tidak menjawab, ia juga ragu untuk menjawab.

“Sehari saja, setelah itu kamu boleh pergi, pleaseeee!” aku mengiba kepadanya.

Jung Ji Moon menatap ke An Li. An Li mengangkat bahunya.

“Baiklah, sehari saja ya,” kata Moon setuju.

Tentu saja sehari itu aku tak menyia-nyiakannya. Aku menghabiskan waktu bersama Moon. Yang pertama aku lakukan adalah mengajaknya jalan-jalan ke mall. Entah kenapa, tapi hal itulah yang aku lakukan lebih dulu. Di mall aku sekedar jalan-jalan aja sih. Menggandeng Moon kemana-mana. Mungkin kontras ya, ceweknya cakep cowoknya lebam-lebam wajahnya, pake plester pula. Barang alus gadengan barang bonyok. Apes deh dikatain orang.

Terus terang hari itu Moon benar-benar terlihat cantik. Memakai rok selutut, sepatu boot, rambutnya lurus berwarna merah, memakai baju kemeja lengan panjang dan rompi. Bikin orang-orang iri deh pokoknya hari itu. Aku pun mampir ke sebuah tempat aksesoris. Di sini aku memesan kalung dengan nama Hiro dan Moon. Yang bernama Hiro aku berikan kepada dirinya, sedangkan nama Moon aku pakai. Uniknya adalah di kalung itu adalah berbentuk bulat, separuh bulatan kami pegang, sehingga ketika disatukan akan berbentuk bulat mengikat nama kami.

“Kalau nanti kita bertemu, aku ingin kamu memakainya,” kataku.

“I’ll treasue it,” kata Moon.

Hal kedua yang kami lakukan adalah nonton film. Kebetulan filmnya romantis-romantisan gitu. Selama nonton Moon bersandar di bahuku. Dan kedua tangan kami menggenggam erat. Keluar dari gedung bioskop hari sudah mulai sore. Kami pun melanjutkan lagi jalan-jalan ke taman.

“Say Hiro, do you really loved me?” tanya Moon.

“Tentu saja, kenapa?”

“Aku bingung sekarang.”

Aku menatap wajah Moon.

“Bingung kenapa Moon?”

“Terus terang, aku ingin jujur kepada perasaanku. Dulu aku terlalu ingat kepada Suni. Sehingga aku berusaha mengubahmu menjadi seperti dirinya. Semua tingkah lakumu ini, perilakumu, belaianmu, pelukanmu, semuanya adalah dia. Tapi hanya itulah yang aku bisa untuk mengajarimu. Aku pun sampai kepada pertanyaan, ‘Apakah aku hanya memanfaatkanmu sebagai pelarianku saja?’,” katanya sambil menundukkan wajahnya.

Aku tak tahu harus bilang apa. Dia kemudian memelukku.

“Sungguh aku berat sekali kalau sampai ternyata perasaan cintaku kepadamu salah. Hiro, aku takut. Bukan saja takut kehilanganmu, tapi juga takut perasaan ini hanya menipuku, perasaanku kepadamu hanya menipuku, hingga akhirnya hatimu sakit. Aku tak mau seperti ini,” kata Moon.

“Aku tak peduli,” kataku. Sambil berpelukan ia menatapku. “Aku tak peduli mau kamu cinta aku atau tidak. Aku hanya akan memberikan cinta kepadamu satu arah. Seandainya pun kamu tidak mencintaiku, aku cukup senang walaupun cintamu salah kepadaku. Karena kamu adalah cintaku sekarang ini. Apakah besok masih ada perasaan itu? Aku tak peduli.”

“Ohh…Hiro…..,” kami pun berciuman hangat sore itu. Bersamaan matahari terbenam.

Dan……

Malamnya kami check-in di hotel. Ini adalah untuk pertama kalinya aku check-in. Dan aku berada di salah satu hotel berbintang empat milik ayahku. Sengaja aku masuk ke resepsionisnya dan memperkenalkan diri sebagai Hiro Hendrajaya sambil menunjukkan identitasku. Tentu saja mereka welcome sekali dan memberikan kamar yang paling yahud kepadaku.

Begitu masuk kamar, aku langsung memasang tag “Do Not Distrub”. Aku langsung menciumi Moon. Aku lampiaskan seluruh kerinduanku di kamar ini. Kulampiaskan seluruh perasaan cintaku di kamar ini. Aku lepaskan satu persatu bajunya, hingga kami benar-benar tak tertutup sehelai benang pun.

“Ohh,..Hiro, aku tak peduli ini perasaan palsu atau tidak, yang jelas aku yakin sekarang engkau ada di depanku,” kata Moon.

Aku menciumi lehernya. Aku gelitiki titik-titik sensitifnya. Moon langsung merebahkan diri di atas ranjang. Dia menggeliat ketika lidahku menelusuri kulitnya yang putih itu. Kemudian aku sampai ke buah dadanya yang berukuran 34c itu. Buah dadanya besar, namun putingnya kecil dan kini mulai mengeras. Kubenamkan wajahku di buah dadanya yang putih itu. Kuhisap aroma tubuhnya kuat-kuat. Aku tak ingin melupakan aroma ini.

“Hirooo…,” desahnya.

Aku jilati buah dadanya. Kuhisapi kulitnya itu. Beberapa cupangan terbentuk di sana. Gigiku mulai mengunyah lembut puting susunya kiri kanan. Ingin aku masukkan sepenuhnya buah dadanya itu ke mulutku tapi nggak muat. Aku lalu menyedot putingnya kuat-kuat, hingga ia menjambak rambutku. Ciumanku pun beralih ke pangkal payudaranya mendekat ke ketiaknya. Ke titik paling sensitifnya. Kuangkat tangan Moon ke atas.

“Hirooo….please…jangan….aku tak kuat kalau kamu gituin,” ujarnya. Tapi ia tak menolak ketika kedua tangannya ke atas mengekspos ketiaknya yang putih tanpa bulu itu. Ku geser hidungku di ketiaknya. Aku bisa rasakan bulu kuduk Moon merinding. “Hiroo….ohh…I’m wet down there. Please don’t….!”

Aku ciumi ketiak itu. Sungguh mulus, hanya bau deodoran yang bisa aku cium. Ada beberapa bulir keringat di dekat bahunya. Kujilati bulir-bulir keringat itu. Moon mengejang, tapi pasrah. Lalu aku hisap ketiaknya.

“AAAAHHHHHHH!” Moon bergetar hebat. Aku lalu menghisap ketiak yang satunya. Ia bergetar lagi.

“Hiro, I told you….now I’m cumming,” kata Moon.

Pantatnya bergetar hebat dan aku melihat ia squirt! AKu tersenyum. Aku kemudian menuju ke bawahnya. Bibirku lalu sudah menjelajah selakangannya. Lagi-lagi titik sensitifnya aku gelitiki. Kedua pahanya kini mengapitku kuat-kuat. Lidahku sudah menari-nari dan mencolok-colok lubang kemaluannya. Klitorisnya pun aku hisapi dengan rakus seolah-olah itu adalah oase di padang pasir. Moon orgasme berkali-kali. Dan ia pun lemas akibat ulahku.

“Hiro…you Knock me out!” desahnya.

Moon mengatur nafasnya. Sepertinya ia sudah tak kuat lagi untuk bangun. Maka akulah yang berinisiatif. Aku ingin merasakan mulutnya di kemaluanku. Kuarahkan penisku ke wajahnya. Dan kepala penisku menyentuh bibirnya yang berwarna kemerahan itu. Ia menciumi penisku. Tangannya mulai memegang penisku. Lalu dimasukkannya perlahan-lahan ke dalam mulutnya. Aku tak mendorong kemaluanku, tapi kepala Moon maju mundur sendiri.

Karena tak tega melihatnya kelelahan akibat perbuatanku tadi. Aku sudahi saja, walaupun masih belum puas. Aku sudah dalam posisi misionari. Moon menatapku dengan pandangan sayu.

“Katakan Moon, kenapa kamu mau bercinta denganku?” tanyaku.

“Aku tak tahu, ini insting,” jawabnya.

“Apakah dalam hal ini juga ada yang namanya insting?” tanyaku.

“Iya, tentu saja,” katanya.

“Kalau begitu, cintaku juga insting karena instingku berbicara aku harus mencintaimu. Dan bercinta denganmu, ugghh!” kataku sambil memasukkan kemaluanku yang sudah mengeras ke kemaluannya.

Moon tersentak. Ia memejamkan matanya dan menggeliat.

“Hiro, it’s just me or your dick is getting much bigger?” tanyanya.

“Off course baby, because my love to you is pure,” kataku.

Dan aku pun mengenjotnya. Moon hanya memeluk leherku saja. Tubuhku berhimpit dengan tubuhnya. Keringat kami sudah berpadu. Aku berpacu menggenjotnya. Makin lama makin cepat. Tapi aku belum puas. Aku balikkan tubuhnya. Dia hanya pasrah aku balikkan. Dengan posisi tengkurap aku menusuknya. Kemaluanku makin keras saja ketika perutku menghantam pantatnya yang bahenol itu.

“Uggh…Moon…hhmmm”, rancauku.

“Hiro, please I want to make a baby with you,” katanya.

“Are you sure?” tanyaku.

“Yeah, aku subur hari ini,” katanya.

Aku membalikkan tubuhnya lagi. Kini dia tersenyum kepadaku. Aku sesaat tak mempedulikan aku masih sebagai anak sekolah atau tidak. Ini adalah cintaku kepadamu Moon. Ujung penisku sudah gatal mau meledak rasanya. Dan benar. Aku pun keluar. Aku hujamkan kemaluanku sedalam-dalamnya dan spermaku keluar semua menyembur. Milyaran sel-sel itu pun pergi ke indung telurnya.

Aku memeluk Moon erat sekali seakan tak ingin melepaskannya.

“Hiro, aku cinta kamu. I love you. Saranghae,” kata-kata Moon terakhir sebelum aku terlelap karena kelelahan.

Ternyata aku kelalahan. Aku bangun sendirian di kamar itu. Mana Moon? Di sebelahku ada sebuah kertas dengan tulisan tangan Moon.

“Thank you My Hiro. I love you, but I must go. See you again.”

Itu adalah pesan terakhir Moon. Jung Ji Moon….

***

Setelah itu aku kembali menjadi anak sekolah lagi. Perpisahan dengan Jung Ji Moon itu tak akan mudah aku lupakan begitu saja. Ia harus kembali ke negaranya. Bagaimana pun juga ia seorang agen rahasia NIS. Berita pun tersebar di sekolahan bahwa Moon sudah kembali lagi ke negaranya. Gosip pun beredar bahwa aku sudah sendirian lagi. Yeah right! Aku memang sendiri tapi bukan berarti aku putus dengan Jung Ji Moon.

Akun facebooknya tak aktif. Ponselnya tak aktif. Tak ada yang bisa aku hubungi. Devita pun tak tahu bagaimana cara menghubungi Moon. Sementara itu Mas Faiz sebentar lagi akan menikah dengan Devita. Mereka berdua tampak bahagia sekali. Mas Faiz mendapatkan cintanya, mengembalikan memory Devita dan dia menanglah pokoknya. Mereka menikah beberapa bulan setelah itu. Sedangkan aku? Aku kehilangan Moon.

Namun aku tak menyerah. Aku pun belajar. Belajar dan belajar dengan giat. Hingga aku pun lulus dengan nilai terbaik. Bahkan mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri. Mengikuti jejak ayah dan kakakku.

Dan takdir pun menjalankanku kepada jalan cinta yang lain. Mungkin karena melihat aku sendirian, Yunita pun mulai mendekatiku lagi. Dan yah…aku pun jadian deh ama dia. Maklumlah setahun menjomblo apalagi aku melihat cinta yang tulus dari Yunita. Gelang buatannya pun masih aku simpan. Dia sangat takjub ketika melihat diriku masih menyimpannya. Akhirnya kata “Ya” adalah jawabanku untuk cintanya.

Yunita tentu saja sangat gembira sekali. Well, dia sangat cinta kepadaku. Setahun berlalu, dua tahun berlalu. Aku kuliah di University of Finland. Aneh ya, kuliah jauh-jauh ke sana. Tak ada lagi kabar tentang Si Rambut Merah, Jung Ji Moon. Aku masih ingat tentang dia, walaupun kami sudah lama tidak bertemu, tapi saat-saat bertemu dengannya adalah saat-saat yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*