Home » Cerita Seks Umum » Si Rambut Merah Bab 28

Si Rambut Merah Bab 28

BAB XXVIII

Let’s Finish This

“Luke!? Aku tahu kamu Luke bukan?” tanyaku. “Kamu dapat salam dari Profesor Andy.”

Lucifer menoleh ke arahku. Dengan sekejap dia sudah ada di hadapanku. Tidak. Aku melihat semuanya. Gerakannya biasa, itu karena kami sama-sama cepat. Mungkin orang-orang mengira gerakannya sangat cepat, padahal tidak.

“Profesor Andy?? Ohohohohohoho, baju ini?! Hahahahahahahahahahahaha,” entah kenapa Lucifer tertawa keras.

“Something funny?” tanya Suni.

“No no no, this suit is really like my suit!” kata Lucifer. Dia lalu membuka bajunya. Dan terlihatlah olehku sebuah baju berwarna abu-abu gelap mirip hyper suit. Tapi aneh. Dia tak memakai gelang seperti aku ataupun belt.

“Hiro, Moon! Habisi si keparat itu. Ini bagianku!” kataku.

Hiro dan Moon mengangguk. Mereka lalu bergerak ke arah Suni.

“So, let’s finish this!” kataku.

Aku mengepalkan tinjuku. Lucifer juga mengepalkan tinjunya kedua tinju kami bertemu. BLAM! Terdengar suara ledakan dari benturan kekuatan kami. Kedua tinju kami saling bertemu. Aku tak menyangka tenaganya dan tenagaku sama. Sama-sama besar. Kami pun bergerak sama cepatnya. Kulayangkan tinjuku ke arahnya. Dia juga. Kami saling melemparkan pukulan.

Bahkan ketika bergulat sampai-sampai seluruh ototku memaksakan diri mereka untuk mengimbangi kekuatan dari Lucifer. Kami sama-sama memakai baju hyper suit. Tapi yang tak aku fahami, bagaimana cara dia memakai baju itu? Seolah-olah baju itu menempel di badannya. Aku lengah karena terlalu banyak berfikir. Akibatnya. Dia meninjuku dengan kekuatan besar hingga aku terhempas menjebol tembok Srikandi Hall dan terlempar keluar sejauh 300 meter. Dan aku sukses mendarat di atas mobil yang sedang terparkir di area parkir.

“Ughh…kuat sekali,” gumamku. “Prof, kamu lihat?”

“Iya, aku melihatnya, tenang saja. Kegunaan nanobot bukan hanya memperbarui baju kamu, tapi juga menyembuhkan luka-lukamu. Kamu pasti bisa mengajarnya,” kata Profesor Andy di alat komunikasiku. Secara visual dia melihat semua pertarunganku.

Lucifer tiba-tiba datang. Dan ia melompat ke udara seolah-olah ingin menimpaku. Shit! Aku segera mengelak sebelum dia jatuh ke atas mobil tempat aku jatuh tadi. BLAM! Mobil pun makin hancur. Aku berkelit dan bersiaga. Anehnya lagi. Lucifer ini tidak memakai helm sepertiku. Dia percaya diri sekali. Tapi, kulitnya sangat keras.

“Prof, mana gelang miliknya? Kenapa aku tak melihat dia seperti diriku?” tanyaku.

“Gelang itu aku yang buat khusus untukmu. Sejatinya ada sesuatu lain yang membuat pemerintah menghentikanku untuk memproduksi hyper suit!” kata Profesor.

Lucifer menyerangku, aku bertahan, kuserang balik dia dengan hantaman yang keras hingga tubuhnya terpental menghantam mobil. Dia cepat berdiri dan sudah ada di hadapanku, “Apa itu prof?”

Aku terkena tendangannya dan melesat menghancurkan sebuah toko swalayan tempat aku beli minuman tadi. BRUAK! PRANG! Aku berguling-guling hingga membentur tembok.

“Semuanya karena aku menolak melakukan eksperimen kepada manusia dengan menginjeksi nanobot ke dalam sel kulit manusia. Karena itu sangat terlarang! Saat itu aku tak yakin teknologi nanobot aman bagi manusia. Setidaknya sekarang terbukti bukan? Kamu lihat dia tidak pakai helm seperti kamu, itu karena kulit dan darahnya sudah ada nanobot. Jadi ketika dia merasakan sakit, para nanobot akan menyembuhkan rasa sakit itu dari dalam darahnya,” kata Profesor Andy.

Aku bangkit dari tempatku berbaring. Kemudian dengan langkah santai aku keluar dari toko yang sekarang hancur itu. Di luar aku mendapati Lucifer sudah menungguku. Aku pun langsung menerjangnya, “Dengan kata lain..??”

“Dia invicible!” jelas Profesor Andy.

“Hyper suit yang ditanam di badan? Oh, give me a break will ya?!” gumamku.

Aku membanting Lucifer ke aspal. Tiba-tiba ia sudah bergerak di belakangku, lalu menarik leherku dan melemparkan aku. Aku pun melayang ke udara dan jatuh di atas sebuah tank. What?

BLAAAARRR! Tank itu meledak. Kemungkinan aku memicu hulu ledak meriam yang ada di dalam tank. Sang sopir tank terlambat untuk keluar dari tank dan aku terlempar dari tank tersebut. Ledakan ini jelas membuat kehebohan. Alarm berbunyi di mana-mana. Suara Sirine pun meraung-raung. Para prajurit bantuan telah datang. Tapi mereka tak berani mendekat melihat dua orang manusia super sedang bertarung.

Lucifer mengambil moncong meriam tank. Dia menariknya dan memukulkannya ke arahku. Aku langsung terhempas menghantam Srikandi Hall. Belum sempat aku bernafas. Lucifer sudah melemparkan potongan tank tadi ke arahku. BLAAARR! Moncong meriam tank Leopard itu menancap di Srikandi Hall, tapi dengan susah payah aku bisa menghindar. Lucifer pun menendangku. Aku seolah-olah tak diberi kesempatan untuk istirahat ataupun berfikir.

“Fuck!” umpatku saat Lucifer tiba-tiba mengunciku ketika aku terkapar di atas tanah.

“Bagaimana? Seharusnya aku mendapatkan perlawanan yang lebih dari ini. Hai pak tua, kamu lihat? Hyper Suitku lebih tangguh daripada punyamu,” kata Lucifer. Dia pun memukulku berkali-kali. Aku bisa rasakan sesuatu, setiap kali memukul aku seolah-olah bisa merasakan kekuatan hantaman Lucifer. Padahal aku memakai helm.

“Faiz, gunakan itu!” kata Profesor.

Aku mengerti. Aku meraih beltku. Dan kutekan angka 666. Dari siku lengan dan pundakku para nanobot bekerja membentuk sesuatu. Lucifer terkejut. Ia segera mundur. Saat itulah kesempatanku berdiri.

“Waktumu singkat Faiz, dengan mode ROCKS ini! Ayo hajar dia! Tunjukkan Hyper Suit buatanku yang paling hebat!” kata Profesor Andy.

“ROCKS MODE ACTIVATED!” suara komputer terdengar.

“What? Rocks mode?? What the hell is that?” gumam Lucifer.

Dari lengan dan pundakku muncul tanduk. Warna hyper suitku pun berubah, Lenganku berwarna biru, kakiku juga, namun tubuhku berwarna merah dengan garis-garis yang berbentuk simetris di dada dan perutku. Dengan mode ini kekuatanku meningkat sepuluh kali lipat dari biasanya. Tapi hanya bisa digunakan selama tiga menit. Itu pun setelah digunakan, tak bisa digunakan lagi. Harus charge energi terlebih dulu.

“Wanna some?” tanyaku.

Belum sempat Lucifer menjawab aku sudah menghajarnya tepat di wajahnya sampai aku bisa dengarkan tulangnya yang remuk. KRAK! Lucifer terpental jauh sekali hingga menghantam sebuah bangunan yang tak jauh dari Srikandi Hall. Bangunan itu pun jebol seperti tertabrak meteor.

Aku segera mengejarnya. Semuanya berasa lambat. Sangat lambat. Ketika Lucifer melayang aku bahkan bisa melihat dengan detail bagaimana bangunan itu dihantam oleh tubuhnya dan dia berusaha bersusah payah untuk berdiri. Aku bahkan bisa melihat wajahnya yang remuk, para nanobot itu…mereka bekerja untuk menyembuhkan luka Lucifer. Lucifer tak menyangka aku sudah berada di belakang tubuhnya. Benar-benar dia sangat lambat.

Aku pun menyatukan kepalan tanganku dan kuhantam kepalanya dari belakang. Dia pun terhenyak dan langsung memajukan badannya seolah-olah baru saja diterjang oleh truk. Tubuh Lucifer kini terombang-ambing. Dia belum sempat jatuh sudah aku hantam lagi. Kupegangi kakinya dan aku banting kiri dan kanan. Terakhir aku pukul lagi dirinya.

Lucifer bergulingan di aspal. Lalu ia terkapar.

Aku pun berjalan dengan santai menuju ke arahnya. Nafasku agak terengah-engah. Walaupun memakai Hyper Suit tapi tenaga untuk berlari, maupun tenaga untuk memukul sama saja seperti tenaga manusia biasa. Hyper Suit hanya melipat gandakan kekuatan dan kecepatanku, tapi tidak untuk energiku.

“Habisi dia Faiz!” kata profesor.

“Easy prof, I need take a breath!” kataku.

“Kamu masih bisa bergerak?” tanya Profesor.

“Entahlah, pertarungan ini menguras banyak energiku,” kataku.

Tiba-tiba Lucifer bangun. Aku melihat wajahnya yang hancur berangsur-angsur pulih. Nanobot-nanobot itu benar-benar menyembuhkan lukanya. Gila. Apa orang ini tak bisa mati? Apa benar kata profesor kalau dia ini invicible. Tidak, dia pasti punya kelemahan. Baju Hyper Suit ini pasti punya kelemahan. Ini sama saja mencari kelemahanku sendiri. Baiklah, dia akan datang. Aku harus menyerangnya dulu.

Dan…ZRRRRRRTTTTTTT! Tubuhku tiba-tiba mengejang. Aku pun terjatuh di atas aspal. Apa ini? Kenapa aku seperti kram?

“HAHAHAHAHAHAHAHA, So fucking idiot!” kata Lucifer. “Profesor, profesor, ternyata kamu sama saja bodohnya.”

Kemudian rasa kejang itu berhenti. Aku menggeliat. Rocks mode di hyper suitku tiba-tiba kembali ke normal. Helm-ku pun terbuka. APa yang terjadi sebenarnya?

Kulihat Lucifer membawa sesuatu. Pistol? Bukan,itu lebih mirip stungun!

“Profesor, kamu lupa satu hal kelemahan Hyper Suit adalah dia tak akan sanggup menerima medan elektromagnetik. Setiap makhluk hidup di dunia ini tak ada yang sanggup melawan petir. Bagaimana rasanya? Kejang? Itulah kejutan buat para nanobot kecilmu. Mereka tak akan berfungsi untuk beberapa saat, sehinga aku bisa menghajarmu!” kata Lucifer. Dia menginjak perutku. BUK!

Aooowww….sakiiitttt.. Aku mengerang hebat.

“HAHAHAHAHAA!” aku mendengar tawanya yang jelek.

“Faiz, bertahanlah! Memang kelemahan Hyper suit adalah medan elektromagnetik. Itu bukan berarti Hyper Suitmu lemah. Setidaknya dia masih punya ketahanan. Tenanglah. Masih 80 persen! Kamu bisa kalahkan dia!” kata Profesor.

“Faiiiizzz! Faiiz, kamu tak apa-apa?” terdengar suara Devita di codec.

“Dede? Uggh…tenang aku tak apa-apa,” kataku.

“Faiz, bertahanlah!” Devita menyemangatiku. Aku merayap dan mencoba bangkit. Tapi aku tak melihat Lucifer, kemana dia?

Tiba-tiba PLANG! Suara nyaring. Sebuah tiang listrik menghantam tubuhku hingga aku terhempas ke atas aspal. Helmku yang cuma separuh itu tak mampu membendung benturanku dengan aspal. Ugh…kepalaku langsung pusing. Darah mengalir di jidatku.

“FAIIIZZ!” teriak Devita di codec.

Lucifer ternyata mencabut tiang listrik. Sekarang dia sudah membawa sebuah kabel listrik yang aku bisa melihat kilatan di ujung kabel itu. Dan kini dia ada di hadapanku. Fuck! Apa yang terjadi ini? AKu harus bergerak. WOI! Tubuhku bergeraklah! Aku masih terkapar tak berdaya.

“Bagaimana kalau kita sekarang kejutkan si manusia super ini dengan kekuatan listrik enam puluh juta volt??” kata Lucifer.

“TIDAAAAAKKK! FAIZ BERGERAK! MENGHINDAAARRR! CEPAAATT!” seru profesor.

Aku tetap tak bisa bergerak. Kepalaku masih pusing. Dan, belum sempat aku bergerak. Lucifer telah meletakkan ujung kabel itu ke hyper suitku. Seketika itu aku pun merasakan tegangan tinggi. Rasa kejutan itu seolah-olah memaksa aku untuk mengejang.

“HOOOAAAAAARRRGGGGGGHHHHHHHHHH!” aku menjerit sekeras-kerasnya.

Aku tersengat listrik enam puluh juta volt. Aku masih bersyukur karena dengan hyper suit aku bisa menahan serangan listrik ini, tapi ini tidak bagus. Ketahanan bajuku menurun drastis. Dari 80 persen sekarang tinggal 50 persen dan terus menurun. Apa yang harus aku lakukan? Apa? Wajah Lucifer tersenyum penuh kemenangan. Tawanya sangat jelek sekali. Wajahnya yang tinggal tulang itu menyeringai kepadaku.

Ayo Faiz, berfikirlah. Engkau mahasiswa lulusan Oxford dengan prestasi terbaik. Engkau cumlaude. Engkau juga keturunan seorang yang lulus di Havard dengan prestasi terbaik. Pemilik M-Tech Mobile Industries. Berfikirlah. Tak mungkin aku bisa tenang berfikir. Ketahanan bajuku mulai sedikit demi sedikit menurun, kini sudah mencapai angka 30 persen. Tidak, tidak, tidak.

“FAiiiiizzzzzzzz!” terdengar jeritan Devita.

“Faiiizz! Kamu baik-baik saja nak?” suara ibu. Ibu?

“Junior! Bertahanlah!” terdengar suara ayah.

“Faiizz, ayo nak! Bertahan!” aku juga dengar suara bunda Iskha.

“Faiz! Faizz! Kamu nggak boleh pulang kalau kalah!” ada suara bunda Vira juga.

Semuanya. Mereka semua menyemangatiku. Aku tak boleh kalah.

Ayo berfikir. Berfikir….Tunggu dulu. Kalau Hyper Suit ini kelemahannya adalah listrik, maka harusnya dia juga lemah terhadap listrik bukan? Ya, itu dia. Bukan aku saja yang lemah terhadap listrik. Tapi kau juga Lucifer. Tanganku mencoba kugerakkan dan HAP dapat! Kutangkap kakinya Lucifer.

“GGGYYYYYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHH!” kami sama-sama tersengat listrik 60 juta volt.

Karena terkejut oleh sengatan listrik Lucifer terpental beberapa meter. Kabel listrik itu pun terlepas dari tangannya. Aku bebas sekarang. Aku mencoba mengumpulkan tenaga. Sedikit demi sedikit aku bangkit. Ketahanan bajuku tinggal 5 persen. Sekali serang aku bakal mati kali ini. Tidak, aku harus bertahan.

Aku bangkit perlahan-lahan. Dari hyper suitku keluar asap. Aku seperti baru saja terpangang di atas pemanggangan oven. Baunya benar-benar seperti bau terbakar. Aku bisa merasakan para nanobot bekerja keras menyulam kembali bajuku yang terkena listrik. Dengan susah payah aku pun berdiri. Dengan langkah gontai aku hampiri Lucifer.

Kulihat matanya. Ia terbelalak. Sepertinya ia juga merasakan kaku dan kejang-kejang. Aku mengambil kabel listrik yang dia gunakan tadi untuk menyetrumku. Dia melirik ke arahku. Aku kemudian menginjak kakinya dan kupatahkan lengan kanannya.

“AAAARRRGHHH!” jeritnya.

Tidak cuma itu, lengan kirinya pun aku perlakukan hal yang serupa. Dia menjerit lagi. Aku melihat alat M-Tech Portable di telinganya. Alat itu aku ambil. Hanya ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan para pemimpin itu.

“Kesalahanmu adalah kamu tidak melumpuhkan lenganku ketika menyetrumku. Itulah gunanya kamu sekolah tinggi. Kamu bisa pintar. Sekarang bagaimana rasanya disengat listrik 60 juta volt?” tanyaku ke Lucifer.

“Tidak, tidak, tidak!” dia memohon.

Aku kemudian masukkan kabel listrik itu ke mulutnya.

“GYAAAAAHAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHH!” Ia mengerang. Listrik 60 juta volt itu pun menyetrumnya. Aku biarkan dia dan melihat saat-saat terakhir hidup Lucifer. Tubuhnya gosong, aku bisa melihat nanobot-nanobot kecil itu mulai berhamburan keluar bersamaan dengan darahnya. Setelah itu tubuh Lucifer tak bergerak. Kaku. Dia telah pergi untuk selamanya.

“Prof, I’m done!” kataku.

“Well done!” kata Profesor Andy.

Aku bisa dengar dari radio sorak-sorai orang-orang.

“Faiizz, I love you!” suara Devita di codec.

Aku lalu berbaring di aspal. Pertempuran yang melelahkan. Aku menon-aktifkan Hyper Suit. Para Nanobot mengurai bajuku. Aku melihat langit, aku tak menyangka langit tampak indah hari itu. Nafasku masih terengah-engah.

“Hiro, sekarang terserah padamu,” kataku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*