Home » Cerita Seks Umum » Si Rambut Merah Bab 29

Si Rambut Merah Bab 29

BAB XXIX

Me vs You

NARASI HIRO

Mas Faiz sudah pergi bertarung dengan Lucifer dan kini aku bersama Moon menghadapi Suni. Dan kami terlibat kejar-kejaran. Suni berusaha kabur. Aku dan Moon mengejarnya. Kami sudah keluar dari Srikandi Hall. Kali ini Suni sudah masuk ke dalam mobil yang sepertinya sudah ia siapkan lalu dengan mobil itu ia pun melaju meninggalkan Srikandi Hall. Kami berlari mengejarnya tapi sia-sia.

Aku lalu menggandeng Moon, “Ke sini Moon!”

Kami berlari ke sebuah mobil yang terpakir tak jauh dari sana. Sebuah mobil Honda City yang dimodifikasi seperti mobil sport. Walaupun mesinnya sudah berumur, jangan pernah meremehkan mobil itu. Itu adalah mobilku. Well, sebenarnya ini mobil ayahku. Dulu waktu muda dia selalu memakai ini untuk balap liar. Sekarang aku yang memakainya. Dengan cepat mobilku sudah melaju di atas aspal mengejar Suni.

Mobil melaju di jalanan yang sepi. Mungkin karena ada KTT G-20 inilah suasana jalan raya seperti momen Car Free Day. Mobil Suni tepat berada di depanku beberapa meter. Mobilnya tentu saja cepat. Mobil sport, entah merk apa. Sepertinya Subaru. Suara ban roda kami berdecit setiap kali berbelok. Lampu merah pun tidak kami pedulikan. Kejar-kejaran ini pun sampai melintasi jalan layang.

“Dia mahir sekali,” kataku.

“Tabrak dia Hiro!” katanya.

Mobilku melaju kencang dan mengenai bumper belakangnya. Mobil Suni tiba-tiba makin kencang lagi. Tiba-tiba mobil Suni berbelok masuk ke dalam Mall. What?

Para pengunjung mall tentu saja kaget melihat mobil naik tangga, terbang dan menghantam kaca mall. Aku pun tak kalah, kubelokkan mobilku ke sana. Jangan meremehkan aku, jelek-jelek begini aku juga bisa.

Suni terus melajukan mobilnya, ia sekarang tak peduli lagi di depannya ada orang atau tidak. Bahkan ia menabrak salah seorang pengunjung mall. Terkutuk dia! Andainya sekarang kami punya pistol pasti sudah ditembak itu rodanya oleh Moon. Mobil Suni berbelok lagi kini telah sampai ke samping mall, kemudian mobil itu menabrak lagi pintu kaca mall hingga kacanya berhamburan.

Jeritan para pengunjung mall membahana di mana-mana. Para sekuriti pun kelabakan melihat peristiwa ini. Dan kami pun kembali lagi ke aspal. Sepertinya ada yang aneh. Mau kemana dia?

Perjalanan kejar-kejaran mobil ini pun akhirnya sampai di sebuah jembatan. Dan Suni berhenti di sana. Aku pun menghentikan mobilku tak jauh darinya. Setelah itu kami keluar dari mobil dan mengejarnya. Tapi Suni berhenti di atas jembatan dan berbalik ke arah kami. Dia tersenyum.

“Stop it Sunni, it’s over,” kata Moon.

“Not so fast,” kata Suni. Dia lalu naik ke pinggir jembatan dan melompat. Bersamaan dengan itu ia jatuh di atas kereta api. What??

Moon kemudian segera menyusulnya. Gila, mereka bosan hidup apa? Akhirnya kupacu adrenalinku. Aku pun melompat ke atas gerbong kereta. Terjadilah kejar-kejaran di atas gerbong kereta.

Dan Suni pun berhenti. Ia berbalik lalu menendang Moon. Moon menghindar. Mereka kemudian saling memukul dan menendang. Terjadilah perkelahian sengit di atas kereta api yang sedang berjalan. Angin yang kencang ini membuat keseimbanganku goyah. Aku terkadang harus berjongkok sebentar. Tapi mereka berdua luar biasa. Bisa bertarung di atas kecepatan kereta api yang seperti ini.

“Moon awas!” seruku.

Dari arah depan ada sebuah papan yang terpasang tepat di atas jalur kereta. Sehingga Moon segera tiarap. Suni juga mengetahuinya langsung tiarap. Hampir saja kita terkena. Kemudian pertarungan dilanjutkan lagi. Moon bisa menendang Suni. Lalu mendesaknya. Suni berguling di atas gerbong, lalu ia menyapu kaki Moon hingga Moon berguling ke samping gerbong. Hampir saja ia jatuh kalau saja tangannya tak sigap.

Kini Suni berhadapan denganku. Aku harus melawan dia. Harus. Aku kemudian berlari menuju ke arahnya. Kini Suni bertarung melawanku. Kalau tadi aku melawan dia kurang siaga sekarang aku lebih siaga. Seluruh inderaku kupasang. Aku kini bertarung dengan orang yang tangguh. Dengan pemimpin teroris kelas berat, pemimpin Genesis, Suni. Kalau toh aku harus melawan dia susah payah itu nggak masalah. Dalam setiap permainan video game, Big Boss emang paling kuat. Tapi ini bukan permainan video game.

Aku memukul seperti yang diajarkan Moon. Aku menendang. Aku menangkis serangan sama seperti yang diajarkan oleh Moon. Suni lalu tertawa.

“Hahahahahaa, your punch like pussy, your fighting style too. Did Moon teach you?” kata Suni.

“Maybe,” kataku.

Tiba-tiba Suni ditendang oleh Moon.

“Hiro, kita lawan dia bersama-sama,” katanya.

Suni bangkit dan kami pun terlibat lagi pertarungan. Kali ini dua lawan satu. Sekalipun begitu Suni tetap bisa mengimbangi kami. Dia kuat sekali.

Baiklah aku akan gunakan gerakan itu. Aku membuka kakiku. Ku arahkan kedua tanganku seperti pedang. Inilah gerakanku yang bisa menjatuhkan Moon dan Devita. Suni keheranan melihatku. Moon sepertinya tahu aku akan berbuat apa. Dia mengalihkan perhatian Suni dengan maju ke depan. Aku pun demikian. Suni sekarang menangkis pukulan Moon, saat itulah aku sudah ada di bawahnya menebaskan tanganku ke perutnya. Suni pun langsung terjatuh. Posisiku seperti baru saja menebas dirinya. Tapi nahas. Aku tak melihat kalau di depanku ada kabel terjulur. Dan aku seperti tersangkut. Lalu BRUK!

“Uuuggghh….!” erangku. Aku terhempas sekitar lima belas meter ke belakang gara-gara itu. Untung saja aku tidak jatuh ke bawah rel. Bisa tewas aku. Baiklah itu tadi tidak lucu.

Aku perlahan-lahan bangkit. Aku masih melihat Moon dan Suni di depan. Suni tampak gusar. Ia kemudian mencopot bajunya, lalu dilemparkannya. Sepertinya ia serius sekarang. Aku melihat sebuah tatto bergambarkan tengkorak di dada sebelah kirinya.

“All right, it’s enough playing,” kata Suni.

Kereta api mulai melambat. Ternyata sebentar lagi akan masuk ke stasiun. Aku bisa melihat bangunan itu dari kejauhan. Suni lalu melompat ke samping. Ternyata ada kereta yang sedang berhenti. Aku dan Moon mengikuti Suni. Suni turun dari gerbong itu. Ini adalah tempat pertarungan kami. Kami sudah bersiap untuk menyerangnya.

Aku menendang, Moon menendang. Suni menangkis. Lalu dia maju dan memukul dadaku. Sedangkan Moon dipukul dengan sikunya. Moon langsung terjatuh. Aku maju lagi tapi tendangan Suni menghantam perutku. Aku sesaat merasa mual, tapi aku tetap harus bergerak. Sementara aku jatuh Moon sudah bangkit. Dia menerjang Suni, kemudian membanting mantan pacarnya itu. Suni berguling lalu mendaratkan lututnya ke wajahku. Aku yang belum siap tentu saja langsung limbung. Wadaw, sakit banget.

Ternyata belum selesai. Moon sudah berada di belakag Suni dan mengunci lehernya. Tapi tangan Suni yang bebas dan kekar bisa menyikut perut Moon, hingga Moon mundur. Aku bangkit dan kupukul perut Suni. Kali ini aku pukul dengan sekeras-kerasnya. Suni pun merasakannya sekarang.

“How’s that? Did my punch like pussy?” tanyaku.

Tapi Suni hanya tersenyum.

NARASI MOON

Suni ini tangguh, sebagai orang nomor satu di kesatuan dia pandai berkelahi, pandai menggunakan pisau, pandai juga menggunakan senjata api. Suni juga pintar dalam mengurai kata sandi. Dia termasuk orang yang sempurna untuk semua itu. Sebagai seorang agen yang handal, dia juga sudah banyak berpengalaman di lapangan. Selebihnya, untuk melawan Suni, aku sudah berusaha sekuat tenaga. Tapi dia memang sangat alot untuk dikalahkan.

Aku sudah dibantu Hiro, walaupun Hiro tidak banyak membantu. Tapi paling tidak aku melihatnya kali ini. Dia membuat Suni merasakan sakit.

“Suni, what about we playing you punch me I punch you? Just you and me,” kata Hiro. “Just stay away from Moon.”

“Hiro, itu hal terbodoh yang aku dengar,” kataku. Hiro memberi isyarat agar aku tak turut campur.

Suni tertawa. “Ohohoho, silly boy. You wanna exchange blow with me? Fine. Let’s do it.”

Hiro mendekat ke Suni. Tinggi mereka hampir sama, lebih tinggi Suni sedikit. Mata mereka beradu. Mereka ingin beradu pukulan. Ini gila. Hiro, kamu bisa kalah!

Dan dimulai, Hiro mengayunkan pukulannya, Suni juga. Keduanya menerima pukulan masing-masing. DUESSSHH! Kepala Hiro sampai hampir copot rasanya, Hiro sampai terdorong beberapa langkah ke samping. Begitu juga Suni.

Mereka kembali lagi berdiri tegap. Hiro menggeleng-gelengkan kepalanya. Tampak darah segar mengucur di bibirnya.

“You have a great punch,” kata Suni.

“Yeah, you too,” kata Hiro.

Kemudian tanpa aba-aba, keduanya memukul lagi. DUESSSHH! Darah mengucur lagi di bibir Hiro. Oh, tidak. Aku tak sanggup melihat ini. Tapi kulihat Suni masih baik-baik saja. Ketika aku melangkah mendekati Hiro, lagi-lagi kekasihku itu menahanku.

“Stop Moon, stop! Aku akan mengalahkan dia,” kata Hiro. “Aku sudah berjanji kepadamu. Ini tidak seberapa. Pukulanmu masih lebih keras daripada pukulannya.”

Hiro kembali lagi berdiri tegap. Suni kembali melayangkan pukulan. Hiro juga. DUESSHH! Ini ketiga kalinya mereka saling baku hantam. Kemudian sekali lagi DUESSH! Sekali lagi DUESHH! Aku tak sanggup melihatnya. Hiro lalu terjatuh dan bertumpu kepada tangannya.

“Hiro! Sudah cukup! Kamu bisa mati!” kataku. “Kamu tak tahu betapa kuatnya Suni. Kita hadapi dia bersama-sama.”

“Tidak, aku tidak mau melihatmu dipukul lagi Moon, aku tidak mau. Biarkan aku selesaikan ini. Aku sedikit mengalah barusan. Aku ingin tahu seberapa kuat pukulannya. Ternyata cuma segini,” kata Hiro.

“Hiro, sudah! Suni, stop it! Fight me!” kataku.

“Relax honey, he still can do it, see!” kata Suni.

Hiro sudah berdiri lagi. Aku melihat pipinya lebam tapi senyuman menyungging di bibir Hiro yang pecah.

“Suni, your punch is like pussy!” kata Hiro.

Suni lalu menghantam wajah Hiro lagi. Tapi kali ini Hiro tak bergeming. Pukulan Suni serasa ditahannya. Rupanya Hiro merapatkan giginya, menguatkan otot lehernya dan menerima pukulan itu. Kali ini Suni sedikit terkejut. Hiro mengepalkan tangannya dengan kuat. Dan dihantamkannya ke wajah Suni. Seketika itu Suni terhuyung dan kepalanya menghantam gerbong yang tak terpakai itu. BRAK! Suaranya.

Suni menggeleng-gelengkan kepalanya. Belum sempat ia pulih Hiro sudah ada di depannya. Suni terkejut. Dan lagi DUESSHH! Hiro menghajar Suni, sekali lagi DUESH! Lagi DUESH! Sepertinya kekuatan pukulan Hiro sangat keras, Suni tak pernah dipukul sekeras itu sebelumnya. Tunggu dulu.

Aku ingat sekarang. Kalau tak salah beberapa waktu yang lalu Hiro membawa potongan papan balok kayu. JAngan-jangan??! Iya tidak salah lagi. Itu balok kayu keras yang dibuatnya latihan. Setiap hari aku menyuruhnya untuk memukul 3.000 kali papan kayu dan dia melakukannya. Tapi ia pasti menambah porsi latihannya. Tak cuma itu ia sampai menghancurkan balok kayu itu. Itu artinya….pukulannya sekarang ini bisa menghancurkan balok kayu yang keras itu. Dan Suni merasakannya sekarang.

Pukulan terakhir Hiro, telak menengai wajah Suni. Dengan keras Suni menghantam gerbong dan bergulingkan di tanah. Hiro kemudian menjambak rambutnya. Suni memegangi tangan Hiro. Suni secara ajaib telah dihajar oleh Hiro. Ia berdiri.

“Ini untuk Moon! Karena kamu hancurkan hatinya,” kata Hiro. Ia memukul Suni sekali lagi. Suni mencoba tetap berdiri dengan pose bertarung.

“Ini untuk Moon! Karena kamu telah menyakitinya,” lanjut Hiro. Dipukulnya Suni sekali lagi.

“Ini untuk Moon! Karena kamu telah membuat dia sakit,” kata Hiro lagi. Pukulan kembali ke wajah Suni.

“Dan ini untukku! Karena kamu telah menyakiti kakakku,” kata Hiro untuk yang terakhir kali. Suni dipukul hingga terpental jauh. Suni masih berdiri sempoyongan.

Dan secara tak terduga dari arah yang tak disangka sebuah kereta berkecepatan tinggi menghantam tubuh Suni. Tubuh Suni pun tercerai-berai terkena hantaman kereta itu.

Aku segera memeluk Hiro. He is my boyfriend. And he is the man.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*